Enaknya Punya Teman Kantor Seorang Janda,Gampangan Dan Murahan Lobangnya Gatel Terus Minta Dikontolin.

Main Dengan Mbak Windy 1

Enaknya Punya Teman Kantor Seorang Janda,Gampangan Dan Murahan Lobangnya Gatel Terus Minta Dikontolin.Malam itu aku hanya dapat tidur nyenyak 3 jam saja. Kulihat waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi lebih sedikit. Usahaku yang kuat untuk kembali tidur tak membuahkan hasil. Kulihat Windy masih tergeletak dalam keadaan tidur nyenyak di ranjangnya.

Pikiranku berkecamuk soal pekerjaan yang akan kuhadapi sehari lagi dan sama sekali belum kusiapkan. Kuputuskan untuk bangun dan duduk termenung di kursi didalam kamar penginapan. Kupandangi meja disebelahku yang penuh dengan botol-botol aqua, beberapa makanan kecil, dan kantung-kantung plastik yang tak ada isinya.

Kupindahkan semua barang diatas meja keatas laci, lalu kubersihkan meja itu. Kemudian aku mengambil semua berkas dan catatan tentang pekerjaanku dari dalam tas dan meletakkannya diatas meja.

Kubaca satu persatu berkas tersebut dan memilah-milahnya menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian yang telah terpilah-pilah itu kubaca lagi dengan lebih teliti dan menguraikan isinya didalam otakku sehingga terbentuklah sebuah bahan informasi yang berhubung-hubungan satu sama lainnya.

Beberapa data yang masih kurang demi kelengkapan data kucatat dalam jurnal kerjaku. Kemungkinan-kemungkinan tidak kuperoleh data yang kuperlukan juga kucatat. Beberapa langkah alternatif untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk muncul dan ikut kucatat.

Dengan berusaha secermat mungkin berdasarkan data yang ada dan catatanku, aku mulai membuat rencana kerja. Setiap baris rencana yang kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yang akan kulakukan.

Setiap hal penting yang muncul dari bayanganku kutulis dalam jurnal. Kubaca lagi rencana kerja yang telah selesai kucatat, lalu kurangkai hubungan setiap langkah rencana kerja dan kubuat skemanya. Seusai mengulang dan merubahnya hingga kurasa cukup, kuhentikan kegiatanku tersebut. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5.42 pagi.

Konsentrasi tinggi serta posisi duduk dan letak meja didalam penginapan yang sebenarnya tidak ideal untuk dipakai kerja membuat leherku terasa pegal. Selesai mengemasi semua berkas dan catatan, kucoba berdiri dan memutar-mutar kepala untuk melemaskan otot leher dan punggung.

Kukenakan jaketku dan keluar dari kamar mencari hawa segar. Di teras kamar aku melakukan stretching selama beberapa menit. Kucoba berputar-putar di sekitar teras. Merasa bosan, kuambil rokokku yang selalu tersedia dalam saku jaket dan kusulut sebatang rokok.

Setengah dari rokoknya telah habis ketika kulihat Windy keluar dari pintu kamar dengan menggunakan kaos oblong besar dan celana pendek sebatas paha.

“Sudah ngopi, Tok?”, tanyanya.

Aku menggelengkan kepala saja dan meneruskan merokok.

“Tumben Tok tidurmu sebentar, bangunmu pagi sekali ya, aku sempat melihatmu sibuk tapi karena masih ngantuk jadi aku pilih tidur lagi aja daripada membantumu”, komentarnya.

“Mbak sudah benar, kalau Mbak bangun dan membantuku, bisa-bisa tambah kacau”, kataku sambil memikirkan pekerjaan yang akan kuhadapi besok.

“Mmm.. gitu ya, jangan harap aku mau membantumu lagi ya”, katanya dengan nada bergurau.

“Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya.

Beberapa tamu penginapan yang ada di kafetaria menoleh ke arah Windy ketika kami memasuki kafetaria penginapan. Pura-pura tidak tahu gelagat para pria yang sedang menaksirnya, Windy mengajakku duduk di meja paling pojok.

Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Windy agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. Setelah memesan sarapan, Windy mulai membuka percakapan, tapi karena pikiranku masih di pekerjaan maka aku hanya berbicara sedikit.

“Kenapa sih Tok kamu kok banyak diam? nggak seperti biasanya”, tanya Windy.

“Nggak apa-apa Mbak, cuma mikir kerjaan besok”, jawabku santai.

“Buat apa dipikir sekarang, kan masih besok?”, tanyanya lagi.

“Daripada nggak ada yang kupikir”, jawabku.

“Kenapa nggak mikir aku saja?”, tanyanya dengan senyum genit.

“Rugi!”, jawabku singkat dengan bergurau tanpa kupikir akibatnya.

Sebuah cubitan langsung menancap di tangan kiriku.

“Aduh Mbak, sakit!”, keluhku agak keras sehingga agak terdengar dan menarik perhatian orang-orang disekitar kami.

Mungkin karena malu Windy segera melepaskan cubitannya.

“Tadi malam tangan kiri, sekarang kanan, Mbak kok suka sekali nyubit sih!”, keluhku.

“Aku nggak rugi, kok”, jawabnya santai.

“Enak saja, aku yang rugi Mbak, perusahaan tidak mengasuransikanku dari cubitan”, kataku serius.

Tak lama kemudian pesanan kami datang.

“Tok, katamu kamu belum pernah punya pacar, benarkah?”, tanyanya yang langsung kujawab dengan anggukan sambil meniup kopi panasku agar agak dingin.

“Itu karena pikiranmu belum dewasa. Caramu berbicara dengan wanita asal saja tanpa pernah kamu pikirkan akibatnya. Kamu tidak akan bisa membuat wanita senang dengan cara ngobrolmu yang seperti itu.”, nasihat Windy padaku.

“Lha terus kenapa Mbak mau nginap denganku padahal aku kan nggak ngajak”, tanyaku dengan suara berbisik.

“Karena aku tahu bahwa kamu tipe pemuda gila kerja yang cuek dan jujur bukan tipe playboy perayu. Aku suka pemuda seperti itu, cuman terkadang cuekmu sangat keterlaluan. Kamu sendiri kenapa mau?”, jawabnya yang dilanjutkannya dengan pertanyaan.

“Mana bisa aku menolak dibawah ancaman cubitannya Mbak”, jawabku bergurau.

“Uhh.. kamu nggak pernah bisa diajak serius”, keluhnya dengan muka masam.

“Aku duarius Mbak, bukan serius lagi”, kataku ngotot yang hanya dibalas dengan senyumannya.

“Mbak, pria yang duduk disana ada yang ngelihatin Mbak terus, sepertinya naksir, mau kukenalkan Mbak”, kataku sambil menghabiskan roti bakarku.

“Memangnya kamu sudah kenal, Tok?”, tanyanya.

“Nanti setelah Mbak kukenalkan, ganti Mbak kenalkan saya”, jawabku sambil meneguk kopiku yang masih panas dengan hati-hati.

“Kamu jangan macam-macam, Tok!”, ancamnya padaku yang lagi menikmati rokok.

“Tampangnya sih oke tapi pria seperti itu hanya mau menangnya sendiri seperti bekas suamiku yang pertama”, sambungnya.

“Terus yang mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yang ke berapa?”, tanyaku halus.

“Dia yang kedua, tapi aku juga cuma istri keduanya, istri pertamanya ada di Jakarta dan mungkin tak tahu mengenai aku. Aku ke Banjarmasin ini juga karena dia mau mengunjungi istri dan anaknya di Jakarta”, jawabnya pelan.

“Kenapa Mbak mau dimadu?”, tanyaku tambah penasaran.

“Daripada hidup menjanda, jadi istri muda yang sering ditinggal suami saja seperti ini saja sudah susah apalagi jadi janda kembang”, jawabnya mengeluh.

“Eh Mbak, jangan besar kepala dulu, iya kalau kembang mawar atau melati, kalau kembang kamboja yang seperti di makam-makam, bagaimana? Pasti yang tertarik adalah golongan hantu-hantu, hehehe..”, gurauku merubah raut muka sedihnya menjadi kemarahan.

“Iya, terus akan kusuruh hantu-hantu itu nyubitin seluruh tubuhmu tak tersisa”, balasnya dengan senyum kemenangan. “Sudah Tok, ayo kembali ke kamar!”, ajaknya.

Sesampai di kamar aku duduk termenung oleh pikiran pekerjaan diatas ranjang Windy yang lebih dekat dengan pintu kamar dibanding ranjangku. Sementara itu Windy melepas pakaiannya hingga tinggal ber-BH dan celana sambil mengambil handuk kering dari tasnya.

“Melamun apa Tok”, tanya Windy.

Berusaha menyembunyikan pikiranku kujawab seadanya, “Ah nggak melamun kok, cuma membayangkan rasanya dicubit hantu seperti yang Mbak tadi bilang”.

“Pingin tahu rasanya?”, tanyanya dengan senyum menggoda dan menuju ke arahku.

Duduk tepat didepan tangan Windy sudah mulai merapat dengan tubuhku. Mengantisipasi cubitannya yang menyakitkan, kedua tangannya kutangkap dengan cepat.

“Mbak, jangan nyubit lagi Mbak, ampun Mbak..”, katau meminta belas kasihannya.

“Tidak Tok, yang ini pasti kamu suka, percaya deh..”, katanya meyakinkan.

Meski masih ragu tapi pegangan tanganku sudah mengendor dan tangan Windy telah mencapai bagian depan celanaku, usapan-usapannya yang halus diatas permukaan celana terasa sampai permukaan kulit kemaluanku.

Raguku benar-benar hilang dan tangannya semakin bebas bergerak. Dengan mata terpejam kurasakan usapan tangannya berubah menjadi remasan yang menghanyutkan dan membuat batang kemaluanku semakin tegak mengeras hingga tampak sangat menonjol.

Dengan serta merta ditariknya celana pendek dan celana dalamku sekaligus disertai hembusan nafas beratnya yang makin menggebu.

Windy membungkukkan badan dan mendekatkan bibirnya pada ujung batang kemaluanku. Kubelalakkan mataku ketika merasakan bibirnya benar-benar menyentuh ujung batang kemaluanku.

Ciuman basah berimbuh kuluman yang dilakukannya pada ujung batang kemaluanku membuatku mendesah, “Ah.. Mbak.. Mbak..”. Dalam hitungan menit aku mengalami shock kenikmatan.

Seusai kesadaranku berangsur pulih tanganku segera beraksi dengan membuka BHnya dan mengusap-usap punggungnya. Dengan membungkukkan badan kuraih kedua pantatnya yang masih dilindungi celana dalam, lalu kuremas dengan kedua tanganku.

Merasa kerepotan membungkukkan badan, tubuhku kembali kuluruskan. Kemudian tempurung lutut kananku dengan sengaja kugesekkan pada selakangannya. Gesekkan tempurung lutut pada bagian depan celana dalamnya ternyata sangat merangsangnya hingga melepas kuluman pada ujung batang kemaluanku.

Sibuk mengimbangi gesekkan tempurung lutut, Windy hanya memegang erat batang kemaluanku. Karena tak sabar lagi menahan keinginan untuk menikmati rangsangan yang lebih dari gesekkan tempurung kakiku pada daerah kemaluannya yang masih dibalut celana dalam, ia menegakkan badannya kembali. Dalam posisi berjongkok didepanku ia berusaha melepas celana dalamnya.

Ketika celana dalamnya yang berusaha dilepaskannya sampai pada lutut, masih pada posisinya jongkok yang hampir tak berubah, aku segera membuat gerakan menyelam kebawah selakangannya, membalikkan tubuhku dan mendongkak keatas untuk menempelkan bibirku pada daerah kemaluannya.

Main Dengan Mbak Windy

Kedua tanganku turut andil dengan segera menarik kedua pinggulnya agar liang kenikmatannya dapat segera kuterobos dengan juluran lidahku. Rupanya Windy punya pikiran yang sama denganku. Kedua kakinya mulai ditarik kebelakang, selakangannya menindih mulutku, bibir dan lidahkupun makin berpolah diseluruh bagian kemaluannya.

Posisi Windy yang berada diatas tubuhku segera dimanfaatkannya untuk kembali bermain dengan batang kemaluanku.

Mengimbangi rangsangan yang kuberikan pada daerah kemaluannya, Windy mengulum batang kemaluanku. Selama beberapa menit kami berdua saling memberi dan menerima rangsangan dengan aksi 69 seperti yang pernah kuingat dalam beberapa cerita temanku sebelumnya.

Windy menghentikan babak pemanasan dengan menarik tubuhnya, berbaring terlentang sambil menarik tanganku memberi tanda untuk segera menindihnya dan memasukkan batang kemaluanku pada liang kenikmatannya. Tapi kali ini aku ingin bereksperimen.

Kubaringkan badanku disebelah kirinya dan kuhadapkan tubuhku kearahnya. Kaki kirinya kuangkat sedikit keatas dan kuletakkan diata pinggulku sehingga batang kemaluanku yang telah mengeras dapat masuk dengan posisi miring.

Setelah agak nyaman, kuberi pinggulku dorongan maju-mundur yang semakin cepat. Tangan kiriku yang bebas meremas kedua payudaranya bergantian. Berbaring nyaman, tubuh Windy mulai bergoyang seirama dengan gerakanku.

Seiring dengan goyangan tubuhnya, Windy mendesah-desah, “Ssh.. ssh.. Tok, mmh..”. Kuperlambat gerakanku untuk memperpanjang babak ini. Kudorong sisi kiri tubuh Windy sehingga membelakangiku dan sama-sama menghadap kesamping kanan.

Kurapatkan dadaku pada punggunya hingga bergesek. Kudorong lebih dalam batang kemaluanku dalam liang kenikmatannya, lalu kugerakkan pinggulku maju mundur. Kedua tanganku memegang kedua payudaranya dari belakang badannya.

Kucumbu tengkuk kirinya dan sesekali kukulum telinga kirinya. Beberapa saat kemudian tubuh Windy bergetar seiring dengan klimkaksnya. Getaran klimaksnya seakan menghanyutkan pertahananku hingga akhirnya puncak ledakanku tak dapat kutahan lagi.

Kepuasan yang kuperoleh mengantarkanku pada dunia mimpi. Tertidur pulas selama beberapa jam akhirnya aku terbangun oleh suara ketukan pintu. Setelah kukenakan celana pendek kubuka pintu, ternyata yang ada dihadapanku adalah Windy yang telah kembali balik kekamar setelah keluar entah kemana dan berapa lama.

“Ya ampun Tok, kamu baru bangun!”, teriak Windy.

“Hmm.. emangnya kenapa Mbak?”, tanyaku

“Sudah jam berapa ini? Hampir jam 3 sore tahu!”, tanyanya yang kemudian dijawabnya sendiri dengan menunjuk jam tangannya.

Tanpa komentar sedikitpun aku meninggalkannya menuju kamar mandi sambil membawa pakaian ganti yang telah kuambil dari dalam tasku. Seusai mandi dan mengenakan pakaian aku keluar dari kamar mandi. Kulihat Windy duduk didepan meja dan mengeluarkan bungkusan yang berisi beberapa roti basah diatas meja.

“Kamu sudah makan Tok? pasti belum, kalau tidur kamu kok kuat sekali!”, omelnya.

“Mbak, boleh minta rotinya!”, kataku dengan halus.

“Makan aja, kalau tahu kamu baru bangun sudah kubelikan makan tadi”, katanya.

Setelah melahap 3 potong roti, aku bertanya padanya, “Dari mana saja Mbak kok dapat roti enak?”

“Tadi aku silaturahmi ke tempat saudara-saudara dan pulangnya dibawain ini”, jawabnya.

“Oh ya Tok, karena besok kamu sudah mulai bekerja, nanti malam aku akan menginap di Banjar Baru agar tidak mengganggumu. Sekalian saja aku pamitan padamu jika dalam beberapa hari kedepan kita tak bisa ketemu lagi.

Ini notanya kamar sudah aku bayar sampai malam ini, jadi besok kalau kamu keluar dari sini jangan kamu bayar lagi tapi kalau melanjutkan silakan bayar sendiri ya. Terima kasih banyak ya mau menemanin aku.”, kata Windy dan mencium pipiku.

Terkejut oleh ucapannya yang panjang dan mengagetkan aku hanya mengucapkan “Terima kasih banyak, Mbak”.

Kemudian Windy meninggalkan penginapan sementara aku hanya dapat termenung.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah rasa kesepian menyelinap masuk dalam hatiku padahal sejak lama aku terbiasa bepergian jauh seorang diri bahkan dengan jangka waktu yang lebih lama dari ini, tapi kali ini beda. Rasanya ada sesuatu yang hilang, tapi entah apa itu.

Demikian artikel tentang cerita Enaknya Punya Teman Kantor Seorang Janda,Gampangan Dan Murahan Lobangnya Gatel Terus Minta Dikontolin.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Kisahku Menikmati Tubuh Sintal Dan Meki Sempit Atasan Baruku Yang Bikin Sange.

Kisahku Menikmati Tubuh Sintal Dan Meki Sempit Atasan Baruku Yang Bikin Sange.Sebelum saya bercerita, saya akan memperkenalkan diri, nama saya Anton, tinggi sekitar 170 cm dengan berat badan 75 kg, cukup seimbang dari segi body.

Kulit saya coklat kehitaman dan wajah biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Saat ini usia saya 34 tahun. Karena ini kisah nyata, maka nama-nama para pelakunya saya samarkan.

Kisah ini terjadi sekitar bulan Mei tahun 2020, ketika aku baru pertama kali bekerja di sebuah cabang lembaga keuangan yang baru buka di Kota B.

Sebagai kantor baru, maka teman-temanku pun juga masih baru, namun keakraban diantara kami sudah sangat terbina dengan baik, karena sebelum buka kantor, kami sama-sama mengikuti training di kantor pusat.

Oleh karena itu, keakraban kami terjalin sejak kami mengikuti training di kantor pusat.

Setelah tiga bulan kantor kami beroperasi, datanglah seorang karyawati baru, dengan penampilan sebagai seorang yang sudah profesional dan kelihatan berpengalaman.

Dia mengenakan blazer kuning gading, serasi dengan rok bawahan yang juga kuning gading. Tas kantor hitam tertenteng di tangannya, sehingga menambah kewibawaanya sebagai seorang wanita karir.

Rambut disisir rapi ke belakang dengan gaya aristokrat, kulitnya kuning langsat dan sangat bersih dan terawat, dan pada saat itu saya perkirakan berusia sekitar 36 tahun, jauh diatas usiaku pada saat itu yang masih 24 tahun.

Saya berpikir bahwa wanita ini cukup cantik dan berwibawa, meskipun usianya jauh di atas saya, tapi saya sempat berpikir ngeres kepadanya.

Wanita tersebut masuk ke ruang pimpinan saya, mereka berbicara dengan pimpinan saya, dan akhirnya keluar dari ruangan dan menuju meja saya.

Pimpinan saya memperkenalkan wanita tersebut kepada saya dan ternyata namanya Ita, dan aku dipersilakan memanggilnya Mbak Ita.

Mbak Ita bakal menjadi atasan saya dalam menangani keuangan. “Asyik” pikirku dalam hati, lumayan buat cuci mata kalau pas lagi lembur pulang malam.

Hari itu kami basa-basi sebentar dan saling memperkenalkan diri dan akhirnya kami sudah menjadi team yang akrab, meskipun gaya Mbak Ita dalam bekerjasama dengan saya cukup menjaga jarak.

Dari perkenalan awal, saya tahu bahwa dia masih keturunan bangsawan.

Mbak Ita juga cerita bahwa dia menikah lima tahun yang lalu dan belum punya anak, sedangkan suaminya seorang pejabat Pemda.

Usia suaminya adalah sepuluh tahun di atas usia Mbak Ita.

Kami bekerja sama dengan Mbak Ita cukup baik, karena dia sudah lama bekerja dan sudah berpengalaman, maka saya banyak belajar dari dia.

Setiap hari kami pulang larut malam, karena kami diminta oleh Mbak Ita untuk bekerja lembur setiap hari.

Dan anehnya, semakin malam bertambah larut, maka stamina kerja Mbak Ita semakin meningkat. Rata-rata kami pulang kerja jam 10 malam.

Karena mobil dinas Mbak Ita belum diberi oleh perusahaan, maka setiap hari saya harus antar pulang Mbak Ita sampai ke rumah, dengan mengendarai sepeda motor saya.

Hubungan kami semakin lama semakin akrab, meskipun saya mengagumi kecantikan Mbak Ita, tetapi saya sangat menaruh hormat dan tidak berani bertindak kurang ajar.

Paling-paling hanya mencuri kesempatan untuk memandang betisnya yang mulus, pantatnya yang bulat dan indah, atau memandang leher atau sedikit dada bagian atas ketika Mbak Ita sedang membungkuk.

Tidak lebih dari itu.

Tetapi tanpa kuduga, suatu malam ketika kami habis istirahat makan malam berdua di ruang kerja Mbak Ita, sebelum kami melanjutkan kerja lagi, kami masih terlibat pembicaraan santai tentang keluarganya Mbak Ita.

Mbak Ita juga bercerita bahwa Mbak Ita itu sebenarnya memiliki penyakit kulit yang terkadang muncul dengan tiba-tiba dan katanya terasa gatal di sekujur tubuh.

Dengan tiba-tiba Mbak Ita meminta saya untuk menggaruk punggungnya yang mulai terasa gatal.

“Dik Anton, tolong ya garukkan punggung saya, agak gatal nich, mungkin kumat kali penyakit saya.”

Meskipun agak terkejut, tetapi saya langsung jawab,

“Baik Mbak, sebelah mana yang perlu saya garuk?” saya langsung spontan berdiri untuk menggaruk punggungnya dan sambil berpikir “Cihuii rejeki nomplok, kenapa baru sekarang? tidak kemarin-kemarin” pikirku mulai nakal.

Saya garuk pelan-pelan, tapi lebih tepatnya hanya mengusap-usap punggungnya saja, takut kalau Mbak Ita kesakitan.

“Dik Anton, agak keras dikit, masih gatal lho Dik”, pinta Mbak watik.

Dan saya agak sedikit memantapkan tangan saya di pungungnya.

“Dik Anton, masih belum terasa, sebentar saya buka dulu blazer saya.”

Mbak Ita langsung membuka blazernya, sehingga tinggal blouse-nya yang putih dan transparan.

Waduh semakin tidak tahan nich saya, karena kulit tengkuknya yang mulus dengan sedikit rambut lembut yang tergerai di tengkuknya (Mbak Ita kalau ke kantor selalu rambutnya disanggul di atas), semakin menambah feminin, dan semakin membikin saya langsung terangsang.

Saya menggaruknya tetap tidak mau keras dan masih cenderung mengusap atau membelai punggungnya, karena saya menikmati kehalusan kulit seorang bangsawan yang berada dibalik bajunya yang tipis.

Saya usap seluruh punggungnya dengan pelan, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan, terkadang tangan saya, saya telusupkan di bawah ketiaknya, untuk menggapai payudara yang di depan.

Mbak Ita menengadahkan kepalanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sambil suaranya mendesah, “Uuhh enak Dik Anton.. enaakk.. uuhh..”

Mendengar desahannya yang merangsang, rudalku langsung tegak bak tugu Monas.

Sekujur tubuhku mulai menggigil dan seperti dialiri setrum listrik yang halus merambat di sekujur tubuh dan terpusat di kemaluanku.

Tenggorokanku terasa kering, dan susah bicara, karena nafsuku yang langsung menggebu.

Baru kali ini saya bisa menikmati tubuh seorang bangsawan yang bersih, terhormat dan sangat terjaga dari tangan laki-laki lain, selain suaminya.

Karena Mbak Ita duduk membelakangiku yang berdiri sambil memijit-mijit punggungnya, batang kemaluanku langsung kutempelkan di punggungnya yang lembut seperti sutera.

Kugesek-gesekkan batang kemaluanku ke punggungnya dengan pelan. Dan Mbak Ita berkali-kali melenguh, “Uughh, enachh Dik, enaak, terus Dik.”

Dia membimbing tanganku untuk mengusap dua gunung kembar yang kencang dan kenyal.

Kuusap payudaranya dengan lembut, kucium tengkuknya dengan lembut, dan kugesekkan batang kemaluanku ke pungungnya dengan lembut.

Aku sangat tahu, kalau melayani tipe wanita seperti Mbak Ita ini harus dengan lembut dan dengan menggunakan perasaan.

Kucium tengkuknya dengan lembut, Mbak Ita sekali lagi menengadahkan kepalanya ke atas, matanya sambil terpejam, dan bibirnya yang tipis terbuka sedikit, dan mulutnya hanya bergumam, “Emm.”

Aku tahu itu artinya dia sangat menikmati.

Tanganku, kuusapkan dengan lembut di sekeliling payudaranya, dan kulingkari masing-masing payudaranya dengan kedua tanganku, sengaja aku tidak sentuhkan tanganku ke pentilnya, untuk memberikan sensasi yang sangat halus dan perlahan.

Beberapa kali tanganku mengitari sekeliling payudaranya, kemudian perlahan-lahan tanganku kutarik untuk mengusap pipinya.

Kutengadahkan wajahnya, dan kucium keningnya dengat lembut sekali. Aku bisa rasakan kelembutan nafasnya di wajahku, bibirnya yang tipis masih mengeluarkan gumaman yang lembut, “Dik Anton.. emm.. eemm..”

Dengan perlahan aku membalikkan badan Mbak Ita ke arahku, dengan cara memutar kursinya.

Saya membimbing dia untuk berdiri dengan perlahan, kini aku dan Mbak Ita sudah berhadapan, sama-sama berdiri, dadaku menempel ke dadanya.

Dan aku bisa merasakan kekenyalan susunya, dan saya membayangkan betapa indahnya bukit kembarnya.

Tanganku kudekapkan ke pinggangnya, dan telapak tanganku kuusapkan ke pantatnya yang juga sangat indah dan kencang.

Tangan Mbak Ita memegang pundakku dengan lembut, kepalanya sudah menengadah ke atas, dan tatapan matanya.. waduh, jernih dan indah menatap mataku tanpa berkedip.

Kusentuh bibirnya dengan lembut, kuusapkan perlahan bibirku ke bibirnya.

Mbak Ita memberikan reaksi dengan mengencangkan dekapannya ke pundakku dan dadanya ditempelkan lekat ke dadaku, tanganku kudekapkan semakin erat ke pantatnya dan agak kutarik ke atas pantatnya, sehingga kakinya agak diangkat ke atas.

Waduh ciumannya sangat lembut, perlahan-lahan kuusapkan lidahku ke lidahnya, dia memberikan reaksi yang sama, menyapukan lidahnya ke seluruh mulutku.

Tanganku mulai mengusap-usap punggungnya naik turun dengan lembut. Aku menikmati sekali kehalusan kulit punggungnya.

Setelah aku puas menciumi bibir, wajah dan pipinya, ciumanku perlahan-lahan kuarahkan ke lehernya.

Mbak Ita menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, matanya masih terpejam menikmati, nafasnya agak memburu, dan mulutnya masih bergumam, “Mmm.. uhh..”

Ciumanku mulai bergeser ke bawah, ke belahan dadanya.

Kancing blousenya yang di depan dengan mudah kubuka satu persatu, sehingga tersingkap sudah BH hitam yang menyangga dua buah payudaranya yang padat, bulat, kenyal, bersih dan ranum.

Kuciumi lehernya dengan sangat lembut, ke pundaknya, bergesar turun ke sebelah atas payudara yang tidak ditutup BH.

Mbak Ita semakin menengadahkan kepalanya, punggungnya juga semakin melengkung ke belakang, kedua tangannya memegang kepala saya dan sedikit meremas rambut saya, tandanya semakin menikmati gaya permainanku.

Kedua tanganku memegangi dibawah kedua ketiaknya, biar Mbak Ita tidak terjerembab ke belakang, tapi bibirku masih mengusap daerah leher dan di atas payudara.

Aku sengaja memperlama untuk menyentuh payudaranya, apalagi pentilnya. “Diik.. Aannton.. uugghh.. sstt”, sambil mulutnya berdesis kenikmatan.

Blousenya yang masih menempel di pundaknya perlahan-lahan kulepaskan, sehingga pemandangan kemulusan dan kemolekan tubuh Mbak Ita terpampang jelas di hadapanku.

Tubuhnya terkena sinar lampu down light kekuningan yang berada di langit-langit tepat di atas kami berdua, menambah romantisnya suasana malam itu yang tidak akan pernah kulupakan.

Sekali lagi tanganku kugunakan meremas sebelah pinggir dari payudaranya, dan tampak bahwa payudaranya sudah mulai mengeras.

Tanganku mengusap punggungnya dengan perlahan sambil membuka tali BH yang ada di punggungnya.

“Tik” sekali jentik langsung terbuka pengait BH-nya. dengan pelan kuturunkan tali BH yang ada di pundaknya, akhirnya BH-nya kulepas.

Woow, terlihat pemandangan indah sekali, dua gunung kembar yang kuning dan bersih dengan puncaknya yang kecil yang sudah berdiri tegak.

Aku sudah sangat terangsang tapi aku tidak boleh gegabah.

Kuusap payudaranya dari sebeleh bawah dengan tangan kananku, tangan kiriku masih mendekap punggungnya untuk menjaga agar Mbak Ita tidak terjatuh, dan kucium payudaranya.

Berkeliling mengitari pentilnya, dan tangan kananku masih mengusap-usap sebelah luar payudara, tapi dengan gaya agak memeras.

Kedua tangan Mbak Ita memegang erat pundakku tanda sudah semakin gemes, untuk dicium pentilnya.

Karena aku sudah merasa waktunya tepat, maka dengan lembut kukulum pentilnya.

Dan reaksinya, “Aaaughh, uuhh.. ss.. uuhh”, Mbak Ita melenguh-lenguh dan mendesis-desis keenakan, seakan-akan yang dinantikannya telah tiba.

Meskipun kondisinya sangat terangsang, tapi lenguhan itu tetap lembut dan terdengar lirih.

Kukulum pentilnya, kugesek-gesek pentilnya dengan lidahku, dan kugigit lembut pentilnya, tanganku tetap meremas-remas lembut payudaranya.

Setelah aku puas mempermainkan pentilnya kiri dan kanan bergantian, kulepaskan bibirku dari susunya, dan kugeserkan mulutku ke bawah ke seputar perutnya yang datar dan mengeluarkan aroma parfum yang lembut dan semerbak.

Ketika mulutku terlepas dari susunya, Mbak watik kelihatan menghela napas lega dan baru bisa bernafas dengan tenang.

Aku menciumi perutnya dengan agak sedikit jongkok. Kucium pusarnya, dan kujilati pusarnya dengan lidahku. Mbak Ita menggelinjang kegelian.

Karena terlalu lama berdiri atau karena sudah sangat terangsang, Mbak Ita sudah tidak kuat berdiri dan dia bergeser ke belakang duduk di meja kerjanya.

Aku berdiri dengan kedua lututku dan aku tetap jilati pusarnya dan perutnya.

Mbak Ita kegelian, dan mengusap-usap rambut kepalaku dengan tidak beraturan, terkadang meremas, menjambak dan mengusap rambutku. Sehingga rambutku sangat kacau.

Puas dengan permainan perut, Mbak Ita kurebahkan di meja kerjanya. Untungya meja kerja Mbak Ita cukup besar.

Kupelorotkan rok bawahannya, sekaligus dengan CD-nya.

Sekarang tampak di hadapanku seorang putri yang kuning, bersih, dengan kaki dan betis yang aduhai indah, terbujur pasrah di hadapanku.

Kunikmati tubuh Mbak Ita sebentar, karena selama ini aku hanya bisa membayangkan keindahan tubuhnya, tanpa berharap untuk dapat memandangnya.

Tapi ternyata malam ini apa yang kudapatkan jauh dari yang kubayangkan. Seorang wanita dengan tubuh montok dan kuning mulus, dengan kaki dan betis ramping.

Dua buah dada yang tidak terlalu besar, tapi bulat, padat dan kencang, sehingga cocok dengan kesan payudara seorang putri. Bentuk lengan dan bahu yang padat bulat dan berisi.

Mbak Ita telentang di atas meja di hadapanku, aku masih berdiri. Aku mencium pipinya sekali lagi dengan lembut, kuusap payudaranya dengan lembut.

Kedua tangan Mbak Ita merangkul leherku dengan erat. Kedua kakinya bergerak-gerak dengan halus pertanda sangat terangsang.

Perlahan-lahan tanganku kugerakan dari susunya turun ke perutnya. Kuusap sebentar perutnya dan bergerak turun ke bawah mengusap pahanya.

Paha yang selama ini hanya bisa kupandang. Aku usap pahanya naik turun dengan tetap mulut kami masih saling memagut.

Erangan-erangan kecil keluar dari mulut Mbak Ita, “Ugh.. ugh.. emm.. emm..” Tanganku bergerak dari sekitar pahanya terus mengusap sekitar bibir kemaluannya.

Dengan perlahan kedua kaki Mbak Ita mengembang, memberi kesempatan tanganku untuk mengelus kemaluannya.

Tetapi kemaluannya belum kuelus, hanya kedua selangkangan saja yang aku belai dengan kedua jari telunjuk dan jari manis bersama-sama.

Kuelus selangkangannya naik turun, dan Mbak Ita menambah kecepatan gerakan kakinya. Dengan pelan Mbak Ita mengangkat pantatnya, sehingga kemaluannya juga ikut naik.

Aku tahu ini pertanda agar aku dapat segera mengelus kemaluannya.

Kuusap pelan dan dengan jarak sentuhan yang kubuat serenggang mungkin antara bibir kemaluannya dan telapak tanganku, membuat gelinjang Mbak Ita menaikkan kemaluannya untuk menyentuh tanganku semakin tinggi.

Kubelai rambut kemaluannya yang lembut, tipis dan tertata rapi. Setelah puas memainkan sekitar kemaluannya, dan liang kemaluan Mbak Ita sudah semakin terbuka dan semakin basah.

Kusentuh klitorisnya dengan sedikit ujung dari jari tengahku dengan lembut dan.. “Uuhhgh”, lenguhan Mbak Ita kenikmatan.

Gerakan kakinya sudah semakin tidak teratur. Tiba-tiba tanganku dijepit dengan kedua pahanya.

“Diik Aaanntoon.. aakkuu.. nggakk.. taahh..” kemudian tangannya menarik punggungku sebagai bertanda agar aku segera menaiki tubuhnya.

Kutarik kedua kakinya ke arah pinggir meja, sehingga kedua kakinya terjuntai, kemudian Mbak Ita membuka kedua selangkangannya dengan tidak sabar.

Aku sempat memandangi kemaluannya, dan seakan liang kemaluannya merah seperti bibir gadis yang memakai lipstik yang sedang merengek.

Kugesekkan batang kemaluanku pelan-pelan ke bibir kemaluannya, dan Mbak Ita mengerang lagi, “Uugghh.. uughhg..”

Kumasukkan dengan pelan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.

Belum sampai habis masuk semua, kutarik kembali dan kumasukkan kembali. Dengan gesekan-gesekan yang pelan tersebut membuat erangan Mbak Ita semakin tidak beraturan.

Untuk melayani tipe seperti Mbak Ita ini, kugunakan gaya gesekan 5:1, artinya lima kali keluar masuk setengah batang kemaluan, baru sekali masuk seluruh batang kemaluan.

Dan pada saat masuk yang seluruh batang kemaluan, erangan Mbak Ita semakin hebat. Dengan gaya lembut dan 5:1 ini kami bisa saling menikmati.

“Uuugghh.. acchh.. Diikk.. Anntonn.. ucchh.. sstt.. uhh..”

Erangan erangan yang tidak beraturan tetapi artinya hanya satu yaitu Enak.

Sambil kugenjot pelan batang kemaluanku, kedua tanganku dengan leluasa meremas kedua susunya, yang bergerak-gerak naik turun tergantung sodokanku.

Kadang-kadang tanganku mengusap wajah dan pipinya, kadang-kadang mengusap perutnya.

Setelah cukup lama aku melakukan genjotan 5:1, tiba tiba kedua paha Mbak Ita diangkat dan dililitkan ke pinggangku.

Kedua tangannya mendekap diriku, mulutnya sedikit menganga dan mendesis.. “Diikk Ann.. toon.. saa.. yaa ssaampa.. aaii.. uuhhff.”

Kupegangi pinggangnya untuk menekan liang kemaluannya ke batang kemaluanku.

Setelah Mbak Ita selesai mengejang dan nafasnya tersengal-sengal, aku mulai lagi dengan genjotan, tetap dengan gaya 5:1. Mbak Ita melenguh,

“Uuff.. uff.. uuff.. Dik Anton beluumm yaa. Ayo donk.. uff.. uff jangan ditahaan.. uuff.. ugh..”

“Sebentar Mbak!” kataku.

“Dik.. uhff, ceepetan dikit.. Dik.. ughf.. uhfgg.. aa.. ku mau uhgf uff uff.. keeluar.. laa.. ggii..”

“Sebentar Mbak, aku juga sudah.. mma.. uu.. saammpai..”

Tiba-tiba ada aliran listrik menjalar dari ubun-ubun turun ke arah kemaluanku dan semakin-lama semakin mengencang. Batang kemaluanku seakan balon yang ditiup dan mau pecah.

“Aachghh.. accghh.. Mmmbakk.. Itaaa.. aku mmau keluarr..” Mbak Ita memegang erat tubuhku dan “Crret.. crrett..” keluar semua cairan yang ada di seluruh tubuhku dan “Aaachh..”

Kami berdua terkulai lemas dengan badan penuh keringat dan nafas terengah-engah.

“Dik Anton, makasih ya Dik, kamu telah memberi saluran yang selama ini tersumbat.”

Aku sangat puas malam itu, karena aku tidak dapat membayangkan, ternyata aku bisa menikmati tubuh seorang wanita terhormat, yang selama ini orang luar sangat menghormatinya, tapi ternyata malam ini dia begitu pasrah menyerahkan tubuhnya kepadaku.

Jam telah menujukkan pukul 22.00 ketika permainan kami usai, dan kami berdua segera masuk ke toilet untuk membersihkan dan merapikan badan kami masing-masing.

Dan sebelum pulang aku mendapat tugas baru dari Mbak Ita, yaitu membantu membersihkan cairan yang membasahi meja kerja Mbak Ita, dan membantu merapikannya.

Sambil merapikan mejanya aku berbisik ke telinga Mbak Ita, “Mbak meja ini dirapikan ya.. karena besok malam mau dipakai lagi”, Mbak Ita hanya tersenyum dan mencubit mesra lenganku.

Hal tersebut kuulangi setiap ada kesempatan, baik di kantor ataupun di hotel, tapi rahasia tersebut tidak terbongkar dan kami saling menjaga rahasia.

Dan kalau pagi hari, Mbak Ita kembali memerankan perannya sebagai atasan yang berwibawa, profesional, tetapi kalau malam, melenguh-lenguh dan menggelinjang-gelinjang di bawah selangkanganku.

Untuk lebih mengakrabkan hubungan kerja di kantor, teman-teman kantor mengadakan acara pergi bersama ke tempat santai, yaitu di daerah pegunungan yang berhawa dingin.

Semua teman-teman kantor pada ikut, tidak terkecuali Mbak Ita. Namun aturannya, bahwa semua karyawan dan karyawati harus ikut dan tidak boleh bawa pacar, biar lebih bebas (pada saat itu kami semua belum berkeluarga, kecuali Mbak Ita tentunya).

Hanya Mbak Ita saja yang diperkecualikan untuk membawa keluarga (dalam hati aku sangat kecewa, karena tidak bisa bebas mendekati Mbak Ita, karena takut ada suaminya).

Pada hari Jum’at sore, setelah selesai tutup kantor, kita semua sudah berkumpul di kantor untuk berangkat ke Puncak (bukan Puncak di Cipanas lho).

Semua yang berangkat ada 17 orang cowok-cewek termasuk aku, dan Mbak Ita bersama suaminya dengan membawa 2 anak kecil, yang ternyata keponakan Mbak Ita.

Dalam hatiku kejengkelan bertumpuk, karena Mbak Ita sudah bawa suami, tambah keponakan lagi, wuaahh repot, pikirku saat itu.

Untuk membawa ke Puncak, sudah dipersiapkan tiga mobil Panther yang dipakai oleh karyawan dan satu Kijang yang dipakai oleh keluarga Mbak Ita, masing-masing mobil sudah disediakan supir.

“Kalau 3 mobil nggak cukup, satu orang boleh dech ikut saya, atau biar Dik Anton saja yang ikut mobil saya”, kata Mbak Ita kepada teman-teman, matanya sambil melihatku.

“Cerdik juga boss yang satu ini”, pikirku, dan sangat halus sekali triknya.

Agar Mbak Ita tetap dekat denganku, tapi tidak terlalu mencolok, makanya pura-pura menawarkan tetapi langsung menutup penawaran kepadaku.

“Ayo siapa yang ikut mobil Mbak Ita, biar aku yang di Panther aja”, kataku pura-pura menawarkan kepada teman-teman, karena aku tahu, pada tidak ada yang berani satu mobil dengan Mbak Ita, rata-rata mereka pada sungkan.

“Udah dech, biar Anton aja yang ikut, sekali-kali kita kerjain, biar tahu rasa, gimana rasanya satu mobil dengan Mbak Ita, mungkin sampai di tempatnya Anton sudah tegang nggak bisa bergerak”, kata Nita temanku sambil tertawa kecil mau mengerjai aku.

“Ya bener, sampai di tempat aku bisa tegang, tapi bukan tegang karena sungkan, tapi tegang karena nggak tahan aja berdekatan dengan Mbak Ita”, kataku dalam hati, dan yang tegang hanya tertentu saja, tidak seluruh badan.

“Jangan aku dong, yang cewek aja”, pintaku berpura-pura.

Tapi teman-temanku langsung lari berebut mobil masing-masing, dan akhirnya aku jalan juga ke mobil Mbak Ita, dan sekali lagi pura-pura mengumpat mereka.

Suami Mbak Ita hanya senyum-senyum melihat kelakuan kami. Oh ya, aku belum kenalin sama suami Mbak Ita.

Namanya sebut saja Mas Joko, orangnya besar, gagah dan ganteng (kata teman-teman cewek) dan agak pendiam. Wajahnya mirip dengan Rahmat Kartolo.

Mas Joko duduk di jok depan dengan supir. Sedangkan Mbak Ita, kedua keponakan yang masih kecil dan aku duduk di jok tengah.

Jok belakang penuh dengan perbekalan. Begitu aku duduk di mobil, pertama yang kulakukan adalah mempelajari situasi mobil.

Posisi kaca spion, dan posisi duduk supir dan posisi duduk Mas Joko. Sekiranya memungkinkan untuk melakukan serangan awal terhadap Mbak Ita.

Dan ternyata masih memungkinkan kalau hanya sekedar serangan-serangan ringan.

Sorry agak norak sedikit melakukan serangan ringan di mobil, habis kukira siapa pun akan sayang membiarkan tangan ini tidak bersinggungan dengan kemulusan tubuh Mbak Ita yang memang sintal, padat dan berisi.

Di perjalanan, Mas Joko banyak membaca buku, jadi tidak banyak pembicaraan kami dengan Mas Joko.

Mbak Ita duduk di sebelah kanan, aku duduk di sebelah kiri, dan kedua keponakan duduk di antara kami.

Sehingga kami cukup leluasa kalau hanya melakukan cubitan-cubitan kecil di pinggang Mbak Ita, kadang sedikit elusan di pantatnya, maupun pinggangnya.

Tapi sebaliknya, tangan Mbak Ita terkadang juga memberikan cubitan halus di pinggangku.

Dan setiap kali aku dicubit, rudalku langsung sudah siap mencari sasaran (maklum usia masih dalam taraf pandangan Hidup).

Setiap kali kusentuh pinggang atau pantatnya, kelihatan Mbak Ita agak menghela nafas, dan wajahnya menunjukkan sedikit tegang.

Memang kuakui kalau Mbak Ita itu tegangan tinggi juga.

Tidak ada yang istimewa yang perlu diceritakan dalam perjalanan, karena jarak kantor kami dengan Puncak tidak lebih dari 50 km, sehingga perjalanan cukup ditempuh tidak lebih dari 40 menit.

Menjelang Maghrib kami semua sudah sampai di Hotel, setelah mandi dan istirahat sebentar, malam kita gunakan untuk bercanda ria dan menikmati santap malam Kambing Guling.

Kami semua menikmati acara tersebut, kecuali Mas Joko. Dengan alasan mengantuk, maka Mas Joko tidak ikut bersama-sama dengan kami.

Mas Joko lebih suka makan di kamar dan akhirnya tertidur. Tinggallah kami semua dan Mbak Ita bercanda ria.

Setelah selesai makan, kami berpencar berkelompok-kelompok.

Ada yang bercerita berkelompok, ada yang jalan-jalan menikmati malam, dan ada yang sekedar memainkan gitar, dengan lagu-lagu tahun 70-an.

Mbak Ita memberi kode ke aku untuk mendekat, dan dia berbisik,

“Dik Anton, anterin Mbak Ita jalan ya.”

“Lha Mas Joko?” tanyaku terkejut.

“Udah dech, nggak usah pikirin Mas Joko, Mas Joko sudah tidur.”

“Mbak, Mas Joko bener sudah tidur?” tanyaku menyelidik.

“Ya begitulah Mas Joko, dia lebih suka menyendiri dan pasti dia sudah tidur”, kata Mbak Ita.

Kami berjalan berdua, dan kami saling membisu. Aku masih diliputi perasaan takut kalau Mas Joko tahu, dan pikiranku terus berputar, kuajak kemana Mbak Ita ini.

“Kalau tahu kita berdua gini, gimana Mbak”, tanyaku memecah kebisuan.

“Dik Anton nggak usah takut, dia percaya kok sama Dik Anton, dikirain Dik Anton kan masih kecil, masak mau ngapa-ngapain sama aku.”

“Ya masih kecil, tapi si kecil ini kan sudah bisa gede, dan bisa membuat anak kecil”, jawabku menggoda.

Mbak Ita hanya terseyum dan mencubit pinggangku. Kutangkap tangannya dan kutarik badannya, sehingga kami jalan berdekapan.

Aku berjalan di sebelah kiri Mbak Ita, sehingga tangan kananku dengan leluasa mendekap pundak Mbak Ita, untuk melindungi dari hawa malam yang cukup dingin.

Kami berdua berjalan, aku tahu betul liku-liku jalan di Puncak ini, maka kubawa Mbak Ita di tempat yang sangat aman.

Kudekap badannya, kubelai-belai punggungnya, sambil sesekali kucium telinganya. Mbak Ita mendesah mengeratkan dekapannya ke tubuhku.

Tangan kiriku mengusap-usap buah dadanya yang kenyal dan padat di balik baju sweaternya, dan sedikit kuremas, sedangkan tangan kananku untuk meremas pantatnya yang bundar dan padat.

Ciumanku berkali-kali kudaratkan pada tengkuk dan belakang telinganya. Turun ke pipi, dan akhirnya kami saling berhadapan dan berdekapan.

Kuciumi dengan halus pipinya, turun ke bibirnya. Kukulum lidahnya, dan bibir kami saling berpadu. Nafas kami berdua sudah mulai tidak beraturan.

Kedua tanganku kudekapkan erat di punggung Mbak Ita, tangan kiriku kugunakan untuk mendekap pantat Mbak Ita dan sedikit kutekan, sehingga kekenyalan batang kemaluanku dapat dirasakan oleh kewanitaannya, dan aku mulai geser-geserkan kemaluanku di kewanitaannya.

Sedangkan tangan kananku kutelusupkan di bawah sweaternya, untuk mengusap kulit punggungnya yang halus, lembut dan sudah mulai hangat oleh birahi.

Udara malam semakin dingin, tetapi badan kami berdua sudah semakin panas.

Kami berdua sudah tidak tahan untuk tidak menyelesaikan permainan ini, karena serangan-serangan awal sudah dimulai sejak tadi sore, ketika dalam perjalanan.

“Dik Anton kita cari tempat yang enak aja Dik”, bisik Mbak Ita sambil mendesah menahan birahi.

“Nanti kelamaan, Mbak? gimana kalau Mas Joko bangun?”

“Dik Anton tenang saja, Mas joko itu kalau tidur lama kok, dan nggak pernah bangun, dan nanti seandainya bangun, gampang kok aku cari alasan.”

“Oke dech Mbak, yuk kita jalan.”

Aku bimbing Mbak Ita ke arah hotel yang dekat. Aku tahu persis tempat di sini yang nyaman buat Mbak Ita.

Hanya lima menit perjalanan kaki kami sudah sampai di hotel yang mungil, tapi sangat bersih dan aman. Kami memesan kamar yang nyaman.

Petugas receptionist sepertinya mengerti benar kebutuhan kami. Tidak banyak pertanyaan dan langsung mengantar ke kamar yang kami maksud.

Di dalam kamar, setelah pintu kami kunci, Mbak Ita langsung melepaskan baju sweaternya. Sehingga tinggallah kaus singlet yang tipis dengan belahan dada agak lebar.

Dipadu dengan celana jeans ketat di bawah lutut, sehingga pinggulnya kelihatan sangat bundar dan padat.

Kami berdua langsung berdekapan. Nafas kami berdua sudah memburu. Wajah Mbak Ita agak menengadah, menunggu ciuman.

Matanya sedikit terpejam dan bibirnya yang tipis sedikit terbuka. Kulumatkan bibir tipis yang sedikit terbuka.

Kuhisap lidahnya, kumainkan lidahnya dengan lidahku dan kueratkan dekapanku di punggungnya.

Lama kami menikmati ciuman itu. Baru setelah aku puas menikmati bibir yang tipis, kugeserkan mulutku turun ke lehernya.

Aku sangat menikmati ciuman di leher ini. Karena menurutku leher Mbak Ita itu sangat seksi. Lehernya agak tinggi, dengan kulit yang mulus, dan padat berisi.

Sehingga lidahku menari-nari di lehernya.

“Uhf.. uuhh.. sstt, Diikk Aanntoonn, awaas hati-hatii, janggann sampai membekas..”

Nafas Mbak Ita mulai tidak teratur. Mbak Ita ini kalau penampilan luar sangat anggun dan tenang, tetapi kalau birahinya sudah mulai naik, Mbak Ita bisa sangat liar, meskipun tidak sampai teriak-teriak.

Dan Mbak Ita ini memiliki tegangan sangat tinggi. Baru disentuh sedikit saja, nafasnya sudah tidak karuan.

“Mmeemm, jangan khawatirr.. Mmmbakk”, jawabku menenangkan.

Ciumanku sudah mulai turun ke sebelah atas dari buah dadanya. Kuciumi ke dua buah dadanya yang ranum, meskipun masih terhalang kaos dan BH.

Mbak Ita semakin menengadah, dan kepalanya mendongak ke belakang, dengan mata terpejam, dan mulut masih bergumam.

“Emm.. uugghh.. Diikk Aaantoon.. uugghh..”

Kelihatannya Mbak Ita sudah mulai tak sabar, dia lepaskan sendiri singletnya, kemudian BH-nya juga dilepaskan sendiri.

Sehingga dengan jelas kedua bukit bundar, kencang, dengan kedua putingnya yang bulat kecil berwarna coklat yang sudah tegak.

Kedua susunya bergoyang-goyang sebagai akibat goyangan badan Mbak Ita yang mulai terangsang hebat.

Tiba-tiba tangan kanan Mbak Ita memegang kemaluanku yang dari tadi sudah tegak, dan meremasnya karena sudah gemes.

“Uuhh, mm.. janngan kenceng.. kenceng dong Mmbak.. umm, Sakiitt.. mm”, teriakku masih sambil menciumi perutnya.

“Sstt.. ggeemess kok.. Diik.. ugghh..”

Karena Mbak Ita sering menggerak-gerakkan badannya ke belakang, dan sering mendongak, maka susunya terlihat bergoyang-goyang, tapi aku harus menahan badan Mbak Ita dengan kuat supaya tidak jatuh ke belakang.

Kupondong Mbak Ita dengan kedua tanganku, dan Mbak Ita mendekapkan kedua tangannya di leherku, Mbak Ita tersenyum menggoda, kucium susunya, dan sekali lagi Mbak Ita menggelinjang.

Kutidurkan Mbak Ita dengan perlahan di atas ranjang. Mbak Ita masih memejamkan matanya. Kucium sekali lagi bibirnya, sambil kuusap pipinya dengan tangan kananku.

Aku masih menikmati bibirnya, tapi tanganku sudah mulai bergeser ke lehernya, turun ke bawah, melingkari lingkaran luar susunya.

Kuremas-remas susunya dengan lembut. Mbak Ita semakin menggelinjang. Tangan kirinya mendekap leherku, dan tangan kanannya menjambak-jambak rambutku.

Kedua kakinya bergerak-gerak tidak karuan di atas ranjang, membuat spreinya sudah tidak beraturan lagi.

Ciumanku kugeser ke leher, dan terus turun ke bawah, kulingkari kedua payudaranya dengan ciumanku.

Aku cium payudara kiri, sedangkan payudara yang sebelah kanan tetap kuremas-remas dengan tangan kananku.

“Uuughh.. hh.. sstt..” desis Mbak Ita menahan rangsangan.

Kuhentikan ciumanku sebentar, karena aku mau melepaskan jeans Mbak Ita. Waaoo, sepasang kaki indah di balik celana jeans mulai kelihatan.

Kuturunkan perlahan-lahan celana jeans-nya, dan akhrinya CD-nya juga kuturunkan sekalian.

Nampaklah kemaluan Mbak Ita yang padat berisi dengan belahan indah di tengahnya.

Rambut halus dan hitam pekat menghiasi kemaluannya, kontras dengan warna kulit kemaluannya yang kuning langsat.

Aku kembali menciumi sekeliling pusar Mbak Ita, dan kumainkan pusarnya dengan lidahku, sementara tangan kananku membelai kedua pahanya, yang padat dan mulus.

Kuusap-usapkan dengan lembut kedua pahanya, dan selangkangannya.

Selangkangan yang kanan dengan jari manis, dan selangkangan kiri dengan telunjuk, kuusapkan secara bersama-sama.

Kulingkari sekitar kemaluannya dengan jari-jariku. Aku selalu menghindari untuk menyentuh klitorisnya sampai menunggu waktu yang tepat.

Kedua kaki Mbak Ita bergoyang-goyang tidak karuan, pinggulnya juga bergoyang-goyang naik turun, minta klitorisnya disentuh, tapi aku tetap hanya menyentuh tepian dari kemaluannya dengan lembut.

Setelah puas menciumi pusarnya, kunaikkan bibirku kembali menciumi lingkaran susunya, baru setelah puas, bibirku kusentuhkan dengan pentilnya, bersamaan dengan jari tengahku menyentuh klitorisnya.

Menerima perlakuanku seperti itu, Mbak Ita langsung menarik nafasnya lega, seakan terpenuhi apa yang diharapkan selama ini, sampai melenguh,

“Uuugh nikmat Dikk Anntoon.. uughh.. ennaakkgghhk sseekalii.. uhhnn sstt..”

Bersamaan dengan lenguhan tersebut, Mbak Ita mengeratkan dekapannya di leherku, dan tanganku dicepitnya dengan kedua kakinya.

Liang kemaluannya telah sangat basah dan sudah sangat merekah, seakan-akan sudah menunggu pisang yang akan dilahapnya.

Aku masih mengulum pentilnya bergantian kiri dan kanan, sementara ujung jari tengah tangan kananku masih membelai-belai kitorisnya dengan lembut.

Dalam mengusap klitoris ini harus hati-hati, jangan sampai penuh dengan tekanan, hal ini sangat disukai oleh Mbak Ita.

Kedua kaki Mbak Ita sudah tidak menjepit tangan kananku lagi, tetapi sudah telentang, sehingga liang kemaluannya merekah dengan lebar, dan tanganku dengan leluasa mengusap klitorisnya dan bibir kemaluannya.

“Uuughhff.. uugghh eff.. Diikk.. Anntt.. oonn.. eennaakk.. sekalii.. Diikk.. uugghff..”

Lenguhan Mbak Ita yang manja, dan merengek-rengek semakin menambah naiknya birahiku.

Aku terus mempermainkan ujung jari tengahku di klitorisnya, dan kurasakan kewanitaannya semakin basah.

“Diik.. Aaantoonn.. uugghff masukiin, Dik.. akuu sudaah tiidakk tahaan.. uugghhff..” Rengek Mbak Ita dengan memelas, kuhentikan ciumanku dan kuhentikan juga usapan di klitorisnya.

Aku berdiri dengan kedua lututku di antara selangkangannya, kuletakkan kedua kaki Mbak Ita di pundakku, dengan perlahan-lahan kuusapkan kepala kemaluanku dengan bibir kemaluannya Mbak Ita.

Kelihatannya Mbak Ita sudah tidak sabar untuk menerima batang kemaluanku di liang kemaluannya, karena kedua tangannya memegang pantatku dan menekan pantatku masuk ke lubang kemaluannya.

Kumasukkan perlahan-lahan batang kemaluanku memasuki laing kewanitaannya. Mulai dari kepala terus perlahan akhirnya sampai mentok habis ke pangkalnya.

Mbak Ita sangat menikmati masukan pertama batang kemaluanku.

Pada saat batang kemaluanku memasuki luabang kewanitaannya dengan perlahan, Mbak Ita sangat menikmati dan mengerang dengan lenguhan yang tak berarti.

“Uuugghh.. uuhhgghh”, seakan-akan merasa sangat lega, bagaikan orang haus di padang pasir, diberi air es yang sangat dingin.

“Uugghh.. eehh..”

Kugeser-geserkan batang kemaluanku ke seluruh permukaan liang kemaluannya ke kiri dan ke kanan. Tetap dengan gaya yang khusus buat Mbak Ita, yaitu 5:1.

Pada saat 5 tusukan pertama, di mana hanya setengah batang kemaluan yang masuk ke liang kemaluan, Mbak Ita menikmati rangsangan yang ada sekeliling permukaan liang kemaluan.

Maka dia hanya bergumam, “Eeemm eemm.. sstt.. eemm..” namun pada saat 1 tusukan terakhir, di mana seluruh batang kemaluan masuk ke dalam dan menyentuh dasar liang kemaluan Mbak Ita yang menikmatinya dan mengencangkan jepitan luabang kemaluannya ke batang kemaluanku.

Kedua kakinya menjepit leherku, dan kedua tangan Mbak Ita meremas sprei dengan kencang, dan semua badannya kelihatan mengejang, dan keluar lenguhan berat dari mulutnya “Uughh.. uugghh.. eennaggk Diikk.. Aannttoonn.. eennakgg..”

Kami terus gunakan gaya 5:1 ini berulang-ulang sampai akhirnya..

“Diikk.. Aanntoonn.. akuu suudahh tiidaak kuatt.. akuu mauu.. keeluuarr..”

“Seebenntarr.. Mmbakk, aakuu.. juggaa mauu keleuaarr..” jawabku.

Dan untuk menjaga agar kami tetap keluar bersama, maka aku sedikit kencangkan genjotanku ke liang kemaluan Mbak Ita, dan tiba-tiba.. liang kemaluan Mbak Ita bergerak-gerak, menghisap batang kemaluanku.

Nah ini yang kutunggu, hisapan dan sedotan liang kemaluannya sangat kuat di btang kemaluanku, dan tiba -tiba..

“Diikk.. Aaanntoon.. aakuu keluuarr..” dan dalam waktu yang bersamaan, batang kemaluanku juga terasa mau jebol dan..

“Aauughh.. crreett.. creett.. creet, tumpah semua cairan di tubuhku di liang kemaluannya, dan liang kemaluan Mbak Ita masih bergerak-gerak menghisap batang kemaluanku dan memberikan sensasi yang tidak dapat terlupakan.

Badan kami berdua lemas sekali dan berkeringat. Aku suka sekali melihat badan Mbak Ita basah oleh keringat, menambah keseksian tubuhnya.

Kami berdua berdekapan sebentar, dan akhirnya bersiap-siap kembali ke teman-teman.

Demikian artikel tentang Kisahku Menikmati Tubuh Sintal Dan Meki Sempit Atasan Baruku Yang Bikin Sange. cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Hokinya Diriku Mau Interview Kerja Eh Malah Dapat Cicip Meki Gratis HRD Murahan Atas Bawah Montok.

Walk In Interview Yang Berujung Ngewe 1

Hokinya Diriku Mau Interview Kerja Eh Malah Dapat Cicip Meki Gratis HRD Murahan Atas Bawah Montok.Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus ke pelataran parkir hotel P, sebuah hotel berbintang 5 yang terletak di jalan Asia Afrika.

Sebagai anak kost yang sehari-hari harus prihatin, sebenarnya apa urusannya saya harus datang ke hotel semewah ini ?

Sebelumnya ijinkanlah saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Rio, 23 m Bdg (come on chatters, you should know this code). Saya kuliah di sebuah fakultas teknik yang sering disebut sebagai fakultas ekonominya teknik, karena banyaknya mata kuliah ekonomi yang bertebaran dalam kurikulumnya, di sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di kota ini.

Tapi syukurlah beberapa waktu yang lalu saya telah lulus dan diwisuda menjadi seorang Insinyur, but for now, I’m only an unemployment.

That’s why I come to this hotel. Kemarin seseorang yang mengaku bernama Ibu Ratna menelepon dan mengundangku hari ini untuk mengikuti sebuah psikotest dari sebuah perusahaan tembakau multinasional yang cukup ternama di Indonesia (dan beberapa waktu yang lalu terkena somasi masyarakat akibat acara promosi sebuah produknya yang agak “kelewat batas”).

Setelah memarkirkan mobil di underground, saya melangkah menuju lobby hotel. Selintas saya melihat pengunjung hotel yang sedang menikmati breakfast (atau lebih tepatnya brunch kali yah ?) di coffee shop dan berkeliaran di sekitar lobby.

Yah…dibanding mereka yang berpenampilan santai sih, saya lumayan rapi. Ah cuek aja lah, yang penting pede.

“Maaf Mbak, kalo ruang rekruitmen dimana yah ?”, tanya saya kepada seorang resepsionis yang bertugas di front office sambil menyebutkan nama perusahaan tersebut..

“Oh.., naik aja lewat tangga itu dan belok ke kanan.”, jelasnya sambil menunjukkan tangga yang dimaksud.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun bergegas menuju ruang recruitment. Hmm… masih sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi sedangkan ketika saya melirik jam tangan saya baru menunjukkan pukul 09.22 WIB. Setelah mengisi daftar hadir dan mengambil formulir data diri, saya menghempaskan diri di sebuah sofa empuk di pelataran ruangan tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB ketika seorang wanita mempersilakan para peserta untuk masuk ke ruang tes. Setelah mengambil posisi, saya melihat peserta lainnya. Hmm.. ada beberapa wajah yang saya kenal karena memang teman sekuliah, but now they are my competitor.

Di depan ruangan telah berdiri 2 orang wanita yang kemudian memperkenalkan diri sebagai mbak Rini dan mbak Tia. Saya menyebut mbak karena saya kira mereka tidak terlalu jauh tua dibanding saya, walaupun mereka memperkenalkan diri dengan sebutan “Ibu”.

Keduanya cantik, walaupun dalam perspektif yang berbeda. Mbak Rini berwajah tegas cenderung judes, sangat pede dan terkesan senang mendikte orang lain, sedangkan mbak Tia terkesan lembut, berhati-hati dan komunikatif.

Kalau saya menilainya sebagai wanita yang seharusnya dipacari (mbak Rini) dan wanita yang seharusnya dinikahi (mbak Tia). Hahaha…mungkin agak aneh penilaian saya ini. Setelah acara basa-basi formal, tepat jam 10 tes dimulai.

1 jam 45 menit yang dibutuhkan mbak Tia untuk memandu dan mengawasi jalannya psikotest ini, sedangkan mbak Rini entah menghilang kemana. Tepat jam 11.45 WIB kita “diusir” ke luar ruangan menikmati coffee break untuk 30 menit kemudian diumumkan orang-orang yang lulus psikotest dan menghadapi interview.

Dari 200-an pelamar, hanya 40 yang dipanggil psikotest dan hanya 20 yang dipanggil interview, untuk selanjutnya terserah berapa orang yang akan diterima.

Ternyata nama saya tercantum dalam daftar peserta yang lulus psikotest, so I have to stay longer to join an interview. Interview will be done in english, so I have to prepare myself.

But it’s only my first experience, so what the hell…!! Saya berusaha cuek dan rileks aja menghadapinya, sa’bodo teuing lah kata orang sini.

Sekitar jam 14.45 WIB nama saya disebutkan untuk memasuki ruangan interview. Hhmm…ternyata yang nginterview (eh ini bahasa mana yah ?) saya adalah mbak Tia. Setelah memperkenalkan diri, kita terlibat dalam obrolan yang serius namun akrab.

Berkali-kali dia membujuk saya untuk mau bergabung pada perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik. Saya sih sebenarnya lebih senang bekerja pada shop floor di pabrik daripada harus bekerja di kantor manajemen di belakang meja dan di depan komputer.

Tapi permasalahannya adalah bahwa pabrik yang bersangkutan terletak di sebuah kota di pesisir utara pulau Jawa, sebuah kota yang menjadi pintu gerbang Jawa Barat terhadap tetangganya di sebelah timur. Away from home means extra cost for living, am I right ?

Nggak terasa kita ngobrol semakin akrab. Mbak Tia ternyata benar-benar smart, komunikatif dan mampu membawa suasana bersahabat dalam sebuah perbincangan. Nggak heran ternyata dia adalah alumni fakultas psikologi tahun 1992 pada sebuah perguruan tinggi di selatan Jakarta yang terkenal dengan jaket kuningnya.

“That’s all Rio, thank you for joining this recruitment. We will contact you in two weeks from now by mail or phone”, kata mbak Tia mengakhiri pembicaraan. “The pleasure is mine.”, jawab saya pendek sambil berbalik menuju pintu.

“Rio, why do you look so confident today ? The others don’t look like you.”, tiba-tiba mbak Tia berbicara lagi kepada saya.

“I just try to be myself, no need to pretend being someone else.”, jawab saya sambil bingung, sebenarnya apa yang telah saya lakukan sih

sampai dia menilai saya seperti itu ?

“Cool, I like your style”, sambung mbak Tia lagi

“I like your style too.”, jawab saya (pura-pura) cuek, “Tia, I like to talk with you, maybe some other day we can talk more. May I have your number ?”, sambung saya lagi. Asli udah cuek banget, nggak ada malu-malunya lagi. Baru beberapa saat ngobrol bareng dia, tapi kenapa rasanya saya udah kenal lama yah ?

Mbak Tia cuman tersenyum dan memberikan kartu namanya sambil meminta nomor telepon saya juga. Karena saya masih pengangguran dan nggak punya kartu nama, akhirnya dia hanya dapat mencatatnya di kertas note miliknya saja. Dan saya akhirnya langsung pulang.

Bandung, same day at 18.04 WIB

Saya lagi termenung di kamar kost di depan komputer menyesali kekalahan kesebelasan saya dalam game Championship Manager 4.

Sialan…, menyerang habis-habisan kok malah kalah yah, pikir saya sambil menatap statistik permainan.

Tiba-tiba… .krrriiinngg. ., teleponku berbunyi mengagetkanku karena memang dipasang pada volume penuh. Di LCD terpampang nomor telepon asing (maksudnya belum ada di memori). Langsung saya jawab, “Hallo…”.

“Hallo…ini Rio ?”, terdengar sebuah suara wanita di seberang telepon.

“Iya, ini Rio”, jawab saya. Sejenak saya terganggu koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga nih jaringan 0816 prabayar wilayah

sini.

Ternyata itu telepon dari mbak Tia. Dia sih ngakunya cuman iseng aja nge-check nomor saya. Setelah ngobrol sebentar, saya nanya, “Mbak, banyak kerjaan nggak ?”.

“Kenapa nanya, mau ngajak jalan-jalan yah ?”, jawab mbak Tia disusul suara tertawanya yang ramah.

“Boleh.., siapa takutt..?”, balas saya sambil senyum iseng (untung dia nggak bisa lihat senyum saya).

“Nggak kok udah selesai semua, free as a bird.”, katanya lagi sambil mengutip sebuah judul lagu The Beatles (atau John Lennon ? ah sa’bodo teuing lah).

Akhirnya kita sepakat untuk jalan-jalan (but no business talks allowed, kata mbak Tia). Waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika saya memarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel yang sama.

Ah…masak dalam sehari ke hotel ini sampai 2 kali, pikirku. Baru beberapa saat saya duduk, terlihat sosok mbak Tia berjalan ke arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya dan melihat sekeliling lobby untuk mencariku.

Saya cukup melambaikan tangan untuk memberitahukan posisi saya duduk untuk kemudian bangkit berdiri dan berlahan menghampirinya. Kemeja putih berbunga-bunga kecil berwarna ungu terlihat serasi dengan pilihan celana panjangnya yang juga berwarna ungu.

Wah…aliran “matching”-isme nih, pikirku. “Hi mbak, look so nice”, kata saya sambil sedikit memuji penampilannya yang memang “out of mind” itu.

“Thanks, you too”, jawabnya lagi sambil tersenyum. Tapi kali ini kesan senyumnya jauh dari resmi, seperti senyum kepada seorang teman lama.

Kita langsung berangkat. Karena mbak Tia meminta untuk tidak “makan berat”, akhirnya saya membawanya ke LV kafe, sebuah resto dengan city view yang bagus banget di bilangan dago pakar. Kalo udah malem, kelihatan indahnya warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many times I’ve been there, but still never get bored.

Temaramnya cahaya lampu resto, jilatan lidah api dari lilin di meja dan kerlap-kerlipnya lampu kota Bandung di bawah sana tidak mampu menutupi kecantikan yang terpancar dari seorang Tia, wanita yang baru saya kenal dalam beberapa jam saja.

Kalo dilihat dari face-nya sih nggak cantik-cantik banget, tapi gayanya yang ramah, wawasannya yang luas dan obrolannya yang menguasai banyak hal, membuat penampilannya begitu chic dan smart.

Daripada dengan cewek cakep dan seksi serta mampu mengeksploitasi penampilannya semaksimal mungkin, tapi kalo diajak ngomong nggak pernah nyambung dan otaknya isinya cuman kosmetik sama sale baju atau factory outlet doank sih jauh banget bagusan Tia kemana-mana.

Pokoknya smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seorang presenter TV favorit saya, yang walaupun tidak terlalu cantik tapi mampu memikat karena gayanya yang smart itu.

Mbak Tia (dan pada kesempatan ini dia minta saya cukup memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, tanpa embel-embel mbak di depannya) memesan lasagna, biar nggak terlalu kenyang katanya.

Ternyata city view Bandung masih kalah dengan view yang ada di depan saya sekarang. Asik banget melihat Tia menikmati sedikit demi sedikit makanannya. Ada suatu momen yang bagus banget saat tiba-tiba dia mendongak, mengibaskan rambut sebahunya dan menatap saya sambil berkata, ” Lho kok malah nggak makan ?”.

Hhhmmm…..asli sumpah bagus banget angle-nya. Saya pernah ikut kegiatan fotografi saat di bangku sekolah dulu, so mungkin inilah yang disebut dengan angle terbaik.

Ada beberapa saat (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang dapat terlihat sangat tampan atau sangat cantik dan saya baru menikmatinya beberapa detik yang lalu. “Heh..kok malah bengong ?”, Tia membuyarkan lamunan saya seketika.

“Ah nggak kok, cuman lagi inget-inget aja tadi taruh kunci kost dimana ?”, jawab saya sambil mencoba berbohong. Kalo dia sampai tahu saya mengagumi pemandangan tentang dia, wah bisa jadi nggak enak suasananya.

“Ooohhh….” , sahutnya pendek, entah tahu saya berbohong atau tidak. Terus terang saya selalu rada takut menghadapi alumni-alumni fakultas psikologi, takut-takut pikiran saya bisa dibaca mereka, hahahaha…. .

Lalu kita terlibat perbincangan yang hangat sambil menikmati makanan. Ada beberapa sisi baru yang saya kenal dari seorang Tia malam itu. Desember nanti usianya 26, termasuk muda untuk seorang angkatan 1992.

Anak kedua dari 3 bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik laki-lakinya sedang kuliah di sebuah PTS yang ternama di bilangan Grogol, Jakarta dan terkenal saat-saat perjuangan reformasi mahasiswa medio 1998 lalu.

Dia pernah hampir saja menikah pada awal tahun ini, namun sesuatu terjadi (Tia mengistilahkan dengan something happened in the way to heaven, mirip sama judul lagunya Led Zeppelin 20-an tahun yang lalu), kekasihnya ternyata menikahi wanita lain yang terlanjur dihamilinya.

Tia menyebutkan itulah resikonya pacaran jarak jauh, ternyata seseorang mampu menggantikan tempatnya di hati kekasihnya yang bekerja di kota tersebut. Ah…manusia, cerita tentang kehidupan mereka memang sangat beragam.

“That’s why Rio, ’till now I still can’t trust men”, Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap- kerlip lampu kota Bandung. Dia bilang pria itu seperti kucing, udah disayang-sayang tetap aja nyolong, hahahaha…. lucu juga istilahnya.

Saya cuman bisa membela kaum saya sebisanya. Biar bagaimana pun kayaknya nggak semua cowok itu kayak kucing deh, beberapa diantaranya malah lebih mirip serigala, hahahahaha.. …

Makin lama kita ngobrol, makin banyak sisi-sisi lain yang saya kenal dari seorang Tia. Bahkan sampai sekarang dia masih belum mengerti apa sebenarnya yang ada di otak kekasihnya dahulu saat meninggalkannya, padahal we had a perfect life, katanya.

Saya kira anak psikologi tahu semua jawaban tentang problem pikiran dan perasaan manusia, ternyata nggak juga tuh. Dia bilang sih nggak semua dokter bisa nyembuhin sakitnya sendiri dan nggak semua pilot bisa terbang. Untuk yang terakhir ini dia bisa bikin saya ngakak banget.

“So Rio, why are you still alone ’till now ?”, tiba-tiba Tia mengubah topik pembicaraan. Lho kok… malah ngomongin saya sekarang ?

“Ah nggak ada yang mau sama saya, hehehe…”, jawab saya sekenanya sambil becanda.

“Boong banget, mau tinggi-in mutu yah ?”, todong Tia.

“Hahaha ketahuan deh saya”, jawab saya lagi sambil cengar-cengir.

“Boleh Tia ngomong tentang penilaian Tia ke kamu ?”, katanya tiba-tiba.

“Sok, silakan, mangga….”.

Dan mulailah Tia mengutarakan penilaiannya tentang saya. Yang bikin saya kaget ternyata dia bisa tahu pikiran-pikiran saya yang cuman ada di hati, bahkan tidak ada di otak sekalipun.

Dia bilang kalo dibalik penampilan saya yang selalu tertawa dan becanda melulu, pernah ada sesuatu yang sangat melukai saya di masa lalu, dan itu sangat mungkin berkaitan dengan wanita, mengingat hingga sekarang saya masih sendiri.

Ah….saya jadi teringat masa lalu saya yang berhasil ditebak dengan jitu oleh Tia (katanya semudah membaca buku yang terbuka, sialan…..! !!). Dimana sekarang beradanya si “love of my life” itu, beberapa wanita memang sempat menggantikannya, tapi tidak ada yang benar-benar dapat “menggantikannya” , hehehe….kok jadi sentimentil gini, ini kan CCS. Hahahaha….

Untuk beberapa saat saya terdiam, nggak tahu sebenarnya apa yang saya pikirkan. Apakah pikiran saya lagi ada di masa lalu atau tengah mengagumi sesosok wanita yang duduk tepat dihadapanku. Akhirnya saya hanya melemparkan pandangan menatap gemerlapnya kota Bandung di bawah sana.

…..and baby I…, I’ve tried to forget you

but the light on your eyes still….

shine…., you shine like an angel

spirit that won’t let me go….

Lagu Angel yang dinyanyikan Jon Secada makin menghanyutkan saya dalam lamunan. Sampai akhirnya…, “Bagus yah Rio, pemandangannya. ..”, tegur Tia membuyarkan pikiran kosongku.

“Yup, saya selalu suka city wiew seperti ini”, jawab saya sekenanya, biar nggak dikira ngelamun.

Malam semakin larut ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel. Kita makin dekat satu sama lain, saling curhat selama perjalanan di mobil. Becanda, ketawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah mungkin saya aja yang terlalu terbawa suasana.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kita kembali menginjakkan kaki di lobby hotel. “Rio, mau nemenin ngobrol sebentar nggak ?”, tanya Tia tiba-tiba.

“Boleh aja, emang belum ngantuk?”, tanyaku balik.

“Nggak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia jadi susah tidur.”, katanya memberi reasoning.

Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar Tia yang terletak di lantai 4. Sebuah kamar standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel berbintang. Good enough, daripada kamar kostku, hehehehe….

“Lha kamu sendiri di sini ?”, tanya saya begitu melihat tidak seorang pun di kamarnya.

“Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga”, jelasnya, “Tapi dia langsung pulang Jakarta pake kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada acara apa gitu di keluarganya” .

Kita memasak air dengan menggunakan ketel elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian masing-masing menikmati secangkir coffemix panas. Kursi sengaja kita balikkan menghadap ke jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang telah temaram dan senyap.

Sesekali terlihat mobil melintas dengan kecepatan di atas rata-rata, mungkin karena sudah malam. Begitupun suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari TV yang dihidupkan yang menemani perbincangan kita, menggantikan cahaya lampu yang memang kami padamkan.

Entah mengapa, saya merasa begitu dekat dengan Tia, padahal baru beberapa jam kita berkenalan. Ah sekali lagi, mungkin saya terlalu terbawa suasana….

Namun kali ini ternyata Tia yang duduk di sebelah saya bukanlah seperti Tia yang saya kenal dalam jam-jam terdahulu.

Dalam curhatnya, ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib saya untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain.

Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, saya selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam lingkaran terdekat saya.

Dan kini saya harus menghadapi Tia yang sesekali sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya dan menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu. Love…, look what you have done to her, bastard…!!

Saya bangkit dari duduk dan berjalan perlahan menghampirinya. Saya hanya bisa termangu berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang menyesakkannya selama berbulan-bulan.

Saya mencoba menenangkannya sebisa saya dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.

Setelah beberapa waktu kita membahasnya, Tia terlihat sudah agak tenang. “Thanks Rio, kamu mau jadi tempat sampah Tia”, katanya sambil sedikit tersenyum.

“That what friends are for”, jawab saya singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua daripada saya, hehehe..pamali tau…!!

Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada tepi ranjang sambil meluruskan kaki. Hhmmm..enak juga duduk posisi kayak gini. Tidak berapa lama kemudian Tia menyusul turun dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi lesehan di sampingku.

Kayaknya enak banget lihat gaya kamu, katanya sebelum dia menyusulku duduk di karpet. “Rio, kamu itu aneh yah ?”, tiba-tiba suara Tia menyentakku.

“Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?”, tanya saya asal sambil menirukan sebuah dialog sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu. Hihihihi…. terdengar Tia cekikikan mendengarnya.

“Ya aneh aja, Tia baru kenal kamu hari ini, tapi rasanya Tia udah kenal sama kamu lama banget”, katanya lagi, “Sampai Tia mau curhat sama kamu, padahal Tia paling jarang curhat, apalagi sama orang yang baru kenal”.

“Sama, Aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kita pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah ?”, jawab saya sambil nyengir.

“Ada-ada aja kamu….”, katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kananku. Jujur aja saya cukup terkejut menerima perlakuannya, but santai aja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak ?

Cukup lama kita masing-masing terdiam dalam posisi ini sambil memandang sebagian horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari jendela kamarnya. Sayup-sayup terdengar dari TV rintihan Sinnead O’Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya :

…I can eat my dinner in the fancy restaurant but nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to you…..

Perlahan saya usap rambutnya dan memberanikan diri untuk mengecup keningnya. Tia mendongakkan kepalanya untuk memandangku. Beberapa saat kita saling berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama ini saya cari ?

Mungkinkah saya menemukannya hanya dalam beberapa jam saja setelah sekian lama saya mencarinya entah kemana ? How can I be so sure about that ? dan sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati detik demi detik kami berpandangan.

Yang saya tahu beberapa saat kemudian wajah kita semakin mendekat dan sekilas saya melihat Tia menutup matanya dan pada akhirnya saya kecup lembut bibirnya.

Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan saya raih pinggang Tia dan mendudukkannya dalam pangkuan.

Kini kami semakin dekat karena Tia saya rengkuh dalam pangkuan saya. Saya usap lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia lepaskan.

Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar tarikan nafas Tia yang terdengar begitu lembut. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai menurunkan bibir ke arah lehernya.

“Ugh…”, hanya terdengar lenguhan lembut seorang Tia ketika ia mulai merasakan hangatnya bibir saya menjelajahi lehernya.

Walk In Interview Yang Berujung Ngewe

Tidak ada perlawanan dari aksi yang saya lakukan. Tia justru makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang. Kedua tanggannya meremas seprai tempat tidur sebagai tumpuan.

Saya pun semakin terhanyut terbawa suasana. Saya perlakukan Tia selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan makin menekankan punggungnya ke arah tubuhku.

“Rio…oohh. ..”, lenguh Tia saat dia menyadari terlepasnya satu per satu kancing kemejanya. Ya…saya memang melepaskannya untuk melanjutkan cumbuan saya kepadanya. Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari dada Tia, seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami.

Dengan sekali gerakan, saya dapat menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri dengan Tia dalam gendongan. Tangannya mulai meremasi rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh terhempas ke karpet, menyisakan bagian atas tubuh Tia yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih.

Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai akhirnya saya merebahkannya di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum saya meraih tombol off TV yang terletak di buffet samping ranjang.

Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu. Tia mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing kemejaku hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan saat saya berhasil melepaskan bra-nya.

Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku. She’s different, pikirku. Jujur saja, saya sudah beberapa kali mengalami sexual intercouse, pun dengan orang-orang yang baru saja saya kenal. Namun kali ini terasa berbeda.

Ada perasaan lain yang mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi tidak berarti lagi keberadaannya. Sayang…., yah mungkin inilah yang disebut dengan perasaan sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan keberadaannya.

Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan selembut mungkin. Tia bukan hanya seseorang yang mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she deserves the best…!!

Terdengar lagi lenguhan Tia saat saya mulai mengulum buah dadanya. Kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Mungkin hasrat itu telah memenuhi kepalanya.

Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat terkejut. Saya meneruskan cumbuan saya ke arah perutnya, hingga pada akhirnya berhasil membebaskan celana panjangnya ke karpet.

Sekarang terpampang pemandangan yang tidak mungkin saya lupakan, seorang Tia yang baru saya kenal hari ini, rebah dengan hanya berbalutkan celana dalam. Untuk pertama kalinya saya memandang seorang wanita dalam kondisi seperti ini tidak dengan nafsu yang menguasai.

Begitu terasa bagaimana saya memang menyayangi dan menginginkannya. Matanya yang memandang lembut ke arahku, menghadirkan begitu banyak kedamaian, sesuatu yang terus saya cari selama ini dari diri seorang wanita.

Kini saya mengulum pusarnya, seiring lenguhan-lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan saya mulai menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuh Tia.

Terdengar sedikit nada terkejut Tia saat saya mulai menurunkan centi demi centi celana dalamnya menyusuri kedua kakinya hingga terlepas entah kemana. Seiring itupun, saya mulai menurunkan jilatan ke arah selangkangannya.

“Rio…mau ngapain…, uugghh…”, pertanyaan yang coba diajukan Tia tidak dapat diselesaikannya begitu dirasakannya sebuah jilatan mendarat di organ kewanitaannya.

Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memang saya usahakan selembut mungkin, hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal ini malah justru memicu reaksi Tia semakin terbakar. “Ohhh….Riooo. ..”, lenguhnya panjang diiringi nafasnya yang semakin tidak beraturan.

Hisapan dan jilatan silih berganti saya lakukan dengan penuh kelembutan padanya, hingga pada akhirnya terdengar Tia seperti mendekati puncaknya. “Aaahhh….. .”, jeritnya panjang sambil menghentakkan tubuhnya ke atas saat puncak itu datang melandanya, menggulungnya dalam suatu sensasi keindahan yang sangat melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang kenikmatan yang begitu dalam.

Kini saya memandang wajahnya. Matanya yang terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri dan tangannya yang mencengkram seprai di tepian ranjang dengan kencang serta nafasnya yang tidak beraturan cukup untuk mengekspresikan betapa tingginya Tia terbuai dalam gelombang orgasme yang baru saja dilaluinya.

Saya biarkan Tia meregang dirinya dalam detik demi detik puncak kenikmatan yang baru saja didapatnya untuk menyibukkan diri mencari sebuah benda yang “lubricated with nonoxynol 9, for greater protection” (If you were a great CCS fan, you should know this thing) yang selalu disisipkan di dompetku (my friend said that only bastards always bring this thing around. Yeah…maybe I’m the one of them).

Tia baru membuka matanya ketika dirasakannya sebuah benda menempel lembut pada bibir organ kewanitaannya. Dibukanya matanya memandang lembut ke arah wajahku yang tepat berada di depan wajahnya. “Tia, may I….?”, bisikku sambil mengecup keningnya.

Tia hanya mengedipkan kedua matanya sekali sambil tetap memandangku. That’s enough for me to know the answer of this question.

Perlahan-lahan saya tekan kejantananku menerobos liang kewanitaannya. So gentle and smooth. Terdengar nafas Tia tertahan di tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi mili penetrasi yang dilakukanku terhadapnya, hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh.

Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak, menikmati bersatunya raga (dan hati) kami berdua. Saya kecup bibirnya lembut sebelum mulai melenakannya dalam sebuah persetubuhan yang sangat indah.

Saya masih ingat persis, bagaimana kedua tangan kami saling bergenggaman erat di sisi tepi ranjang saat kami terus bergumul menyatukan hasrat dan raga kami. Betapa lembut buah dadanya menekan dadaku, dan betapa hangat melingkupi kejantananku yang terus memompanya, membawa kami semakin tinggi terbuai kenikmatan duniawi.

Entah berapa lama keadaan ini berlangsung, ketika pada saatnya terdengar Tia mulai mendekati orgasme keduanya. Tangannya merangkul pundakku, mendekap tubuhku erat seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang orgasmenya.

Nafasnya makin memburu, terdengar jelas di telinga kananku. Saya pun meningkatkan kecepatan penetrasi untuk membantunya mendapatkan puncak kedua kalinya.

“Eeegghhh… .Riooo… …aahhh. .”, jerit Tia tertahan mencoba menyebut namaku saat gelombang orgasme keduanya benar-benar datang menggulungnya, menelannya kembali ke dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam.

Saya menghentikan pergumulan kami sejenak, memberinya kesempatan untuk kembali mengatur nafasnya seusai melewati puncaknya yang kedua. Saya hanya memberikan senyuman dan kecupan lembut di keningnya saat pada akhirnya Tia mulai membuka matanya.

“You’re so lovely tonight”, bisikku padanya.

“Rioo…eh.. !!”, teriaknya sedikit terkejut saat tiba-tiba saya menarik kedua tangannya untuk kemudian mendudukkannya dalam pangkuanku. Punggungku bersandar di kepala ranjang, dan wajah kami saling memandang. Kami kembali berciuman.

Perlahan kuangkat tubuhnya, untuk kembali menekankan kejantananku pada liang kewanitaannya. Walaupun kami tengah berciuman, masih sempat kudengar erangan lirihnya saat Tia merasakan bagaimana kejantananku perlahan menikam tubuhnya.

Kali ini kubiarkan Tia memegang kendali. Kubiarkan bagaimana dengan bebasnya Tia memompa diriku. Pundakku dijadikan tumpuan olehnya untuk terus menaik-turunkan tubuhnya di atasku. Saya hanya membantunya dengan meremas buah pinggulnya dan sedikit menaikkan posisi selangkanganku, hingga batangku terasa makin dalam menghujamnya.

Ahh….sungguh suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan bagaimana melihat dirinya terus menyatukan raga kami ke dalam suatu persetubuhan yang sangat intim. Matanya yang terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri dan tubuhnya yang berguncang-guncang. ….Ughh. .., It’s really a loveable thing to see.

Pemandangan yang sangat melenakan ditambah dengan kehangatan yang makin erat menghimpit kejantananku, menit demi menit mulai membuaiku ke dalam sensasi kenikmatan sebuah persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak, menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku. Oh My God, I think I’m gonna cum.., pikirku.

“Riooo….I’ m almost there…”, bisik Tia lirih sambil mempercepat gerakan tubuhnya memompaku.

“Yes…babe, me too…”, jawabku sambil mengecup erat bibirnya.

Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju puncaknya seakan berpacu dengan gelombang menuju puncakku. Goncangan tubuhnya makin terasa mendesak cairan kejantananku untuk keluar, sementara tikaman batangku

semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu orgasme yang hanya tinggal sejengkal dari raihannya.

“Aaahhhh…Riooo. …”, jeritnya lirih memanggil namaku saat ternyata gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya. Saya masih sempat

meneruskan tikaman kejantananku beberapa kali lagi hingga pada

akhirnya…

“Tiaaaa…., I’m cummiiinngg. …!!”, teriakku sambil mendekap erat tubuhnya. Terasa bagaimana derasnya cairanku menyembur keluar.

Fortunately I use condom, masih sempat diriku berpikir di sela-sela gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam suatu sensasi

kenikmatan yang sangat dahsyat.

Dalam beberapa saat ke depan kami hanya mampu berpelukkan erat, untuk kemudian bersisian rebah di ranjang. “Thanks honey, you’re so great…”, bisikku sambil mengecup lembut bibirnya.

“Ahh…Rio.. .”, lirih suaranya terdengar, seakan ingin mengatakan hal yang sama kepadaku

Terlihat bagaimana lengangnya perempatan jalan Tamblong yang memotong Jalan Asia Afrika di bawah sana. Hanya traffic light yang mengerjapkan cahaya kuningnya yang menandakan adanya kehidupan di sana. Sesekali melintas mobil angkutan kota yang beroperasi selama 24 jam menuju terminal Kebon Kelapa.

Kami hanya duduk menatapnya tanpa banyak berkata-kata. Kugenggam erat Tia dalam pangkuanku, menatap kesunyian tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh kami. Terkadang kudengus lembut telinga Tia, yang selalu saja diiringi desahan manjanya.

Ah..betapa romantisnya, memandang cahaya lampu lewat tengah malam tanpa selembar busanapun yang melekat. Tak terasa sudah lebih dari setengah jam kita berdua tertegun memandang jalanan sejak gelombang orgasme tersebut menelan kami berdua dan menenggelamkan hingga ke dasarnya.

“Rio, Tia pengen mandi rasanya”, tiba-tiba suara Tia mengejutkanku.

“Ya udah sana mandi”, jawabku, “Eh pintunya jangan dikunci yah, siapa tau ntar saya mau nyusul”, godaku lagi.

“Huuh…maunya” , sahut Tia manja sambil menjentikkan telunjuknya di hidungku dan kemudian berlalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Selanjutnya saya hanya terdiam, melanjutkan lamunanku sendiri. Mengingat betapa beberapa menit yang lalu saya telah melalui sebuah sexual intercouse yang sangat indah.

Kali ini sungguh berbeda rasanya, lembut dan melenakan. Sungguh jauh lebih indah dibandingkan dengan pengalaman- pengalaman terdahulu, dengan beberapa wanita yang sempat hadir dalam malam-malamku.

Entah mengapa tiba-tiba timbul keinginanku untuk selalu berdekatan dengan Tia. Hanya beberapa menit ia tinggalkan (dan itupun hanya untuk mandi), rasa kehilangan itu sudah hadir dalam benakku.

Tanpa kusadar telah kulangkahkan kakiku ke arah kamar mandi untuk menyusul Tia. Krek…terdengar pelan suara handle pintu kamar mandi yang kuputar. Hmm…ternyata memang Tia tidak menguncinya, wah bandel juga nih anak, pikirku.

Perlahan kubuka pintu untuk kemudian mendapatkan suatu pemandangan yang sangat memukau. Terlihat samar-samar dari belakang bagaimana Tia tengah menikmati pancuran air dari shower yang membilas lembut tubuhnya.

Kaca penutup shower menghalangi pandanganku karena telah tertutup uap dari air hangat yang Tia gunakan. Entah mengapa pemandangan yang tersamar ini membangkitkan kembali gairahku. Terasa bagaimana kejantananku mulai menunjukkan reaksinya.

Perlahan kubuka pintu kaca shower untuk kemudian mendekap tubuh Tia dari belakang. “Hei….!!”, seru Tia terkejut sesaat menyadari ada orang lain yang berada dalam kotak showernya.

“It’s me honey…”, kataku menenangkan sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke arah leher belakangnya.

“Ughh…Rio. ..”, lenguh Tia pendek. Terus kudaratkan ciuman bertubi-tubi ke tubuhnya. Kadang di leher belakangnya, kadang di punggungnya, terkadang pula kulumat bibirnya.

Kami berciuman di tengah derasnya pancuran shower yang membasahi tubuh kami. Ingin sekali rasanya kutikamkan kembali kejantananku dari belakang ke dalam liang kewanitaannya, menikmati sensasi bercinta di sebuah shower yang deras menghujani tubuh kami dengan butiran-butiran air.

Setelah kurasa percumbuan kami cukup untuk kembali membuatnya bergairah, perlahan kutuntun batangku ke dalam vaginanya. Sejenak terasa lembut dan hangat tatkala kejantananku menempel pada bibir liang kewanitaannya, sebelum kuhentakkannya menerobos hingga ke pangkal batangku.

“Arrggghh… …”, jerit Tia tertahan ketika ia mulai merasakan dirinya sesak dipenuhi oleh desakan kejantananku.

Saya mulai memompanya perlahan, keluar dan masuk. Tia membuka kedua kakinya lebar sambil kedua tangannya bertumpu pada kedua keran panas-dingin pada shower.

Kami kembali bercinta, bergumul dalam desakan arus birahi yang memenuhi kepala dan tubuh kita. Kami bersetubuh di bawah siraman kehangatan shower yang terus menghujani tubuh kami tiada henti.

Terdengar sayup-sayup deru nafas Tia diantara derasnya suara air yang tumpah keluar dari shower. Kulingkarkan tangan kananku di leher Tia ketika kudaratkan tangan kiriku untuk mempermainkan puting kanannya, sambil tentunya terus memompanya dari belakang.

Terus kutikamkan batangku ke dalam liang vaginanya tiada henti. Menit demi menit berlalu, mengiringi persetubuhan kami yang sangat indah. Terasa bagaimana semakin ketatnya lubang kewanitaan Tia kian menghimpit kejantananku.

Tiba-tiba kedua tangan Tia menjangkau tangkai shower yang terpaku pada dinding bagian atas kepalanya, mendongakkan kepalanya seraya melenguhkan erangan yang begitu menggairahkan perasaan, “Riooo…. aahhhhh….. “.

Ternyata Tia kembali meraih orgasmenya yang menariknya kembali ke dalam kenikmatan yang bergulung-gulung mendera bathinnya. Kudekap erat tubuhnya, menjaganya dari kelimbungan yang mungkin dapat saja menghempaskannya ke lantai marmer yang kami injak.

Beberapa saat tetap kudekap erat tubuhnya, sampai pada saat akhirnya Tia mulai dapat menggerakkan dirinya sendiri. Kami sejenak bertatapan, perlahan kucium lembut bibirnya. “You’re wonderful, Babe”, pujiku saat dia mulai membuka matanya dan memandang ke arahku.

Tia membalikkan tubuhnya dan memelukku erat. Kucium kembali bibir Tia sambil kuangkat tubuhnya meninggalkan kotak shower tempat kami memadu nafsu. Kurebahkan tubuhnya di lantai marmer kamar mandi dengan perlahan. Kembali kuletakkan kejantananku di bibir kewanitaannya seraya perlahan mendorongnya masuk ke dalam.

Sejenak kulihat Tia mengigit bibirnya sendiri, seakan tengah menikmati sensasi penetrasi batangku ke dalam liang vaginanya. Kembali kupompakan kejantananku ke dalam tubuh Tia, membiarkan tungkainya bersandar di pundakku untuk kemudian membuat kami terbang meraih kenikmatan duniawi dengan lembut dan perlahan.

Terus kusetubuhi tubuh Tia yang tergolek di lantai, mencoba mengimbangi gerakan pinggulnya yang makin menjepit batangku.

“Tia, Rio mau keluar…”, bisikku lirih saat mulai kurasakan sesuatu mendesak keluar dari batang kejantananku, setelah beberapa waktu berlalu.

“Yes Rio, cum to my breast”, sahut Tia sambil mengecup perlahan bibirku sejenak.

Terus kupompakan batang kejantananku untuk mencapai puncak ejakulasiku yang kedua dalam hari ini. Saya mencoba untuk menahannya selama mungkin, namun usahaku tidaklah banyak membawa hasil karena tidak berapa lama kemudian kupastikan bahwa benteng pertahananku tidak akan bertahan lama lagi.

Sempat kuhujamkan beberapa kali lagi kemaluanku dalam liang vaginanya sebelum berteriak keras seraya menarik keluar batangku dan memuntahkan isinya, membajiri seluruh permukaan dada Tia.

“Ahh…I’m cummiiiinggg. ..”, teriakku parau.

“Yes….ehhhmmm. ..”, erang Tia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, karena dirasakannya cairan kejantananku ternyata juga mendarat di wajah dan rambutnya.Cukup lama kuregang diriku dalam orgasme yang sangat dahsyat, dimana Tia ikut membantunya dengan mengurut-urut batang kemaluanku, menghabisi cairan yang mungkin masih tersisa di dalamnya.

Kucium bibirnya dalam sambil mengucapkan terima kasih atas klimaks yang baru saja saya dapatkan, sebelum akhirnya merebahkan diriku di sampingnya.

Saya tersadar dari tidur dengan mendadak. Di sampingku tergolek tubuh Tia yang tidur memunggungiku sambil kupeluk dari belakang. Sejenak kucoba mengingat-ingat apa yang baru saja saya alami. Samar-samar saya mulai mengingat bagaimana sekitar satu setengah jam yang lalu kulalui sebuah klimaks yang dahsyat dalam dekapan Tia di lantai kamar mandi.

Yah kuingat bagaimana kemudian kami saling membersihkan diri, mengeringkannya untuk kemudian menikmati tidur dalam posisi saling berpelukan.

Terasa dinginnya udara AC kamar menjalari tubuhku yang tidak ditutupi selembar kainpun saat kusingkapkan selimut untuk kemudian mencari pakaianku yang berserakan di lantai kamar yang ditutupi karpet bernuansa maroon. Kukecup lembut kening Tia saat telah lengkap saya berpakaian.

Terdengar lirih suara Tia saat dia mulai tersadar sedikit demi sedikit dari tidurnya. Kukecup bibirnya saat dia benar-benar telah membuka matanya, memandangku dengan suatu tatapan yang sangat sulit ditebak artinya. Tatapan sayangkah itu…?

Jam mobilku menunjukkan pukul 05.21 WIB ketika dengan santai kukendarai mini jeep-ku membelah jalan Asia Afrika yang masih lengang sambil mendengarkan musik yang mulai dimainkan radio-radio swasta yang mulai mengudara.

Saya memang harus segera pergi dari sisi Tia, setidaknya untuk hari ini, karena dia akan kembali ke Jakarta dengan rombongannya setelah breakfast nanti. Pasti suatu pemandangan yang tidak lucu jika teman-teman yang menyusul ke kamarnya, menemukan kami sedang tidur berpelukkan tanpa busana sama sekali.

But no business talks allowed, masih terngiang di telingaku perkataan Tia saat kuajak dirinya melewatkan malamnya menikmati suasana Bandung semalam. Yah…semoga memang begitu keadaan selanjutnya.

Terus terang saya paling tidak mau mencampurkan urusan pekerjaan dengan pribadi. Jika saya ditolak untuk pekerjaan, biarkanlah itu karena memang saya tidak cukup qualified untuk diterima, bukan karena saya telah berani “kurang ajar” kepada salah seorang pengujinya (itu pun kalau dia anggap bahwa saya kurang ajar, hehehehe…. ).

Di lain pihak jika saya diterima bekerja, biarlah itu karena memang skill dan capability saya memang dibutuhkan oleh perusahaan, bukan karena saya berhasil menjalin suatu hubungan khusus dengan seorang Tia. Meminjam istilah mbak Sari, mendaki corporate lewat ranjang, hahahaha…. .

Dalam hati saya masih sedikit terbersit harapan untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Masih terasa bagaimana Tia mengecup lembut bibirku saat dia melepasku di pintu kamarnya.

As I said before, everything seems so right when we’re together.

Is she the Miss Right for me after I’ve been looking for all over places ?

Why do I feel that she’s the one, eventhough I have known her only by day.

Biarlah waktu yang menjawabnya, karena orang bijak berkata hanya waktulah yang dapat secara pasti menentukan apa yang akan kita jalani di masa depan, sepasti sinar matahari yang selalu menyapa penduduk bumi setiap pagi.

Seperti saat ini, dimana sinar matahari yang pertama jatuh menemani perjalananku menembus lengangnya jalanan kota ini..

Demikian artikel tentang cerita Hokinya Diriku Mau Interview Kerja Eh Malah Dapat Cicip Meki Gratis HRD Murahan Atas Bawah Montok.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Teman Kantor Yang Bispak Ku Jadikan Tempat Penampungan Sperma Dari Rudalku Yang Perkasa.

Teman Kantor Yang Bispak Ku Jadikan Tempat Penampungan Sperma Dari Rudalku Yang Perkasa.Aku bekerja di perusahaan keuangan Jln. Jendral Sudirman, Jakarta. Posisiku lumayan bagus. Usia 30 tahun, dengan tinggi badan 175 cm dan berat 69 kg. Pengalaman ini terjadi seminggu yang lalu.

Waktu itu baru jam 7 malam. Aku sudah mau pulang karena ada janji dengan teman di Cinere. Ketika lewat front office kulihat Sasa sedang berbenah mau pulang juga. Ketika kutanya ternyata dia mau ke kawannya di Lebak Bulus.

Jadi satu jalan. Kebetulan Sasa tidak bawa mobil sendiri. Kutawari untuk pulang bareng dan Sasa oke. Daripada kehujanan, katanya. Lumayan ada teman ngobrol di jalan.

Dalam bekerja Sasa masuk dalam supervisiku. Kuakui dia sangat cantik. Berdarah Arab (Yaman kata dia), langsing, tinggi sekitar 165-170 cm dan kulitnya putih. Rambutnya berombak agak pirang (asli, bukan karena dicat) dan bibirnya sangat sensual.

“Dingin Sa?”, tanyaku ketika sampai di sekitar Blok A.

Memang kurasakan mobilku dingin sekali AC-nya. Padahal sudah kusetel minimal. Mungkin karena hujan meskipun tidak deras. Dan penyakit di selatan Jakarta, kalau hujan macetnya minta ampun. Jam sudah menunjukkan pukul 8.15.

“Iya Pak. Dingin banget”, katanya sambil mendekap tangannya ke dada.

“Kalau di luar gini jangan panggil Pak. Nama saja”, kataku.

“Ya Pak”.

Hujan makin deras. Jalanan makin macet. Jam 9 kami masih berkutat di Blok A.

“Aku laper Sa”.

“Sama. Aku juga dari tadi”.

Kami tertawa bareng. Perut kosong, badan menggigil. Bayangin. Kami ngobrol apa saja tentang kantor, teman-temannya, keluarga sampai keinginannya untuk dapat cowok non arab.

Kulirik Sasa sedang menggosok-gosok tangan kanannya ke hand rem. Mungkin biar hangat. Dengan tangan kiri kupegang tangannya.

“Tanganmu dingin banget”.

“Dari tadi”.

“Aku juga kan?”.

“He eh”, sahutnya tanpa mencoba melepas tangannya dari remasanku. Hujan tetap lebat. Praktis mobilku berhenti seperti yang lain. Macet.

Dalam diam saya remas-remas tangannya. Sasa diam saja. Bahkan juga mulai ikut meremas.

“Lumayan. Agak hangat”, kataku.

“He eh”, jawabnya sambil senyum.

Kulirik Sasa memakai rok mini. Paha putihnya kelihatan meskipun agak gelap. Kubawa tanganku ke pahanya. Sasa juga diam. Dilepaskan tangannya agar tanganku leluasa meraba pahanya. Halus, haluus sekali pahanya.

Kuusap-usap naik turun. Perlahan tapi pasti aku mulai menyentuh celana dalamnya. Dari ujung dengkul, dengan gerak mengambang kuusap sampai menyentuh celana dalamnya. Berulang-ulang, Hmm.., lenguhnya.

“Makin hangat sa”, bisikku.

Sasa diam saja. Kulirik dia memejamkan matanya. Tangannya memegang tanganku di diusap-usapkan ke celana dalamnya. Kini Sasa yang mengendalikan tanganku. Kurasakan mulai basah.

Tanpa sadar kulihat sudah lewat Golden Trully. Kutarik tangan Sasa, kubawa ke penisku yang sejak tadi menegang tapi masih rapi tertutup celanaku. Sasa mengerti. Dia remas-remas penisku. Lama kami saling mengelus, mengusap dan meremas barang maing-masing. Aku juga merasa sudah mulai basah.

Kami sudah sampai perempatan Lebak Bulus. Arah Cinere masih macet. Kanan arah Pondok Indah kosong. Jam sudah jam 11.

“Aku laper”, bisikku di telinga sambil menjilat belakang telinganya.

“Cepet mampir. Bisa pingsan aku. Laparr..”, bisiknya.

Sasa tetap memejamkan matanya. Tanganku terus aktif bergerilya. Perlahan kutarik pelan rambut vaginanya dari arah samping celana dalamnya. Sasa terus melenguh. Pahanya makin panas. Tangannya makin aktif mengelus-elus penisku dari luar.

Aku ambil kanan. Lalu menyusuri jalur paling kiri. Sementara kegiatan dihentikan. Sekarang cari makan. Kulihat bangunan berpagar bambu gelap. Jalannya turun. Mungkin hotel. Kita bisa makan.

“Kiri ya?, Mungkin kita bisa makan di resto-nya”, bisikku.

“Itu restoran?”, tanya Sasa.

“Nggak tahu. Kalo resto ya syukur, kalau hotel kita bisa makan di restonya”, jawabku sejujurnya. Sejujurnya, waktu itu aku belum tahu sama sekali tempat itu.

Aku belok kiri. Lalu ada orang berlari-lari memakai payung menyambut dan memberi kode untuk mengikutinya. Dia menunjuk suatu tempat seperti garasi dan mempersilakan mobilku masuk garasi itu. Aku masuk. Lalu pintu garasi ditutup.

Aku memandang bingung ke arah Sasa. Dia mengangkat bahunya tanda bingung atau tidak tahu juga. Aku lalu turun. Sasa masih di dalam. Kuikuti petugas yang masuk pintu di garasi. Ternyata kamar tidur.

Sebuah spring bed besar di tengah. Dua tempat duduk dan satu meja kaca. Dindingnya tertempel kaca besar. Kamar mandi ada di dalam tapi pakai shower.

Ooo.., Ternyata ini hotel atau motel garasi yang diceritakan teman-temanku. Setelah membayar kamar dan pesanan makanan, petugas keluar. Aku mengikuti.

“Turun yuk”, kataku kepada Sasa.

Sasa turun. Kugandeng dia masuk kamar. Lalu kukunci. Sasa tertegun. Aku lalu berdiri di depannya. Memandangnya. Sasa lalu memandangku. Agak lama. Entah bagaimana kami lalu saling menubruk. Kucium Sasa sampai terengah-engah.

Kujilati bibirnya sambil berdiri. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya. Sasa tak kalah garang. Dia memelukku erat-erat dan membalas ciuman buasku. Tangan kiriku menyusup ke blusnya. Tangan kanan menyususp ke celana dalam bagian belakang mengusap-usap pantatnya.

Kuciumi Sasa dengan buas. Bibir sensualnya kulumat habis. Lidahku meliuk-liuk dalam mulutnya dan disambut dengan kelincahan lidahnya. Lalu turun ke leher. Kujilati lehernya. Sasa memejamkan matanya terus menikmati rangsanganku. Tangannya terus mengusap-usap penisku yang masih rapi dalam sarangnya.

Pintu diketuk dari luar. Otomatis kami menghentikan aktifitas yang menggairahkan ini.

“Aku ke kamar mandi dulu”, bisiknya, aku mengangguk.

Makanan kutarik di meja. Kutuang coca-cola dalam gelas yang telah berisi es. Kuteguk. Hmm.., segar. Kudengar suara shower di kamar mandi. Rupanya Sasa mandi. Pantas lama. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi.

Gila!, Gila!, Belum pernah kulihat pemandangan seindah dan seeksotik ini. Menggairahkan, menakjubkan. Aku bengong, terpana, terpesona.

Kamar mandi remang. Hanya cahaya lampu 5 watt yang menerangi. Sasa sedang mandi di bawah pancuran shower. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat sempurna. Putih dan mulus tubuhnya yang tersiram air bagai di gambar-gambar playboy.

Tinggi, kakinya panjang dan jenjang, pinggangnya kecil, tapi pinggulnya cukup besar. Sangat sempurna. Sasa sedang menggosok lehernya dengan sabun sambil memejamkan matanya.

“Tolong matikan AC kamar. Agar nggak kedinginan kalau keluar”, katanya.

Aku terjaga dari lamunanku. Cepat aku keluar. Memang dingin sekali. AC tidak kumatikan tapi kusetel menjadi 35. Biar hangat. Lalu aku ke kamar mandi.

“Jangan bengong. Mandi sekalian.”, katanya waktu aku bengong lagi, aku segera melepas dan celanaku.

Airnya hangat. Pantas Sasa berlama-lama setelah kedinginan di mobil tadi. Setelah badanku basah tersiram air, Sasa menyabuni seluruh tubuhku dengan pelan dan lembut. Mula-mula tanganku, lalu dada dan perut. Disuruhnya aku berbalik dan kemudian punggungku.

Sasa jongkok. Disabuninya kakiku, lalu naik ke paha. Aku memejamkan mata. Kurasakan seluruh elusan dan usapan tangan lembutnya ke seluruh tubuhnya. Akhirnya Sasa memegang penisku dan dielusnya pelan-pelan. Licin dengan sabun, kemudian ditarik dan lepaskan tangannya dari penisku.

Kini giliranku. Kuambil sabun dari tangan Sasa. Mula-mula kuusap kedua tangannya. Lalu perutnya. Naik, kedua dadanya kusabuni dengan lembut. Kenyal. Putingnya mencuat ke atas. Tangan kiriku ke dada kanan dan tangan kananku ke dada kirinya.

Berulang-ulang. Sasa memejamkan matanya sambil mendesah. Aku lalu jongkok. Kuusap kaki dan betis indahnya. Pelan. Kunikmati keindahan ini. Lalu naik ke pahanya. Agak direnggangkan agar tanganku bisa menyusup ke celah pahanya. Lalu naik sampai akhirnya kusabun rambut-rambut vaginanya. Agak lama kuusap vaginanya.

“Sudah.sudah..”, lenguhnya.

Aku berdiri. Kupeluk Sasa. Licin tapi nikmat. Tubuh kami bersatu. Kuciumi mulutnya sampai Sasa terengah-engah. Tubuh kami terus bergerak mencari kenikmatan. Tanganku mengusap pantat, paha dan kedua dadanya.

Tangan Sasa juga terus menggerayangi tubuhku. Dari usapan di punggung, pantat dan akhirnya bermuara ke penisku. Dikocok-kocoknya penisku. Aku merasa nikmat. Belum pernah kualami pengalaman sedahsyat ini.

Sasa mundur dan bersandar di dinding. Kaki direnggangkan. Tangannya terus memegang penisku. Sabun makin cair tapi masih tetap licin. Perlahan mulai kutusukkan penisku ke vagina Sasa. Sasa mengerti. Direnggangkan lagi kakinya.

Dibimbingnya penisku ke vaginanya. Dan ahh.., aku mulai masuk. Mula-mula perlahan. Makin lama makin cepat. Tangan Sasa memeluk kedua pantatku ikut menekan. Nikmat sekali. Badan masih licin. Terus kuayun pantatku dan penisku menghujani vagina Sasa berulang-ulang.

Tak lama, Sasa tak tahan lagi. Dipeluknya aku erat-erat. Sasa telah sampai duluan. Penisku makin kencang menancap. Kuayun lagi pelan. Makin lama makin cepat.

“Ah.., ah.., terus Pak.., terus..”, lenguhnya. Pinggulnya terus bergerak mengimbangi tusukanku. Kami terus berpelukan erat sekali. Mulutnya terus kucium. Bibir sensualnya terlalu sayang untuk dilewatkan.

Kucabut penisku. Kuhadapkan Sasa ke dinding. Aku ingin doggy style. Sasa lalu nungging. Pantatnya masih licin oleh sabun. Kuusap-usap. Jari tengahku mulai memainkan vaginanya. Sasa melenguh. Kumainkan klitorisnya. Kuusap, kupelintir, kusodok. Sasa makin menggelinjang. “Sekarang.., sekarang..”, desahnya.

Dipegangnya penisku. Dan dibimbingnya masuk ke dalam vaginanya. Aku memejamkan mata. Kutusukkan pelan penisku. Kucondongkan badanku, bersatu dengan punggungnya. Licin. Enak sekali. Tanganku meraih kedua dadanya.

Kuusap-usap. Licin nikmat sekali. Berulang-ulang sambil menusuk penisku ke vagina Sasa. Aku lalu menegakkan badanku. Kupegang sisi pinggulnya. Aku mulai mempercepat ayunan. Sasa menggoyang-goyang pinggulnya. Aku tarik, Sasa juga ikut menarik pinggulnya. Aku tusuk sekuatnya, Sasa pun mengimbanginya. “Clep.., clep.., clep”.

Akhirnya aku mau keluar. Gerakan makin kupercepat. Jeritan Sasa makin keras.

“Di dalam atau di luar Sa..”, bisikku sambil terengah-engah.

“Di luar saja”, sahutnya.

Sasa tetap nungging. Pinggulnya makin liar. Aku makin tak tahan. Dan.., kucabut penisku dari lubang kemaluan Sasa.

“Sekarang Sa..”, kataku sambil memejamkan mata.

Sasa balik badan lalu jongkok dan mengocok penisku. “Ahh.., “cret.., cret.., cret”, maniku muncrat ke wajah dan badan Sasa. Banyak sekali. Sasa terus meremas penisku sampai tetesan terakhir maniku.

Sasa meratakan spermaku ke dadanya, perut dan mengusapkan ke wajahnya. Baru kemudian dibasuh dengan air shower. Aku membantunya menggosok tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang masih menempel. Tapi tetap saja, yang lama kugosok buah dadanya yang ranum itu. Putingnya kuhisap-hisap, kumainkan dengan lidahku.

“Entar lagi”, bisiknya.

“Nggak usah pakai handuk Sa..”, kataku ketika Sasa mau keluar menuju tempat tidur.

Sasa tersenyum. Dia keluar telanjang. Aku mengikuti. Sasa langsung ke tempat tidur. Hawa sudah hangat.

“Lapar?”, tanyaku.

“Sangat”.

Sasa duduk selonjor bersandar ke belakang. Sasa duduk di atasku. Vaginanya menempel erat di penisku. Sepiring mie goreng di tengah, kita makan berdua. Kami makan lahap. Cepat tandas. Aku raih nasi goreng dan kita makan bersama. Sambil makan, Sasa menggerak-gerakkan pantatnya. Penisku yang terjepit mulai mengeras.

“Sakit Sa..”, bisikku.

“Sebentar.., tolong pegang piringnya”, ujarnya sambil mengangkat pantatnya kemudian memegang penisku yang sudah siap tempur. Perlahan dimasukkan ke vaginanya. “Bless”.

“Nggak sakit kan?”, katanya sambil duduk.

Piring yang aku pegang diminta lagi. Gila, kita lalu makan sambil penisku menancap di vaginanya. Sasa menggerak-gerakkan pinggulnya sambil makan. Akhirnya habis juga sepiring nasi goreng.

Kuambil coca-cola dingin. Segar..

“Siap?”, tanyanya.

“Ntar dulu, biar turun nasinya”, kataku.

Aku raih Sasa, kupeluk dan kutidurkan di atasku. Penisku tetap menancap di vaginanya. Karena Sasa tingginya tidak beda jauh denganku, maka wajah Sasa tepat di wajahku. Kami diam menikmati barang kita yang sedang bersatu. Agak lama kita diam. Tanganku memeluk erat punggungnya.

Ruangan makin hangat. Bahkan cenderung panas. Kami mulai berkeringat. Wangi tubuh Sasa menyapu hidungku.

“Mau didinginkan AC-nya?”, tanyaku.

“Dikit aja. Panas makin asyik. Makin berkeringat..”, ujarnya.

Sasa menggulingkan tubuhnya telentang di sampingku. Clepp.., bunyi ketika penisku tercabut dari vagina Sasa. Aku berbalik memandang Sasa. Kucium bibir Sasa dalam-dalam. Sasa menyambut dengan menyedot dalam-dalam bibirku. Disedotnya pula lidahku.

Lalu turun ke leher dan akhirnya kuhisap-hisap puting susunya yang menantang. Sasa melenguh-lenguh. Tangannya memeluk kepalaku, mengusap-usap dan menekan agar aku lebih mengulum dadanya. Capek. Kucium ganas mulutnya. Tanganku meraba-raba pahanya.

Lalu mengusap-usap rambut kemaluannya, berulang-ulang. Jari tengahku lalu memasuki vaginanya. Kumasukkan perlahan-lahan. Keluar masuk. Kepala Sasa bergerak tak beraturan ke kiri, kanan, kadang maju, mundur. Kayaknya mulai on lagi. Aku pindah lagi.

Kujilati putingnya dengan lidahku. Kupuntir-puntir, kusentuh-sentuh dengan ujung lidah. Lalu kuhisap dan kukunyah. Berulang-ulang. Matanya terpejam menikmati permainanku. Bibirnya kulihat meringis menahan nikmat. Jari tengahku menemukan klitorisnya.

Kumainkan. Kutekan, kugelitik dan kutangkap dengan jempolku lalu kupencet pelan-pelan. Sasa makin menggelinjang. Keringat mengucur di wajah dan lehernya. aakkhh.., Sasa menjerit dan menegang. Tanganku terjepit pahanya. Sejenak Sasa terdiam.

“Gile.., bener..”, desahnya sambil memandangku.

Aku turun dari tempat tidur. Kusetel AC menjadi 28. Hembusan hawa agak dingin mulai menyapu ruangan. Lampu utama kumatikan. Juga lampu dekat kamar mandi. Pintu kamar mandi kututup agar cahayanya tidak masuk. Yang menyala hanya lampu kecil di kedua sisi atas tempat tidur.

Aku berdiri di samping tempat tidur. Kupandangi Sasa yang bugil tanpa selimut. Indah, sempurna. Berkulit putih bersih tanpa ada cacat atau bekas goresan dan luka setitik pun. Kedua tangannya ditarik ke belakang kepala. Rambutnya tergerai di kedua sisi bantal. Matanya terpejam seperti menikmati orgasme yang baru kuberikan.

Dadanya menantang. Putingnya mencuat. Wajah, leher dan dadanya basah oleh keringat. Seksi sekali. Kulayangkan pandangan ke bawah. Perutnya rata, tanpa lekukan lemak. Pinggangnya kecil. Pinggulnya seakan selalu siap ditempel.

Rambut-rambut vaginanya sebagian menyeruak ke atas. Pahanya juga kecil, panjang, seperti jangkrik. Betisnya panjang. Mulus sekali. Ramping. Jari-jari kakinya lentik. Indah. Jagat Dewa Batara! Mimpi apa aku semalam! Aku menelan ludah. Tanpa sadar aku mengelus-elus penisku.

“Jangan onani sendiri.., naik”, kata lirih Sasa mengagetkanku.

Matanya masih terpejam. Sasa menggeliat. Dadanya dinaikkan. Duhai.., indahnya. Putingnya mencuat. Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya ditekuk sedikit. Mulus sekali..

Kurebahkan badanku di samping Sasa. Kumiringkan badanku. Kupeluk Sasa dari samping. Sasa tetap diam. Matanya terpejam. Nafasnya agak cepat tapi teratur. Kaki kananku di atas pahanya. Lututku tepat berada di tulang vaginanya. Kugerak-gerakkan mengusap rambut kemaluannya.

Penisku menempel erat pinggul sampingnya. Tanganku mengusap-usap payudara kirinya.

“Giliranku..”, ujar Sasa langsung bangun dan duduk bersila di sampingku. Dipandanginya tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sasa tersenyum. Dibasahinya bibirnya dengan lidahnya.

Tanpa basa basi, langsung dipegangnya penisku dengan tangan kirinya. Uff.., Aku memejamkan mata. Dipermainkan di penisku. Dicengkeram kuat, lalu dilepas. Cengkeram lagi, lepas lagi. Senut-senut rasanya.

Jempol jarinya lalu mengusap-usap topi baja penisku. Aku merasa melayang. Apalagi kalau jarinya tepat menyentuh ujung penisku. Uuuff.., rasanya tak tergambarkan.

Dengan ganas Sasa lalu menyerbu mulutku. Dilumat dan dihisapnya bibirku hingga aku sesak nafas. Rambutnya yang agak pirang tergerai menerpa wajahku. Mulut Sasa terus menerobos mulutku, dan lidahku menyusup masuk ke mulutku.

Bagai ular, kurasakan mulut itu menari-nari, mematuk-matuk lidahku. Mulut Sasa menyerbu mulutku yang kubuka dan menghisap lidahku dalam-dalam. Dimainkan lidahku di mulutnya, dikeluarkan sedikit, dan dihisapnya lagi. Nikmat sekali.

Tangan Sasa tak kalah aktif. Dikocoknya penisku dari lembut, makin cepat, cepat dan lembut lagi. Permainan ini kunikmati sambil memejamkan mata. Aku merasa di awang-awang. Tanganku menemukan payudaranya, dan kuremas-remas. Kenyal dan nikmat sekali untuk diremas. Jariku memainkan putingnya dan memang menonjol karena terangsang.

Sasa melepas ciumannya dari bibirku dan mulai menciumi wajahku. Dari dahi, kelopak mata, pipi, lalu turun ke leher dan telinga. Dihisapnya telingaku bergantian. Ini membuatku geli namun mm.., nikmat sekali.

Sasa mulai menciumi dadaku. Sampai di puting, dimainkan lidahnya di putingku. Bergantian. Rasanya tak tertahankan. Dihisapnya putingku, dan di dalam mulutnya, putingku dipelintir dengan lidahnya. Aakkhh..

Sasa kemudian merubah posisi. Tangannya tidak lepas dari penisku. Sasa melangkahi aku, dan dengan perlahan Sasa hendak mendudukiku. Dibimbingnya penisku untuk memasuki lubangnya. Dan uuff.., bless.., penisku masuk ke lubangnya. Clep..!, Sasa langsung duduk dengan mantap. Penisku tenggelam di vagina Sasa.

Aku membuka mataku. Sasa tersenyum manis. Dadanya yang indah dengan puting yang menonjol tergantung dengan manisnya. Tanganku tak kuasa untuk tidak meraihnya. Kuusap pelan payudaranya. Juga putingnya.

“Kamu cantik dan seksi sekali Fa..”, kataku tulus dan pelan.

Sasa mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar. Aku masih diam. Tapi kedua tanganku mengelus-elus kedua dadanya.

Sasa mulai menggerakkan pinggulnya makin cepat. Aku mulai menaik-turunkan pantatku. Nikmat sekali. Tangan Sasa mendekap tanganku di dadanya. Menekan agak keras. Aku makin mengeraskan cengkeramanku pada dadanya. Kuremas keras. Sasa makin gila. Pinggulnya berputar hebat. Erangan Sasa makin keras.

“Akkhh.., aakhh.., tusuk lebih keras..”, erangnya.

Aku makin ganas menembak Sasa. Untung spring bednya bagus, bisa memantul. Makin keras aku menyodok, makin keras desahan dan erangan Sasa. Dan aakkhh.., Sasa mengerang panjang, menggelinjang, lalu diam. Sasa lalu rebah ke atasku. Kupeluk erat tubuhnya. Ternyata Sasa mengalami orgasme.

Penisku masih tegak dan keras dalam vagina Sasa. Aku mulai menggerakkan perlahan. Sasa duduk lagi. Kali ini Sasa mengambil posisi jongkok. Mulanya diangkatnya pantatnya pelan, lalu dimasukkan lagi pelan. Makin lama makin cepat. Aku juga makin cepat, makin keras dan makin dalam menusuk Sasa.

Gila!, Bagai naik kuda, Sasa menghunjamkan vaginanya ke batangku di bawahnya. Sasa mulai mengerang lagi. Dengan binal Sasa menaik-turunkan pantatnya dan kuserbu vaginanya dengan penisku.

“Akkhh.., akhh..”, Sasa terus mengerang.

Ketika pantat Sasa meluncur ke bawah, dengan kekuatan penuh aku naikkan pantatku. Kusambut vaginanya dengan penis perkasaku. Aku tak tahu lagi rasa nikmat apa ini. Berulang-ulang kami mereguk kenikmatan. Mata Sasa terpejam. Kepalanya tengadah ke atas bergoyang-goyang. Seksi sekali. Keringat deras mengucur dari wajah dan lehernya yang putih bersih.

Aku merasa hampir sampai. Kupercepat tusukanku. Akkhh.., akh.., akhh.., cepat.., cepat. Sasa juga makin liar. Gerakannya makin tak beraturan.

“Aku mau keluar Sa..”, bisikku pada Sasa, Sasa diam saja. Terus saja dia menggoyangku. Dan akkh.., Sasa menjerit lagi. Kejang. Menggelinjang lagi. Orgasme lagi dia! Kurasakan jepitan Sasa makin kencang.

“Sa.., di dalam atau di luar..?”, tanyaku sambil ngos-ngosan karena terus menggoyang Sasa.

Sasa kemudian mencabut vaginanya dari penisku. Dikocoknya penisku cepat. Akkhh.., makin cepat Sasa mengocoknya, berulang-ulang. Tapi belum juga keluar.

“Kulum Sa”, pintaku.

“Aku belum pernah”, jawabnya sambil terus mengocok.

Namun Sasa kemudian menunduk dan memasukkan penisku ke mulutnya. Tangannya tetap mengocok. Sasa tidak memainkan lidahnya atau mengemut-emut penisku. Mungkin masih janggal. Aku yang mulai. Kunaik turunku pantatku. Penisku keluar masuk mulut Sasa yang terus mengocok.

Dan, akkhh.., akkhh.., eemm.., berkali-kali spermaku muncrat dalam mulut Sasa. Namun Sasa tetap saja mengocok. Aku merasa diperas sampai habis spermaku. Agak lama penisku dalam mulut Sasa. Ketika sudah loyo, Sasa mengeluarkan penisku.

Diambilnya tissu dan disekanya bibirnya. Dikeluarkannya spermaku dari mulutnya dan diseka dengan tissu berikutnya. Kemudian Sasa mengambil coca cola, berkumur dan ditelan.

Kupandangi Sasa yang luar biasa dengan perasaan kagum. Sasa tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Kami masih telanjang. Kutarik selimut. Kupeluk Sasa erat-erat. Kami lalu bobok.

Paginya kami bercinta lagi di kamar mandi. Sungguh beruntung sekali. Tak terduga. Tak dinyana. Gadis secantik Sasa bisa kusetubuhi berulang kali tanpa rencana.

Siang di kantor, ada email dari Sasa, “Pak, nanti sore kalau boleh Sasa ikut lagi. Mobil Sasa belum selesai”.

Demikian artikel tentang cerita Teman Kantor Yang Bispak Ku Jadikan Tempat Penampungan Sperma Dari Rudalku Yang Perkasa
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Lobang Memek Linda Si Manager Seksi Ku Jadikan Tempat Buang Sperma. 

Menikmati Tubuh Linda Sang Manager

Lobang Memek Linda Si Manager Seksi Ku Jadikan Tempat Buang Sperma. Perkenalkan namaku Roni (samaran). Aku adalah seorang WNI Keturunan yang berdomisili di kota D di pulau B. Umurku 30 tahun. Saat ini aku sudah mempunyai seorang istri tapi belum dikaruniai seorang anak.

Aku dulu sangat suka bercinta dengan perempuan, tapi hanya terbatas pada orang yang aku kenal. Dan hanya hubungan ONE NIGHT STAND, alias cinta semalam. Salah satu pengalamanku ingin kubagikan pada para penggemar situs lensa69. Dan kisah ini benar-benar aku alami. Akan aku coba menceritakannya.

Cerita ini dimulai dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 2017. Waktu itu aku baru berumur 25 tahun. Karena alasan untuk mengisi kekosongan di cabang perusahaan, aku dipindah tugaskan.

Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan garment terbesar di Indonesia. Dan tugasku adalah sebagai marketing yang tugasnya mengorder atau menawarkan barang baru ke toko-toko besar maupun kecil termasuk departement store seperti Matahari, dll.

Suatu hari aku menawarkan order ke sebuah dept store yang cukup populer di kota D tersebut. Untuk menemui bagian pembelian aku harus melewati bagian resepsionist terlebih dahulu. Pada hari itu aku terkejut karena yang menjaga bagian tersebut tidak kukenal (karena biasanya adalah orang lain).

Orangnya cantik, berwajah oval, manis, berkulit kuning langsat dan sangat mulus. Bodinya yang sangat bahenol, pinggang yang ramping, berpantat besar, dengan payudara berukuran kira-kira 36C. Berambut hitam panjang. Siapapun lelaki yang melihatnya pasti(aku jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yang tinggi dan sangat memikat itu.

“Selamat siang”, sapaku.

“Oh ya, selamat siang,” jawabnya dengan suara yang halus.

“Saya ingin bertemu dengan Bapak Andrie di bagian pembelian,”

Kataku selanjutnya sambil mataku memandang tanpa berkedip ke wajah cantik dan dadanya, kebetulan waktu itu dia memakai blazer dengan kaus dalam yang berleher sangat rendah sehingga saya bisa melihat belahan payudaranya yang besar itu.

“Baik tunggu sebentar,” jawabnya sambil tersenyum manis, kemudian dia menelepon bagian pembelian.

Sambil menunggu itu tidak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Sementara dia, sepertinya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sambil menulis sesuatu di buku di hadapannya. Tak lama kemudian telepon berdering dan aku dipersilahkan masuk.

Setelah selesai urusan tersebut, aku keluar melewati meja resepsionist, dan kulihat cewek (sebut saja Ayu) seperti biasa menjaga meja tersebut.

“Hallo Yu,” sapaku.

“Eh, Pak Roni, dari tadi, Pak?” sahutnya.

“Iya. Ini sudah selesai order. Eh Yu, tadi yang jaga meja ini siapa sih?” tanyaku langsung.

Kami sudah cukup akrab karena keseringanku ke tempat ini.

“Oh, itu tadi Ibu Linda, Pak, Manager Marketing yang baru, kenapa sih? Kok nanya-nanya?” tanyanya sambil tersenyum.

Belum sempat kujawab, Si Cantik Linda muncul. Aku jadi sedikit salah tingkah. Apalagi..

“Bu, ini lho ditanyain sama Pak Roni,” Ayu langsung nyerocos sampai wajahku terasa panas.

Singkat cerita kami berkenalan dan saling memanggil nama karena kemudian kuketahui umurnya hanya terpaut setahun lebih tua dariku dan sudah menikah dengan orang yang usianya terpaut jauh darinya.

Ayu sempat mengatakan kalau Linda baru saja berulang tahun. Dan sambil bercanda aku mengatakan kalau aku mau diajak makan-makan. Dan dia menyanggupinya.

Pertemuan kami selanjutnya hanya di sekitar pekerjaan dan ngobrol masalah-masalah ringan. Suatu hari, saat suaminya berdinas di Jakarta, aku diundang ke rumahnya. Setelah aku tanya alamatnya, malam harinya aku datang ke rumahnya.

Aku disambutnya dengan memakai baju kaus tipis tanpa lengan dan celana yang super pendek, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, apalagi belahan pantat di bawah celananya makin merangsangku.

Kaget juga melihat penampilannya yang seseksi itu, walaupun dia terlihat memakai BH, tak urung membuat nafsu dan adik kecilku merinding. Di rumahnya saat itu hanya dia sendiri ditemani pembantunya yang lebih sering berada di dapur seperti saat itu.

Setelah sekian menit mengobrol, kami mulai saling mendekatkan diri. Sampai dadanya yang besar dan kenyal itu menyentuh dadaku. Dan mulai berpelukan dan saling mencium pipi, kemudian aku lanjutkan dengan mencium lehernya.

“Kamu ternyata nakal juga ya, Ron,” katanya sambil tertawa kecil saat saya ciumi leher jenjangnya.

“Habis kamu sangat menggairahkan dan menggemaskan,” jawabku sambil melancarkan serangan.

Aku berusaha menembus daerah dadanya, tapi ditepisnya. Dan katanya jangan nanti nggak enak, kan dia sudah menikah. Jadinya aku harus menahan nafsuku malam itu walaupun pada saat penisku sudah sangat keras aku sempat menggesek-gesekkan ke perutnya sambil kami berdiri berpelukan.

Malam itu aku pulang dengan hampa dan menahan gejolak nafsuku. Sesampainya aku di rumah, aku langsung bermasturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengannya.

Sejak hari itu, bila bertemu sikap kami biasa saja, hanya saling menyapa, bahkan kurasakan dia agak menjauhiku. Dan hal ini berlangsung cukup lama sampai kira-kira delapan bulan lamanya.

Aku sudah hampir melupakan niatku untuk bercinta dengannya sampai suatu saat ada berita di pagerku (saat itu aku belum punya Hp) berupa undangan ke rumahnya untuk menepati janjinya waktu itu dia mengajakku makan merayakan ulang tahunnya. Aku telepon dia dan membuat janji (waktu itu suaminya bertugas ke luar kota).

Malam itu pkl.10.00 aku datang ke rumahnya. Kembali aku disambut dengan pakaian yang menggairahkan berupa kaus tipis tanpa lengan dan rok pendek yang memperlihatkan cetakan pantat dan celana dalamnya. Dari pengalamanku yang lalu aku tidak ingin ceroboh lagi.

“Kok sepi-sepi saja, Lin? Suamimu berapa hari tugas ke Jakarta?” tanyaku setelah beberapa lama berbasa-basi.

“Empat hari. Eh, mau minum, Ron?”tanyanya.

“Boleh,” jawabku.

“Aku tadi dapat pinjaman VCD dari temanku di kantor, dan aku belum nonton. Kamu sudah pernah nonton nggak?”

Tanyanya sambil meletakkan minuman dan kemudian melangkah ke almari dekat kursi tamu.

“Mana sih, aku lihat dulu judulnya,” jawabku.

Setelah diserahkannya, aku teliti ketiga VCD tersebut, dan aku agak terkejut karena salah satunya merupakan film mandarin yang XX alias semi.

“Yang dua sudah nonton sih, juga yang mandarin ini, Cuma waktu itu belum selesai. Kamu pengen nonton yang mana? Kalau aku yang mandarin ini aja,” jawabku sambil berpikir untuk mencumbunya.

“Boleh aja, tapi VCD playernya ada di kamarku,”jawabnya.

Pikirku, wah kesempatan, nih. “Gak apa-apa kan, emangnya nggak boleh?” tanyaku memancing.

“Boleh sih, yuk, kita ke kamarku,” jawabnya sambil ngeloyor ke kamarnya di dekat ruang tamu.

Setibanya di dalam, kami berdua duduk manis di depan TV-nya sambil menonton. Lalu aku mencoba untuk melingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia tidak bereaksi. Lalu aku makin berani untuk membelai kepala dan rambutnya yang panjang dan lembut.

Dia Cuma tersenyum saja aku perlakukan demikian. Lalu kusibakkan rambut di sekitar lehernya dan aku cium perlahan sambil menjilatnya pelan.

“Ih, geli, Ron”katanya sambil bergidik.

“Tenang aja, kamu nikmati ya,”jawabku.

Aku mencumbunya dengan sangat pelan. Mulai dari lehernya, kemudian aku turun ke pangkal lengannya. Aku terus mencium dan menjilatinya perlahan sementara tanganku tetap membelai rambutnya dan yang satu membelai tangannya, tanpa aku berusaha untuk membuka pertahanannya yang manapun.

Linda makin lama makin menggelinjang karena kegelian dan nafsunya yang perlahan mulai naik.

“Ron, aku matikan saja ya VCD-nya? Toh juga nggak ditonton, sekalian lampunya ya,”katanya sambil sedikit terengah.

“Oke,”jawabku.

Lalu dia mematikan VCD, TV, dan lampu kamar tersebut, sehingga situasi remang, dan hanya diterangi oleh lampu teras. Walau demikian aku masih bisa melihat jelas semuanya.

Menikmati Tubuh Linda Sang Manager

Setelah itu aku kembali melanjutkan aksiku. Aku menciumi bibirnya sambil membuka bajunya, sehingga dia hanya memakai BH dan roknya. Kemudian setelah beberapa lama;

“Ron, kita buka aja semua yuk,” ajaknya.

“Ayuk,”jawabku, kemudian kami mulai melepas busana kami satu-satu sambil berdiri di tempat tidurnya.

Terpampanglah pemandangan indah di depanku. Linda yang tersenyum manis, dengan payudara berbentuk bulat sempurna dan terlihat sangat kenyal serta bentuk tubuh yang mirip gitar spanyol, ramping, pinggul yang besar, dan terutama daerah kemaluannya yang tidak terlalu lebat, namun terlihat berbulu sangat halus.

Kemudian aku mulai mencium bibirnya lembut sekali. Kunikmati ciuman-ciuman itu. Kemudian aku mulai turun menciumi leher jenjangnya yang mulus sambil tangan kiriku mulai memainkan susunya yang kenyal dan mulai mengeras, meremas dan memutar-mutar putingnya, sementara tangan kananku meraba bagian pantatnya yang juga besar dan padat.

Setelah beberapa lama dia mulai bereaksi dengan membelai tubuhku dari punggung sampai kemudian berhenti di kemaluanku. Linda mulai membelai-belai adikku sambil mengocoknya perlahan. Wah, sensasinya sangat luar biasa.

“Ron, burungmu keras sekali,”katanya sambil mendesah.

Aku tidak menjawabnya karena sibuk mencumbunya. Kemudian perlahan-lahan aku rebahkan dia di tempat tidur. Dan aku mulai mencium dan menjilat turun dari bibir, leher sampai pada bagian susunya yang kuhisap dan kujilati perlahan.

Aku menikmati susunya yang besar dan mulus banget. Aku jilatin daerah sekitar putingnya, sambil menyedot. Cukup lama aku menikmati susunya sambil aku remas-remas. Rasanya aku ingin menelan semuanya bulat-bulat.

Linda menggelinjang sambil mengeluarkan suara erangan dan desisan dari mulutnya. Sambil menikmati cumbuanku, tangannya tak lepas dari penisku, membelainya lembut.

Perlahan aku makin turun sampai pada perutnya, kemudian ke selangkangannya. Aku mulai mencari daerah pribadinya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam, lembut dan tidak terlalu lebat. Aku terus menjilati sampai pada kemaluannya. Linda makin menggelinjang dan mendesis.

“Oh..terus, Ron,..enak sekali..teruskan..,”desisnya.

Maka aku makin menjilati kemaluannya sampai pada klitorisnya, kurasakan tubuhnya makin menegang. Kuhisap lembut klitoris dan kemaluannya yang berbau khas, hingga makin menaikkan gairahku. Kemaluan itu makin lama makin basah, mengeluarkan lendir yang aku jilat sampai puas.

Pahanya mulai bergerak menjepit kepalaku, sehingga aku merasakan kemulusannya membelai pipiku. Tak lupa aku juga sebentar-sebentar menjilat paha dan daerah di sekitar vaginanya itu.

Kemudian aku sedikit mengangkat pantatnya agar aku bisa menjilati lubang anusnya. Sementara itu, tangannya bergerak-gerak menggapai kepalaku sambil menekan makin dalam. Kembali aku mainkan lidahku di lubang vaginanya itu, masuk dan keluar. Linda makin menggelinjang dan kurasakan badannya makin mengejang.

Setelah aku puas memainkan kemaluannya, aku memintanya ganti mencumbuku. Maka aku direbahkan dengan posisi dia di atasku. Linda mulai menciumiku dari bibir, leher, dan akhirnya ke susuku sambil tangannya membelai lembut penis dan testisku.

Ciuman lembutnya sangat merangsangku sehingga adikku makin keras dan memanjang. (Oh ya, penisku tidak terlalu besar, tapi sangat kencang dan keras).

Cukup lama dia menciumi daerah dadaku, kemudian dia semakin turun, dan tidak disangka (karena aku menikmati sambil memejamkan mata) dia mulai menjilat lembut kepala penisku. Aku sempat kaget karena tidak menyangka dia akan melakukannya.

Aku nikmati saja jilatan-jilatan lembutnya. Kemudian dia mulai mengulum penisku juga sangat lembut. Wah, rasa dan sensasinya sangat luar biasa. Aku bagai terbang tinggi ke awan. Tidak sampai di situ, dia juga menjilati testisku yang makin merangsangku.

Cukup lama dia menjilati penisku, sampai ada sedikit cairan yang keluar dan dia menjilatinya sampai habis. Kemudian dia perlahan bangun dan duduk di atas penisku. Pelan-pelan dia menggesek-gesekkan vaginanya di atas penisku. Vaginanya yang lembut dan licin serasa memijit penisku yang keras.

“Oh,..enaknya..ss.ss.ss,”erangnya.

Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang dan roboh ke dadaku.

“Luar biasa, Ron, aku sampai bisa keluar,”bisiknya sambil terengah.

Kemudian kami bercumbu lagi, dan dia mengulangi hal yang sama sampai dua kali, dan dalam waktu singkat dia mengalami orgasme kembali, sementara aku belum merasa ingin keluar. Maka aku nikmati saja permainannya, sampai kemudian..

“Aku masukin ya adikku,”kataku.

“Ya, tapi pelan-pelan ya, “jawabnya.

Maka aku mulai memasukkan penisku ke lubang senggamanya perlahan sampai semuanya masuk. Kemudian aku mulai menggoyang perlahan-lahan, makin lama makin cepat. Sementara dia mengerang dan mengejang Di antara desahan dan deru napasnya aku makin mempercepat gerakanku, sampai akhirnya..

“Lin..aku..mau..kell..luar,” dan tersemburlah spermaku ke liangnya.

Kemudian aku lemas. Aku biarkan penisku berada di vaginanya beberapa lama sambil merasakan denyutan-denyutannya yang menggairahkanku.

Kami mengulangi permainan kami beberapa kali malam itu. Sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dan aku pulang dengan kepuasan dan sedikit penyesalan (maklum istri orang).

Keesokan siang, aku kembali ke rumahnya, dan bercinta sampai malam. Kemudian kami pergi makan malam seperti yang dijanjikannya.

Setelah kejadian itu, kami bersikap biasa bila bertemu, karena kami tidak ingin orang lain tahu perbuatan kami.

Demikian artikel tentang cerita Lobang Memek Linda Si Manager Seksi Ku Jadikan Tempat Buang Sperma. 
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Kumasukkan Rudal Perkasaku Ke Liang Vagina Keponakan Owner Yang Sok Sampai Merem Melek Keenakan.

Nadia Si Karyawan Baru

Kumasukkan Rudal Perkasaku Ke Liang Vagina Keponakan Owner Yang Sok Sampai Merem Melek Keenakan.Cerita dewasa ini terjadi semenjak kedatangannya, suasana kantor agak berubah. Cerita mesum Orang2 jadi semakin rajin, entah mengapa. Dia bukanlah direktur yang baru, bukan pula sekretaris baru yang seksi. Namanya Nadya. Perempuan berumur 27 tahun ini disukai sekaligus dibenci.

Disukai karena kerjanya cepat dan sangat efektif, serta sangat cerdas, tetapi disisi lain dia selalu mengeluh dan memarahi kami karena keterlambatan kami atau hal2 sepele lainnya.Nadya bukanlah direktur, juga bukan senior designer. Posisinya sama denganku, junior designer. Yang membedakannya denganku dan beberapa teman lainnya adalah, Nadya lulusan universitas kenamaan di Amerika Serikat, dengan prestasi cum laude. Selain itu Nadya juga keponakan dari Owner perusahaan desain interior ini. Berdarah Jawa Belanda, dengan tampang indo layaknya model2 catwalk, rambut hitam panjang, dengan kacamata tipis dan pakaiannya yang selalu modis, sudah barang tentu lelaki menyukainya. Namun entah kenapa kami malas untuk akrab dengannya, selain karena sikapnya yang selalu ketus dan tidak bersahabat itu, juga karena kami merasa tidak selevel dengannya. Apalagi kebanyakan dari kami adalah lulusan universitas lokal, dan sewaktu kuliah, membolos sudah jadi makanan kami (tidak bisa nyontek di kuliah desain interior). Walaupun kami datang dari universitas mentereng, tetap saja tidak bisa membandingkan diri kami dengan Nadya.

Aku sendiri berusia 29 tahun, masih jomblo dan belum menikah. Bukan karena aku tidak laku, tapi aku masih agak shock ketika setahun yang lalu pacarku selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Memang mereka tidak melakukan hal2 yang melanggar norma kesusilaan, tetapi jalan dengan laki2 lain dan saling berkirim sms mesra di tengah2 persiapan pernikahan, apa bukan selingkuh itu namanya ?Teman2ku yang lain sering menggodaku agar aku mendekati dan mencoba akrab dengan Nadya, karena menurut informasi yang beredar, Nadya belum memiliki pacar. Wajar saja hal ini terjadi mengingat yang masih bujangan di kantor ini selain aku dan Nadya, Cuma ada seorang desainer senior yang selalu tidak beruntung dalam masalah percintaan, dan seorang office boy. Aku pun bertanya2 kenapa Nadya tidak laku padahal dia sangat cantik dan pintar. Apa karena sikapnya yang ketus ? atau mungkin saja dia lesbian ? haha.Minggu ini minggu yang sangat melelahkan. Selain mengerjakan desain interior untuk sebuah mall yang akan dibangun, aku dan Nadya harus rapat sore hari bersama developer sebuah gedung perkantoran. Selama di mobilku, Nadya hanya diam saja, sembari mendengarkan musik di ipodnya. Sudah barang tentu dia pasti tidak akan menjawab jika aku sekedar ingin mengobrol atau berbasa-basi dengannya. Sebab selama ini pembicaraanku dengan dia hanya sebatas pekerjaan saja. Dia juga tidak pernah bergabung dengan orang2 kantor mencari makanan murah disekeliling gedung perkantoran. Entah dia makan dimana, karena menurut para direksi dan senior designer, Nadya tidak pernah makan bersama mereka. Tentu saja, karena walaupun sudah berduit dan lebih berumur dari kami, para direksi dan senior designer pasti mencari makan murah untuk berhemat.Rapat berlangsung sangat lama. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 8 malam. Tetapi Nadya masih berdiskusi dengan pihak pengembang soal konsep desain interior gedung perkantoran itu. Bila rapat dengan rekan yang lain, pasti mereka akan mencari2 alasan atau sengaja mengarahkan pembicaraan agar rapat cepat selesai. Akhirnya rapat selesai juga. Waktu menunjukkan pukul 8.30. rapat berlangsung sangat lancar, dan tidak satupun ucapan Nadya yang dibantah. Harus kuakui gadis ini sangat hebat dalam berargumen.Jalanan sudah agak lengang karena jam macet sudah lewat.

Aku dan Nadya berada di dalam mobil, menuju ke kantor. Aku membuka pembicaraan.

“Udah malem, di kantor ga ada siapa2, mau cari makan dulu sebelum kembali ke kantor ?” tanyaku berbasa basi.

“Gak usah, langsung ke kantor aja” jawabnya pelan dan pasti. Tak sampai 5 detik dia langsung memasangkan headset ipod ke telinganya. Buset. Dingin sekali tanggapannya. Yasudah. Aku tidak ambil pusing, dengan buru2 aku segera menyetir mobil ke arah kantor, agar aku bisa cepat pulang dan makan malam.Kantor kami terletak di sebuah gedung berlantai 7, di daerah yang mentereng di Jakarta Selatan. Kantor Konsultan desain interior kami berada di lantai paling atas, berbagi lantai dengan 3 kantor lainnya. Aku memarkirkan mobilku dengan asal2an di tempat parkir. Tumben, pikirku, para satpam lagi kemana ? aku dan Nadya langsung masuk, menaiki lift, dan kemudian masuk ke kantor. Suasana kantor agak gelap karena memang sudah tidak ada siapapun. Aku mencoba membuka pintu pantry untuk mengambil makanan ringan di kulkas, namun pintu pantry sudah terkunci. Memang kebiasaan office boy kami untuk mengunci semua pintu di kantor kecuali pintu utama, yang biasanya selalu dikunci oleh satpam setelah semua pergi.Untung saja pintu belum dikunci ketika kami masuk. Entah karena malas atau apa, kami tidak menyalakan lampu utama. Karena besok pagi desain awal hasil rapat sudah masuk ke desainer senior, maka kami membereskan hasil rapat tadi di ruang rapat utama. Nadya bekerja dengan sangat teliti mengetik laporan dengan MacBook nya. Sementara aku mengumpulkan hasil sketsa dan denah ruangan dalam satu bundel, sambil menahan perut lapar dan tak henti2nya aku melihat ke arah jam. Setelah tugasku beres, aku membereskan mejaku, dan bersiap untuk pulang sementara Nadya memprint hasil ketikannya. Nadya sudah akan pergi ketika aku memasukkan alat tulis ke tasku.Aku pulang duluan ya.. Nadya berjalan ke arah pintu. Aku tersenyum sekenanya dan meregangkan tubuh dulu sebelum benar2 akan pulang. Tiba2 “SHIT !” aku mendengar teriakan Nadya dari arah pintu utama.

Aku bergegas berlari ke arah pintu utama. Rupanya Nadya sedang berdiri mematung di depan pintu yang tertutup.

:Kenapa ?” tanyaku heran.

“Pintunya dikunci” jawab Nadya sambil menarik2 handle pintu sekuat tenaga.Sial, pikirku. Rupanya tidak ada satpam di luar itu dikarenakan mereka sedang patroli, sekaligus mengeek adakah orang yang lembur malam ini. Rupanya karena kami berdua tidak menyalakan lampu2 utama, yang menyebabkan ruangan kantor seperti tidak ada orang, mereka mengunci pintu tanpa memeriksa terlebih dahulu. Aku mulai panic karena jalan satu2nya keluar dari kantor ini adalah pintu itu. Tangga darurat ada di seberang pintu kantor. Sial. Sekali lagi sial. Semua pintu sudah dikunci. Aku berlari mengintip ke jendela. Sia2. Jendela kantor kami tidak ada yang menghadap ke kantor satpam. Aku blingsatan kesana kemari, dan dengan marah kutendang pintu kaca yang tebal itu. Tak ada reaksi kecuali kakiku sakit. Desain pintu yang kuat agar kantor aman ternyata menjebak kami di kantor.Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku dan menelpon office boy, untuk menyuruhnya kembali ke kantor. Sial sekali lagi. Telponnya tidak aktif. Hebat.Nadya diam, walau bisa kulihat mukanya memerah menahan marah. Mungkin dia juga ingin cepat pulang, ada janji atau apapun. Tapi Nadya tetap berusaha kalem dengan menelpon pamannya, sang owner perusahaan desain ini. Aku bisa mendengar percakapan mereka.

“Hallo om..”

“Eh Nadya, ada apa ?”

“Om, aku kekunci di kantor”

“Lah kok bisa ?”Nadya menjelaskan situasinya ke pamannya.

“Waduh. Gawat juga.. OB nya pun ga bisa ditelpon ?”

“Iya om.Teriak2 gih, coba panggil satpamnya”.Percuma, kupikir. Aku pernah lembur dan melihat kelakuan para satpam itu ketika waktu sudah menunjukkan jam 9 keatas. Setelah patroli dan mengunci pintu2 utama, mereka langsung ke kantor mereka, untuk nonton tv rame2, main kartu, bahkan kadang2 mabuk bareng.

“Ga bisa om” nada bicara Nadya sudah mulai memelas.Hmm om akan usahakan cari bantuan, tapi om lagi di luar kota sekarang

“KOK OM GAK BILANG DARI TADI KALAU ADA DI LUAR KOTA ?!?” Nadya meledak. Ditengah kekalutan aku mencoba menelpon semua nomor telpon kantor. Dan sialnya, kebanyakan dari mereka tidak aktif. Ada yang mengangkatnya dengan background suara hingar bingar diskotik dan suara teler ga karuan. Tolol. Di tengah minggu malah dugem. Nadya, terus menekan pamannya. Aku berusaha menelpon semuanya, tetapi entah kenapa sinyal hapeku tiba2 hilang. Aku kalut, mencari telpon kantor. Dan hanya telpon di meja front office saja yang bisa dipakai untuk menelepon ke luar. Aku berlari kearah front office dengan panik. Dan bodohnya tiba2 aku terjatuh tersangkut pojokan meja. Aku jatuh ke meja menimpa telpon kantor. Aku kaget dan langsung bangkit. Berharap telpon tidak rusak. Aku lalu mengangkat telponnya. Ternyata ada nada sambung.

Aku mencoba menekan nomer yang kuhapal. Lagi2 sial. Rupanya kejadian tadi menyebabkan tombol 0 rusak dan tidak bisa ditekan. Nomer telpon HP mana yang tidak ada 0 nya ? sedangkan aku tidak punya nomor telpon rumah orang kantor. Ide tiba2 muncul, aku membuka laci front office untuk melihat data nomer telpon pegawai.SIAL ! SIAL! Lacinya terkunci. Sementara itu Nadya masih menelpon pamannya.

“JADI GIMANA DONG OM ?!?” Bentak Nadya

“Sabar, kamu sama siapa disana ?”Nadya menyebutkan namaku.

“Oh sama dia. Aman kalau sama dia, Nadya, kamu tunggu besok aja, kamu” Belum sempat pamannya menyelesaikan kalimatnya, Nadya dengan kesal melemparkan handphonenya ke dinding dan handphonenya hancur berkeping2.

“Kenapa kamu banting ?!?!?” Bentakku. Nadya hanya terdiam. Dia menarik nafas dalam2.

“Telpon kantor ?” tanyanya pendek

“Rusak” jawabku tak kalah pendeknya.

“Kenapa ?” Mukanya mulai memerah. Matanya berkaca2.Tadi aku jatuh, telponnya ketindih badanku Aku menjawab sambil memalingkan muka.

“TOLOL !!” Nadya membentakku dan tangan kanannya mengayun akan menampar pipiku. Dengan tangkas aku menangkap tangannya dan melepasnya kembali.

“Lebih tolol mana sama orang yang ngebanting hape nya sendiri ?”sindirku.Ruang rapat penuh asap rokok sekarang. Aku menghisap rokok kretekku dalam2 dan membuang asapnya ke langit2. Nadya duduk di pojokan sambil menghisap rokok mentholnya. Kami sudah saling diam selama 30 menit lebih. Tidak ada alasan bagiku untuk mengobrol dengan wanita judes ini. Bikin pusing. Tapi aku mencoba menengok untuk melihat keadaannya. Khawatir juga.

Jangan2 nekat gantung diri.

“Apa kamu lihat2 ?” Nadya membalas tatapanku dengan pertanyaan dingin.

“Gw punya mata, boleh dong liat kemana aja” Jawabku tak kalah dingin.

“Ngeri tau gak, berdua doang sama cowok macem kamu”

“Eh. Lu baru masuk kemaren sore Nad, blom kenal siapa gw.. “Aku menatap penuh emosi ke arah Nadya.

“Ah semua cowok sama aja”Nadya membuang muka

“Apa maksud lu ?” Tanyaku penasaran

“Ah, tau lah” Jawabnya sembari mematikan rokoknya di pot bunga yang sekarang beralih fungsi sebagai asbak.

“Lo tau kan otak cowok isinya seks melulu ?” Suara Nadya terdengar tidak enak

Aku hanya terdiam.Bahaya tau gak berdua doang sama cowok asing.

“Salah2 gw diperkosa” Nadya berkata ketus

“EH. Sori ya mbak sok pintar lulusan luar negri masuk karena koneksi” Nada bicaraku meninggi. “Biar kata lu cantik, juga, ga bakal ada cowok mau perkosa lo ! Mana ada orang mau merkosa orang ngeselin macem elo !!!” Bentakku.

“Orang yang gak bisa bersosialisasi macem lo ! Orang yang egois ! Ga ada empati sedikitpun sama orang kantor ! Ga ada bagus2nya! Mentang2 ni kantor punya om lu, lu mau seenaknya aja disini ?!?!?” Aku sudah naik pitam. Tidak mampu menahan kesabaran lagi.

Ah Nadya tidak bisa berkata2 lagi.Enak aja lo bilang gw mau merkosa elo ! mendingan gw tidur ama pecun daripada nyentuh badan lo ! Nafasku habis. Sudah kuluapkan semua kekesalanku kepada Nadya.Tiba2 Nadya berlutut. Melepas kacamatanya dan mulai menitikkan air mata. Dia membanting kacamatanya dan mulai menangis sesenggukan. Shit. Rupanya kata2ku tadi kelewat kasar. Makin lama tangis Nadya makin keras. Aku pun berlutut mendekatinya dan mencoba memegang bahunya.Nadya. Sorry mungkin gw terlalu kasar aku meminta maaf. Nadya menepis tanganku dan terus menangis.Nad. Aku agak membungkuk untuk melihat wajahnya. Tapi tiba2 Nadya memelukku dan menangis di dalam pelukanku. Aku terdiam sembari mengelus2 punggung Nadya. Sekitar 10 menit dia menghabiskan tangisnya di pelukku. Aku yang pegal lalu duduk di lantai bersandar pada dinding. Nadya duduk di sebelahku, dengan pandangan kosong. Tak beberapa lama Nadya memulai pembicaraan.

“Maaf tadi aku lancang ngecap kamu” katanya pelan

“Gw juga Nad maaf tadi terlalu kasar” jawabku.

“Aku yang mulai” lanjut Nadya.

“Kupikir semua laki2 sama. Baik pada awalnya tapi ternyata brengsek”

“Ah. Semua laki2 brengsek kok Nad” Jawabku. Lalu kami terdiam cukup lama.

“Aku pernah diperkosa” Nadya tiba2 bernonton.

“Eh?” Aku tidak bisa menyembunyikan mimik heran dari mukaku.

“Waktu aku baru kuliah di US, ada kakak kelas yang ngedeketin aku.. Lanjut Nadya Dia baik banget, sampe pada akhirnya aku diundang ke pesta di asramanya Pestanya rame, dan ternyata minumannya beralkohol semua.Aku dibuat mabuk” dia terus bercerita

“Lalu aku dibawa masuk ke kamar, dan disana aku diperkosa olehnya” Nadya menghela nafas panjang dulu.Sejak saat itu aku ga pernah percaya sama cowok Nadia lalu mengambil sebatang rokok menthol dari bungkusnya, meremas bungkusnya yang sudah kosong, lalu melemparkan bungkusnya ke pot bunga. Aku memberikan korek apiku ke Nadya. Nadya lalu menyalakan rokoknya dengan korek milikku.Aku tidak berani berbicara lagi. Aku tadi telah lancing berbicara seperti itu kepada Nadya.

“Gimana kehidupan cinta kamu ?” tanya Nadya

“Mmmm” Aku diam tak berani menjawab.

Setelah kejadian itu, aku ga pernah berhubungan sama laki2 lagi katanya. Sekarang giliran kamu cerita” Katanya sambil tersenyum kepadaku

Aku sedikit terkejut. Ternyata jika tersenyum Nadya manis sekali. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum semenjak dia masuk kantor.

“Mmmm Aku harusnya tahun lalu nikah” jawabku

“Tapi ?”Tanyanya sambil menghisap rokok mentholnya.

“Tunanganku selingkuh” Jawabku pelan. Tak ingin rasanya menceritakan hal tersebut. Aku menarik nafas dalam2 dan memandang ke arah langit2. Nadya tidak menimpali jawabanku. Dia mematikan rokoknya di pot bunga.Waktu berjalan sangat lama. Aku dan Nadya berbicara tentang banyak hal. Mulai dari jaman kuliah, sma, segala macam. Ternyata Nadya menyenangkan jika diajak bicara. Tak jarang ia tertawa bersamaku, menertawakan kejadian2 konyol di kantor yang terjadi sebelum kedatangannya. Tak terasa sudah jam 12 malam. Aku sangat capek. Aku mencoba tidur. Aku masih bersender pada dinding, sementara Nadya tertidur, dengan menggunakan bahuku sebagai sandaran. Dingin Nadya tiba2 memelukku.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Sebagai lelaki normal, yang sudah lama tidak berhubungan dengan perempuan, aku tiba2 merasa deg2an, dan suhu tubuhku memanas. Aku mengira Nadya bisa merasakannya, karena dia memeluk tubuhku sekarang.

“Hmmmm.. jadi yang bujangan di kantor Cuma aku, kamu, sama Pak Yudi ?” tanya Nadya.

“Iya” jawabku pelan sambil menahan perasaan aneh ini.

“Hehe” Nadya tertawa kecil

“Kenapa ?” tanyaku.

“Nope nothing” katanya sambil menahan tawa.

“Well I guess. Ga ada salahnya kalo satu dari kalian aku pacarin” Nadya melanjutkan ucapannya.

“Oh jadi lu demen ya sama om2 bujangan tua” timpalku.

“Haha enak aja. Coba kamu itung, 45 –  27 = 18, jauh kan umurku sama Pak Yudi” jawabnya

“27 ? Kirain 35” ledekku.

Nadya berusaha untuk menjewer telingaku tetapi aku menghindar, menangkap tangannya, tetapi aku kehilangan keseimbangan duduk, sehingga aku terjatuh kearah kanan dan tak sengaja menarik Nadya ikut jatuh juga menimpa tubuhku. Aku yang jatuh menyimpang kekanan ditimpa oleh Nadya yang menghadapi telingaku. Akhirnya dia menjewer telingaku tanpa ampun.

“Aduh !. Sakit tau !” Aku berusaha memberontak tapi Nadya malah tertawa2 dan tidak melawan rontaanku. Aku berusaha bangkit tetapi Nadya malah memelukku.Aku ingin diperlakukan dengan lembut oleh laki2 bisik Nadya.Aku memperbaiki posisi jatuhku. Aku tiduran terlentang di ruang rapat, dan Nadya menimpa tubuhku. Aku bangkit, dan Nadya ikut memperbaiki posisinya. Aku kembali duduk, tetapi sekarang Nadya ada di pangkuanku dan tetap memelukku.

“Aku merhatiin kamu terus semenjak pertama kali masuk kantor” Nadya kembali berbisik.

“Kamu paling sopan, dan lembut sama perempuan kalo dibandingin sama yang lain,Ditambah lagi kamu belum nikah kan dan om ku bilang, kamu orang yang baik” Nadya terus berbicara.

“Baru tadi kan bilangnya, gw juga denger” jawabku

“Enggak. Dari awal aku masuk kantor, om udah bilang kalo kamu selain kinerjanya paling bagus, kamu juga sopan, ramah dan orangnya menyenangkan Nadya membantah ucapanku. Kayaknya lucu kalau kita pacaran” Nadya melanjutkan ucapannya.

Aku kaget. Baru pertama kali seumur hidup ada perempuan yang mengatakan ingin kupacari. Dan perempuan itu adalah perempuan yang cantiknya minta ampun seperti Nadya. Aku tak bisa bicara apa2.Kami berdua saling memandang. Tiba2 entah siapa yang memulai, kami memajukan kepala kami masing2 dan berciuman. Bibir Nadya sungguh hangat. Aku memeluk erat pinggangnya dan Nadya meremas rambutku. Kami berdua berciuman sangat lama. Kurasakan kacamata Nadya menekan2 mukaku. Tapi aku tidak peduli. Bibir kami saling memagut. Lidah kami saling beradu. Aku semakin menguatkan pelukanku. Dan nadya melepaskan ciumannya. Hidungnya beradu dengan hidungku. Dapat kurasakan nafasnya yang panas dan memburu.

Nadya melepas kacamatanya dan meletakkannya di sembarang tempat. Tanpa terasa Nadya membuka kancing bajuku. Dia melakukannya sambil menciumi leherku. Agak sulit membuka kancingku dalam keadaan seperti itu, tetapi Nadya cuek.Aku tak mau kalah. Kulepaskan leherku dari jangkauan bibir nadya, dan mulai meraih kancing kemejanya. Tak berapa lama bajunya terbuka. Tanpa diminta Nadya membuka ikat pinggangnya dan melepas celananya. Didepanku berdiri perempuan blasteran Jawa Belanda, dengan kulit yang putih dan mulus, hanya memakai pakaian dalam berwarna merah menyala. Aku menelan ludah, melihat tubuh Nadya yang indah, bagaikan model catwalk yang langsing dan proporsional.Nadya kembali menyerangku. Bibir kami kembali saling berciuman, tanpa sadar tanganku mengarah pada buah dada Nadya. Aku meremasnya dengan lembut. Buah dadanya yang proporsional terasa sangat empuk di tanganku. Aku dengan cepat menyisipkan tanganku ke dalam BHnya. Nadya tiba2 memegang pergelangan tanganku. Dia menahan tanganku dan seakan menyuruhku untuk mundur. Setelah aku menarik tanganku kembali, tangan Nadya mengarah ke punggungnya, dan dia melepas pengait BHnya, melepas BH nya sendiri. Nadya tersenyum kepadaku dan berkata “Kenapa melongo gitu. Kayak orang bego tau.”

Aku malu sendiri dan membuang muka.Nadya memegang pipiku, dan kemudian tangannya menyusuri badanku, untuk kemudian membuka ikat pinggangku. Aku pasrah, dan Nadya pun menciumi badanku mulai dari leher sampai ke perutku.

Aku kaget saat tangan Nadya masuk ke celana dalamku dan menggenggam penisku. Nadya lalu mengoral penisku. Aku sedikit kaget, karena tidak terbiasa dengan oral seks. Pada saat dengan tunanganku dulu, boro2 oral seks, pegang2 sedikit saja sudah kena marah. Padahal aku bukan orang yang tanpa pengalaman seks. Sebelum berpacaran dengannya, aku beberapa kali melakukannya dengan pacar2ku yang dulu.Aku meringis menahan geli akibat permainan lidah Nadya. Dia sangat pintar memainkan penisku dengan mulutnya. Tindakannya bervariasi, tidak hanya mengulumnya, tetapi juga dengan menciumi bagian2 yang sensitive dan memainkan lidahnya di kepala penisku. Kupikir, sebelum kejadian perkosaan yang menimpanya di US, Nadya sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.Aku kaget dan berusaha menahan kepala Nadya ketika kurasakan spermaku hampir keluar. Nadya tampaknya mengerti dan menghentikan kegiatannya. Dan dalam beberapa menit kemudian, Nadya menanggalkan semua baju dalamnya, begitu juga denganku. Badan telanjang kami berdua bergumul di lantai ruang rapat. Saling berciuman, berpelukan dan menikmati keindahan tubuh masing2.Hingga pada akhirnya Nadya telentang di atas karpet, kepalanya tepat berada di bawah kepalaku. Mataku memandang lekat2 matanya yang indah.Nadya. Jawabnya

Nadia Si Karyawan Baru

“Are you sure you want to do this ?” tanyaku

“Why did you ask ?” katanya sambil tersenyum.

“Were already gone too far” lanjutnya.

“and now I consider you as my lover” though senyum tipisnya meluluhkan hatiku. Aku mencium keningnya. Kedua kaki Nadya tanpa disuruh kini telah melingkari pinggangku. Kami berciuman dengan hangat. Kedua tangannya melingkari leherku. Kudekatkan penisku ke mulut vaginanya yang mulai terasa basah. Pelan2 aku menggesekkan penisku di mulut vaginanya, mencari jalan masuk. Tetapi tiba2 otot vaginanya menegang, seakan menolak penisku untuk masuk. Aku terdiam dan memandang wajahnya, aku takut dia masih trauma akibat kejadian di US itu.

“Its okay.” Nadya mengisyaratkan bahwa dia tidak apa2.Nadya membuka pahanya sedikit lebih lebar lagi dan dia tampak mencoba untuk rileks. Pelan2 kudekatkan kembali kepala penisku di bibir vaginanya. Kepala penisku sudah mulai masuk. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur, walaupun baru sedikit yang masuk. Perlahan namun pasti, penisku semakin masuk kedalam lubang vaginanya.aah.. Nadya mengerang pelan dan agak meringis ketika penisku masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Aku menggerakan penisku maju mundur dalam posisi misionaris.

“Mmmhhh sayang pelan2” Nadya mengingatkanku untuk tidak bergerak terlalu cepat. Dinding vaginanya seakan memijat2 batang penisku dengan lembut.

“Aahhh sayang mmmhhh.. uuhhh” Nadya mengerang, menandakan dia mendekati orgasme. Tetapi aku tidak ingin malam ini berakhir secepat itu. Aku menghentikan gerakanku, dan ketika Nadya akan membuka mulutnya untuk bertanya, aku langsung meraih pantatnya dan menggendongnya. Aku kemudian duduk di kursi rapat dan menaikkan badan Nadya di pangkuanku. Nadya mulai berpegang pada pundakku. Dia mengerti dan segera menaikkan pantatnya, lalu dengan pelan2 dia mengarahkan lubang vaginanya ke kepala penisku. Nadya bergerak naik turun di pangkuanku. Vaginanya terus2an memijat2 batang penisku dengan lembut.Aku memegangi pinggangnya. Nadya menghentikan gerakannya dan berbisik lembut kepadaku.

“Sayang kalo udah mau keluar bilang ya. Aku gak mau kamu keluarin disitu” aku mengiyakannya dan dia mulai kembali beraksi. Goyangannya tidak liar dan asal, tetapi begitu rapih. Begitu elegan dan anggun. Suara erangan kami memenuhi ruang rapat.

Kami sudah tidak peduli lagi tentang kemungkinan satpam kembali lagi keatas dan menolong kami yang terkunci. Aku sudah tidak berpikir lagi untuk kembali menelpon orang kantor, atau mencoba mendobrak pintu pantry dan keluar lewat tangga darurat.Yang ada dipikiranku hanyalah Nadya. Rasanya tidak percaya gadis yang tadinya cuek dan judes kepadaku ini bisa ada dipelukanku sekarang.

“Mmmmmhhh.” Nadya agak menggelinjang.

“Aaahhh..” Nadya kembali bersuara. Aku bisa merasakan Nadya akan mengalami orgasme, karena selain merasakan gelinjangan tubuhnya, aku pun merasakan vaginanya makin menjepit penisku. Aku pun mengimbangi dengan menggerakkan pantatku.naik turun di kursi itu. Kursi yang biasanya dipakai rapat itu menjadi saksi bisu percintaan kami.

“Sayang. Ahhhhh.” Nadya pun makin mempercepat gerakannya. Aku lalu bangkit sambil menggendong Nadya. Aku mendudukkan Nadya di meja rapat, Nadya tetap memelukku, dan aku terus menggerakkan penisku maju mundur.

“Uuuhh. Uhhhh. Sayang. Aku mau. Ahhhhh.” Nadya menggelingjang dengan hebatnya

“Tahan sedikit aku juga mau..Ahhhhh..” paha Nadya mencengkram pinggangku dan kepalanya mendongak keatas. Mengerang nikmat menandakan bahwa dia sudah orgasme. Aku terus menggerakkan penisku, dan Nadya. Ahhh.. Nadya jatuh telentang di meja rapat dan aku mencabut penisku dari lubang vaginanya. Sperma segera berhamburan dari penisku. Nadya segera bangkit dan memelukku. Kami berpelukan erat. Tidak berciuman, tidak melakukan apapun. Hanya berpelukan selama beberapa lama tanpa berbicara apa2. Nadya lalu melepaskan pelukannya dan turun dari meja. Dia lalu mencium pipiku lembut, kemudian dia mulai memakai kembali bajunya.Aku masih berdiri telanjang dan tertegun. Melihat Nadya yang bagaikan malaikat itu memakai bajunya satu persatu.

“eh pake baju dong. Ntar keburu pagi” Nadya mengingatkanku

Aku segera mengenakan kembali bajuku. Aku kembali mencoba tidur dengan bersandar di dinding. Nadya kembali pada posisinya, bersandar di bahuku.Singkat cerita pagi pun datang. Kami berhasil keluar jam 7 pagi. Hari itu kami berdua sengaja diliburkan karena kejadian konyol itu. Selanjutnya bisa ditebak. Nadya mulai terbuka pada orang2 kantor. Dia sudah bisa berkomunikasi dengan akrab, dan sinisnya makin lama menghilang. Ditambah lagi ketika kini kami sudah berpacaran. Nadya menjadi ceria dan orang2 kantor tampak takjub melihat perubahan itu.One thing leads to another. Dan sekarang, setelah kegagalan pernikahanku yang dulu, setelah beberapa lama berpacaran, aku akan mempersiapkan pernikahanku dengan Nadya.

Demikian artikel tentang cerita Kumasukkan Rudal Perkasaku Ke Liang Vagina Keponakan Owner Yang Sok Sampai Merem Melek Keenakan.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Atasan Bispak Gila Kontol Minta Diewe Keras2 Ama Karyawan Sendiri.

Atasan Bispak Gila Kontol Minta Diewe Keras2 Ama Karyawan Sendiri.Saat itu aku Ronny masih kuliah dan saya mempunyai teman karib namanya Mona, dari Sumatera, dia menumpang di rumah tantenya. Cerita Sex ini Kebetulan antara saya dan Mona mempunyai hoby yang sama, naik gunung, lintas alam, atletik, lempar lembing. Saya sering bertandang ke rumahnya, makin lama makin sering. Karena saya juga naksir sama Rita, adik sepupu Mona atau anak tantenya. Walau saya sudah menjadi akrab dengan keluarganya, tapi Rita tak kunjung kupacari.

Setelah selesai SMA Mona melanjutkan studi di Kota lain, tapi aku mencoba untuk bertandang ke rumah Rita, tapi jarang ketemu. Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi Rita, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal. Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan memegang beberapa perusahaannya yang memang sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih menjadi wakil rakyat. Harapanku memacari Rita tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung, justru bu Ita (ibunya Rita/tantenya Mona) yang sering menemuiku. karena Rita ada kesibukan di Jakarta, sehubungan dengan keikutsertaannya dalam sekolah presenter di sebuah stasion tv swasta di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur Rita masih kalah dengan ibunya.

Bu Ita lebih cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan tenang pembawaannya. Sementara Rita agak sawo matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Rita seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan dan penuh perhatian, baik juga. Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya ada bu Ita dan seorang pembantu. Mona sudah tidak di situ, sementara Rita sekolah di ibukota, paling-paling seminggu pulang.

Saat itu aku Ronny masih kuliah dan saya mempunyai teman karib namanya Mona, dari Sumatera, dia menumpang di rumah tantenya. Cerita Sex ini Kebetulan antara saya dan Mona mempunyai hoby yang sama, naik gunung, lintas alam, atletik, lempar lembing. Saya sering bertandang ke rumahnya, makin lama makin sering. Karena saya juga naksir sama Rita, adik sepupu Mona atau anak tantenya. Walau saya sudah menjadi akrab dengan keluarganya, tapi Rita tak kunjung kupacari.

Setelah selesai SMA Mona melanjutkan studi di Kota lain, tapi aku mencoba untuk bertandang ke rumah Rita, tapi jarang ketemu. Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi Rita, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal. Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan memegang beberapa perusahaannya yang memang sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih menjadi wakil rakyat. Harapanku memacari Rita tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung, justru bu Ita (ibunya Rita/tantenya Mona) yang sering menemuiku. karena Rita ada kesibukan di Jakarta, sehubungan dengan keikutsertaannya dalam sekolah presenter di sebuah stasion tv swasta di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur Rita masih kalah dengan ibunya.

Bu Ita lebih cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan tenang pembawaannya. Sementara Rita agak sawo matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Rita seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan dan penuh perhatian, baik juga. Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya ada bu Ita dan seorang pembantu. Mona sudah tidak di situ, sementara Rita sekolah di ibukota, paling-paling seminggu pulang.

Akhirnya saya di suruh bu Ita untuk membantu sebagai karyawan tidak tetap mengelola perusahaannya. Untungnya saya memiliki kemampuan di bidang komputer dan manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA. Setelah mengetahui manajemen perusahaan bu Ita lalu saya menawari program akuntansi dan keuangan dengan komputer, dan bu Ita setuju bahkan senang. Merencanakan kalkulasi biaya proyek yang ditangani perusahaannya, dsb. Saya menyukai pekerjaan ini. Yang jelas bisa menambah uang saku saya, bisa untuk membantu kuliah, yang saat itu baru semester dua. Bu Ita memberi honor lebih dari cukup menurut ukuran saya. Pegawai bu Ita ada tiga cewek di kantor, tambah saya, belum termasuk di lapangan. Saya sering bekerja setelah kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek yang harus dikerjakan. Part time begitu. Bagi saya ini hanya kerja sambilan tapi bisa menambah pengalaman. Karena hubungan kerja antara majikan dan pegawai, hubungan saya dengan bu Ita semakin akrab. Semula sih biasa saja, lambat-laun seperti sahabat, curhat, dan sebagainya. Aku sering dinasehati, bahkan saking akrabnya, bercanda, saya sering pegang tangannya, mencium tangan, tentu saja tanpa diketahui rekan kerja yang lain. Dan rupanya dia senang. Tapi aku tetap menjaga kesopanan.

Pengalaman ini yang mendebarkan jantungku, betapapun dan siapapun bu Ita, dia mampu menggetarkan dadaku. Walaupun sudah cukup umur wanita ini tetap jelita. Saya kira siapapun orangnya pasti mengatakan orang ini cantik bahkan cantik sekali. Dasar pandai merawat tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin fitnees, di rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA dulu, tapi karena saya kepingin mendekati Rita, hal itu saya kesampingkan. Data-data pribadi bu Ita saya tahu betul karena sering mengerjakan biodata berkaitan dengan proyek-proyeknya. Tingginya 161 cm, usianya saat kisah ini terjadi 37 tahun, lima bulan dan berat badannya 52 kg. Cukup ideal. Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan proyek dan paginya harus didaftarkan untuk diikutkan tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum selesai, tapi aku agak terhibur bu Ita mau menemaniku, sambil mengecek pekerjaanku. Dia cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia malah sering bercanda.

Bahkan kalau minumanku habis dia tidak segan-segan yang menuang kembali, aku malah menjadi kikuk. Dia tak enggan pegang tanganku, mencubit, namun aku tak berani membalas. Apalagi bila sedang mencubit dadaku aku sama sekali tidak akan membalas. Dan yang cukup surprise tanpa ragu memijit-pijit bahuku dari belakang.

“Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya. Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga, dipijit janda cantik. Apalagi yang kurasakan dadanya, pasti teteknya menyenggol kepalaku bagian belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-lama pipiku sengaja saya pepetkan dengan tangannya yang mulus, dia diam saja. Dia membalas membelai-belai daguku, yang tanpa rambut itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir pukul 23.00 baru selesai semua pekerjaan, saya membersihkan kantor dan masih dibantu bu Ita. Wah wanita ini betul-betul seorang pekerja keras, gumanku dalam hati. Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan kopi, jadi kembali minum.

“Kamu sudah punya pacar Ron?”

“Belum Bu”, jawabku

“Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana yang tak mau dengan cowok ganteng”, katanya “Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan penerangan yang agak redup. Entah siapa yang mendahului, kami berdua saling berpegangan tangan saling meremas lembut. Yang jelas semula saya sengaja menyenggol tangannya… Mungkin karena terbawa suasana malam yang dingin dan suasana ruangan yang syahdu, dan terdengar suara mobil melintas di jalan raya serta sayup-sayup suara binatang malam, saya dan bu Ita hanyut terbawa oleh suasana romantis. Bu Ita yang malam itu memakai gaun warna hitam dan sedikit motif bunga ungu. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Wanita pengusaha ini makin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dalam kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti gemuruh ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi bergemetaran, dan tak mampu berbuat banyak, walau tanganku tetap memegang tangannya. “Dingin ya Ron..?!”, katanya sendu. Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap lengan kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.

“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.

Terasa dingin, sementara tangannya juga merangkul pinggangku. Bau wewanginan semerbak di sekitar, aku duduk, menambah suasana romantis “Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana Bu?”, kataku gemetar.

“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”, katanya. Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup kening wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia menengadahkan wajahnya. Tanpa diajari atau diperintah oleh siapapun, kukecup bibir indahnya. Dia menyambut dengan senyuman, kami saling berciuman bibir saling melumat bibir, lidah kami bertemu berburu mencari kenikmatan di setiap sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing-masing. Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu Ita, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku dan bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi semakin terangsang dalam permainan yang indah ini.

Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia tersenyum manis bahkan amat manis, dibanding waktu-waktu sebelumnya. Kami berangkulan kembali, seolah-olah dua sejoli yang sedang mabuk asmara sedang bermesraan, padahal antara majikan dan pegawainya. Dia mulai mencumi leherku dan menggigit lembut semantara tanganku mulai meraba-raba tubuhnya, pertama pantatnya, kemudian menjalar ke pinggulnya.

“Sejak kamu kesini dengan Mona dulu, saya sudah berpikir: “Ganteng banget ini anak!””, katanya setengah berbisik.

“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun saya senang mendapat sanjungan.

“Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi. Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian juga dada bu Ita. Diapun nampak bergetaran dan suaranya agak parau. Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik tangan bu Ita yang supaya ikut berdiri. Dalam posisi ini dia saya dekap dengan hangatnya. Hasrat kelakianku menjadi bertambah bangkit dan terasa seakan membelah celana yang saya pakai. Lalu saya bimbing dia ke kamarnya, bagai kerbau dicocok hidungnya bu Ita menurut saja. Kami berbaring bersama di spring bed, kembali kami bergumul saling berciuman dan becumbu. “Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku lirih. Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia beranjak menuju lemari dan mengambil pakaian sambil menyodorkan kepada saya.

“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian tidur. Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudian memakai kimononya. Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku tertidur. Baru sekitar setengah jam saya terbangun lagi. Dalam kondisi begini, jelas aku susah tidur. Udara terasa dingin, saya mendekapnya makin kencang. Dia menyusupkan kaki kanannya di selakangan saya. Penisku makin bergerak-gerak, sementara cumbuan berlangsung, penisku semakin menjadi-jadi kencangnya, yang sesungguhnya sejak tadi di sofa. Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana? Apakah saya lanjutkan atau diam saja?

Lama aku berfikir untuk mengatakan tidak! Tapi tidak bisa ditutupi bahwa hasrat, nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjak-lonjak dalam dadaku bercampur aduk sampai kepada ubun-ubunku. Walaupun aku diamkan beberapa saat, tetap saja kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang saya sadar, wanita yang ada didekapanku adalah majikanku, tantenya Mona, mamanya Rita, tapi sebagai pria normal dan dewasa aku juga merasakan kenikmatan bibir dan rasa perasaan bu Ita sebagai wanita yang sintal, cantik dan mengagumkan. Sedikitnya aku sudah merasakan kehangatannya tubuhnya dan perasaannya, meski pengalaman ini baru pertama kali kualami. Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti ini aku semakin bergemetaran, antara mengelak dan hasrat yang menggebu-gebu. Aku perhatikan wajahnya di bawah sorot lampu bed, sengaja saya lihat lama dari dekat, wajahnya memancarkan penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup di balik gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan, saya tidak tahu apakah dia tidur atau pura-pura tidur. Aku cium lembut bibirnya, dan dia menyambutnya. Berarti dia tidak tidur. Ku singkap gaun tidurnya kemudian kulepas, dia memakai beha warna putih dan cedenya juga putih. Aku menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh bu Ita, putih dan indah banget. Ku raba-raba tubuhnya, dia mengeliat geli dan membuka matanya yang sayu. Jari-jari lentiknya menyusup ke balik baju tidur yang kupakai dan menarik talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.

“Kamu ganteng banget, Ron, tinggi badanmu berapa, ya?”, bisiknya. Saya tersenyum senang. “Makasih. Ada 171. Bu Ita juga cantik sekali”, mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum. Aku berusaha membuka behanya dengan membuka kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan cedenya sehingga aku semakin takjub melihat keindahan alam yang tiada tara ini. Hal ini menjadikan dadaku semakin bergetar. Betapa tidak?! Aku berhadapan langsung dengan wanita tanpa busana yang bertubuh indah, yang selama ini hanya kulihat lewat gambar-gambar orang asing saja. Kini langsung mengamati dari dekat sekali bahkan bisa meraba-raba. Wanita yang selama ini saya lihat berkulit putih bersih hanya pada bagian wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang tampak seluruhnya tiada yang tersisa. Menakjubkan! Darahku semakin mendidih, melihat pemandangan nan indah itu. Di saat saya masih bengong, pelan-pelan aku melorot cedeku, saya dan bu Ita sama-sama tak berpakaian. Penisku benar-benar maksimal kencangnya. Kami berdua berdekapan, saling meraba dan membelai. Kaki kami berdua saling menyilang yang berpangkal di selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang ikut membelai paha indah bu Ita. Sementara itu ia membelai-belai lembut penisku dengan tangan halusnya, yang membawa efek nikmat luar biasa. generasi Tanganku membela-belai pahanya kemudian kucium mulai dari lutut merambat pelan ke pangkal pahanya. Ia mendesah lembut. Dadaku makin bergetaran karena kami saling mencumbu, aku meraba selakangannya, ada rerumputan di sana, tidak terlalu lebat jadi enak dipandang. Dia mengerang lembut, ketika jemariku menyentuh bibir vaginanya. Mulutku menciumi payudaranya dengan lembut dan mengedot puntingnya yang berwarna coklat kemerah-merahan,lalu membenamkan wajahku di antara kedua susunya. Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya. Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut indahnya. Aku semakin bernafsu walau tetap gemetaran. Tanganku mulai aktif memainkan selakangannya, yang ternyata basah itu. Saya penasaran, lalu kubuka kedua pahanya, kemudian kusingkap rerumputan di sekitar kewanitaannya. Bagian-bagian warna pink itu aku belai-belai dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan, menyenangkan sekali. Bu Ita mengerang lembut sambil menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu jariku kumasukkan keterowongan pink tersebut dan menari-nari di dalamnya. Dia semakin bergelincangan. Kelanjutannya ia menarikku.

“Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbisik Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian yang menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku. Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil bertumpu pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia tidak berat menompang tubuhku. Sementara itu senjataku terjepit dengan kedua pahanya. Dalam posisi begini saja enaknya sudah bukan main, getaran jantungku makin tidak teratur. Sambil menciumi bibirnya, dan lehernya, tanganku meremas-remas lembut susunya. Penisku menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas (perut), kemudian turun berulang-ulang Tak lama kemudian kakinya direnggangkan, lalu pinggul kami berdua beringsut, untuk mengambil posisi tepat antara senjataku dengan lubang kewanitaannya. Beberapa kali kami beringsut, tapi belum juga sampai kepada sasarannya. Penisku belum juga masuk ke vaginanya “Alot juga”, bisikku.

Bu Ita yang masih di bawahku tersenyum. “Sabar-sabar”, katanya.

Lalu tangannya memegang penisku dan menuntun memasukkan ke arah kewanitaannya. “Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya.

Akupun menuruti saja, menekan pinggulku… “Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk itulah, rasa nikmatnya amat sangat. Seolah aku baru memasuki dunia lain, dunia yang sama sekali baru bagiku. Aku memang pernah melihat film orang beginian, tetapi untuk melakukan sendiri baru kali ini. Ternyata rasanya enak, nyaman, mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan kenikmatan tubuh wanita. Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-turun, naik-turun, kadang cepat kadang lambat, sambil memandang ekspresi wajah bu Ita yang merem-melek, mulutnya sedikit terbuka, sambil keluar suara tak disengaja desah-mendesah. Merasakan kenikmatannya sendiri. “Ah… uh… eh… hem”” Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut dengan menekan pula ke atas, supaya penisku masuk menekan sampai ke dasar vaginanya. Getaran-getaran perasaan menyatu dengan leguhan dan rasa kenikmatan berjalan merangkak sampai berlari-lari kecil berkejar-kejaran.

Di tengah peristiwa itu bu Ita berbisik “Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu cepat capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti iramanya”, ketika saya mulai menggenjot dengan semangatnya.

“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya. Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala kadarnya mengikuti gerakan pinggulnya yang hanya sesekali dilakukan. Ternyata model ini lebih nyaman dan mudah dinikmati. Sesekali kedua kakinya diangkat dan sampai ditaruh di atas bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar, bahkan kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku terjepit ketat dan semakin seret. Gerak apapun yang kami lakukan berdua membawa efek kenikmatan tersendiri. Setelah lebih dari sepuluh menit , aku menikmati tubuhnya dari atas, dia membuat suatu gerakan dan aku tahu maksudnya, dia minta di atas. Aku tidur terlentang, kemudian bu Ita mengambil posisi tengkurap di atasku sambil menyatukan alat vital kami berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia memasukkan penisku rasanya ketat sekali menghujam sampai dalam. Sampai beberapa saat bu Ita menggerakkan pinggulnya, payudaranya bergelantungan nampak indah sekali, kadang menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang. Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung kudot. Gerakan wanita berambut sebahu ini makin mempesona di atas tubuhku. Kadang seperti orang berenang, atau menari yang berpusat pada gerakan pinggulnya yang aduhai. Bayang-bayang gerakan itu nampak indah di cermin sebelah ranjang. Tubuh putih nan indah perempuan setengah baya menaiki tubuh pemuda agak coklat kekuning-kuningan. Benar-benar lintas generasi! Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit, kian lama kian kencang dan cepat, gerakannya. Nafasnya kian tidak teratur, sedikit liar. Kayak mengejar setoran saja. Tanganku mempererat rangulanku pada pantat dan pinggulnya, sementara mulutku sesekali mengulum punting susunya. Rasanya enak sekali.

Setelah kerja keras majikanku itu mendesah sejadi-jadinya” “Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Ron..”, rupanya ia orgasme. Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku, nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah merasakan keenakan yang mencapai klimaknya. Nafasnya berkejar-kejaran, gerakannya lambat laun berangsur melemah, akhirnya diam. Ia menjadi lemas di atasku, sambil mengatur nafasnya kembali.

Aku mengusap-usap punggung mulusnya. Sesekali ia menggerak-gerakkan pinggulnya pelan, pelan sekali, merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya. Beberapa menit dia masih menindih saya. Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang kembali, siap untuk saya tembak lagi. Kini giliran saya menindihnya, dan mulai mengerjakan kegiatan seperti tadi. Gerakan ku pelan juga, dia merangkul aku. Naik turun, keluar masuk. Saat masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia bisa menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh aku menikmati seluruhnya tubuh bu Ita. Ruaar biasa! Tiba-tiba suatu dorongan tenaga yang kuat sampai diujung senjataku, aliran darah, energi dan perasaan terpusat di sana, yang menimbulkan kekuatan dahsyat tiada tara. Energi itu menekan-nekan dan memenuhi lorong-lorong rasa dan perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran. Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh indah, yang mengimbangi dengan gerakan gemulai mempesona. Akhirnya tenaga yang menghentak-hentak itu keluar membawa kenikmatan luar biasa”, suara tak disengaja keluar dari mulut dua insan yang sedang dilanda kenikmatan. Air maniku terasa keluar tanpa kendali, menyemprot memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ita. “Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-sahutan. Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun makin merapatkan tubuhnya terutama pada bagian bawah perutnya, kuat sekali.

Menyatu semuanya, “Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.

“Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.

“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar lagi?!”, tanyaku agak heran.

“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas. Kami berdua berkeringat, walau udara di luar dingin. Rasanya cukup menguras tenaga, bagai habis naik gunung saja, lempar lembing atau habis dari perjalanan jauh, tapi saya masih bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Selang beberapa menit, setelah kenikmatan berangsur berkurang, dan terasa lembek, saya mencabut senjataku dan berbaring terlentang di sisinya sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya. Perempuan punya bentuk tubuh indah itupun terlihat puas, seakan terlepas dari dahaganya, yang terlihat dari guratan senyumnya. Saya lihat selakangannya, ada ceceran air maniku putih kental meleleh di bibir vaginanya bahkan ada yang di pahanya. Pengalaman malam itu sangat menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku menaiki bu Ita, aku lupa. Yang jelas kami beradu nafsu hampir sepanjang malam dan kurang tidur. Keesokan harinya. Busa-busa sabun memenuhi bathtub, aku dan bu Ita mandi bersama, kami saling menyabun dan menggosok, seluruh sisi-sisi tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian yang paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut. Saya senang sekali dan sudah barang tentu membawa efek nikmat. “Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus, kayak tugu Monas, besar lagi. Ukuran jumbo lagi?!”, katanya sambil menimang-nimang tititku.

“Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami tersenyum bersama. Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti sedang nyapu halaman depan, kalau aku keluar rumah tidak mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru pukul setengah enam. Tetapi senjata ini belum juga turun, tiba-tiba hasrat lelakiku kembali bangkit kencang sekali. Kembali meletup-letup, jantung berdetak makin kencang. Lagi-lagi aku mendekati janda yang sudah berpakaian itu, dan kupeluk, kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku lebih tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi. Lalu ku lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan kuplorotkan cedenya. Kami berdua kembali berbugil ria dan menuju tempat tidur. Kedua insan lelaki perempuan ini saling bercumbu, mengulangi kenikmatan semalam. Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang indah paduan antara pinggul depan, pangkal paha, dan rerumputan sedikit di tengah menutup samara-samar huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya. Aku buka dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi, mulai dari lutut, kemudian merambat ke paha mulusnya. Sementara tangannya mengurut-urut lembut penisku. Tubuhku mulai bergetaran, lalu aku membuka selakangannya, menyibakkan rerumputan di sana. Aku ingin melihat secara jelas barang miliknya. Jariku menyentuh benda yang berwarna pink itu, mulai bagian atas membelai-belainya dengan lembut, sesekali mencubit dan membelai kembali. Bu Ita bergelincangan, tangannya makin erat memegang tititku. Kemudian jariku mulai masuk ke lorong, kemudian menari-nari di sana, seperti malam tadi. Tapi bibir, dan terowongan yang didominasi warna pink ini lebih jelas, bagai bunga mawar yang merekah.

Beberapa saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi paham dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ita, yang menghebohkan semalam. Gelora nafsu makin menggema dan menjalar seantero tubuh kami, saling mencium dan mencumbu, kian memanas dan berlari kejar-kejaran. Seperti ombak laut mendesir-desir menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat mengekang dari kami berdua. Apalagi ketika puncak kenikmatan mulai nampak dan mendekat ketat. Sebuah kejutan, tanpa aku duga sebelumnya penisku yang sejak tadi di urut-urut kemudian dikulum dengan lembutnya. Pertama dijilati kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga mulutnya. Rasanya saya diajak melayang ke angkasa tinggi sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang, sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang bertumpu pada kedua tangan saya. Saya mulai memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan bu Ita yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-bagiannya secara seksama itu. Benda ini memang rasanya tiada tara, ketika kumasukkan, tidak hanya saya yang merasakan enaknya penetrasi, tetapi juga bu Ita merasakan kenikmatan yang luar biasa, terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan lembut dari mulutnya. “Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke arah selakangannya, sambil menekankan pula pinggulnya ke arah tititku. Kami berdua mengulangi mengarungi samodra birahi yang menakjubkan, pagi itu.

Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar pukul setengah delapan, saat Darti mencuci di belakang. Dalam perjalanan pulang aku termenung, Betapa kejadian semalam dapat berlangsung begitu cepat, tanpa liku-liku, tanpa terpikirkan sebelumnya. Sebuah wisata seks yang tak terduga sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih, prosesnya mulus, semulus paha bu Ita. Singkat, cepat dan mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan yang menghebohkan. Betapa aku bisa merasakan kehangatan tubuh bu Ita secara utuh, orang yang selama ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona wajah bu Ita yang memerah jambu, kepasrahannya dalam ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan seorang wanita yang mebutuhkan belaian dan kehangatan seorang pria. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, si kumbang muda makin sering mendatangi bunga untuk mengisap madu. Dan bunga itu masih segar saja, bahkan rasanya makin segar menggairahkan. Memang bunga itu masih mekar dan belum juga layu, atau memang tidak mau layu.

Demikian artikel tentang cerita Atasan Bispak Gila Kontol Minta Diewe Keras2 Ama Karyawan Sendiri.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Ku Gaspol Memek Teman Kantor Istriku Sendiri Yang Binal Dan Liar Kayak Lonte.

Ku Gaspol Memek Teman Kantor Istriku Sendiri Yang Binal Dan Liar Kayak Lonte.Siang itu pertemuanku dengan client makan waktu lebih cepat dari perkiraan. Jam masih menunjukkan jam 11.00, paling sampai kantor pas jam istirahat dan pasti sdh sepi, pada makan siang diluar kantor… mmm… kubelokkan mobilku, dan kutuju satu arah pasti… kantor Tari istriku… Istriku seorang wiraswasta, berkantor di daerah Tomang.

“Eeeeee… mas Tommy, tumben nongol siang-siang begini…?”Dina sekretaris Tari menyambutku…

“Sepi amat..? udah pada istirahat..?”sahutku sambil melangkah masuk kantor yang tampak sepi.

“Mmmmm… Tari ke customer sama pak Darmo, Liliek dan Tarjo nganterin barang dan katanya Tari sekalian meeting dengan customer… sukri lagi Dina suruh beli makan siang, tunggu aja mas diruangan Tari..”celoteh Dina yang berjalan di depanku memperlihatkan pantatnya yang montok bergoyang seirama dengan langkah kakinya… Aku masuk ke ruangan Tari, kujatuhkan pantatku ke kursi direktur yang empuk…Dalam hati aku mengutuk habis-habisan, atas kesialanku hari ini… malah sampe disini, ketemu sama Dina…

oh ya Dina sebenarnya adalah sahabat Tari waktu kuliah, janda cantik beranak 2 ini diajak kerja

istriku setelah setahun menjanda… orangnya ramah… cuma sebagai lelaki aku kurang menyukai karakternya…terutama dandanannya yang selalu tampak menor, dengan tubuhnya yang montok… buahdadanya gede sebanding dengan pantatnya yang juga gede, pokoknya bukan type wanita yg kusukai dan menurutku kulitnya terlalu putih… jadi tampak kaya orang sakit-sakitan… walaupun kata Tari, Dina orangnya sangat cekatan dan sangat doyan kerja alias rajin… Kubuka laptopku dan kunyalakan… kucari-cari file yang kira-kira bisa menemaniku disini… daripada aku hrs ngobrol sama Dina, yang menurutku bukan temen ngobrol yang asyik… wow… di kantong tas laptopku terselip sebuah CD… wiih DVD bokep punya Rudy ketinggalan disini… lumayan juga buat ngabisin waktuku nungguin Tari….

Mmmmmmm Asia Carera… lumayan bikin ngaceng juga setelah kira-kira 30 menit melihat aksi sex Asia Carera melawan aksi kasar Rocco Sifredi…

“Ooooo.. ooooo.. mas Tommy nonton apaan tuuuh… sorry mas Tommy mau minum apa..? panas, dingin… hi..hi.. pasti sekarang lagi panas dingin kan..?”suara Dina bagaikan suara petir disiang bolong… dengan nada menggodaku…

“Ah kamu bikin kaget aja… ngg… dingin boleh deh… mm ga ngrepotin neeh..?”sahutku sambil memperbaiki posisiku yang ternyata dari arah pintu, layar laptopku keliatan banget… sial lagiiii…. aahh masa bodo laahh… toh Dina bukan anak kecil.. Dina masuk ruangan lagi sambil membawa 2 gelas es jeruk..

“Mas Tommy boleh dong Dina ikutan nonton… mumpung lagi istirahat… kayanya tadi ada Rocco sifredi yak..?”kata Dina sambil cengar cengir bandel..

“ha… kamu tau Rocco Sifredi juga..?”tanyaku spontan… agak kaget juga,

ternyata wanita yang tiba-tiba kini jadi tampak menggairahkan sekali di mataku, tau nama bintang film top bokep Rocco Sifredi…

“Woow bintang kesayangan Dina tuuuh..”sahut Dina yang berdiri di belakang kursiku…

“Kamu sering nonton bokep..?”tanyaku agak heran sebab Dina setelah menjanda tinggal dg orang tuanya dan rumahnya setahuku ditinggali banyak orang…

“Iya… tapi dulu… waktu masih sama “begajul”itu..”sahut Dina enteng dan membuatku ketawa geli mendengar Dina menyebut mantan suaminya yang kabur sama wanita lain…

Suasana hening… tapi tak dapat dielakkan dan disembunyikan nafas kami berdua sdh tak beraturan, bahkan beberapa kali kudengar Dina menghela nafas panjang… ciri khas wanita yang hendak mengendorkan syaraf birahinya yang kelewat tegang… dan beberapa kali kudengar desisan lembut, seperti luapan ekspresi… yang kuartikan Dina sudah larut dalam aksi para bintang bokep di layar monitor… Sementara keadaanku tak jauh beda.. celanaku terasa menyempit… desakan batang kemaluanku di selangkangan yang mengeras sejak setengah jam yang lalu, mulai menyiksaku… dalam kondisi seperti ini biasanya, aku melakukan

onani di tempat.. Tapi kali ini masak onani di depan Dina..? ampuuuunn siaal lagiii..!

“Din.. kamu suka Rocco Sifredi..? memang suka apanya..?”tanyaku memulai komunikasi dengan Dina yang desah napasnya makin memburu tak beraturan dan sesekali kudengar remasan tangannya seolah gemas pada busa sandaran kursi yang kududuki…

“Mmm… hhh.. apanya yak..? iih… mas Tommy nanyanya… sok ga tau..”sahut Dina sambil mencubit pundakku…  entah siapa yang menuntun tanganku untuk menangkap tangan Dina yang sedang mencubit… mmm… Dina membiarkan tanganku menangkap tangannya…

“Kamu ga capek, berdiri terus… duduk sini deh..?”kataku sambil tetap menggenggam tangan Dina,kugeser pantatku memberi tempat untuknya, tapi ternyata kursi itu terlalu kecil untuk duduk berdua,apalagi untuk ukuran pantat Dina yang memang gede…

“Pantat Dina kegedean sih mas…”kata Dina sambil matanya melempar kerling aneh,

yang membuat darahku berdesir hebat, akhirnya Dina menjatuhkan pantatnya di sandaran tangan.. oooww…aku dihadapkan pada paha mulus yang bertumpangan muncul dari belahan samping rok mininya dan entahsejak kapan kulit putih ini menjadi begitu menggairahkan dimataku..? Kembali perhatian kami tercurah pada aksi seks dilayar laptop… sesekali remasan gemas tangan lembutnya pada telapak tanganku terasa hangat… dimana tangan kami masih saling menggenggam… dan menumpang diatas paha mulus Dina…

“Iiih Gila… Dina sudah lama enggak nonton yang begini..”kata Dina mendesah pelan seolah bicara sendiri.. menggambarkan kegelisahan dan kegalauan jiwanya…

“kalo ngerasain..?”tanyaku menyahut desahannya tadi…

“Apalagi…”jawabnya pendek serta lirih sambil matanya menatapku dengan tatapan jalang… yang bisa kuartikan sebagai tantangan, undangan atau sebuah kepasrahan, kutarik lembut tangannya dan diikuti tubuh montoknya…kini pantat montok Dina mendarat empuk di pangkuanku sedangkan tanganku melingkar di pinggangnya yang ternyata cukup ramping tak berlemak… Iblis dan setan neraka bersorak sorai mengiringi pertemuan bibir kami yang kemudian saling mengulum dan tak lama lidah kami saling belit di rongga mulut… mmm… tangan Dina melingkar erat di leherku dengan gemetaran… kulayani serangan panas janda cantik berumur 32 tahun ini… seolah ingin memuaskan dahaga dan rindu dendamnya lewat aksi ciuman panasnya…Tanganku memang dari dulu trampil memainkan peran jika dihadapkan dengan tubuh wanita… menelusup ke balik blazer hitam yang dikenakan Dina dan terus menelusup sampai menyentuh kulit tubuhnya… sentuhan pertamaku pada kulit tubuhnya membuat Dina menggeliat resah dan menggerang gemas… rangkulan tangannya semakin erat di leherku sementara ciuman bibirnya juga semakin menggila mengecupi dan mengulumi

bibirku… tanganku mulai merambah bukit dadanya yang memang luar biasa montok, yang jelas diatas cup B… sebab buah dada Tari istriku yang ber bra 36B jauh tak semontok buah dada Dina… Tiba-tiba Dina meronta keras, saat tanganku meremas lembut buah dadanya yang mengeras akibat terangsang birahi tinggi…

“Ooohh… mas Tommy suudaah mas… hhh.. hhh… jangan mas, Dina ga mau menyakiti Tari…hh… ooohh..”kalimat diantara desah nafas birahi ini tak kuhiraukan dan rontaan kerasnya tak berarti banyak buatku… tanganku yang melingkar di pinggangnya tak mudah utk dilepaskannya…

“Ada apa dengan Tari..? ga akan ada yang merasa disakiti atau menyakiti selama ini jadi rahasia… ayo sayang waktu kita tak banyak… nikmatilah apa yang kamu ingin nikmati…”bisikku lembut di sela-sela aksi bibir dan lidahku di leher jenjang berkulit bersih milik janda cantik bertubuh montok ini…

“Ampuuun mas, oooww… Dina ga tahaaan… hh..hh… ssshhh…”rengek Dina memelas yang tak mampu membendung gelegak birahi yang mendobrak hebat pertahanannya…

Blazer hitam yang dikenakan Dina sudah teronggok dibawah kursi putar yang kami gunakan sebagai ajang pergulatan… dibalik blazer hitam, tubuh montok berkulit putih mulus itu hanya mengenakan penutup model kemben berbahan kaos, sehingga dari dada bagian atas sampai leher terbuka nyata… bergetar syahwatku menyaksikan pemandangan ini… buah dadanya yang montok dengan kulit putih bersih, mulus sekali sehingga urat-urat halus berwarna kebiruan tampak dipermukaan.. buah dada montok yang sedang meregang nafsu birahi itu tampak mengeras, memperlihatkan lembah yang dalam di tengahnya… tampak bergerak turun naik

seirama dengan nafas birahinya yang mendengus-dengus tak beraturan… iihh menggemaskan sekali.. Woow.. bukan main..! begitu tabir berbahan kaos warna orange itu kupelorotkan ke bawah.. muncullah keindahan yang menakjubkan dari sepasang bukit payudara yang asli montok dan sangat mengkal, hanya tertutup bra mini tanpa tali, sewarna dengan kulit mulusnya…

“Oooohh.. maaasss..?”desahnya lirih ketika tabir terakhir penutup payudaranya meninggalkan tempatnya dan secara refleks Dina menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya,

tapi dimataku, adegan itu sangat sensual.. apalagi dengan ekspresi wajahnya yang cantik sebagian tertutup rambutnya yang agak acak-acakan… matanya yang bereye shadow gelap menatapku dengan makna yang sulit ditebak…

“Mas.. janggaaan teruskan… Dina takuut Tari datang…hhh… hhh… “bisiknya dengan suara tanpa ekspresi… tapi aku sdh tak mampu mempertimbangkan segala resiko yg kemungkinan muncul… lembah payudara Dina yang dalam itulah yang kini menggodaku… maka kubenamkan wajahku ke dalamnya… lidahku terjulur melecuti permukaan kulit halus beraroma parfum mahal… kontan tubuh bahenol di pangkuanku itu menggelepar liar, spt ikan kehilangan air, ditambah amukan janggut dan kumisku yang sdh 2 hari tak tersentuh pisau

cukur…

“Ampuuuunnn maaass…. iiiihhh… gellliii aaahh… mmm…ssssshhh.. ooohh…”rengek dan rintihannya mengiringi geliat tubuh indah itu… wooow jemari lentiknya mulai mencari-cari…. dan menemukannya di selangkanganku… bonggolan besar yang menggembungkan celanaku diremas-remas dengan gemas… sementara aku sedang mengulum dan memainkan

lidahku di puting susunya yang sudah menonjol keras berwarna coklat hangus… tanganku menggerayang masuk kedalam rok mininya yg semakin terangkat naik kudapatkan selangkangan yang tertutup celana dalam putih dan kurasakan pada bagian tertentu sudah basah kuyub, Dina tak menolak ketika celana dalam itu kulolosi dan kulempar entah jatuh dimana… Dina mengerang keras dengan mata membelalak, manakala jariku membelah bibir vaginanya yang sudah sangat basah sampai ke rambut kemaluannya yang rimbun… bibir cantik yang sudah kehilangan warna lipsticknya itu gemetaran layaknya orang kedinginan… terdengar derit retsluiting.. ternyata jemari lentik Dina membuka celanaku dan menelusup masuk kedalam celana kerjaku… kulihat matanya berbinar dan mulutnya mendesis seolah gemas, ketika tangannya berhasil menggenggam batang kemaluanku… sesaat kemudian batang kemaluanku sudah mengacung-acung galak di sela bukaan retsluiting celanaku dalam

genggaman tangan berjari lentik milik Dina… makin lebar saja mata Dina yang menatap jalang ke batang kemaluanku yang sedang dikocok-kocoknya lembut…

“Aaaah… mass Tommyy… mana mungkin Dina sanggup menolak yang seperti ini… hhhh…. ssss….sssshhh… lakukan mas.. oohhh… toloong bikin Dina lupa segalanya mas… Dina ga tahhaan…”kalimatnya mendesis bernada penuh kepasrahan, namun matanya menatapku penuh tantangan dan ajakan… Kurebahkan tubuh montok Dina di meja kerja Tari yang lebar setelah kusisihkan beberapa kertas file dan gelas minum yang tadi ditaruh Dina diatas meja itu…. sementara laptopku masih terbuka dan adegan seks dilayar monitornya, sementara jari tengahku tak berhenti keluar masuk di liang sanggama Dina yang sangat becek… mungkin benar kata orang, cewek yang berkulit putih cenderung lebih basah liang sanggamanya… seperti halnya Dina, cairan liang sanggamanya yang licin kurasakan sangatlah banyak sampai ada tetesan yang jatuh di atas meja….Dina sudah mengangkangkan kakinya lebar-lebar menyambut tubuhku yang masuk diantara kangkangan pahanya, aku berdiri menghadap pinggiran meja, dimana selangkangan Dina tergelar… tubuh Dina kembali menggeliat erotis disertai erangan seraknya ketika palkonku mengoles-oles belahan vaginanya, sesekali kugesek-gesekan ke clitorisnya yang membengkak keras sebesar kacang tanah yang

kecil.. bukit vaginanya yang diselimuti rimbunnya rambut kemaluan yang tercukur rapi…

“Ayoooo maasss… lakukan sekaraaang… Dina ga tahaaann…hh..hhh… “rengek Dina memelas. Bibir cantik itu menganga tak bersuara, mata bereye shadow gelap itu membelalak lebar dengan alis berkerinyit gelisah, ketika palkonku membelah bibir vaginanya dan merentang mulut liang sanggamanya… kurasakan palkonku kesulitan menembus mulut liang sanggama Dina yang sudah berlendir licin… Tubuh Dina meregang hebat diiringi erangan keras, manakala palkonku memaksa otot liang sanggama Dina merentang lebih lebar… kedua tangannya mencengkeram keras lenganku… sewaktu pelan-pelan tapi pasti batang kemaluanku menggelosor memasuki liang sanggama yang terasa menggigit erat benda asing yang

memasukinya… baru tiga perempat

masuk batang kemaluanku, palkonnya sudah menabrak mentok dasar liang sanggama sempit itu, kembali tubuh montok Dina menggeliat merasakan sodokan mantap pada ujung leher rahimnya…. Sepasang kaki Dina membelit erat pinggangku sehingga menahan gerakku… bibir cantik yang gemetaran itu tampak tersenyum dengan mata berbinar aneh…

“Mas Tommy… tau kenapa Dina suka Rocco Sifredi..?”bisik Dina dengan tatapan mata mesra… kujawab dengan gelengan kepalaku…

“Perih-perih nikmat… kaya sekarang ini… Dina pingin disetubuhi Rocco Sifredi… ayoo mas.. beri Dina kenikmatan yang indah…”bisik Dina sambil mengerling penuh arti, belitan kaki di pinggangku dilonggarkan, pertanda aku boleh mulai mengayun batang kemaluanku memompa liang sanggamanya….

Kembali suara erangan dan rintihan Dina mengalun sensual mengiringi ayunan batang kemaluanku yang pelan dan kalem keluar masuk liang sanggama yang kurasakan sangat menggigit saking sempitnya, walaupun produksi lendir pelicin vagina wanita bertubuh montok ini luar biasa banyaknya, sampai berlelehan ke meja kerja yang jadi alas tubuhnya..

“Punya kamu sempit banget Din… aku seperti menyetubuhi perawan…”Bisikan mesraku tampak membuat janda beranak dua itu berbunga hatinya.. wajahnya tampak berseri bangga….

“Punya mas Tommy aja yang kegedean… kaya punya Rocco Sifredi… Dina suka sama yang begini… gemesssiiin… hhh… hhhoohhh… mmmaasss…”belum selesai kalimat Dina, kupercepat ayunan pinggulku.. membuat mata Dina kembali membelalak, bibirnya meringis memperlihatkan gigi indah yang beradu, mengeluarkan desis panjang….

“Teeruuuss maaasss… ammppuunn… nikkmaaat bukan main.. oooohhh… aaaaaahhh… eeeenngghh..”ceracaunya dengan suara setengah berbisik… sesaat kemudian aku merasakan serangan balasan Dina…

Dengan gemulai janda cantik ini memutar pinggulnya, pinggangnya yang ramping bergerak menjadi engsel… Luar biasa nikmat yang kurasakan di siang tengah hari bolong itu… Suara berdecakan yang semakin keras di selangkangan kami menandakan semakin banjirnya lendir persetubuhan dari liang sanggama Dina… Wajah cantik Dina semakin gelisah… mulutnya komat-kamit seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada suara yang keluar, hanya desah dan erangannya yang keluar… alisnya yang runcing semakin berkerut… apalagi matanya yang kadang membelalak lebar kadang menatapku dengan sorot mata gemas…

“Oooooouuuuwww..!! mmmaaaaassssss…. Diii..naa gatahaann….mmmmmhhh…!!”Kegelisahan dan keresahannyaberujung pada rengekan panjang seperti orang menangis dibarengi dengan pinggul yang diangkat didesakan ke arahku bergerak-gerak liar…

Aku tanggap dengan situasi wanita yang dihajar nikmatnya orgasme… segera kuayun batang kemaluanku menembus liang sanggama Dina sedalam-dalamnya dengan kecepatan dan tenaga yang kutambah… akibatnya tubuh Dina semakin liar menggelepar di atas meja kerja Tari… kepalanya digeleng-gelengkan dengan keras ke kanan dan ke kiri sehingga rambutnya semakin riap-riapan di wajahny

“Ammmpppuuunnn…. oooohhh… nnnggghhh…. niikmmmaattnya…. hhoooo….”suara Dina seperti menangis pilu…

Ya ammmpppuunn…. kurasakan nikmat bukan main.. dinding liang sanggama wanita yang tengah diamuk badai orgasme itu seakan mengkerut lembut menjepit erat batang kemaluanku, kemudian mengembang lagi… enam atau tujuh kali berulang… membuatku sejenak menghentikan ayunan kontolku, pada posisi di kedalaman yg paling dalam pada liang sanggama Dina… Tubuh Dina tergolek lunglai… nafasnya tersengal-sengal, tampak

dari gerakan dada montoknya yang naik turun tak beraturan… wajahnya yang miring ke samping kanan tampak kulitnya berkilat basah oleh keringat birahinya, sementara mata ber eyeshadow tebal itu tampak terpejam spt orang tidur… rambut panjang yang dicat blondie tampak kusut, awut-awutan menutupi sebagian wajah cantiknya…. Kira-kira setelah dua menit

batang kemaluanku mengeram tak bergerak di liang sanggama yang semakin becek… dengan gerakan lembut kembali kugerakkan pinggulku mengantarkan sodokan keliang sanggama Dina… Tubuh montok itu kembalimenggeliat lemah sambil mulutnya mendesis panjang… Dina membuka matanya yang kini tampak sayu…

“Ssssshh… mmm… luar biasa….”desah Dina sambil tersenyum manis.

Kedua tangannya meraih leherku dan menarik ke arah tubuhnya. Tubuhku kini menelungkupi tubuh montok Dina, Dina memeluk tubuhku erat sekali sehingga bukit payudaranya tergencet erat oleh dada bidangku seolah balon gas mau meletus, tak hanya itu sepasang pahanya dilingkarkan di pinggangku dan saling dikaitkan di belakang tubuhku… Woooww… leherku disosotnya dengan laparnya… jilatan dan kecupan nakal bertubi-tubi menghajar leher dan daun telingaku… terdengar dengus nafasnya sangat merangsangku… aku

dibuat mengerang oleh aksinya…

“Ayo sayang, tuntaskan hasratmu… Dina boleh lagi enggak?”bisiknya manja sambil bibirnya mengulum nakaldaun telingaku.

Kurasakan pantat montok Dina bergerak gemulai, membesut hebat batang kemaluanku yang terjepit di liangsanggamanya, sejenak kunikmati besutan dan pelintiran nikmat itu tanpa balasan.. karena kuhentikan ayunan kontolku…

“Kamu ingin berapa kali..?”sahutku berbisik tapi sambil mengayunkan batang kemaluanku dalam sekali..

“Eeeeehhhhh…hhh…! sampe pingsan Dina juga mauuuuuhh…hhhh…!”jawabnya sambil terhentak-hentak akibat rojokanku yang kuat dan cepat…

Aku mengakui kelihaian janda 2 anak ini dalam berolah sanggama, kelihaiannya memainkan kontraksi otot-otot perutnya yang menimbulkan kenikmatan luar biasa pada batang kemaluan yang terjebak di liang sanggamanya yang becek… tehnik-tehnik bercintanya memang benar-benar canggih… Tari istriku wajib berguru pada Dina, pikirku…Tapi rupanya Dina tak mampu berbuat banyak menghadapi permainanku yang

galak dan liar… Setelah pencapaian orgasmenya yang ke tiga… Wajah Dina semakin pucat, walaupun semangat tempurnya msh besar…

“Ooooww… my God… ayo sayaaang… Dina masih kuat…”desisnya berulang-ulang… sambil sesekali pantatnya menggeol liar, mencoba memberikan counter attack…

Aku tak ingin memperpanjang waktu, walau sebenarnya masih blm ingin mengakhiri, tapi waktu yang berbicara… hampir 2 jam aku dan Dina berrpacu birahi diatas meja kerja Tari. Aku mulai berkonsentrasi untuk pencapaian akhirku… aku tak peduli erangan dan rintihan Dina yang memilukan akibat rojokanku yang menghebat

“Ooohkk.. hhookkhh.. ooww.. sayaaang… keluarkan.. di… di.. mulutkuuu yakkkhh..hhkk..”Sebagai wanita yg berpengalaman Dina tahu gelagat ini… diapun mempergencar counter attacknya dengan goyang dan geolnya yang gemulai… kuku jarinya yang panjang menggelitiki dada bidangku… dan… aku mengeram panjang sebelum

mencabut batang kemaluanku dari liang becek di tengah selangkangan Dina… dan dengan lincah Dina mengatur posisinya sehingga kepalanya menggantung terbalik keluar dari meja, tepat didepan palkonku yang sedang mengembang siap menyemburkan cairan kental sewarna susu… Dina mengangakan mulutnya lebar- lebar dan lidahnya terjulur menggapai ujung palkonku… Hwwwoooohhh…!!!!! ledakan pertama mengantarkan semburatnya spermaku menyembur lidah dan rongga mulutnya… aku sendiri tidak menyangka kalo sebegitu banyak spermaku yang tumpah…. bahkan sebelum semburan berakhir dengan tidak sabar batang kemaluanku disambar dan dikoloh dan disedot habis- habisan….

Dina duduk diatas meja sambil merapikan rambut blondienya yang kusut, sementara aku ngejoprak di kursi putar…..

“Wajah kamu alim ternyata mengerikan kalo sedang ML mas…?”celetuk Dina sambil menatapku dengan pandangan gemas dengan senyum-senyum jalang.

“Siang ini aku ketemu singa betina kelaparan…”sahutku letoy.

“Salah mas, yang bener kehausan… peju mas Tommy bikin badanku terasa segar…ha.. ha..ha..”sambut Dina sambil ketawa ngakak

“Waaakks… mati aku… mas, Tari dateng tuuuhh…!”Tiba-tiba Dina loncat turun dari meja dengan wajah pucat, buru-buru merapikan pakaian sekenanya dan langsung cabut keluar ruangan… akupun segera melakukan tindakan yg sama… waaah di atas sepatuku ada onggokan kain putih ternyata celana dalam… pasti milik Dina, segera kusambar masuk ke tas laptop… dan aku segera masuk ke kamarmandi yg ada di ruang kerja Tari….

“Yaaang… chayaaang…. bukain doong…”suara Tari sambil mengetok pintu kamar mandi…

“Hei.. bentar sayang… dari mana aja..?”sahutku setengah gugup dari dalam kamar mandi.

Ketika pintu kubuka Tari langsung menerobos masuk… busyeet… Tari menubrukku dan aku dipepetin ke wastafel… aku makin gugup…

“Sssshhhh… untung kamu dateng say… ga tau mendadak aja, tadi dijalan Tari horny berat…”tanpa basa basi lagi celanaku dibongkarnya dan setelah batang kemaluanku yang masih loyo itu di dapatnya, segera istriku ini berlutut dan melakukan oral sex….

meski agak lama, tapi berhasil juga kecanggihan oral sex Tari istriku membangunkan kejantananku yang baru mo istirahat… tanpa membuka pakaiannya Tari langsung membelakangiku sambil menyingkap rok kerjanya sampai ke pinggang, pantat Tari kalah montok dibanding Dina, namun bentuknya yang bulat, mengkal sangat seksi di mataku… sesaat kemudian CD G-String dan stocking Tari sdh lolos dari tempatnya…

“C’ mon darling…. hajar liang cinta Tari dari belakang…”dengan suara dengus nafas penuh birahi Tari mengangkangkan kakinya sambil menunggingkan pantatnya…

Memang istriku akhir-akhir ini sangat menyukai gaya doggie style…”lebih menyengat”katanya… sesaat kemudian kembali batang kemaluanku beraksi di liang sanggama wanita yang berbeda… Dalam posisi doggie style, Tari memang lihay memainkan goyang pantatnya yang bulat secara variatif… dan apalagi aku sangat suka melihat goyangan pantat seksi Tari, membuat aku semakin semangat menghajar liang sanggama Tariyang tak sebecek Dina…

Untungnya Tari adalah type wanita yang cepat dan mudah mencapai puncak orgasme.. nggak sampai 10 menit kemudian Tari mulai mengeluarkan erangan-erangan panjang… aku hafal itu tanda-tanda bahwa istrikumenjelang di puncak orgasme, maka segera kurengkuh pinggangnya dan kupercepat rojokan batangkemaluanku menghajar liang sanggama Tari tanpa ampun…

“Tommm… Tommmy… gilaaa… aaahkk… niiikkmaaatt bangeeett…!!!”jeritan kecil Tari itu dibarengi dengan tubuh sintal Tari yang gemetaran hebat…pantat seksinya menggeol-geol liar menimbulkan rasa nikmat luar biasa pada batang kemaluanku yang terjepit di liang sanggamanya… aku tak menahan lagi semburatnya spermaku yang kedua utk hari ini…

“Ma kasih Tommy chayaang…”kata Tari sesaat kemudian sambil mendaratkan kecupan mesra dibibirku..Setelah membersihkan sisa-sisa persetubuhan, aku pamit untuk kembali ke kantor, sementara Tari masih berendam di bath up…. Dina sudah duduk rapi di mejanya ketika aku keluar dari ruangan Tari, kudekati dia…

“Ssshh… nggak takut masuk angin, bawahnya ga ditutup..?”bisikku sambil kuselipkan celana dalam putih Dina kelaci mejanya…mata Dina melotot dengan mimik lucu…

“Ronde kedua niih yee..?”celetuknya nakal setelah tahu Tari tak ikut keluar dari ruangan….

Aku melenggang memasuki mobilku, sambil memikirkan follow up ke Dina….. yang ternyata sangat menggairahkan…

Demikian artikel tentang cerita Ku Gaspol Memek Teman Kantor Istriku Sendiri Yang Binal Dan Liar Kayak Lonte.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

 

Indahnya Ngentot Dengan Teman Kantor Yang Bahenol Bikin Kontol Tegang Terus.

Indahnya Ngentot Dengan Teman Kantor Yang Bahenol Bikin Kontol Tegang Terus.Sudah kurang lebih setahun aku bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak dalam perundingan pembelian tanah yang akan dijadikan tempat usaha. Di perusahaan itu aku juga memilki jabatan yang tidak rendah karena aku selalu yang disuruh berangkat menyurvey, menawar, dan memastikan kalau lahan yang akan dibuat usaha itu benar-benar strategis.

Aku juga sering bertemu dengan klien yang meminta bantuan perusahaan kami atau yang bekerja sama dengan perusahaan kami. Aku mendapatkan kepercayaan oleh perusahaan setelah aku berhasil memenangkan tender yang sangat besar sekali, dari itu aku menjadi orang kepercayaan bosku.

Dikala aku menyurvey sebuah lahan aku selalu ditemani oleh seorang teman kantorku yang ditugaskan oleh kantor untuk menemaniku. Namanya Bu Rena, orangnya tidak begitu cantik, tapi senyumannya sangatlah manis sekali. Dia berusia sekitar 35 tahunan, dia juga sudah mempunyai suami dan mempunyai dua orang anak. Tapi tubuh Bu Rena ini masih sangat langsing sekali, payudaranya lumayan besar sekitar 34B dan pantatnya yang ranum menghiasi pemandangan tubuh Bu Rena dibalik kerudung yang selalu menutupi wajahnya. Sudah lama aku bekerja bersama Bu Rena, jadi aku mengetahui bagaimana sifat Bu Rena. Sehingga kami dengan tidak segan lagi ketika saling bercanda.

Selain ditemani Bu Rena aku, saat menyurvey aku juga selalu diantar oleh sopir pribadiku yang juga sudah lama bekerja denganku. dibalik kerudung Bu Rena sempat aku menebak-nebak tentang gairah Seks Bu Rena ini, bahkan aku juga sempat menanyakan pada Bu Rena saat kami keluar menyurvey. Dia hanya tersenyum dengan pertanyaanku yang menjurus soal hubungan Seks.

Aku menjadi tahu kalau Bu Rena ini juga sebenarnya gak baik-baik banget, aku juga bisa mendapatkannya, tapi dia menutupinya dengan berkerudung saat dikantor. Aku juga sering menggodanya saat berada dikantor tapi tidak didepan teman-teman kantor, tapi ketika terlihat sepi, dan Bu Rena selalu hanya membalas godaanku dengan senyuman yang sangat khas dari raut wajahnya.

Waktu itu hari sabtu aku mengambil cuti karena aku ingin istirahat dirumah, menenangkan pikiran dari segala urusan yang ada dikantor. Tapi tak sesuai dengan harapanku, sekitar jam 10 siang aku ditelpon oleh atasanku dan aku ditugaskan untuk menyurvey sebuah lahan dengan sebuah klien dari perusahaan.

Dengan tak bisa menolak aku pun menyanggupinya. Dan aku meminta kalau Bu Rena diantar kerumahku. Segera aku bergegas tata-tata, menyiapkan segala sesuatu yang aku perlukan. Dan setengah jam kemudian Bu Rena sampai kerumahku dengan diantar sopir perusahaan. Aku mempersilahkannya masuk dirumahku dulu sambil menunggu bersiap. Istriku dengan Bu Rena juga sudah kenal karena aku sudah cerita tentang Bu Rena jadi istriku gak masalah.

Setelah aku selesai, aku mencari sopirku, dan setelah aku panggil istriku yang menjawab, kalau sopirku pagi tadi ijin untuk mengantar istrinya kerumah sakit. Jadi terpaksalah aku menyetir mobil sendiri. Dan aku langsung berpamitan dengan istriku. Aku dan Bu Rena lalu masuk mobil dan kami pun langsung meninggalkan rumah.

Obrolan kami di perjalanan menuju lokasi, hanya menyangkut masalah-masalah bisnis yang ada kaitannya dengan Bu Rena. Tidak ada sesuatu yang menyimpang. Bahkan setelah tiba di lokasi yang 25 km dari pusat kota, aku tak berpikir yang aneh-aneh. Bahkan aku jengkel juga ketika pemilik tanah itu tidak ada di tempat, harus dijemput dulu oleh keponakannya yang segera meluncur di atas motornya.

Kami duduk saja di dalam mobil yang diparkir menghadap ke kebun tak terawat, yang rencananya akan dijadikan perumahan oleh kenalanku yang seorang developer. Suasana sunyi sekali. Karena kami berada di depan kebun yang mirip hutan. Pepohonan yang tumbuh tidak dirawat sedikit pun.

Tapi suasana yang sunyi itu…entah kenapa…tiba-tiba saja membuatku iseng…memegang tangan Bu Rena sambil berkata,

“Bisa 2 jam kita harus menunggu di sini, Bu.”

“Iya Pak,” sahutnya tanpa menepiskan genggamanku,

“Sabar aja ya Pak….di dalam bisnis memang suka ada ujiannya.” Aku terdiam.

Tapi tanganku tidak diam. Aku mulai meremas tangan wanita 30 tahunan itu, yang makin lama terasa makin hangat. Dia bahkan membalasnya dengan remasan. Apakah ini berarti……..ah…..pikiranku mulai melayang-layang tak menentu. Mungkin di mana-mana juga lelaki itu sama seperti aku. Dikasih sejengkal mau sedepa.

Remas-remasan tangan tidak berlangsung lama. Kami bukan abg lagi. Masa cukup dengan remas-remasan tangan? Sesaat kemudian, lengan kiriku sudah melingkari lehernya. Tangan kananku mulai berusaha membuka jalan agar tangan kiriku bisa menyelusup ke dalam bajunya yang sangat tertutup dan bertangan panjang. Bu Rena diam saja. Dan akhirnya aku berhasil menyentuh payudaranya.

Tapi dia menepiskan tanganku sambil berkata,

“Duduknya di belakang saja Pak…di sini takut dilihat orang…” O, senangnya hatiku.

Karena ucapannya itu mengisyaratkan bahwa dia juga mau !

“Kenapa mendadak jadi begini Pak?” tanya wanita berjilbab itu ketika kami sudah duduk di jok belakang, pada saat tanganku berhasil menyelinap ke baju tangan panjangnya dan ke balik BH nya.

“Gak tau kenapa ya?” sahutku sambil meremas payudaranya yang terasa masih kencang, mungkin karena rajin merawatnya.

“Tapi Pak…uuuuhhhh…..kalau saya jadi horny gimana nih?” wanita itu terpejam-pejam sambil meremas-remas lututku yang masih berpakaian lengkap.

“Kita lakukan saja…asal Bu Rena gak keberatan….” tanganku makin berani, berhasil menyelinap ke balik rok panjangnya, lalu menyelundup ke balik celana dalamnya.

Tanganku sudah menyentuh bulu kemaluannya yang terasa lebat sekali. Kemudian menyeruak ke bibir kemaluannya…bahkan mulai menyelinap ke celah vaginanya yang terasa sudah membasah dan hangat.

“Masa di mobil?” protesnya,

“kata orang mobil jangan dipakai gituan, bisa bikin sial…”

“Emang siapa yang mau ngajak begituan di mobil? Ini kan perkenalan aja dulu….” kataku pada waktu jemariku mulai menyelusup ke dalam liang kemaluan Bu Rena yang terasa hangat dan berlendir…

Wanita itu memelukku erat-erat sambil berbisik,

“Duh Pak…saya jadi kepengen nih….kita cari penginapan aja dulu yuk. Bilangin aja sama orang-orang di sini kalau kita mau datang lagi besok.”

“Iya sayang,” bisikku,

“ Sekarang ini memiliki dirimu lebih penting daripada ketemuan dengan pemilik tanah itu…”

“Ya sudah dulu dong,” Bu Rena menarik tanganku yang sedang mempermainkan kemaluannya,

“Nanti kalau saya gak bisa nahan di sini kan berabe. Nanti aja di penginapan saya kasih semuanya…” Aku ketawa kecil.

Lalu pindah duduk ke belakang setir lagi. Tak lama kemudian mobilku sudah meluncur di jalan raya. Persetan dengan pemilik tanah itu. Sekarang ini yang terpenting adalah tubuh Bu Rena, yang jelas sudah siap diapakan saja. Dengan mudah kudapatkan hotel kecil di luar kota, sesuai dengan keinginan Bu Rena, karena kalau di dalam kota takut kepergok oleh orang-orang yang kami kenal.

Soalnya aku punya istri, Bu Rena pun punya suami. Hotel itu cuma hotel sederhana. Tapi lumayan, kamar mandinya pakai shower air panas. Tidak pakai AC, karena udaranya cukup dingin, rasanya tak perlu pakai AC di sini. Yang penting adalah wanita berjilbab itu…yang kini sedang berada di dalam kamar mandi, mungkin sedang cuci-cuci dulu…sementara aku sudah tak sabaran menunggunya.

Ketika ia muncul di ambang pintu kamar mandi, aku terpana dibuatnya. Rambutnya yang tak ditutupi apa-apa lagi, tampak tergerai lepas….panjang lebat dan ikal. Jujur…ia tampak jauh lebih seksi, apalagi kalau mengingat bahwa ia 5 tahun lebih muda daripada istriku. Rok bawahnya tidak dikenakan lagi, sehingga pahanya yang putih mulus itu tampak jelas di mataku.

Aku bangkit menyambutnya dengan pelukan hangat,

“Bu Rena kalau gak pake jilbab malah tampak lebih cantik….muuuahhhhh…” kataku diakhiri dengan kecupan hangat di pipinya.

Ia memegang pergelangan tanganku sambil tersenyum manis. Dan kuraih pinggangnya, sampai berada di atas tempat tidur yang lumayan besar. Lalu kami bergumul mesra di atas tempat tidur itu. Bu Rena tidak pasif. Berkali-kali dia memagut bibirku. Aku pun dengan tak sabar menyingkapkan baju lengan panjangnya.

Dan…ah…rupanya tak ada apa-apa lagi di balik baju lengan panjang itu selain tubuh Bu Rena yang begitu mulus. Payudaranya tidak sebesar payudara istriku. Tapi tampak indah di mataku. Tak ubahnya payudara seorang gadis belasan tahun. Dan ketika pandanganku melayang ke bawah perutnya…tampak sebentuk kemaluan wanita yang berambut tebal, sangat lebat…. Aku pun mulai beraksi. Mencelucupi lehernya yang hangat, sementara tanganku mulai mengelus bulu kemaluan yang lebat keriting itu.

Bu Rena pun tidak tinggal diam, mulai melepaskan kancing kemejaku satu persatu, lalu menanggalkan kemejaku. Untuk mempermudah, aku pun menanggalkan celana panjang dan celana dalamku. Sehingga batang kemaluanku yang sudah tegak kencang ini tak tertutup apa-apa lagi.

Bu Rena melotot waktu melihat batang kemaluanku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi ini.

“Iiiih…punya Bapak kok panjang gede gitu….mmm….si ibu pasti selalu puas ya …” desisnya.

“Emang punya suami Bu Rena seperti apa?” tanyaku.

“Jauh lebih pendek dan kecil,” bisik Bu Rena sambil merangkulku dengan ketat, seperti gemas.

Kembali kuciumi lehernya yang mulai keringatan, lalu turun…mencelucupi puting payudaranya. Kusedot-sedot seperti anak kecil sedang menetek, sambil mengelus-eluskan ujung lidahku di putting payudara yang terasa makin mengeras ini. Sementara tanganku tak hanya diam. Jemariku mulai mengelus bibir kemaluan wanita itu, bahkan mulai memasukkan jari tengahku ke dalam liang kemaluannya.

Bu Rena sendiri tak cuma berdiam diri. Tangannya mulai menggenggam batang kemaluanku. Meremasnya dengan lembut. Mengelus-elus puncak penisku, sehingga aku makin bernapsu. Tapi aku sengaja ingin melakukan pemanasan selama mungkin, supaya meninggalkan kesan yang indah di kemudian hari. Maka setelah puas menyelomoti puting payudara wanita itu, bibirku turun ke arah perutnya. Menjilati pusarnya sesaat.

Lalu turun ke bawah perutnya.

“Pa jangan ke situ ah…malu…” Bu Rena berusaha menarik kepalaku agar naik lagi ke atas.

Tapi aku bahkan mulai menciumi kemaluanya yang berbulu lebat itu. Lalu jemariku menyibakkan bulu kemaluan wanita itu, mengangakan bibirnya dan mulai menjilatinya dengan gerakan dari bawah ke atas….

“Aduh Pak…ini diapain? Aaah…kok enak sekali Pak…..” Bu Rena mulai menceracau tak menentu.

Lebih-lebih ketika aku mulai mengarahkan jilatanku di clitorisnya, terkadang menghisap-hisapnya sambil menggerak-gerakkan ujung lidahku.

“Oooh Pak…oooh….Pak….iiiih….saya udah mau keluar nih….duuuhhhhhh” celotehnya membuatku buru-buru mengarahkan batang kemaluanku ke belahan memeknya yang sudah basah.

Dan kudesakkan sekaligus….blessss…..agak mudah membenam ke dalam liang surgawi yang sudah banyak lendirnya itu. “Aduuuduuuhhhh…sudah masuk Paaakk…..oooohhhh….” Bu Rena menyambutku dengan pelukan erat, bahkan sambil menciumi bibirku sambil menggerak-gerakkan pantatnya,

“Sa…saya gak bisa nahan lagi…langsung mau keluar Paaak…tadi sih terlalu dienakin…oooh…” Lalu terasa tubuh wanita itu mengejang dan mengelojot seperti sekarat.

Rupanya dia tak bisa menahan lagi. Dia sudah orgasme….terasa liang kemaluannya berkedut-kedut, lalu jadi becek. “Barusan kan baru orgasme pertama,”bisikku yang mulai gencar mengayun batang kemaluanku, maju mundur di dalam celah kemaluan Bu Rena.

Beberapa saat kemudian wanita itu merem melek lagi, bahkan makin gencar menggoyang-goyang pinggulnya, sehingga batang kemaluanku serasa dibesot-besot oleh liang surgawi Bu Rena. Aku tahu goyangan pantatnya itu bukan sekadar ingin memberikan kepuasan untukku, tapi juga mencari kepuasan untuknya sendiri.

Karena pergesekan penisku dengan liang kemaluannya jadi makin keras, kelentitnya pun berkali-kali terkena gesekan penisku.

“Adduuuh, duuuh….Pak…kok enak sekali sih Pak…..aaah…saya bisa ketagihan nanti Pak…..” celotehnya dengan napas tersengal-sengal.

“Aku juga bisa ketagihan,” sahutku setengah berbisik di telinganya, sambil merasakan enaknya gesekan dinding liang kemaluannya,

“memekmu enak sekali, sayang…..duuuuh….benar-benar enak sekaliii….” Aku memang tidak berlebihan.

Entah kenapa, rasanya persetubuhanku kali ini terasa fantastis sekali. Mungkin ini yang disebut SII (Selingkuh Itu Indah). Padahal posisi kami cuma posisi klasik. Goyangan pantat Bu Rena juga konvensional saja. Tapi enaknya luar biasa. Dalam tempo singkat saja keringatku mulai bercucuran. Bu Rena pun tampak sangat menikmati enjotan batang kemaluanku. Sepasang kakinya diangkat dan ditekuk, lalu melingkari pinggangku, sementara rengekan-rengekannya tiada henti terlontar dari mulutnya.

“Ooooh….oooh…hhhh….aaaaahhhhh…oooh…aaaaah….aduuuh Paaak….enak Pak….duuuuh….mmmmhhhhh saya mau keluar lagi nih Paaak….”

“Kita barengin keluarnya yok….” bisikku sambil mempergencar enjotan batang kemaluanku, maju mundur di dalam liang kewanitaan Bu Rena.

“I…iya Pak….bi…bi…biar nikmat…..” sahutnya sambil mempergencar pula ayunan pinggulnya, meliuk-liuk cepat dan membuat batang kemaluanku seperti dipelintir oleh dinding liang kemaluan wanita yang licin dan hangat itu.

Sampai pada suatu saat…kuremas-remas buah dada wanita itu, mataku terpejam, napasku tertahan…batang kemaluanku membenam sedalam-dalamnya….lalu kami seperti orang-orang kesurupan….sama-sama berkelojotan di puncak kenikmatan yang tiada taranya ….. Air maniku terasa menyemprot-nyemprot di dalam liang memek Bu Rena. Liang yang terasa berkedut-kedut.

Lalu kami sama-sama terkapar, dengan keringat bercucuran.

“Ini yang pertama kalinya saya digauli oleh lelaki yang bukan suami saya…” kata Bu Rena sambil membiarkan batang kemaluanku tetap menancap di dalam memeknya.

Kujawab dengan ciuman hangat di bibirnya yang sensual,

“Sama…saya juga baru sekali ini merasakan bersetubuh dengan wanita yang bukan istri saya. Terimakasih sayang…mulai saat ini Bu Rena jadi istri rahasiaku…”

“Dan Bapak jadi suami kedua saya….iiih…kenapa tadi kok enak sekali ya Pak?”

“Mungkin kalau dengan pasangan kita sendiri sudah terlalu biasa, nggak ada yang aneh lagi. Tapi barusan dilepas di dalam…nggak apa-apa ?”

“Nggak apa-apa,” sahutnya dengan senyum manis, mata bundar beningnya pun bergoyang-goyang manja,

“Saya kan ikut KB sejak kelahiran anak kedua…”

“Asyik dong, jadi aman….” “Saya pasti ketagihan Pak….soalnya punya Bapak panjang gede gitu…..” Kata-kata Bu Rena itu membuat napsuku bangkit lagi.

Dan batang kemaluanku yang masih terbenam di dalam memeknya, terasa mengeras lagi. Maka kucoba menggerak-gerakkannya…ternyata memang bisa dipakai “bertempur” lagi. Batang kemaluanku sudah mondar mandir lagi di dalam liang vagina Bu Rena yang masih banyak lendirnya tapi tidak terlalu becek, bahkan lebih mengasyikkan karena aku bisa mengentot dengan gerakan yang sangat leluasa tanpa kehilangan nikmatnya sedikit pun. Bahkan ketika aku menggulingkan diri ke bawah, dengan aktifnya Bu Rena action dari atas tubuhku.

Setengah duduk ia menaik turunkan pinggulnya, sehingga aku cukup berdiam diri, hanya sesekali menggerakkan batang kemaluanku ke atas, supaya bisa masuk sedalam-dalamnya. Posisi di bawah ini membuatku leluasa meremas-remas payudara Bu Rena yang bergelantungan di atas wajahku. Terkadang kuremas-remas juga pantatnya yang lumayan besar dan padat. Tapi mungkin posisi ini terlalu enak buat Bu Rena, karena moncong penisku menyundul-nyundul dasar liang vaginanya. Dan itu membuatnya cepat orgasme. Hanya beberapa menit ia bisa bertahan dengan posisi ini. Tak lama kemudian ia memeluk leherku kuat-kuat, seperti hendak meremukkannya.

Lalu terdengar erangan nikmatnya,

“Aaaahhhh….saya keluar lagi Paaaak…..” Kemudian ia ambruk di dalam dekapanku.

Tapi aku seolah tak peduli bahwa Bu Rena sudah orgasme lagi. Butuh beberapa saat untuk memulihkan vitalitasnya kembali. Tak perlu vitalitas. Yang jelas batang kemaluanku sedang enak-enaknya mengenjot memek teman bisnisku ini. Lalu aku menggulingkan badannya sambil kupeluk erat-erat, tanpa mencabut batang kemaluanku dari dalam memeknya yang sudah orgasme kesekian kalinya. Bu Rena memejamkan matanya waktu aku mulai mengentotnya lagi dengan posisi klasik, dia di bawah aku di atas.

Tapi beberapa saat kemudian ia mulai aktif lagi. Mendekapku erat-erat sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gerakan meliuk-liuk ….. Aku pun makin ganas mengentotnya. Tapi ia tak mau kalah ganas. Gerakan pantatnya makin lama makin dominan.

Membuatku berdengus-dengus dalam kenikmatan yang luar biasa.

“Oooh…enak banget Paaak….sa…saya mau keluar lagi ….kita barengin lagi Pak…ta…tadi juga enak sekali….” celotehnya setelah batang kemaluanku cukup lama mengentot liang memeknya.

Aku setuju. Kuenjot batang kemaluanku dengan kecepatan tinggi, maju-mundur, maju-mundur….sampai akhirnya kami sama-sama berkelojotan lagi Saling cengkram, saling lumat….seolah ingin saling meremukkan….dan akhirnya air maniku menyemprot-nyemprot lagi di puncak kenikmatanku, diikuti dengan rintihan lirih Bu Rena yang sedang mencapai orgasme pula.

“Kita kok bisa tiba-tiba begini ya?” cetus bu Rena waktu sudah mengenakan pakaiannya lagi.

“Iya…dari rumah aja gak ada renana….tapi tadi mendadak ada keinginan…untunglah ibu gak menolak…terimakasih ya sayang,” sahutku dengan genggaman erat di pergelangan tangannya, kemudian kukecup mesra bibirnya yang tipis mungil itu.

Wanita itu tersenyum. Memeluk pinggangku sambil berkata perlahan,

“Kita harus berterimakasih pada pemilik tanah itu, ya Pak. Gara-gara dia gak ada di tempat, kita jadi ada acara mendadak begini.” Aku mengangguk dengan senyum.

Sementara hatiku berkata,

“Gara-gara sopirku gak masuk pula, aku jadi punya kisah seperti ini. Kalau ada dia, aku tentu takkan sebebas ini.”

Sore itu kami pulang ke rumah masing-masing, dengan perasaan baru. Bahkan malamnya, ketika istriku sudah tertidur pulas, aku masih sempat smsan dengan bu Rena. Salah satu smsnya berbunyi:

“Puas banget…punya saya sampe terasa seperti jebol….punya bapak kegedean sih…kapan kita ketemuan lagi?” Kujawab singkat,

“Kapan pun aku siap..” Satu kisah indah telah tercatat di dalam kehidupanku. Yang tak mungkin kulupakan.

Demikian artikel tentang cerita Indahnya Ngentot Dengan Teman Kantor Yang Bahenol Bikin Kontol Tegang Terus.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Ku Genjot Keras2 Memek Atasan Ku Yang Bikin Sange Dan Menggairahkan.

Ku Genjot Keras2 Memek Atasan Ku Yang Bikin Sange Dan Menggairahkan.Sudah 10 tahun aku bekerja di suatu perusahaan swasta. Diawali dengan membaca iklan yang dimuat oleh perusahaan tersebut, keesokan harinya aku datang membawa berkas yang dibutuhkan dan memasukkan lamaran lewat Sekretaris Eksekutif Direktur Utama, Ibu Ina namanya. Orangnya cantik, langsing dan menarik. Setelah melalui seleksi yang cukup ketat, akhirnya aku diterima bekerja. Aku sangat senang dan bekerja dengan giat.

Berkat kerja kerasku, pimpinan memberikanku kesempatan meningkatkan keterampilan dengan sekolah lagi di luar kota, sehingga akhirnya aku memperoleh jabatan yang semakin tinggi. Ibu Ina yang dulunya jauh kedudukannya di atasku, menjadi semakin dekat, sehingga kami sering bertemu. Setelah duduk di jajaran eksekutif, barulah aku tahu bahwa ia sudah bersuami dan mempunyai dua orang anak yang sudah duduk di bangku SLTA dan SLTP. Padahal sejak kulihat pertama kali, aku sudah naksir dia, sayang ia sudah menikah.

Ibu Ina yang kulihat 10 tahun lalu, belum banyak berubah, meskipun sudah berumur 40 tahun. Aku sendiri berumur 5 tahun di bawahnya. Keterampilan dan penampilannya selalu mempesona, sehingga posisinya semakin menanjak, bahkan setelah menyelesaikan pascasarjana strata dua ia diangkat sebagai Manager pada bidang quality control. Meskipun setahun yang lalu aku menikahi Waty, seorang gadis manis dari Klaten, aku tetap menjadi pengagum diam-diam Ibu Ina. Tak seorang pun di kantor yang mengetahui betapa aku begitu memujanya.

Suatu ketika Direktur Utama memanggilku, “Saudara Agus saya tugaskan mengikuti pertemuan dengan beberapa rekanan di Yogya selama 3 hari.” Aku sempat kesal waktu dipanggil menerima tugas tersebut, karena ada ulah bawahan di bagianku yang membuatku uring-uringan dan harus kubereskan dalam waktu 5 hari. Aku sempat menolak halus, “… tapi maaf Pak, bukankah saya harus membereskan masalah di bagian saya?” Sang Direktur berkata, “Tentang hal itu tidak perlu saudara risaukan, saya sudah menugaskan orang lain untuk menyelesaikannya.” Lalu ditambahkannya, “Oh ya, saudara saya minta membantu sepenuhnya Ibu Ina, salah seorang manager kita untuk mempresentasikan di depan rekanan tentang manajemen mutu perusahaan kita.

Pertemuan ini sangat penting dalam rangka menjalin kerja sama ke depan. Saudara saya minta bersungguh-sungguh dalam tugas ini. Saya mempercayakan saudara mendampingi Ibu Ina mengingat kemampuan saudara yang telah saya lihat selama ini.” Ups, aku terhenyak kaget, bukan hanya karena kepercayaan yang diberikan kepada saya, tetapi karena seakan mendapatkan durian runtuh. “Pucuk dicinta ulam tiba,” pikirku, “Tiga hari bersama si Cantik Bu Ina tentunya akan sangat menyenangkan.” Rasanya tidak sabaran menunggu saat keberangkatan.

Sehari sebelum keberangkatan ke Yogya, Ibu Ina memanggilku dan mengatakan,

“Dik Agus, aku agak deg-degan naik pesawat akhir-akhir ini, sehingga meskipun seharusnya kita naik pesawat, aku telah memesan dua tiket kereta api eksekutif malam untuk kita. Tetapi lumpsum kita tidak dikurangi selama berada di sana. Harap Dik Agus maklum dan tidak keberatan atas keputusanku,” nada suaranya terkesan galak dan tegas.

Kujawab dengan spontan, “Tak apa-apa, Bu, demi menemani Ibu Ina, saya bersedia jalan kaki sekalipun.”

Ia tersenyum kecil sambil mencubit lenganku. Wah, terkejut hatiku karena tidak menduga mendapat perlakuan demikian. Ah, berjuta rasanya. Kuelus-elus lenganku menikmati bekas cubitannya. Ia hanya memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti.

Saat berangkat dari Stasiun Gambir, aku duduk di sebelah kanan Bu Ina. Kami ngobrol begitu akrab, seakan-akan dua sahabat lama yang bertemu kembali. Wangi parfumnya begitu menggodaku, apalagi rambutnya yang sebahu tergerai lepas dan anak rambutnya sesekali mengenai keningku dikala kami berbincang-bincang.

Menjelang tengah malam, Bu Ina minta ijin tidur duluan. Memang sebelumnya kulihat ia sudah menguap tanda mengantuk. Aku masih membaca majalah sambil sesekali melirik wajahnya yang cantik. “Ah, betapa lembut wajahnya, andaikan aku dapat mengelusnya,” batinku. Lamunanku semakin melambung manakala tubuhnya semakin rapat ke tubuhku dan kepalanya rebah di pundak kiriku.

Tak enak mengganggu tidurnya, kubiarkan saja kepalanya bersentuhan dengan kepalaku, bahkan beberapa kali kudekatkan hidungku menghirup wangi rambutnya. Tak tahan dengan situasi itu, tangan kiriku kuletakkan ke pundak kirinya, merangkul tubuhnya. Kurasakan pipinya bersentuhan dengan pipiku. Ah, betapa halusnya. Tapi aku tak berani berbuat lebih jauh. Tak lama kemudian aku tertidur dalam posisi memeluk pundaknya.

Tiba di Yogya, aku duluan bangun dan kuperbaiki letak dudukku agar ia tidak malu jika mengetahui kupeluk pundaknya semalaman. Kami pun naik taksi menuju hotel tempat pertemuan kami yang dimulai hari itu.

Setelah dua hari lamanya berada di Yogya, pertemuan kami berakhir sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan. Bu Ina berbisik padaku usai makan siang,

“Dik Agus, tidak ada rencana mau kemana siang ini? Kalau tidak mengganggu, habis makan siang ini, tolong temani aku belanja ya?”

“Baik Bu, ke mana pun Ibu minta, akan saya antar,” jawabku sambil memperhatikan wajahnya.

Siang itu kami berdua berjalan sepanjang Jalan Malioboro. Usai belanja, Ibu Ina mengajakku naik delman menuju hotel tempat kami menginap. Kami masuk ke kamar masing-masing. Letih juga berjalan menemani Bu Ina berbelanja. Aku berpikir ingin memanjakan diri sambil membersihkan tubuh, kemudian aku bertelanjang menuju kamar mandi dan berendam di bathtub. Rasanya belum lama berendam, telepon di kamar berdering kudengar berdering. “Sial, siapa yang ganggu orang sedang santai gini?” gerutuku. Kutarik handuk dan mengeringkan tanganku, lalu dengan bertelanjang, aku keluar kamar mandi dan mengangkat gagang telepon.

“Sedang ngapain, Dik?” kudengar suara lembut di seberang sana, “Ah, ternyata Ibu Ina,” pikirku.

“Sedang mandi, Bu, habis gerah banget abis jalan-jalan tadi,” jawabku.

“Waduh, maaf ya, jadi ganggu kegiatan Dik Agus,” sesalnya, “Kalau gitu, teruskan aja mandinya.”

Khawatir ia butuh bantuanku, dengan cepat kubantah, “Tidak apa-apa, Bu. Sudah selesai koq. Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

“Gini lho Dik, tapi maaf lho, terus-terusan aku minta bantuanmu. Sekarang kan sudah pukul enam, tadi petugas hotel memberitahuku ada film bagus di bioskop yang dekat hotel ini. Aku ingat waktu kuliah dulu di Bulaksumur suka nonton di situ. Bagaimana kalau tak ada acara, Dik Agus temani Mbak nonton? Tapi makan malam dulu deh!” Aku terkejut campur senang mendengar ajakannya, tetapi lebih kaget lagi waktu mendengarnya mengganti sebutan dirinya dengan Mbak. “Ah, ada apa nih?” pikirku penasaran.

“Wah, dengan senang hati, Bu. Bila perlu kita makan di luar aja, supaya tidak telat nontonnya,” timpalku dengan hati berbunga-bunga.

“Jangan panggil Ibu terus dong, kita kan sedang tidak di kantor. Panggil Mbak gitu, apalagi Mbak belum setua ibumu, bukan?” katanya di seberang sana.

“Maaf, Bu … eh .. Bu … eh .. iya Mbak Ina,” kataku terbata-bata.

“Nah, kan? Masih latah sebut Ibu terus?” guraunya lagi. Kemudian sambungnya, “Kita makan aja dulu, baru nonton. Mbak tunggu di ruang makan hotel tiga puluh menit lagi ya?” serunya tanpa menunggu jawabanku dan memutuskan pembicaraan.

Waktu makan malam, aku begitu terpesona melihat penampilan Mbak Ina (sekarang kuganti panggilannya sesuai permintaannya tadi). Ia mengenakan celana jeans dan kaos, sebab ia tampil seperti anak muda usia belasan tahun. Apalagi warna lipstick tipis merah muda yang menghiasi bibir mungilnya. Kami makan berdua sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal.

Setelah makan, kami menuju bioskop yang dimaksud Mbak Ina. Ternyata film yang akan kami saksikan telah berjalan setengah jam dan pintu theatre sudah ditutup. Ada film di dua theatre lain, tetapi karena tidak tertarik, Mbak Ine tidak mau. Sewaktu melihat jadwal tayang, kami melihat bahwa film yang akan kami tonton masih akan diputar pukul 23.

“Bagaimana jika kita nonton tengah malam Dik? Tokh kita masih nginap semalam lagi dan besok sore baru kembali ke Jakarta?” tukas Mbak Ina.

“Saya sih tidak keberatan, Mbak, asal Mbak tidak takut tidur kemalaman ntar,” kataku.

“Ah, sekali-sekali tidur larut malam tak apa, kan? Apalagi sayang jika tadi kita langsung pulang, padahal hotel ini sudah dibayar mahal sampai besok sore,” timpalnya sambil menarik tanganku.

“Kita jalan-jalan dulu deh nunggu pukul sebelas,” tambahnya. Kami pun keluar areal bioskop setelah memesan tiket untuk pertunjukan film pkul 23.

Kami berjalan-jalan dan menikmati roti bakar dan wedang jahe di pinggir jalan.

“Ah, ternyata enak juga jalan bareng Mbak Ina, bisa merakyat begini, tidak hanya makan di restoran mahal,” pikirku.

“Heh, ngapain, siang-siang sudah ngelamun jorok,” tiba-tiba Mbak Ina mengagetkan aku sambil mencubit pipiku. Aku tersipu-sipu malu dan menjawab,

“Nggak ngelamun koq, Mbak, cuma heran aja, koq kita bisa begini akrab ya, padahal di Jakarta tidak sempat seperti ini?”

“Ah kamu … emang nyesel jalan bareng Mbak?” tanyanya merajuk. Eh, dia mulai mengganti panggilan Dik dengan kamu. Aku agak heran, tapi kupikir mungkin karena ia makin merasa amat dekat denganku.

“Siapa bilang nyesel, Mbak? Malah senang banget. Nggak pernah mimpi bisa berdua Mbak begini.”

10 menit menjelang pukul 23, kami sudah kembali ke bioskop. Kami masuk dan nonton film romantis, tetapi berbau horor. Waktu menonton adegan yang menyeramkan, tangan Mbak Ina memegang pergelangan tanganku dengan kencang.

Suatu ketika pegangannya begitu kuat, hingga aku terkejut dan berseru,

“Mbak, tanganku sakit tertusuk kuku Mbak!”

“Aduh, maaf, abis ngeri banget sih liat vampire-nya muncul tiba-tiba,” katanya tanpa melepaskan genggaman tangannya.

Namun saat ada adegan ranjang yang cukup hot, dimana pemain wanitanya hanya tinggal mengenakan baju tipis dan buah dadanya nampak terbuka, sedang berciuman dengan tokoh vampire di film tersebut, kurasakan jari-jari Mbak Ina meremas-remas jari-jari tangan kiriku. Aku hampir tak berani bergerak merasakan remasan tangannya dan napasku serasa terhenti di leher. Hal itu terjadi beberapa kali. Aku tidak berusaha menepis, karena kupikir itu reaksi alami karena adegan panas yang kami lihat, bahkan aku berharap agar tangannya tidak pindah dari jari-jariku. Namun aku tidak berani membalas remasannya, khawatir ia akan salah sangka.

Pukul 01 film pun berakhir. Kami naik becak menuju hotel. Mbak Ina nampak masih tercekam oleh film tadi, sehingga ia banyak berdiam diri.

“Mbak udah ngantuk ya? Koq diam aja?” tanyaku sambil mencolek punggung tangannya.

“Hiiyy, serem juga film tadi. Untung ada kamu, kalau tidak, Mbak udah pingsan kali,” jawabnya.

“Ah, itu kan cuma film, Mbak. Ngapain dipikirin, ntar malah nggak bisa tidur lho! Apalagi tidak ada teman di kamar Mbak,” kataku.

Ia diam saja, sehingga aku agak menyesal menggodanya dan memegang jari-jarinya,

“Maaf ya Mbak, saya tidak bermaksud menakut-nakuti Mbak. Maafkan kata-kata saya barusan.”

Mbak Ina membalas sentuhanku dengan meremas jari-jariku sambil berkata,

“Tak apa-apa. Kamu begitu baik temani sejak siang tadi dan nonton, walaupun film tadi mungkin bukan film yang kamu sukai.”

Kami turun dari becak dan menuju lantai lima di mana kamar kami berada dan masuk ke kamar masing-masing. Aku masih merasakan aroma parfum yang dipakai Mbak Ina melekat di pundak dan jari-jariku. Seperti kerasukan, aku menciumi jari-jariku sendiri seolah-olah mencium jari-jari Mbak Ina. Sewaktu mau merebahkan tubuh di ranjang, telepon berdering.

“Ah, siapa lagi telepon malam-malam?” pikirku,

“Dik Agus, sudah tidur ya?” kudengar suara Mbak Ina di seberang sana.

“Hampir tidur Mbak. Ada apa, Mbak?” tanyaku.

“Aa.. aku … takut, kebayang-bayang film tadi. Dik Agus tolong ke kamarku sebentar ya!” pintanya.

Dengan bercelana pendek dan kaos oblong, aku mengetuk pintu kamarnya. Ketika pintu kamarnya terbuka, aku tercekat sebab melihat Mbak Ina berdiri dengan baju tidur tipis berwarna putih sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya diterangi lampu kamar yang redup. Walaupun agak temaram, aku dapat melihat jelas betapa seksinya tubuh Mbak Ina. Tanpa sadar aku menelan ludah beberapa kali, apalagi melihat di balik baju tidurnya ia mengenakan BH dan celana dalam warna merah hati.

“Ayo masuk, jangan bengong aja di situ!” ajaknya sambil menutup pintu di belakangku.

“Kalau tak keberatan, maukah kamu duduk sambil nonton TV untuk menemani aku sampai aku tidur? Kalau aku sudah tertidur, tinggalkan saja dan kembali ke kamarmu,” sambungnya.

“Boleh Mbak, malah saya sangat menyesal telah menakut-nakuti Mbak dengan ucapan saya waktu di becak tadi, sehingga bermaksud menemani Mbak sampai pagi,” kataku menanggapi.

“Benar nih, sampai pagi mau temani aku?” tagihnya.

Aku bingung juga dengan spontanitasku yang kusesali dapat membuatku menjadi satpam semalaman ini, tetapi melihat diri Mbak Ina dalam pakaiannya sekarang membuatku bersemangat, bila perlu seminggu lagi menemani dia sekamar.

“Ok Mbak, aku siap mengawal Mbak, tak usah takut ada vampire,” jawabku menyombong.

Mbak Ina berbaring di ranjangnya yang berukuran king size, sedangkan aku duduk di kursi yang ada di dekat TV sambil mencari channel yang menyuguhkan film. Tetapi mataku mencuri-curi pandang ke arah tubuhnya yang walaupun sebagian ditutupi selimut, bagian dadanya yang hanya tertutup sepertiga BH-nya ternyata tidak tertutup selimut. Aku tidak tahu, apakah ia sengaja melakukan itu atau tidak. Kuperhatikan diam-diam, ia sudah memicingkan matanya.

Setengah jam kemudian kulihat ia sudah tertidur, terbukti dari suara napasnya dan matanya yang terpejam rapat, kuamati dadanya yang membusung indah naik turun dengan teratur sesuai helaan napasnya. Aku duduk dengan gelisah, sebab laki-laki mana yang tahan sekamar dengan wanita secantik Mbak Ina dalam baju tidur demikian? “Adik kecilku” yang sudah bangun sejak masuk kamarnya terus menerus mengangguk-angguk, menggodaku dengan bisikan liar, “Ayo, apa lagi yang kau tunggu, bukankah ini peluang emas yang kau impikan selama ini? Kapan lagi ada kesempatan begini dan ajakannya menemani adalah undangan untuk mereguk anggur kenikmatan?”

Aku hampir tak berani beringsut dari dudukku, perlahan kugerakkan leher menoleh ke arah Mbak Ina. Ia tidur dengan tenang. Namun tiba-tiba kudengar ia berteriak, “Tidak, tidak, jangan … ahhh …” Aku terkejut dan melompat dari dudukku. Kulihat Mbak Ina terduduk, matanya agak melotot, ia terengah-engah, jari-jarinya meremas sprei ranjangnya, dan kuperhatikan tetesan keringat di keningnya. Sedangkan selimutnya berantakan tidak menutupi bagian dadanya, sehingga sebagian payudaranya yang putih dapat kulihat dengan jelas, tetapi aku menghalau pikiran-pikiran mesumku.

Aku duduk di ranjang, di dekatnya sambil memegang tangannya lembut, bertanya, “Mimpi ya Mbak? Jangan takut, saya ada di dekat Mbak.”

Ia diam saja, tetapi tanpa kuduga, ia menarik tanganku dan tanpa dapat kucegah sentakannya membuat tubuhku jatuh ke arahnya dan menimpa tubuhnya. “Ma..ma..af, Mbak, saya … ” ucapanku tak selesai karena tiba-tiba bibirku sudah ia tekan ke pipinya. Aku terkejut dengan muka merah padam. Dan belum selesai keterkejutanku, ia menarik tubuhku masuk ke balik selimutnya sambil berkata dengan memelas,

“Temani aku tidur, aku takut … Jangan jauh-jauh di sana! Peluk aku ya!”

Napasku seakan berhenti, jantungku berdebar-debar kencang, sebab kedua bahuku telah ia peluk erat, hingga terasa kedua buah dadanya menekan dadaku. “Aduhai, betapa kenyal payudara wanita ini,” batinku seraya berharap pelukan itu takkan ia lepaskan. Jantungku semakin kencang menghentak-hentak dadaku ketika sebelah kakinya naik memeluk paha dan kakiku. Nafas Mbak Ina terasa begitu dekat di wajahku. Aku serasa bermimpi dan tanpa sadar menutup mataku.

Seperti seorang bayi yang membutuhkan dekapan, Mbak Ina meletakkan kepalanya di dadaku dan tanpa kusadari jari-jariku membelai-belai rambut di keningnya sambil menenangkannya. Kulihat ia memejamkan mata sambil memeluk tubuhku. Aku pun merasa begitu damai merengkuh pundaknya sambil mengingat suasana sewaktu di kereta api bersamanya. Ada kemiripan, tetapi kali ini lebih mesra, apalagi kami berdua sama-sama sedang mengenakan pakaian tidur. Rasanya begitu teduh dan nyaman. Tangannya semakin erat memeluk pinggangku dan kurasakan dagu dan hidungnya ditekankan ke dadaku hingga kelelakianku kurasa bangkit.

Aku tidak berani berbuat macam-macam, walaupun hasratku sudah menggelegak. Tetapi sewaktu bibirnya bergerak naik ke leher, hembusan napasnya kurasa semakin dekat ke dagu dan pipiku, aku membuka mata dan menatap wajahnya. Hatiku kaget bercampur senang sebab kulihat Mbak Ine dengan mata terpejam semakin mendekatkan bibirnya ke bibirku. Secara naluriah aku membuka mulut dan menyambut bibirnya. Aku tidak ingat lagi siapa di antara kami yang memulai ciuman itu, dia atau aku, tapi aku tidak peduli. Gairahku bergelora ketika lidahnya mengait lembut tepi bibirku dan menyusuri rongga mulutku dan menggelitiki lidahku dengan lincahnya.

Dengan tangkas kusambut pilinan lidahnya dengan lidahku. Tangan kiriku yang semula ada di atas bahunya yang terbuka, mulai naik ke arah dagu, pipi dan merabai bibirnya. Mbak Ina mendesah,

“Ahh… ahh… aku kangen kamu, Gus… Peluk aku dan berikan kehangatan buatku!” pintanya.

Aku menggelinjang merasakan aksinya selanjutnya. Mbak Ina begitu buas menciumi wajahku, leherku, turun ke dadaku, hingga aku sempat terperangah kaget saat ia meremas putingku dan mengisapnya, kadang-kadang lembut, dan di waktu lain begitu kuat menggemaskan. Kedua puting dadaku dijilati dan dimasukkan ke mulutnya secara bergantian. Lidahnya begitu lincah bermain di sekujur dadaku, turun ke perut dan lidahnya menggelitiki pusarku hingga aku merasakan aliran darahku memompa begitu kencang.

Aku tak ingat lagi siapa dia dan bagaimana posisinya di kantorku, yang terpikir hanyalah bagaimana memacu kenikmatan bersamanya. Yang terbayang di benakku saat itu adalah seakan-akan sedang memadu kasih dengan istriku sendiri. Sebelah tanganku mengusap-usap perutnya yang datar, tidak terlihat gemuk meskipun sudah melahirkan dua orang anak, sedangkan tanganku yang lain mengelus-elus pundak, punggung dan pinggulnya hingga ia meliuk-liukkan tubuhnya dengan sangat menggairahkan.

“Kamu mau ku-blow job, Agus sayang?” desahnya sambil melakukan “mandi kucing” pada perut, pinggang dan pusarku.

“Ahh … ssshhh, oohhh …. Mmm … mmau, Mmbaakkk… mau banget!” aku memohon dengan sangat, karena begitu dahsyat ia memainkan lidah dan bibirnya sambil tangannya mulai bergerak ke arah celanaku, menyentuh penisku dari luar dan pelan-pelan menurunkan celana pendek dan celana dalamku secara serempak.

Aku sudah tak sadar dengan ucapanku, karena birahiku sudah begitu dalam menguasai diriku. Tidak ada lagi Agus yang alim, yang sopan, yang santun, yang selalu menghargai wanita. Bahkan aku tak sendiri tidak ingat kapan ia membukai kaosku hingga kini aku benar-benar bugil di hadapannya, sedangkan ia masih mengenakan baju tidurnya. Aku benar-benar tak berkutik dibuatnya, bahkan sewaktu kucoba membuka kait BH dan melolosi baju tidurnya, Mbak Ina dengan gesit menepis tanganku dan sama sekali tidak memberi peluang bagiku.

“Sebentar sayang, giliranku memuaskanmu ….,” desahnya di sela-sela permainan bibir dan lidahnya yang begitu memabukkan.

Aku merasa seperti terombang-ambing, apalagi waktu ia mencium, menjilat dan mengisap kulit perut, pinggul dan pinggangku dengan gerakan lembut, berganti dengan gigitan-gigitan kecil, lumatan kasar, bahkan kadang-kadang kurasakan perih bercampur nikmat. Tangannya tak ketinggalan mengelus, mencubit, dan meremas pahaku, lutut, betis juga bagian-bagian atas tubuhku, tak ketinggalan putingku yang semakin merah akibat cubitan-cubitan kecilnya yang membuatku terlonjak-lonjak.

Dalam memuncaknya gairahku, kulihat ia bergeser menempatkan tubuhnya berlutut di antara kedua paha dan kakiku, kepalanya tepat di selangkanganku. Ia mengusap-usap rambut di pangkal pahaku tanpa menyentuh penisku sama sekali hingga aku semakin menggeliat-geliat dibuatnya. Masih dengan kesibukannya memainkan bulu-bulu di sekitar penisku, bibir dan lidahnya mulai merambat ke sela-sela pahaku. Lidahnya menjilati pahaku dan “Ahh … Mmmbakkk,…. ohhhh …. en…nakkkk … nikmattt sayanggg….” aku terpekik waktu lidahnya menjilati kedua testisku secara bergantian, apalagi waktu keduanya dimasukkan ke dalam mulutnya dan diisapnya seakan-akan sedang menikmati es krim. Aku merasa terbang melayang.

Setelah itu, lidahnya naik menjilati penisku, mulai dari bawah naik ke leher penis, pada bagian ini ia melakukan gerakan melingkar, hingga lidahnya bergerak mengelilingi leher penisku, lalu ia mengarahkan lidahnya ke lubang pipisku.

“Ohh… Ougghh … enakh Mbaaakkk akkhhhh…” dan semakin tersentak saat kedua bibirnya mengecup kepala penisku dan menelannya hingga seluruh kepalanya tertelan oleh mulutnya.

Dengan gerakan lembut, Mbak Ina memasukkan dan mengeluarkan kepala penisku dalam mulutnya. Aku merasa seakan-akan hampir tidak sadarkan diri, karena nikmat sewaktu penisku dimasukkannya hingga pangkalnya dan terasa ujungnya membentur daging lembut di tenggorokannya. Aku semakin menggelinjang saat merasakan jari-jarinya mengelus lubang analku dan kurasakan ada cairan yang ia oleskan di situ, aku hanya sempat melihat sekilas ke arah bawah, ternyata sesekali Mbak Ina memasukkan jarinya ke mulutnya dan menaruh ludahnya ke lubang analku. Entah mengapa dan bagaimana ia melakukannya, aku tak mau bertanya saat itu, hanya sanggup merintih dan berusaha menikmatinya sambil meremasi rambutnya yang tergerai.

Pinggang dan pantatku kunaikkan karena geliatku ke kiri dan ke kanan terasa sudah tidak memadai, dan jeritan nikmatku kembali memecah di kamar hotel itu ketika jari tengah tangan kanannya perlahan-lahan memasuki analku, sedikit demi sedikit dan akhirnya sampai seluruhnya masuk ke analku. Kepalaku kugoyangkan ke kanan kiri dan kedua tanganku menekan belakang kepala Mbak Ina ke arah pahaku, hingga seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Belum pernah aku merasakan sensasi yang begitu nikmat pada penis dan sekaligus analku.

“Mbak, aku nggak kuat, akkhu … mau … keluar … Lepaskan Mbak, akkhh …” jeritku.

“Hm, sshhh …. ahh … sabar sayang, nikmati ya say… biar kutelan cairanmu sayang, … ahh… sss …. ekhhh…” desahnya dan kembali menelan penisku sambil jarinya semakin dalam masuk ke analku, ia masukkan dan keluarkan semakin cepat hingga aku semakin tinggi melayang-layang dalam alam kenikmatan. Ia mengulum, menjilat dan merangsek habis-habis.

Entah karena pengaruh film yang kami saksikan tadi atau rangsangan melihat Mbak Ina dalam baju tidurnya dan aksinya yang begitu hebat, aku tak kuasa menahan cairan kenikmatanku.

“Ougghhh … akhhhh … Mbaaakkkk … Inaaahhhh …. akhhh nik..mat…,” jeritku tatkala penisku dengan hebatnya menyemprotkan air mani ke dalam mulutnya. Aku terkejut karena dengan ganasnya Mbak Ina menelan seluruh penisku dan menelan cairanku, bahkan isapan bibirnya pada penisku begitu kencangnya hingga aku tak mampu menarik penisku keluar.

Tangannya turut bekerja mengelus dan meremas kedua biji testisku. Kurasa tak setetes pun air maniku tersisa. Ia begitu menikmati kuluman mulutnya pada penisku dan kurasakan lidahnya terus bermain menggelitiki batang penis dan lubang pipisku. Denyutan penisku lebih sepuluh kali di dalam mulutnya.

Aku terengah-engah karena orgasme yang kualami. Dengan istriku sendiri belum pernah kurasakan kenikmatan demikian, karena seluruh pori-pori tubuhku seakan-akan turut merasakannya, bukan hanya penisku. Mbak Ina kembali menciumi bibirku dan kurasakan beberapa tetes cairanku sewaktu bibir dan lidah kami berpagutan.

Kupeluk dia sambil meredakan debur jantungku yang begitu kencang, aku bertanya padanya, “Mengapa …..?? Mengapa Mbak….?”

Kulihat ia memandangiku dengan lembut dan meletakkan telunjuknya di bibirku, “Ssstt, dengarkan kisahku sayang!”

Kutatap matanya, kulihat di sana rasa sayang yang tulus. Ia melanjutkan,

“Sejak kamu masuk ke perusahaan kita, sudah kuperhatikan bagaimana cara kamu memandangku. Walaupun tidak pernah kamu katakan, aku dapat membaca tatapan matamu. Tapi aku sadar, Gus, bahwa aku sudah bersuami dan punya anak, tak mungkin menikah denganmu. Dan aku sempat cemburu, waktu kamu menikah. Kamu ingat bahwa aku tidak mau hadir pada pesta pernikahanmu? Itu karena aku iri, istrimu mendapatkan pria sebaik kamu.

Aku tidak berani menggodamu di kantor kita, sebab aku sadar statusku sudah bersuami dan teman-teman tahu bahwa aku bukan wanita penggoda. Apalagi kulihat kamu begitu sopan dan tidak pernah kudengar sikapmu yang buruk terhadap karyawati di perusahaan kita. Itu sebabnya mengapa waktu kita mendapat tugas bersama, kuminta naik kereta api agar dapat bersentuhan denganmu setidak-tidaknya beberapa jam. Kesempatan emas makin terbuka kurasa karena kamu mau menemaniku berbelanja dan nonton.”

Tak kuasa berdiam diri, keluar pengakuanku, “Aku sudah lama mengagumi dan menyayangimu Mbak, tapi aku menyesal, sebab Mbak sudah menikah waktu kita bertemu. Aku juga tidak berani mengganggu Mbak, karena kudengar dari teman-teman, Mbak adalah istri yang sangat setia pada suami. Maafkan aku atas kejadian malam ini, Mb…”

“Husshh,” potongnya, “Kamu tidak perlu minta maaf, Gus, justru akulah yang menggodamu sehingga malam ini kita jadi begini. Aku cuma bikin alasan takut karena nonton film tadi dan minta kau temani supaya kita dapat bermesraan sekarang. Paling tidak ini saat-saat bahagia kita berdua. Kalau di Jakarta, tidak mungkin kita bisa melakukan hal ini.”

Aku terdiam menyimak kata-katanya dan kembali gairahku bangkit manakala jari-jarinya bermain di dada dan perutku.

“Ah, Mbak … aku .. sayang kamu …,” bisikku perlahan di telinganya. “Sekarang giliranku memuaskanmu, ya Mbak sayang?” sambungku.

Ia tidak menjawab, hanya mengangguk sambil memejamkan mata.

Aku dalam keadaan masih telanjang menciumi rambutnya, keningnya, kedua kelopak matanya dan hidungnya. Pipinya tak luput dari kecupanku dan kembali bibir kami bertemu serta lidah kami bertautan. Lidahku masuk ke dalam mulutnya, mencari dan memilin lidahnya, bahkan air ludahku ia isap dengan liar saat lidahku menggelitik bagian atas rongga mulutnya. Di lain waktu, lidahnya masuk ke dalam mulutku menggelitik gigi geligiku dan lidahku. Mulut dan lidah kami terus saling mengulum dan membelit berbagi kenikmatan. Tangannya mengelus-elus kepala dan rambutku. Jari-jariku kumainkan di pipi dan lehernya.

Kuturunkan kepalaku, bibir dan lidahku menciumi lehernya yang jenjang dan turun ke pundaknya. Ia makin menggeliat sambil mulutnya terus mendesah. “Akhh.. Gus, sayang … ah, terus Gus, oohh… teruskan dong Gus, ja… jangan berhenti!”

Aku mengambil napas memandangi wajahnya sambil jari-jariku mengusap pundaknya dan bermain ke belakang punggungnya melepas kaitan BH-nya. Ia makin merintih manakala tali kait BH-nya kulepas sambil menciumi ketiaknya yang bersih, lidahku kumainkan di situ dan merambat ke arah payudaranya yang begitu sekal, kenyal dan padat.

“Oww… luar biasa payudaramu, Mbak!” tak dapat kusembunyikan kekagumanku atas keindahan payudaranya.

“Padahal Mbak sudah tidak berumur tiga puluhan lagi. Koq bisa masih begini kenyal ya Mbak? Seperti payudara gadis-gadis saja?” lanjutku.

“Ah, kau bisa saja, Gus! Aku kan sudah tua?” bantahnya sambil memainkan jari-jarinya mengelus dadaku.

“Kata siapa Mbak sudah tua? Nyatanya payudara Mbak masih lebih bagus daripada punya Waty istriku,” kataku lagi memuji.

“Gombal! Rayuan kuno Gus!” katanya lagi sambil menjentik pipiku dengan jarinya yang lentik.

Aku menghentikan elusanku sambil mengamati payudaranya yang tak begitu besar, tetapi begitu sekal, kenyal, sehingga sangat nikmat dielus dan diremas. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin 34C, tetapi dengan putingnya yang begitu runcing bagaikan stupa candi, membuatku sangat terangsang untuk mengecupnya.

“Ada apa sih, Gus? Koq jadi melongo gitu?” tanyanya, entah heran atau bangga, karena melihat sikapku yang begitu mengagumi keindahan payudaranya.

“Ini lho Mbak, puting payudaramu sangat cantik. Aku jadi ingat stupa Candi Borobodur. Bagian atas putingmu begitu runcing, tetapi di bagian bawahnya semakin melebar, sehingga tidak sama diameternya dengan ujung putingmu,” kataku lagi sembari mengelus lembut putingnya dan menjilati ujungnya kemudian turun ke belahan payudaranya.

Benar-benar indah. Seolah-olah ada dua gunung yang bertindihan melihat bentuk payudara dan putingnya. Gunung pertama berujung pada putingnya, sedangkan gunung yang lebih besar menyangga putingnya dan membentuk lembah indah ketika bertemu dengan bagian lereng payudaranya yang lain.

“Ougghhh… Guuusss… ohhh.. enak … yah… terus, terusss, sayang ….” rintihnya saat kukecup dan kulumat putingnya dengan lidah dan bibirku tanpa menyentuh gunung payudaranya. Ia semakin menggeliat-geliat saat bibirku memasukkan putingnya ke mulutku dan mengecupnya dengan lembut, lama kelamaan makin kuat kemudian lembut lagi, demikian seterusnya.

Apalagi kedua tanganku mulai turut aktif meremas-remas kedua payudaranya sambil mulutku tak henti-hentinya menjilat dan mengisap putingnya secara bergantian. Jari-jarinya mulai mencari-cari penisku dan mengusap-usapnya lagi, tetapi kutepis dengan halus sambil berkata,

“Sabar sayang, tadi kan sudah Mbak puasi aku, sekarang giliranku dulu ya say…”

“Ahh… sshhh … ihhh … kau menyiksaku Gus … ohh…nikmatnya,” erangnya sambil menghempaskan kepalanya ke kanan kiri tak beraturan.

“Owwhh … ahhh…,” desahannya makin kuat waktu kedua kedua buah dadanya kudekatkan satu sama lain dan kedua putingnya kumasukkan ke mulutku serta kuisap secara berbarengan.

Beberapa menit aku melakukan itu sambil lututku menekan-nekan dengan ritme yang beraturan pada kemaluannya yang telah basah walaupun masih dibalut celana dalam. Dengan setengah berlutut di samping tubuhnya yang menggeliat-geliat menahan nikmat, aku terus memainkan bibir, lidah dan tanganku di puting dan kedua payudaranya dan sebelah tanganku turun ke bagian bawah perutnya masuk ke balik celana dalamnya yang semakin basah menelusuri rambut-rambut kemaluannya dan mengusap-usap vaginanya yang membanjir. Begitu kutemukan sesuatu sebesar biji kacang pada bagian atas vaginanya yang ternyata adalah klitorisnya, aku melakukan usapan lembut dan perlahan-lahan menjepitnya dengan dua jari. Gerakan tersebut membuatnya makin meracau dan menggeliat.

“Ya…. ya …. terusss … ya …. sshh … itu Guss….., jangan berhenti …. ayo say …. gerakkan lebih cepat tanganmu pada kelentitku. Oookkhhhh …. ekkhhh … uhhgg….” ia memberikan perintah padaku sambil menggeliat-geliat semakin tak menentu.

Mendengar permintaannya itu, aku malah berdiam diri sejenak, hingga ia tersentak,

“Oohh, ada apa … Gus? Jangan berhenti, cepaattt … aku sudah hampir sampai … ohhh jangan siksa akuuuu…” rintihnya lirih.

Aku tidak menyahut, tetapi kembali kubenamkan wajahku ke dadanya mencium, menjilat dan mengisap puting dan kedua payudaranya. Putingnya kuisap kuat-kuat sambil menekankan mulutku ke payudaranya. Bukannya menolak, ia justru makin membusungkan dadanya ke atas hingga kedua payudaranya membuatku semakin tak bisa bernapas. Kumasukkan putingnya bergantian ke dalam mulutku sambil mengisap buah dadanya sebanyak yang dapat kumasukkan ke mulutku.

“Ooooohhhhhhh ….. akkkhhh …. ssshh …. kamu pinnn…tarrr … Gus!” erangnya.

Jari-jariku yang bermain di klitorisnya terus melakukan sentuhan dan tekanan yang semakin cepat, sesekali telunjukku kumasukkan ke liang vaginanya hingga cairannya semakin banyak merembes. Kuusap-usap klitorisnya semakin cepat dan makin cepat hingga pinggulnya dihentak-hentakkannya ke atas memberikan suguhan pemandangan yang indah bagiku tentang pesona kenikmatan seorang wanita.

“Ahkhh … ak .. akkhu … mmmmaauu … keluar Gus … sayaanggg … sshhh… eekhh … ooohhhhh…..!” jeritnya panjang.

Kedua belah pahanya menjepit kedua kakiku dengan eratnya sedangkan tangan kananku dijepitnya di vaginanya yang membanjir dengan cairan kenikmatan, kedua tangannya memeluk punggungku sambil mulutnya mencari-cari mulutku dan menciuminya dengan ganas bahkan dengan lihaynya diisap dan digigitnya lembut lidahku.

Ia masih terengah-engah saat berkata,

“Ohhh… kau begitu pandai memanjakanku, Gus.”

Aku tersenyum sambil mengusap rambut-rambut kemaluannya yang basah kuyup. “Aku masih pakai celana pun sudah kau buat orgasme,” sambungnya.

“Sayangku, apa yang kulakukan hanyalah merespon rasa cintamu padaku,” ujarku lembut sambil membelai-belai payudaranya dan tubuhnya yang telanjang.

“Ngomong-ngomong, koq payudaramu masih sekal banget, Mbak, diapain sih koq tidak kendor walaupun sudah punya dua anak dan kawin begitu lama?” celetukku penasaran.

“Aku kan tidak pernah menyusui anak-anakku, Gus, karena ASI-ku tidak banyak. Lalu karena dokter menyarankan susu kaleng, yah jadi keterusan, nggak menyusui. Selama ini cuma suamikulah yang menyusu padaku, dan terakhir ini, yah kamu….” katanya sambil memijat hidungku lembut.

“Emang kenapa sih nanya-nanyain itu?

“Soalnya waktu memesrai buah dada Mbak, tidak seperti buah dada wanita yang sudah punya anak. Kayak payudara gadis aja sih? Dikasih semalaman menjilatinya pun mau aku” kataku.

“Genit kamu, Gus … hi .. hi .. hi ..” tawanya.

“Berarti aku ini orang kedua yang pernah mencicipi buah dadamu, ya?” kataku lagi.

Setelah terdiam beberapa saat, kutanya dia, “Apakah siap untuk permainan yang sebenarnya, Mbak Ina sayang?” aku bertanya sambil merabai pahanya dan berusaha membuka celana dalamnya.

Ia menatapku dengan tatapan sayu tapi penuh rasa sayang, “Gus, aku sangat ingin melakukan itu denganmu, tapi … tapi …,” ia tak melanjutkan kalimatnya.

“Mengapa sayang? Apakah Mbak takut hamil akibat perbuatan kita?” tanyaku.

“Bukan itu, Gus! Di usiaku sekarang tentu sudah sulit hamil bagiku, apalagi aku pakai spiral. Yang kutakutkan adalah jika hubungan kita ini membuatku lupa akan suamiku.

Ia begitu baik, setia dan percaya pada isterinya, tapi aku telah mengkhianati cintanya dan janji perkawinan kami,” lanjutnya sambil menatapku dengan mata berkaca-kaca. Oh, ternyata wanita ini bukanlah tipe penggoda, bukan pula tipe pengkhianat rumah tangga, aku semakin mengagumi pribadinya, tetapi aku masih berusaha menggodanya.

“Kalau begitu, terserah Mbak sajalah. Aku tidak mau memaksa apalagi memperkosamu, sebab cintaku pada Mbak tidak mengijinkan pemaksaan,” kataku. Tapi aku sendiri bingung apakah ucapanku itu karena menyetujui pendapatnya atau karena kesal oleh penolakannya.

Ia mengecup pipi dan bibirku sambil memelukku makin erat, kulihat air matanya menitik dari celah-celah pelupuk matanya, ia berkata, “Gus sayang, jangan salah sangka. Aku sangat sayang pada kamu, tetapi aku sudah bersuami dan punya anak, kamu pun sudah beristeri. Jangan sampai kita melakukan persetubuhan yang bisa membuat kita lupa akan keluarga kita.”

“Lalu, yang kita lakukan tadi apa, Mbak? Bukankah itu sudah termasuk pengkhianatan?” tangkisku.

“Kalau memang Mbak tidak suka, mengapa Mbak merencanakan semua ini?” aku makin tajam mendakwanya.

Ia makin terisak-isak pilu sehingga aku merasa menyesal telah membuatnya merasa begitu bersalah, padahal aku pun ikut andil dalam kejadian ini. Aku berdiam diri sambil mengusap-usap rambut dan wajahnya serta punggungnya dengan lembut.

Beberapa saat kemudian, kulihat ia mengusap air matanya dan dirinya sudah semakin tenang. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Gus, aku pernah baca artikel, bahwa anal-sex merupakan salah satu alternatif hubungan seks. Kalau kamu tidak keberatan, lakukanlah hal itu walaupun aku sendiri belum pernah melakukannya dengan orang lain bahkan suamiku.”

Aku terperanjat mendengar bisikannya, tapi merasa tergoda mencoba hal itu, apalagi dengan isteriku sendiri pun hal itu belum pernah kulakukan. “Entah bagaimana rasanya?” pikirku sambil membayangkan andaikan kami melakukannya sekarang.

Sekonyong-konyong ia membuka celana dalamnya dan sisa gaun yang melekat di tubuhnya dan berbaring terlentang.

“Ayo Gus, setubuhi aku lewat analku agar kau dan aku bersatu walaupun tidak dengan cara yang sesungguhnya,” ajaknya.

Birahiku bangkit melihat tubuhnya yang terpampang indah di hadapanku. Perlahan kucium bibirnya, berpagutan dengan berbagai variasi dan saling memilin lidah. Turun ke payudara dan putingnya yang kembali tegang, perut dan pusarnya kembali menjadi sasaran lidah dan bibirku, kemudian jari-jariku menjelajahi rambut kemaluannya yang tipis tapi dicukur dengan rapi sehingga bagian seputar labia vaginanya betul-betul bersih. Bibirku terus turun menjelajahi pangkal pahanya, melakukan isapan dan jilatan lembut hingga ia menggeliat-geliat sambil mendesah. Tibalah saatnya kuperhatikan klitorisnya yang makin membesar di bagian depan vaginanya. Kusentuh dengan lidahku hingga ia terpekik ,”Ahhh … kau apakan aku sayang?” Aku tidak menjawab karena yakin ia baik-baik saja dan itu merupakan permintaan halus agar aku meneruskan aktivitasku.

Klitorisnya kujilat tanpa mencium labia vaginanya sama sekali. Ia terus meracau sambil kedua tangannya menekan belakang kepalaku hingga hidung dan mulutku tepat berada di vaginanya yang sudah banjir. Bibirku menjilati dan sesekali mengisap labianya. Dan ketika klitorisnya kujilat dan kumasukkan ke mulutku sambil kuhisap lembut dan makin kuat, ia tak kuasa menahan gairahnya, pantatnya terangkat ke atas, tapi kedua tangannya tetap berusaha menekan kepalaku agar tetap berada di kemaluannya. Jari-jariku meremas-remas kedua bongkah pantatnya dan sesekali satu tangan bergantian meremas payudaranya. Geliatnya makin tak beraturan, bahkan ia makin kuat menghempas-hempaskan pinggul dan pantatnya ke sana ke mari, tetapi aku tidak memberikan kesempatan untuk melepaskan diri, karena aku tahu, justru hal itulah yang ia inginkan.

Ke mana pinggulnya bergerak, ke situ wajahku ikut sambil bibir dan lidahku mencium, menjilat dan mengisap seluruh organ kemaluannya. Cairan vaginanya kembali membanjir dan entah sudah berapa banyak kutelan masuk dalam mulutku. Rasanya gurih, sedikit asin, tetapi aromanya begitu sedap dan tidak berbau amis, mungkin karena ia rajin merawat bagian tubuhnya itu. Rintihannya makin tak beraturan saat dua jari tengah dan telunjuk tangan kanan kumasukkan pelan-pelan ke vaginanya sambil terus melakukan aksi dengan bibir dan lidahku, terlebih saat jari tengah tangan kiri kumasukkan ke lubang analnya setelah kuolesi ludah dan cairan vaginanya.

“Ahhh… Guuussss …. aaa… kkhuuuu …. ahh … ohhh … nikmatnya ….Shhsshh … ahh ..” suaranya tidak lagi keras, tetapi lebih merupakan desisan dan rintihan.

“Ahhkhhh … lebih cepat Gusss sayang ….!” ia memohon. Kupercepat aksiku dan kurasakan betapa bagian dalam vaginanya meremas-remas jariku dan analnya pun memberikan jepitan yang luar biasa pada jari tengah tangan kiriku.

Tanpa memberinya peluang untuk melawan, kulakukan gerakan semakin cepat, hingga ia meronta-ronta, menggelinjang-gelinjang dengan rambut yang tak beraturan dan bola matanya membeliak menahan kenikmatan yang sudah di ambang pintu.

Dengan satu hentakan, kulakukan gerakan bersamaan ke vagina dan analnya sambil mengisap klitorisnya dengan cepat tetapi lembut. “Aaaakhhhhhh ….. aku …. keluar Gus!!!” jeritnya sambil mencakar pundak dan punggungku. Kulihat di ujung matanya menetes air mata. Kulepaskan jari-jariku dari bagian bawah tubuhnya dan kurengkuh tubuhnya sambil menciumi matanya, kujilati air matanya sambil membelai-belai rambutnya.

“Kenapa Mbak? Apakah aku menyakitimu?” tanyaku sambil memeluk dirinya.

“Ohhh… sayang. Agusku sayang, aku begitu bahagia. Begitu luar biasa kenikmatan yang kau berikan.

Suamiku sendiri belum pernah memperlakukan diriku sepertimu. Terima kasih sayang,” bisiknya sambil mengecup leher dan bibirku.

Orgasme yang kedua kalinya membuat Mbak Ina terkapar tanpa seutas benang pun melekat pada tubuhnya. Kami berbaring terlentang sambil berpegangan dan meremas tangan. Aku merasa agak lelah karena sudah memuaskannya sedemikian rupa. Tak sadar aku tertidur. Beberapa saat kemudian kurasakan elusan pada dada, perut dan pahaku. Penisku yang sudah terkulai kembali bangun akibat elusan jari-jari lembut pada dirinya. Mataku kubuka perlahan dan kulihat Mbak Ina sudah berlutut di samping tubuhku sambil merabai tubuhku. “Luar biasa wanita ini. Masih sanggup bermain lagi rupanya?” kataku dalam hati.

Aku pura-pura masih tertidur, tapi waktu kurasakan kepala penisku dikulum oleh mulut lembut Mbak Ina, aku tak kuasa lagi, erangan nikmat pun kembali kulantunkan. “Ahhhh, mau apa lagi Mbak?” Tanganku mengelus-elus rambutnya yang tergerai di perut dan dadaku.

“Aku tak mau stand kita masih 1-2, belum 2-2. Aku mau memuaskanmu sekali lagi,” katanya.

“Maksud Mbak gimana?” tanyaku berlagak pilon, tetapi senang juga dengan perlakuannya.

“Tadi kan sudah kubilang supaya kita main anal, koq kau tidak lakukan?” desaknya.

“Apa nggak sakit nanti Mbak? Aku sih mau-mau saja, apalagi kata orang enak banget rasanya. Pengen sih nyobain,” kataku menggoda.

“Emang istrimu belum pernah kau gituin?” tanyanya.

Aku tidak menjawab, malah balik bertanya, “Mbak sendiri apa pernah melakukannya dengan suami Mbak?”

“Suamiku sih mau menang sendiri aja. Baru sebentar main, sudah keluar. Aku sering dibiarkan mencari kenikmatan sendiri. Jangankan main anal, main biasa aja ia sering kewalahan. Satu ronde saja sudah terkapar,” gumamnya.

“Wah, nasib kita sama dong, Mbak” kataku.

“Istriku pun masih kuno. Nggak kayak Mbak ini. Seringkali aku yang meminta baru ia mau berhubungan badan. Kalau aku diam aja, ya dia tidak pernah mau minta kusetubuhi. Padahal kami laki-laki pun senang jika istri meminta, bukan kami saja yang minta, iya nggak? Posisi kami pun gitu-gitu aja, tidak mau coba variasi macem-macem.”

Entah mengapa aku begitu terbuka padanya tentang rahasia di balik ranjang perkawinanku.

“Kasihan kamu ya!” timpalnya, “Melihat bentuk tubuhmu, nafsu seks-mu pasti sangat hebat, tapi dengan istri yang begitu, bisa-bisa jajan terus dong kamu!” katanya mencoba mengorek informasi.

“Aku tak berani jajan, Mbak. Takut kena penyakit kelamin,” elakku. “Paling-paling kalau sudah tidak tahan, yah main “swalayan” alias pake sabun di kamar mandi. Malah dengan perempuan lain, yah baru dengan Mbak inilah,” ungkapku jujur.

“Masak sih? Apa iya ada lelaki jujur di abad ini?” tukas Mbak Ina sambil mencubit pipiku.

“Buat apa aku bohong Mbak, apalagi kepada wanita yang kusayangi seperti Mbak ini,” kataku.

“Iya deh, aku percaya kata-katamu,” ia menutup percakapan kami sambil kembali memelukku dengan tubuhnya di atasku.

Himpitan payudaranya membuatku kembali terangsang, apalagi jari-jarinya bermain di sekitar paha dan mulai merabai penis dan testisku kembali. Aku berbisik padanya, “Mbak, sudah siap main anal-nya? Aku jadi kepengen nih atas ajakan Mbak tadi?”

“Sudah siap sejak tadi, sayang, tapi kamunya malah bikin aku kesetanan dengan orgasmeku tadi,” jawabnya.

Kembali kuciumi seluruh tubuhnya, bahkan hingga telapak kaki dan jari-jari kakinya, hingga ia kembali mendesah, merintih dan menjerit kecil di kamar hotel itu. Dengan cairan vaginanya yang kembali membanjir, kubasahi lubang analnya dan kuperhatikan bentuknya yang begitu mungil tetapi geliatnya persis mpot-mpotan ayam seperti pernah kubaca di buku tentang seksologi. Aku tak tahan memandanginya terus, kujilati analnya dan pelan-pelan kumasukkan satu jari ke dalam. Mbak Ina mengerang. Tubuhnya kubalikkan dengan pantat di atas, sehingga dengan posisi menungging dapat kulihat lebih jelas bentuknya. Ia makin merintih waktu jariku kumasukkan lebih dalam.

“Ayo sayang, sekarang … aku sudah tak tahan …” desahnya.

Kutempatkan pinggulku tepat di belakang kedua belah pantatnya yang sintal dan perlahan-lahan kepala penis kugesekkan ke lubang analnya. Ia mendesah semakin lirih. Kepala penisku kudesakkan, mula-mula agak susah karena lubangnya begitu kecil. Namun begitu kuolesi lagi dengan ludahku dan cairan vaginanya, sudah semakin mudah dimasuki. Kepala penisku pun masuk dengan sukses. “Aukhhh… sakittt sayang…,” desisnya. Aku menghentikan dorongan penisku dan berniat menariknya, tetapi ia justru menarik kedua belah pahaku kembali meneruskan kegiatanku. “Oohhh, enak banget penismu sayang ….,” rintihnya.

Aku berdiam diri sejenak, lalu kuteruskan aksiku mendorong penis makin dalam memasuki analnya. Setengah penisku sudah masuk, ia agak mendongakkan kepala seakan menahan sakit, tetapi gerakannya pantatnya malah mundur pantatnya agar penisku masuk lebih dalam lagi. Setelah penisku masuk 2/3, kutarik mundur, kumajukan lagi, demikian seterusnya. Dan kalau kurasa agak susah masuk, kembali kuberikan ludahku untuk melincinkan jalan masuk penis ke dalam analnya. Mbak Ina merintih-rintih dengan nikmat, apalagi tangan kiriku memainkan vaginanya dari depan dan tangan kananku meraih payudaranya, sehingga ia merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa.

“Oughhh … Guusss, ssshhh … akhhh,” desisnya seperti orang kepedasan akibat rasa nikmat yang tak terkatakan. “Terusss …. okhh …. terrussskaaan …. sayyyang … ahhhhh …”

Rintihannya semakin kuat dan suatu ketika ia menjerit-jerit sambil menghentakkan pantatnya ke belakang hingga tak ayal lagi seluruh penisku menghunjam ke dalam analnya. Akibatnya sangat luar biasa. Aku begitu terpukau dengan gerakannya dan melakukan reaksi berupa gerakan cepat dan sesekali memutar dalam analnya.

Mbak Ina merintih-rintih. Kedua tanganku terus bermain di vagina dan payudaranya, apalagi waktu dadaku kudekatkan merapat ke punggungnya sambil merabai payudara dan membelai serta memelintir putingnya, ia makin kuat meronta-ronta tapi tidak berusaha melepaskan hunjamanku pada analnya. Gerakannya makin liar dan akhirnya ia tidak lagi menungging, tetapi tengkurap di ranjang tetapi dengan tanganku masih meremas payudara dan vaginanya dan hebatnya, dengan posisi ini, kurasakan penisku mendapatkan lumatan yang begitu dahsyat dalam analnya.

“Ayo sayang, ahhh …. ayyooo …. keluarin spermamu di analku, ohhhh …. tidak usah dikeluarkan di luar,” rintihnya. “Akkhhh … sayang …. oughhh… nik … mattt …., uhhhh …. ohhh …. aku keluar lagi sayangggg…. aaaakkhhhh,” jeritnya.

Kurasakan betapa kuat jepitan otot-otot analnya pada penisku, sensasi yang luar biasa merasuki diriku dan dengan hentakan yang kuat pada analnya, penisku menyemprotkan cairan kenikmatan di dalam liang analnya. Denyutan vaginanya yang demikian basah pada jari-jari tanganku bersaing dengan remasan otot-otot di liang analnya.

Aku terpekik merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat,

“Aku … ohhh, …. aku .. juga keluar, Mbak Ina …. ooohhh … sayyy… sayang …. akhh ….,” bisikku di telinga Mbak Ina saat menjatuhkan tbuhku di atas tubuhnya sembari menggigit pundaknya dengan gemas dengan penisku masih tetap berada di analnya.

Kunikmati denyutan demi denyutan pada liang vaginanya dan analnya yang menjepit penisku. Kuangkat perlahan-lahan penisku keluar dari analnya dan kuperhatikan beberapa tetesan cairan kenikmatanku turut keluar dari analnya membasahi pangkal pahanya.

“Penismu enak banget say…,” desahnya di telingaku sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku.

“Enak mana dibanding suami Mbak?” godaku.

“Enakan punyamu Gus!”

“Emang penisku lebih besar dari punya suami Mbak?” tanyaku dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Ukurannya sih lebih besar dan lebih panjang dari punyamu, Gus. Tapi apa artinya kalau tidak bisa menggunakannya dengan baik? Enakan yang biasa-biasa aja kayak punyamu, tapi begitu perkasa memuaskan wanitanya,” katanya sambil meraba penisku yang mulai melembek.

“Lho, bukannya kalau lebih besar pasti lebih enak, Mbak?” Ada sedikit rasa iri padaku mendengar pengakuannya bahwa penis suaminya lebih besar daripada penisku.

“Yaah, itu kan kata orang. Aku yang menjadi istri lebih sepuluh tahun, bisa merasakan orgasme sekali sebulan pun sudah untung. Apalagi akhir-akhir ini seringkali cuma sekali seminggu berhubungan badan, itu pun kebanyakan karena kuminta,” paparnya.

“Tahu nggak Gus, walaupun kata orang, gairah wanita makin menurun pada usia empat puluh menjelang menopause, tapi aku sendiri merasa seolah-olah gairah masa mudaku kembali lagi. Entah mengapa bisa begitu? Aku sendiri heran tuh,” lanjutnya.

“Kan ada aku, Mbak? Kalau butuh kenikmatan, aku tidak akan menolak Mbak,” rayuku.

“Gus, Gus …. kamu ternyata pandai memuaskan dan menyenangkan wanita,” katanya menanggapi rayuanku,

“Tapi jangan lupa, kalau di Jakarta, mana mungkin kita begini? Bisa-bisa rumah tangga kita masing-masing hancur, iya nggak?”

Aku terdiam menyimak kata-katanya sambil mengelus-elus rambutnya di keningnya dan yang tergerai di dadaku. “Ya, benar Mbak. Apalagi reputasi Mbak begitu bagus selama ini. Bisa-bisa semuanya jadi tak berarti kalau perselingkuhan kita ketahuan ya?”

“Benar Gus,” jawabnya,

“Tapi, jangan biarkan aku sendiri tidur kalau tugas berdua seperti ini lagi keluar kota ya?” pintanya.

“Emang masih boleh nanti-nanti, Mbak? Apa nggak takut ketahuan kenalan kita jika kebetulan ketemu?” tukasku.

“Ah, kalau lagi tugas gini, kita tetap aja pesan dua kamar terpisah, tapi kalau malam tidurnya bareng,” imbuhnya membuat hatiku berbunga-bunga.

“Berarti masih ada kesempatan lain untuk bermesraan dengannya, walaupun mungkin ia takkan pernah mau melakukan hubungan badan lewat vaginanya,” pikirku nakal.

“Duhh, aku senang banget mendengar kata-kata Mbak,” kataku. “Lebih enak tidur berdua gini, bisa makin fresh kalau balik ke Jakarta ya?”

Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan memainkan jari-jarinya di dadaku. Aku berbaring terlentang di sebelahnya dan ia berbaring lelah dengan kepalanya di dadaku sambil mengusap-usap perut dan penisku. Matanya terpejam dan iapun tertidur. Aku pun tak kuasa menahan kelopak mataku, tapi sebelum tertidur dalam posisi telanjang, masih sempat kutoleh jam dinding menunjukkan angka 4.

Waktu terbangun, aku merasa tubuh Mbak Ina masih tergolek di atas tubuhku. Tangannya masih memegangi penisku yang sudah layu dengan sisa-sisa sperma yang telah mengering. Kutengok jam telah menunjukkan pukul 7 pagi, berarti aku tertidur selama 3 jam. Aku ingin bangun dan berusaha memindahkan tubuhnya ke sampingku, tetapi tiba-tiba Mbak Ina meraih pinggangku sehingga tubuhku rebah di atas tubuhnya. Payudaranya kurasa kenyal, liat, belum kendor, menekan dadaku, apalagi kutoleh putingnya sudah tegang lagi.

“Ah… kuat benar nafsu wanita ini, padahal dalam keseharian ia tampil begitu sopan, tidak nampak binal sama sekali,” batinku.

Dengan mata masih terpejam, ia menciumi bibirku dan mengusap-usap punggungku sambil berkata,

“Sayangku, betapa nikmat kebersamaan kita tadi.” Aku menggulirkan tubuhku ke sampingnya dan memandangi wajahnya dengan memiringkan tubuh,

“Ya Mbak, aku merasa seperti musafir kehausan yang baru menemukan oase,” sambutku sambil membelai-belai anak-anak rambut di keningnya.

“Gusss,” bisiknya lembut di telingaku sambil menciumi belakang telingaku hingga desah napasnya terasa menggelitik membuatku geli tapi nikmat.

“Aku mau sarapan …”

“Ayo Mbak, apa kupesankan breakfast by phone?” timpalku.

“Bukan sarapan itu maksudku, sayang,” desahnya sambil mencubiti kedua putingku bergantian, “Aku mau mengulangi kemesraan kita yang tadi … please!” sahutnya menghiba.

Gairahku bergolak kembali, apalagi ia langsung bergerak ke arah selangkanganku dan menempatkan tubuhnya di atas tubuhku dengan posisi terbalik. Kepalanya ia tempatkan di pangkal pahaku, sedangkan pahanya mencari tempat di atas wajahku. Jari-jari tangannya meraih penisku, dengan bibir dan lidahnya ia mengecup kepala dan leher penisku, kemudian menjilatinya seperti anak kecil yang kesenangan menikmati es krim. Aku tak kuasa menolakkan tubuhnya, bahkan mulai menikmati posisi 69 yang ia tawarkan. Vaginanya mulai terasa basah lagi sewaktu bibir dan lidahku menyeruak menjilati bibir-bibir vaginanya yang merah merona.

Kedua tanganku kulingkarkan ke atas hingga tepat memegang kedua belahan pantatnya. Remasan demi remasan di pantatnya membuatnya mengerang,

“Ahhh … nikmatnya say.”

Lidahku makin gesit bermain menjilati kedua labia vaginanya, bahkan bibirku mulai mengisap secara bergantian bibir-bibir yang menyimpan kenikmatan itu. Saat kujilat klitorisnya, pahanya nampak bergetar menahan nikmat, apalagi saat jari telunjukku kumasukkan lagi menerobos analnya, ia semakin merintih bahkan sesekali menjerit. Tetapi ia tidak berusaha mengangkat pantatnya dari jilatan dan hisapanku; bahkan ia semakin kuat menekan pantatnya ke bawah hingga kurasakan hidung dan mulutku terbenam pada vaginanya yang merekah.

“Ohhh… Agusss…., terusss … teruskan sayangkuuuu….,” desahnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya.

“Sekarang, sekarang masukkan lagi penismu di analku, sayanggghhh …. ooougghh ….,” rintihnya sambil berbalik terlentang dan membuka kedua pahanya lebar-lebar.

Ohhh, sungguh fantastis, dibawah cahaya mentari yang masuk lewat gordijn jendela kamar hotel, kulihat betapa indah bentuk vaginanya yang telah kumesrai semalam.

Aku berlutut di antara kedua pahanya. Ia sudah menggelepar-gelepar seperti ikan terlempar dari air ke daratan, karena jari-jari tanganku terus bermain di klitoris dan vaginanya. Kedua tangannya kini meremas-remas payudara dan putingnya, matanya membeliak karena kenikmatan yang ia rasakan. Kedua kakinya kutarik lembut dan kuletakkan ke atas bahuku sambil mendekatkan lutut makin rapat ke pangkal pahanya.

Jari-jariku mengait-ngait klitoris dan vaginanya dan cairan kenikmatan yang dihasilkan rongga vaginanya kuusapkan di analnya, juga air ludahku untuk menambah licinnya penetrasi penisku, bahkan kumasukkan jari telunjuk kanan ke dalamnya. Ia mengerang sambil terus meremas-remas dan mempermainkan payudaranya sendiri. Aku terpukau melihat gayanya. Ternyata Mbak Ina yang begitu tenang dalam penampilan di kantor, menyimpan kekuatan seks yang sangat hebat. Gayanya mengingatkanku pada pola permainan bintang film porno.

Setelah kurasa cairan vaginanya bercampur air ludahku telah cukup sebagai pelumas untuk memberi jalan bagi penisku, kepala penis kutempatkan di mulut analnya, mengulas-ulasnya beberapa saat, dan kumasukkan pelan-pelan sambil memperbaiki letak kakinya di pundakku.

“Akhh …. sshhhh … ougghhh … pelan-pelan sayanggghhh….akhhh,” rintihnya dan kedua tangannya seakan-akan ingin menolakkan pahaku, tetapi waktu kutarik mundur penisku dari analnya, kedua tangannya justru meraih pahaku untuk semakin rapat ke pahanya.

Aku kembali melakukan tekanan dengan tenaga yang makin meninggi, walaupun belum berani memasuk-keluarkan penis dengan gerakan cepat di analnya, khawatir terjadi iritasi pada analnya.

“Terus … ohhhh … te..russs…kan ….. sayyyanggg …. akhhhhhh,” mulutnya mendesis sambil lidahnya ia julurkan keluar mulutnya dan menjilati bibirnya sendiri. Semakin lengkap penampilannya kulihat sebagai bintang seks.

Penisku sudah lebih setengah bermain di analnya, tetapi ia justru makin memajukan pahanya agar penisku masuk lebih dalam lagi. Kedua tangannya meraih kedua pahaku agar lebih rapat lagi ke pahanya. Dan waktu penisku masuk seluruhnya, tubuhnya terasa mengejang, sehingga aku sempat kaget dan menghentikan gerakanku.

“Ada apa, Mbak? Apakah aku menyakitimu?” tanyaku lembut.

“Ohhh… tidak, tidak sayang…. Teruskan, teruskan … akkhhh… enn…nak sayang….”

ia merintih sambil menghempaskan kepalanya ke kanan kiri. Tangannya bergantian bermain di payudaranya dan sesekali meremas-remas sprei ranjang.

Kedua kakinya sudah hampir tegak lurus terhadap tubuhnya, berjuntai di pundakku. Kupercepat gerakan penis di analnya sambil jari-jariku kembali merangsang klitoris dan vaginanya, bahkan dua jariku kumasukkan ke dalam vaginanya, hingga ia terpekik.

“Gussss!!! Ahhh …. nikmatttt sayyy …” rintihannya.

Suara kecipak penisku beradu dengan analnya dan jari-jariku masuk keluar vaginanya melantunkan irama yang sangat nikmat untuk didengar. Gerakan kami semakin liar dan tak beraturan. Rintihan kami berdua bercampur bunyi kelamin kami. Penisku makin cepat kuhunjamkan ke analnya hingga terasa ada jepitan yang begitu kuat di kepala penisku.

“Ahhh… koq rasanya seperti vagina saja jadinya?” pikirku.

“Ayo say … goyang … goyang yang kuat,” katanya sambil menikmati gerakan pantatku yang tidak lagi hanya maju mundur, tetapi juga menggunakan gerakan ngebor.

Tanganku tidak lagi hanya bermain di vagina dan klitorisnya, tetapi juga meremas payudara dan menarik-narik dan memelintir putingnya hingga nampak warnanya semakin merah akibat jamahan dan jepitan jari-jariku. Keringatku tak kurasakan lagi mengucur dan menetes ke perutnya. Begitu pula keringat Mbak Ina telah membasahi tubuhnya membuatku semakin terangsang melihat payudara, perut dan pahanya yang nampak seakan-akan bercahaya.

“Akhhh …. Gus …. sayaaannggg … akkkkhu …. keluarrrr … arrhggg….” jeritnya sambil menghempaskan pantatnya makin dalam hingga seluruh penisku ditelan analnya dan kedua kakinya menjepit kepalaku dengan kuatnya.

Kurasakan betapa otot-otot vagina dan analnya berdenyut-denyut akibat orgasme yang sudah melanda dirinya. Mbak Ina terengah-engah

“Okhhh …. Mbak, tahannn …. biar bareng denganku,” pintaku.

“Oougg … sshhh … ahhh … aku sudah tidak kuatttt ….. oooooohhhh Gusss…”

teriaknya membahana dan kurasakan cairan vaginanya begitu banyak membanjir membasahi jari-jariku dan jepitan analnya menahan penisku hingga tak bisa kutarik mundur. Aku pun mengerang sambil memeluk kedua kakinya di dadaku dan merasakan penisku berdenyut-denyut semakin kuat, pertanda akan mencapai klimaks.

“Mbaakkkk ….. ohhhh sayangkuuu…. ” gumamku sambil menikmati puncak kenikmatan bersama dirinya. Dengan cepat kurebahkan dia dan menarik penisku dari analnya lalu dengan lahap melumat vaginanya dan menyedot cairannya yang membanjir hingga menetes ke sela-sela pahanya. Ia menggeliat-geliat geli merasakan bibir dan lidahku menyedot cairan vaginanya dengan sangat bernafsu. Sprei di ranjangnya sudah acak-acakan akibat permainan panas kami berdua yang begitu menggebu-gebu.

Akhirnya, kami berdua berbaring bersisian sambil menenangkan diri, hingga lambat laun napas kami kembali normal. Ia mengambil handuk kecil dan melap peluh yang ada di tubuhku barulah kemudian ia sendiri mengeringkan tubuhnya dari keringatnya. Kami terlentang berdua sambil menatap langit-langit kamar hotel dengan tangan saling menggenggam.

Setelah itu kami mandi berduaan di bathtub. Saling menyabuni satu sama lain. Ia menolak halus waktu kuelus-elus payudara dan vaginanya dengan sabun sambil merangsangnya kembali.

“Sudah Gus, aku capek… ntar lagi deh kalau mau ….” Kami berdua keluar kamar mandi. Sambil memandanginya berpakaian dan berdandan, aku memesan makanan diantarkan ke kamar. Ia mengenakan celana pendek dan baju you can see tanpa mengenakan BH.

Kami makan berdua sambil menikmati siaran televisi. Jam sudah menunjukkan pukul 10. Aku pamit ke kamarku, walaupun ia merengek mau mencegah kepergianku. Saat di kamar, telepon berdering-dering terus begitu juga ponselku, tetapi waktu kulihat nomor ponselnya yang memanggil, sengaja tak kujawab. Lima belas menit kemudian aku kembali ke kamarnya dan mengetuk. Pintu kamarnya terbuka dan kulihat wajahnya cemberut, “Kenapa sih tidak mau jawab teleponku?” tanyanya sambil mencubit lengan atasku dengan gemas.

“Addduhhh, sakit Mbak,” jeritku sambil menutup pintu di belakang kami. Ia menarik tanganku dan mendorongku hingga rebah ke atas ranjangnya. Lalu tubuhnya jatuh menimpaku tanpa dapat kucegah. Payudaranya yang kenyal menekan dadaku dan bibirnya menjejahi wajahku hingga aku gelagapan dibuatnya. Kembali kami mereguk kenikmatan demi kenikmatan hingga sore hari saat kami check-out dari hotel tersebut menuju Bandar Udara kembali ke Jakarta.

Di atas pesawat ke Jakarta, aku merenungi kejadian dua hari itu sambil membaui aroma tubuh Mbak Ina yang tertidur dengan kepala rebah ke bahuku. Ah, benar-benar kenangan manis yang tak terlupakan. Akankah ada lagi kelanjutannya?

Sepulang dari pertemuan di Yogya, Mbak Ina tetap bersikap biasa-biasa padaku di kantor. Aku juga tidak berusaha memancing percakapan yang bersifat pribadi atau memandangnya dengan tatapan sayang, agar tidak menimbulkan kecurigaan teman-teman sekantor. Begitulah, di lingkungan kantor ia tetap seorang Ibu Ina yang tegas, tetapi ramah, baik kepada karyawan dan setia pada keluarga. Tetapi dalam hatiku ia kuanggap sebagai kekasih.

Empat bulan setelah penugasan ke Yogya, aku dipanggil oleh Direktur Utama. “Saudara Agus, saya memanggil saudara untuk memberitahukan bahwa minggu depan ada pertemuan sangat penting tentang quality control of product untuk regional Asia di Singapura. Lamanya 3 hari. Orang yang saya percayai untuk hadir pada pertemuan itu adalah Ibu Ina dan saudara Agus. Mengapa? Sebab berdasarkan catatan psikolog perusahaan dan rekomendasi dari Ibu Ina serta memperhatikan kinerja saudara selama ini, saudara sudah mampu bekerja pada bagian yang Ibu Ina pimpin. Dan sepulang dari Singapura, saudara akan kami berikan tugas baru sebagai Manager Assisstant Ibu Ina, tentunya dengan standar penghasilan dan fasilitas sebagaimana mestinya. Kami harap saudara bersedia menerima tugas dan promosi ini.”

“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya, Pak, tapi saya minta ijin untuk melakukan adaptasi dalam waktu 2 minggu agar dapat mempelajari hal-hal yang menjadi kewajiban saya. Mudah-mudahan saya tidak mengecewakan Bapak dan pimpinan lain atas kepercayaan yang diberikan,” aku menjawab dengan riang, apalagi membayangkan berduaan lagi dengan Mbak Ina.

Pada hari yang ditentukan, Mbak Ina berangkat denganku menuju Singapura. Kami masih memiliki waktu sehari untuk bersiap-siap mengikuti pertemuan regional tersebut. Waktu berada di pesawat, Mbak Ina berbisik padaku, “Gus, jangan lupa ya, tiap malam kamu harus tidur di kamarku lho, walaupun kita tetap menyewa dua kamar hotel.”

“Tentu saja, Mbak. Dengan senang hati,” balasku.

Setiba di Singapura, kami naik taxi menuju hotel yang telah dipesan dari Jakarta. Kami diantar oleh room boy hotel ke kamar masing-masing. Baru lima belas menit di kamar, telepon berdering, “Hello, Dik Agus, ke kamarku aja dulu sekarang ya?” kudengar suara Mbak Ina.

“Iya Mbak. Ha.. ha.. sabaarr, ojo kesusu yo Mbak!” godaku sambil tertawa.

“Iiihhh, ngomong kesusu, udah ngeres aja kamu ya? Hi … hi … hi …” sambutnya terkikik lembut. “Pokoknya buruan, lewat dari sepuluh menit, pintu tidak dibuka lagi,” ancamnya.

“Daulat Tuan Puteri, hamba akan segera datang memenuhi panggilan Tuanku,” kujawab ancamannya dengan rayuan.

Agar tidak ada yang curiga apabila memergoki aku masuk ke kamar wanita yang bukan isteriku, aku datang menenteng tas berisi notebook dan berpakaian rapi. Tidak sampai lima menit, aku sudah berdiri di depan kamarnya dan mengetuk. Aku terpana, tanganku ditarik masuk dan dengan cepat pintu telah ditutup oleh Mbak Ina yang sudah berdiri di depanku dengan hanya mengenakan celana dalam dan BH. Tubuhnya yang langsing begitu sexy, pinggulnya begitu indah dan pantatnya yang padat serta dada yang agak membusung meskipun payudaranya tidak begitu besar, membuat mataku cepat mengirimkan info ke otak. Aku merasa darahku mengalir semakin cepat di sekujur tubuhku. Wajahku langsung memerah melihat penampilannya dan desakan di pangkal pahaku semakin sempit terasa karena reaksi alami.

“Kita mandi dulu yuk,” ajaknya sambil membukai dasi, baju dan celanaku, hingga aku hanya benar-benar telanjang bulat di hadapannya. “Luar biasa! Mbak Ina yang sangat berwibawa di kantor, rela memberikan tubuhnya bagiku,” batinku. Ditariknya tanganku setengah menyeret dan dengan cepat ia melepaskan celana dalam dan BH-nya, sehingga kami berdua berjalan ke kamar mandi bagaikan dua bayi raksasa yang siap berendam di bathtub.

Sesampainya di dalam, kulihat air hangat di bathtub telah penuh dan wangi-wangian rempah begitu semerbak memenuhi kamar mandi tersebut. Rupanya Mbak Ina sebelumnya membawa bekal untuk menambah sensasi kebersamaan kami. Kami pun bergandengan tangan masuk ke dalam bathtub. Dalam keadaan masih berdiri kami berpelukan dan berciuman dengan ganas, maklum telah empat bulan berlalu sejak kejadian di Yogya, kami sama-sama rindu suasana penuh kegilaan itu lagi.

Sambil terus berciuman kami duduk berhadapan di bathtub, tangan kami saling mengelus tubuh yang lain. Payudaranya kuremas-remas dengan lembut, putingnya kubelai-belai. Ia membalik tubuhnya dan duduk di pangkuanku. Penisku kurasa sudah begitu tegang apalagi waktu pantatnya turun menindih kedua belah pahaku. Kedua pahanya agak dibuka dan memberi ruang bagi penisku untuk bersentuhan dalam air dengan rambut-rambut kemaluannya. Aku mengambil sabun dan menyabuni bahu, punggung, pinggulnya, kemudian tanganku bergerak ke bagian depan tubuhnya menyabuni pundak depannya, turun ke payudara, di situ kedua tanganku mengelus-elus kedua puting payudaranya, juga meremas kedua belah payudaranya dengan gerakan melingkar, hingga ia mendesah-desak nikmat.

“Oohhh, ya …. ya, gitu Gus. Ssshhh…., addduuuhhh …. enak …. oughhh nikmatnya Gus?” serunya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang dijepit oleh kedua pahanya yang kupangku.

“Ohhh … shhhh … udah dulu Gus, aku sudah tak tahan … ntar kita teruskan … di ranjang. Aku mulai kedinginan nih,” tiba-tiba ia bangkit berdiri dan membilas tubuhnya dengan air yang mengucur dari shower.

Kubiarkan ia meraih handuk dan melap tubuhnya sambil berjalan keluar. Aku pun segera menyelesaikan mandi, mengambil handuk dan dengan cepat mengeringkan tubuhku.

Kulihat ia sudah berbaring di ranjang di bawah selimut. Aku melompat ke ranjang dengan bertelanjang, hingga ia tersenyum melihat ulahku. Kubuka selimutnya dan masuk ke bawah selimut bersama-sama dengan Mbak Ina. Wah, ternyata ia sama saja denganku, sama-sama bertelanjang. Tiba-tiba kedua tangannya meraih kepalaku dan menciumi pipiku, hidungku dan berhenti di bibirku. Kami saling melumat dengan ganas dan lidah kami saling memilin. Geliatnya semakin tak menentu saat tanganku meremas kedua bulatan di dadanya, terlebih lagi waktu jari-jariku bermain di putingnya dan melumatnya dengan bibirku.

“Ahh… ekhh … sshhh… Gus …. terus …. terusss…. shhh,” rintihnya.

Lidahku bermain turun dari klitorisnya, kedua belah bibir bawahnya tak luput dari jilatan dan kuluman lidah dan permainan bibirku. Dengan jari-jariku, kukuakkan kedua labianya ke kanan kiri sehingga terlihat warna merah merona vaginanya yang indah.

“Akkkhh … nikmattthhh …. Guuusss….. oooohhhhhhhhhhhhhhhh ….” jeritnya sewaktu lidahku kusapukan ke bagian dalam vaginanya yang terpampang lebar karena kedua labianya kutarik ke kanan kiri. Ia terengah-engah karena rasa nikmat yang semakin memuncak. Kulihat keringat mulai menetes di lehernya, juga dada, perut dan pinggangnya.

Lidahku terus turun hingga melewati ujung bawah vaginanya. Kini sasaranku adalah lubang analnya. Kuarahkan hidung mengendus-endus analnya. Ia menggeliat kegelian, tetapi tidak berusaha menolakkan kepalaku. Bibirku mulai menciumi tepi-tepi analnya dan lidahku mulai mencari-cari lubang analnya. Jari-jariku kupakai untuk membuka analnya lebih lebar sehingga lidahku masuk ke analnya. Mendapat perlakuan demikian, pantatnya tiba-tiba terangkat ke atas dan rintihannya semakin keras mengatasi suara televisi yang sedang menyiarkan warta berita.

“Ihhhhh …. nikmaaaaattthhhhh ….” Analnya terus kujilati sambil jari-jariku terus mengusap-usap labia dan klitorisnya.

“Okkhhhhh ….. ssshhhhh … Gussss, aku tak kuuuu….att ….. ahhhhhh….. aku mau … ke …. kelll…..luarrrrr …..” ia menjerit-jerit sambil menggeliat-geliat. Tiba-tiba kurasakan vaginanya membanjir dengan cairan yang cukup banyak.

Tak mau kehilangan momentum yang menentukan, kuarahkan bibir dan mulutku ke vaginanya dan menyedot dengan rakusnya cairan kenikmatan yang dihasilkannya. Telunjuk kiriku masuk ke vaginanya, menusuk dalam-dalam sedangkan telunjuk tangan kananku dengan cepat menembus analnya hingga lebih setengah jariku ditelan analnya yang berdenyut-denyut menjepit jariku.

“Sayannnnngggg …oohhh …. akkk ….. ku keluarrrrr …..” teriaknya sambil kepalanya dihempas-hempaskan ke kiri dan kanan. Tangannya meremas-remas kedua buah dadanya dengan ganas dan pahanya dirapatkan dengan jariku masih terjepit dalam analnya.

Sesudahnya ia tergolek lemas dengan senyum manis dan tatapan sayu ke arahku. Aku membalas dengan mengecup bibirnya berbagi cairan kenikmatannya yang masih tersisa di mulutku. Ia amat bergairah menyambut ciumanku dan tidak merasa jijik menjilati cairannya yang ada di mulutku.

Tubuhku kuletakkan miring memeluk dirinya dari belakang. Sambil kuelus-elus bahu, pinggang dan pinggulnya, penisku mengambil posisi tepat di belakang pantatnya. Kurenggangkan sedikit pahanya dan perlahan-lahan penisku mencari-cari lubang analnya. Karena begitu sempit, kugunakan lagi jari-jariku meraba dan menusuk analnya setelah membasahinya dengan ludahku. Ia tersentak dengan style yang kupakai sekarang. Analnya semakin membesar saat topi baja kepala penisku memasuki sedikit demi sedikit. Kuhujamkan penisku semakin dalam dan ia kembali mengerang. Kembali birahinya naik menyambut tusukan-tusukan mautku dan remasan jari-jariku di payudaranya. Karena posisinya demikian kritis, penisku masuk sebagian saja ke dalam analnya. Merasa kurang sreg, aku menggulingkan tubuhnya hingga tengkurap dan penisku masuk seluruhnya hingga ia mendongakkan kepala dengan jeritan kuat,

“Gus …. ohhhhh … pelan-pelan, oohhh …. ssshhhh …. sssaaakiiittt….”

“Tenang say, ntar lagi juga bakal enak kau rasakan ….” hiburku sambil menarik penisku dan memasukkannya lagi dengan gerakan yang lebih lambat.

Benar saja, bukannya merasa sakit, perlahan-lahan Mbak Ina merasakan nikmat yang tak terhingga saat penisku kembali masuk keluar analnya, apalagi jari-jari tanganku turut merogoh vaginanya dari depan merangsang klitoris dan labianya yang membanjir dengan cairan kenikmatan. “Sssrrrt…. crrett … ssrrrt … crrrtt,” terdengar suara yang aneh saat penisku melesak maju mundur dalam analnya.

“Sssshhh …. aaahhh ….. ekkk …… sssshhh…… ooooougggghhhhh…..” lenguhnya berusaha menahan agar tidak cepat-cepat orgasme. Tapi ia tak kuasa menahan lebih lama lagi, pantatnya yang menjepit penisku dalam analnya bergetar hebat hingga kurasa penisku tak dapat kutarik mundur maju lagi, terjepit dengan ketatnya dalam analnya; dan dengan suatu sentakan luar biasa, ia merapatkan bongkah pantatnya dengan telak ke arah penisku. “Ooouwww …………… sshhhh ….. aaaaahhhhhkkk …. aku dapat Gussss….!” teriaknya kuat hingga aku sendiri terkejut mendengar jeritan birahinya.

“Crot …. crrooootttt … crrooootttt …” penisku tak mampu lagi kutahan, dengan hebat menyemprotkan air mani dalam analnya.

“Ahhhhhhh…. akkkkuuuuu …. keluar Mbbbbaakkkkk!” desahku sambil menghunjamkan dalam-dalam penis ke dalam bongkahan pantatnya yang sangat merangsang.

Masih menindih tubuhnya yang menelungkup dari atas, aku mulai meredakan napas dan mengatur detak jantungku yang begitu kencang, dan berguling ke sampingnya dengan tetap memeluk pinggulnya hingga terlentang dengan tubuhnya kini berada di atasku.

“Gus, Gus, kamu tidak berat ditindih badanku begini?” tanya Mbak Ina.

“Hmmm, nggak apa-apa, Mbak. Apalagi ada kompensasinya koq, penisku masih menikmati kuluman analmu,” jawabku.

“Iihhhhh jorok …., nyebut-nyebut anal,” katanya.

“Biarin jorok, yang penting nikmat, Mbak ….” aku menimpali ucapannya,

“Kalau begini terus tiap malam di Singapura ini, wah … rasanya seperti berbulan madu dong Mbak?”

“Enak aja kamu Gus! Kita kemari kan buat kerja,” tandasnya mengingatkan maksud kami datang ke Singapura.

“Ini kan selingan buat menumpahkan rindu sejak pulang dari Yogya,” tambahnya.

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. “Iya deh Mbak. Tugas tetap tugas, tapi pacaran juga jalan terus kan?” gurauku.

Ia tertawa kecil dan sambil menggulingkan tubuhnya ke sampingku ia bertanya,

“Kamu senang ikut tugas kantor denganku, Gus?” Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia berkata lagi,

“Aku yang mendesak pimpinan agar kamu ditaruh pada bagianku dan menjadi asistenku. Tadinya ada manajer lain yang memintamu ke bagiannya, tapi berkat argumentasiku dan didukung oleh evaluasi dari bagian personalia, kamu disetujui pindah ke tempatku.”

“Aku sempat kaget, Mbak. Koq tiba-tiba ditawari posisi baru padahal masih ada beban kerja di bagianku yang harus kuselesaikan tahun ini,” kataku.

“Rupanya Mbak Ina yang menjadi dalang di balik semua ini?”

“Jadi kamu nggak suka atas ulahku memindahkanmu?” desisnya sambil memandangku tajam. “Wah, keluar galaknya,” pikirku.

“Ouww, jangan salah sangka, Mbak. Aku justru sangat senang dan berterima kasih mendapat promosi. Cuma tidak menduga sebelumnya bahwa Mbak turut berperan atas hal ini,” kataku sambil mencium bibirnya lembut.

Ia membalas ciumanku dan mengulum serta mengisap lidahku.

Kami kemudian tidur sambil berpelukan di bawah berselimut. Kira-kira sejam kemudian aku tersentak mendengar dering telepon. Ingin kuraih, tapi khawatir itu untuknya, maka kuguncang-guncangkan bahunya agar menerima telepon tersebut.

“Hallo, I am Mrs. Ina,” katanya menjawab nada panggilan di seberang sana.

Aku memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang dan kudekatkan telingaku ke telinganya, lalu kudengar suara dari seberang sana. Rupanya dari Direktur Utama kami.

“Bagaimana perjalanan kalian? Apakah semuanya berjalan baik?”

“Yes, oh … ya .. ya, Pak, kami baik-baik saja. Perjalanan kami lancar dan kami sudah berada di hotel untuk mempersiapkan diri pada pertemuan besok,” jawabnya.

“Saya berkali-kali menelepon ke kamar Agus, tapi tidak diangkat. Apakah ia keluar hotel?”

“Celaka, rupanya The Big Boss mencari jejakku,” pikirku.

“Tadi begitu tiba di hotel, ia minta ijin tidak mau diganggu, Pak. Katanya semalam ia tidur larut malam karena mempersiapkan presentasi kami untuk pertemuan besok. Mungkin ia sedang bermimpi indah di kamarnya, Pak,” jawabnya berbohong.

Gila benar, cepat sekali si Cantik ini memberi argumentasi yang membuat atasan kami senang.

“Baiklah, jika demikian, silakan beristirahat agar penampilan kalian besok benar-benar prima. Sampaikan salam saya kepada Agus. Sukses ya!” kembali suara Direktur Utama kami terdengar.

“Ok Pak, saya sampaikan salam Bapak nanti dan doakan kami agar tidak mengecewakan Bapak dan perusahaan. Salam kami kembali buat Bapak,” katanya menutup pembicaraan dan meletakkan gagang telepon.

Masih memeluk pinggangnya dari belakang, bibirku menghembuskan napas di belakang telinganya hingga ia kegelian lalu lidahku menjilati lehernya yang jenjang hingga turun ke kuduknya. Di situ kubuat kecupan agak kuat hingga ia mendesah-desah. Apalagi sewaktu bahunya kuciumi dan kujilati dengan lembut. Ia mengerang dan desahannya seperti orang kepedasan karena makan cabai. Ciuman dan jilatanku semakin turun ke punggung, pinggang dan pinggulnya. Ia semakin menjadi-jadi meliuk-liukkan tubuhnya. Kudengar suaranya sambil mendesah,

“Gus, apakah kamu pernah melakukan seperti ini dengan perempuan lain selain isterimu dan aku?”

“Mbak, Mbak, mana berani aku berbuat begini. Dengan Mbak aja hanya karena “gayung bersambut” maka aku mau. Aku takut kena penyakit kelamin, Mbak,” jawabku.

“Jadi kamu jujur nih tidak pernah begini dengan yang lain?” desaknya,

“Soalnya aku tak mau kalau suatu waktu kena penyakit karena tertular darimu yang pernah main dengan perempuan lain.

Apalagi kita cuma bisa main anal, karena aku tak mau kau coblos vaginaku.”

“Jujur Mbak,” kataku.

Memang aku tak pernah berpikir jajan atau berbuat begini dengan yang lain, bahkan ada beberapa gadis di kantor yang pernah menggodaku atau menaksirku baik terang-terangan maupun secara diam-diam, tidak pernah kugubris.

“Aku cuma setia padamu dan istriku, Mbak Ina sayang,” rayuku.

“Aku perlu kejujuranmu agar tiada sesal diantara kita kelak,” ungkapnya.

“Biar saja Tuhan Sendiri yang menyaksikan kebinalan kita, tetapi rumah tangga kita tetap kita pelihara,” katanya lagi.

Aku terdiam dan menghentikan elusan tangan dan permainan bibir dan lidahku sambil merenungkan kata-katanya barusan.

“Lho, koq jadi diam? Tersinggung dengan kata-kataku barusan ya?” ia bertanya sambil menoleh ke belakang hingga hidungnya menyentuh pipi dan hidungku.

“Terusin dong …” rajuknya sambil tangannya meraih tanganku yang memeluk pinggangnya agar naik meraba payudaranya kembali.

“Aku terharu aja Mbak,” kataku.

“Mbak tidak menuntut apa-apa dariku selain kebersihan diri seperti itu, walaupun aku sadari dosaku menggoda Mbak.”

“Sssttt, jangan bicara begitu. Tidak ada yang salah. Bukan kau yang menggodaku, justru aku yang harus tahu diri dan tidak menggodamu,” bantahnya.

“Tak perlu menyesali semua yang sudah-sudah. Yang penting kita berdua pandai-pandai membawa diri agar hanya kitalah yang tahu dan Tuhan bahwa kita saling menyayangi dan ingin berbagi kasih. Itupun tidak tiap kali kita melakukan hal begini. Paling-paling saat keluar kota atau keluar negeri seperti sekarang. Yang kuminta padamu Agus sayang, adalah jangan keterusan bersetubuh denganku lewat vaginaku, agar setidak-tidaknya masih ada bagian yang tersisa pada tubuhku yang hanya boleh dimiliki dan dinikmati oleh suamiku.”

“Ya Mbak. Aku memang tergoda melihat vaginamu dan payudaramu serta seluruh organ tubuhmu yang sangat menawan. Bahkan waktu di Yogya aku sangat berhasrat memasukkan penisku ke dalam vaginamu. Untungnya aku masih sadar dan menahan diri. Entah nanti. Tapi kuharap jangan segan-segan menamparku apabila aku tak dapat menguasai diri, mana tahu Mbak kupaksa dan kuperkosa suatu waktu,” pintaku.

“Justru itu Gus. Aku tak ingin ada kekasaran diantara kita. Biarlah kita menikmati kasih ini dengan cara kita sendiri tanpa harus menggunakan yang satu itu. Aku rela jika kau minta terus-terusan memasukkan penismu di mulutku atau analku, tapi ke vaginaku kuharap tidak kau lakukan, kecuali jika hanya bagian kepala hingga leher penismu saja masuk ke vaginaku. Bagaimana Gus, kau mau berjanji padaku?” tuntutnya sambil melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

“Aku tidak mau berjanji, Mbak, sebab janji adalah hutang. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menahan diri agar tidak mengecewakan dirimu Mbak. Mudah-mudahan hubungan aneh kita ini tidak membuat kita saling menyakiti kelak dan tidak ada yang akan dipermalukan diantara kita berdua. Semoga hubungan gelap kita ini hanya Tuhan dan kita berdua yang tahu dan biarlah Dia memaafkan kita atas perbuatan kita ini. Sebab aku tulus mengasihi Mbak dan tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah Mbak tanamkan padaku,” tekadku.

Mbak Ina memelukku erat-erat dan mengecup leherku. Agak lama ia berbuat demikian hingga kurasakan ada aliran air hangat membasahi leherku turun ke dadaku. “Mungkin ia menangis,” pikirku. Benar saja, kemudian ia melepaskan wajahnya dari leher dan dadaku. Kupandang matanya berair dan sebagian membasahi pipinya. “Mengapa Mbak menangis?” aku bertanya lugu.

“Aku terharu, Gus. Masih ada pria sebaik dirimu yang mengasihiku dengan tulus, tidak menuntut yang bukan-bukan.

Andaikan dengan lelaki lain, barangkali sudah sejak di Yogya aku tak punya muka lagi melihat dunia karena melakukan persetubuhan dengan pria yang bukan suamiku. Mana ada buaya menolak bangkai, bukan? Pasti ajakanku menemani sekamar saja sudah diartikan untuk melakukan hubungan badan, iya nggak?” katanya.

“Aku senang karena mencintai perempuan sebaik Mbak Ina,” kataku.

“Memang sukar untuk tidak melakukan persetubuhan apalagi jika melihat wanita secantik Mbak. Aku justru karena sungguh-sungguh menyayangi Mbak sejak awal masuk perusahaan, sehingga tidak pernah berpikiran merusak diri Mbak.” lanjutku.

“Ok sayang, sekarang … mumpung masih ada waktu tersedia sebelum kita bekerja besok, mari kita reguk kenikmatan kembali,” ajaknya sambil menghujani dadaku dengan ciuman-ciuman yang menggairahkan.

Putingku dilumat oleh lidahnya dan bibirnya mengecup kedua putingku bergantian hingga kulihat ada cupang berwarna kemerah-merahan bekas kecupan bibirnya. Birahiku kembali membuncah mendapat perlakuan demikian. Kubalas dengan menaruh kedua pahanya di atas pahaku dan memeluk dirinya erat-erat sambil meremas-remas kedua buah dadanya. Kembali ia mengerang dan mendesah-desah. Vaginanya bergerak-gerak di bagian bawah penisku seakan-akan meminta diterobos oleh batang kenikmatanku. Diarahkannya penisku menguakkan rambut-rambut kemaluannya. Tetapi aku sadar akan percakapan kami tadi dan tidak berusaha memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang semakin lembab.

Ia berbisik di telingaku, “Gus, masukkan penismu dikit ya, atur agar cuma sampai leher penismu masuk dalam vaginaku. Soalnya aku terangsang banget. Biar klitoris dan labiaku nikmati tusukan kepala penismu ya sayang?” pintanya.

Kuturuti permintaannya dan menekan lembut ke liang vaginanya, tapi jari-jari tangan kananku kupakai menggenggam penisku, sehingga batangnya dapat kukendalikan tidak masuk dan hanya kepala hingga leher penisku yang menekan-nekan rambut kemaluannya.

Dengan sedikit geliat, ia berhasil membuat kepala penisku tepat berada di depan klitorisnya yang semakin tegang. Sekonyong-konyong ia merebahkan badannya terlentang di bawahku dengan kedua belah pahanya masih ditumpangkan di atas pahaku dan menggerakkan pahanya ke arah tubuhku sehingga kepala penisku menancap telak di mulut vaginanya. Untunglah aku tetap menggenggam batang penis hingga ke pangkalnya hingga tidak terbawa masuk akibat gerakannya yang tiba-tiba.

“Ayo Gus, aaahhhh …. ssshhh ….ayo … sayangggg…. gerakkan kepala penismu menggesek-gesek klitoris dan permukaan vegy-ku,” erangnya.

Dengan setengah berlutut, kugerakkan pantatku maju mundur agar kepala penisku benar-benar memberikan gesekan nikmat bagi klitoris dan labianya yang semakin basah.

“Ahhhh … ssshhhh ….. ooooohhhh ….. ooouuuwwww ….. yang cepat Gus … lebih cepat lagi sayanggggg ….. aaahhhhhhhhhh …” desisnya sambil melemparkan kepalanya ke kanan kiri dan ke atas hingga rambutnya semakin awut-awutan, tapi justru menambah kecantikannya sebab wajahnya semakin merah merona dan kedua tangannya terus meremas-remas puting dan payudaranya karena tanganku kupakai meremas-remas kedua belah pantatnya dan mengelus-elus pahanya.

Gerakan kepala penisku sekarang kupusatkan pada bagian klitorisnya dengan cara memutar hingga membuatnya semakin menggeliat-geliat sambil merintih sambil meraih kenikmatan. Kemudian kubuat variasi gerakan dengan mengulas-ulas labianya menggunakan kepala penisku hingga bibir bawahnya semakin terbuka memperlihatkan warna merah dengan cairan-cairan putih bening yang keluar dari lipatan-lipatan dalam vaginanya.

Tiba-tiba pantatnya diangkat tinggi hingga kulepaskan penisku dan kedua belah pahanya menjepit leherku kuat-kuat, denyut-denyut di vaginanya semakin kencang dan dengan jari-jariku kuterobos liang kenikmatannya dalam-dalam sambil mengisap kuat-kuat klitorisnya. Dengan jari telunjuk kanan, kuterobos vaginanya mencari-cari letak G-spotnya. Agak ke atas di belakang klitorisnya kutemukan suatu titik lembut yang ketika kutekan membuatnya makin merintih-rintih nikmat. Sedangkan telunjuk tangan kiriku pelan-pelan merambat ke dalam analnya hingga ia semakin menggelinjang-gelinjang.

Saat gerakannya semakin liar, kumasukkan lagi dua jariku bersama-sama telunjuk masuk membenam ke dalam vaginanya dan kurasakan bagaimana lorong vaginanya meremas-remas ketiga jariku dengan kuatnya dan dengan dorongan yang luar biasa ia menyemprotkan cairan vaginanya hingga muncrat ke wajahku.

“Guuuuusssss …..” hanya itu kata-kata yang dapat ia lantunkan di puncak orgasmenya.

Dengan cepat kubenamkan wajahku, bibirku dan lidahku menjilati cairannya yang kini bukan hanya di seputar vaginanya, tapi juga mengenai rambut dan dadaku bahkan sebagian mengenai sprei. Luar biasa banyaknya. Rasanya gurih, sedikit asin, dan aku terus dengan keasyikanku menjilati semua cairannya.

“Oohhhh ….. Agus sayangggg ….. enak … nikmat sekali sayang, aaaakhhhh. Kau apakan vaginaku sampai begitu banyak menyemprotkan maniku?” erangnya sambil mengelus-elus kepala dan rambutku.

“Begitu lama aku kawin dengan suamiku, tetapi baru sekali ini kurasakan semprotan vaginaku yang luar biasa,” katanya lagi.

“Sayang …. apa kau tidak tahu? Itu kan G-spot-mu yang kutekan tadi bersama-sama klitoris dan liang vaginamu,” jawabku sambil mencium bibirnya.

“Ehh … ya … aku sendiri walaupun sudah menikah lebih dari sepuluh tahun, rasanya masih banyak yang harus kupelajari tentang seks,” gumamnya.

“Anehnya, aku malah bisa begitu nikmat kamu puasi, padahal suamiku termasuk orang yang rutin berhubungan badan, tetapi pemahamannya tentang tubuh wanita sepertinya kalah dari kamu,” lanjutnya.

Sampai sore hari kami masih bermain dua kali dan setelah makan malam, kami kembali bergulat di kamarnya sampai pukul sembilan. Untunglah kami ingat harus beristirahat agar tampil bugar pada pertemuan besok.

Selama mengikuti pertemuan dengan rekanan, kami berdua memperlihatkan sikap biasa-biasa di depan orang lain, tidak terkesan bahwa kami punya hubungan intim. Namun malam harinya, seperti hari pertama di Singapura, aku rutin menemani Mbak Ina di kamarnya. Tentu saja bukan sekadar tidur, tetapi setidaknya bermain cinta secara unik dengannya paling sedikit dua kali; bahkan pernah kami melakukan sampai ia mencapai orgasme sebanyak 5 kali dan aku sebanyak 3 kali.

Malam terakhir kami di Singapura benar-benar kami habiskan berdua di kamarnya. Begitu usai makan malam dengan Mr. Chow, salah seorang manager pada perusahaan rekanan kami, dengan dalih akan beristirahat, Mbak Ina sudah pamit lebih dulu meninggalkanku bersama rekanan kami yang masih mengajakku ngobrol. Aku sudah ingin cepat-cepat pergi, apalagi sudah sepuluh sms Mbak Ina masuk, minta aku segera datang, tapi karena tak enak hati pada rekanan kami, aku cuma membalas singkat,

“Masih ada yang dibicarakan, sabar sayang!” Tepat pukul 9 malam, barulah aku pamit dengan dalih sudah mengantuk dan membuat gerakan menguap beberapa kali. Kusms Mbak Ina,

“Tuan Putri, hamba segera datang ke peraduanmu.” Sesampai di kamar, kuangkat gagang telepon untuk berbicara dengan Direktur Utama melaporkan kegiatan kami.

“Semua beres, Pak. Laporan selengkapnya secara tertulis akan Ibu Ina dan saya selesaikan agar dapat Bapak terima sesegera mungkin,” janjiku. Pimpinan kami menjawab dengan nada puas,

“Baiklah, saya percaya akan kinerja kalian. Silakan beristirahat karena kalian tentu sudah sangat lelah beberapa hari ini. Bila perlu tak perlu cepat-cepat pulang besok agar dapat sehari lagi berjalan-jalan di Singapura.

Mengenai hal ini, sudah saya pesankan tadi kepada Ibu Ina, sehingga tak perlu kuatir akan adanya tambahan biaya, semua akan ditanggung oleh perusahaan. Ok, sampai jumpa.” Aku senang sekali mendengar ucapan Direktur Utama kami itu.

“Wah, kalau Mbak Ina setuju, berarti besok kami dapat seharian mereguk anggur kenikmatan di atas ranjangnya,” pikirku.

Setelah itu, kuputar nomor telepon rumahku. Begitu diangkat, kudengar suara istriku, “Hallo, selamat malam! Mau bicara dengan siapa?” Kukatakan pada istriku, “Mama sayang, bagaimana kabarmu?” Jawabnya, “Oh Papa ya? Aku baik-baik saja, tapi sudah rindu banget. Jadi pulang besok, Pa? tanyanya.

“Itulah yang mau kukatakan. Aku belum tahu bagaimana Bu Ina selaku pimpinanku. Tadi Boss kami katakan agar kami menambah waktu untuk melakukan beberapa hal lain mumpung masih di Singapura, sehingga kami tak dapat pulang besok, paling cepat lusa. Mudah-mudahan Bu Ina memperbolehkan aku pulang duluan, abis udah kangen pada Mama sih! Tapi jika tidak diijinkan, Mama sabar aja ya nunggu Papa pulang lusa,” kataku dengan nada merayu.

Sebetulnya tak enak juga berbohong seperti itu padanya, tapi karena adanya peluang diberi Pimpinan, kucoba gunakan.

“Ahhh, Papa jahat deh! Jadi besok belum bisa melepas rindu dong?” rajuk istriku manja.

“Jangan marahin Papa dong, Mama sayang … kan Papa hanya bawahan yang harus tunduk pada atasan. Apalagi Papa sudah bilang bahwa tugas kali ini berkaitan dengan promosi jabatan Papa sepulang ke Jakarta nanti. Kalau sudah balik ke Jakarta, Mama minta berapa ronde pun kulayani deh …”

kucoba meyakinkan dengan melontarkan jurus-jurus rayuan maut.

“Kalau begitu, Papa harus belikan Mama oleh-oleh yang bagus …. dan jangan lupa, kangen Mama harus dirapel beberapa ronde yaaaa???” kembali suara manja istriku terdengar.

“Baik, Papa akan carikan souvenir indah buat Mama, tapi janji jangan musuhin Papa dan jangan buat Papa lecet-lecet waktu melepas rindu nanti ya?” jawabku.

“Ok Mama, selamat malam, selamat tidur ya. Kiss bye,” sambungku menutup percakapan kami.

“Cup … cup … met malam. Salam kangen banget ya Pa!” desah istriku.

Baru saja kuletakkan gagang telepon, tiba-tiba telepon itu berdering.

“Kriiingg … krrrinngg … krrinnggg ….” Kuangkat telepon, dan benar dugaanku, Mbak Ina. Pasti ia sedang uring-uringan. “Koq lama banget sih. Sibuk terus teleponmu! Apa kamu punya pacar baru ya?” semprotnya.

“Maaf Mbak, tadi abis bicara dengan Mr. Chow, aku telepon Boss kita di Jakarta melaporkan pertemuan kita.”

“Ngapain kamu mesti telepon Pimpinan kita, kan tadi sore kamu dengar sendiri aku bicara per telepon dengannya?” katanya ketus.

“Jangan marah gitu dong, Mbak? Aku kan juga mau tambahkan percakapan informal kami dengan Mr. Chow tadi sekaligus memberitahu beliau bahwa laporan pertemuan kita akan sesegera mungkin saya siapkan.”

“Ohh gitu, abis teleponmu sibuk terus sih, padahal sms-mu tadi bilang mau langsung ke kamarku? gerutunya sambil melanjutkan dengan nada yang sudah semakin datar,

“Nah, tadi beliau katakan agar kita tidak buru-buru pulang. Jika ada yang masih perlu dipelajari dari rekanan kita di luar pertemuan formal beberapa hari ini, kita dapat menambah waktu sehari lagi di sini. Bagaimana, kamu tidak keberatan?”

“Ah, aku sih bagaimana Mbak aja. Apalagi tokh tiap malam Mbak selalu memberikan service khusus buatku?” candaku demi mendengar suaranya sudah mulai mendatar.

“Tapi bagaimana dengan istrimu, apa tidak curiga jika kita nambah waktu di sini?” tanyanya menyelidik. “Kalau aku sih, sudah langsung kutelepon suamiku tadi memberitahu kemungkinan pulang masih lusa dari sini.”

“Beres, Mbak. Tadi istriku sudah kubilangin kalau masih ada tugas kita, sehingga belum bisa pulang besok,” jawabku.

“Gila lu, tugas apa tugas nih?” oloknya sambil tertawa kecil.

“Udah buruan, aku sudah kedinginan sendirian di kamarku. Jangan pake mandi lagi, cepat ya! Kutunggu dalam sepuluh detik,” ancamnya menggoda.

“Ha … ha … ha … jangankan sepuluh detik, Mbak. Sekarang pun aku sudah di kamarmu karena masuk lewat saluran telepon …” balasku sambil meletakkan telepon dan bergegas ke kamarnya.

Sesaat kemudian aku sudah di depan kamarnya. Waktu kuketuk pintunya, ternyata pintunya sedikit terbuka, “Masuk Gus!” Aku mengomelinya, “Gila, koq pintumu tidak dikunci sih Mbak? Nggak takut ada orang lain masuk?” Kulihat lampu kamarnya remang-remang dan ia berbaring di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, sementara pesawat televisi di kamarnya menyajikan film dewasa semi porno. Batinku, “Wah, udah ngeres rupanya dia nonton film beginian?”

“Ah ngapain takut? Tokh cuma kamu yang tahu kalau pintu itu agak terbuka. Dari tadi ada yang lewat kudengar tapi mana berani masuk?” tangkisnya.

“Aku mandi dulu ya Mbak, gerah banget nich seharian duduk, sore tadi cuma mandi koboi,” kucoba bercanda melihat reaksinya terhadap ucapanku.

“Ehhh …. belum pernah lihat televisi dilempar ke wajahmu, ya? Kan udah kubilang tadi tak usah pake mandi. Alasan aja, padahal mau godain aku… Sini, naik ke dekatku!” serunya dengan nada memerintah.

Kulepaskan baju dan celana panjangku dan kusampirkan di gantungan baju di lemarinya. Dengan hanya mengenakan celana dalam dan kaos singlet, kudekati dia dan membuka selimut masuk ke baliknya berbaring di dekatnya. Sekilas kulihat ia hanya mengenakan baju tidur tipis tanpa mengenakan BH, entah celana dalamnya karena selimutnya tidak kubuka lebar.Belum sempat rebah dengan baik, ia sudah memelukku dan melumat bibirku dengan buas. Tangannya meraih kepalaku dan bahuku, hingga aku tak bisa mengelak dari ciuman-ciuman mautnya. Lidahnya disusupkan masuk ke dalam mulutku membelit lidahku dan mengait-ngait rongga mulutku sambil bibirnya menutup penuh-penuh mulutku. Buah dadanya yang padat begitu liat dengan putingnya yang kulihat sudah tegang, menekan dadaku hingga birahiku naik dengan cepat.

“Sebentar Gus, kamu jangan melawan, ikuti saja kemauanku …” paksanya tiba-tiba sambil menyeret tubuhku ke pinggir ranjangnya, sementara selimut yang kami pakai sudah terlempar ke bawah ranjang. Ditariknya kedua kakiku hingga berjuntai ke lantai dan pantatku tepat di tepi ranjangnya, sementara di bawah kepalaku ia letakkan sebuah bantal.

Lalu dengan cepat ia menempatkan diri berjongkok di antara kedua pahaku dan mengelus-elus rambut kemaluanku. Bibirnya mulai ia gunakan menciumi lututku, naik ke pahaku dan kedua testisku. Lidahnya mulai menjulur membasahi pori-pori tubuhku seolah-olah tidak mau menyisakan se-inci pun luput dari lumatan bibir dan tusukan lidahnya yang menimbulkan seribu satu sensasi. Aku mulai mengerang mendapat pelayanan yang begitu memuaskan.

“Ekhhhh… sshhh …. ahhh … Mbakkkk …. nik .. mat … Ougghh .. sayaangggg….” Kembali kusaksikan bukan seorang Ibu Ina yang sangat disegani di lingkungan kerja, tetapi yang ada kini hanyalah seorang wanita yang benar-benar tahu apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi kodratnya sebagai seorang wanita terhadap kekasihnya.

Perlahan-lahan lidahnya menjilati batang penisku dan melakukan gerakan memutar sambil menggunakan sebelah tangannya memegangi pangkal kemaluanku dan tangannya yang lain mengelus-elus testisku yang menjadikanku menggeliat-geliat. Di bagian leher penisku, lidahnya bermain dengan lincah melakukan manuver keliling dan “Oouuuwww …!” aku menjerit ketika ujung lidahnya mengulas-ulas lubang penisku dan memasukkan kepala penis ke dalam rongga mulutnya sambil terus menerus melakukan gerakan simultan dengan kedua tangannya.

Aku semakin terengah-engah manakala ia memasukkan seluruh penisku hingga pangkalnya masuk ke mulutnya. Kurasakan bagaimana ujung penisku menyentuh kerongkongannya, aku tidak tahu apakah itu amandelnya, tapi yang jelas ada benda yang lunak di sana memberikan rangsangan yang luar biasa bagi kepala penisku. Sambil menelan seluruh penisku dalam-dalam, lidahnya tetap menjilati batang penis dan kepala penisku, hingga aku terbeliak karena menahan nikmat yang tak terkatakan. Aksinya belum berhenti, tangan kanannya menggenggam batang penisku dan melakukan kocokan-kocokan maut sambil terus mulutnya melakukan gerakan memasukkan dan mengeluarkan kepala penisku semakin cepat dan semakin cepat.

Tangan kirinya kembali meremas-remas, kini sasarannya adalah kedua belah pahaku dan entah kapan cairan ludahnya ia ambil dari mulutnya, kurasakan jari telunjuk kirinya mulai melakukan eksplorasi ke liang analku. Mula-mula masih di permukaan analku ia oleskan ludahnya, tetapi kemudian ia mulai memasukkan sedikit demi sedikit jarinya ke dalam analku. Lonjakan pantatku semakin hebat, bahkan hingga bergetar merasakan rangsangan yang dahsyat hingga tanpa kusadari kedua bongkah pantatku kuangkat hingga penisku semakin kutekankan ke mulutnya.

Jarinya yang masuk ke analku pun masuk semakin dalam bahkan sampai seluruhnya dan kurasakan ia melakukan gerakan memutar di dalam analku, bahkan kadang-kadang ujung jarinya mengait-ngait bagian dalam analku hingga kurasakan betapa denyutan analku semakin kencang menjepit jarinya. “Penyiksaannya” pada penis, kedua testis dan analku membuatku semakin horny, hingga kurasa tak lama lagi akan mencapai klimaks. Gerakannya semakin cepat demi melihat reaksiku yang sudah seperti cacing kepanasan, menggeliat-geliat sambil merintih. Dengan suatu erangan nikmat, aku memuntahkan cairan hangat ke mulutnya.

“Akkkhhh … Ak … kuuu keluar Mbakk sayangg?” Kurasakan betapa kuatnya desakan maniku menyemprot dalam rongga mulutnya yang ia sambut dengan penuh perasaan.

Kuamati wajahnya, ia sedang terpejam sambil menikmati air maniku dengan pipi yang kempot karena kuatnya mengisap penisku. Lidahnya terus merangsang lubang penisku yang masih menyemprotkan mani.

“Ohhh … hebat … jepitan analmu sungguh hebat Gus!” pujinya sambil menjilati air maniku yang menetes di bibirnya, sementara jarinya pada analku masih ia hunjamkan sedalam-dalamnya.

Denyut jantungku yang memacu dengan kencang dan napasku yang terengah-engah tidak membuatku surut.

“Sekarang rasakan pembalasanku,” pikirku sambil menegakkan tubuh berdiri di tepi ranjangnya dan dengan gerakan yang tak ia duga, mendorongnya jatuh ke ranjang lalu menarik kedua kakinya ke tepi ranjang persis seperti yang ia lakukan bagiku.

“Lho, ada apa Gus? Pelan-pelan dong?” katanya terkejut.

“Emang cuma Mbak yang bisa bikin begitu? Giliranku sekarang, ayo … nikmati aja say!”

Kulucuti gaun tidurnya dan ternyata memang tidak ada lagi apa-apa di baliknya, hingga kini kami berdua sudah dalam keadaan telanjang tanpa selembar benang pun melekat di tubuh masing-masing. Kuciumi mulutnya dan kugelitik rongga mulutnya dengan memasukkan lidahku dalam-dalam ke mulutnya, lalu ciuman dan jilatanku turun ke lehernya yang jenjang terus ke payudaranya. Putingnya kulumat sambil mengisap buah dadanya sebanyak yang dapat kutelan dalam rongga mulutku sambil jari-jariku meremas-remas payudaranya yang sebelah lagi. Bergantian kulakukan seperti itu hingga ia semakin merintih.

“Gusss…. ohhh….nikmat … ahhh… terus … ya gitu say…. ooohhhh …. teruskan remas susuku ….” desahnya.

Usai menggeluti kedua buah dada dan kedua putingnya yang sudah tegang mencuat ke atas, kutelusuri perutnya, pinggang dan pinggulnya dengan bibir dan lidahku. Ia memejamkan mata sambil terus merintih hingga suara rintihannya terdengar begitu memilukan, tapi aku tahu, ia tidak kesakitan melainkan karena merasakan nikmat yang semakin memuncak. Lidahku semakin liar menjilati seputar kemaluannya dengan memulainya pada bagian labianya yang sudah basah.

Rambut kemaluannya kuraba dengan jari-jariku sambil mencari-cari klitorisnya. Begitu kutemukan klitorisnya, lidahku dengan ganasnya melakukan isapan dan jilatan yang membuatnya semakin liar menggelinjang. Kedua tangannya meremas-remas rambutku bahkan sesekali menarik rambutku karena gemas. Jari-jari tangan kananku menekan-nekan labianya dan telunjukku kumasukkan ke liang vaginanya hingga membuatnya terhenyak kaget dan mengangkat kedua belah pantatnya tinggi.

Kukuakkan kedua labianya lebar-lebar ke kiri kanan dan lidahku terhunjam dengan gerakan buas memasuki vaginanya. Kukait-kait klitoris dan vaginanya sambil jari-jariku melakukan eksplorasi lebih lanjut mencari G-spotnya. Tak sulit lagi mencarinya karena pengalaman beberapa malam yang lalu. Aksiku menggumuli klitoris, G-spotnya, labia liang vaginanya kurasa belum cukup, sehingga jari tengah tangan kiriku kumasukkan ke analnya setelah kuolesi cairan vaginanya yang semakin membanjir.

“Oooohhhh Gus… sayyyangggg!” teriaknya dengan mata terbelalak, tapi aku tahu ia tidak marah karena itu adalah ungkapan kenikmatan.

“Sabar Mbak sayang, bentar lagi kuantar ke gerbang kenikmatan ….” ujarku sambil meneruskan aksiku.

“Aguuuusssss ….. sayangggkuuu .. ooohhhh,” jeritnya.

Dengan suatu geraman tinggi, ia menghentakkan pantatnya tinggi-tinggi dan begitu kurasakan bahwa ia akan orgasme kutekan wajahku dalam-dalam ke vaginanya sambil terus mengocok vagina dan analnya dengan jari-jariku.

“Croott.. crooot … crooot …” cairan hangat terasa membasahi wajahku dan sempat kutarik wajahku hingga kulihat betapa kuatnya semprotan cairan kenikmatannya bahkan kupikir melebihi semprotan penisku saat orgasme.

Begitu ia rasakan kutarik wajahku dari vaginanya, kedua tangannya menekan belakang kepalaku kuat-kuat hingga kembali terbenam ke vaginanya yang merekah. Maka sibuklah aku menyedot dan menjilati cairan vaginanya hingga kurasa mulutku penuh dengan cairan gurih. Jariku di analnya masih merasanya denyutan-denyutan hebat, begitu pula jariku di vaginanya masih terjepit dan kurasakan remasan-remasan otot-otot vaginanya menjepit jariku.

“Ahhh… aku capek Gus… kita istirahat dulu ya sayang?” katanya sambil memelas.

Kuangkat tubuhnya ke atas dan kutempatkan diriku berbaring di sampingnya sambil saling berciuman meredakan gelora nikmat yang menguasai dirinya dan diriku. Kini kami berdua bagaikan dua bayi raksasa yang tergolek siap untuk saling berbagai kepuasan.

Jari-jari kami saling meremas dan kaki kami membelit satu sama lain. Tak berapa lama kulihat matanya terpejam. “Ah, biarlah ia tidur dulu, kasihan jika kupaksa untuk main tanpa jeda,” pikirku. Aku pun memicingkan mata dan mencoba tidur sambil merenung mengapa kami bisa begitu binal.

Jelang tengah malam, aku terbangun karena Mbak Ina bangkit menuju kamar mandi. Kudengar suara air gemercik mengisi bathtub. Karena penasaran menunggunya tidak balik ke ranjang, aku bangun dan berjalan ke kamar mandi, kubuka pelan pintu yang tidak ia tutup. Kulihat Mbak Ina sedang berendam sambil menutup mata dalam bathtub yang sudah mulai berisi air. Melihat sebagian tubuhnya berendam demikian, birahiku kembali menggelegak, aku masuk ke dalam kamar mandi dan kudekati dia. “Oh kamu udah bangun, Gus? Mau mandi air hangat bareng denganku?” ajaknya.

“Iya Mbak, biar fresh untuk sesi berikutnya,” jawabku sambil masuk ke bathtub. “Uihhh, makin kelihatan kalau kamu sebetulnya mata keranjang,” katanya sambil mencipratiku dengan air.

Kami mandi berdua, saling meremas, saling menggosok dan menyabuni satu sama lain. Usai mengeringkan badan, dengan bertelanjang kami berdua kembali ke ranjang. Kami duduk bersisian dengan saling peluk dan cium sambil menonton film dewasa yang belum juga usai. Kami sama-sama melihat sepasang pria dan wanita yang telanjang dalam posisi sedang duduk berpelukan melakukan hubungan badan. Tidak terlihat penis si pria masuk keluar kemaluan si wanita, tetapi gerakan-gerakan tubuh mereka di mana si wanita dalam pose menduduki kemaluan si wanita mengesankan bahwa mereka sedang mendaki puncak kenikmatan.

Tiba-tiba si pria mengangkat si wanita, sambil berdiri di lantai, si pria menggendong si wanita dengan menahan kedua pantatnya sedang kedua paha si wanita memeluk erat-erat pinggang si pria. Posisi ini yang disebut sebagai monyet menggendong anaknya. Kuperhatikan dengan ekor mataku mata Mbak Ina memandangi adegan itu dengan tajam dan kurasakan jari-jarinya tidak lagi meremas tanganku tetapi berpindah ke pangkal pahaku dan mulai membelai penisku yang mulai bangkit kembali sejak kami mandi berdua. Elusan jari-jarinya membuat gairahku semakin naik kembali.

“Gus, enak banget kali gaya begitu ya?” desahnya di telingaku. “Udah pernah nyoba dengan istrimu?” tanyanya.

“Belum Mbak.”

“Ehmmm, enak mungkin ya? Tapi gimana ya?” desahnya sambil melirik aku.

“Tapi gimana ya? Aku justru maunya gini aja denganmu, penismu tidak sampai penetrasi ke vaginaku kayak gitu?”

“Nggak apa-apa Mbak, kita tetap main anal seperti biasanya, cuma dengan posisi begitu, bagaimana?” kataku menantang, sambil menarik tangannya turun dari ranjang.

Sambil tersenyum dengan wajah tak mengerti akan ajakanku, ia bertanya,

“Ada apa sih Gus? Koq pake turun ranjang segala?”

Aku tidak menjawab, tapi kuatur tubuhnya berdiri sambil membungkuk, bertopang kedua tangannya ke kursi di depan TV, kemudian kutempatkan diriku persis di belakang tubuhnya dan mulai mengusap-usap lubang analnya. Kuambil ludahku dan kuoleskan di mulut analnya sambil tanganku yang lain merabai payudaranya di depan. Ia mulai mendesah geli campur nikmat,

“Sssshhhh, ohhh … kau kuat banget sih Gus? Udah minta lagi?”

Kepala penisku mulai mengambil posisi tepat di mulut analnya dan dengan perlahan-lahan kudorong masuk ke analnya. “Sstt… eeekhhh …. pe..lan Gus, jangan kuat-kuat, ehhh … shhh …” katanya sambil sebelah tangannya mencoba menahan laju pantatku agar tidak maju mundur dengan cepat.

“Tenang aja, Mbak. Aku takkan menyakitimu. Nikmati saja, sayang …” gumamku pelan sambil terus memaju-mundurkan pantatku hingga penisku masuk lebih dalam ke dalam analnya.

Nafsunya kembali naik seiring dengan gerakan penisku yang semakin intens ke dalam analnya dan kedua tanganku tidak tinggal diam, kadang-kadang meremas kedua belah pantatnya, juga bergantian menjangkau vagina dan klitorisnya serta payudaranya. Desahannya mulai berganti dengan rintihan yang semakin kuat.

“Sshhhh …. aakkkhhh … enakkkkhhh … Gus …. Ahhhh sayang …. terus … teruusssss …. ooukhhhh ….” geliat tubuhnya semakin menggairahkan apalagi sesekali kurapatkan tubuhku ke punggungnya dan menjilati kuduknya bahkan menggigit pelan-pelan. Bibir dan lidahku bermain juga di pundak, sela-sela ketiaknya dan turun ke lengan atasnya.

Saat rintihannya semakin kuat, penisku kuhentikan tepat menghunjam sedalam-dalamnya ke analnya dan kuhentikan gerakanku untuk melihat reaksinya.

“Oukhhh …. ada apa Gus? Koq kamu diam sih? Sengaja mau menyiksaku ya? tanyanya.

Tanpa menjawab pertanyaannya, tiba-tiba kuletakkan kedua tanganku di bawah pahanya dan kutopang dengan kedua tanganku, lalu dengan kekuatan tanganku kunaik-turunkan pahanya, sehingga bunyi analnya menelan penisku semakin sedap kedengaran,

“Slepp …. sleepp … sslep …” Ia mengerang-erang kenikmatan.

“Guuussss ….” hanya itu suaranya. Kulihat kedua tangannya meremas-remas payudaranya menambah rasa nikmat yang ia terima akibat permainan penisku.

“Ssshhh …. ahhh … aku hampir dapat Gus!” rintihnya semakin kuat.

“Sabar Mbak, ntar bareng dengan aku,” bujukku sambil merebahkannya terlentang di tempat tidur. Wajahnya nampak kesal karena tiba-tiba kucabut penisku dari analnya.

“Ada apa lagi sih Gus? Koq dicabut, padahal aku hampir klimaks?” gerutunya sambil cemberut.

“Kita ganti posisi, biar Mbak lebih santai,” kataku sambil berlutut di dekat pahanya dan mengangkat paha kanannya ke atas paha kiriku.004

Kuambil ludahku dan kuoleskan lagi di mulut analnya kemudian penisku kuarahkan kembali ke analnya

masuk keluar.

“Ahhh… kau pinter banget bikin variasi. Shhh … ohhhgg … terusss Gus … aduh nikmatnya …” erangnya sambil menggeliat-geliatkan pantatnya.

Kuayunkan pantatku mendorong penis masuk keluar analnya. Dengan kaki kanannya di atas paha kiriku, ia berbaring agak miring sehingga dengan bebas tangan kananku dapat merabai klitoris dan vaginanya.

“Ssshhh … nikmattt Gus, te..rus … ohhh … lebih cepat lagi Gus?”

“Yang mana yang lebih cepat, Mbak? Tanganku di analmu atau yang di vegy-mu nich?” godaku sambil mempercepat ayunan pantatku.

“Semuanya enak Gus, aduh … kau suka banget sih bikin aku keqi? …. shhh …. akkkhh” rintihnya.

Jari-jari tangan kananku semakin cepat menggesek-gesek labianya dan ketika kuraba klitorisnya yang sudah begitu tegang, kubuat jepitan kecil dengan jari telunjuk dan jari tengah. Kemudian kedua jari tersebut kumasukkan ke liang vaginanya sambil jempol kananku mengelus-elus klitorisnya.

“Auhhhh … enakkkhhhh … Guuussss ….” rintihannya makin meninggi.

“Akkkhuu hampir keluarrr …. oookhhhh ….”

“Sekalian denganku Mbak, ssshhhh … akkkhhh … aku juga udah mau keluar …. Bareng Mbak …. aaakkhhh …” desahku sambil mempercepat genjotan penisku pada analnya dan jari-jari tangan kanan pada kemaluannya sedangkan tangan kiri meremas-remas payudara dengan putingnya yang amat tegang.

Dengan suatu hentakan kuhempaskan dalam-dalam penis ke dalam analnya, paha kanannya melilit erat pinggangku, kurasakan denyutan luar biasa pada analnya juga liang vaginanya yang mpot-mpotan meremas-remas jari telunjuk dan tengah tangan kananku. Pantatnya dengan kuat menggelinjang-gelinjang hingga membuat penisku semakin erat dikulum oleh liang analnya.

“Ggguuuuuussss! rintihannya berubah menjadi teriakan yang kuat di ruang kamar itu.

“Mbaaakkk sayangggg …” sambutku sambil terus menggoyang-goyangkan pantat menikmati orgasme yang bersamaan tiba.

Kurasakan penisku menyemprotkan air mani kuat-kuat ke dalam analnya. Setelah beberapa saat, kutarik penisku dan kulihat cairan putih bening menetes turun ke pahanya.

Kami berdua berbaring miring sambil berpelukan dan berciuman. Bibirku dikulumnya dengan sangat erat, bahkan sempat digigitnya lidahku saking gemasnya. Setelah orgasme kami berdua mereda, kami berbaring sambil bergenggaman tangan dan tertidur dalam keadaan telanjang.

“Kita tidur dulu ya sayang, besok masih bisa kita lanjutkan. Masih ada waktu sehari penuh buat kita,” katanya sambil memicingkan mata.

“Iya Mbak, yuk tidur sayang! Met malam ya!” ujarku sambil mencium bibirnya.

Keesokan harinya masih kami isi dengan berbagai gaya permainan ranjang meskipun tetap tanpa melakukan penetrasi ke dalam vaginanya. Tenaga kami benar-benar terkuras, karena ingat di Jakarta tak mungkin kami berbuat demikian.

Itulah pengalamanku dengan Mbak Ina yang cantik dan penuh gairah. Hingga kini kami berdua masih tetap tidur bersama jika kebetulan bertugas keluar kota atau keluar negeri hanya berdua, paling tidak 4-8 kali kami memperoleh tugas luar semacam itu. Uniknya, hingga kini kami hanya bermain anal, tetapi kenikmatan yang kami rasakan tak ubahnya seperti permainan seks biasa.

Lucunya lagi, akibat permainanku, Mbak Ina mulai coba-coba minta suaminya pun main di analnya, tetapi ia mengakui style-ku selalu lebih hot daripada suaminya. Rahasia kami berdua tetap tersimpan erat dan tidak pernah ada orang di perusahaan yang tahu hubungan kami, karena di kantor kami tetap berbuat sebagaimana wajarnya karyawan biasa. Orang hanya tahu ia sebagai atasanku dan aku sebagai asistennya selalu berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan. Mereka tidak pernah tahu, bahwa keberhasilan itu juga sangat didukung oleh hubungan mesra di antara kami.

Demikian artikel tentang cerita Ku Genjot Keras2 Memek Atasan Ku Yang Bikin Sange Dan Menggairahkan.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,