Enaknya Punya Teman Kantor Seorang Janda,Gampangan Dan Murahan Lobangnya Gatel Terus Minta Dikontolin.

Main Dengan Mbak Windy 1

Enaknya Punya Teman Kantor Seorang Janda,Gampangan Dan Murahan Lobangnya Gatel Terus Minta Dikontolin.Malam itu aku hanya dapat tidur nyenyak 3 jam saja. Kulihat waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi lebih sedikit. Usahaku yang kuat untuk kembali tidur tak membuahkan hasil. Kulihat Windy masih tergeletak dalam keadaan tidur nyenyak di ranjangnya.

Pikiranku berkecamuk soal pekerjaan yang akan kuhadapi sehari lagi dan sama sekali belum kusiapkan. Kuputuskan untuk bangun dan duduk termenung di kursi didalam kamar penginapan. Kupandangi meja disebelahku yang penuh dengan botol-botol aqua, beberapa makanan kecil, dan kantung-kantung plastik yang tak ada isinya.

Kupindahkan semua barang diatas meja keatas laci, lalu kubersihkan meja itu. Kemudian aku mengambil semua berkas dan catatan tentang pekerjaanku dari dalam tas dan meletakkannya diatas meja.

Kubaca satu persatu berkas tersebut dan memilah-milahnya menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian yang telah terpilah-pilah itu kubaca lagi dengan lebih teliti dan menguraikan isinya didalam otakku sehingga terbentuklah sebuah bahan informasi yang berhubung-hubungan satu sama lainnya.

Beberapa data yang masih kurang demi kelengkapan data kucatat dalam jurnal kerjaku. Kemungkinan-kemungkinan tidak kuperoleh data yang kuperlukan juga kucatat. Beberapa langkah alternatif untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk muncul dan ikut kucatat.

Dengan berusaha secermat mungkin berdasarkan data yang ada dan catatanku, aku mulai membuat rencana kerja. Setiap baris rencana yang kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yang akan kulakukan.

Setiap hal penting yang muncul dari bayanganku kutulis dalam jurnal. Kubaca lagi rencana kerja yang telah selesai kucatat, lalu kurangkai hubungan setiap langkah rencana kerja dan kubuat skemanya. Seusai mengulang dan merubahnya hingga kurasa cukup, kuhentikan kegiatanku tersebut. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5.42 pagi.

Konsentrasi tinggi serta posisi duduk dan letak meja didalam penginapan yang sebenarnya tidak ideal untuk dipakai kerja membuat leherku terasa pegal. Selesai mengemasi semua berkas dan catatan, kucoba berdiri dan memutar-mutar kepala untuk melemaskan otot leher dan punggung.

Kukenakan jaketku dan keluar dari kamar mencari hawa segar. Di teras kamar aku melakukan stretching selama beberapa menit. Kucoba berputar-putar di sekitar teras. Merasa bosan, kuambil rokokku yang selalu tersedia dalam saku jaket dan kusulut sebatang rokok.

Setengah dari rokoknya telah habis ketika kulihat Windy keluar dari pintu kamar dengan menggunakan kaos oblong besar dan celana pendek sebatas paha.

“Sudah ngopi, Tok?”, tanyanya.

Aku menggelengkan kepala saja dan meneruskan merokok.

“Tumben Tok tidurmu sebentar, bangunmu pagi sekali ya, aku sempat melihatmu sibuk tapi karena masih ngantuk jadi aku pilih tidur lagi aja daripada membantumu”, komentarnya.

“Mbak sudah benar, kalau Mbak bangun dan membantuku, bisa-bisa tambah kacau”, kataku sambil memikirkan pekerjaan yang akan kuhadapi besok.

“Mmm.. gitu ya, jangan harap aku mau membantumu lagi ya”, katanya dengan nada bergurau.

“Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya.

Beberapa tamu penginapan yang ada di kafetaria menoleh ke arah Windy ketika kami memasuki kafetaria penginapan. Pura-pura tidak tahu gelagat para pria yang sedang menaksirnya, Windy mengajakku duduk di meja paling pojok.

Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Windy agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. Setelah memesan sarapan, Windy mulai membuka percakapan, tapi karena pikiranku masih di pekerjaan maka aku hanya berbicara sedikit.

“Kenapa sih Tok kamu kok banyak diam? nggak seperti biasanya”, tanya Windy.

“Nggak apa-apa Mbak, cuma mikir kerjaan besok”, jawabku santai.

“Buat apa dipikir sekarang, kan masih besok?”, tanyanya lagi.

“Daripada nggak ada yang kupikir”, jawabku.

“Kenapa nggak mikir aku saja?”, tanyanya dengan senyum genit.

“Rugi!”, jawabku singkat dengan bergurau tanpa kupikir akibatnya.

Sebuah cubitan langsung menancap di tangan kiriku.

“Aduh Mbak, sakit!”, keluhku agak keras sehingga agak terdengar dan menarik perhatian orang-orang disekitar kami.

Mungkin karena malu Windy segera melepaskan cubitannya.

“Tadi malam tangan kiri, sekarang kanan, Mbak kok suka sekali nyubit sih!”, keluhku.

“Aku nggak rugi, kok”, jawabnya santai.

“Enak saja, aku yang rugi Mbak, perusahaan tidak mengasuransikanku dari cubitan”, kataku serius.

Tak lama kemudian pesanan kami datang.

“Tok, katamu kamu belum pernah punya pacar, benarkah?”, tanyanya yang langsung kujawab dengan anggukan sambil meniup kopi panasku agar agak dingin.

“Itu karena pikiranmu belum dewasa. Caramu berbicara dengan wanita asal saja tanpa pernah kamu pikirkan akibatnya. Kamu tidak akan bisa membuat wanita senang dengan cara ngobrolmu yang seperti itu.”, nasihat Windy padaku.

“Lha terus kenapa Mbak mau nginap denganku padahal aku kan nggak ngajak”, tanyaku dengan suara berbisik.

“Karena aku tahu bahwa kamu tipe pemuda gila kerja yang cuek dan jujur bukan tipe playboy perayu. Aku suka pemuda seperti itu, cuman terkadang cuekmu sangat keterlaluan. Kamu sendiri kenapa mau?”, jawabnya yang dilanjutkannya dengan pertanyaan.

“Mana bisa aku menolak dibawah ancaman cubitannya Mbak”, jawabku bergurau.

“Uhh.. kamu nggak pernah bisa diajak serius”, keluhnya dengan muka masam.

“Aku duarius Mbak, bukan serius lagi”, kataku ngotot yang hanya dibalas dengan senyumannya.

“Mbak, pria yang duduk disana ada yang ngelihatin Mbak terus, sepertinya naksir, mau kukenalkan Mbak”, kataku sambil menghabiskan roti bakarku.

“Memangnya kamu sudah kenal, Tok?”, tanyanya.

“Nanti setelah Mbak kukenalkan, ganti Mbak kenalkan saya”, jawabku sambil meneguk kopiku yang masih panas dengan hati-hati.

“Kamu jangan macam-macam, Tok!”, ancamnya padaku yang lagi menikmati rokok.

“Tampangnya sih oke tapi pria seperti itu hanya mau menangnya sendiri seperti bekas suamiku yang pertama”, sambungnya.

“Terus yang mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yang ke berapa?”, tanyaku halus.

“Dia yang kedua, tapi aku juga cuma istri keduanya, istri pertamanya ada di Jakarta dan mungkin tak tahu mengenai aku. Aku ke Banjarmasin ini juga karena dia mau mengunjungi istri dan anaknya di Jakarta”, jawabnya pelan.

“Kenapa Mbak mau dimadu?”, tanyaku tambah penasaran.

“Daripada hidup menjanda, jadi istri muda yang sering ditinggal suami saja seperti ini saja sudah susah apalagi jadi janda kembang”, jawabnya mengeluh.

“Eh Mbak, jangan besar kepala dulu, iya kalau kembang mawar atau melati, kalau kembang kamboja yang seperti di makam-makam, bagaimana? Pasti yang tertarik adalah golongan hantu-hantu, hehehe..”, gurauku merubah raut muka sedihnya menjadi kemarahan.

“Iya, terus akan kusuruh hantu-hantu itu nyubitin seluruh tubuhmu tak tersisa”, balasnya dengan senyum kemenangan. “Sudah Tok, ayo kembali ke kamar!”, ajaknya.

Sesampai di kamar aku duduk termenung oleh pikiran pekerjaan diatas ranjang Windy yang lebih dekat dengan pintu kamar dibanding ranjangku. Sementara itu Windy melepas pakaiannya hingga tinggal ber-BH dan celana sambil mengambil handuk kering dari tasnya.

“Melamun apa Tok”, tanya Windy.

Berusaha menyembunyikan pikiranku kujawab seadanya, “Ah nggak melamun kok, cuma membayangkan rasanya dicubit hantu seperti yang Mbak tadi bilang”.

“Pingin tahu rasanya?”, tanyanya dengan senyum menggoda dan menuju ke arahku.

Duduk tepat didepan tangan Windy sudah mulai merapat dengan tubuhku. Mengantisipasi cubitannya yang menyakitkan, kedua tangannya kutangkap dengan cepat.

“Mbak, jangan nyubit lagi Mbak, ampun Mbak..”, katau meminta belas kasihannya.

“Tidak Tok, yang ini pasti kamu suka, percaya deh..”, katanya meyakinkan.

Meski masih ragu tapi pegangan tanganku sudah mengendor dan tangan Windy telah mencapai bagian depan celanaku, usapan-usapannya yang halus diatas permukaan celana terasa sampai permukaan kulit kemaluanku.

Raguku benar-benar hilang dan tangannya semakin bebas bergerak. Dengan mata terpejam kurasakan usapan tangannya berubah menjadi remasan yang menghanyutkan dan membuat batang kemaluanku semakin tegak mengeras hingga tampak sangat menonjol.

Dengan serta merta ditariknya celana pendek dan celana dalamku sekaligus disertai hembusan nafas beratnya yang makin menggebu.

Windy membungkukkan badan dan mendekatkan bibirnya pada ujung batang kemaluanku. Kubelalakkan mataku ketika merasakan bibirnya benar-benar menyentuh ujung batang kemaluanku.

Ciuman basah berimbuh kuluman yang dilakukannya pada ujung batang kemaluanku membuatku mendesah, “Ah.. Mbak.. Mbak..”. Dalam hitungan menit aku mengalami shock kenikmatan.

Seusai kesadaranku berangsur pulih tanganku segera beraksi dengan membuka BHnya dan mengusap-usap punggungnya. Dengan membungkukkan badan kuraih kedua pantatnya yang masih dilindungi celana dalam, lalu kuremas dengan kedua tanganku.

Merasa kerepotan membungkukkan badan, tubuhku kembali kuluruskan. Kemudian tempurung lutut kananku dengan sengaja kugesekkan pada selakangannya. Gesekkan tempurung lutut pada bagian depan celana dalamnya ternyata sangat merangsangnya hingga melepas kuluman pada ujung batang kemaluanku.

Sibuk mengimbangi gesekkan tempurung lutut, Windy hanya memegang erat batang kemaluanku. Karena tak sabar lagi menahan keinginan untuk menikmati rangsangan yang lebih dari gesekkan tempurung kakiku pada daerah kemaluannya yang masih dibalut celana dalam, ia menegakkan badannya kembali. Dalam posisi berjongkok didepanku ia berusaha melepas celana dalamnya.

Ketika celana dalamnya yang berusaha dilepaskannya sampai pada lutut, masih pada posisinya jongkok yang hampir tak berubah, aku segera membuat gerakan menyelam kebawah selakangannya, membalikkan tubuhku dan mendongkak keatas untuk menempelkan bibirku pada daerah kemaluannya.

Main Dengan Mbak Windy

Kedua tanganku turut andil dengan segera menarik kedua pinggulnya agar liang kenikmatannya dapat segera kuterobos dengan juluran lidahku. Rupanya Windy punya pikiran yang sama denganku. Kedua kakinya mulai ditarik kebelakang, selakangannya menindih mulutku, bibir dan lidahkupun makin berpolah diseluruh bagian kemaluannya.

Posisi Windy yang berada diatas tubuhku segera dimanfaatkannya untuk kembali bermain dengan batang kemaluanku.

Mengimbangi rangsangan yang kuberikan pada daerah kemaluannya, Windy mengulum batang kemaluanku. Selama beberapa menit kami berdua saling memberi dan menerima rangsangan dengan aksi 69 seperti yang pernah kuingat dalam beberapa cerita temanku sebelumnya.

Windy menghentikan babak pemanasan dengan menarik tubuhnya, berbaring terlentang sambil menarik tanganku memberi tanda untuk segera menindihnya dan memasukkan batang kemaluanku pada liang kenikmatannya. Tapi kali ini aku ingin bereksperimen.

Kubaringkan badanku disebelah kirinya dan kuhadapkan tubuhku kearahnya. Kaki kirinya kuangkat sedikit keatas dan kuletakkan diata pinggulku sehingga batang kemaluanku yang telah mengeras dapat masuk dengan posisi miring.

Setelah agak nyaman, kuberi pinggulku dorongan maju-mundur yang semakin cepat. Tangan kiriku yang bebas meremas kedua payudaranya bergantian. Berbaring nyaman, tubuh Windy mulai bergoyang seirama dengan gerakanku.

Seiring dengan goyangan tubuhnya, Windy mendesah-desah, “Ssh.. ssh.. Tok, mmh..”. Kuperlambat gerakanku untuk memperpanjang babak ini. Kudorong sisi kiri tubuh Windy sehingga membelakangiku dan sama-sama menghadap kesamping kanan.

Kurapatkan dadaku pada punggunya hingga bergesek. Kudorong lebih dalam batang kemaluanku dalam liang kenikmatannya, lalu kugerakkan pinggulku maju mundur. Kedua tanganku memegang kedua payudaranya dari belakang badannya.

Kucumbu tengkuk kirinya dan sesekali kukulum telinga kirinya. Beberapa saat kemudian tubuh Windy bergetar seiring dengan klimkaksnya. Getaran klimaksnya seakan menghanyutkan pertahananku hingga akhirnya puncak ledakanku tak dapat kutahan lagi.

Kepuasan yang kuperoleh mengantarkanku pada dunia mimpi. Tertidur pulas selama beberapa jam akhirnya aku terbangun oleh suara ketukan pintu. Setelah kukenakan celana pendek kubuka pintu, ternyata yang ada dihadapanku adalah Windy yang telah kembali balik kekamar setelah keluar entah kemana dan berapa lama.

“Ya ampun Tok, kamu baru bangun!”, teriak Windy.

“Hmm.. emangnya kenapa Mbak?”, tanyaku

“Sudah jam berapa ini? Hampir jam 3 sore tahu!”, tanyanya yang kemudian dijawabnya sendiri dengan menunjuk jam tangannya.

Tanpa komentar sedikitpun aku meninggalkannya menuju kamar mandi sambil membawa pakaian ganti yang telah kuambil dari dalam tasku. Seusai mandi dan mengenakan pakaian aku keluar dari kamar mandi. Kulihat Windy duduk didepan meja dan mengeluarkan bungkusan yang berisi beberapa roti basah diatas meja.

“Kamu sudah makan Tok? pasti belum, kalau tidur kamu kok kuat sekali!”, omelnya.

“Mbak, boleh minta rotinya!”, kataku dengan halus.

“Makan aja, kalau tahu kamu baru bangun sudah kubelikan makan tadi”, katanya.

Setelah melahap 3 potong roti, aku bertanya padanya, “Dari mana saja Mbak kok dapat roti enak?”

“Tadi aku silaturahmi ke tempat saudara-saudara dan pulangnya dibawain ini”, jawabnya.

“Oh ya Tok, karena besok kamu sudah mulai bekerja, nanti malam aku akan menginap di Banjar Baru agar tidak mengganggumu. Sekalian saja aku pamitan padamu jika dalam beberapa hari kedepan kita tak bisa ketemu lagi.

Ini notanya kamar sudah aku bayar sampai malam ini, jadi besok kalau kamu keluar dari sini jangan kamu bayar lagi tapi kalau melanjutkan silakan bayar sendiri ya. Terima kasih banyak ya mau menemanin aku.”, kata Windy dan mencium pipiku.

Terkejut oleh ucapannya yang panjang dan mengagetkan aku hanya mengucapkan “Terima kasih banyak, Mbak”.

Kemudian Windy meninggalkan penginapan sementara aku hanya dapat termenung.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah rasa kesepian menyelinap masuk dalam hatiku padahal sejak lama aku terbiasa bepergian jauh seorang diri bahkan dengan jangka waktu yang lebih lama dari ini, tapi kali ini beda. Rasanya ada sesuatu yang hilang, tapi entah apa itu.

Demikian artikel tentang cerita Enaknya Punya Teman Kantor Seorang Janda,Gampangan Dan Murahan Lobangnya Gatel Terus Minta Dikontolin.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Berawal Satu Bus Bareng Berakhir Dengan Ngewe Sampe Crotttttt.

Berawal Dari Satu Bus Berakhir Ngewe 1

Berawal Satu Bus Bareng Berakhir Dengan Ngewe Sampe Crotttttt.Bermula kenalan yang tidak sengaja di atas bus patas AC, setiap pagi aku naik bus dari terminal di kawasan Jakarta Timur.

Sampai suatu hari ada seorang wanita yang naik bersamaan denganku.

Kalau diperhatikan wanita ini tampak biasa saja usianya, kuperkirakan sekitar 35-an, tetapi dengan setelan blazer dan rok mini yang ketat warna biru tua, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.

Hari itu dia naik bersamaku dan di luar dugaanku dia duduk di sampingku, padahal ada bangku lain yang kosong, tapi okelah kuanggap itu adalah wajar.

Tapi sungguh aku tidak berani menegur, kadang kala aku melirik ke arah pahanya yang putih dan sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus dipermukaannya.

Hal ini membuatku betah duduk bersamanya selain juga wanginya membuatku sangat bangga bisa duduk berdampingan dengannya.

Begitulah hingga hari ketiga hal yang sama terjadi lagi dan kali ini kucoba, mau iseng-iseng berhadiah, maka kutegur dia, “Selamat pagi Mbak..!”

“Pagi juga..” si Mbak menjawab dengan senyum yang cantik di mataku.

Lalu kubuka pembicaraan “Kayaknya sudah 3 hari berturut-turut kita sama-sama terus.. ya? Mbak mau turun dimana sih..?”

Dia jawab “Di Sarinah Mas..”

Dan aku bertanya, “Apa Mbak kerja disana..?”

Lalu dijawab, “Oh tidak, aku kerjanya dekat Sarinah..”

Lalu terjadilah percakapan biasa meliputi kemacetan lalu lintas sampai dia tanya balik, aku bekerja dimana, lalu kubilang di komputer, dan dia bilang bahwa kantornya banyak pakai komputer.

Lalu dia berkata, “Boleh dong minta kartu nama”, maka kuberikan sebuah kartu nama, tapi waktu kuminta kartu namanya, dia tidak kasih dengan alasan tidak punya.

Rupanya hari ini hari baikku dan segera kutahu namanya “YULI” (bukan sebenarnya), selanjutnya kami selalu bersama-sama setiap pagi dan telepon pun mulai berdering dengan segala basa basi.

Suatu ketika aku tidak melihat dia selama 5 hari berturut-turut. Aku sempat menunggu, sampai telat tiba di kantor.

Kuhubungi telepon di kantornya juga tidak masuk, akhirnya dia telepon juga, katanya sakit.

Tepatnya hari Senin aku kembali bertemu, kali ini tanpa mengenakan seragam hanya memakai celana jean’s dan kaos T-shirt sehingga dadanya yang montok itu tampak jelas membuat perhatian orang-orang di sekitar kami, kali ini dia mengajakku untuk bolos, “Mas aku butuh bantuan nih”, katanya.

Lalu aku tanya, “Apa yang bisa aku bantu..?”

“Mas, kalau bisa hari ini nggak usah ke kantor temenin aku ke Bogor yuk.. kalau Mas nggak keberatan lho..?”

Aku berpikir sejenak, lalu aku tanya lagi, “Memang kamu mau nggak kerja hari ini?”

“Aku sedang ada masalah nih, ya.. agak pribadi sih, kira-kira bisa nggak Mas.”

Aku nggak pikir lagi lalu kujawab, “Ya.. dech aku temenin..”, dalam hati sih, wah kasihan ini customer aku yang sudah pada janjian.

Dengan alasan keperluan keluarga aku ijin tidak masuk, aku jalan-jalan sama Yuli ke rumah temannya di kota Bogor.

Setiba disana aku dikenalkan sama temannya namanya Nia, mereka bicara berdua di belakang, sementara aku di ruang depan seorang diri, setelah itu mereka kembali lagi dan kita mengobrol bersama-sama.

Rupanya si Nia punya janji dengan temannya kalau mau pergi jadi kita tinggal berdua saja di rumah itu.

Sambil mengobrol di karpet dan nonton TV, dengan manja Yuli tiduran di pahaku, sambil bercerita macam-macam dan aku menjadi pendengar yang baik, sampai dia bertanya,

“Capek nggak Mas ditidurin pahanya gini..?”

Lalu aku jawab, “Ah nggak apa-apa kok Mbak!” dalam hati sih pegel juga nih sudah itu batang kemaluan aku agak sedikit bangun gara-gara aku mengintip dadanya yang montok dan putih.

Dia pakai BH yang cuma separuh (atas lebih terbuka) jadi gundukan daging di dadanya agak menonjol, di luar dugaan dia tanya lagi.

Tapi kali ini tanyanya nggak tahu lagi, iseng barangkali,

“Burungnya nggak keganggu kan ditidurin sama aku?” lalu aku jawab sekenanya saja,

“Keganggu sih nggak, cuman agak bangun”, eh dia tersenyum, sambil memegang batang kemaluanku,

“Biarin deh bangunin saja, pengen tahu, kayak apa sih!”

“Ya sudah bangunin saja”, jawabku pasrah sambil berharap hal itu beneran,

“Ah yang benar Mas? kalau gitu buka dong biar aku bangunin”,

“Jangan di sini Mbak, nanti kalau Mbak Nia datang gimana kita”,

“Oh tenang saja si Nia pulangnya baru ntar sore, dia teman baik aku, aku sering nginap disini, dia juga suka nginap dirumah aku”, terus aku diam saja.

“Ayo dong di buka, katanya burungnya pengen dibangunin!”

Dalam keadaan duduk dan menyandar di dinding di tambah lagi Yuli yang tiduran tengkurap di kakiku, jadi agak repot juga aku buka jeansku, cuma aku ploroti sampai batas paha saja.

Begitu dia lihat batang kemaluanku, langsung di genggamnya sambil berkata,

“Ini sih masih tidur, ya? biar aku bangunin!”

Lalu mulai dikocok dan tangan yang sebelah lagi mengelus bagian kepala, membuatku merasa geli tapi nikmat.

Lalu ketika batang kemaluanku mulai mengeras, dia semakin mendekatkan wajahnya dan mulai menjilat dengan ujung lidahnya di sekitar bagian bawah kepala kemaluanku.

Sekali-kali dia gigit-gigit kecil, hal ini membuat aku merem melek, akhirnya kukatakan,

“Mbak buka T-shirnya dong!”

“Lho kenapa Mas?” katanya. Aku menjawab,

“Pengen lihat saja!”

Lalu sambil tersenyum dia bangun dan mulai membuka ikat pinggang, kancing celana dan retsleting celana jeansnya, sehingga perut bagian bawahnya tampak putih dan sedikit tampak batas celana dalamnya.

Dia tarik T-shirt ke atas dan dilepaskan, sehingga dengan jelas aku lihat pemandangan indah dari dadanya yang montok (BH no 36), dan selanjutnya dia mulai menurunkan celana jeansnya.

Sekarang tinggal pakai BH dan celana dalam saja. Oh.. CD-nya yang mini sekali, betapa indah tubuh wanita ini montok dan sekel setelah itu kembali dia tiduran ke posisi semula.

Tapi kali ini dia tidak hanya memainkan batang kemaluan aku tetapi sudah mulai dimasukkan ke dalam mulutnya.

Terasa lidahnya bermain di atas kepala kemaluan aku dan oh.. nikmatnya.

Sambil membuka baju, aku mencoba mengangkat pantatku agar lebih masuk, rupanya dia tahu maksudku, dia masukan full sampai ke tenggorokannya.

Aku tidak pernah mengukur batang kemaluanku sendiri tapi di dalam mulutnya batang kemaluanku terasa sudah mentok dan masih tersisa di luar kira kira 2 ruas jari orang dewasa, sampai Yuli sempat tersendak sesa’at. aku pun segera berputar lalu merebahkan badan sehingga posisi sekarang seperti 69.

Kubiarkan dia mempermainkan kemaluanku, sementara aku ciumi paha bagian dalam Yuli yang mulus dan putih, sambil meremas bagian pantatnya yang masih tertutup celana dalam.

Pelan pelan kutarik celana dalamnya, sampai terlihat dengan jelas bulu lebat di sekitar kemaluannya sehingga kontras dengan warna kulitnya yang putih, begitu lebatnya sampai ada bulu yang tumbuh di sekitar lubang duburnya.

Oh, indah sekali panorama yang ada di depanku, dan aku pun mulai menjilat vaginanya yang wangi sebab kelihatannya dia rajin pakai shampo khusus untuk vagina. P

ada saat itu terdengar suara merintih yang lirih. “Oh Mas aku nggak tahan nih.. ah”, dan dia tampak bersemangat.

Lubang kemaluannya mulai berlendir, buah dadanya mengeras, akhirnya aku bangun dan kubalikkan tubuhnya dan kulepas BH-nya, sehingga tampak tubuhnya yang montok dalam keadaan bugil.

Kuperhatikan dari atas sampai bawah tampak sempurna sekali, putih, mulus, bulu kemaluannya tampak lebat.

Waktu kuperhatikan itu, tangannya terus memegang batang kemaluanku, akhirnya kurenggangkan kedua pahanya dan kuangkat sehingga tampak jelas lubang vagina dan anusnya.

Lalu kutarik pelan-pelan batang kemaluanku dari mulutnya dan merubah posisi. Kupeluk dia sambil menciumi bibir, leher, serta telinganya.

Hal ini membuat dia terangsang sambil berkata lirih, “Mas masukin saja Mas..!” lalu aku bangun dan aku pandang dia, dan kuatur posisi kedua kakinya dilipat sehingga pahanya menempel di dadanya.

Lalu aku berjongkok dan kupegang batanganku dan kuarahkan ke vaginanya lalu kutempelkan kepala kemaluanku.

Kutekan sedikit demi sedikit, dan dia mulai merintih, tangannya mencekram tanganku dengan kuat, matanya memejam, kepalanya bergoyang kiri dan kanan dan vaginanya basah hebat.

Ini membuat kepala kemaluanku basah, dan aku mulai berirama keluar masuk, tetapi hanya sebatas kepalanya saja

Kini ia mulai mencoba menggoyangkan pinggangnya dan mencoba menekan agar batang kemaluanku masuk total tapi aku pertahankan posisi semula dan mempermainkannya terus.

Akhirnya karena tidak tahan dia pun memohon, “Mas.. oh.. masukin saja Mas, nggak kuat nih.. ohh.. Mas”, pintanya.

Akhirnya aku mulai mendorong batang kemaluanku perlahan tapi pasti. Dengan posisi jongkok dan kedua kakinya berada di atas pundakku, aku mulai menciumi dengkulnya yang halus itu.

Mbak Yuli pun mulai menggoyangkan pinggangnya ke atas dan ke bawah, kira-kira 10 menit kemudian dia mulai merenggang dan gerakannya tidak stabil sambil merintih.

Berawal Dari Satu Bus Berakhir Ngewe

“Mas.. ooh.. Sstt”, dadanya dibusungkan, tampak putingnya menonojol.

“Ayo Mas.. akhh.. terus.. Mas..” aku pun mulai memompa dengan irama lebih cepat, sesekali dengan putaran sehingga bulu kemaluanku mengenai bagian klitorisnya.

Hal ini yang menyebabkan Mbak Yuli “Orgasme” atau klimaks, dan terasa cairan hangat menyiram batang kemaluanku, tubuhnya merenggang hebat.

“Mas Ohh.. psstt.. akh..” nafasnya memburu, sesa’at kemudian dia terdiam dan aku pun menghentikan goyanganku.

Kutarik pelan-pelan batang kemaluanku dan setelah dicabut tampak ada bekas cairan yang meleleh membasahi permukaan vaginanya.

Nafasnya tampak ngos-ngosan seperti orang habis lari. Aku pun duduk terdiam dengan kemaluan masih tegang berdiri, Mbak Yuli pun tersenyum.

Sambil tiduran kembali di atas kedua pahaku dan rambutnya terurai sambil dia pandangi batang kemaluanku yang masih berdiri. Tangannya memegang sambil berkata,

“Mas ini nikmat sekali, diapaiin sih kok bisa segede begini.” Lali kujawab,

“Ah ini sih ukuran normal orang asia”, dan dia bilang,

“Tapi ini termasuk besar juga lho Mas.” aku hanya terdiam sambil mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya, dan kulihat Mbak Yuli tetap mempermainkan batang kemaluanku dan berkata,

“Kasih kesempatan 5 sampai 10 menit lagi ya Mas, biar aku bisa nafsu lagi”, aku terdiam hanya menganggukan kepala.

Ronde kedua dimulai, di rebahkan badanku lalu dia ambil posisi di atas badanku, dia kangkangin kedua pahanya, dipegangnya batang kemaluanku yang masih keras dan tegang lalu dimasukan ke dalam lubang vaginanya, dan dia pun mulai melakukan gerakan naik dan turun, seperti penunggang kuda.

Kedua buah dadanya berayun-ayun lalu secara reflek kupegang kedua putingnya dan kupilin pilin, membuat Mbak Yuli terangsang hebat.

Kira-kira hampir setengah jam kemudian aku merasakan spermaku akan segera keluar.

Segera aku balikkan tubuhnya dan kupompa kembali vaginanya dengan nafsu, Mbak Yuli merasakan aku akan melepaskan spermaku, dia segera berkata,

“Mas keluarin di luar saja, aku ingin lihat”, aku diam saja sesa’at kemudian Mbak Yuli mulai merintih,

“Aduh Mas ohh.. nikmat.. Mas.. akhh.. mass”, akhirnya Mbak Yuli kembali orgasme membuat vaginanya basah. Hal ini membuat aku semakin nikmat.

Akhirnya aku tak mau menahan lebih lama spermaku, terasa sudah di ujung tak dapat kutahan lagi.

Segera kutarik batang kemaluanku, tangan kananku mengocok batang kemaluanku sendiri dan tangan kiri menekan pangkal batang kemaluanku sendiri.

Pada saat itu Mbak Yuli memasukan salah satu jarinya kelubang anusku membuat spermaku muncrat banyak sekali berhamburan di atas dada, perut, dan diatas rambut kemaluannya.

Akupun segera berbaring di sampingnya, istirahat sebentar, lalu kekamar mandi untuk mandi bersama.

Dikamar mandi kami saling menyabuni, sambil kuremas kedua buah dadanya yang basah oleh sabun.

Mbak Yuli pun memainkan batang kemaluanku yang masih setengah tidur tapi masih saja mengeras.

Lama-lama aku tegang lagi karena permainan tangan Mbak Yuli dengan sabunnya, waktu aku tanya,

“Mbak tadi kok minta dikeluarin di luar kenapa?” dia hanya bilang senang melihat kemaluan laki laki lagi keluar spermanya.

“Mas ini bangun lagi ya?” Aku hanya mengangguk sambil tanya,

“Boleh dimasukin lagi nggak?” Dia mengangguk sambil berkata,

“Dari belakang ya Mas!” sambil membalikan badan yang masih penuh sabun dan posisi setengah membungkuk.

Kedua tangannya berpegang di sisi bak kamar mandi dan kedua kakinya direnggangkan sehingga tampak jelas sekali lubang vaginanya, juga lubang anusnya.

Aku jongkok dibelakangnya sambil mempermainkan lidahku di sekitar vagina dan kedua pantatnya, lamat-lamat kudengar desahan suara diantara gemericik air yang mengalir ke bak mandi.

Segera kuambil sabun sebanyak mungkin kugosok di batang kemaluanku, lalu kugenggam batang kemaluanku dan kepala kemaluanku kutempel di permukaan lubang vaginanya.

Terdengar desahan dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju mundur, nikmat sekali dan Mbak Yuli pun tampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri.

Kurang lebih 10 menit Mbak Yuli kembali ke puncak kenikmatan. Lendir hangat kembali membasahi batang kemaluanku. Aku bertanya,

“Keluar lagi Mbak?” ia hanya menganggukkan kepalanya, lalu pelan-pelan kembali kugerakkan batang kemaluanku maju mundur sambil menunggu Mbak Yuli terangsang lagi.

Kulihat lubang duburnya yang agak mencuat keluar, lalu kucoba masukan jari telunjukku ke dalam duburnya setelah aku beri sedikit sabun, terdengar sedikit rintihan,

“Sstt.. ah Mas pelan-pelan”, rintihan yang membuat aku semakin nafsu, tiba tiba aku ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang kelihatannya masih “Perawan” itu.

Kutarik pelan batang kemaluanku yang masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan Mbak Yuli.

Kutempelkan kepala kemaluanku yang mengeras di permukaan duburnya, kupegang batang kemaluaku sehingga kepalanya mengeras.

Aku mencoba menekan batang kemaluanku, karena licin oleh sabun maka kepala kemaluanku segera melesak ke dalam, dia pun mengeluh,

“Akhh aduh mass.. sstt ohh!” aku berhenti sea’at, dan dia bertanya,

“Kok dimasukin di situ Mas?” lalu kujawab dengan pertanyaan,

“Sakit nggak Mbak?” Mbak Yuli diam saja, dan aku melanjutkan sambil berdiri agak membungkukkan badan, tangan kiriku melingkar di perutnya menahan badannya yang mau maju, dan tangan kananku berusaha memegang vaginanya mencari klitorisnya.

Hal ini membuat dia terangsang hebat, dan kutekan terus sampai masuk penuh.

Terasa olehku otot anusnya menjepit batang kemaluanku, permainan ini berlangsung 1/2 jam lamanya, dan kembali aku tak mampu menahan spermaku di dalam duburnya sambil kupeluk tubuhnya dari belakang.

Kutekan batang kemaluanku sedalam mungkin, tubuhku bergetar dan mengeluarkan cairan sperma dalam duburnya.

Kubiarkan sesaat batang kemaluanku di dalam anusnya sambil tetap memeluk tubuhnya dari belakang, dan tubuh kami masih berlumuran dengan sabun.

Kami melepaskan nafas karena kecapaian lalu kami selesaikan dengan saling menyirami tubuh kami, lalu berpakaian dan duduk kembali menunggu Mbak Nia pulang, Mbak Yuli pun tertidur di sofa karena kecapaian.

Ketika mulai senja kulihat Mbak Nia pulang dan aku membukakan pintu, dia bertanya, “Mana si Yuli?” aku tunjukan dan dia berkata, “Oh lagi tidur, capek kali ya?”

Aku hanya diam saja dan Mbak Nia masuk kamarnya, tiba-tiba aku ingin pipis dan aku ke kamar mandi melewati kamar Mbak Nia.

Secara nggak sengaja aku melihat dari antara daun pintu yang tidak rapat, Mbak Nia sedang ganti baju, kulihat dia hanya mengenakan celana dalam saja.

Tubuhnya bagus, putih bersih dan sangat berbentuk.

Sesaat aku terpana dan ketika ia mengenakan baju aku buru-buru ke kamar kecil untuk pipis, dan waktu keluar dari kamar mandi, Mbak Nia tengah menunggu di depan pintu, sambil tersenyum dia bilang, “Tadi ngintip ya?”

Aku hanya tersenyum dan berkata, “Boleh lihat semuanya nggak?”

Dia menjawab, “Boleh saja tapi nggak sekarang, nggak enak sama..” sambil menunjukkan tangannya ke arah ruang tamu.

Aku paham maksudnya, lalu dia masuk kamar mandi sambil tangannya menyempatkan meremas kemaluanku, aku segera kembali ke ruang tamu dan membangunkan Mbak Yuli.

Akhirnya aku dan Mbak Yuli sering melakukan hubungan seks dengan berbagai style di motel, villa kadang-kadang di rumahku sendiri, dan ketika aku ingin ke rumahnya beliau selalu melarang dengan berbagai alasan.

Ternyata Mbak Yuli ini sudah bersuami dan memiliki seorang anak, ini membuatku sangat kecewa.

Di saat aku mulai benar benar mencintainya, dan Mbak Yuli pun sebenarnya menginginkan hal yang sama, tapi beliau sudah terikat oleh tali perkawinan.

Hanya saja dia tidak pernah merasakan nikmatnya hubungan seks dengan sang suami, dan saat jumpa dengan diriku dia cukup lama mengambil keputusan untuk menjadikan diriku sebagai kekasihnya (PIL).

Katanya bersamaku dia menemukan apa yang dia inginkan (kata dia lho). Hubungan kami berlangsung setahun lebih sampai dia pindah bersama suaminya ke Surabaya.

Tapi aku yakin suatu hari aku pasti ketemu lagi. Oh Mbak Yuli sayangku, ternyata kamu milik orang lain.Hingga saat ini aku masih berharap ketemu lagi, setiap pagi aku masih setia menunggu kamu, walau tidak ketemu tapi kenanganmu masih tersisa dalam hatiku.

Demikian artikel tentang cerita Berawal Satu Bus Bareng Berakhir Dengan Ngewe Sampe Crotttttt.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Istri Lonte Gak Puas Sama Kontol Kecil Suami Malah Kontol Anak Kost disuruh Genjot Memeknya Sampe Hamil.

Istri Lonte Gak Puas Sama Kontol Kecil Suami Malah Kontol Anak Kost disuruh Genjot Memeknya Sampe Hamil.Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli.

Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kos.

Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan.

Keluarga tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sinta, demikian kami anak-anak kos memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia.

Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sinta. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sinta sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat.

“Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas.

“Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu.

“Bego! Ya penisnya dong”, kata Krus.

“Kok tahu kalau dia Sintaah ngacung?” saya mengejar lagi.

“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sinta sering membentak-bentak suaminya?” tutur Krus.

“Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Robin.

“Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya.

Robin tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita”

“Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sinta nggak bermaksud begitu”, sergah Heri yang sejak tadi diam.

“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti”

Diam-diam ucapan Robin itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Sinta? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk perangkapnya?

Selama setahun kos diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang tanpa tersadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol.

Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Sinta. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.

“Wah.. maaf, Mbak. Nggak sengaja..” kataku sambil tersipu malu.

“Sengaja juga nggak apa-apa kok dik”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya.

Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Robin mendekati kebenaran. Mbak Sinta memang berusaha memancing, mungkin tak puas dengan kehidupan seksualnya bersama suaminya.

Makin lama aku bertambah berani. Beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh dia cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi tetapi meremas.

Sialan, reaksinya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome. Cuma aku masih takut.

Siapa tahu dia punya kelainan, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya tak tertahankan lagi.

Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.

Suatu hari ketika rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Sinta ke kantor.

Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet.

“Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Sinta lo”, kataku.

“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model.”

“Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?”

“Coba apa..”

“Itu..”

“Mana?”

Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.

“Ah.. kamu ini.”

Reaksinya makin membuatku berani. Aku mendekat. Mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Sinta diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih.

Dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah. Remasanku terus kulanjutkan.

“Dik.. malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah.

“Kalau begitu kita ke kamar?”

“Kamu ini nakal”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.

“Mbak..”

“Hmm..”

“Bolehkah mm.., bolehkah kalau saya..”

“Apa hh..”

“Bolehkah saya memegang toket Mbak yang gede itu?”

“Hmm..” Dia mendesah ketika kujilat telinganya.

Tanpa menunggu jawabannya tanganku segera menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku.

Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan.

“Dik, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.

Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali.

Setelah itu aku kembali ke Mbak Sinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna krem.

Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Sinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh.. sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.

“Mbak belum pernah dioral ya?”

“Apa itu?”

“Vagina Mbak akan kujilati.”

“Lo itu kan tempat kotor..”

“Siapa bilang?”

“Ooo.. oh.. oh ..”, desis Mbak Sinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya.

Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Sinta kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.

“Aahh.. Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh..”

“mm film biru dan bacaan porno kan banyak mm..” jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Aksi liarku pun terhenti mendadak.

“Sst ada tamu Mbak”, bisikku.

“Cepat kau sembunyi ke dalam”, kata Mbak Sinta sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan.

Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Sinta. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan.

Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Sinta bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Sinta menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.

“Siapa Mbak?”

“Tukang koran menagih rekening.”

“Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat..”

“Sudahlah”, katanya sambil mendekati aku.

Tanpa sungkan-sungkan Mbak Sinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos.

Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Sinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.

“Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?” tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar.

Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.” Mbak Sinta pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih.

“Mbak mau saya oral lagi?” tanyaku.

Mbak Sinta hanya tersenyum. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Sinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat.

Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.

“Gantian dong, Mbak”

“Apa muat segede itu..”

Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Sinta agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

“Sorry ya Mbak”

“Ah kau ini mainnya aneh-aneh.”

“Justru di situ nikmatnya, Mbak. Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana?” tanyaku sambil menciumi payudaranya.

“Ah malu. Kami main konvensional saja kok.”

“Langsung tusuk begitu maksudnya..”

“Nakal kau ini”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.

“Suami Mbak mainnya lama nggak?”

“Ah..” dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.

“Pasti Mbak tak pernah puas ya?”

Mbak Sinta tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Sinta agak gemetar.

“Ohh..” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.

Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot Mbak Sinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.

“Ooo.. ahh.. hmm.. sshh..” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.

Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.

“Enak Mbak?” tanyaku.

“Emmhh..”

“Puas Mbak?”

“Ahh..” desahnya.

“Sekarang Mbak berbalik. Menungging.”

Aku mengatur badannya dan Mbak Sinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.

“Gaya apa lagi ini?” tanyanya.

“Ini gaya anjing. Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah.”

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Sinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.

“Capek?” tanyaku.

“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku.”

“Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

“Kita lanjutkan nanti malam saja ya.”

“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terlentang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama genjotanku dari bawah.

Mbak Sinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa.

Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Sinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.

“Oh Mbak.. aku mau keluar nih ahh..”

Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Sinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

“Vaginamu masik nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya.

“Penismu juga nikmat, Dik.”

“Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi.”

“Ah Mbak memang kalah pintar dibanding kamu.”

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

“Mbak kalau pengin bilang aja ya.”

“Kamu juga. Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst.. kalau pas aman lo.”

“Mbak mau nggak main ramai-ramai?”

“Maksudmu gimana?”

“Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok.”

“Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah..”

“Tapi mau mencoba kan?”

Mbak Sinta tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali. Ah Mbak Sinta, Mbak Sinta.

Demikian artikel tentang cerita Istri Lonte Gak Puas Sama Kontol Kecil Suami Malah Kontol Anak Kost disuruh Genjot Memeknya Sampe Hamil.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Reunian Berujung Adu Kontol Memek Dengan Bispak Zaman Sekolah Yang Entot-able.

Reunian Berujung Adu Kontol Memek Dengan Bispak Zaman Sekolah Yang Entot-able.Aku terkejut ketika tiba-tiba mendapat sepucuk surat dari seorang teman SMA yang berisi pemberitahuan reuni khusus untuk kelasku di SMA. Reuni rencananya akan diadakan kurang lebih sebulan lagi saat cuti bersama lebaran 1996 sekaligus halal bi halal.

Setiap tahunnya memang kelasku mengadakan pertemuan. Acara akan diadakan di sekitar Jabotabek, karena banyak teman-teman SMA yang berdomisili di Jakarta. Namun karena berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan dipindah ke Yogyakarta saja.

Terakhir aku bertemu dengan teman-teman SMA waktu reuni 1990, setahun setelah kami lulus. Setelah itu karena kuliah dan kemudian domisili serta pekerjaanku yang sering berpindah, maka aku tidak pernah ikut lagi.

“Pak Anto, ada telepon. Katanya dari teman bapak sewaktu di SMA,” kata Ita, operator telepon di kantorku sambil melongokkan kepalanya di pintu ruanganku.

“Thanks Ta”.

Kuraih gagang telepon.

“Hallo..”.

“Pak Anto?” terdengar suara di telepon.

“Ya, saya sendiri. Ini siapa?” tanyaku.

“Tok, gila lu. Nyariin lu susahnya melebihi menghadap menteri. Ini Isman. Lu udah dapat pemberitahuan reuni kelas kita belum?”

“Udah, tapi nggak tahu nih. Tahun ini mungkin nggak bisa ikut lagi,” kataku.

“Tahu nggak, anak-anak bilang lu sekarang sombong, beda dengan waktu sekolah. Nggak pernah mau ikut kumpul-kumpul lagi,” kata Isman memvonisku.

Isman memang teman sekolahku yang paling dekat. Selama tiga tahun di SMA kami duduk sebangku. Paling kalau lagi bosan sehari dua hari nomaden cari tempat duduk lain. Habis itu kembali lagi. Kami sering diolok-olok sebagai sepasang kekasih. Anaknya baik dan fair.

Meskipun aku selalu dapat rangking 3 besar, ia tidak pernah memanfaatkanku dengan mencontek secara mentah. Paling ia hanya minta rumusnya saja. Setelah itu ia sendiri yang memasukkan bilangan ke dalam rumus dan mengerjakannya sendiri.

“Bukan begitu Is. Lu kan tahu domisiliku dan pekerjaanku sering berpindah kota. Jadi undangan tidak pernah sampai dan juga kadang tidak bisa ambil cuti”.

“Kali ini usahakan ikut. Banyak yang nanyain tuh. Intan gebetanmu waktu SMA sering jadi sasaran olok-olok teman-teman. Katanya lu nggak mau datang karena patah hati ditolak sama Intan”.

“Ha.. Ha.. Ha. Lu bisa aja. Gua ama Intan masih sering kontak kok. Cuma sebagai sahabat saja. Gua ngerti alasan dia menolakku dulu”.

“Udah ya. Pokoknya kali ini lu mesti datang atau namamu dicoret dari daftar alumni kelas kita”.

“Iya deh, gua usahain,” kataku ragu. Soalnya meskipun pada saat lebaran aku tidak diijinkan mengambil cuti terlalu lama. Cukup libur dua hari tanggal merah saja kata bosku. Memang sebagai kompensasinya aku diberi jatah cuti yang lebih panjang dari biasanya di lain waktu.

Aku ingat masa SMA-ku. Rasa tertarik pada teman wanita ada. Tapi karena sifatku yang cengengesan jadinya mereka menganggap hanya sebagai sebuah canda saja. Akhirnya ketika menjelang lulus, kutembak Intan.

Kurasa ia sebenarnya ada hati juga padaku, namun karena ada suatu perbedaan prinsip ia menolak cintaku. Akupun maklum dengan alasannya dan sampai saat ini kami masih sering kontak baik lewat telepon ataupun surat.

Beberapa hari kemudian aku iseng-iseng ke personalia. Kutanyakan jatah cutiku untuk tahun ini. Ia membuka komputernya dan menatapku sebentar.

“Pak Anto masih punya jatah cuti 10 hari. Kenapa? Mau ambil cuti lagi?” tanyanya.

“Rencananya saya mau ambil cuti pada masa lebaran saja Pak. Udah berapa tahun nggak pernah pulang saat lebaran,” kataku.

“Bapak isi saja formulirnya, nanti kalau kondisinya memungkinkan tentu akan diijinkan,” katanya sambil mengangsurkan formulir permohonan cuti. Setelah kuisi lalu kukembalikan lagi padanya. Tiga hari kemudian aku mendapat konfirmasi bahwa cutiku diberikan sesuai dengan permohonanku.

Akhirnya saat reuni pun tiba. Dalam suasana lebaran begini kami masih bisa mendapatkan tempat di sebuah hotel di Kaliurang. Hebat amat panitianya, pikirku. Ternyata suami seorang teman, Tini, bekerja sebagai manager di hotel tersebut. Pantas saja!

Aku datang sekitar pukul tiga sore. Sengaja kusamarkan penampilanku. Cambang tidak kucukur selama seminggu lebih. Topi yang kulesakkan agak dalam ke kepalaku dan kacamata hitam semakin membuatku yakin tidak ada yang mengenaliku. Ketika ke resepsionis hotel kulirik di lobby telah berkumpul beberapa temanku.

“Mbak, reuni untuk SMA XX benar di sini?” tanyaku.

“Oh ya Pak. Bapak siapa namanya?”

“Anto”.

“Kamar bapak 217, nanti sekamar dengan Pak Isman,” kata resepsionis tadi sambil menyerahkan kunci kamar.

“Ada barangnya Pak?” tanyanya lagi ramah.

“Maturnuwun Mbak. Ah cuma tas kecil saja kok. Saya ke lobby saja dulu Mbak. Nampaknya sudah banyak yang datang tuh,” kataku.

“Silakan Pak Anto. Monggo, Bu Tini juga ada di lobby kok”.

Aku berjalan dengan santai ke lobby. Kulihat di sebuah meja nampaknya ramai dengan gelak tawa. Aku tersenyum saja. Ternyata memang sudah ada beberapa teman laki-laki dan perempuan yang ada dan masih ngerumpi.

Entah karena penampilanku atau karena tidak memperhatikan sekelilingnya kelihatannya mereka tidak memperdulikanku. Aku duduk di meja sebelahnya dengan posisi memunggungi mereka. Kudengar lagi suara bersahutan dan kemudian gelak tawa meledak. Aku tidak tahu persis siapa yang bicara.

“Eh Anto katanya mau datang. Udah lama dia nggak kumpul dengan kita. Udah jadi konglomerat katanya dia di Jakarta.”

“Ah paling dia udah nggak ingat lagi dengan kita-kita. Jelas dia patah hati dengan Intan sehingga dia nggak mau lagi ketemu dengan kita. Takut terkuak luka lama”.

Aku tersenyum saja. Mereka bicara bersahut-sahutan.

“Oh ya, kali ini siapa yang sudah nggak perawan lagi?”

“Husshh, ngaco lu!!”

“Maksudnya udah kawin. Lu aja yang ngeres”.

“Oo. Anto kali ya. Dulu aku sebenarnya mau saja ama dia. Tapi dianya lebih tertarik ke Intan. Aku tentu tak berani bersaing dengan Intan”.

Kali ini pasti suara Desi. Anak ini dulu memang ada perhatian khusus padaku. Tiba-tiba kulihat seseorang berjalan ke arah mereka. Kulirik sekilas, ternyata Isman. Aku pura-pura membaca majalah dengan menunduk. Isman pun segera larut dalam gelak tawa di sebelah. Setelah beberapa lama, mungkin ia baru sadar.

“Eh, mana Anto?”

“Sudahlah. Pacarmu itu nggak akan datang?”

“Kalau saya lihat di daftar booking kamar. Ada kok namanya. Malahan sekamar sama Isman. Biar mereka pacaran lagi,” kata Tini sang tuan rumah.

“Dia sudah datang. Tadi saya ke resepsionis katanya udah ambil kunci dan katanya di lobby. Makanya aku langsung ke sini,” kata Isman dengan nada penasaran.

Ia berdiri dan mengamat-amati tamu yang ada. Ia keluar dari kelompok tadi dan berjalan ke arahku sambil tetap mengamati sekelilingnya. Ia kemudian duduk di depanku dan memperhatikanku.

Ketika bertatapan mata ia hanya mengangguk dan kubalas dengan anggukan kecil tanpa ekspresi. Kelihatannya ia belum mengenaliku, atau ragu-ragu apakah aku benar teman sebangkunya di SMA.

Ia masih penasaran, sesekali melirikku namun kubiarkan saja. Akhirnya ia berdiri dan berjalan ke resepsionis. Kembali dari resepsionis dengan langkah mantap ia menuju ke arahku, berdiri di belakangku dan dengan sekali renggut maka terlepaslah topiku. Teman-teman lainnya yang ada di meja sebelah kelihatan terkejut.

Aku masih diam saja. Ia tarik tanganku sampai aku berdiri dan kemudian tangannya melepas kacamata hitamku. Tangan kanannya memegang tangan kiriku dan mengangkatnya. Kemudian dengan gaya seorang announcer pertandingan tinju ia berteriak.

“Inilah pangeran yang kita nanti-nanti selama ini. Dengan bangga kami persilakan tampil.. Anntoo, the Lost Boy!!”

Dengan tersenyum aku membungkukkan badan. Diam sejenak. Kemudian semuanya menghambur ke arahku. Ada yang memukul lenganku, ada yang mencubit, ada yang mendorong, sayangnya tidak ada yang menciumku.

“Gila anak satu ini. Bisa-bisanya ia duduk manis di sebelah kita. Sementara kita sibuk mencarinya”.

Akhirnya satu persatu semua temanku menyalamiku dengan hangat. Kurasakan semua memang saling sangat merindukan. Bukan aku sombong, tapi waktu masa sekolah dulu selain pintar aku tidak memilih teman. Mungkin satu sifat saja yang kurang disukai teman-teman.

Aku kebanyakan bercanda walau suasana sedang serius. Jadi kalau ada rapat untuk suatu acara, aku tidak pernah jadi panitia. Tapi kalau acara sudah berlangsung, teman-teman akan kehilangan kalau aku nggak ada.

“Emang lu nggak berubah dari dulu. Usil, jahil, iseng de-el-el. Tega lu duduk nguping gosip kita. Gimana kabarnya?” salah seorang temanku bertanya.

“Dengar semuanya. Pasang telinga baik-baik. Aku akan jelaskan semuanya sekaligus sanggahan semua gosip tadi. Aku masih Anto yang dulu, bedanya sekarang cambangnya saja lebat. Aku tidak patah hati karena Intan. Sampai sekarang, mungkin aku yang paling sering kontak dengan Intan. Kalian tahu dua bulan lagi ia akan menikah? Jadi jangan bikin gosip murahan, nanti bisa saya adukan karena mencemarkan nama baik. OK?” kataku dengan nada yang dibuat-buat.

“Aku tidak bisa ikut acara reuni tahunan karena kesibukanku. Untuk itu maafkanlah daku yang hina dina ini!” lanjutku.

“Sudah.. Sudah. Lebih baik sekarang kita istirahat sambil menunggu yang lain. Nanti acara mulai jam tujuh sekalian makan malam,” Tini menyarankan.

Akhirnya kami bubar menuju kamar masing-masing. Aku masuk ke kamar bersama Isman. Sambil berbaring kami saling bercerita tentang kondisi kami masing-masing.

Jam tujuh kurang sedikit kami semua sudah berkumpul di ruangan tempat acara. Dari tiga puluh dua orang yang diundang, ternyata hadir dua puluh lima orang saja. Sebenarnya semuanya ada empat puluh dua, namun beberapa orang sudah hilang jejaknya.

Ada beberapa orang yang membawa suami atau istrinya dan anaknya. Dengan dagu yang licin, cambang sudah kucukur bersih tadi sore dan kemeja santai aku duduk semeja dengan beberapa teman. Isman yang mau bergabung diusir oleh teman lainnya.

“Lu nggak bosen-bosen berdekatan dengan si Anto. Lebih baik lu temenin tuh Ira yang dulu naksir lu. Ia sendirian saja. Suaminya nggak ikut. Sibuk kali kaya pangeran kita di sebelah”.

Dengan gontai Isman berjalan dan mencari meja lainnya. Acara kemudian dimulai. Karena lingkupnya hanya reuni kelas maka suasana dibuat santai dengan permainan. Sepertinya aku dikerjai kali ini. Dalam permainan ini aku sengaja dibuat agar dihukum berpasangan dengan Intan. Ia datang sendiri. Aku hanya tersenyum saja, sementara itu Intan kelihatan sedikit kikuk.

“Tenang saja Intan. Aku tidak akan menelanmu,” bisikku.

“Ahh..”

“Kita kan sudah lebih dewasa. Aku tahu posisi kita. It’s just a game. Teman-teman hanya iseng mau ngerjain kita. Gimana kalau gantian kita yang ngerjain mereka”. Kali ini suaraku kubuat seserius mungkin. Ia hanya diam saja.

Kugenggam tangannya dengan semesra mungkin. Teman-teman lain sudah riuh dan bersorak.

“Gitu dong. Kenapa nggak dari dulu. Pas dan cocok sekali..”

Intan yang tadinya tertunduk malu-malu kini mulai lebih berani. Kelihatannya ia yakin kalau aku tidak akan berbuat macam-macam. Teman-teman memang agak berlebihan mengerjai kami.

Kami disuruh untuk menggigit batang korek api dan memindahkan karet gelang yang digantungkan di batang yang kugigit. Dengan perlahan muka kami saling mendekat dan dengan beberapa gerakan yang agak membuat napas tertahan akhirnya karet gelang sudah berpindah ke batang korek yang digigit Intan.

Semuanya bersorak dan Intan pun menghembuskan napas dalam-dalam seolah melepaskan beban di dalam dadanya.

“Thanks To. Kamu sahabat yang baik,” katanya sambil menyalamiku. Aku hanya tersenyum dan menggerakkan bahu.

Acara demi acara berlangsung dan akhirnya tiba acara makan. Aku mengambil makananku dan mencari tempat yang nyaman untuk menikmatinya. Di sebuah meja agak di sudut, terlihat seorang teman duduk sendirian.

“Siska, kok sendirian saja. Boleh saya duduk di sini?” tanyaku.

“Silakan saja. Untuk kamu semua kursi boleh kamu tempati. Kamulah bintang malam ini,” katanya menggodaku.

“Terima kasih, pakaianku jadi sesak nih,” kataku membalas godaannya.

Siska salah seorang bunga di kelas kami. Kelihatannya agak sombong, namun setelah mengenalnya sebenarnya ia seorang yang ramah dan baik.

Ada beberapa teman baik yang sekelas maupun kelas lainnya yang mencoba mendekatinya, namun mundur teratur ketika mengetahui ia sudah memiliki calon suami mahasiswa kedokteran. Terakhir aku mendengar ia putus dengan dokter-nya dan menikah dengan seorang dosen.

Ternyata teman-teman lainnya tidak ada yang mengambil tempat dan bergabung dengan kami. Kini kami hanya berdua saja.

“Kamu mesra sekali dengan Intan tadi. Aku jadi iri,” ia berkata sambil menatapku.

“Ah, itu kan kerjaan kalian semuanya. Aku hanya menyesuaikan dengan irama permainan kalian saja. Dulu aku mau mendekatimu, tapi kalah dengan sang dokter. Ngomong-ngomong mana suamimu?”

“Sudahlah, itu masa lalu. Hanya indah untuk dikenang. Suamiku lagi tugas belajar ke Jerman. Gimana pacarmu Isman?”.

“Hussh.., tanya saja sendiri”.

“Kamu belum married juga. Gosipnya patah hati dengan Intan ya?”

“Belum ketemu yang cocok saja”.

Akhirnya kami mengobrol dan bercerita tentang diri kami. Ia sudah mempunyai seorang anak dan sekarang lagi dititipkan ke neneknya. Ia mendapat kamar di lantai 2 di ujung koridor, sendirian saja karena teman sekamarnya tidak jadi ikut acara reuni.

Acara berakhir pada jam sepuluh. Beberapa teman belum mau beranjak dan terlihat masih mengobrol. Sebagian lagi sudah keluar dari ruangan dan berpindah ke lobby hotel. Aku ditarik untuk ikut bergabung dengan mereka. Agar tidak mengecewakan maka aku pun berbaur dengan mereka.

Setengah jam kemudian dengan alasan pusing dan lelah, aku berpamitan untuk ke kamar. Toh besok pagi masih ada acara bersama menikmati keindahan alam Kaliurang. Isman sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Katanya ia ada keperluan keluarga dan menginap di rumah saudaranya.

Ketika sampai di lantai dua, kulihat Siska sedang membuka pintu kamarnya. Ia menengok dan melihatku. Ia melambaikan tangan menyuruhku mendekat.

“To, aku sebenarnya belum mengantuk. Tapi males ngobrol di bawah. Terlalu ramai dan riuh. Temani aku ngobrol di teras kamar yuk!”

Aku menurut saja, masuk ke kamarnya dan terus menuju ke teras. Kamarnya masih berantakan. Sampai di teras kami duduk. Siska masuk sebentar dan keluar lagi dengan membawa dua kaleng soft drink. Kami mengobrol sampai pada masalah pribadi.

“Bener kamu belum punya pacar?” tanyanya menyelidik.

“Bener. Apa untungnya aku bohong padamu”.

“Laki-laki biasanya begitu. Katanya belum punya pacar, ternyata anaknya sudah lima”.

“Bener kok. Masih bujangan tulen”.

“Apanya yang bujangan. Kupingmu?!!” katanya terkekeh dan mencibirkan bibirnya.

Topik obrolan beralih ke dirinya.

“Berapa lama suamimu tugas belajar?”

“Tiga tahun. Tadinya aku mau diajak, tapi ibuku tidak mengijinkan. Beliau ingin aku masih di sini”.

“Jadi tiga tahun ini kedinginan dong?” godaku.

Ia diam dan pandangannya menerawang. Ditariknya napas dalam-dalam. Kami saling terdiam. Ia memainkan jemarinya. Aku jadi salah tingkah. Sementara gerimis mulai turun.

“OK deh Sis, aku kembali ke kamarku dulu. Besok pagi masih ada acara lagi,” kataku.

Ia masih diam membeku. Namun kemudian ia berdiri dan meraih tanganku.

“Aku mengenal kamu sebagai orang yang tidak pernah serius. Kali ini aku bicara serius dan aku minta kamu juga menanggapinya serius. Kamu bilang tadi kalau aku akan kedinginan. Aku tahu kamu cuma bercanda dan menggodaku. Tetapi setelah kurasakan ternyata malam ini aku memang sangat kedinginan. Baik tubuhku maupun hatiku. Kamu mau menghangatkannya?”

“Sis, kamu sadar apa yang kamu katakan?” tanyaku.

“Aku sadar sepenuhnya. Kamu mungkin memandangku sebagai perempuan murahan, tapi sejujurnya aku belum pernah berselingkuh sampai ketika kami mengobrol tadi. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku membayangkan malam ini menjadi sangat panjang dan dingin. Aku tidak ingin berpisah dengan suamiku, tapi aku.. tidak.. tidak. OK, kalau kamu tidak bersedia tidak apa-apa dan aku percaya kamu bisa merahasiakan hal ini”.

Aku diam sejenak. Siska memang terlihat sangat cantik dan matang. Kubimbing ia masuk ke kamar, menutup pintu teras dan mengunci pintu masuk. Ia memegang jariku, menatapku dan berbisik, “Thanks To”.

Aku berbaring dengan pikiran menerawang. Sejujurnya aku pun ingin menikmati tubuhnya yang indah, namun rasanya hal ini terlalu mudah dan cepat sehingga aku tidak bisa mencernanya. Siska membuka ikatan rambutnya sehingga rambutnya tergerai sampai ke pungungnya.

Gaun malam yang dikenakannya sangat serasi dengan tubuhnya. Ia melemparkan syal yang dipakainya. Aku baru sadar kalau gaunnya memiliki potongan V rendah di dada sehingga sebagian buah dadanya terlihat padat. Ia menghempaskan tubuhnya di sampingku.

“To, apa pandanganmu terhadap diriku ini. Apakah aku seorang perempuan yang gampangan?”

“Saya tidak akan menilai pribadi seseorang. Kamu sudah dewasa dan kamu bisa menilai dan memutuskan apa yang kamu lakukan”.

Siska diam, tapi tangannya mulai mengusap lenganku dengan lembut. Kupeluk dia dari belakang dan kuciumi leher dan bahunya yang terbuka. Dipegangnya tanganku dan ditangkupkan ke dadanya. Kuremas buah dadanya perlahan. Siska merintih perlahan dan membalikkan badannya.

Kami masih terus berpelukan, berciuman dan berguling-guling. Ciuman dan remasanku semakin lama semakin ganas. Iapun mengerti kalau nafsuku sudah mulai bangkit. Ia mendesah dan menggesek-gesekkan pipinya pada pipiku. Bibirnya mengulum daun telingaku dan mendesah..

“Ohh.. Anto. Enam bulan lebih aku kedinginan dan menunggu saat-saat seperti ini”.

“Siska, aku akan memuaskanmu malam ini..”, balasku sambil menciumi telinganya.

Ia menindih tubuhku dan tetap menciumi bibir, leher dan pipiku sambil terus merintih dan merapatkan tubuhnya. Tangannya dengan cekatan membuka kancing bajuku. Kutarik retsluiting gaunnya dan kini bagian dadanya semakin terbuka lebar. Mulut dan lidahku menyusuri seluruh leher, telinga dan pangkal buah dadanya yang sedikit tersembul.

Ia melepaskan pelukannya dan membuka gaunnya. Kulitnya yang putih diterpa lampu kamar yang remang-remang membuat silhouette di tubuhnya. Aku melepas kemejaku dengan tetap berbaring. Siska membuka kepala ikat pinggangku kemudian menarik kaitan dan retsluiting celanaku. Kini aku dan Siska hanya mengenakan pakaian dalam.

Siska berbaring telentang dan tangannya terjulur menyambutku. Kususupkan tanganku ke balik bra-nya dan kuremas putingnya. Ia tidak sabar lagi dan tangannya membuka kaitan bra-nya. Kini bagian dadanya sudah polos terbuka. Kubenamkan mulutku ke dadanya dan beraksi mencium dadanya yang padat kemudian menggigit belahan dadanya dan menjilati putingnya.

Kejantananku mulai bereaksi ketika tangannya menyusup di celana dalamku. Pelan tapi pasti kejantananku mulai membesar sehingga terasa mulai mengganjal. Kunaikkan pantatku untuk mengurangi rasa tekanan kejantananku pada perutnya.

Kemudian tangannya mengarahkan kejantananku sehingga kepalanya berada sedikit di bawah pusarnya. Tangannya ke bawah, kemudian meraba, mengusap serta memainkan penisku.

Kini kepalaku bergerak ke leher, dada, menjilat putingnya dengan jilatan ringan kemudian terus ke bawah sampai di selangkangannya. Kusingkapkan celana dalamnya dan mulai menjilati dan memainkan tonjolan daging kecil di bagian depan vaginanya.

Bibir vaginanya yang berwarna kemerahan kuusap dengan bagian dalam telunjukku. Ia membuka pahanya agar memudahkan aksiku. Aku menggesekkan hidungku ke bibir vaginanya.

“Lakukan To.. Teruskan. Ahkk!!”

Ia menghentakkan kepalanya dengan keras ke atas bantal meluapkan kekecewaannya. Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika clitnya kujilat dan kujepit dengan kedua bibirku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melancarkan serangan terakhir, namun aku sendiri masih ingin menikmati dan melakukan foreplay.

Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. Tangan kirinya memegang kepalaku dan menekankannya ke celah pahanya. Tangan kanannya meremas-remas payudaranya.

Kepalaku kembali bergerak ke atas dan menciumi sekujur dadanya. Tangannya berada di atas kepala sambil meremas ujung bantal. Siska kelihatannya tidak sabar lagi dan dengan sekali gerakan tangannya melepaskan celana dalamku dan memegang kemudian mengocok penisku.

Kini dibukanya celana dalamnya dan kepala penisku digesekkannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian mencari-cari bibirnya yang sudah setengah terbuka.

Aku bergerak sehingga posisi dadanya sekarang di depan mulutku. Putingnya yang berwarna kemerahan digesekkannya di ujung hidungku dan segera kutangkap dengan bibirku. Kami berguling sedikit dan sebentar kemudian ia sudah berada di atasku.

Bibirnya dengan lincah menyusuri wajah, bibir, leher dan dadaku. Siska mendorong lidahnya jauh ke dalam mulutku, kemudian menggelitik dan memilin lidahku. Kubiarkan Siska yang mengambil inisiatif permainan. Sesekali lidahku membalas mendorong lidahnya. Kujepit putingnya dengan jariku sampai kelihatan menonjol kemudian kukulum dan kujilati dengan lembut.

“Auhh, Ayolah Anto.. Teruskan.. Lagi,” ia merintih pelan.

Kemaluanku mulai menegang dan mengeras. Kukulum payudaranya semuanya masuk ke dalam mulutku, kuhisap dengan kuat, dan putingnya kumainkan dengan lidahku. Napas kami memburu dengan cepat dan badan kami mulai hangat oleh darah yang mengalir deras. Kami berguling.

“Ayo puaskan aku sayang.. Ahh.. Auuh!” Siska mendesis ketika ciumanku berpindah turun ke leher dan daun telinganya.

Tangan kiriku mulai menjalar di pangkal pahanya, kumasukkan jari tengahku ke belahan di celah selangkangannya dan kugesek-gesekkan ke bagian atas depan vaginanya.

“Ahh.. Kamu pandai sekali”.

Sementara itu tangan kananku meremas buah dadanya dengan lembut. Tangannya membalas dengan memegang, meremas dan mengocok penisku. Dengan liar kuciumi seluruh bagian tubuhnya yang dapat kujangkau dengan bibirku. Beberapa saat kemudian penisku mengeras maksimal. Kepalanya memerah dan berdenyut-denyut.

Jari tengah kiriku kugerakkan lebih cepat dan tubuhnya kemudian berputar-putar menahan rasa nikmat. Pinggulnya naik dan bergoyang-goyang. Kupelintir puting payudara kirinya dan dan mulutku menjilati puting kanannya. Sementara itu jari kiriku tetap mengocok lubang vaginanya. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat dan liar gerakan pinggulnya.

Kepalaku bergerak turun perlahan sampai di selangkangannya dan segera mengambil alih pekerjaan jariku. Kubuka bibir vaginanya dengan jariku dan dinding vaginanya yang mulai basah oleh lendir agak kental dan lengket segera kujilati. Bibir vaginanya kugaruk dengan kumisku. Ia menggelinjang tidak karuan.

“To.. Anto.. Aku juga mau merasakan penismu,”

Aku bergerak memutar sehingga penisku berada di depan mulutnya. Ia kemudian mengecup kepala penisku. Lidahnya membelah masuk ke lubang kencingku. Aku merasakan sensasi kenikmatan yang tidak terkira dan secara refleks aku mengencangkan otot kemaluanku.

Buah zakar yang menggantung di bawahnya kemudian diisapnya dan dijilatinya sampai pangkal buah zakarku. Aku hanya menahan napasku setiap ia menjilati titik sensitif ini. Kami seakan berlomba untuk memberikan rangsangan pada alat kelamin pasangannya.

Kami bergantian menikmatinya. Ketika ia mengulum, mengisap dan menjilat penisku aku menghentikan aksi lidahku dan menikmatinya demikian juga sebaliknya ketika klitorisnya kujilat dan kutekan dengan lidahku ia berdesis keras menahan rasa nikmat. Tangannya kadang menekan kepalaku dengan keras ke selangkangannya.

“Putar To. Berguling, aku ingin di atas,” pintanya dengan manja.

Aku berguling dan kembali kami melanjutkan aktivitas kami. Kini mulutnya dengan leluasa beraksi di penis dan area sekitar pangkal pahaku. Penisku sudah mulai terasa ngilu menahan sedotan mulutnya yang sangat kuat.

“To, ayo kita masuk dalam permainan berikutnya..”

Dengan gerakan perlahan Siska berjongkok di atas selangkanganku dan mulai menurunkan pantatnya. Sebentar kemudian dengan mudah aku sudah menembus guanya yang hangat dan lembab. Kembali kurasakan sempitnya alur vaginanya.

Pinggulnya bergerak naik turun dan aku mengimbanginya dengan memutar pinggul dan menaik turunkan pantat. Kakinya menjepit pahaku dan kadang dikangkangkan lebar-lebar.

Kuciumi bahu dan dadanya. Beberapa kali kugigit sampai meninggalkan bekas kemerahan. Tangannya menekan dadaku sekaligus menahan berat badannya. Gerakan pinggulnya berubah menjadi berputar cepat dan semakin cepat lagi.

Tak lama kemudian ia merebahkan tubuhnya merapat di atasku dan mulai menghujaniku dengan ciuman dan gigitan. Kini dadaku yang berbekas kemerahan di beberapa tempat.

Aku mengambil posisi duduk dan kubalikkan tubuhnya ke arah berlawanan dengan arah kepalaku tadi. Kini aku berada di atasnya. Jepitan dan sempitnya vagina membuatku kadang melambatkan tempo dan berdiam untuk lebih rileks. Namun ketika aku diam jepitan dinding vaginanya ditingkatkan sehingga aku tetap saja didera oleh rasa nikmat luar biasa.

Aku bergerak semakin cepat dan mulai kurasakan aliran yang tidak terkendali di tubuhku. Aku ingin segera mengeluarkannya namun aku harus memuaskannya terlebih dahulu. Aku menurunkan irama permainan.

Kini ia yang bergerak-gerak liar. Gerakan demi gerakan, teriakan demi teriakan dan akhirnya Siska sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.

“Aachhkk.. Anto.. Ouhh”.

Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Untuk memaksimalkan kepuasannya maka kutekankan penisku ke dalam vaginanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot keggelku. Iapun kembali mengejang setiap kali otot keggelku kugerakkan.

Sejenak kami beristirahat tanpa mencabut penisku. Kami saling mengusap tubuh satu sama lain. Sesaat kemudian kami membersihkan diri dan kembali berbaring bersebelahan.

“Kamu memang gombal. Laki-laki memang tukang tipu. Kamu bilang masih perjaka. Kalau melihat permainanmu tadi pastilah sudah banyak wanita yang jadi korbanmu,” katanya ketus sambil mencubit pahaku.

“Aduuhh. Nggak ada yang jadi korbanku. Malahan kadang aku yang jadi korban. Atau kamu merasa jadi korbanku?” tanyaku serius.

Ia diam dan kelihatan bingung menerima pertanyaanku.

“Ahh. Sudah kamu memang dari dulu ngeyel, nggak mau kalah, usil, nyebelin meskipun kalau nggak ada kamu memang suasana kelas jadi sepi”.

“Jadi sekarang gimana..?” Tanyaku.

“Ya dilanjut dong. Aku kan masih ingin lagi..”

Ketika gairah kami kembali bangkit aku memeluknya kembali. Kami kembali berciuman dan saling merangsang untuk meningkatkan gairah kami. Kali ini kami melakukan pemanasan agak lama sampai ketika penisku sudah mengeras maksimal dan vaginanya sudah mulai basah, Siska lalu mengangkang dengan satu kaki dilipat lututnya.

“Ayo To, kita lakukan lagi!” Dengan cepat aku menindih tubuhnya dan penisku segera beraksi menggenjot vaginanya.

Setelah beberapa lama maka kuberikan isyarat untuk doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat mengambil posisi tengkurap. Ia sudah membelakangiku dalam keadaan berbaring. Diremasnya penisku dan diarahkan ke vaginanya.

Pantatnya dinaikkan sedikit dan dengan mudah penisku menyusup di belahan vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya. Kurebahkan badanku di atasnya. Kami berciuman dalam posisi ia tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan menjalankan kegiatannya.

Aku menusuk vaginanya berulang kali. Ia pun mendesah sambil meremas sprei di dekatnya. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi menungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku.

Setelah hampir dua puluh menit permainan kami yang kedua ini, Siska semakin keras berteriak dan sebentar-sebentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.

Siska berbalik telentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Akhirnya aku merasa hampir mencapai puncak dari kenikmatan ini. Kutarik buah zakarku sehingga penisku kelihatan agak memanjang.

“Siska, kayaknya aku nggak tahan lagi, aku mau keluar,” teriakku.

“Ouhh.. Tunggu dulu.. Sebentar lagi.. Kita sama-sama..”

Napas kami semakin terengah-engah. Kukendorkan sebentar otot keggelku dan kemudian kukencangkan, kutahan dan kugenjot lagi dengan cepat. Kupercepat gerakanku. Akhirnya tak lama kemudian kami bersama mencapai titik kenikmatan tertinggi.

Aku menyemprotkan spermaku terlebih dahulu. Siska semakin cepat menggerakkan tubuhnya agar tidak ketinggalan dan tak lama Siska pun mendapatkan puncaknya ketika penisku masih menyemburkan sisa-sisa lahar kenikmatan. Setelah itu kami terbaring lemas.

Sekitar jam empat dini hari kami sudah bergumul lagi dengan liarnya. Hampir satu jam kami menuntaskan gairah kami. Jam setengah enam aku kembali ke kamarku. Selang lima menit Isman datang. Ia menatapku dengan sorot mata heran melihat mataku yang memerah.

“Kamu nggak tidur semalam?” tanyanya.

“Tidur, cuma nggak nyenyak aja,” kataku jujur. Aku kan sempat tertidur juga sambil memeluk Siska, meskipun paginya harus mengeluarkan energi ekstra.

“Udah, lu tidur lagi aja. Acara nanti paling mulai jam delapan. Aku mau ke bawah dulu minum kopi,” katanya lagi.

Jam setengah delapan aku terbangun dan langsung mandi. Jam delapan kurang sepuluh aku sudah ada di restauran dan menyelesaikan sarapan dengan cepat. Jam delapan aku sudah ada di depan hotel bersama-sama dengan teman-teman lainnya.

Seperempat jam kemudian kami sudah berada di Taman Wisata Kaliurang. Kami berjalan sambil bergurau naik turun bukit dan menikmati panorama Kaliurang. Aku berjalan di samping Intan. Aku teringat saat SMA ketika kami sekelas mengadakan acara santai di sebuah lokasi wisata pegunungan.

Aku selalu menempel Intan dan membantu membimbing tangannya ketika melewati jalan yang sempit atau curam.

“Capek In?” tanyaku.

“Ah enggak. Gimana tidurnya, nyenyak?” tanyanya seolah menyelidik.

Aku jadi kikuk dan merasa bersalah. Ada perasaan seolah-olah ia tahu apa yang terjadi semalam. Padahal mungkin saja ia hanya sekedar berbasa-basi.

“Yah bisa juga tidur, tapi udara terlalu dingin. Jadi sering terbangun dan buang air kecil,” kataku.

Tiba-tiba sekelompok teman yang lain mendahului kami dan berkata.., “Silakan bernostalgia. Kami tidak akan mengganggu kalian kok”. Kemudian pecah suara tawa berderai. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan.

“Cepat kalian jalan di depan. Kami juga tidak mau diganggu,” kataku.

“Tapi ingat lho. Kalau berduaan jangan di tempat sepi, bahaya!” celetuk seseorang.

Siska yang berada di dalam rombongan itu melihatku dan tersenyum. Akhirnya setelah makan di alam terbuka kami kembali lagi ke hotel sekitar jam dua belas siang. Acara reuni akan berakhir jam tiga dan jam dua sudah harus check out. Isman sudah nggak ketahuan lagi perginya. Iseng-iseng kutekan nomor kamar Siska di telepon kamar.

“Hallo..” terdengar suara Siska.

“Hallo say, udah beres-beres?” tanyaku.

“Ini lagi masukin pakaian,”

“Perlu bantuan?” tanyaku lagi.

Ia tidak menjawab dan meletakkan gagang teleponnya. Aku berpikir sejenak dan akhirnya kuputuskan untuk ke kamarnya saja. Paling tidak aku harus bicara apa yang telah terjadi semalam. Kuketuk pintu kamarnya.

“Room service,” kataku dengan suara agak berat.

“Masuk saja,” katanya.

Aku masuk ke dalam kamarnya dan ia kelihatan terkejut melihatku.

“Kamu lagi. Nggak bosan-bosannya berbuat iseng”.

“Aku juga nggak bosan dengan kamu kok,” Mukanya memerah.

“Ngerayu lagi. Udah sana beresin pakaianmu sana. Sebentar lagi kita udah diusir sama suaminya Tini”.

Siska sudah berganti pakaian dengan kemeja pink tipis dan celana jeans ketat. Bra-nya yang berwarna hitam dengan model tanpa tali bahu terlihat di balik kemejanya. Ia duduk di atas ranjang dan aku memeluk dari samping, sambil bibirku mulai bekerja menciumi daerah leher, pelipis dan sekitarnya.

“Udah To. Sebentar lagi kita harus check out,” katanya sambil berusaha melepaskan pelukanku.

“Kita masih punya waktu sedikit lagi kan?” kataku yakin. Ia ragu-ragu tapi kemudian kurasakan ia menyerah dalam pelukanku.

Angin pegunungan bertiup agak kencang sehingga Siska menggigil. Tanganku dipegangnya dan didekapkan di dadanya. Kubisikkan di telinganya, “Daripada kita kedinginan lebih baik kita panaskan dulu suasana ini!”

Ia tidak menjawab namun tubuhnya bergerak dan duduk di pangkuanku. Kemudian tangannya menggelayut di leherku. Kami berpelukan di atas ranjang.

Tak lama kemudian tubuh bagian bawahnya sudah telanjang, sementara aku sudah telanjang bulat. Aku sengaja belum membuka bajunya karena ingin menikmati pemandangan di depanku ini.

Tubuh yang putih mengenakan pakaian tipis terbuka di atas sedang berbaring di ranjang sementara di bagian pangkal pahanya terbayang sejumlah rumput hitam yang rapi mengitari sebuah telaga. Ia membuka pahanya sehingga telaganya yang berwarna kemerahan sangat menantang. Aku hanya diam dan mengelus-elus perutnya.

“Kamu cuma akan begini terus atau..”. Belum habis kata-katanya kucium bibirnya dan aksiku pun segera berlanjut.

Kutindih dan kujelajahi sekujur tubuhnya dengan jariku. Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik..

“Ouuhh.. Anto.. Terserah kamu apapun yang akan kau lakukan..”.

“Aku akan memuaskanmu..” kataku membalas bisikannya.

“Ouhh.. Apa.. Saja. Akhh..!”

Dari bibir lidahku turun ke dada dan ke samping, mengecup pinggul dan pinggangnya, kemudian ke arah pahanya. Hidungku kutempelkan di bibir vaginanya. Tercium aroma harum dan segar. Kulebarkan pahanya kuberikan rangsangan di sekitar pangkal pahanya tanpa menyentuh vaginanya. Ketika kugigit pahanya sampai merah ia memekik.

“Antoo.. Jangan.. Sudah To!” pekiknya.

Kepalaku kembali ke dadanya dan kuminta dia untuk berguling ke atas. Dengan cepat kami berguling. Kuraih bagian bawah bajunya dan dengan cepat kulepaskan lewat kepalanya. Kukecup gundukan payudaranya yang keluar dari cupnya.

Bra-nya dengan sekali jentikan jariku kemudian terlepas. Kusambut payudaranya dengan jilatan lidahku melingkari sekitar puting dan dengan sekali jilatan halus.

Siska menekan pangkal payudaranya sehingga payudaranya seperti mengencang. Siska kemudian membawa payudaranya ke mulutku dan kusambut dengan rakus seperti bayi yang sedang kehausan susu ibunya. Kugantikan posisi tangannya dan kuremas.

Ujung putingnya kujilat dan kumainkan dengan gigitan lembut bibirku. Ia semakin terangsang dan ingin segera mendaki lereng kenikmatan.

Tangannya mengocok penisku dengan lembut. Dikecupnya kepala penisku, diratakannya cairan bening yang sudah mulai keluar dari lubang kencingku dengan mulutnya. Aku menahan napas ketika lidahnya menjilati lubang kencingku. Kini ia jongkok di atas pahaku dan mulai mengarahkan penisku ke dalam liang vaginanya.

Peniskupun masuk ke dalam liang vaginanya. Kukeraskan ototku sedikit dan Siskapun mulai menggerakkan pantatnya. Ia seperti penunggang kuda yang sedang memacu kudanya. Pantatnya bergerak naik turun dengan cepat.

Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku serta meremas dan mengulum payudaranya. Gerakannya semakin cepat dan erangannya makin sering. Aku mengubah posisiku menjadi duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam posisi Siska duduk di pangkuanku.

“Aagghh.. Anto..,” teriaknya.

Kudorong dia ke arah yang berlawanan dengan posisi semula. Kini aku berada di atasnya dan mulai mengatur irama permainan. Bibirku bergerak ke leher dan menjilatinya. Tangannya mengusap punggung dan pinggang sampai pantatku.

Tanganku meremas lembut payudaranya dari pangkal kemudian kutarik ke arah puting. Kutarik putingnya sedikit dan kujilati sekitarnya yang juga berwarna kemerahan. Kutekan payudaranya dengan telapak tangan dan kuputar-putar.

Kususuri buah dadanya dengan bibirku tanpa mengenai putingnya. Ia bergerak tidak menentu. Semakin ia bergerak maka payudaranya ikut bergoyang. Jilatanku makin ganas mengitari tonjolan kemerahan itu.

“To.. Aku.. Isep.. Isep dong.. Yang,” pintanya.

Aku masih mempermainkan gairahnya dengan jilatan halus di putingnya itu. Siska mendorong buah dadanya ke mulutku, dan putingnya langsung masuk ke mulutku, dan kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian. Lumatan bibirku di puting Siska makin ganas. Ia semakin liar bergerak

“Aagh..”, ia memekik-mekik.

Vagina Siska makin lembab, namun tidak sampai banjir. Siska langsung mendesis keras ketika merasakan hunjaman penisku yang menyodoknya bertubi-tubi. Tangannya mencengkeram punggungku. Gerakan naik turunku diimbangi dengan memutarkan pinggulnya.

Semakin lama gerakan kami semakin cepat dan liar. Ia semakin sering memekik dan mengerang. Kuku tangannya kadang mencakar punggungku. Kutarik rambutnya dengan satu tarikan kuat, kukecup lehernya dan kugigit bahunya.

“Ouhh.. Ehh.. Yyeesshh!”

Kugenjot Siska dengan cepat dan menghentak-hentak. Kuganti irama gerakanku. Kumasukkan penisku setengahnya dan kucabut sampai tinggal kepalanya yang terbenam beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan pantatku dengan keras.

Siska pun menjerit tertahan dan wajahnya mendongak. Pinggulnya yang tidak pernah berhenti untuk bergoyang dan berputar semakin menambah kenikmatan yang terjadi. Jepitan vaginanya yang menyempit ditambah dengan gerakan pinggulnya membuatku semakin bergairah.

Aku menurunkan irama untuk mengurangi rasa nikmat yang meledak-ledak. Penisku kubiarkan tertanam di dalam vaginanya dan kemudian aku menggerakkan otot kemaluanku.

Terasa penisku berkontraksi mendesak dinding vaginanya dan ketika aku melepaskan kontraksiku, kurasakan dinding vaginanya menyempit meremas penisku. Hanya suara desahan yang terdengar di dalam kamar. Ia memberi isyarat untuk menyelesaikan permainan ini.

“Aku ingin merasakan panasnya lahar gairahmu,” ia mendesah.

Kembali kami berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan tubuh kami yang basah oleh keringat. Siska semakin cepat menggerakkan pantatnya sampai penisku terasa disedot oleh satu pusaran yang sangat kuat. Siska meremas rambutku dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya menjepit erat pinggulku.

Badannya meronta-ronta, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, tangannya semakin kuat menjambak rambutku dan menekan kepalaku lebih keras lagi ke dadanya. Aku pun semakin bergairah untuk menghujani kenikmatan kepada Siska yang tidak berhenti mengerang.

“Aahh.. Sshh.. Sshh ” Gerakan tubuh kami semakin liar dan cepat.

“Ouoohh.. Nikmat.. Aku.. Sam.. Pai..”

Aku mengangguk dan ia pun memekik panjang, “Ya .. Ayo.. Aahhkk..!”

Aku mengencangkan otot kemaluanku dan menghunjamkan penisku ke dalam vaginanya. Nafasnya tercekat sejenak dan kemudian keluarlah erangannya. Tubuhnya kami mengejang bersama-sama. Kakinya memperketat jepitan di pinggulku. Sedetik kemudian spermaku sudah memancar di dalam vaginanya. Kami menjerit tertahan..

“Aww.. Aduuh.. Hggkk”

Sunyi sejenak di dalam kamar. Hanya ada suara napas memburu yang kemudian berangsur-angsur menjadi tenang. Sayup-sayup suara angin berdesir terdengar berirama. Setelah napas kami tenang kupeluk ia dengan mesra.

“Sis..”

“Hee.. Ehh”.

“Sejujurnya aku tak pernah berpikir akan terjadi hal seperti ini”.

Ia diam dan matanya agak memerah. Bibir bawahnya digigit.

“Aku juga tidak tahu kenapa ini terjadi. Aku sangat kesepian dan memerlukan kehangatan. Tetapi mengapa ini terjadi?” ia mengeluh dan menutup mukanya.

“To.. Sudah kepalang basah sekarang. Kalau kamu belum mau pulang ke Jakarta nanti malam aku masih menginginkannya lagi. Tapi tidak di sini. Kita pindah ke Yogya, sekitar Malioboro saja yuk”.

Kutatap matanya untuk memastikan kata-katanya.

Ia mengangguk dan berkata, “Seperti kataku tadi, sudah telanjur basah ya mandi saja sekalian..”

“Aku mengerti, tapi aku juga tegaskan bahwa ini adalah just for fun. Aku tidak ingin kamu berpisah dengan keluargamu. Aku hanya ingin membantu melepaskan dahagamu saja,” kataku.

“Aku juga tidak ingin kehilangan keluargaku,” katanya tegas.

Akhirnya acara reuni berakhir dan aku masih melanjutkan reuniku hanya berdua dengan Siska di Yogyakarta. Ketika kami berpisah keesokan harinya, ia mengecup pipiku dan berbisik..

“Tahun depan kamu harus ikut reuni lagi”. Artinya?

Demikian artikel tentang cerita Reunian Berujung Adu Kontol Memek Dengan Bispak Zaman Sekolah Yang Entot-able.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Kisahku Menikmati Tubuh Sintal Dan Meki Sempit Atasan Baruku Yang Bikin Sange.

Kisahku Menikmati Tubuh Sintal Dan Meki Sempit Atasan Baruku Yang Bikin Sange.Sebelum saya bercerita, saya akan memperkenalkan diri, nama saya Anton, tinggi sekitar 170 cm dengan berat badan 75 kg, cukup seimbang dari segi body.

Kulit saya coklat kehitaman dan wajah biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Saat ini usia saya 34 tahun. Karena ini kisah nyata, maka nama-nama para pelakunya saya samarkan.

Kisah ini terjadi sekitar bulan Mei tahun 2020, ketika aku baru pertama kali bekerja di sebuah cabang lembaga keuangan yang baru buka di Kota B.

Sebagai kantor baru, maka teman-temanku pun juga masih baru, namun keakraban diantara kami sudah sangat terbina dengan baik, karena sebelum buka kantor, kami sama-sama mengikuti training di kantor pusat.

Oleh karena itu, keakraban kami terjalin sejak kami mengikuti training di kantor pusat.

Setelah tiga bulan kantor kami beroperasi, datanglah seorang karyawati baru, dengan penampilan sebagai seorang yang sudah profesional dan kelihatan berpengalaman.

Dia mengenakan blazer kuning gading, serasi dengan rok bawahan yang juga kuning gading. Tas kantor hitam tertenteng di tangannya, sehingga menambah kewibawaanya sebagai seorang wanita karir.

Rambut disisir rapi ke belakang dengan gaya aristokrat, kulitnya kuning langsat dan sangat bersih dan terawat, dan pada saat itu saya perkirakan berusia sekitar 36 tahun, jauh diatas usiaku pada saat itu yang masih 24 tahun.

Saya berpikir bahwa wanita ini cukup cantik dan berwibawa, meskipun usianya jauh di atas saya, tapi saya sempat berpikir ngeres kepadanya.

Wanita tersebut masuk ke ruang pimpinan saya, mereka berbicara dengan pimpinan saya, dan akhirnya keluar dari ruangan dan menuju meja saya.

Pimpinan saya memperkenalkan wanita tersebut kepada saya dan ternyata namanya Ita, dan aku dipersilakan memanggilnya Mbak Ita.

Mbak Ita bakal menjadi atasan saya dalam menangani keuangan. “Asyik” pikirku dalam hati, lumayan buat cuci mata kalau pas lagi lembur pulang malam.

Hari itu kami basa-basi sebentar dan saling memperkenalkan diri dan akhirnya kami sudah menjadi team yang akrab, meskipun gaya Mbak Ita dalam bekerjasama dengan saya cukup menjaga jarak.

Dari perkenalan awal, saya tahu bahwa dia masih keturunan bangsawan.

Mbak Ita juga cerita bahwa dia menikah lima tahun yang lalu dan belum punya anak, sedangkan suaminya seorang pejabat Pemda.

Usia suaminya adalah sepuluh tahun di atas usia Mbak Ita.

Kami bekerja sama dengan Mbak Ita cukup baik, karena dia sudah lama bekerja dan sudah berpengalaman, maka saya banyak belajar dari dia.

Setiap hari kami pulang larut malam, karena kami diminta oleh Mbak Ita untuk bekerja lembur setiap hari.

Dan anehnya, semakin malam bertambah larut, maka stamina kerja Mbak Ita semakin meningkat. Rata-rata kami pulang kerja jam 10 malam.

Karena mobil dinas Mbak Ita belum diberi oleh perusahaan, maka setiap hari saya harus antar pulang Mbak Ita sampai ke rumah, dengan mengendarai sepeda motor saya.

Hubungan kami semakin lama semakin akrab, meskipun saya mengagumi kecantikan Mbak Ita, tetapi saya sangat menaruh hormat dan tidak berani bertindak kurang ajar.

Paling-paling hanya mencuri kesempatan untuk memandang betisnya yang mulus, pantatnya yang bulat dan indah, atau memandang leher atau sedikit dada bagian atas ketika Mbak Ita sedang membungkuk.

Tidak lebih dari itu.

Tetapi tanpa kuduga, suatu malam ketika kami habis istirahat makan malam berdua di ruang kerja Mbak Ita, sebelum kami melanjutkan kerja lagi, kami masih terlibat pembicaraan santai tentang keluarganya Mbak Ita.

Mbak Ita juga bercerita bahwa Mbak Ita itu sebenarnya memiliki penyakit kulit yang terkadang muncul dengan tiba-tiba dan katanya terasa gatal di sekujur tubuh.

Dengan tiba-tiba Mbak Ita meminta saya untuk menggaruk punggungnya yang mulai terasa gatal.

“Dik Anton, tolong ya garukkan punggung saya, agak gatal nich, mungkin kumat kali penyakit saya.”

Meskipun agak terkejut, tetapi saya langsung jawab,

“Baik Mbak, sebelah mana yang perlu saya garuk?” saya langsung spontan berdiri untuk menggaruk punggungnya dan sambil berpikir “Cihuii rejeki nomplok, kenapa baru sekarang? tidak kemarin-kemarin” pikirku mulai nakal.

Saya garuk pelan-pelan, tapi lebih tepatnya hanya mengusap-usap punggungnya saja, takut kalau Mbak Ita kesakitan.

“Dik Anton, agak keras dikit, masih gatal lho Dik”, pinta Mbak watik.

Dan saya agak sedikit memantapkan tangan saya di pungungnya.

“Dik Anton, masih belum terasa, sebentar saya buka dulu blazer saya.”

Mbak Ita langsung membuka blazernya, sehingga tinggal blouse-nya yang putih dan transparan.

Waduh semakin tidak tahan nich saya, karena kulit tengkuknya yang mulus dengan sedikit rambut lembut yang tergerai di tengkuknya (Mbak Ita kalau ke kantor selalu rambutnya disanggul di atas), semakin menambah feminin, dan semakin membikin saya langsung terangsang.

Saya menggaruknya tetap tidak mau keras dan masih cenderung mengusap atau membelai punggungnya, karena saya menikmati kehalusan kulit seorang bangsawan yang berada dibalik bajunya yang tipis.

Saya usap seluruh punggungnya dengan pelan, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan, terkadang tangan saya, saya telusupkan di bawah ketiaknya, untuk menggapai payudara yang di depan.

Mbak Ita menengadahkan kepalanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sambil suaranya mendesah, “Uuhh enak Dik Anton.. enaakk.. uuhh..”

Mendengar desahannya yang merangsang, rudalku langsung tegak bak tugu Monas.

Sekujur tubuhku mulai menggigil dan seperti dialiri setrum listrik yang halus merambat di sekujur tubuh dan terpusat di kemaluanku.

Tenggorokanku terasa kering, dan susah bicara, karena nafsuku yang langsung menggebu.

Baru kali ini saya bisa menikmati tubuh seorang bangsawan yang bersih, terhormat dan sangat terjaga dari tangan laki-laki lain, selain suaminya.

Karena Mbak Ita duduk membelakangiku yang berdiri sambil memijit-mijit punggungnya, batang kemaluanku langsung kutempelkan di punggungnya yang lembut seperti sutera.

Kugesek-gesekkan batang kemaluanku ke punggungnya dengan pelan. Dan Mbak Ita berkali-kali melenguh, “Uughh, enachh Dik, enaak, terus Dik.”

Dia membimbing tanganku untuk mengusap dua gunung kembar yang kencang dan kenyal.

Kuusap payudaranya dengan lembut, kucium tengkuknya dengan lembut, dan kugesekkan batang kemaluanku ke pungungnya dengan lembut.

Aku sangat tahu, kalau melayani tipe wanita seperti Mbak Ita ini harus dengan lembut dan dengan menggunakan perasaan.

Kucium tengkuknya dengan lembut, Mbak Ita sekali lagi menengadahkan kepalanya ke atas, matanya sambil terpejam, dan bibirnya yang tipis terbuka sedikit, dan mulutnya hanya bergumam, “Emm.”

Aku tahu itu artinya dia sangat menikmati.

Tanganku, kuusapkan dengan lembut di sekeliling payudaranya, dan kulingkari masing-masing payudaranya dengan kedua tanganku, sengaja aku tidak sentuhkan tanganku ke pentilnya, untuk memberikan sensasi yang sangat halus dan perlahan.

Beberapa kali tanganku mengitari sekeliling payudaranya, kemudian perlahan-lahan tanganku kutarik untuk mengusap pipinya.

Kutengadahkan wajahnya, dan kucium keningnya dengat lembut sekali. Aku bisa rasakan kelembutan nafasnya di wajahku, bibirnya yang tipis masih mengeluarkan gumaman yang lembut, “Dik Anton.. emm.. eemm..”

Dengan perlahan aku membalikkan badan Mbak Ita ke arahku, dengan cara memutar kursinya.

Saya membimbing dia untuk berdiri dengan perlahan, kini aku dan Mbak Ita sudah berhadapan, sama-sama berdiri, dadaku menempel ke dadanya.

Dan aku bisa merasakan kekenyalan susunya, dan saya membayangkan betapa indahnya bukit kembarnya.

Tanganku kudekapkan ke pinggangnya, dan telapak tanganku kuusapkan ke pantatnya yang juga sangat indah dan kencang.

Tangan Mbak Ita memegang pundakku dengan lembut, kepalanya sudah menengadah ke atas, dan tatapan matanya.. waduh, jernih dan indah menatap mataku tanpa berkedip.

Kusentuh bibirnya dengan lembut, kuusapkan perlahan bibirku ke bibirnya.

Mbak Ita memberikan reaksi dengan mengencangkan dekapannya ke pundakku dan dadanya ditempelkan lekat ke dadaku, tanganku kudekapkan semakin erat ke pantatnya dan agak kutarik ke atas pantatnya, sehingga kakinya agak diangkat ke atas.

Waduh ciumannya sangat lembut, perlahan-lahan kuusapkan lidahku ke lidahnya, dia memberikan reaksi yang sama, menyapukan lidahnya ke seluruh mulutku.

Tanganku mulai mengusap-usap punggungnya naik turun dengan lembut. Aku menikmati sekali kehalusan kulit punggungnya.

Setelah aku puas menciumi bibir, wajah dan pipinya, ciumanku perlahan-lahan kuarahkan ke lehernya.

Mbak Ita menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, matanya masih terpejam menikmati, nafasnya agak memburu, dan mulutnya masih bergumam, “Mmm.. uhh..”

Ciumanku mulai bergeser ke bawah, ke belahan dadanya.

Kancing blousenya yang di depan dengan mudah kubuka satu persatu, sehingga tersingkap sudah BH hitam yang menyangga dua buah payudaranya yang padat, bulat, kenyal, bersih dan ranum.

Kuciumi lehernya dengan sangat lembut, ke pundaknya, bergesar turun ke sebelah atas payudara yang tidak ditutup BH.

Mbak Ita semakin menengadahkan kepalanya, punggungnya juga semakin melengkung ke belakang, kedua tangannya memegang kepala saya dan sedikit meremas rambut saya, tandanya semakin menikmati gaya permainanku.

Kedua tanganku memegangi dibawah kedua ketiaknya, biar Mbak Ita tidak terjerembab ke belakang, tapi bibirku masih mengusap daerah leher dan di atas payudara.

Aku sengaja memperlama untuk menyentuh payudaranya, apalagi pentilnya. “Diik.. Aannton.. uugghh.. sstt”, sambil mulutnya berdesis kenikmatan.

Blousenya yang masih menempel di pundaknya perlahan-lahan kulepaskan, sehingga pemandangan kemulusan dan kemolekan tubuh Mbak Ita terpampang jelas di hadapanku.

Tubuhnya terkena sinar lampu down light kekuningan yang berada di langit-langit tepat di atas kami berdua, menambah romantisnya suasana malam itu yang tidak akan pernah kulupakan.

Sekali lagi tanganku kugunakan meremas sebelah pinggir dari payudaranya, dan tampak bahwa payudaranya sudah mulai mengeras.

Tanganku mengusap punggungnya dengan perlahan sambil membuka tali BH yang ada di punggungnya.

“Tik” sekali jentik langsung terbuka pengait BH-nya. dengan pelan kuturunkan tali BH yang ada di pundaknya, akhirnya BH-nya kulepas.

Woow, terlihat pemandangan indah sekali, dua gunung kembar yang kuning dan bersih dengan puncaknya yang kecil yang sudah berdiri tegak.

Aku sudah sangat terangsang tapi aku tidak boleh gegabah.

Kuusap payudaranya dari sebeleh bawah dengan tangan kananku, tangan kiriku masih mendekap punggungnya untuk menjaga agar Mbak Ita tidak terjatuh, dan kucium payudaranya.

Berkeliling mengitari pentilnya, dan tangan kananku masih mengusap-usap sebelah luar payudara, tapi dengan gaya agak memeras.

Kedua tangan Mbak Ita memegang erat pundakku tanda sudah semakin gemes, untuk dicium pentilnya.

Karena aku sudah merasa waktunya tepat, maka dengan lembut kukulum pentilnya.

Dan reaksinya, “Aaaughh, uuhh.. ss.. uuhh”, Mbak Ita melenguh-lenguh dan mendesis-desis keenakan, seakan-akan yang dinantikannya telah tiba.

Meskipun kondisinya sangat terangsang, tapi lenguhan itu tetap lembut dan terdengar lirih.

Kukulum pentilnya, kugesek-gesek pentilnya dengan lidahku, dan kugigit lembut pentilnya, tanganku tetap meremas-remas lembut payudaranya.

Setelah aku puas mempermainkan pentilnya kiri dan kanan bergantian, kulepaskan bibirku dari susunya, dan kugeserkan mulutku ke bawah ke seputar perutnya yang datar dan mengeluarkan aroma parfum yang lembut dan semerbak.

Ketika mulutku terlepas dari susunya, Mbak watik kelihatan menghela napas lega dan baru bisa bernafas dengan tenang.

Aku menciumi perutnya dengan agak sedikit jongkok. Kucium pusarnya, dan kujilati pusarnya dengan lidahku. Mbak Ita menggelinjang kegelian.

Karena terlalu lama berdiri atau karena sudah sangat terangsang, Mbak Ita sudah tidak kuat berdiri dan dia bergeser ke belakang duduk di meja kerjanya.

Aku berdiri dengan kedua lututku dan aku tetap jilati pusarnya dan perutnya.

Mbak Ita kegelian, dan mengusap-usap rambut kepalaku dengan tidak beraturan, terkadang meremas, menjambak dan mengusap rambutku. Sehingga rambutku sangat kacau.

Puas dengan permainan perut, Mbak Ita kurebahkan di meja kerjanya. Untungya meja kerja Mbak Ita cukup besar.

Kupelorotkan rok bawahannya, sekaligus dengan CD-nya.

Sekarang tampak di hadapanku seorang putri yang kuning, bersih, dengan kaki dan betis yang aduhai indah, terbujur pasrah di hadapanku.

Kunikmati tubuh Mbak Ita sebentar, karena selama ini aku hanya bisa membayangkan keindahan tubuhnya, tanpa berharap untuk dapat memandangnya.

Tapi ternyata malam ini apa yang kudapatkan jauh dari yang kubayangkan. Seorang wanita dengan tubuh montok dan kuning mulus, dengan kaki dan betis ramping.

Dua buah dada yang tidak terlalu besar, tapi bulat, padat dan kencang, sehingga cocok dengan kesan payudara seorang putri. Bentuk lengan dan bahu yang padat bulat dan berisi.

Mbak Ita telentang di atas meja di hadapanku, aku masih berdiri. Aku mencium pipinya sekali lagi dengan lembut, kuusap payudaranya dengan lembut.

Kedua tangan Mbak Ita merangkul leherku dengan erat. Kedua kakinya bergerak-gerak dengan halus pertanda sangat terangsang.

Perlahan-lahan tanganku kugerakan dari susunya turun ke perutnya. Kuusap sebentar perutnya dan bergerak turun ke bawah mengusap pahanya.

Paha yang selama ini hanya bisa kupandang. Aku usap pahanya naik turun dengan tetap mulut kami masih saling memagut.

Erangan-erangan kecil keluar dari mulut Mbak Ita, “Ugh.. ugh.. emm.. emm..” Tanganku bergerak dari sekitar pahanya terus mengusap sekitar bibir kemaluannya.

Dengan perlahan kedua kaki Mbak Ita mengembang, memberi kesempatan tanganku untuk mengelus kemaluannya.

Tetapi kemaluannya belum kuelus, hanya kedua selangkangan saja yang aku belai dengan kedua jari telunjuk dan jari manis bersama-sama.

Kuelus selangkangannya naik turun, dan Mbak Ita menambah kecepatan gerakan kakinya. Dengan pelan Mbak Ita mengangkat pantatnya, sehingga kemaluannya juga ikut naik.

Aku tahu ini pertanda agar aku dapat segera mengelus kemaluannya.

Kuusap pelan dan dengan jarak sentuhan yang kubuat serenggang mungkin antara bibir kemaluannya dan telapak tanganku, membuat gelinjang Mbak Ita menaikkan kemaluannya untuk menyentuh tanganku semakin tinggi.

Kubelai rambut kemaluannya yang lembut, tipis dan tertata rapi. Setelah puas memainkan sekitar kemaluannya, dan liang kemaluan Mbak Ita sudah semakin terbuka dan semakin basah.

Kusentuh klitorisnya dengan sedikit ujung dari jari tengahku dengan lembut dan.. “Uuhhgh”, lenguhan Mbak Ita kenikmatan.

Gerakan kakinya sudah semakin tidak teratur. Tiba-tiba tanganku dijepit dengan kedua pahanya.

“Diik Aaanntoon.. aakkuu.. nggakk.. taahh..” kemudian tangannya menarik punggungku sebagai bertanda agar aku segera menaiki tubuhnya.

Kutarik kedua kakinya ke arah pinggir meja, sehingga kedua kakinya terjuntai, kemudian Mbak Ita membuka kedua selangkangannya dengan tidak sabar.

Aku sempat memandangi kemaluannya, dan seakan liang kemaluannya merah seperti bibir gadis yang memakai lipstik yang sedang merengek.

Kugesekkan batang kemaluanku pelan-pelan ke bibir kemaluannya, dan Mbak Ita mengerang lagi, “Uugghh.. uughhg..”

Kumasukkan dengan pelan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.

Belum sampai habis masuk semua, kutarik kembali dan kumasukkan kembali. Dengan gesekan-gesekan yang pelan tersebut membuat erangan Mbak Ita semakin tidak beraturan.

Untuk melayani tipe seperti Mbak Ita ini, kugunakan gaya gesekan 5:1, artinya lima kali keluar masuk setengah batang kemaluan, baru sekali masuk seluruh batang kemaluan.

Dan pada saat masuk yang seluruh batang kemaluan, erangan Mbak Ita semakin hebat. Dengan gaya lembut dan 5:1 ini kami bisa saling menikmati.

“Uuugghh.. acchh.. Diikk.. Anntonn.. ucchh.. sstt.. uhh..”

Erangan erangan yang tidak beraturan tetapi artinya hanya satu yaitu Enak.

Sambil kugenjot pelan batang kemaluanku, kedua tanganku dengan leluasa meremas kedua susunya, yang bergerak-gerak naik turun tergantung sodokanku.

Kadang-kadang tanganku mengusap wajah dan pipinya, kadang-kadang mengusap perutnya.

Setelah cukup lama aku melakukan genjotan 5:1, tiba tiba kedua paha Mbak Ita diangkat dan dililitkan ke pinggangku.

Kedua tangannya mendekap diriku, mulutnya sedikit menganga dan mendesis.. “Diikk Ann.. toon.. saa.. yaa ssaampa.. aaii.. uuhhff.”

Kupegangi pinggangnya untuk menekan liang kemaluannya ke batang kemaluanku.

Setelah Mbak Ita selesai mengejang dan nafasnya tersengal-sengal, aku mulai lagi dengan genjotan, tetap dengan gaya 5:1. Mbak Ita melenguh,

“Uuff.. uff.. uuff.. Dik Anton beluumm yaa. Ayo donk.. uff.. uff jangan ditahaan.. uuff.. ugh..”

“Sebentar Mbak!” kataku.

“Dik.. uhff, ceepetan dikit.. Dik.. ughf.. uhfgg.. aa.. ku mau uhgf uff uff.. keeluar.. laa.. ggii..”

“Sebentar Mbak, aku juga sudah.. mma.. uu.. saammpai..”

Tiba-tiba ada aliran listrik menjalar dari ubun-ubun turun ke arah kemaluanku dan semakin-lama semakin mengencang. Batang kemaluanku seakan balon yang ditiup dan mau pecah.

“Aachghh.. accghh.. Mmmbakk.. Itaaa.. aku mmau keluarr..” Mbak Ita memegang erat tubuhku dan “Crret.. crrett..” keluar semua cairan yang ada di seluruh tubuhku dan “Aaachh..”

Kami berdua terkulai lemas dengan badan penuh keringat dan nafas terengah-engah.

“Dik Anton, makasih ya Dik, kamu telah memberi saluran yang selama ini tersumbat.”

Aku sangat puas malam itu, karena aku tidak dapat membayangkan, ternyata aku bisa menikmati tubuh seorang wanita terhormat, yang selama ini orang luar sangat menghormatinya, tapi ternyata malam ini dia begitu pasrah menyerahkan tubuhnya kepadaku.

Jam telah menujukkan pukul 22.00 ketika permainan kami usai, dan kami berdua segera masuk ke toilet untuk membersihkan dan merapikan badan kami masing-masing.

Dan sebelum pulang aku mendapat tugas baru dari Mbak Ita, yaitu membantu membersihkan cairan yang membasahi meja kerja Mbak Ita, dan membantu merapikannya.

Sambil merapikan mejanya aku berbisik ke telinga Mbak Ita, “Mbak meja ini dirapikan ya.. karena besok malam mau dipakai lagi”, Mbak Ita hanya tersenyum dan mencubit mesra lenganku.

Hal tersebut kuulangi setiap ada kesempatan, baik di kantor ataupun di hotel, tapi rahasia tersebut tidak terbongkar dan kami saling menjaga rahasia.

Dan kalau pagi hari, Mbak Ita kembali memerankan perannya sebagai atasan yang berwibawa, profesional, tetapi kalau malam, melenguh-lenguh dan menggelinjang-gelinjang di bawah selangkanganku.

Untuk lebih mengakrabkan hubungan kerja di kantor, teman-teman kantor mengadakan acara pergi bersama ke tempat santai, yaitu di daerah pegunungan yang berhawa dingin.

Semua teman-teman kantor pada ikut, tidak terkecuali Mbak Ita. Namun aturannya, bahwa semua karyawan dan karyawati harus ikut dan tidak boleh bawa pacar, biar lebih bebas (pada saat itu kami semua belum berkeluarga, kecuali Mbak Ita tentunya).

Hanya Mbak Ita saja yang diperkecualikan untuk membawa keluarga (dalam hati aku sangat kecewa, karena tidak bisa bebas mendekati Mbak Ita, karena takut ada suaminya).

Pada hari Jum’at sore, setelah selesai tutup kantor, kita semua sudah berkumpul di kantor untuk berangkat ke Puncak (bukan Puncak di Cipanas lho).

Semua yang berangkat ada 17 orang cowok-cewek termasuk aku, dan Mbak Ita bersama suaminya dengan membawa 2 anak kecil, yang ternyata keponakan Mbak Ita.

Dalam hatiku kejengkelan bertumpuk, karena Mbak Ita sudah bawa suami, tambah keponakan lagi, wuaahh repot, pikirku saat itu.

Untuk membawa ke Puncak, sudah dipersiapkan tiga mobil Panther yang dipakai oleh karyawan dan satu Kijang yang dipakai oleh keluarga Mbak Ita, masing-masing mobil sudah disediakan supir.

“Kalau 3 mobil nggak cukup, satu orang boleh dech ikut saya, atau biar Dik Anton saja yang ikut mobil saya”, kata Mbak Ita kepada teman-teman, matanya sambil melihatku.

“Cerdik juga boss yang satu ini”, pikirku, dan sangat halus sekali triknya.

Agar Mbak Ita tetap dekat denganku, tapi tidak terlalu mencolok, makanya pura-pura menawarkan tetapi langsung menutup penawaran kepadaku.

“Ayo siapa yang ikut mobil Mbak Ita, biar aku yang di Panther aja”, kataku pura-pura menawarkan kepada teman-teman, karena aku tahu, pada tidak ada yang berani satu mobil dengan Mbak Ita, rata-rata mereka pada sungkan.

“Udah dech, biar Anton aja yang ikut, sekali-kali kita kerjain, biar tahu rasa, gimana rasanya satu mobil dengan Mbak Ita, mungkin sampai di tempatnya Anton sudah tegang nggak bisa bergerak”, kata Nita temanku sambil tertawa kecil mau mengerjai aku.

“Ya bener, sampai di tempat aku bisa tegang, tapi bukan tegang karena sungkan, tapi tegang karena nggak tahan aja berdekatan dengan Mbak Ita”, kataku dalam hati, dan yang tegang hanya tertentu saja, tidak seluruh badan.

“Jangan aku dong, yang cewek aja”, pintaku berpura-pura.

Tapi teman-temanku langsung lari berebut mobil masing-masing, dan akhirnya aku jalan juga ke mobil Mbak Ita, dan sekali lagi pura-pura mengumpat mereka.

Suami Mbak Ita hanya senyum-senyum melihat kelakuan kami. Oh ya, aku belum kenalin sama suami Mbak Ita.

Namanya sebut saja Mas Joko, orangnya besar, gagah dan ganteng (kata teman-teman cewek) dan agak pendiam. Wajahnya mirip dengan Rahmat Kartolo.

Mas Joko duduk di jok depan dengan supir. Sedangkan Mbak Ita, kedua keponakan yang masih kecil dan aku duduk di jok tengah.

Jok belakang penuh dengan perbekalan. Begitu aku duduk di mobil, pertama yang kulakukan adalah mempelajari situasi mobil.

Posisi kaca spion, dan posisi duduk supir dan posisi duduk Mas Joko. Sekiranya memungkinkan untuk melakukan serangan awal terhadap Mbak Ita.

Dan ternyata masih memungkinkan kalau hanya sekedar serangan-serangan ringan.

Sorry agak norak sedikit melakukan serangan ringan di mobil, habis kukira siapa pun akan sayang membiarkan tangan ini tidak bersinggungan dengan kemulusan tubuh Mbak Ita yang memang sintal, padat dan berisi.

Di perjalanan, Mas Joko banyak membaca buku, jadi tidak banyak pembicaraan kami dengan Mas Joko.

Mbak Ita duduk di sebelah kanan, aku duduk di sebelah kiri, dan kedua keponakan duduk di antara kami.

Sehingga kami cukup leluasa kalau hanya melakukan cubitan-cubitan kecil di pinggang Mbak Ita, kadang sedikit elusan di pantatnya, maupun pinggangnya.

Tapi sebaliknya, tangan Mbak Ita terkadang juga memberikan cubitan halus di pinggangku.

Dan setiap kali aku dicubit, rudalku langsung sudah siap mencari sasaran (maklum usia masih dalam taraf pandangan Hidup).

Setiap kali kusentuh pinggang atau pantatnya, kelihatan Mbak Ita agak menghela nafas, dan wajahnya menunjukkan sedikit tegang.

Memang kuakui kalau Mbak Ita itu tegangan tinggi juga.

Tidak ada yang istimewa yang perlu diceritakan dalam perjalanan, karena jarak kantor kami dengan Puncak tidak lebih dari 50 km, sehingga perjalanan cukup ditempuh tidak lebih dari 40 menit.

Menjelang Maghrib kami semua sudah sampai di Hotel, setelah mandi dan istirahat sebentar, malam kita gunakan untuk bercanda ria dan menikmati santap malam Kambing Guling.

Kami semua menikmati acara tersebut, kecuali Mas Joko. Dengan alasan mengantuk, maka Mas Joko tidak ikut bersama-sama dengan kami.

Mas Joko lebih suka makan di kamar dan akhirnya tertidur. Tinggallah kami semua dan Mbak Ita bercanda ria.

Setelah selesai makan, kami berpencar berkelompok-kelompok.

Ada yang bercerita berkelompok, ada yang jalan-jalan menikmati malam, dan ada yang sekedar memainkan gitar, dengan lagu-lagu tahun 70-an.

Mbak Ita memberi kode ke aku untuk mendekat, dan dia berbisik,

“Dik Anton, anterin Mbak Ita jalan ya.”

“Lha Mas Joko?” tanyaku terkejut.

“Udah dech, nggak usah pikirin Mas Joko, Mas Joko sudah tidur.”

“Mbak, Mas Joko bener sudah tidur?” tanyaku menyelidik.

“Ya begitulah Mas Joko, dia lebih suka menyendiri dan pasti dia sudah tidur”, kata Mbak Ita.

Kami berjalan berdua, dan kami saling membisu. Aku masih diliputi perasaan takut kalau Mas Joko tahu, dan pikiranku terus berputar, kuajak kemana Mbak Ita ini.

“Kalau tahu kita berdua gini, gimana Mbak”, tanyaku memecah kebisuan.

“Dik Anton nggak usah takut, dia percaya kok sama Dik Anton, dikirain Dik Anton kan masih kecil, masak mau ngapa-ngapain sama aku.”

“Ya masih kecil, tapi si kecil ini kan sudah bisa gede, dan bisa membuat anak kecil”, jawabku menggoda.

Mbak Ita hanya terseyum dan mencubit pinggangku. Kutangkap tangannya dan kutarik badannya, sehingga kami jalan berdekapan.

Aku berjalan di sebelah kiri Mbak Ita, sehingga tangan kananku dengan leluasa mendekap pundak Mbak Ita, untuk melindungi dari hawa malam yang cukup dingin.

Kami berdua berjalan, aku tahu betul liku-liku jalan di Puncak ini, maka kubawa Mbak Ita di tempat yang sangat aman.

Kudekap badannya, kubelai-belai punggungnya, sambil sesekali kucium telinganya. Mbak Ita mendesah mengeratkan dekapannya ke tubuhku.

Tangan kiriku mengusap-usap buah dadanya yang kenyal dan padat di balik baju sweaternya, dan sedikit kuremas, sedangkan tangan kananku untuk meremas pantatnya yang bundar dan padat.

Ciumanku berkali-kali kudaratkan pada tengkuk dan belakang telinganya. Turun ke pipi, dan akhirnya kami saling berhadapan dan berdekapan.

Kuciumi dengan halus pipinya, turun ke bibirnya. Kukulum lidahnya, dan bibir kami saling berpadu. Nafas kami berdua sudah mulai tidak beraturan.

Kedua tanganku kudekapkan erat di punggung Mbak Ita, tangan kiriku kugunakan untuk mendekap pantat Mbak Ita dan sedikit kutekan, sehingga kekenyalan batang kemaluanku dapat dirasakan oleh kewanitaannya, dan aku mulai geser-geserkan kemaluanku di kewanitaannya.

Sedangkan tangan kananku kutelusupkan di bawah sweaternya, untuk mengusap kulit punggungnya yang halus, lembut dan sudah mulai hangat oleh birahi.

Udara malam semakin dingin, tetapi badan kami berdua sudah semakin panas.

Kami berdua sudah tidak tahan untuk tidak menyelesaikan permainan ini, karena serangan-serangan awal sudah dimulai sejak tadi sore, ketika dalam perjalanan.

“Dik Anton kita cari tempat yang enak aja Dik”, bisik Mbak Ita sambil mendesah menahan birahi.

“Nanti kelamaan, Mbak? gimana kalau Mas Joko bangun?”

“Dik Anton tenang saja, Mas joko itu kalau tidur lama kok, dan nggak pernah bangun, dan nanti seandainya bangun, gampang kok aku cari alasan.”

“Oke dech Mbak, yuk kita jalan.”

Aku bimbing Mbak Ita ke arah hotel yang dekat. Aku tahu persis tempat di sini yang nyaman buat Mbak Ita.

Hanya lima menit perjalanan kaki kami sudah sampai di hotel yang mungil, tapi sangat bersih dan aman. Kami memesan kamar yang nyaman.

Petugas receptionist sepertinya mengerti benar kebutuhan kami. Tidak banyak pertanyaan dan langsung mengantar ke kamar yang kami maksud.

Di dalam kamar, setelah pintu kami kunci, Mbak Ita langsung melepaskan baju sweaternya. Sehingga tinggallah kaus singlet yang tipis dengan belahan dada agak lebar.

Dipadu dengan celana jeans ketat di bawah lutut, sehingga pinggulnya kelihatan sangat bundar dan padat.

Kami berdua langsung berdekapan. Nafas kami berdua sudah memburu. Wajah Mbak Ita agak menengadah, menunggu ciuman.

Matanya sedikit terpejam dan bibirnya yang tipis sedikit terbuka. Kulumatkan bibir tipis yang sedikit terbuka.

Kuhisap lidahnya, kumainkan lidahnya dengan lidahku dan kueratkan dekapanku di punggungnya.

Lama kami menikmati ciuman itu. Baru setelah aku puas menikmati bibir yang tipis, kugeserkan mulutku turun ke lehernya.

Aku sangat menikmati ciuman di leher ini. Karena menurutku leher Mbak Ita itu sangat seksi. Lehernya agak tinggi, dengan kulit yang mulus, dan padat berisi.

Sehingga lidahku menari-nari di lehernya.

“Uhf.. uuhh.. sstt, Diikk Aanntoonn, awaas hati-hatii, janggann sampai membekas..”

Nafas Mbak Ita mulai tidak teratur. Mbak Ita ini kalau penampilan luar sangat anggun dan tenang, tetapi kalau birahinya sudah mulai naik, Mbak Ita bisa sangat liar, meskipun tidak sampai teriak-teriak.

Dan Mbak Ita ini memiliki tegangan sangat tinggi. Baru disentuh sedikit saja, nafasnya sudah tidak karuan.

“Mmeemm, jangan khawatirr.. Mmmbakk”, jawabku menenangkan.

Ciumanku sudah mulai turun ke sebelah atas dari buah dadanya. Kuciumi ke dua buah dadanya yang ranum, meskipun masih terhalang kaos dan BH.

Mbak Ita semakin menengadah, dan kepalanya mendongak ke belakang, dengan mata terpejam, dan mulut masih bergumam.

“Emm.. uugghh.. Diikk Aaantoon.. uugghh..”

Kelihatannya Mbak Ita sudah mulai tak sabar, dia lepaskan sendiri singletnya, kemudian BH-nya juga dilepaskan sendiri.

Sehingga dengan jelas kedua bukit bundar, kencang, dengan kedua putingnya yang bulat kecil berwarna coklat yang sudah tegak.

Kedua susunya bergoyang-goyang sebagai akibat goyangan badan Mbak Ita yang mulai terangsang hebat.

Tiba-tiba tangan kanan Mbak Ita memegang kemaluanku yang dari tadi sudah tegak, dan meremasnya karena sudah gemes.

“Uuhh, mm.. janngan kenceng.. kenceng dong Mmbak.. umm, Sakiitt.. mm”, teriakku masih sambil menciumi perutnya.

“Sstt.. ggeemess kok.. Diik.. ugghh..”

Karena Mbak Ita sering menggerak-gerakkan badannya ke belakang, dan sering mendongak, maka susunya terlihat bergoyang-goyang, tapi aku harus menahan badan Mbak Ita dengan kuat supaya tidak jatuh ke belakang.

Kupondong Mbak Ita dengan kedua tanganku, dan Mbak Ita mendekapkan kedua tangannya di leherku, Mbak Ita tersenyum menggoda, kucium susunya, dan sekali lagi Mbak Ita menggelinjang.

Kutidurkan Mbak Ita dengan perlahan di atas ranjang. Mbak Ita masih memejamkan matanya. Kucium sekali lagi bibirnya, sambil kuusap pipinya dengan tangan kananku.

Aku masih menikmati bibirnya, tapi tanganku sudah mulai bergeser ke lehernya, turun ke bawah, melingkari lingkaran luar susunya.

Kuremas-remas susunya dengan lembut. Mbak Ita semakin menggelinjang. Tangan kirinya mendekap leherku, dan tangan kanannya menjambak-jambak rambutku.

Kedua kakinya bergerak-gerak tidak karuan di atas ranjang, membuat spreinya sudah tidak beraturan lagi.

Ciumanku kugeser ke leher, dan terus turun ke bawah, kulingkari kedua payudaranya dengan ciumanku.

Aku cium payudara kiri, sedangkan payudara yang sebelah kanan tetap kuremas-remas dengan tangan kananku.

“Uuughh.. hh.. sstt..” desis Mbak Ita menahan rangsangan.

Kuhentikan ciumanku sebentar, karena aku mau melepaskan jeans Mbak Ita. Waaoo, sepasang kaki indah di balik celana jeans mulai kelihatan.

Kuturunkan perlahan-lahan celana jeans-nya, dan akhrinya CD-nya juga kuturunkan sekalian.

Nampaklah kemaluan Mbak Ita yang padat berisi dengan belahan indah di tengahnya.

Rambut halus dan hitam pekat menghiasi kemaluannya, kontras dengan warna kulit kemaluannya yang kuning langsat.

Aku kembali menciumi sekeliling pusar Mbak Ita, dan kumainkan pusarnya dengan lidahku, sementara tangan kananku membelai kedua pahanya, yang padat dan mulus.

Kuusap-usapkan dengan lembut kedua pahanya, dan selangkangannya.

Selangkangan yang kanan dengan jari manis, dan selangkangan kiri dengan telunjuk, kuusapkan secara bersama-sama.

Kulingkari sekitar kemaluannya dengan jari-jariku. Aku selalu menghindari untuk menyentuh klitorisnya sampai menunggu waktu yang tepat.

Kedua kaki Mbak Ita bergoyang-goyang tidak karuan, pinggulnya juga bergoyang-goyang naik turun, minta klitorisnya disentuh, tapi aku tetap hanya menyentuh tepian dari kemaluannya dengan lembut.

Setelah puas menciumi pusarnya, kunaikkan bibirku kembali menciumi lingkaran susunya, baru setelah puas, bibirku kusentuhkan dengan pentilnya, bersamaan dengan jari tengahku menyentuh klitorisnya.

Menerima perlakuanku seperti itu, Mbak Ita langsung menarik nafasnya lega, seakan terpenuhi apa yang diharapkan selama ini, sampai melenguh,

“Uuugh nikmat Dikk Anntoon.. uughh.. ennaakkgghhk sseekalii.. uhhnn sstt..”

Bersamaan dengan lenguhan tersebut, Mbak Ita mengeratkan dekapannya di leherku, dan tanganku dicepitnya dengan kedua kakinya.

Liang kemaluannya telah sangat basah dan sudah sangat merekah, seakan-akan sudah menunggu pisang yang akan dilahapnya.

Aku masih mengulum pentilnya bergantian kiri dan kanan, sementara ujung jari tengah tangan kananku masih membelai-belai kitorisnya dengan lembut.

Dalam mengusap klitoris ini harus hati-hati, jangan sampai penuh dengan tekanan, hal ini sangat disukai oleh Mbak Ita.

Kedua kaki Mbak Ita sudah tidak menjepit tangan kananku lagi, tetapi sudah telentang, sehingga liang kemaluannya merekah dengan lebar, dan tanganku dengan leluasa mengusap klitorisnya dan bibir kemaluannya.

“Uuughhff.. uugghh eff.. Diikk.. Anntt.. oonn.. eennaakk.. sekalii.. Diikk.. uugghff..”

Lenguhan Mbak Ita yang manja, dan merengek-rengek semakin menambah naiknya birahiku.

Aku terus mempermainkan ujung jari tengahku di klitorisnya, dan kurasakan kewanitaannya semakin basah.

“Diik.. Aaantoonn.. uugghff masukiin, Dik.. akuu sudaah tiidakk tahaan.. uugghhff..” Rengek Mbak Ita dengan memelas, kuhentikan ciumanku dan kuhentikan juga usapan di klitorisnya.

Aku berdiri dengan kedua lututku di antara selangkangannya, kuletakkan kedua kaki Mbak Ita di pundakku, dengan perlahan-lahan kuusapkan kepala kemaluanku dengan bibir kemaluannya Mbak Ita.

Kelihatannya Mbak Ita sudah tidak sabar untuk menerima batang kemaluanku di liang kemaluannya, karena kedua tangannya memegang pantatku dan menekan pantatku masuk ke lubang kemaluannya.

Kumasukkan perlahan-lahan batang kemaluanku memasuki laing kewanitaannya. Mulai dari kepala terus perlahan akhirnya sampai mentok habis ke pangkalnya.

Mbak Ita sangat menikmati masukan pertama batang kemaluanku.

Pada saat batang kemaluanku memasuki luabang kewanitaannya dengan perlahan, Mbak Ita sangat menikmati dan mengerang dengan lenguhan yang tak berarti.

“Uuugghh.. uuhhgghh”, seakan-akan merasa sangat lega, bagaikan orang haus di padang pasir, diberi air es yang sangat dingin.

“Uugghh.. eehh..”

Kugeser-geserkan batang kemaluanku ke seluruh permukaan liang kemaluannya ke kiri dan ke kanan. Tetap dengan gaya yang khusus buat Mbak Ita, yaitu 5:1.

Pada saat 5 tusukan pertama, di mana hanya setengah batang kemaluan yang masuk ke liang kemaluan, Mbak Ita menikmati rangsangan yang ada sekeliling permukaan liang kemaluan.

Maka dia hanya bergumam, “Eeemm eemm.. sstt.. eemm..” namun pada saat 1 tusukan terakhir, di mana seluruh batang kemaluan masuk ke dalam dan menyentuh dasar liang kemaluan Mbak Ita yang menikmatinya dan mengencangkan jepitan luabang kemaluannya ke batang kemaluanku.

Kedua kakinya menjepit leherku, dan kedua tangan Mbak Ita meremas sprei dengan kencang, dan semua badannya kelihatan mengejang, dan keluar lenguhan berat dari mulutnya “Uughh.. uugghh.. eennaggk Diikk.. Aannttoonn.. eennakgg..”

Kami terus gunakan gaya 5:1 ini berulang-ulang sampai akhirnya..

“Diikk.. Aanntoonn.. akuu suudahh tiidaak kuatt.. akuu mauu.. keeluuarr..”

“Seebenntarr.. Mmbakk, aakuu.. juggaa mauu keleuaarr..” jawabku.

Dan untuk menjaga agar kami tetap keluar bersama, maka aku sedikit kencangkan genjotanku ke liang kemaluan Mbak Ita, dan tiba-tiba.. liang kemaluan Mbak Ita bergerak-gerak, menghisap batang kemaluanku.

Nah ini yang kutunggu, hisapan dan sedotan liang kemaluannya sangat kuat di btang kemaluanku, dan tiba -tiba..

“Diikk.. Aaanntoon.. aakuu keluuarr..” dan dalam waktu yang bersamaan, batang kemaluanku juga terasa mau jebol dan..

“Aauughh.. crreett.. creett.. creet, tumpah semua cairan di tubuhku di liang kemaluannya, dan liang kemaluan Mbak Ita masih bergerak-gerak menghisap batang kemaluanku dan memberikan sensasi yang tidak dapat terlupakan.

Badan kami berdua lemas sekali dan berkeringat. Aku suka sekali melihat badan Mbak Ita basah oleh keringat, menambah keseksian tubuhnya.

Kami berdua berdekapan sebentar, dan akhirnya bersiap-siap kembali ke teman-teman.

Demikian artikel tentang Kisahku Menikmati Tubuh Sintal Dan Meki Sempit Atasan Baruku Yang Bikin Sange. cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Kisahku Menyamar Jadi Tukang Pijit Biar Bisa Mengobok2 Cewe,Akhirnya Dapet Meki Tante Seksi Hornyan.

Kisahku Menyamar Jadi Tukang Pijit Biar Bisa Mengobok2 Cewe,Akhirnya Dapet Meki Tante Seksi Hornyan.Kejadian ini ketika saya masih berumur 27 tahun, yaitu saat saya bekerja disebuah kantor yang bergerak di bIdang pemrograman komputer. Saya bekerja untuk menunjang biaya kuliah dan hidup saya di Jakarta. Tapi setelah kurang lebih satu tahun saya bekerja, kantor dimana saya bekerja gulung tikar karena persaingan yang sangat ketat dikota yang besar ini. Setelah beberapa bulan saya menjadi ‘pengacara’ (pengangguran banyak acara) dan sudah mengirimkan banyak sekali surat lamaran tapi saya tetap belum mendapat pekerjaan.

Sewaktu saya membaca lowongan kerja yang ada disebuah surat kabar, saya juga membaca iklan yang isinya semua panti pijat, yang menurut perkiraan saya hanya sekedar kedok dari para penjaja sex. Setelah melihat iklan tersebut timbul niat iseng saya untuk mencoba ikut berpartisipasi memasang iklan dikolom panti pijat tersebut. Kemudian saya langsung memasang iklan melalui biro iklan yang ada disekitar tempat saya untuk diterbitkan keesokan harinya.

Pagi hari saya membeli koran dimana saya memasang iklan tersebut dan sambil senyum-senyum saya membaca iklan milik saya sendiri. Sekitar jam 10. 00 lebih HP saya berdering dan langsung saya terima.

“Hallo”Kata saya.

“Hallo. Apa betul anda memasang iklan dikoran untuk menerima jasa memijit?”Jawab wanita yang ada diujung telepon.

“Ya betul saya Jeffry. Saya berbicara dengan siapa ya?”Tanya saya lagi.

“Saya Tante Mei, saya mau minta dipijit”Jawab Tante Mei.

“Oh bisa Tante”Jawab saya lagi.

Setelah berbincang-bincang Tante Mei mulai bertanya yang macam-macam mulai dari umur, sampai postur tubuh.

“Kamu umur berapa Jef?”Tanya Tante.

“27 Tante, Tante sendiri? Kalo boleh saya tahu”Jawabku.

“Wah, lagi asik-asiknya nich. Kalo Tante sih umurnya 54″Jawab Tante Mei.

“Oo..”Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Kenapa? Kaget yach? saya janda dan udah punya cucu 2 yang masih kecil-kecil, dan saya tinggal sendiri dirumah, cuma sama pembantu. Postur tubuh kamu seperti apa Jef?”Kata Tante Mei yang sadar kalo aku agak shock mendengar umurnya sambil bertanya lagi.

“Postur tubuh saya biasa-biasa saja sih Tan, tapi kalo kata cewe-cewe yang saya kenal kata mereka tubuh saya atletis, padahal saya sendiri nggak merasa begitu tuh”Jawabku.

“Kalo punya kamu ukurannya berapa?”Tanya Tante Mei lagi.

“Ukuran saya sih biasa ajalah Tan, cuma 15 centian”Jawabku.

“Mmm.. lumayanlah, jadi gimana kamu maukan mijit Tante?”Tanya Tante lagi.

“Mijit yang mana nih Tan? mijit biasa atau mijit special nich Tante?”Jawabku bercanda.

“Yah.. kalo kamu mau sekalian mijit yang special sih.. ha ha ha”Jawab Tante Mei sambil tertawa.

“Mmm.. Emang Tante masih suka begituan yah? Emang udah berapa lama Tante ga gituan?”Tanyaku.

“Gituan yang mana nih? Hi hi hi”Balas Tante menggoda.

“Yang mana yah? He he.. itu loh maksud saya emang Tante masi suka ML? Emang Tante udah berapa lama nggak ML?”Jawabku memperjelas pertanyaanku tadi yang sudah pasti dia tahu.

“O.. gituan yang itu, mm.. kalo yang itu sih Tante masi suka cuma, udah lama nggak ada pelampiasan. Abis udah lama sih, kurang lebih 3-4 tahun”Jawab Tante Mei.

“Wow lama juga yah, trus kalo lagi kepengen Tante ngapain?”Tanyaku.

“Ngapain yah? Mmm.. udah gini aja kamu mau nggak mijit Tante? Kalo mau nanti Tante kasi tau Tante ngapain aja kalo lagi kepengen. Gimana? Oke?”Jawabnya.

“Oke, Tante. Tapi dimana saya bisa ketemu Tante?”Tanyaku lagi.

“Kita ke hotel aja yah, abis kalo dirumah nggak enak sama pembantu. Tapi ngomong-ngomong berapa biaya mijitnya nih?”Kata Tante.

“Mijit yang mana dulu nih Tante.. he he he”Jawabku bercanda.

“Ah kamu ini, mijit semuanya lah.. berapa?”Tanya Tante lagi.

“Biasa aja deh Tante, abis saya juga baru pertama kali ini terima pijit”Jawabku karena aku juga nggak tahu harga pasarannya.

“Ok deh kalo gitu, kita ketemu dilobby hotel X aja yah”Jawab Tante Mei lagi.

Setelah janjian jam berapa dan bertanya nanti aku dan Tante Mei pake baju apa biar nggak salah orang maka telpon pun ditutup, dan aku hanya senyum-senyum saja sambil mengingat perbincanganku dengan Tante Mei tadi, serta membayangkan seperti apa nanti Tante Mei itu.

Setelah mempersiapkan semuanya termasuk mental, sayapun segera meluncur kehotel”X”yang telah dijanjikan, setelah sampai saya menunggu di lobby hotel yang besar dan sejuk itu sambil mataku melirik kesana kemari mencari sosok Tante Mei. Tak lama kemudian seorang wanita setengah baya melambaikan tangannya kearahku, dan untuk memastikannya sayapun menunjuk diri saya sendiri dan wanita itu mengangguk, lalu saya segera menghampiri dia.

“Hallo”Kataku.

“Hallo juga, kamu Jeffry kan?”Tanya wanita itu.

“Iya. Tante sendiri Tante Mei-kan?”Tanyaku.

“Iya lah, abis siapa lagi yang bikin janji sama kamu disini?”Jawab Tante Mei sambil tersenyum.

“Ga ada sih Tan, cuma untuk mastiin aja, he he he”Jawabku sambil cengengesan.

Tubuh Tante Mei gemuk dan dari wajahnya terlihat sudah mulai berkeriput walaupun sudah diberi bedak tebal, tapi cara dia berdandan dan cara dia memakai baju dengan celana kain yang warnanya sesuai dengan umurnya sehingga dia tampak anggun.

“Gimana? kecewa nggak? kalo kecewa nggak apa-apa sih, nanti Tante ganti biaya transport kamu aja. Tante juga belum pesan kamar.”Kata Tante Mei.

“Ah Tante bisa aja, dimana-mana yang namanya customer harus dilayani sebaik mungkin. Jadi nggak ada kata kecewa tuh buat saya, jangan-jangan Tante sendiri yang kecewa melihat penampilanku yang biasa-biasa ini”Jawabku sambil tersenyum.

“Ah nggak juga, saya lebih suka yang berpenampilan seperti kamu, biar ga keliatan seperti pria penghibur. Abis kalo ketahuan sama teman atau saudara, kan Tante bisa berabe”Jawab Tante Mei lagi.

Setelah bercakap-cakap sejenak lalu Tante Mei menyuruhku untuk memesan kamar sambil memberiku sejumlah uang untuk membayar sewa kamar tersebut. Setelah memesan kamar atas namaku dan membayarnya kami pun menuju kamar sambil diantar oleh room boy hotel tersebut. Selama dalam perjalanan menuju kamar kami hanya berbincang-bincang sedikit karena ada room boy dan beberapa tamu didalam lift tersebut, dan saya pun tidak memanggil Tante lagi pada dia tetapi “Ai” karena dia chinese dan saya juga chinese biar tidak terlalu menyolok.

Setelah sampai dikamar dan room boynya sudah keluar, Tante memesan minuman dan makanan yang ada di daftar menu melalui telepon. Sambil menunggu makanan datang aku dan Tante duduk-duduk disofa yang ada dikamar yang besar itu sambil berbincang-bincang dan menyalakan TV yang tidak dilihatnya sambil sesekali tangan Tante Mei menggerayangi tubuhku dan senjataku.

“Badan kamu memang seksi loh.. walaupun agak sedikit gemuk, dan punya kamu juga kayanya besar juga nih, celananya dibuka ya”Kata Tante Mei.

“Buka aja Tan, anggap aja punya sendiri hi hi hi”Jawabku sambil bercanda.

“Ah kamu ini”Jawab Tante Mei sambil mulai membuka celana dan celana dalamku sampai sebatas lutut.

“Hmm.. bener juga kan dugaan Tante punya kamu ini bentuknya kompak, dari kepala sampai pangkal batangnya, bentuknya bener-bener seksi”Kata Tante Mei sambil membelai-belai dan mengocok senjataku yang langsung berdiri tegak dan langsung diserbu oleh kecupan dan dijilat-jilat oleh Tante Mei.

“Ahh.. Tante enak sekali Tan. Tante hebat deh.. uhh.. enak sekali Tan”Kataku keenakan.

Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan tanganku juga mulai bergerilya keseluruh tubuh Tante Mei. Kubelai-belai dan kuremas-remas kedua gundukan didada Tante Mei, sambil kuciumi wajah dan belakang telinga Tante Mei. Dari telinga lalu kucumbu bibir Tante Mei yang mungil itu, kamipun bersilat lidah dengan mesra.

Lalu kumasukkan tanganku kedalam bajunya dan kusingkap BH-nya keatas sehingga kedua gundukan milik Tante Mei langsung keluar. Mungkin karena sudah agak tua gundukan itu sudah lembek dan tampak sedikit berkeriput, tapi tidak membuat aku menjadi malas, karena sudah menjadi tekatku untuk memberikan service yang terbaik kepada semua pelangganku.

“Ahh.. remas yang kuat sayang, putingnya juga dipilin-pilin yang kuat.. ahh.. nikmat sekali serasa terbang keawan.. ahh.. kamu pinter sekali say.. uhh terus yang kuat.. ahh”Kata Tante Mei sambil mendesah-desah.

Sedang asik-asiknya bercumbu tiba-tiba bel berbunyi dan ternyata room boy datang membawakan pesanan Tante Mei tadi, dan sambil tergesa-gesa dan tersenyum-senyum kami berdua merapikan baju kami. Setelah membayar dan memberi tip, room boy pun keluar. Dan Tante Mei langsung menyerbu bibirku dengan ciuman yang liar dan bergelora sambil memeluk tubuhku. Kusambut dan kubalas ciuman itu dengan liar dan bergelora sambil tanganku meremas-remas payudara Tante Mei yang belum masuk kedalam BH-nya.

Sambil tangan yang satu meremas-remas payudara Tante Mei tanganku yang satu lagi membuka pengait BH dipunggungnya. Tik.. terbukalah sudah pengait BH Tante Mei, dan tanpa melepaskan ciuman yang sedang hot-hotnya kubuka satu-persatu kancing baju Tante Mei, yang juga diikuti oleh Tante Mei yang ikut membuka baju dan celanaku.

Setelah baju yang kami pakai lepas semua cumbuan kami lebih bergairah lagi, dan aku pun mulai menyumbui seluruh tubuh Tante Mei atau yang lebih dikenal dengan sebutan”Mandi kucing”. Ku bimbing Tante Mei ke tempat tidur dan ku tidurkan dia di tepi tempat tidur yang berukuran king size itu.

Mulai aku cium dan jilati seluruh tubuh Tante Mei dari atas rambut sampai ujung kaki yang pasti akan membuat Tante Mei mendesah dan menggelinjang-gelinjang jika ciuman dan jilatanku mengenai bagian sensitif tubuhnya. Kumulai ciumanku disekitar wajah Tante Mei sampai kebelakang telinga dan kujilati lubang telinganya serta kusedot-sedot cuping telinga Tante Mei yang membuat Tante Mei semakin bergairah.

“Ah Jef.. kamu hebat sekali membangkitkan gairah Tante oh.. enak sekali cumbuan kamu Jef”ujarnya sambil mendesah-desah.

Tangan Tante Mei mulai menggapai-gapai senjataku dan mengocok-kocok senjataku, dengan lembut kusingkirkan tangannya.

“Jangan dulu ya Tan.. sekarang Tante nikmati saja semua yang akan saya lakukan pada Tante”Kataku didepan telinganya sambil menghembuskan nafas-nafas erotis yang makin membuat Tante Mei melambung ke awang-awang.

“Ouh.. Jefff. suara kamu seksi sekali sayang dan hembusan nafas kamu semakin membuat Tante bergairah.. ouhh.. sayang, Tante akan menuruti semua keinginan kamu sayang asal kamu terus membawa Tante keawang-awang seperti ini”Jawab Tante Mei.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Tante Mei, lalu ciumanku mulai turun menuju lehernya ciuman dan jilatanku mengelilingi leher Tante Mei, tak ada sedikitpun daerah yang lepas dari ciuman dan jilatanku. Tanganku pun tidak pernah diam membelai dan megusap bagian tubuh Tante Mei yang lainnya mulai dari dada sampai lengan dan paha semuanya kubelai dengan lembut dan erotis untuk menambah gairah Tante Mei.

Lalu tangan Tante Mei membimbing tanganku kearah dalam bagian pahanya, akupun mengerti maksud dari Tante Mei tadi, aku angkat tangan Tante Mei keatas sehingga ketiaknya terpampang lebar dihadapanku. Tanpa membuang waktu langsung kucumbu ketiak Tante Mei yang berbulu halus dan rapi, dan langsung membuat Tante Mei memeluk erat kepalaku.

“Ahh.. gila kamu Jef, pintar sekali cara kamu mencumb.. ahh.. ga pernah aku merasakan cumbuan seperti ini.. uhh.. sedot yang kuat Jef, yang kuat, gigit.. uhh.. gigit ketiakku sayang.. ahh..”Kata Tante Mei sambil mendesah-desah dan menekan kepalaku kuat-kuat ke ketiaknya yang beraroma khas wanita.

Sambil mencumbu ketiak Tante Mei tanganku membelai leher dan kupingnya, lalu turun kedada dan meremas-remas kedua gunung dan ujung gunungnya yang mengeras karena napsu. Ciuman dan jilatanku pun mulai berpindah menuju kearah lengan bagian dalam, kujilati lengan itu dari bawah keatas dan kembali lagi kebawah, lalu menuju kearah dadanya. Setelah bermain sesaat di dada, tanganku turun lagi menuju perutnya dan aku usap-usap perut Tante Mei sambil memainkan lubang pusarnya, sedangkan cumbuanku mulai menuju ke kedua gunung payudaranya.

Kuciumi dan kujilati dengan ujung lidahku payudara Tante Mei dari pangkal menuju putingnya secara berputar menggunakan bibir dan lidah. Dan saat mencapai puncak payudara kusedot-sedot dan kujilat-jilat puting payudara yang sudah mengeras itu. Dan seperti ketika aku mencumbu ketiaknya, Tante Mei juga menekan kepalaku dan meremas-remas rambutku sambil menggigiti bibirnya sendiri dan mendesah-desah keenakan.

“Ahh.. sedot putingku yang keras Jefff yang keras sampai copot.. ahh.. iya seperti itu.. ohh.. enak sekali say.. ohh..”Kata Tante Mei mengajariku.

Kuperlakukan kedua payudara itu sebaik mungkin dan selembut mungkin sehingga menambah rangsangan-rangsangan yang dapat membuat Tante Mei tambah melambung tinggi.

Kemudian tanganku turun lagi menuju paha bagian dalamnya, dan kubelai-belai paha bagian dalam itu dengan lembut menggunakan ujung jari-jariku yang menimbulkan rasa geli-geli nikmat yang menambah rangsangan pada Tante Mei.

“Ohh.. Jef.. belaian kamu dan cumbuan kamu.. ohh.. semuanya membuat Tante tambah melayang keawang-awang. ahh.. benar-benar pintar cara kamu merangsang wanita Jef.. uhh”Kata Tante Mei.

Dan ketika tangan saya mulai masuk lebih kedalam lagi ternyata disana sudah basah sehingga membuatku semakin bersemangat untuk membuat Tante Mei makin melambung tinggi lagi. Segera saja jari-jariku bermain disana, memainkan bibir vagina serta daging kecil yang sudah menyembul dari sela-sela bibir vaginanya.

Ku gosok-gosok dan kuputar-putar jari tanganku disitu serta sewaktu-waktu kutarik dan kujentik-jentik daging kecil yang bernama klitoris itu. Ketika ciuman dan jilatanku turun lagi keperut dan lidahku bermain di lubang pusar, dengan tiba-tiba pula kumasukkan jariku kedalam lubang surga milik Tante Mei yang membuat dia tersentak kaget dan langsung menjambak dan meremas-remak rambutku.

“Ahh.. kau benar-benar gila sayang.. ahh.. aku.. aku.. ahh”Tante Mei sampai tak bisa berkata-kata lagi karena menerima kenikmatan yang tak terduga itu.

Lalu kukocok jari-jariku didalam lubang surga Tante Mei sambil Ibu jariku menekan-nekan dan berputar-putar di klitorisnya, dan cumbuanku naik lagi menuju kedua payudaranya yang dibusungkannya seakan meminta untuk dicumbu lagi. Tak lama setelah kukocok vagina dan klitoris milik Tante Mei serta menghisap-hisap kedua payudaranya, Tante Mei mengerang lebih gila lagi.

“Ahh.. Jef.. ahh.. gila kamu Jef, aku sudah hampir sampai.. ahh.. terus.. terus.. ahh.. aku.. aku.. sampai.. aku sampaii.. ahh”Erang Tante Mei ketika mencapai orgasmenya yang pertama.

Dia mengerang sambil menjambak dan mencakar-cakar rambut dan tubuhku, dan tak kuhiraukan semua kelakuan Tante Mei itu, tetapi aku terus mengocok dan menyedot dengan keras klitoris, vagina, dan puting payudara Tante Mei secara bergantian sehingga dia semakin beringas merasakan orgasmenya.

“Ahh… sudah Jef.. aku nggak kuat Jef.. aku nggak kuat.. ohh.. aku.. aku.. aku dapet lagi Jef.. aku dapet lagi.. ahh”Erang Tante Mei ketika mendapat orgasmenya lagi yang kedua.

Dia mengejang dan jambakan di rambutku semakin keras serta kakinya menendang-nendang karena tak kuasa menahan nikmatnya orgasme yang ku berikan lewat cumbuan mulut dan tanganku.

Sambil menjambaki rambutku tangan Tante Mei yang satunya lagi meremas-remas payudaranya sendiri, dan vaginanya yang sudah banjir itu membuat aku tak tahan untuk segera merasakan cairan yang mengalir keluar. Segera kuhentikan semua kegiatanku dan langsung aku beralih ke vaginanya yang banjir dan memerah itu. Langsung kujilat dan kusedot-sedot semua cairan yang mengalir dari dalam vagina Tante Mei.

“Ahh.. sudah Jef.. ahh.. cukup Jef.. jangan lagi Jef.. ohh.. aku sudah lemes.. ahh.. Jef.. kamu memang gila Jef.. cukup Jef.. ahh”Kata Tante Mei memohon tetapi tangannya tidak seperti yang dia inginkan, tangan Tante Mei malah menekan kepalaku lebih kedalam lagi.

“Ahh.. Jef.. kamu.. kamu memang gila dan hebat.. aku benar-benak nggak kuat Jef.. ahh.. aku.. ahh.. aku dapet lagi Jef.. dapet lagi.. ahh”ceracau Tante Mei lagi dan kemudian dia mengejang lagi.

Dihimpit dan ditekannya kepalaku di vaginanya yang sudah basah dan tambah basah lagi oleh cairan yang mengalir keluar lagi oleh orgasmenya yang ketiga, dan kesempatan itu tak kusia-siakan, langsung kusedot dan kujilati semua cairan yang mengalir keluar dari dalam vagina itu, kujilat dan kusedot semuanya. Tak kusangka wanita seperti Tante Mei yang terlihat anggun dan lembut bisa seperti itu bila mendapatkan orgasmenya.

Ketika Tante Mei mulai melemas, kulepaskan mulutku dari vagina Tante Mei untuk memberikan kesempatan dia untuk beristirahat, dan ketika kulihat vagina Tante Mei yang berwarna kemerah-merahan akibat kocokkan, jilatan serta sedotan-sedotanku itu ternyata masih ada sedikit cairan yang meleleh keluar membasahi bibir vagina Tante Mei.

Dan kulihat Tante Mei masih terpejam merasakan kenikmatan yang berulang-ulang dariku. Ku kecup kening Tante Mei dengan lembut dan kubiarkan dia istirahat sejenak sambil kupijit tubuh Tante Mei yang juga merupakan bagian dari serviceku kepada pelangganku untuk memulihkan tenaganya agar dia bisa memperoleh kenikmatan lagi nantinya, dan ternyata pijatan ku membuat Tante Mei tertidur pulas.

Melihat Tante Mei tertidur, akupun merebahkan diri untuk istirahat. Tak terasa mataku terpejam dan tertidur. Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada rasa nikmat yang terasa didaerah selangkanganku, tepatnya di penisku. Ketika kubuka mataku, kulihat Tante Mei sedang asik menjilati dan mengulum penisku yang sudah berdiri kencang. Kubiarkan Tante Mei mengulum dan menjilati penisku sambil aku pura-pura tidur. Tapi kuluman Tante Mei semakin menggila dan membuat aku tak kuat lagi menahan mulutku untuk tidak bersuara.

“Ahh.. Tante.. enak Tante.. ahh..”hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

Kulihat Tante Mei melirik dan tersenyum genit kearahku, dan melanjutkan kulumannya yang semakin liar dan menggila. Akupun tak mau ketinggalan, segera kuraih bongkahan pantat milik

Tante Mei dan langsung kuarahkan bongkahan itu kemukaku sehingga membentuk posisi 69, dan langsung ku serbu bibir vagina dan klitoris milik Tante Mei.

“Uhh.. hebat kamu Jef.. uhh.. enak Jef.. hisap yang kuat itilku Jef.. yang keras sampai copot.. Ahh.. gila kau Jef.. ahh”Desah Tante Mei keenakan.

Dan tanpa menunggu lagi segera kutusuk lobang surga Tante Mei dengan 2 jariku yang langsung masuk dengan mudah karena sudah basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya.

“Ahh.. Jef.. kamu benar-benar pintar dan gila.. ahh.. aku dapet lagi Jef.. ahh.. Jef aku.. aku dapet lagi Jef.. ahh”Teriak Tante Mei sambil mengejang dan menjepit kepalaku yang tepat berada diselangkangannya dan menduduki mukaku membuatku susah bernafas.

Setelah agak melemas aku memakai kondom(aku menggunakan kondom untuk menjaga kenyamanan dan keamananku dan pelangganku) dan mulai kuatur posisiku pada posisi siap untuk menusukkan penisku kedalam lubang kenikmatan milik Tante Mei. Sebelum kumasukkan kedalam lubang kenikmatannya kugesek-gesekan penisku dibibir vagina dan kutepuk-tepukan keklitoris Tante Mei yang rupanya membuat Tante Mei makin terangsang.

“Ahh.. Jef.. sudah Jef cukup.. ahh.. cukup tolong Jef masukkan kontol kamu Jef.. ahh.. Tante udah nggak kuat lagi.. ahh”Rengek Tante Mei kepadaku.

Segera kumasukan senjataku perlahan-lahan untuk menambah sensasi yang dirasakan oleh Tante Mei.

“Ahh.. kamu memang pintar Jef.. ahh.. ayo sayang sekarang kocok senjatamu.. kocok sampai pelurunya muntah didalam memekku sayang.. ahh”Kata Tante Mei lagi.

Dan kukocok senjataku didalam memek Tante Mei sambil kuvariasi dengan goyangan-goyangan. Tante Mei sendiri juga tidak mau kalah, dia juga ikut menggoyang pinggulnya sehingga memberikan rasa seperti di pelintir-pelintir batang senjataku.

“Ahh.. Tante enak sekali goyangan Tante.. ahh.. rasanya seperti dipelintir-pelintir Tan.. ahh”Kataku sambil menikmati goyangan-goyangan pinggul Tante Mei yang makin seru setelah mendengar kata-kataku.

“Akhh.. Jef.. Tante mau sampe Jef.. ahh.. kamu masih lama ga Jef.. Tante sudah nggak kuat.. ahh”Kata Tante Mei memberitahuku.

Tanpa basa-basi langsung kucabut senjataku, sehingga Tante Mei menjadi kaget dan bingung.

“Ahh.. Jef.. kok dicabut.. ayo dong sayang.. jangan kamu siksa Tante seperti ini.. ahh.. kamu jahat sekali Jef”Rengek Tante Mei sambil memainkan tangannya di memek dan klitorisnya agar tidak kehilangan orgasme yang akan diraihnya, sedangkan aku hanya menonton Tante Mei yang semakin keras menggosok-gosok memek dan klitorisnya sambil meremas-remas sendiri payudaranya.

“Ahh.. Jef.. kamu memang jahat.. ahh.. kamu.. kamu jail.. ahh.. kamu jahat.. ahh.. Jef.. Jef.. ahh”Kulihat Tante Mei mengejang-ngejang ketika dia mendapatkan orgasmenya.

Sebelum orgasme yang didapat oleh Tante Mei hilang langsung ku balikkan badan Tante Mei sehingga Tante Mei sekarang dalam posisi menungging, dan langsung kutusukan senjataku kedalam lubang surga milik Tante Mei.

“Ahh.. kamu memang gila Jef.. kamu gila dan jahat.. kamu.. ahh.. ahh.. kamu.. ahh”Tante Mei sudah tidak dapat berkata-kata lagi, dia hanya bisa merasakan kenikmatan yang datang setelah senjataku masuk dan kukocok dengan keras sambil tanganku meraih payudaranya dari belakang dan meremas-remasnya sambil putingnya kupelintir-pelintir dan kutarik-tarik.

Kukocok dan kugoyang-goyang pinggulku dengan keras dan brutal, sambil sekali-sekali kuremas pantatnya dan kutusuk lubang dubur Tante Mei dengan jari kelingkingku.

“Ahh.. Jef.. kamu.. kamu.. akhh.. Jef.. Tante.. Tante dapet lagi Jef.. dapet lagi.. ahh.. ahh.. nikmat sekali.. ahh.. aku.. aku.. ahh”Kemudian Tante Meipun mengejang-ngejang dan menggelepar-gelepar seperti ikan yang kehabisan oksigen.

Karena aku masih belum mencapai orgasme, kucabut senjataku dan kurebahkan tubuhku dikasur, Tante Mei langsung mengerti kemauanku. Langsung dia menaiki tubuhku dan langsung memasukkan senjataku kedalam memeknya yang sudah basah oleh cairan kenikmatan yang didapatnya secara beruntun.

Kugoyang-goyang pinggulku sehingga senjataku mengorek-ngorek lubang memek Tante Mei, sedangkan Tante Mei menaik turunkan pantatnya mengocok senjataku dari atas. Sambil mengoyang pinggulku, tak kuhilangkan kesempatan untuk menyedot payudara milik Tante Mei yang menggatung tepat didepan mataku. Kuserbu kedua payudara itu, kusedot-sedot dan kujilat-jilat putingnya.

“Ahh.. Jef.. enak Jef.. hisap yang kuat sayang.. ahh”Kata Tante Mei sambil menekan kepalaku ke payudaranya dan ditekan pinggulnya kuat-kuat kebawah sampai kurasakan senjataku mentok kedalam memeknya dan di putar-putar pinggulnya kekiri dan kekanan, sehingga kurasakan batang senjataku seperti diperas-peras.

“Ahh.. Tante.. enak Tan.. ahh.. aku mau keluar Tan.. ahh”Kataku pada Tante Mei sambil terus menghisap dan menjilati kedua payudara Tante Mei.

“Ohh.. akhirnya.. kamu keluar juga sayang.. Tante juga mau dapet lagi say.. ohh.. kamu hebat say.. kamu.. hebat.. ayo kita sama-sama say.. ahh.. sama-sama keawang-awang.. ayo sayang.. ohh.. ohh”ceracau Tante Mei sambil mengejang dan tambah menggila menggoyang dan menekan-nekan pinggulnya sehingga membuat aku merasakan geli-geli nikmat.

“Ahh.. Tante.. aku keluar Tan.. aku keluar.. ahh”Erangku sambil mengejang dan menyemprotlah cairan maniku yang banyak, menyusul Tante Mei yang juga mendapatkan kenikmatan kesekian kalinya yang tiada taranya.

Dan setelah kami berdua mengerang dan mengejang, kamipun terkulai lemas. Tante Mei yang masih berada diatasku langsung merebahkan tubuhnya ke dadaku dan kusambut dengan pelukan dan kukecup kening serta bibir Tante Mei, lalu kucabut batangku dan kurebahkan Tante Mei disampingku sambil tetap kupeluk dengan mesra.

Kulihat Tante Mei memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya, sedangkan aku sendiri juga mengatur nafas sambil tersenyum senang karena pelanggan pertamaku dapat kupuaskan. Setelah nafasnya teratur Tante Mei membuka matanya dan menatapku dan tersenyum puas.

“Aduh Jef.. kamu ini bener-bener pinter deh. Tante sampe kewalahan melawan kamu. Tante puas sekali Jef.. puass sekali.. ohh.. kamu benar benar membuat Tante terbang ke awang-awang.. hmm.. kamu sendiri gimana Jef?”Kata Tante Mei sambil bertanya.

“Ah Tante.. buat saya sih yang penting Tante dulu. Kalau Tante puas.. saya juga puas.. karena buat saya Tante lebih penting dari saya.”Jawabku sambil membelai rambut Tante Mei dan mengecup keningnya, lalu kamipun bedua tertidur sambil berpelukan.

Dan ketika terbangun kami mandi berdua dan akhirnya kami melakukannya lagi dikamar mandi, dan lagi-lagi Tante Mei terkapar lemas dan puas. Kami melakukan terus sampai esok paginya kita check out dari hotel. Sebelum meninggalkan kamar Tante Mei memberikan amplop kepadaku yang langsung kumasukkan ke dalam kantong.

“Nggak di itung dulu Jef?”Tanya Tante Mei padaku.

“Ah Tante.. ada-ada saja, saya percayalah sama Tante”Jawabku lagi.

“Jangan gitu dilihat dulu, kalo kurangkan masih ada Tante disini dan kamu bisa minta lagi”Jawab Tante kemudian.

“Hmm.. oke deh.. kalo Tante maksa.. tapi kalo aku merasa kurang, aku minta lagi Tante jangan marah ya.. he he”Jawabku bercanda.

Dan ketika kulihat isi amplop, aku terperanjat ternyata isinya uang dolar amerika sebesar $ 300.

“Wah.. Tante.. ini sih lebih dari cukup Tan.. apa Tante nggak keberatan nih? Apa Tante nggak salah ngasih saya amplop? Ini uang dolar sebesar $ 300 loh Tan.. nggak salah nih Tan?”Tanyaku terkejut.

“Kamu mau nggak? Kalo buat Tante sih itu nggak salah, sebab kamu benar-benar bisa memuaskan hasrat Tante semalaman. Dan juga itu termasuk persenan untuk nantinya kalo Tante lagi kepengen kamu harus langsung menemui Tante”Jawab Tante Mei enteng.

“Wah.. terima kasih Tante.. Tante baik sekali.. kalo gitu kapan Tante mau Tante tinggal hubungi saya saja, saya pasti dateng Tan.. terima kasih ya Tan”Jawabku lagi sambil mengecup kening dan pipi serta bibir Tante Mei yang tersenyum melihat aku kegirangan.

Dan setelah pengalaman pertama Tante Mei denganku, sampai sekarang dia selalu menghubungi aku jika dia sedang kepengen, dan akhirnya diapun menjadi pelanggan tetapku.

Demikian artikel tentang cerita Kisahku Menyamar Jadi Tukang Pijit Biar Bisa Mengobok2 Cewe,Akhirnya Dapet Meki Tante Seksi Hornyan.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Bahagianya Punya Dosen Montok Berwajah Cantik Tapi Gila Kontol Minta Diewe Terus Sama Kontol Mahasiswa Sendiri.

Bahagianya Punya Dosen Montok Berwajah Cantik Tapi Gila Kontol Minta Diewe Terus Sama Kontol Mahasiswa Sendiri.Pengalaman ini terjadi beberapa waktu lalu dengan seorang dosen pembimbing di tempatku kuliah. (Oh yach, aku kuliah di PTS terkenal di kota Apel dengan jurusan teknik komputer). Saat ini aku masih tahun terakhir kuliah. Kejadian ini sebenarnya sebelumnya belum ada di otakku, hal ini terjadi di luar keinginanku, tapi dasar nafsu kalau sudah menjadi raja maka tidak akan tahu lagi berbuat apa.

Sebut saja nama dosenku Juliet, orangnya sexy dan cantik, umurnya berkisar 32 tahun. Kulitnya putih bersih 100 % dan super mulus sekali, tingginya sekitar 168 cm, bodinya super bagus banget, orang bilang seperti gitar Spanyol, lingkar pantatnya super bulat, pinggangnya super ramping dengan buah dada yang ranum berukuran, setelah kejadian tersebut Kuketahui 36B, pokoknya “endang” dech.

Aku biasanya memanggil dosenku ini dengan sebutan “Ibu”, Ia dosen tetap di Universitasku, bidangnya Kalkulus (untuk mahasiswa teknik pasti tahu). Aku senang belajar dengannya, ia pandai sekali dan paham sekali bagaimana mengajar yang baik dan ia sangat disiplin terhadap mahasiswanya. Saat awal-awal kuliah, tidak ada yang spesial yang terjadi antara aku dengannya, yach biasa saja, layaknya mahasiswa yang lain, tapi tanpa kusadari Bu Juliet selalu memperhatikanku (kuketahui setelah ini).

Tapi setelah menjelang ujian tengah semester aku mulai curiga dengan gerak-gerik dan perhatiannya padaku. Kalau tidak salah waktu itu aku datang agak telat sehingga pelajaran untuk sesaat berhenti. Bu Juliet memperhatikanku, aku dapat bangku di urutan paling depan (yach, biasanya bangku paling depan selalu paling akhir diisi).

Sejenak kupikir ia melihatku terlalu lama karena aku datang telat, tapi setelah pelajaran mulai ia selalu melirik kepadaku, dan aku sadar sekali tentang hal itu dan aku menjadi risih karena hampir setiap 3 menit ia selalu melirikku, dan aku lebih risih lagi ketika ia melirik bagian selangkanganku yang waktu itu aku memakai celana yang agak super ketat (Jeans 010), sehingga bagian selangkanganku kelihatan menggelembung, (mungkin penisku kebesaran yang menurut Bu Juliet setelah kejadian ini).

Aku waktu itu makai baju kemeja, aku berusaha menutupi bagian selangkanganku dengan kemeja yang kupakai sebagai jaket. Karena sering melirik maka ia mengajar pelajaran jadi sering salah, ini terbukti dengan perkatannya, “Kok saya sering salah yach.. ” hal ini dikatakannya setelah ia berbuat kesalahan untuk ke-1001 kalinya. Dalam hatiku berkata, makanya jangan melirik yang tidak-tidak dong.

Hal itu berlangsung hingga 3 kali pertemuan, dan juga ia sepertinya lebih mendekatkan diri padaku, tapi aku tetap jaga image antara aku dengan dosen tentu aku berusaha sebaik mungkin padanya walau aku bertanya-tanya dalam hati apa ia tidak puas sama suaminya (Mas Fadli yang ternyata mengalami impoten). Hingga ujian tengah semester berlalu, aku tahu ujianku banyak yang betul dan aku tahu nilaiku bisa berkisar antara A atau B. Tapi saat itu ia memanggilku ke ruangannya sehabis kuliah usai.

“Son.. Nanti kamu ikut saya ke ruangan saya!”

“Baik, Bu.. Tapi ada apa yach Bu..” jawabku ingin tahu.

“Tidak ada apa-apa, saya ingin minta tolong pada kamu satu hal..” jawabnya dengan penuh senyum di bibirnya yang sensual.

Aku bertanya-tanya dalam hati ada apakah gerangan, sekilas terpikir olehku ia akan mengajakku melakukan.. Tapi kubuang pikiranku itu jauh-jauh takut-takut nanti ia bisa mengerti pikiran orang lagi. Aku mengikutinya dari belakang menuju ruangnya yang terletak cukup jauh dari keramaian mahasiswa.

Dalam perjalan ke sana aku berusaha untuk tetap untuk tidak negatif thinking, dengan cara berbicara dengannya apa saja tentu berhubungan dengan kuliah yang diberikannya tadi karena memang aku agak kurang paham karena pikiranku terbelah-belah. Sesampai di ruangnya ia duduk di kursinya dan aku tetap berdiri karena memang kebetulan di situ hanya ada satu kursi, dan aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.

“Ada apa yach Bu, sehingga saya harus ikut Ibu ke ruangan Ibu..?” tanyaku penasaran.

“Begini, kemarin Ibu sudah membuat semua daftar nilai hasil ujian MID semua mahasiswa yang kuliah dengan Ibu, tapi daftar tersebut tanpa sengaja hilang entah kemana..” jelasnya.

“Jadi.. Bu..?” tanyaku tidak sabaran.

“Jadi Ibu pingin minta tolong, sama kamu untuk membantu Ibu untuk membuat daftar itu lagi, padahal kalau Ibu sendiri yang membuatnya harus makan waktu 2 malam, karena harus teliti..” jelasnya lagi.

“Gimana, dengan hasil ujian saya Bu..?” tanyaku lagi untuk menyakinkan hasil dengan prakiraanku.

“Karena itulah Ibu minta tolong sama kamu, kamu dapat nilai A plus untuk ujian ini, jadi Ibu pikir kamu sanggup membantu Ibu,” pintanya dengan sedikit nada memohon.

“Plusnya apaan bu..” tanyaku menggoda.

“Ahh.. Kamu ada-ada aja..” katanya sambil mencubit lenganku.

“Kapan Sony harus membantu Bu..?” tanyaku singkat karena aku bangga dengan hasil ujianku yang baru kuketahui.

“Kamu tidak kemana-mana kan malam ini..?” tanyanya.

“Tidak.. ” balasku singkat.

“Malam ini aja yach, kamu tau kan alamat ini,” seraya ia sambil menyodorkan alamatnya.

Tanpa sengaja kertas itu jatuh. Aku mengambil kertas itu dengan membungkukkan badan, ia pun berniat menggambilnya, posisiku dengannya dekat sekali bahkan aku bisa mencium bau parfumnya yang menggairahkan.

“Maaf Bu.. ” ucapku padanya.

“Tidak apa kok Son.. ” katanya. Bibirnya sensualnya sembari memberi senyuman yang memikat. Aku bahkan bisa mencium nafas segarnya yang harum.

Jam 7: 30 malam aku berniat menepati janjiku pada dosenku yang satu ini. Aku mandi, dan berdandan dengan rapi, dan tanpa menunggu lagi ku-stater mobil pinjaman ke alamat yang tadi kusimpan. Tanpa kesulitan aku sampai alamat yang dituju karena memang aku sudah hafal keadaan kotaku. Rumahnya besar sekali dengan 2 lantai, dengan halaman yang luas dan pagar yang tinggi, di sisi bagian kanan belakang dapat kuterka ada kolam renang, berarti menandakan ia orang yang cukup kaya.

Aku masuk dengan pagar yang dibukakan oleh satpam jaga dan langsung tanpa mengetuk pintu ia keluar dan menyuruhku masuk. Aku tertegun dengan kedaannya, ia memakai gaun tidur berwarna merah muda, yang tipis dan panjangnya, hanya sampai lutut. Rambutnya panjangnya di biarkan tergerai, aku terdiam beberapa saat. Betapa cantiknya dia malam itu, maupun dengan keadaan rumahnya, ruangan tamunya tertata dengan rapi, baik perabotannya maupun kedaan sofanya yang kelihatannya berharga jutaan rupiah, maupun furniture lainnya.

“Hayo, masuk Son..! lagi mikirin apa sich..” tegurnya membuyarkan lamunanku.

“Ah.. Tidak apa kok Bu.. ” ucapku sekenanya.

Aku melangkah masuk dan duduk di ruangan tengah karena ia menyuruhku untuk mengikutinya di ruangan itu.

“Mau minum apa Son..” tanya pemilik bibir manis ini.

“Apa aja dech Bu asal jangan es teh aja Bu..” kataku. Masalahnya saat itu hujan mulai turun dengan lebat saat aku masuk ke rumah mewah ini.

“Coklat panas, mungkin bagus yach buat kamu..” tanyanya.

“Iya dech Bu, coklat panas aja..” jawabku. Karena aku memang suka sekali coklat.

Setelah berbincang sebentar, aku menanyakan pekerjaan yang akan kubantu. Tapi bagus juga untuk menghilangkan kekakuan antara kami. Dan aku jadi tahu kalau suaminya seorang pengusaha kaya dan sekarang sedang berada di luar negeri untuk mengembangkan usahanya di sana.

Bu Juliet sampai sekarang belum mempunyai anak. Dan di rumah itu sekarang hanya aku dan dia, sedangkan pembantunya, suami istri tinggal tidak jauh dari rumah mewah ini dan datang dari pagi hingga sore. Satpam 1 orang dan akan tetap berada di posnya hingga pagi. Berarti hanya ada aku dan dia di rumah ini.

“Oh Yach, Bu, mana hasil ujiannya..” tanyaku setelah ngalor-ngidul kemana-mana.

“Oh iya, jadi kepanjangan ngomongnya,” seraya memberi senyuman dan tawa kecil.

Ia memintaku untuk ikut ke ruangan kerjanya yang terletak di dalam kamar pribadinya, semula aku menolak karena tidak sopan masuk ke kamar seorang wanita yang suaminya tidak di rumah. Tapi karena sedikit paksaan aku mau juga. Kamarnya besar sekali artinya begitu indah, dengan luas kira-kira 7 m x 5 m, bayangkan saja bathtubnya terletak di dalam kamar dengan gaya Romawi, sedangkan meja kerja terletak di seberangnya 2 kursi dan di dalamnya dilengkapi televisi layar datar 60 inci, dan elektronik lainnya. Aku duduk di kursi kerjanya dan tiba-tiba ia merangkulku.

“Son.. Sebenarnya tidak ada yang namanya daftar nilai, daftar nilai hanya ada jika udah ujian semester,” katanya begitu lembut hingga hampir seperti berbisik di telingaku. Aku bingung, masih belum hilang bengongku ia berbisik di telingaku dan mencium telingaku.

“Son.. Bantu Ibu ya, puaskan Ibu.. Ibu kesepian sekali..” katanya.

“Tidak mungkin Bu..” aku setengah menolak tapi tidak mencegahnya untuk membuka kancing kemejaku satu persatu.

“Kamu mengerti kan, keadaan seorang istri yang tidak pernah dapat kepuasan oleh suaminya, Mas Fadli nggak bisa bertugas seperti lelaki normal alias impoten.. Please Son..” kata Ibu Juliet setengah memohon.

Aku jadi kasihan dan detik berikutnya aku berdiri dan membiarkan dia melucuti satu persatu pakaianku dan sampai aku telanjang bulat, matanya tak berkedip manatap kemaluanku yang tegak berdiri dengan kerasnya.

“Bu.. Jangan cuma dilihat dong Bu..” kataku sedikit bercanda.

“Punyamu keras sekali..” balasnya dengan nafas sedikit memburu menandakan ia terangsang dan betul-betul bernafsu.

Kemudian aku mendekatinya dan mencium bibirnya dengan lembut serta melumat bibirnya yang sensual, bahkan lidah kami saling memilin, tangan kiri menggosok tengkuk dan pundaknya sedangkan tangan kananku meremas buah dada indah milik orang yang sebelumnya kuhormati, putingnya kuputar dengan lembut walau masih diluar gaun sutra yang lembut ini. Lain halnya dengan tangan Bu Juliet, tangan kanannya mengocok-ngocok kemaluanku yang tadi sudah sangat tegang, dan tangan kirinya berusaha melepaskan ikatan gaun tidurnya.

Aku pun membantunya melepaskan gaun tidurnya itu, dan ia langsung bugil, ternyata tanpa menggunakan BH, ia juga tidak menggunakan CD. Aku meneruskan aksiku ini, bahkan sekarang tangan kiriku meremas payudara kanannya dan tangan kananku meremas pantatnya yang aduhai, bibirku menghisap bibir bawahnya, air ludah kami bercampur terasa manis dan lidahku berusaha masuk ke dalam bibirnya.

Setelah puas berpagutan, aku mulai turun ke lehernya yang jenjang dan terus ke tengah-tengah buah dadanya yang padat berisi yang sedikit sudah turun, aku mendorongnya hingga ia bersandar pada dinding. Lidahku kemudian menghisap-hisap puting payudaranya dengan kuat, ia merintih keenakan.

“Oh.. Ohhmm.. Enak sayang..!” desahannya menambah semangatku untuk menghisap lebih kuat. Bahkan seluruh payudaranya kujilati dan kucupang dengan kuat, sehingga ia tambah kuat merintih.

“Ahh.. Ahhm ohh..” erangnya.

Aku semakin menggila, puas dengan yang kiri kuganti dengan yang kanan hingga meninggalkan bekas yang memerah. Aku begitu gemas dengan benda kenyal yang semakin mengeras itu, makanya kukeluarkan jurusku yang pernah kubaca di buku-buku tentang cara membuat pasangan lebih terangsang, tapi untuk pengalamannya baru ini yang pertama. Aku kemudian turun ke bawah dan terus ke selangkangannya, baunya harum, jauh dari yang kuperkirakan sebelumnya, tanpa pikir panjang aku kemudian menjilati klitorisnya hingga semakin keras desahannya.

“Ahh.. Aaahh.. Ohmm.. Enak sayang yach di situ.. Ohmm..” erangnya lagi.

Tidak puas dengan cara berdiri seperti ini aku kemudian mengangkatnya ke atas meja dan mengangkangkan kakinya selebar mungkin dan aku duduk di kursi. Kemudian aku kembali mengeluarkan lidahku dan mengulas klistorisnya dan aku berusaha memasukkan lidahku sedalam mungkin dalam lubang vaginanya, seperti yang pernah kulihat diblue film. Kemudian lidahku semakin ke bawah dan aku menjilati anusnya tanpa merasa jijik.

“Kaammu.. Pinntarr.. Saayyaanng.. Oh ennakh sekaallii lidah kamu..” desahannya semakin kuat.

Mungkin kalau ruangan itu tidak kedap suara pasti sampai kedengaran hingga ruang tengah.

“Yach.. Bu.. Aku akan menjilati sampai Ibu puas..” ucapku sesat melepaskan jilatanku dan kembali menjilati anusnya.

Aku mengangkat kaki Bu Juliet ke atas dan kembali menjilati anusnya karena ia tahu aku menjilati anusnya ia menahan nafasnya sehingga kelihatan seperti sedang buang air, dan lubang anusnya perlahan membuka. Tanpa membuang kesempatan lidah bermain lebih dalam ke dalam lubang anusnya dan terus dan kembali ke liang kemaluannya yang semakin banjir oleh cairan kewanitaannya lalu kujilati dan sesaat kemudian ia memekik dengan kuat.

“Ah.. Ahh.. Soonn.. Ibuu tidak tahan lagi, masukin sakarang yach..” ujarnya di tengah desahannya semakin menjadi yang menambah semangatku.

Aku menyukai vaginanya, habis cairannya terasa sedikit asin dan enak, mungkin gurih bagiku. Aku tak peduli dengan permintaannya, lidahku semakin terus menjilati kemaluannya dan jari tengahku keluar masuk di lubang anusnya, sampai akhirnya.

“Ahh.. Ohhmm.. Ibuu, maauu keluuaarr saayaanng..” erangnya dan..

“Croott.. Creett.. Croot..” tubuh Bu Juliet mengejang dan kaku dan kemudian lemas setelah mengalami orgasme yang hebat, lidahku kubiarkan di dalam dan terasa otot vaginanya menjepit dan meremas lidahku.

Terbayang olehku pasti enak sekali jika batang kemaluanku yang ada di dalam liang kemaluannya ini. Lima menit kemudian kujilati dan kubersihkan kemaluannya dengan lidah, cairan maninya kujilati dan kutelan semua, habis rasanya enak dan aku suka sekali. Ia kembali terangsang dan aku kemudian berbisik kepadanya untuk pindah di tempat tidur.

Aku menggendongnya dan menghempaskannya di tempat tidur, kakinya kubiarkan terjuntai ke bawah dan aku kembali mengangkang kakinya lebar-lebar dan kembali kujilati kemaluannya tapi lima menit kujilati ia duduk dan mendorong tubuhku.

“Sayang.. Sini Ibu pingin ngisep penismu..” katanya seranya memegang dan mengocok batang kemaluanku yang tegangnya sudah maksimal.

Ia berusaha memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya yang mungil. Pertama ia menjilati kepala kemaluanku, rasanya badanku terasa kesetrum keenakan, seluruh syarafku rasanya tegang, dan detik kemudian ia berusaha memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Baru sampai setengahnya aku menekan pantat ke depan, tanganku memegang kepala Bu Juliet.

“Ehk.. Akhh..” mulutnya tercekat tapi ia tak berusaha mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya, akhirnya dengan usaha yang cukup lama kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya hingga ke pangkalnya.

Terasa sedikit ngilu ketika giginya menyentuh kepala kemaluanku, dan terasa benar olehku kepala kemaluanku sampai di tenggorokannya. Bu Juliet menatapku dengan bangga dan kemudian mengeluarkan dari mulutnya, dan setelah keluar ia menghisap dan mengocok serta mengeluar-masukkan kemaluanku ke dalam mulutnya.

“Ahh.. Ehh.. Eeennaakkhh..” ujarku sambil memegang kepalanya seolah-olah aku sedang menyetubuhi mulutnya.

15 menit berlalu dengan posisi ini aku kemudian mengangkatnya, dan menelentangkannya di atas spring bed mewah ini dan mengangkangkan kakinya lebar-lebar dan mengarahkan kemaluanku ke lubang senggamanya, kugosokkan kemaluanku pada klistorisnya, ia mendesah keenakan.

“Oohh.. Ennakhh Sayang ayo masukkan sekarang..!” pintanya.

Aku mengambil posisi lurus dan menekankan pantatku secara perlahan dan ternyata sulit juga memasukkan kemaluanku ke dalam lubang senggamanya, padahal kupikir pasti tidak terlalu sulit karena ia sudah melahirkan 2 orang anak dari lubang ini, tapi ternyata masih sangat sempit dan susah untuk dimasuki. Perlahan kumasukkan sedikit demi sedikit batang kemaluanku ke dalam lubang senggama yang kelihatannya sangat bersih dan lezat dijilati.

“Aahh.. Aoohh.. Terus.. Sayang..” rintihnya saat kemaluanku sudah masukkan 1/2 ke dalam lubang senggamanya dan aku kemudian menekan sedikit lebih kuat, ia memekik kesakitan.

“Auuwww.. Pelan-pelan Sayang.. Sakit.. ” katanya.

“Maaf Bu, Sony bernafsu sekali..” kataku.

Aku kembali menekankan pantatku perlahan dan 3/4 sudah amblas di dalam vaginanya yang kempot ke dalam. Aku kembali menyentakkan pantatku dengan kuat dan ia kembali memekik kesakitan disertai lolongan panjang.

“Aaauuw.. Ahhwww..” desahnya.

“Maaf Bu..” jawabku.

Aku menghentikan dan aku mengatakan bahwa bagaimana kalau istrihat saja dan berhenti saja dulu, tapi ia mencegahku dan malah ia menyuruhku untuk mengocoknya. Aku menurun-naikkan pantatku dengan tempo yang sangat lambat dan menekan kembali dengan sangat lambat, mungkin dengan begini otot vaginanya akan terbiasa menerima kemaluanku.

“Aahh.. Ehhtt.. Ohmm..” desahan Bu Juliet semakin membuatku bernafsu, aku merasakan seluruh kamaluanku dipijat sangat kuat oleh otot vaginanya. Nikmat sekali rasanya.

“Buu.. Ennakh.. Bu, punya Ibuu.. Semppiit sekaali Buu.. Ohmm..”

Aku mendesah dengan kuatnya, aku mempercepat tempo goyangan pinggulku. Keluar masuk dan sepertinya vaginanya sudah mulai terbiasa dengan penisku yang semakin mengeras. Cairan pelicin vagina Bu Juliet mengalir dengan derasnya sehingga menambah mudahnya pergesekan dinding vaginanya dengan batang kemaluanku, hingga berbunyi, “Belbb.. Clebb.. Bleeb.. Clebb..”

Lalu, 15 menit kemudian Bu Juliet sepertinya sudah ngos-ngosan, ia mendekatku erat. Aku semakin bersemangat menaik-turunkan pantatku dengan cepat. Tanganku meremas payudara kanannya dengan kuat dan putingnya kutekan dengan kuat hingga keluar air yang berwarna putih dan ternyata itu air susu dan tanpa ampun aku menyedot puting berwarna coklat muda itu dengan kuat kuremas payudara itu dengan kuat, kedua-duanya tak luput dari hisapanku sehingga rangsangan pada Bu Lia semakin bertambah ini ditandai dengan desahan yang semakin kuat. Akhirnya 5 menit kemudian tubuh Bu Juliet menegang dan ia memeluk dengan erat sekali dan ia berteriak.

“Soonn.. Benamkan yang dalam sayang..” pintanya sambil menggoyang pinggulnya. Tanpa ampun aku menusuknya dengan sangat sehingga terasa olehku pangkal rahimnya.

“Akkuu.. Keluuaarr Soonn.., oohhmm eenaakhh..” pekik Bu Juliet dengan keras dan tubuhnya terasa bergetar hebat menandakan ia benar-benar mengalami orgasmes yang hebat.

“Croott.. Ccreett.. Crooeett..” dan mani Bu Juliet terasa sangat hangat dan banyak, mungkin sampai 7 kali semburan sehingga terasa vagina Bu Juliet becek dan dipenuhi oleh maninya sendiri. Aku membiarkan kemaluanku di dalam vaginanya beberapa saat, kubiarkan dosenku yang cantik ini menikmati orgamesnya sambil memilin payudaranya supaya ia merasa kesempurnaan dari orgasme. 10 menit aku membiarkan kemaluan yang masih tegar dan belum merasakan akan adanya tanda akan orgasme

Dan kemudian Bu Juliet yang bermandikan keringat dan begitu pun tubuhku berkata, “Son.. Kamu hebat sekali, aku sudah 2 kali tapi kamu belum apa-apa.. Sayang..” katanya.

Kemudian aku bangkit dan mencabut penisku yang terasa licin, kemudian kujilati lagi cairan vaginanya sampai bersih, yah hitung-hitung membangkitkan lagi nafsu Bu Juliet. Aku mengambil posisi 69 dan kemudian setelah Bu Juliet kembali bernafsu aku meminta untuk bertumpu pada tangan dan sikunya. Aku akan melakukan doggy style.

Aku memasukkan kemaluan dari belakang dan ternyata tanpa sulit lagi kemaluanku amblas di dalam lubang kemaluannya. “Bless..” Kemudian aku kembali mengocok Bu Juliet dengan penuh semangat, disertai desahan dan pekikan dari Bu Juliet, begitu denganku berteriak dan mendesah dengan kuat.

“Ahh.. Ohhmm.. Eeennaakkhh.. Koccookk yang keenccang sayyaangg..” rintih Bu Juliet.

Aku menjilati lehernya dan tanpa hentinya meremas payudara yang mengeras dan pantatku maju mundur dengan sangat erotis dan beraturan. 15 menit kemudian Bu Juliet kembali mengejang, dan mencapai puncaknya.

“Ohhmm.. Akuu sampaii Soonn.. Sayaanngg..” desahnya dengan tubuh mengejang kaku.

Aku terus mengocoknya tanpa henti bahkan ruangan itu dipenuhi oleh bunyi buah pelir yang basah yang beradu dengan pahanya. “Plok.. Plookk..” Dan bunyi lubang senggama Bu Juliet yang sedang beradu dengan batang kemaluanku. “Bleb.. Bleeb.. Cleeb..” Aku tidak peduli.

“Oh sayaangg ibu capek nih.. Tooloong berhentii sebbeentarr ya,” mohon Bu Juliet.

Aku tahu pasti rasanya ngilu dan geli sekali. Tapi aku tidak peduli bahkan beberapa menit kemudian Bu Juliet kembali mencapai orgasmenya yang keempat dan saat itu aku sudah merasakan aku sudah hampir keluar dan aku mempercepat goyangan pinggulku dan merubah posisiku dengan cara menidurkan Bu Juliet dan mengangkat sebelah kakinya dan memasukkannya dari samping, dan 10 menit kemudian aku merasakan sesuatu yang sudah terkumpul di ujung kemaluanku akan meledak.

“Aaahh.. Buu.. Soonnyy ssammpaii..” rintihku sampai mendekapnya dengan sangat erat.

“Buu kuukeluuarkan diimannaa.. Buu..” tanyaku dalam rintihan.

“Dii.. Dalam aajaa sayaanng..” pintanya sambil mendekapku kuat.

“Saayyaangg.. Iiibuu.. Juugaa sampaii ssaayyaanngg kitaa saammaa saajaa.. Ooohhmm..”

Tubuhku merasakan tegang dan kaku, begitupun Bu Juliet yang orgasme yang kesekian kalinya, dan.. “Crreett.. Ccrrot.. Seerr..” Air maniku dan air mani Bu Juliet keluar bersamaan, kemaluanku sampai ke dasar rahim Bu Juliet. Rasanya penuh sekali dan otot Bu Juliet semakin kuat menjepit kemaluanku. 15 menit aku terdiam menikmati sisa orgasmeku, begitu juga Bu Juliet, kemudian masih dalam keadaan berpagutan Bu Lia memujiku.

“Sayang, belum pernah Ibu merasakan orgasme sampai lima kali dalam satu ronde sebelumnya, tapi baru sekarang, kamu begitu hebat, kamu orang pertama bermain dengan Ibu selain dengan suamiku..” katanya sambil mengecup bibirku.

“Bu, baru sekali ini aku bersetubuh Bu, Ibu yang mengambil keperjakaanku, rasanya enak sekali Bu.. Memek Ibu enak sekali sedotannya asyik,” balasku pada Bu Juliet.

“Kemaluanmu enak sekali.. Sayang, dan rasanya manimu kental sekali Sayang, sampai sekarang rahim Ibu terasa hangat,” ujarnya.

“Boleh tidak Sony ulangi lagi..?” pintaku menatap matanya.

“Tentu saja boleh Sayang, tapi izinkan dulu Ibu istirahat sebentar yach..” katanya sambil memeluk tubuhku.

Aku hanya mengangguk kecil, dan dalam hitungan menit Bu Juliet sudah terlelap, sedangkan aku setelah mencabut batang kemaluanku kupandingi tubuh Bu Juliet dan aku berpikir dan seolah tak percaya aku telah bersetubuh dengan dosenku yang tadinya kuhormati. 2 jam sudah Bu Juliet terlelap dan ketika ia terbangun aku sedang asyik menjilati lubang senggamanya dan lubang anusnya. Jam waktu itu menunjukkan pukul 12:10 karena aku sempat melirik jam dinding.

“Oh Sayang, kamu lagi cari apaan Son..?” tanyanya sedikit bercanda.

“Cari Biji kerang, Bu,” balasku lagi dalam canda.

Kemudian tanpa buang waktu kusuruh ia menungging, aku mau merasakan lubang anusnya. Lalu kuarahkan kemaluanku yang telah mengacung keras ke lubang pantatnya itu.

“Ahh, sayaangg jangan dii situu donng.. ” pintanya.

“Blebb..” Belum habis ia bicara, kudorong pantatku dengan kuat.

“Akhh.. Ehheekk.. ” jeritnya.

“Buu, saya inngin rasakan lubang pantat Ibu..” pintaku sedikit memohon.

“Pelan-pelan yach.. Sakit Sonn.. ” pintanya.

Aku mengocok lubang anusnya dengan penuh semangat, kupikir Bu Juliet tidak akan menikmatinya tetapi malahan ia malah cepat keluar dan bahkan lebih banyak dan lebih sering dari yang sebelumnya dan aku mengeluarkan spermaku di dalam anusnya hingga aku kecapaian dan tertidur dengan pulas, begitu pun dengan Bu Juliet.

Paginya kami mengulangi lagi hingga puas, pukul 11: 30 siang aku pulang karena ada kuliah nanti jam 02:00. Di kampus aku bertemu dengan Bu Juliet, ia hanya melirikku dan memberikan senyuman maut sekilas. Kulihat jalannya agak lain, agak sedikit terangkat, katanya masih sakit di bagian anusnya, habis memang aku memaksanya untuk bermain di situ dan ternyata lebih nikmat. Kata Bu Juliet aku yang pertama mencicipi lubang pantatnya dan menelan maninya.

*****

Sejak saat itu aku semakin sering bermain ke rumah Bu Juliet, yach untuk membantu Bu Juliet menyelesaikan pekerjaannya (hee.. Hee.. Hee..). Tentu asal Bu Juliet tidak menolak, begitupun aku selain nilai Kalkulusku A+ aku juga dikasih uang yang cukup banyak setiap bermain dengan Bu Juliet yang cantik.

Bahkan ia berjanji mau menukar mobil tuaku dengan mobil Ferrari sport. Perlu pembaca ketahui kami tidak melakukan di kamar saja, tapi juga di bathtub, di ruang tengah, ruang tamu, garasi, di kolam renang (di saat malam), dan di dalam mobil bahkan kami juga pernah melakukannya di dalam kelas dan aula di saat mahasiswa telah bubar semua. Huh.. Memang dasar kalau udah jodoh siapapun nggak bakal bisa memisahkan.

Demikian artikel tentang cerita Bahagianya Punya Dosen Montok Berwajah Cantik Tapi Gila Kontol Minta Diewe Terus Sama Kontol Mahasiswa Sendiri.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Kontol Konak Tiap Liat Ibu Kost Tetek Gede,Akhirnya Kusodok Keras2 Memek Sempit Bu Kost.

Kontol Konak Tiap Liat Ibu Kost Tetek Gede,Akhirnya Kusodok Keras2 Memek Sempit Bu Kost.Sudah hampir setahun Roni tinggal di tempat kost Bu Santi. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu Bu Santi di pasar. Waktu itu Bu Santi kecopetan, trus teriak dan kebetulan Roni yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet Bu Santi. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Roni lagi cari tempat kost yang baru dan Bu Santi mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an Bu Santi.

Bu Santi lumayan baik terhadap Roni, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Roni sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan Bu Santi masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Roni yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Roni lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan Bu Santi.

Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Roni masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara Bu Santi yang manggil,”Roni…Roni… ada di dalem gak?” Sontak Roni bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Roni.

Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga Bu Santi pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara Bu Santi,” Roni lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Roni menyahut sedikit teriak,” Lagi mandi bu….”

Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara Bu Santi jadi dekat,”Y udah mandi aja dulu Roni, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Roni tadi gak mengunci pintu. “Busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Roni.

Sekitar lima belas menit Roni di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau Bu Santi bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh Bu Santi sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Roni dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.

Bu Santi tersenyum manis melihat Roni yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Roni…” Bu Santi membuka pembicaraan.

“Pasti bersih banget mandinya ya…” gurau Bu Santi sambil sejenak melirik dada bidang Roni.

“Ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Roni sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur.

Bu Santi mendekat dan duduk di samping Roni, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap Bu Santi. Roni jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Roni dengan sedikit memohon.

Bu Santi terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat Bu Santi sedikit menyelidik. “hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang.

“Ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Roni hati-hati melihat raut wajah Bu Santi yang kurang senang.

“Huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh Bu Santi dengan nada kesal.

Waduh nampaknya Bu Santi lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Roni. Dengan cepat Roni menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…”

“hhhhh….”Bu Santi menghela nafas,”Udahlah Roni, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… Ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… Aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”

Sedikit penjelasan bahwa Bu Santi ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan Bu Santi tampaknya udah mulai kesepian nie

“Wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Roni kikuk

“Gak apa-apa Roni, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Roni?” suara Bu Santi sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas Bu Santi terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Roni.

“Uudah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Roni bermaksud menghibur.

“Ah kamu Roni… emang ibu masih cantik menurutmu?” Bu Santi menatap sendu ke arah Roni, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Roni menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Roni bisa berbuat sesuatu… busyet… Roni memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”

Dengan sedikit gugup Roni menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Roni dalam hati. Roni jadi panik, jangan-jangan Bu Santi marah dengan ucapan Roni.

Tapi ternyata Roni salah, karena Bu Santi tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Roni bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…” rona wajah Bu Santi berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Roni, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Roni minta penilaian.

Terang aja Roni makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.”

Bu Santi tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Roni liat dari mananya bisa bilang begitu?”

Roni jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.”

Bu Santi kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Roni sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…”

Nafas Roni terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan Bu Santi, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Roni mengalihkan pandangan ke arah tubuh Bu Santi mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Roni memperhatikan bahwa Bu Santi memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya.

Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Roni beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan Bu Santi di paha Roni yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Roni. Dengan penuh selidik Bu Santi bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…”

Roni sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh Bu Santi,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”

Tidak ada jawaban dari mulut Bu Santi, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah Bu Santi makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah.

Roni pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Roni menyambut bibir merah Bu Santi, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, Bu Santi menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Roni, dan dibalas dengan lilitan lidah Roni sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

Dengan naluri yang alami, tangan Roni merambat naik ke bahu Bu Santi, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Roni meraba bahu Bu Santi sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Roni meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhh…hhhh” nafas Bu Santi mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik Bu Santi tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Roni… melingkari pinggang Roni, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…

Uupps…. Roni tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Roni tertunduk tak berani menatap Bu Santi sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah Bu Santi.

Terlihat Bu Santi pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Roni… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Roni…” tatapan Bu Santi terlihat semakin sendu…

“mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Roni.

Tanpa menjawab Bu Santi bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Roni terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh Bu Santi. Kemudian dengan tenang Bu Santi melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya.

Saat berjalan membelakangi Roni itu nampak gerakan bokong Bu Santi naik turun, dan perasaan Roni semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat Bu Santi berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Roni tidak melepaskan sedikit pun gerakan Bu Santi. Sampai Bu Santi berdiri dekat di depan Roni dan berkata,”kamarnya udah di kunci Roni, dan gak ada yang akan mengganggu….”

Roni tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Santi kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Roni mendekat dan duduk di samping Bu Santi… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Roni langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.

Bu Santi yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Roni, menarik wajah dan langsung melumat bibir Roni dengan nafsu yang membara. Roni membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah Bu Santi, tangan Roni meremas payudara montok milik Bu Santi. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah.

Setelah beberapa saat, Bu Santi mendorong lembut badan Roni, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Roni mendorong lembut tubuh Bu Santi, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang.

Tanpa menunggu lagi Roni melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Roni menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… “HHHH…. AHHH….MMMH….”suara Bu Santi mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Roni melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel Bu Santi yang menggelinjang kegelian.

Roni menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam Bu Santi, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan Bu Santi mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Roni mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha Bu Santi yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama.

Tanpa menunggu lama, Roni menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina Bu Santi dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat Bu Santi mengerang kenikmatan,”AHHHH…. MMMMH… HHH… Roni….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari Bu Santi membuat Roni semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

Setelah beberapa menit Roni mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya Bu Santi tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Roni…. Ayo sayang… masukkin Roni… hhhh…mmmmh.” Suara Bu Santi ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

Dengan tenang Roni menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Santi semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Roni naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina Bu Santi yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Roni dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

Dengan sekali dorongan penis Roni amblas sampai setengahnya. Roni menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan Bu Santi,” AHHH….TERUSKAN Roni….AHHH.” kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Roni memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

Roni bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan Bu Santi mencengkam punggung Roni, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Roni dan Bu Santi.

Sesaat Roni menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, Bu Santi memeluk Roni dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, Bu Santi memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan.

Sesekali Bu Santi memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Roni lebih dalam. Roni tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu Bu Santi. Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat Bu Santi seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan.

Dengan sigap Roni membalikkan posisi, Bu Santi kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Roni meneruskan pertempuran. “Roni…AHH..AH..AH..UH…TERUS Roni…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…Roni….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH.” Setelah teriakan tertahan Bu Santi mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Roni merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.

Roni menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Roni kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut Bu Santi, yang dengan cepat meraih penis Roni dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut Bu Santi mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Roni membaringkan tubuhnya disamping Bu Santi. Terdiam untuk beberapa saat.

Bu Santi bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Roni. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Roni,” bisik mesra Bu Santi di telinga Roni.

“mmm…baik bu…”belum sempat Roni menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk Bu Santi menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap Bu Santi manja.

“iya sayang….” Balas Roni, senyum manis merekah di bibir seksi Bu Santi.

Setelah itu dengan cepat Roni dan Bu Santi merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Roni, Bu Santi berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Roni sayang.” Sambil berpelukan mesra, Roni menyanggupi ajakan Bu Santi.

 

Demikian artikel tentang cerita Kontol Konak Tiap Liat Ibu Kost Tetek Gede,Akhirnya Kusodok Keras2 Memek Sempit Bu Kost.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Karena Istri Sahabat Terlalu Seksi Dan Murahan kayak Lonte,Akhirnya Kusodok Dalam2 Memeknya.

Karena Istri Sahabat Terlalu Seksi Dan Murahan kayak Lonte,Akhirnya Kusodok Dalam2 Memeknya.Kejadiannya ketika aku sdh berkeluarga dan sudah memiliki 1 anak umur ±2 thn, usiaku kala itu 30 thn. Kami baru pindah ke sebuah kompleks perumahan di kota S yg masih sangat baru. Belum banyak penghuni yg menempatinya, malahan di gang rumahku (yg terdiri dari 12 rumah) baru 2 rumah yg ditempati, yaitu rumahku dan rumah Tora.

Tora juga sudah beristri, namanya Nadia. Mereka belum punya anak sekalipun sudah menikah lebih dari 2 thn. Rumah Tora hanya berjarak 2 rumah dari rumahku. Karena tidak ada tetangga yang lain, kami jadi cepat sekali akrab.

Aku dan Tora jadi seperti sahabat lama, kebetulan kami seumuran dan hobi kami sama, catur. Nadia, yang berumur 26 thn, juga sangat dekat dgn istriku, Nina. Mereka hampir tiap hari saling curhat tentang apa saja, dan soal seks juga sering mereka perbincangkan. Biasa mereka berbincang di teras depan rumahku kalau sore sambil Nina menyuapi Niko, anak kami. Mereka sama sekali tidak tahu kalau aku sering “menguping” rumpian mereka dari kamarku.

Aku jadi banyak tahu tentang kehidupan seks Nadia dan suaminya. Intinya Nadia kurang “happy” soal urusan ranjang ini dgn Tora. Bukannya Tora ada kelainan, tapi dia senangnya tembak langsung tanpa pemanasan dahulu, sangat konservatif tanpa variasi dan sangat egois. Begitu sudah ejakulasi ya sudah, dia tidak peduli dgn istrinya lagi.

Sehingga Nadia sangat jarang mencapai kepuasan dgn Tora. Sebaliknya istriku cerita ke Nadia kalau dia sangat “happy” dgn kehidupan seksnya. Dan memang, sekalipun aku bukan termasuk “pejantan tangguh”, tapi aku hampir selalu bisa memberikan kepuasan kepada istriku.

Mereka saling berbagi cerita dan kadang sangat mendetail malah. Sering Nadia secara terbuka menyatakan iri pada istriku dan hanya ditanggapi dgn tawa ter-kekeh² oleh Nina.

Wajah Nadia cukup cantik, sekalipun tidak secantik istriku memang, tapi bodinya sungguh sempurna, padat berisi. Kulitnya yang putih juga sangat mulus. Dan dalam berpakaian Nadia termasuk wanita yang “berani” sekalipun masih dalam batas² kesopanan.

Sering aku secara tak sadar menelan ludah mengaggumi tubuh Nadia, diluar tahu istriku tentu saja. Sayang sekali tubuh yang demikian menggiurkan jarang mendapat siraman kepuasan seksual, sering aku berpikiran kotor begitu. Tapi semuanya masih bisa aku tangkal dgn akal sehatku.

Jum’at petang itu kebetulan aku sendirian di rumah. Nina, dan Niko tentu saja, paginya pulang ke rumah orangtuanya di M, karena hari Minggunya adik bungsunya menikah. Rencananya Sabtu pagi akan akan menyusul ke M. Kesepian di rumah sendirian, setelah mandi aku melangkahkan kaki ke rumah Tora. Maksud hati ingin mengajak dia main catur, seperti yang sering kami lakukan kalau tidak ada kegiatan.

Rumah Tora sepi² saja. Aku hampir mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu, karena aku pikir mereka sedang pergi. Tapi lamat² aku dengar ada suara TV. Aku ketuk pintu sambil memanggil “Tora .. Tora,” Beberapa saat kemudian terdengar suara gerendel dan pintu terbuka.

Aku sempat termangu sepersekian detik. Di depanku berdiri sesosok perempuan cantik tanpa make-up dgn rambut yang masih basah tergerai sebahu. Dia mengenakan daster batik mini warna hijau tua dgn belahan dada rendah, tanpa lengan yang memeperlihatkan pundak dan lengan yang putih dan sangat mulus.

“Eh .. Mas Benny. Masuk Mas,” sapaan ramah Nadia menyadarkan aku bahwa yang membukakan pintu adalah Nadia. Sungguh aku belum pernah melihat Nadia secantik ini. Biasanya rambutnya selalu diikat dengan ikat rambut, tak pernah dibiarkan tergerai seperti ini.

“Nnng … Tora mana Nad?”

“Wah Mas Tora luar kota Mas.”

“Tumben Nad dia tugas luar kota. Kapan pulang?”

“Iya Mas, kebetulan ada acara promosi di Y, jadi dia harus ikut, sampai Minggu baru pulang. Mas Benny ada perlu ama Mas Tora?”

“Enggak kok, cuman pengin ngajak catur aja. Lagi kesepian nih, Nina ama Niko ke M.”

“Wah kalo cuman main catur ama Nadia aja Mas.”

Sebetulnya aku sudah ingin menolak dan balik kanan pulang ke rumah. Tapi entah bisikan darimana yang membuat aku berani mengatakan: “Emang Nadia bisa catur?”

“Eit jangan menghina Mas, biar Nadia cewek belum tentu kalah lho ama Mas.” kata Nadia sambil tersenyum yang menambah manis wajahnya.

“Ya bolehlah, aku pengin menjajal Nadia,” kataku dgn nada agak nakal.

Lagi² Nadia tersenyum menjawab godaanku. Dia membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan aku duduk di kursi tamu.

“Sebentar ya Mas, Nadia ambil minuman. Mas susun dulu caturnya.”

Nadia melenggang ke ruang tengah. Aku semakin leluasa memperhatikannya dari belakang. Kain daster yang longgar itu ternyata tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh Nadia yang begitu padat.

Goyangan kedua puncak pantatnya yg berisi tampak jelas ketika Nadia melangkah. Mataku terus melekat sampai Nadia menghilang di pintu dapur. Buru² aku ambil catur dari rak pajangan dan aku susun di atas meja tamu.

Pas ketika aku selesai menyusun biji catur, Nadia melangkah sambil membawa baki yang berisi 2 cangkir teh dan sepiring kacang goreng kegemaran aku dan Tora kalau lagi main catur. Ketika Nadia membungkuk meletakkan baki di meja, mau tak mau belahan dada dasterya terbuka dan menyingkap dua bukit payudara yang putih dan sangat padat.

Darahku berdesir kencang, ternyata Nadia tidak memakai bra! Tampaknya Nadia tak sadar kalau sudah “mentraktir” aku dgn pemandangan yang menggiurkan itu. Dgn wajar di duduk di kursi sofa di seberang meja.

“Siapa jalan duluan Mas?”

“Nadia kan putih, ya jalan duluan dong,” kataku sambil masih ber-debar².

Beberapa saat kami mulai asik menggerakkan buah catur. Ternyata memang benar, Nadia cukup menguasai permaian ini. Beberapa kali langkah Nadia membuat aku harus berpikir keras. Nadia pun tampaknya kerepotan dgn langkah²ku.

Beberapa kali dia tampak memutar otak. Tanpa sadar kadang² dia membungkuk di atas meja yg rendah itu dgn kedua tangannya bertumpu di pinggir meja. Posisi ini tentu saja membuat belahan dasternya terbuka lebar dan kedua payudaranya yang aduhai itu menjadi santapan empuk kedua mataku. Konsentrasiku mulai buyar.

Satu dua kali dalam posisi seperti itu Nadia mengerling kepadaku dan memergoki aku sedang menikmati buah dadanya. Entah memang dia begitu tenggelam dalam berpikir atau memang sengaja, dia sama sekali tidak mencoba menutup dasternya dgn tangannya, seperti layaknya reaksi seorang wanita dalam kondisi ini.

Aku semakin berani menjelajah sekitar wilayah dadanya dengan sapuan pandanganku. Aku betul² terpesona, sehingga permaian caturku jadi kacau dan dgn mudah ditaklukkan oleh Nadia.

“Cckk cckk cckk Nadia memang hebat, aku ngaku kalah deh.”

“Ah dasar Mas aja yang ngalah dan nggak serius mainnya. Konsentrasi dong Mas,” jawab Nadia sambil tersenyum menggoda. “Ayo main lagi, Nadia belum puas nih.” Ada sedikit nada genit di suara Nadia.

Kami main lagi, tapi kali ini aku mencoba lebih konsentrasi. Permainan berjalan lbh seru, sehingga suatu saat ketika sedang berpikir, tanpa sengaja tanganku menjatuhkan biji catur yg sudah “mati” ke lantai.

Dengan mata masih menatap papan catur aku mencoba mengambil biji catur tsb dari lantai dgn tangan kananku. Rupa²nya Nadia juga melakukan hal yg sama, sehingga tanpa sengaja tangan kami saling bersenggolan di lantai.

Entah siapa yang memulainya, tapi kami saling meremas lembut jari tangan di sisi meja sambil masih duduk di kursi masing². Aku melihat ke arah Nadia, dia masih dalam posisi duduk membungkuk tapi matanya terpejam.

Jari² tangan kirinya masih terus meremas jari tangan kananku. Aku menjulurkan kepalaku dan mencium dahi Nadia dgn sangat mesra.

Dia sedikit terperanjat dengan “langkah”ku ini, tapi hanya sepersekian detik saja. Matanya masih memejam dan bibirnya yg padat sedikit terbuka dan melenguh pelan,

“oooohhh …”

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kulum lembut bibir Nadia dengan bibirku, dia menyambutnya dgn mengulum balik bibirku sambil tangan kanannya melingkar di belakang leherku.

Kami saling berciuman dgn posisi duduk berseberangan dibatasi oleh meja. Kuluman bibir Nadia ke bibirku berubah menjadi lumatan. Bibirku disedot pelan, dan lidahnya mulai menyeberang ke mulutku. Aku pun menyambutnya dgn permainan lidahku.

Merasa tidak nyaman dalam posisi ini, dgn sangat terpaksa aku lepaskan ciuman Nadia. Aku bangkit berdiri, berjalan mengitari meja dan duduk di sisi kiri Nadia. Belum sedetik aku duduk Nadia sudah memeluk aku dan bibirnya yg kelihatan jadi lebih sensual kembali melumat kedua bibirku.

Lidahnya terus menjelajah seluruh isi mulutku sepanjang yg bisa dia lakukan. Aku pun tak mau kalah bereaksi. Harus aku akui bahwa aku belum pernah berciuman begini “hot”, bahkan dgn istriku sekalipun. Rasanya seumur hidup kami berciuman begini, sampai akhirnya Nadia agak mengendorkan “serangan”nya.

Kesempatan itu aku gunakan untuk mengubah arah seranganku. Aku ciumi sisi kiri leher Nadia yang putih jenjang merangsang itu. Rintih kegelian yg keluar dari mulut Nadia dan bau sabun yg harum semakin memompa semangatku.

Ciumanku aku geser ke belakang telinga Nadia, sambil sesekali menggigit lembut cuping telinganya. Nadia semakin menggelinjang penuh kegelian bercampur kenikmatan.

“Aaaahhhh … aaaahhhhh,” rintihan pelan yang keluar dari mulut Nadia yang terbuka lebar seakan musik nan merdu di telingaku.

Lengan kananku kemudian aku rangkulkan ke leher Nadia. Tangan kananku mulai menelusup di balik dasternya dan merayap pelan menuju puncak buah dada Nadia yg sebelah kanan. Wow … payudara Nadia, yang sedari tadi aku nikmati dgn sapuan mataku, ternyata sangat padat. Bentuknya sempurna, ukurannya cukup besar karena tanganku tak mampu mengangkup seluruhnya. Jari²ku mulai menari di sekitar puting susu Nadia yang sudah tegak menantang.

Dengan ibu jari dan telunjukku aku pelintir lembut puting yang mungil itu. Nadia kembali menggelinjang kegelian, namun tanpa reaksi penolakan sedikitpun. Dia menolehkan wajahnya ke kiri, dgn mata yang masih terpejam dia melumat bibirku.

Kami kembali berciuman dgn panasnya sambil tanganku terus bergerilya di payudara kanannya. Reaksi kenikmatan Nadia dia salurkan melalui ciuman yg semakin ganas dan sesekali gigitan lembut di bibirku.

Tangan kiriku aku gerakkan ke paha kiri Nadia. Darahku semakin mengalir deras ketika aku rasakan kelembutan kulit paha mulus Nadia. Lambat namun pasti, usapan tanganku aku arahkan semakin keatas mendekati pangkal pahanya.

Ketika jariku mulai menyentuh celana dalam Nadia di sekitar bukit kemaluannya, aku menghentikan gerakanku. Tangan kiriku aku kembali turunkan, aku usap lembut pahanya mulai dari atas lutut. Gerakan ini aku ulang beberapa kali sambil tangan kananku masih memelintir puting kanan Nadia dan mulut kami masih saling berpagutan.

Ciuman Nadia semakin mengganas pertanda dia mengharapkan lebih dari gerakan tangan kiriku. Aku pun mulai meraba bukit kemaluannya yang masih terbalut celana dalam itu. Entah hanya perasaanku atau memang demikian, aku rasakan denyut lembut dari alat kemaluan Nadia.

Dengan jari tengah tangan kiriku, aku tekan pelan tepat di tengah bukit nan empuk itu. Denyutan itu semakin terasa. Aku juga rasakan kehangatan disana.

“Aaahh … Mas Ben … aahhh .. iya .. iya,”

Nadia melenguh sambil sedikit meronta dan kedua tangannnya menyingkap daster mininya serta menurunkan celana dalamnya sampai ke lututnya. Serta merta mataku bisa menatap leluasa kemaluan Nadia.

Bukitnya menyembul indah, bulu²nya cukup tebal sekalipun tidak panjang bergerombol hanya di bagian atas. Di antara kedua gundukan daging mulus itu terlihat celah sempit yang kentara sekali berwarna merah kecoklatan. Sedetik dua detik aku sempat terpana dengan pemandangan indah yg terhampar di depan mataku ini.

Kemudian jari² tangan kiriku mulai membelai semak² yg terasa sangat lembut itu. Betul² lembut bulu² Nadia, aku tak pernah mambayangkan ada bulu pubis selembut ini, hampir selembut rambut bayi

Nadia mereaksi belaianku dengan menciumi leher dan telinga kananku. Kedua tangannya semakin erat memeluk aku. Tangan kananku dari tadi tak berhenti me-remas² buah dada Nadia yang sangat berisi itu.

Jari²ku mulai mengusap lembut bukit kemaluan Nadia yang sangat halus itu. Perlahan aku sisipkan jari tengah kiriku di celah sempit itu. Aku rasakan sediit lembab dan agak berlendir. Aku menyusup lebih dalam lagi sampai aku menemukan klitoris Nadia yg sangat mungil dengan ujung jariku. Dgn gerakan memutar lembut aku usap benda kecil yang nikmat itu.

“Ahhhh … iya … Mas .. Ben … ahhhh .. ahhhh.”

Jari tengahku aku tekan sedikit lebih kuat ke klitoris Nadia, sambil aku gosokkan naik turun. Nadia meresponsnya dengan membuka lebar kedua pahanyan, namun gerakannya terhalang celana dalam yg masih bertengger di kedua lututnya.

Sejenak aku hentikan gosokan jariku, aku gunakan tangan kiriku untuk menurunkan benda yang menghalangi gerakan Nadia itu. Nadia membantu dgn mengangkat kaki kirinya sehingga celana dalamnya terlepas dari kaki kirinya. Sekarang benda itu hanya menggantung di lutut kanan Nadia dan gerankan Nadia sudah tak terhalang lagi.

Dgn leluasa Nadia membuka lebar kedua pahanya. Dari sudut pandang yang sangat sempit aku masih bisa mengintip bibir kemaluan Nadia yang begitu tebal merangsang, hampir sama tebal dan sensualnya dgn bibir atas Nadia yang masih menciumi leherku. Jariku sekarang leluasa menjelajah seluruh kemaluan Nadia yang sudah sangat licin berlendir itu.

Aku gosok² klitoris Nadia dgn lebih kuat sambil sesekali mengusap ujung liang kenikmatannya dan aku gesek keatas kearah klitorisnya. Aku tahu ini bagian yang sangat sensitif dari tubuh wanita, tak terkecuali wanita molek yg di sampingku ini. Nadia menggelinjang semakin hebat.

“Aaaaaahhhhh …. Mas .. Mas ….. ahhhhh .. terus … ahhhhh,” pintanya sambil merintih.

Intensitas gosokanku semakin aku tingkatkan. Aku mulai mengorek bagian luar lubang senggama Nadia.

“Iya … ahhh … iya .. Mas .. Mas .. Mas Ben.”

Nadia sudah lupa apa yang harus dia lakukan. Dia hanya tergolek bersandar di sofa yang empuk itu. Kepalanya terdongak kebelakang, matanya tertutup rapat. Mulutnya terbuka lebar sambil tak henti mengeluarkan erangan penuh kenikmatan. Tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya tak lagi memelukku.

Tangan kananku pun sudah berhenti bekerja karena merangkul erat Nadia agar dia tidak melorot ke bawah. Daster Nadia sudah terbuka sampai ke perutnya, menyingkap kulit yang sangat putih mulus tak bercacat. Celana dalam Nadia masih menggantung di lutut kanannya. Pahanya menganngkang maksimal.

Jariku masih menari-nari di seluruh bagian luar kemaluan Nadia, yang semakin aku pandang semakin indah itu. Aku sengaja belum nenyentuh bagian dalam lubang surganya.

Kepala Nadia sekarang meng-geleng² kiri kanan dgn liarnya. Rambut basahnya yang sudah mulai kering tergerai acak²an, malah menambah keayuan wajah Nadia.

“Mas … Mas …. ahhhhh …. enak …. ahhhh nggak tahaaann .. ahhhh.”

Aku tahu Nadia sudah hampir mencapai puncak kenikmatan birahinya. Dengan lembut aku mulai tusukkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yg sudah sangat basah itu.

Aku sorongkan sampai seluruh jariku tertelan lubang Nadia yang cukup sempit itu. Aku tarik perlahan sambil sedikit aku bengkokkan keatas sehingga ujung jariku menggesek lembut dinding atas vagina Nadia.

Gerakan ini aku lakukan berulang kali, masuk lurus keluar bengkok, masuk lurus keluar bengkok, begitu seterusnya. Tak sampai 10 kali gerakan ini, Tiba² Tubuh Nadia menjadi kaku, kedua tangannnya mencengkeram erat pinggiran sofa. Kepalanya semakin mendongak kebelakang. Mulutnya terbuka lebar. Gerakanku aku percepat dan aku tekan lebih dalam lagi.

“Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh.”

Nadia melenguh dalam satu tarikan nafas yang panjang. Tubuhnya sedikit menggigil. Aku bisa merasakan jari tanganku makin terjepit kontraksi otot vagina Nadia, dan bersaman dgn itu aku rasakan kehangatan cairan yg menyiram jariku. Nadia telah mencapai orgasmenya. Aku tidak menghentikan gerakan jariku, hanya sedikit mengurangi kecepatannya.

Tubuh Nadia masih menggigil dan menegang. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yg keluar sepatahpun, hanya hembusan nafas kuat dan pendek² yg dia keluarkan lewat mulutnya. Kondisi demikian berlangsung selama beberapa saat.

Kemudian tubuh Nadia berangsur melemas, aku pun memperlambat gerakan jariku sampai akhirnya dgn sangat perlahan aku cabut dari liang kenikmatan Nadia.

Mata Nadia masih terpejam rapat, bibirnya masih sedikit ternganga. Dgn lembut dan pelan aku dekatkan bibirku ke mulut Nadia. Aku cium mesra bibirnya yang sangat sensual itu. Nadia pun menyambut dgn tak kalah mesranya. Kami berciuman bak sepasang kekasih yg saling jatuh cinta.

Agak berbeda dgn ciuman yg menggelora seperti sebelumnya.

“Nikmat Nad?” Dgn lembut aku berbisik di telinga Nadia.

“Mas Ben … ah … Nadia blm pernah merasakan kenikmatan seperti tadi .. sungguh Mas. Mas Ben sangat pinter … Makasih Mas … Nina sungguh beruntung punya suami Mas.”

“Aku yg beruntung Nad, bisa memberi kepuasan kepada wanita secantik dan semulus kamu.”

“Ah Mas Ben bisa aja … Nadia jadi malu.”

Seluruh kejadian tadi sekalipun terasa sangat lama, tapi aku tahu sesungguhnya tak lebih dari 5 menit. Oh, ternyata Nadia wanita yang cepat mencapai orgasme, asal tahu bagaimana caranya. Sungguh tolol dan egois Tora kalau sampai tidak bisa memuaskan istrinya ini. Aku berpikir dalam hati.

Nadia kemudian sadar akan kondisinya saat itu. Dasternya awut²an, kemaluannya masih terbuka lebar, dan celana dalamnya tersangkut di lutunya. Dia segera duduk tegak, menurunkan dasternya sehingga menutup pangkal pahanya. Grakan yang sia² sebetulnya karena aku sudah melihat segalanya. Akhirnya dia bangkit berdiri.

“Nadia mau cuci dulu Mas.”

“Aku ikut dong Nad, ntar aku cuciin,” aku menggodanya.

“Ihhh Mas Ben genit.”

Sambil berkata demikian dia menggamit tanganku dan menarikku ka kamarnya. Aku tahu ada kamar mandi kecil disana, sama persis seperti rumahku. Sampai di kamar Nadia aku berkata:

“Aku copot pakaianku dulu ya Nad, biar nggak basah.”

Nadia tdk berkata apa² tetapi mendekati aku dan membantu melepas kancing celanaku semantara aku melepaskan kaosku. Aku lepaskan juga celanaku dan aku hanya memakai celana dalam saja.

Nadia melirik ke arah celana dalamku, atau lebih tepatnya ke arah benjolan berbentuk batang yg ada di balik celana dalamku. Aku maju selangkah dan mengangkat ujung bawah daster Nadia sampai keatas dan Nadia mengangkat kedua tangannya sehingga dasternya mudah terlepas.

Baru sekarang aku bisa melihat dgn jelas tubuh mulus Nadia. Sungguh tubuh wanita yang sempurna, semuanya begitu indah dan proporsional, jauh melampaui khayalanku sebelumnya. Payudara yang dari tadi hanya aku intip dan raba sekarang terpampang dgn jelas di hadapanku.

Bentuknya bundar kencang, cukup besar, tapi masih proporsional dgn ukuran tubuh Nadia yg sexy itu. Putingnya sangat kecil bila dibanding ukuran bukit buah dadanya sendiri. Warna putingnya coklat agak tua, sungguh kontras dgn warna kulit Nadia yg begitu putih.

Perut Nadia sungguh kecil dan rata, tak tampak sedikitpun timbunan lemak disana. Pinggulnya sungguh indah dan pantatnya sangat sexy, padat dan sangat mulus. Pahanya sangat mulus dan padat, betisnya tidak terlampau besar dan pergelangan kakinya sangat kecil.

Rupa² Nadia sadar kalau aku sedang mengagumi tubuhnya. Dgn agak malu² di berkata:

“Mas curang … Nadia udah telanjang tapi Mas belum buka celana dalamnya.”

Tanpa menunggu reaksiku, Nadia maju selangkah, agak membungkuk dan memelorotkan celana dalamku. Aku membantunya dgn melangkah keluar dari celana ku. Tongkat kejantananku yg sedari tadi sudah berdiri tegak langsung menyentak seperti mainan badut keluar dari kotaknya. Kami berdua berdiri berhadapan sambil bertelanjang bulat saling memandangi.

Tak tahan aku hanya melihat tubuh molek Nadia, aku maju langsung aku peluk erat tubuh Nadia. Kulit tubuhku langsung bersentuhan dgn kulit halus tubuh Nadia tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.

“Kamu cantik dan seksi sekali Nad.”

“Ah Mas Ben ngeledek aja.”

“Bener kok Nad.”

Sambil berkata demikian aku rangkul Nadia lalu aku bimbing masuk ke kamar mandi. Aku semprotkan sedikit air dengan shower ke kemauluan Nadia yg masih berlendir itu. Kemudian tangan kananku aku lumuri dgn sabun, aku peluk Nadia dari belakang dan aku sabuni seluruh kemaluan Nadia dgn lembut.

Rupanya Nadia suka dgn apa yg aku lakukan, dia merapatkan punggungnya ke tubuhku sehingga penisku menempel rapat ke pantatnya. Dgn gerakan lambat dan teratur aku menggosok selangkangan Nadia dgn sabun.

Nadia mengimbanginya dengan mengggerakkan pinggulnya seirama dgn gerakanku. Gesekan tubuhku dgn kulit halus mulus Nadia seakan membawaku ke puncak surga dunia.

Akhirnya selesai juga aku membantu Nadia mencuci selangkangannya dan mengeringkan diri dgn handuk. Sambil saling rangkul kami kembali ke kamar dan berbaring bersisian di tempat tidur. Kami saling berpelukan dan berciuman penuh kemesraan.

Aku raba seluruh permukaan tubuh mulus Nadia, betul² halus dan sempurna. Nadia pun beraksi mengelus batang kejantananku yang semakin menegang itu.

Aku ingin memberikan Nadia kepuasan sebanyak mungkin malam ini. Aku ingin Nadia merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dgn seorang pria. Dan aku merasa sangat beruntung bisa melakukan itu krn, dari cerita Nadia ke Nina, aku tahu tak ada pria lain yg pernah menyentuhnya kecuali Tora, dan sekarang aku.

Tubuh telanjang Nadia aku telentangkan, kemudian aku melorot mendekati kakinya. Aku mulai menciumi betisnya, perlahan keatas ke pahanya yang mulus. Aku nikmati betul setiap inci kulit paha mulus dan halusnya dgn sapuan bibir dan lidahku. Akhirnya mulutku mulai mendekati pangkal pahanya.

“Ahhhhh Mas Ben …. ah .. jangan .. nanti Nadia nggak tahan lagi .. ah.”

Sekalipun mulutnya berkata “jangan” namun Nadia justru membuka kedua pahanya semakin lebar seakan menyambut baik serangan mulutku itu.

“Nikmati saja Nad …. aku akan memberikan apa yg tdk pernah diberikan Tora padamu.”

Aku meneruskan jilatan dan ciumanku ke daerah selangkangan Nadia yg sudah menganga lebar. Aku lihat jelas bibir vaginanya yg begitu tebal dan sensual. Perlahan aku katupkan kedua bibirku ke bibir bawah Nadia. Sambil “berciuman” aku julurkan lidahku mengorek ujung liang senggama Nadia yg merangsang dan wangi itu.

“Ahhhh …. Mas Ben … aaaaahhh .. please .. please.”

Begitu mudahnya kata² Nadia berubah dari “jangan” menjadi “please”. Bibirku aku geser sedikit keatas sehingga menyentuh klitorisnya yg berwarna pink itu. Perlahan aku julurkan lidahku dan aku menjilatinya ber-kali². Sekarang Nadia bereaksi tepat seperti yang aku duga.

Dia membuka selangkangannya semakin lebar dan menekuk lututnya serta mengangkat pantatnya. Aku segera memegang pantatnya sambil me-remas²nya. Lidahku semakin leluasa menari di klitoris Nadia.

“Aaaaaahhhhhh …. enak Mas …. enak …. ahhhh .. iya …. ahhhh ahhhhh.”

Hanya itu yang keluar dari mulut Nadia menggambarkan apa yg sedang dia rasakan saat ini. Aku semakin meningkatkan kegiatan mulutku, aku katupkan kedua bibirku ke klitoris Nadia yg begitu mungil, Aku sedot lambat² benda sebesar kacang hijau itu.

“Maaaaasss …. nggak tahaaaan … ahhhhh .. Maassss.”

Dari pengalamanku tadi memasturbasi Nadia dgn jari aku tahu pertahanan Nadia tinggal setipis kertas. Lalu aku rubah taktik ku. Aku lepaskan tangan kananku dari pantat Nadia, kemudian jari tengahku kembali beraksi menggosok klitorisnya.

Lidahku aku julurkan mengorek seluruh lubang kenikmatan Nadia sejauh yg aku bisa. Sungguh luar biasa respon Nadia. Tubuhnya menegang membuat pantat dan selangkangannya semakin terangkat, kedua tangannya mencengkeram kain sprei.

“AAAaaaaahhhhh … maaaaaaaaaaaaaassssssss.”

Bersamaan dgn erangan Nadia aku rasakan ada cairan hangat dan agak asin yg keluar dari liang vaginanya dan langsung membasahi lidahku. Aku julurkan lidahku semakin dalam dan semakin banyak cairan yg bisa aku rasakan.

Tiba² Nadia memberontak, segera menarik aku mendekatinya. Tangan kananku dia pegang dan sentuhkan ke kemaluannya. Sambil matanya masih terpejam, dia memeluk aku dan langsung mencium bibirku yang masih belepotan dgn lendir kenikmatannya. Aku tahu apa yg dia mau.

Aku biarkan bibir dan lidahnya menari di mulutku menyapu semua sisa lendir yg ada disana. Jari tanganku aku benamkan kedalam vaginanya dan aku gerakkan masuk keluar dgn cepat. Tubuh Nadia kembali menggigil dan vaginanya mengeluarkan cairan lagi. Rupanya itu adalah sisa orgasmenya.

Kami masih berciuman sampai tubuh Nadia mulai melemas. perlahan aku angkat tangan kananku dari selangkangannya, aku peluk dia dgn lembut. Bibirku perlahan aku lepaskan dari cengkeraman mulut Nadia.

Tubuh Nadia tergolek lemah seakan tanpa tulang. Matanya sedikit terbuka menatap mesra ke arahku. Bibirnya sedikit menyungging senyum penuh kepuasan.

“Mas …. itu tadi luar biasa Mas … Nadia belum pernah digituin … Mas Ben hebat .. makasih Mas … Nadia hutang banyak ama Mas Ben.”

“Nad aku juga sangat senang kok bisa membuat Nadia puas seperti itu.”

Sambil aku kecup lembut keningnya. Mata Nadia berbinar penuh rasa terima kasih. Aku merasakan kenikmatan bathin yg luar biasa saat itu. Kami berbaring telentang bersebelahan untuk beberapa saat. Penisku masih tegang berdiri, tapi aku tidak hiraukan karena nanti pasti akan dapat giliran juga.

Nadia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini aku biarkan di membersihkan dirinya sendiri. Aku tetap berbaring sambil mengenangkan keindahan yg baru aku alami. Tak berapa lama Nadia sudah kembali dan dia langsung berbaring di sampingku. Matanya menatap lekat ke penisku seakan dia baru sadar ada benda itu disana.

“Mas Ben pengin diapain?” Nadia bertanya manja.

“Terserah kamu Nad, biasanya ama Tora gimana dong?” Aku coba memancing

“Biasa ya langsung dimasukin aja Mas. Nadia jarang puas ama dia.”

“Oh … terus Nadia penginnya gimana?”

“Ya kayak ama Mas Ben tadi, Nadia puas banget. … Nadia pengin cium punya Mas Ben boleh nggak?”

“Emang Nadia belum pernah?”

“Belum Mas,” agak jengah dia menjawab, “Mas Tora nggak pernah mau.”

“Ya silahkan kalau Nadia mau.”

Tanpa menunggu komando Nadia segera merangkak mengarahkan kepalanya mendekati selangkanganku. Dia pegang batang penisku, dia mengamati dari dekat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok. Sangat kaku dan canggung.

“Ayo Nad,, aku ngak apa² kok. Kalau Nadia suka, lakuin apa yg Nadia mau.”

Dgn penuh keraguan Nadia mendekatkan mulutnya ke kepala penisku. Pelan² dia buka bibirnya dan memasukkan helmku kedalam mulutnya. Hanya sampai sebatas leher kemudian dia sedot perlahan.

Dia tetap melakukan itu untuk beberapa saat tanpa perubahan. Tentu saja aku tidak bisa merasakan sensasi yg seharusnya. Rupanya dia benar² belum pernah melakukan oral ke penis lelaki.

Dgn lembut aku pegang tangan kiri Nadia. Aku genggam jemarinya yg lentik dan aku tarik mendekat ke mulutku. Aku pegang telunjuknya kemudian aku masukkan ke dalam mulutku. Aku gerakkan masuk keluar dgn lambat sambil sesekali aku jilat dgn lidahku saat jari lentiknya masih dalam mulutku.

Nadia segera paham bahwa aku sedang memberi “bimbingan” bagaimana seharusnya yg dia lakukan. Tanpa ragu dia mempraktekkan apa yg aku lakukan dgn jarinya.

Batang penisku dimasukkan kedalam mulutnya, kemudian kepalanya di-angguk²kan sehingga senjataku tergesek keluar masuk mulutnya yg sensual itu. Sekalipun masih agak canggung tapi aku mulai bisa merasakan “pelayanan” yg diberikan Nadia kepadaku.

Semakin lama dia semakin tenang dan tdk kaku lagi. Kadang dia mainkan lidahnya di sekeliling kepala penisku dalam mulutnya. Wow .. dlm sekejap Nadia sudah mulai ahli dalam oral sex.

Sepertinya Nadia sendiri mulai bisa merasakan sensasi dari apa yg dia lakukan dgn mulut dan lidahnya. Dia mulai berani bereksperiman. Kadang dia keluarkan penisku dari mulutnya, menciumi batangnya kemudian memasukkannya kembali.

Sesekali dia hanya menghisap kepalanya sambil mengocok batang kemaluanku. Aku mulai merasakan rangsangan dan ikut menikmati permainan mulut Nadia.

“Gimana Nad rasanya?”

“Mas… Nadia merasakan rangsangan yg luar biasa, Penisnya Mas enak .. Nadia suka.”

Aku bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Nadia langsung tahu harus bagaimana. Dia duduk bersimpuh di hadapanku dan kembali menghisap penisku. Kepalanya tetap digerakkan maju mundur. Dan sekarang dia menemukan cara baru. dia menjepit batang penisku diantara kedua bibirnya yg terkatup.

Kemudian dia meng-angguk²kan kepalanya. Wow … sungguh Nadia cepat belajar dalam hal beginian. Batang dan kepala penisku dia gesek degn bibir tebalnya yg terkatup. Aku membantu dia dengan menggerakkan pantatku maju mundur.

“Ohhh Nad …. mulutmu enak sekali … terus Nad.”

“Mas Ben suka? Nina sering ya giniin Mas Ben?”

“Iya Nad … tapi aku lebih suka kamu … bibirmu seksi sekali .. ooohhh Nad .. Nina juga suka .. isep bolaku dan jilati semuanya Nad .. ohhh.”

Nadia rupanya nggak mau kalah, dia segera melepaskan batang penisku dari mulutnya dan mulai menjilati dan menghisap bola kembarku. Tangannya sambil mengocok batang kelakianku.

Oh sungguh nikmat. Aku belai rambut Nadia dan aku usap kepalanya. Nadia suka sekali dan dia masih terus menggerayangi seluruh selangkanganku dgn lidahnya. Rasanya sungguh nikmat.

Kemudian kami berganti posisi. Aku kembali tidur telentang dan Nadia aku minta merangkak diatasku dengan posisi kepala terbalik. Kami di posisi 69 dan ini adalah salah satu favoritku. Nadia sekarang sudah cukup mahir dalam oral sex.

Dia segera mengulum batang penisku, aku pun mulai menjilati vaginanya. Dengan posisi ini liang kenikmatan Nadia sangat terbuka dihadapanku dan aku lebih leluasa menikmati dgn bibir dan lidahku.

Aku jilat dan hisap klitoris Nadia yg sudah menantang dan jariku mengorek liang senggamanya. Sesekali aku cuimi bibir vaginanya yang begitu merangsang. Nadia pun tak mau kalah, dia melakukan segala cara yg dia tahu terhadap tongkat kejantananku. Dia mainkan pakai lidah, dia kocok sambil dia hisap, dia mainkan kepala penisku mengitari kedua bibirnya. Sungguh nikmat sekali.

Tak terlalu lama aku mulai merasakan bahwa Nadia sudah tdk bisa menahan lagi, Pantatnya mulai bergoyang limbung kegelian, namun aku menjilati terus klitorisnya sambil jariku me-nusuk² liang kenikmatannya. Akhirnya Nadia sampai juga di puncak nikmatnya.

Tubuhnya menegang, gerakan anggukan kepalanya sambil menghisap penisku semakin menggila. Tubuhnya gemetaran tapi dia tetap tak rela melepas penisku dari mulutnya. Aku semakin giat mencium klitorisnya dan mengorek vaginanya dgn jariku. Tubuh Nadia tiba² mematung dan aku rasakan cairan hangat meleleh keluar dari liang senggamanya.

Aku langsung menutup lubang vagina Nadia dgn mulutku dan membiarkan cairan kenikmatannya membasahi lidahku. Rasanya asin tapi sama sekali tidak amis sehingga aku tak ragu menelan cairan itu sampai tandas.

Kemudian perlahan aku mulai lagi menciumi dan menjilati seluruh permukaan vagina Nadia. Otot Nadia sudah agak mengendur juga. Dia mulai lagi melakukan segala eksperimen dgn mulut dan lidahnya ke penisku. Kami mulai lagi dari awal. Perlahan namun pasti, Nadia mulai mendaki lagi puncak kenikmatan birahinya.

Aku tangkupkan kedua tanganku ke bukit pantat Nadia dan mulai membelai dan meremas lembut. Nadia menanggapinya dgn sedotan panjang di penisku. Lidahku kembali menelusuri segala penjuru selangkangan Nadia.

Beberapa saat kemudian aku mulai merasakan tubuh Nadia kembali gemetaran. Aku cium bibir bawahnya dan aku sorongkan lidahku sedalam munggkin ke dalam guanya yg merangsang.

Aku juga mulai merasa kalau pertahananku mulai goyah dan bendunganku akan segera ambrol. Nadia mempercepat gerakan kepalanya dan akupun menghisap makin kuat vaginanya. Aku sudah tak kuat menahan amarah spermaku dan …

“Croooottsss crooots croots.”

Lahar hangatku menyembur didalam mulut Nadia. Untuk sedetik Nadia agak kaget tapi dia cepat tanggap. Dia segera mempercepat gerakan kepalanya sambil menelan seluruh air maniku.

“Croots .. croots.”

Sisa maniku kembali menyembur, dan kali ini Nadia menyambutnya dgn hisapan kuat di penisku, seakan ingin menyedot apa yg masih tersisa didalam sana. Aku merasakan nikmat yg luar biasa. Ekspresi kenikmatan ini aku lampiaskan dengan semakin gila menjilati dan menyedot vagina Nadia.

Rupanya Nadia juga sudah hampir mencapai klimaksnya. Belaian lidahku di mulut vaginanya membuat puncak itu semakin cepat tercapai. Akhirnya sekali lagi tubuh Nadia menegang dan cairan hangat kembali meleleh dari kawahnya. Lidahku kembali menerima siraman lendir kenikmatan itu yg segera aku telan.

Beberapa saat kemudian, dgn enggan Nadia bangkit dan berbaring telentang disampingku. Penisku, walaupun masih berdiri, tapi sudah tidak setegak tadi. Nadia memelukku dgn manja dan kami berciuman dgn mesra.

“Nad … gimana? .. puas? … sorry tadi aku nggak tahan keluar di mulut kamu.”

“Nadia puas sekali Mas .. sampai dua kali gitu lho …. Nadia suka sperma Mas Ben … asin² gimana gitu. Kapan² boleh minta lagi dong Mas,” Nadia mulai keluar kenesnya.

“Boleh aja Nad ,,, asal disisain buat Nina .. hehehe,”

Nadia mencubit genit lenganku.

“Ihhh … Mas Ben … paling bisa deh … emang Mas sering gaya gituan dgn Nina?”

Aku tahu Nina juga sering bercerita soal kegiatan sex kami ke Nadia jadi aku yakin Nadia sudah tahu juga.

“Enggak lah … ini baru pertama dgn kamu Nad.”

“Ah Mas bohong .. Nina kan sering cerita ke Nadia, katanya Mas Ben pinter ngeseks. Makanya diam² Nadia pengin main ama Mas.”

“Udah kesampian kan keinginanmu Nad.”

“Iya sih … tapi Mas jangan marah ya … Nadia sering bayangin kita main bertiga dgn Nina .. Mas mau nggak?”

Kaget juga kau mendengar keinginan Nadia ini. Jujur saja aku juga sering berfantasi membayangkan alangkah nikmatnya bercinta dgn Nina dan Nadia sekaligus. Tapi tentu saja aku tak pernah berani ngomong dgn Nina. Bisa pecah Perang Dunia III, lagi pula itu kan hanya fantasi liar saja.

“Mau sih Nad .. tapi kan nggak mungkin … Nina pasti marah besar.”

“Iya ya … Nina kan orangnya agak alim.”

Kami terus berbincang hal² demikian sampai kira² 10 menit. Kemudian dgn malas kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar mandi kami saling menyabuni dan saling membersihkan tubuh kami. Aku jadi semakin mengagumi tubuh Nadia. Tak ada segumpal lemakpun di tubuhnya dan semuanya padat berisi.

Setelah mengeringkan diri kami kembali ke atas ranjang dan berpelukan mesra. Sambil saling berciuman aku mulai menggerayangi tubuh molek Nadia, Tak bosan²nya aku meremas dan mengusap buah dadanya yg sangat segar itu. Perlahan aku mulai menghujani leher dan pundak Nadia dgn ciumanku. Tak sampai disitu saja, mulutku mulai aku arahkan ke dada Nadia.

Buah dadanya yg tegak mulai aku cium dan aku gigit² lembut. Nadia sangat menyukai apa yg aku lakukan.

“Ahhhh … iya Mas …. disitu Mas … ahhhhh Nadia terangsang Mas.”

Lidahku menjilati puting susunya yg mungil dan keras itu. Nadia semakin menggelinjang. Tangannya menyusup ke bawah ke selangkanganku. Dipegangnya batang kemaluanku yg masih agak lemas.

Dia permainkan penisku dgn jari²nya yg lentik. Mau tak mau burungku mulai hidup kembali. Nadia dgn lembut mengocok tongkat kelakianku.

Sambil masih mengulum putingnya, tangan kananku kembali bergerilya di daerah kemaluan Nadia. Jariku aku rapatkan dan aku tekan bukit kemaluan Nadia sembari aku gerakkan memutar. Dia juga menimpali dgn menggoyangkan pantatnya dgn gerakan memutar yg seirama.

“Mas …. aaahhhh Mas …. enak Mas … ahhh terus … iya.”

Sambil mendesah dia menarik pantatku mendekat ke kepalanya. Akhirnya aku terpaksa melepaskan hisapanku di putingnya dan duduk berlutut di sisinya. Nadia terus menekan pantatku sampai akhirnya mulutnya mencapai batang kemaluanku yg sudah tegak menantang. Tangan kiriku aku tampatkan dibelakang kepalanya untuk menyangga kepalanya yg agak terangkat. Penisku kembali dia kulum dan jilati.

“Oooh Nad … enak Nad … aku suka Nad …”

Aku pun menggerakkan pantatku maju mundur. Nadia membuka lebar mulutnya dan menjulurkan lidahnya sehingga batang penisku meluncur masuk keluar mulutnya ter-gesek² lidahnya. Sungguh luar biasa apa yang aku rasakan saat itu.

Sementara itu tangan kananku terus menekan dan memutar bukit vagina Nadia. Kadang jariku aku selipkan ke celah sempit diantara kedua bukit itu dan mengusap klitoris Nadia.

“Ahhh Mas … Nadia nggak tahan Mas … ahhhhh .. iya …. aaahhhh.”

Aku segera merubah posisi. Kedua tangan Nadia aku letakkan di belakang lututnya dan membuka kedua lututnya. Aku angkat pahanya sehingga liang vaginanya menganga menghadap ke atas. Nadia menahan dengan kedua tangan di belakang lututnya. Aku duduk bersimpuh di hadapan lubang kemaluan Nadia. Penisku aku arahkan ke lubang yg sudah menganga itu.

Aku tusukan kepala penisku ke mulut lubang dan aku tahan disana. kemudian dgn tangan kananku aku gerakkan penisku memutari mulut liang senggama Nadia.

“Maassss .. ahhhhh … nggak tahan … ayo … ahhhhhh.”

Aku sengaja tdk mau terlalu cepat menusukkan batang kejantananku ke gua kenikmatan Nadia. Aku gesek²an kepala penisku ke klitoris Nadia. Dia semakin menggelinjang menahan nikmat. Akhirnya tanggul Nadia bobol juga. Tak heran, dengan gosokan jari saja dia tadi bisa mencapai orgasme apalagi ini dgn kepala penisku, tentu rangsangannya lebih dahsyat.

“Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhhh Massssssss.”

Rintihan itu sekaligus menandai melelehnya cairan bening dari liang vaginanya. Nadia kembali mengalami puncak orgasme hanya dgn gosokan di klitorisnya. Kali ini aku masukkan batang penisku seluruhnya kedalam gua kenikmatannya. Aku berbaring telungkup diatas tubuh molek Nadia sambil menumpkan berat badanku di kedua sikuku. Aku cium lembut mulutnya yg masih terbuka sedikit. Nadia membalas ciumanku dan mengulum bibirku.

Aku biarkan senjataku terbenam dalam lendir kehangatannya. Di telinganya aku bisikan:

“Nad … nikmat ya …”

“Oh Mas … Nadia sampai nggak tahan … nikmat Mas ..”

Perlahan dgn gerakan yg sangat lembut aku mulai memompa batang penisku ke dalam lubang senggama Nadia yg sudah basah kuyup. Aku tahu Nadia pasti bisa orgasme lagi dan kali ini aku ingin merasakan semburan lumpur panas di batang kemaluanku.

“Ayo Nad …. nikmati lagi … jangan ditahan .. aku akan pelan².”

“Ahhhh .. iya Mas …. Nadia pengin lagi .. ahhhhh.”

Masih dgn sangat pelan aku pompa terus tongkat kelakianku ke liang vagina Nadia yg ternyata masih sempit untuk ukuran wanita yang sudah menikah 2 thn. Buah dada Nadia yg menyembul tegak meng-gesek² dadaku ketika aku turun naik. Sungguh sensasi yang luar biasa. Sengaja aku gesekkan dadaku ke payudaranya.

“Aaaahhhhh … ahhhhhhh … iya … ahhhhh .. Nadia terangsang lagi Mas … iya …. .”

Kali ini aku pompa sedikit lebih kuat dan cepat. Nadia menanggapinya dgn memutar pantatnya sehingga penisku rasanya seperti di peras² dalam liang vaginanya. Gerakkan Nadia semakin liar, Tangannya sudah tidak lagi menahan lutut tapi memegang pantatku dan menekannya dengan keras ke tubuhnya.

“Aaaaahhhhhh …. Mas ….. aaaahhhhhhh”

Aku semakin kencang dan dalam memompa pantatku. Mata Nadia sudah terpejam rapat, kepalanya meng-geleng² liar ke kiri ke kanan seperti yang dia lakukan di sofa tadi. Gerakannya semakin ganas dan …

“Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhh ………”

Dia melenguh panjang sambil menegangkan seluruh otot di tubuhnya. Aku menekan dalam² penisku ke lubang senggamanya. Jelas aku rasakan aliran hangat di sekujur batang kemaluanku. Tubuh Nadia maish terbujur kaku.

Aku pun menghentikan seluruh gerakanku sambil terus menekan liang vaginanya dgn penisku. Beberapa saat sepertinya waktu terhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan dari kami berdua. Aku memberi kesempatan kepada Nadia untuk menikmati klimaks yg barusan dia dapat.

Akhirnya badan Nadia mulai mengendur. Tangannya membelai lembut kapalaku. Bibirnya mencari bibirku untuk dihadiahi ciuman yang sangat lembut dan panjang.

“Mas …. Nadia sungguh nikmat …. Mas Ben jago deh … Mas belum keluar ya?”

“Jangan pikirkan aku Nad …. yang penting Nadia bisa menikmati kepuasan.”

Kemudian dgn lambat aku mulai memompa lagi. Liang senggama Nadia terasa sangat licin dan agak sedikit longgar. Selama beberapa saat aku terus memompa lambat².

“Aaaahhhhhh … iya .. iya …. Mas …. Nadia mau lagi .. iya … ahhhh”

Nadia kembali memutar pantatnya mengiringi irama pompaanku. Dia mulai men-desah² penuh kenikmatan.Aku cabut batang kemaluanku dari vagina Nadia. Aku lalu berbaring telentang di sebelahnya.

“Kamu diatas Nad.”

Nadia segera berjongkok diatas selangkanganku, Aku arahkan kepala penisku ke lubangnya. Nadia kemudian duduk diatas tubuhku dan bertumpu pada kedua lututnya. Pantatnya mulai bergerak maju mundur.

“Ayo Nad … kamu sekarang yg atur .. ohhh iya nikmat Nad.”

Nadia semakin bersemangat memajumundurkan pantatnya. Kedua payudaranya berguncang indah dihadapanku. Secara reflek kedua tanganku meremas bukit daging yg mulus itu. Tangan Nadia dia letakkan dibelakang pantatnya sehingga tubuhnya agak meliuk kebelakang membuat dadanya semakin membusung.

“Ohhh Nad … susumu sexy sekali … terus Nad … ohhhh … lebih keras Nad.”

“Aaaaahhhh Mas … Nadia sudah mau sampai lagi … ahhhhh ahhhhhh Mas”

“Ayo Nad …. terus Nad … cepat …. ohhhhh iya .. iya Nad … memekmu enak sekali.”

“Mas .. ahhhh … Nadia nggak tahan … puasi Nadia lagi mas .. ahhhh.”

Gerakan pantat Nadia semakin cepat dan semakin cepat. Aku merasa penisku ter-gesek² dinding vagina Nadia yg sempit dan licin itu. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan agar aku tidak ejakulasi. Pertahananku semakin rapuh.

“Nad … oooohhhh Nad …. aku nggak tahan … ohhh Nad …. enak … enak.”

“Ahhhh … ayo .. Mas ….. Nadia juga udah nggak tahan … sekarang mas .. ahhh sekarang.”

Tepat pada detik itu bendunganku ambrol tak mampu menahan terjangan spermaku yg menyemprot kuat.

“Oooooooohhhhhhh Nad ….. crooots crooots croots”

“Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh Mas …. ahhhhhhhhhhh ..”

Kami mencapai puncak kenikmatan ber-sama². Penisku terasa hangat dan aku yakin Nadia juga merasakan hal yg sama di dalam vaginanya. Nadia masih duduk diatasku tapi sudah kaku tak bergerak. Vaginanya dihujamkan dalam melahap seluruh batang kemaluanku.

“Oooohhh Nad …. nikmat sekali .. makasih Nad .. kamu pinter membuat aku puas.”

Akugapai tubuh Nadia dan aku tarik menelungkup diatas tubuhku. Buah dadanya yg masih keras menghimpit dadaku. Aku ciumin seluruh wajahnya yang mulai ditetesi keringat.

“Mas … ahhhhh … Nadia sungguh puas Mas … ”

Kemudian kami berbaring sambil berpelukan. Badan kami mulai terasa penat tapi bathin kami sangat puas.

Hari sudah beranjak malam. Diselingi makan malam berdua, kami memadu kasih beberapa kali lagi. Atau lebih tepatnya Nadia mengalami orgasme beberapa kali lagi sedangkan aku hanya sekali lagi ejakulasi,

Segala gaya kami coba, bahkan aku sempat “membimbing” Nadia untuk memuaskan dirinya sendiri dengan jari²nya yg lentik itu. Aku betul² puas dan senang bisa membuat wanita secantik Nadia bisa mencapai sekian kali orgasme.

Tak terasa jarum jam terus bergeser dan jam setengah sebelas malam aku meninggalkan rumah Nadia. Sebetulnya Nadia meminta aku bisa bermalam menemani dia, tatapi aku ingat keesokan harinya aku masih harus menyetir lebih dari 4 jam ke kota M menyusul istri dan anakku tercinta. Maaf Nina, aku telah mereguk madu kepuasan bersama sahabatmu, Nadia..

Demikian artikel tentang cerita Karena Istri Sahabat Terlalu Seksi Dan Murahan kayak Lonte,Akhirnya Kusodok Dalam2 Memeknya.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Pengalaman Gila Ku Ewein 3 Tante Tante Seksi Hot Bohay Sampe Lemes.

                                                                  3 Lonte Liar

Pengalaman Gila Ku Ewein 3 Tante Tante Seksi Hot Bohay Sampe Lemes.Cerita s.ini bermula dari suatu kebetulan yang tidak disengaja. Sampai saat ini aku suka tertawa sendiri kalau mengingat awal kejadian ini. Bermula dari suatu Sabtu siang, aku janjian ketemu dengan salah seorang teman chat-ku.

Namanya Natasha, mahasiswi tingkat akhir di salah satu PTS di Jakarta Barat. Teman chat-ku yang satu ini cukup misterius. Aku nggak pernah tau dia tinggal dimana, dengan siapa, bahkan aku tak pernah dikasi nomer telepon rumahnya. Kampusnya pun aku nggak yakin kalau yang disebutnya benar.

Saat janjian dengan Natasha pun hanya lewat SMS. Biasanya aku nggak pernah meladeni teman-teman chat yang janjian ketemu via SMS. Kapok, dulu pernah dibo’ongin. Tapi entah kenapa aku penasaran sekali dengan Natasha.

Akhirnya kami janjian untuk ketemu di Mal Kelapa Gading, tepatnya di Wendy’s. Resenya, Natasha juga nggak mau kasi tau pakaian apa yang dia pakai dan ciri-cirinya. Pokoknya surprise, katanya.

Itulah kenapa hari Sabtu siang ini aku bengong-bengong ditemani baked potatoenya Wendy’s sambil menunggu kedatangan Natasha. Sudah hampir satu jam aku menunggu tapi tidak ada kabar. SMS-ku nggak dibales-bales, mau telepon pulsa udah sekarat.

Aku hanya duduk sambil memperhatikan sekelilingku yang cukup sepi. Mataku tertuju pada seorang wanita keturunan Chinese berumur kira-kira 30-an yang duduk sendirian di salah satu sudut.

Herannya sejak tadi wanita tersebut memperhatikanku terus. Aku sempat berpikir apa dia yang bernama Natasha. Tapi rasanya bukan. Akhirnya karena bete menunggu aku pun meninggalkan Wendy’s.

Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan melihat wanita yang kuperhatikan tadi tersenyum ke arahku.

“Rio ya?” tanyanya. Aku terkejut. Kok dia tau namaku. Jangan-jangan wanita ini benar Natasha. Aku mengangguk.

“Iya, mm.. Natasha?” tanyaku. Wanita itu menggeleng sambil mengernyitkan kening.

“Bukan, kok Natasha sih? Kamu Rio yang di Kayuputih kan?” aku tambah bingung mendengarnya.

“Bukan, lho tante bukan Natasha?”.

Kemudian wanita itu mengajakku berteduh di salah satu sudut sambil menjelaskan maksud yang sebenarnya. Aku mendengarkan, lantas aku juga gantian menjelaskan. Akhirnya kami sama-sama tertawa terbahak-bahak setelah tau duduk persoalannya.

Wanita itu bernama Alicia, dan dia juga sedang janjian dengan teman chat-nya yang juga bernama Rio, seperti namaku. Akhirnya kami malah berkenalan karena orang-orang yang kami tunggu tak kunjung datang juga.

Aku memanggilnya Ci Alicia, karena dia menolak dipanggil tante. Kesannya tua katanya.

Siang itu Ci Alicia malah mengajakku jalan-jalan. Aku ikut dengan Altis-nya karena aku tidak membawa mobil. Ci Alicia mengajakku ke butik teman maminya di daerah Permata Hijau. Tante Erna, sang pemilik butik adalah seorang wanita yang sudah berusia di atas 50 tahun, tubuhnya cukup tinggi dan agak montok.

Kulitnya yang putih bersih hari itu dibalut blus transparan yang bahunya terbuka lebar dan celana biru tua dari bahan yang sama dengan bajunya. Agak-agak eksentrik. Dasar desainer pikirku.

Karena hari itu butik Tante Erna tidak begitu ramai, kami bertiga ngobrol-ngobrol sambil minum teh di salah satu ruang santai.

“Aduh Yo.. maaf..” seru Tante Erna. Wanita itu menumpahkan teh yang akan dituangnya ke cangkirku tepat di celanaku bagian pangkal paha. Aku sedikit mengentak karena tehnya agak panas.

“Nggak pa-pa Tante..” jawabku seraya menepuk-nepuk kemejaku yang juga kena tumpahan teh. Tante Erna reflek menepis-nepis bercak teh yang membasahi celanaku. Ups.. tanpa sengaja jemari lembutnya menyentuh batang kemaluanku.

“Eh.. kok keras Yoo? Hihihi..” goda Tante Erna sambil memijit-mijit kemaluanku. Aku jadi tersenyum. Ya gimana nggak keras sedari ngobrol tadi mataku tak lepas dari bahu Tante Erna yang mulus dan kedua belah paha Ci Alicia yang putih.

“Iya.. Tante sih numpahin..” jawabku setengah bercanda.

“Idih.. Tante Erna kumat genitnya deh.. biasa Yo, udah lama nggak.. aww!!” Ci Alicia tak sempat menyelesaikan celetukkannya karena Tante Erna mencubit pinggang wanita itu.

“Iya nih Tante, udah numpahin digenitin lagi. Pokoknya bales tumpahin juga lho hihihi..” aku gantian menggoda wanita itu. Tante Erna malah tersenyum sambil merangkul leherku.

“Boleh, tapi jangan ditumpahin pake teh ya..” bisiknya di telingaku. Aku pura-pura bego.

“Abis mau ditumpahin apa Tante?” tanyaku. Tante Erna meremas batang penisku dengan gemas.

“Ya sama ‘teh alami’ dari kamu dong sayang.. mmhh.. mm..” Tante Erna langsung mengecup dan melumat bibirku. Aku yang memang sedari tadi sudah horny menyambut lumatan bibir Tante Erna dengan penuh nafsu.

Kedua tanganku memeluk pinggang wanita setengah baya itu dengan posisi menyamping. Sementara tangan Tante Erna yang lembut merangkul leherku. Ah.. lembut sekali bibirnya.

Ci Alicia yang melihat adegan kami tidak tinggal diam. Wanita berkulit putih mulus itu mendakati tubuhku dan mulai memainkan kancing celana jeansku. Tak sampai semenit wanita itu sudah berhasil melucuti celana jeansku sekaligus dengan celana dalamnya.

Tanpa ampun lagi batang penisku yang sudah mulai mengeras itu berdiri tegak seolah menantang Ci Alicia untuk menikmatinya. Ci Alicia turun ke bawah sofa untuk memainkan penisku. Jemarinya yang lembut perlahan-lahan mengusap dan memijit setiap centi batang penisku. Ugghh.. birahiku semakin naik. Lumatan bibirku di bibir Tante Erna semakin bernafsu.

Lidahku menjelajahi rongga mulut wanita setengah baya itu. Tante Erna merasa keasyikan.

Aku yang semakin terbakar nafsu mencoba menularkan gairahku ke Tante Erna. Dari bibir, lidahku berpindah ke telinganya yang dihiasi anting perak. Tante Erna menggelinjang keasyikan.

Dia meminta waktu sebentar untuk melepas anting-antingnya agar aku lebih leluasa. Lidahku semakin liar menjelajahi telinga, leher dan bahu Tante Erna. Tampaknya wanita itu mulai tak kuasa menahan birahinya yang semakin memuncak.

Dia melepaskan diri dari tubuhku dan memintaku untuk melorotkan celananya. Tanpa disuruh kedua kalinya aku pun langsung melucuti Tante Erna sekaligus dengan bajunya, hingga tubuh wanita itu bersih tanpa sehelai benang pun.

Gila, udah kepala empat tapi tubuh Tante Erna masih kencang. Kulitnya yang putih betul-betul terasa halus mulus.

Sambil bersandar pada pegangan sofa, Tante Erna merentangkan kedua belah pahanya yang mulus dan memintaku melumat kemaluannya yang bersih tanpa bulu. Tanpa basa-basi aku langsung mendekatkan wajahku ke vaginanya dan mulai menjilati daerah pinggir kemaluannya.

“Hhhmm.. sshh.. teruss Yoo..” desah Tante Erna keasyikan. Aku terus menjilati vaginanya sambil tangan kananku membelai pangkal pahanya yang mulus. Di bawah, Ci Alicia masih asyik mempermainkan kemaluanku.

Kelima jemarinya yang lentik lincah sekali membelai dan mengocok batang penisku yang ujungnya mulai basah. Sesekali lidahnya membasahi permukaan penisku. Sebagian batang penisku tampak merah terkena lipstik Ci Alicia.

Kepala wanita itu naik turun mengikuti ayunan kenikmatan di penisku. Ahh.. lembut sekali mulut Ci Alicia mengulumnya. Saking asyiknya tak sadar aku sampai menghentikan permainanku dengan Tante Erna untuk merasakan kenikmatan yang diberikan Ci Alicia.

Tante Erna tersenyum melihat ekspresiku yang mengejang menahan nikmat. Wanita itu merengkuh kepalaku untuk melanjutkan tugasku memberi kenikmatan untuknya.

Aku semakin buas melumat kemaluan Tante Erna. Jemariku mulai ikut membantu. Liang kemaluan Tante Erna sudah kutembus dengan jari tengahku.

Sambil kukocok-kocok, aku menjilati klitorisnya. Wanita itu menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Kedua tangannya yang lembut menjambak rambutku.

Tanpa kusadari, Ci Alicia sudah melucuti dirinya sendiri sampai telanjang bulat. Tiba-tiba wanita itu naik ke atas tubuhku dan bersiap mengurung penisku dengan vaginanya yang lembut. Kedua tangannya merengkuh leherku.

Tubuhnya mulai merendah hingga ujung penisku mulai menyentuh bibir vaginanya. Dengan bantuan tangan kiriku, perlahan penisku mulai masuk ke dalam liang kenikmatan itu, dan.. ssllpp blleess..

Amblas sudah penisku di liang kemaluan Ci Alicia. Sambil memeluk bahuku, tubuh Ci Alicia naik-turun. Ugghh.. nikmat sekali. Aku sampai nggak bisa konsen ngelumat vagina Tante Erna.

Tapi aku nggak mau kalah. Yang penting Tante Erna mesti diberesin dulu.

Sambil menahan birahiku yang sudah di ubun-ubun gara-gara Ci Alicia, aku terus melumat vagina Tante Erna. Jari tengahku yang kini sudah dibantu jari manis semakin cepat mengocok-ngocok di dalam vagina Tante Erna.

Lidahku semakin liar menjelajahi klitoris dan bibir vaginanya. Tubuh Tante Erna pun semakin menggelinjang tak karuan. Sepertinya wanita itu sudah tak kuasa lagi menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku pun mulai merasa dinding vaginanya berdenyut.

                 Nikmatnya Entotin 3 Tante Liar Kayak Lonte Jalanan.

“Ssshh.. oohh.. Riioo..aahh..” Tante Erna mendesah meregang nikmat sambil meremas kepalaku yang masih menempel ketat di vaginanya. Aku merasakan rembesan lendir yang cukup deras dari dalam sana.

Hmm.. aroma vagina yang begitu khas segera tercium. Aku pun menghirup lendir-lendir kenikmatan itu sambil menjilati sisa-sisa yang menempel di vagina Tante Erna.

Setelah puas melepas kenikmatannya, Tante Erna mengangkat kedua pahanya dari tubuhku dan membiarkan aku leluasa menikmati permainan dengan Ci Alicia.

Bebas dari tubuh Tante Erna, kini Ci Alicia yang mendekap tubuhku erat. Payudaranya yang bulat dan montok menempel ketat di dadaku. Ahh.. kenyal sekali.

Aku semakin merasakan kekenyalannya karena tubuh Ci Alicia naik-turun. Sementara bibir kami asyik saling melumat.

“Mmhh..ssllpp..aahh..mm..” berisik sekali kami berciuman. Tante Erna sampai geleng-geleng melihat kami berdua yang sama-sama dipacu birahi.

Kemudian kami bertukar posisi. Tubuh kami berguling ke arah berlawanan sehingga kini tubuh Ci Alicia duduk bersandar di sofa dengan posisi kedua kaki mulusnya yang mengangkang.

Sambil bertumpu pada lutut di lantai, aku bersiap memasukkan penisku lagi ke dalam liang kemaluan Ci Alicia. Ugghh.. kali ini lebih mudah karena vagina Ci Alicia sudah basah. Pantatku maju mundur seiring kenikmatan yang dirasakan Ci Alicia.

Wanita itu bahkan sudah tak kuasa memeluk tubuhku. Kedua tangannya direntangkan untuk menahan rasa nikmat yang dirasakannya. Aku semakin menggoyang pantatku dengan keras.

Aku tahu bahwa sebentar lagi Ci Alicia akan mencapai klimaks, namun aku juga tahu bahwa Ci Alicia tak mau kalah denganku. Aku melihat ekspresinya yang berusaha menahan nikmat.

“Terus Yo.. bentar lagi tuh.. hihihi..” goda Tante Erna.

Aku tersenyum kemudian mengecup bibir wanita yang sedang duduk di samping Ci Alicia tersebut.

Tante Erna malah membantuku dengan menjilat, mengisap dan mengulum payudara dan puting Ci Alicia.

“Aahh.. Yoo.. sshh..” akhirnya Ci Alicia meregang kenikmatannya. Aku merasakan cairan hangat membasahi penisku di dalam vaginanya. Aku mendekap tubuh Ci Alicia yang hangat.

“Hh.. gila kamu Yo, aku pikir bakal kamu duluan..” ujar Ci Alicia. Aku tersenyum sambil melirik ke arah Tante Erna.

“Ya kan berkat bantuan Tante Erna..” jawabku seraya mencubit hidung Tante Erna. Wanita itu memelukku.

“Nah, sekarang giliran aku lagi Yo, kamu kan belum puasin aku dengan pentunganmu itu hihihi.. Ayo, kali ini pasti kamu udah nggak tahan..” Tante Erna menantangku bermain lagi. Tanpa diminta dua kali aku langsung menjawab tantangannya.

Aku pun melakukan hal yang sama seperti dengan Ci Alicia tadi. Kali ini aku mengakui permainan Tante Erna yang jauh lebih liar dan berpengalaman. Akhirnya kami klimaks bersama-sama. Aku klimaks di dalam vagina Tante Erna yang hangat.

Ruang santai itu memang betul-betul hebat. Tak seorang karyawan pun yang mengetahui apa yang baru saja kami lakukan. Setelah puas bermain, kami bertiga mandi bersama.

Tadinya setelah mandi kami mau melanjutkan lagi di kamar tidur Tante Erna. Tapi karena sudah sore, sebentar lagi suami Tante Erna pulang.

Untungnya Ci Alicia punya ide untuk melanjutkan di hotel. Tante Erna pun setuju, namun aku dan Ci Alicia berangkat duluan.

Malam itu kami check-in di salah satu hotel di daerah Thamrin. Aku dan Ci Alicia lebih dulu melanjutkan permainan. Satu jam kemudian Tante Erna baru datang melengkapi kenikmatan kami.

Dan yang bikin aku surprise, malam itu Tante Erna mengajak teman seprofesinya yang umurnya kira-kira lebih muda 3 atau 5 tahun, namanya Tante Bella. Malam itu aku betul-betul puas bersenang-senang dengan mereka bertiga.

Kami melepas birahi sampai jam 3 pagi. Kemudian kami tidur sampai jam 9 pagi, lantas kembali menuntaskan permainan. Aku betul-betul tidak menyangka kalau gara-gara salah orang bisa sampai seperti ini.

Sampai kini aku nggak pernah ketemu dengan Natsha, teman chat-ku. Kami pun nggak pernah SMS-an lagi. Entah kemana perginya Natasha. Tapi yang jelas semenjak kejadian itu, aku terus keep contact dengan Ci Alicia, Tante Erna dan Tante Bella.

Sekarang Ci Alicia sudah menikah dan tinggal di Australia dengan suaminya. Tapi kami masih sering kontak. Sedangkan dengan Tante Erna dan Tante Bella, aku masih terus berhubungan untuk sesekali berbagi kenikmatan.

Tadinya mereka ingin memeliharaku sebagai gigolo, namun aku menolak karena aku melakukannya bukan untuk uang dan materi, tapi untuk kesenangan saja.

Kadang kalau Ci Alicia sedang di Indonesia, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi butik Tante Erna bersama-sama untuk melepas birahi. Tempat Tante Erna sering dijadikan tempat affair kami agar suaminya tidak curiga.

Oke, segitu dulu pengalamanku. Salam manis buat Ci Alicia yang lagi hamil 3 bulan. Mudah-mudahan kesampean dapat anak laki-laki.

Buat Tante Erna dan Tante Bella, thank’s buat kehangatan yang diberikan. Juga buat Natasha, my mysterious friend yang udah membuka jalan hehehe.. Lain kali kalau ada pengalaman yang berkesan, aku akan ceritakan lagi di situs ini.

Demikian artikel tentang cerita Pengalaman Gila Ku Ewein 3 Tante Tante Seksi Hot Bohay Sampe Lemes.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,