Kusikat Miring Miring Lobang Sempit Penjaga Toko Bohay Liar Bak Pelacur.

Main Dengan Penjaga Toko Yang Bohay 1

Kusikat Miring Miring Lobang Sempit Penjaga Toko Bohay Liar Bak Pelacur.Rumah kontrakan yang ku tempati terletak di daerah dekat pasar, walaupun jarak dari kontrakanku ke pasar memang agak jauh kalau berjalan kaki tetapi aku tidak risau. Karena aku pergi ke pasar hanya sesekali sewaktu membeli kebutuhan dapur. Setiap kali aku ke pasar, aku akan berjalan kaki saja dan aku jarang membeli banyak barang.

Di pasar itu, aku sering mengunjungi sebuah kios sedang yang menjual berbagai jenis keperluan dapur. Aku bukan saja dapat membeli semua barang-barang yang aku perlukan, malah aku juga berpeluang untuk berkenalan dengan seorang wanita yang aku taksir berumur lebih kurang 37 tahun. Namanya Ani.

Dia adalah isteri tuan pemilik kios itu. Aku memanggilnya Kak Ani. Dia memang baik dengan ku. Beberapa kali aku mendapat potongan harga dan barang gratis. Ketika dia mengetahui bahwasanya aku bekerja sebagai seorang guru, dia bertambah baik dengan ku. Kebetulan juga anak bungsunya bersekolah di sekolah tempat aku mengajar.

Kak Ani memang ramah, sesuai dengan kerjanya sebagai pemilik kios kebutuhan sehari-hari. Bertubuh agak ramping dan berpostur sekitar 160 cm tingginya. Dia memiliki mata yang jernih dan berkulit cerah. Rambut hitamnya ikal dan panjang melewati bahu. Kak Ani gemar berpakaian ketat terutama di bagian atas tubuhnya.

Kadang-kadang aku merasa gemas apabila terlihat alur di celah dadanya. Beberapa kali Kak Ani “menangkap” aku yang sedang melihat ke dadanya tetapi dia tidak pernah memarahi ku. Malah dia tersenyum. Aku yang salah tingkah jadinya.

Di kios itu juga ada seorang pekerja wanita yang bernama Ina. Dia seorang ibu single parent dan telah lama bekerja di kios itu. Aku tidak pasti berapa umurnya. Mungkin dalam sekitaran 25 tahun ke atas. Aku tidak pernah menanyakan perkara itu pada Ina. Sejak kali pertama aku berbelanja di kios itu, aku mulai tertarik padanya.

Setidaknya, Ina memiliki potongan badan yang cukup menggiurkan dan wajah yang manis. Tingginya hanya sebatas hidung ku. Tubuhnya berisi tetapi tidak gemuk. Bokongnya lebar dan kelihatan padat sekali. Dadanya pun montok sekali. Aku sering memerhatikan Ina setiap kali aku datang ke kedai itu.

Setelah sebulan aku yang bernama Lukman dengan usia 26 bertugas di sekolah itu, aku sudah dapat menyesuaikan diri. Aku sudah dapat menjalani latihan tanpa merasa kikuk hasil bimbingan dari guru mentorku dan guru-guru lain. Aku juga sudah dapat menyesuaikan diri tinggal di dekat pasar itu. Aku sering pergi berjoging atau memancing ikan di sebuah kolam pemancingan yang terletak tidak jauh dari rumah ku.

Kisah pertualanganku bermula pada bulan kedua aku berada di tempat itu. Setelah mendapat kesan yang ramah pada bulan pertama, aku pun berkunjung ke kios Kak Ani untuk membeli keperluan dapur ku yang kebanyakannya sudah habis. Ketika itu aku tidak mengajar karena hari itu libur nasional.

Seperti biasa, Ina membantu aku mencari dan memilih barang-barang yang aku perlukan. Sempat juga aku melirik ke arah dada Ina ketika dia tunduk mengambil barang.

“Besar banget!” Aku sempat mengusiknya.

“Apanya yang besar?” tanyanya agak keheranan.

“Itu, dadanya mbak” Aku memonyongkan bibirku, menunjuk ke arah dadanya.

“Ganjen!” Ina coba mencubit perutku tetapi aku mengelak.

“Kenapa? Belum pernah ngeliat yang besar?”

“Belum.” Aku berbohong.

“Bohong! Orang macam kamu mana mungkin tak pernah ngeliat!”

“Betul, saya gak pernah lihat kok”

“Yang tadi tuh apa?”

“Yang tadi gak keitung lah. Baru ngintip sebagian aja!”

“Terus, mau lihat semuanya Toh?”

“Kalau dikasih lihat, saya mau kok. Hehehe..”

“Ganjen juga kamu ya?”

Setelah selesai memilih barang-barang, aku membawanya ke counter bayar. Agak terkejut juga aku saat melihat jumlah barang-barang ku yang agak banyak. Aku sempat berniat untuk mengembalikan barang-barang yang aku rasakan bisa dibeli lain kali tetapi aku segan karena semuanya sudah berada di atas counter. Mau tak mau, aku terpaksa membayar untuk kesemuanya.

Mungkin setelah melihat aku bersusah payah mengangkat barang-barang itu, Kak Ani segera menegurku.

“Pak guru, gimana mau bawa barang-barang tu? Kan banyak banget tuh?”

“Pikul sendiri saja lah, kak. Mau bagaimana lagi?”

“Pak guru, tunggu bentar, ok? Nanti kakak tolong antar pak guru pulang”

“Eh, tak usah lah, kak. Menyusahkan saja”

“Tak apa… Kakak sekalian mau jemput anak kakak dari sekolahan. Dia kan ikut latihan olahraga? Kkak hantar dulu pak guru. Habis itu pergi jemput dia.”

“Kalau gitu, ok lah.”

Aku menunggu lebih kurang 15 minit sebelum Kak Ani mengajak aku ke mobil Pajeronya. Aku meletakkan barang-barang ku di tempat bagasi dan kemudian duduk di sebelah Kak Ani. Ada perasaan bangga juga karena dapat naik mobil macam itu. Mobil Kak Ani pun meluncur menuju ke jalan utama.

“Pak guru tinggal dimana?” tanya Kak Ani.

“Rumah kontrakan Kahuripan yang di atas bukit tu. Kakak lewat jalan belakang pasar aja.”

“Bagus gak tempatnya, pak guru? Setahu kakak, tempat tu penuh dengan macam-macam jenis orang. Perempuan kelab malam banyak yang tinggal di tempat itu.”

“Mereka tinggal di sebelah belakang. Rumah saya yang dekat dengan jalan raya. Saya ini gak seberapa gajinya, kak. Mana lah mampu buat sewa tempat yang mewah dikit. Tempat itu aja yang saya mampu.”

“Tak apa lah, pak guru. Tak lama lagi kan bapak diangkat jadi pengajar resmi iya toh?”

“Iya. Cuma tinggal 2 bulan. Tapi sekolahannya bagus kan kak?

“Bagus”

“Apalagi disini bisa cuci mata tiap hari.”

“Ngelihatin cewek pasti yah!”

“Dikasih lihat ya dilihat dong kak. Hehehe”

Perbincangan kami bergeser hingga ke perkara yang agak peribadi. Pada mulanya aku merasa agak janggal juga tetapi melihat Kak Ani yang cuek, aku kemudian tidak lagi merasa begitu.

“Pak guru pernah gak pergi dengan perempuan-perempuan kelab malam itu?”

“Maksudnya kak?

“Ya gitu, ikut mereka ke kelab malam. Lalu…”

“Lalu… apa?”

“Tidur dengan salah seorang dari mereka?”

“Oh… itu. Gak pernah kok, kak. Mana ada saya ada duit buat bayar dia.

Bermula dari situ Kak Ani banyak menanyai aku. Seperti sebelumnya, kebanyakan pertanyaan Kak Ani bersifat peribadi tetapi aku tidak sungkan menjawabnya. Biarlah. Terlebih aku menganggap semuanya sekadar hal sepele biasa.

“Anda punya pacar tidak, pak guru?” tanyanya lagi.

“Dulu ada, masa awal kuliah. Sekarang udah gak ada.”

“Emang kenapa putusnya?”

“Gak cocok kak, jadi udahan”

“Pak guru pernah kelonin dia tidak?

“Dengan dia sih belum tapi sebelum dengan dia, memang saya pernah tidur dengan perempuan.”

“Betulkah itu, pak guru?”

“Betul. Waktu tu memang mikirnya perempuan melulu. Kami sama-sama suka, jadi puas melakukannya.”

“Lalu sekarang bagaimana?”

“Entahlah, kak. Saya belum kepikiran lagi, tapi kalau ada yang mau ke saya, ya saya embat”

Karena Kak Ani yang lebih banyak menanyaiku, aku mulai merasa tak enak. Kemudian aku memutuskan untuk bertanya apa saja yang terlintas di pikiran ku kepada dia.

“Kakak ini, banyak nanya banget. Kakak sendiri gimana?”

“Apanya yang gimana?”

“Begini loh kak, Saya belum pernah ngelihat suami kakak.”

“Suami kakak?” Kak Ani segera memotong kata-kata ku.

“Suami kakak jarang ada disini. Kios itu pun kakak seorang aja yang urusi”

“Dia kemana, kak?”

“Sejak dia kawin lagi, dia jarang datengin kakak. Lagian, dia udah buka kios baru di kota isteri mudanya”

“Begitu rupanya. Kakak gak cemburu, suami kakak asyik dengan isteri mudanya?”

“Mulanya cemburu juga tapi sekarang udah nggak. Kakak pun sebenarnya udah gak ngurusin dia mau apa kek.”

“Kenapa kok gitu?”

“Dia kan udah punya bini muda. Kakak ni udah gak diperhatiin lagi. Maklumlah udah tua. Udah gak nikmat lagi mungkin.”

“Yang tu saya gak bisa komen apa-apa. Itu urusan pribadi kakak dan suami. Tapi pada pandangan saya, kakak ni masih muda juga, masih menawan lagi. Saya heran juga kenapa suami kakak perlakukan kakak begitu.”

“Entahlah, pak guru. Segala cara udah kakak usahakan tapi gak ada hasil. Kalau ada pun cuma sebentar. Habis itu dia balik lagi dengan sikapnya semula. Kakak udah gak sanggup lagi.”

“Boleh saya tanya satu masalah pribadi, kak?

“Soal apaan sih?”

“Kakak udah lama gak bareng dengan suami?

“Tidur dengan dia?”

Aku mengangguk. Kak Ani terdiam sejenak sambil tangannya memegangi stir mobilnya. Aku menyimak seksama wajahnya yang jelita seperti tidak dimakan usia itu. Memang tidak sepadan dengan usianya.

“Kalau soal tidur di rumah kakak sih, memang setiap kali dia pulang ke rumah kakak kadang-kadang dia tidur di sofa ruang tamu. Tapi kalau menyentuh saya dan membuat hubungan suami-isteri memang udah lama enggak. Kakak udah tak ingat kapan kali terakhir dia sentuh kakak.”

Aku terus memperhatikan wajah Kak Ani. Ada raut kecewa di wajahnya. Dahinya sesekali berkerut. Timbul rasa bersalahku kerana menanyai Kak Ani soal itu.

“Sorry, kak, saya tanyain soal itu tadi.”

“Eh… gak apa kok. Kakak gak masalah. Harusnya kakak berterima kasih pada pak guru. “Emangnya kenapa?” Aku kebingungan.

“Udah lama sekali kakak pendam rasa kecewa kakak ini. Untungnya ada pak guru. Bisa curhatin isi hati kakak.”

“Itulah gunanya teman, kak.”

Kak Ani berpaling kepada ku lalu tersenyum manis. Kami terus mengobrol lagi dan tidak lama kemudian, kami tiba di luar rumah kontrakan ku. Sebelum meninggalkan rumah sewa ku, Kak Ani sempat bertanya sesuatu kepada ku.

“Pak guru, tunggu bentar ya!

“Ada apa, kak?”

“Akhir pekan ini pak guru senggang gak?”

“Rasanya sih begitu, kak. Kenapa?”

“Kakak mau pergi ke kota Y weekend ini. Saja mau shopping. Kakak udah lama gak pergi jalan-jalan. Pak guru bisa temenin kakak, gak?

Aku pura-pura berfikir sejenak walaupun sebenarnya aku memang ingin sekali menemaninya. Siapa yang bakal menolak ajakan dari wanita yang menawan seperti wanita di hadapan ku itu? Kak Ani menjadi tidak sabar karena aku begitu lama memberi jawaban.

“Ayolah, Pak guru bisakan temani belanja, ok?

“O.K..no problem! Tapi cuman temani kakak belanja aja yah”

“Gitu dong, pak guru. Nanti kakak kasih tau pas kita mau pergi.”

Aku mengangguk tanda paham. Kak Ani kelihatan gembira. Setelah Kak Ani pergi, aku pun mengangkat barang-barang yang aku beli tadi masuk ke dalam rumah.

Pada waktu sore di hari yang sama, aku seperti biasanya duduk di depan pintu rumah kontrakan ku sambil membaca. Memang itu lah kebiasaan ku jika aku tidak pergi berjoging. Sore itu agak mendung menandakan hari akan hujan. Aku segera mengangkat pakaian yang ku jemur ke dalam rumah. Kemudian aku kembali membaca majalah kegemaran ku.

Sedang asyik membaca, tiba-tiba aku disapa oleh seseorang. Aku mendengar suara perempuan. Aku mengangkat muka ku dan menoleh pada sosok seorang perempuan yang sedang mendorong sepedanya ke arah ku. Dia tersenyum manis. Di belakangnya terpasang sebuah tas.

“Mbak Ina! mau apa ke sini?” Aku agak terkejut melihat kehadiran Ina di tempat ku.

“Ina emang suka lewat sini kok.”

“Memangnya Ina tinggal dimana, lewat sini?”

“Ina menyewa kontrakan di kampung bawah. Tadi Ina pergi ke rumah saudara Ina. Ina awalnya ingin numpang bermalam disana tapi dia tidak ada di rumahnya. Lalu lewat sini, Ina ngelihat Lukman duduk di depan”

“Mau kemana sekarang mbak?”; tanya ku lagi.

“Mau pulanglah, tapi Ina mau mampir sini dulu. Kawan-kawan Ina pergi ke kota Y pagi tadi. Ina cuma sendirian di rumah. Ina malas mau pulang duluan. Boleh Ina numpang sebentar?”

“Silakan duduk”; Aku menjemput Ina duduk di atas bangku panjang yang terletak di tepi pintu. Ina sempat menolehkan kepalanya ke dalam rumah ku dari luar.

“O.K juga tempat tinggalnya Lukman ini. Tapi apa gak takut tinggal seorang diri dalam rumah? Cuma rumah ini aja di depan jalan ini , lainnya di belakang”

“Tak ada yang mesti ditakutkan. Lagian juga dekat dengan rumah pemiliknya.”

Belum juga lama kami berbincang, hujan mulai turun dengan lebat sekali disertai dengan angin yang kuat. Aku segera mengajak Ina masuk ke dalam rumah dan menutup pintu seta jendela. Bunyi hujan jatuh menimpa atap seng rumah kontrakan itu begitu keras sekali sehingga kami terpaksa mengobrol dengan suara yang keras juga.

Sambil menunggu hujan reda, kami kembali mengobrol. Sebelum itu, aku masukkan sepeda Ina ke dalam rumah khawatir akan dicuri orang. Banyak hal yang kami obrolkan hingga tidak terasa waktu berlalu. Aku sempat membuka jendela dan melihat ke luar rumah.

Tidak ada tanda-tanda hujan akan reda karena masih lebat meski tidak lagi disertai angin yang kuat. Suasana juga sudah mulai gelap. Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 6 malam. Perutku berbunyi menandakan ia perlu diisi segera.

“Mbak Ina, saya mau makan dulu nih. Ayolah kita sama-sama makan.” Aku mengajak Ina.

“Eh, gak usah lah, Man. Ina bisa makan di rumah nanti.”

“Gimana mau makan? Mau pulang juga belum tentu bisa. Kalau mau pulang pun gak akan saya bolehin.”

“Emang kenapa?”

“Lihat aja diluar. Hujan lebat. Sudah gelap gulita pula. Kalau terjadi apa-apa diluar, mbak juga yang susah. Sudahlah mbak biar bermalam disini saja. Besok pagi baru pulang”

“Bener gak papa gitu, Man?”

“Emangnya saya suka ngebohong..”

“Ina takut ih..” Ina memandang ku sambil tersenyum manja.

“Kalau pulang malam, takutnya ada apa-apa”

“Baiklah, baiklah”

“Sudahlah, Mbak Ina bermalam disini saja. Mbak jangan cemas. Saya mau siapin makanan dulu.”

Aku bangun meninggalkan Ina menuju dapur. Ina juga bangun lalu mengikuti ku. Aku memanaskan kembali makanan yang telah aku masak pada siang tadi. Ina membantu aku menyajikan makanan.

Setelah itu kami makan bersama. Aku agak bernafsu makan kerana makan ditemani pada malam itu. Sambil makan, kami mengobrol tetapi kami lebih banyak mengobrol tentang makanan.

Selesai makan, kami membereskan meja makan. Ina mencuci wadah di wastafel sementara aku membersihkan meja. Kemudian kami kembali duduk di ruang tamu. Ina kelihatan agak kikuk berada dalam kontrakan ku itu. Maklumlah rumah orang. Dia duduk di hadapan TV sambil menjelajahi timbunan majalah dan buku-buku cerita yang disusun di atas rak di bawah TV.

“Banyak juga koleksimu, Man. Boleh Ina pinjam kan?”

“Ambil aja. Saya udah baca semua. Eh, saya mandi dulu ya, Mbak. Duduk sini saja ya.. Baca buku yang mbak suka.”

Aku meninggalkan Ina di situ, mengambil kain handuk dan bergegas ke kamar mandi. Aku tidak berniat untuk mandi lama-lama karena tubuh ku tidak terasa gerah. Sambil mandi, aku membasuh pakaian kotor ku. Lebih kurang 20 menit kemudian, aku selesai mandi dan berpakaian. Kemudian, aku pergi mendapatkan Ina di ruang tamu.

“Mbak Ina, gak mandi?”

“Bentar lagi” Jawabnya pendek sambil membaca sebuah buku.

Aku melihat judul buku yang sedang dibacanya. Buku itu berisikan koleksi cerita-cerita erotis. Aku tersenyum sendirian. Nampaknya Ina sedang khusyuk membaca. Dia menyandar pada dinding. Aku tidak berniat mau mengganggunya.

Aku mengambil tas kerja ku dan mengeluarkan isinya. Persediaan untuk mengajar pada esok hari masih belum aku selesaikan. Aku mulai menyiapkannya termasuk alat-alat media mengajar. Sesekali aku melirik ke arah Ina yang kerap mengubah cara duduknya.

Setelan kerjaan mengajarku siap, aku memasak air di dapur karena aku ingin bikin kopi panas. Setelah air itu mendidih, aku menyediakan segelas kopi. Kemudian aku kembali ke ruang tamu untuk menonton TV. Aku menghidupkan TV dan duduk merentangkan kaki di depannya. Ina masih membaca. Tiba-tiba Ina bersuara.

“Ina mau mandi dulu.” Katanya lalu berdiri.

“Mbak bawa handuk?” tanyaku.

“Bawa. Ina ada bawa pakaian juga. Tadi kan Ina mau bermalam di rumah saudara Ina itu.” Jawab Ina sambil berlalu ke kamar mandi.

Aku tersenyum sendirian. Aku yakin sekarang Ina sedang mengalami desakan birahi setelah membaca buku itu tadi. Hanya orang yang tidak normal saja yang tidak terusik nafsunya bila membaca cerita-cerita erotis seperti dalam kisah di buku itu.

Apalagi Ina mungkin sudah lama tidak disentuh lelaki. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di antara kami pada malam itu tetapi aku pasti tidak akan menolak untuk melalui malam yang penuh kenikmatan dan kehangatan bersama dengan wanita yang menggiurkan itu.

Siaran berita di TV mengejutkan aku dari lamunan. Aku kembali perhatikan layar TV di hadapan ku. Seketika kemudian aku terdengar pintu kamar mandi dibuka. Ina pasti sudah selesai mandi. Aku menoleh ke belakang dan melihat Ina sedang berdiri sambil mengeringkan rambutnya.

Dia mengenakan celana stretch selutut dan T-shirt putih yang agak kecil ukurannya sehingga dadanya kelihatan menonjol ke depan. Apabila bajunya terangkat ke atas sedikit, aku dapat melihat bentuk kelamin nya yang aduhaii, begitu tembem sekali. Aku menelan air liur kerana sangat bernafsu melihat pemandangan itu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ku ke arah TV kembali.

Ina beralih dari belakang dan duduk bersimpuh di sebelah ku. Aku tercium bau wangi dari tubuhnya. Dia masih mengeringkan rambutnya. Kemudian dia mengambil kembali buku yang dibacanya tadi dan membuka halamannya.

“Belum selesai baca toh?” tanyaku.

“Belum, tinggal dikit lagi.”

“Bagus gak ceritanya?”

“Lumayan, Emangnya Lukman doyan baca tulisan kaya gini yah?”

“Enggak juga sih. Kadang-kadang aja. Kalau pergi ke toko buku, saya memang suka beli 2 atau 3. Kalau mau, Mbak bawa saja yang mbak suka pulang ke rumah besok. Itu masih ada lagi di rak.”

“Nantilah Ina pilih. Ina baca yang ini habis dulu.” Ina menyambung bacaannya dan aku kembali menonton. Belum pun lama duduk, Ina mengubah kedudukannya. Dia rebahan tengkurap sambil menyangga tubuhnya dengan siku tetapi tidak lama. Mungkin dia tidak begitu nyaman.

“Ina pinjam bantal boleh gak? Ina gak enak dengan lantai semen ni. Keras!”

“Ambil saja sendiri di kamar itu.”

Ina segera bangun untuk mengambil bantal. Kemudian dia kembali dan merebahkan diri lagi di sebelah kananku. Aku melirik ke arahnya. Aku memperhatikan bagian belakang tubuhnya dari kepala sehingga ke bokongnya. Aku pastikan Ina tidak memakai bra kerana aku tidak dapat melihat cetakan bra nya di balik bajunya itu. Hingga membayang bentuk puting buah dadanya kelihatan di dadanya

Semakin lama aku melihat pemandangan itu, semakin bernafsu pula aku. Aku merasa sukar untuk tetap menyimak acara di TV. Pikiranku sudah mulai melayang jauh. Aku mulai membayangkan suatu kenikmatan.

Lama aku memikirkan bagaimana caranya aku dapat “menawan” wanita di sebelahku itu dan membawanya ke dalam pelukan ku. Aku memutuskan untuk mencoba apa saja cara yang aku bisa pikirkan sehingga wanita itu dengan rela menyerahkan dirinya kepadaku. Jika berhasil, malam itu pastinya akan dipenuhi dengan kenikmatan yang tiada taranya.

Aku sudah nekad. Aku harus melakukan sesuatu. Apa yang terjadi, terjadilah. Aku melirik kearah Ina lagi sambil mengubah cara duduk ku bersila.

“Heyy” aku menyenggol bahu kiri Ina dengan lenganku. Aku menunduk lalu mendekatkan wajah ku ke sisi kiri kepalanya.

“Khusyu banget bacanya… sampai gak peduli dengan saya!” Aku coba menarik perhatiannya tetapi Ina tidak berkata apa-apa. Ina hanya tersenyum sedikit. Tanpa disengaja, tangan kanan ku merangkul bahu kanan Ina.

“Jangan terlalu serius, Nanti nafsu naik, Kalau naik nanti, Mbak juga yang susah..” usik ku separuh berbisik.

Perhatian Ina pada buku mungkin sudah sedikit beralih sehabis menerima gangguan ku. Aku terus menundukkan kepala sambil coba memandang terus wajahnya. Tiba-tiba senyumannya melebar. Ina mengangkat buku yang dipegangnya lalu menutup mukanya. Agaknya dia merasa malu. Aku tersenyum juga ketika melihat gelagatnya itu.

“Eee, macem-macem banget sih kamu! Ina lagi baca nih!” Suaranya dibuat-buat galak tetapi malah kedengaran begitu manja sekali.

“Mbak baca saja. Saya gak akan ganggu” Kataku sambil menepuk-nepuk belakang bahunya.

Aku tidak mengangkat tangan ku dari punggung Ina malah terus menepuk-nepuk lembut di situ. Aku melihat ke arah TV kembali. Pada saat yang sama, aku meneruskan aktivitas tangan ku. Sesekali aku menggosok-gosok dengan perlahan. Ina pun tidak coba menghalangi aku berbuat demikian. Walaupun aku memang ingin merasai kenikmatan tubuh Ina ketika itu, aku tidak mau tergesa-gesa. Aku tidak mau Ina merasa tidak senang atau ketakutan jika aku terlalu berani.

Untuk sesaat kami langsung tidak bersuara. Yang kedengaran hanyalah suara dari TV. Dalam momen itu Ina mengubah posisinya beberapa kali. Sebentar tengkurap, sebentar berbaring terlentang dan sebentar kemudian dia berbaring miring.

Aku tidak tahu pasti apakah dia merasa lelah atau malah dia sudah dikuasai nafsu akibat membaca cerita-cerita erotis itu. Melihat pergerakan-pergerakan yang dibuat oleh Ina itu, aku mengalihkan perhatian ku kembali kepadanya. Aku merangkul bahu kanan Ina lagi ketika dia telungkup di sebelah ku kembali.

“Mbak Ina, kenapa sih? Kayaknya ga nyaman? Sebentar-bentar baring, sebentar-bentar tiarap?”

“Capek”, Jawabnya pendek.

“Masa iya? Jangan-jangan udah kena pengaruh cerita tuh…” Aku coba mengusiknya lagi dengan harapan ia akan membuka ruang untuk aku “menawannya”.

Ina tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Aku merasa lega dan keyakinan ku mulai muncul. Kalau tepat caranya, pasti wanita itu akan dapat ku tawan. Aku memberanikan diri untuk merangkulnya sambil berbisik kepadanya.

“Sudah lah mbak. Jangan baca terus. Nanti basah tuh di bawahnya.”

“Memang udah basah, kali” Ina menjawabku.

Aku tidak menduga Ina akan berkata begitu tetapi hati ku melonjak kegembiraan. Ingin rasanya aku menerkam wanita itu ketika itu juga tetapi aku tetap tidak mau tergesa-gesa. Aku kembali meletakkan tangan ku pada punggung Ina.

“Mbak Ina, mbak gak pakai bra ya?” Entah kenapa aku keceplosan hingga pertanyaan itu keluar dari mulutku.

“Nggak..Ina memang biasa gak pakai bra kalau tidur malam.”

“Pantesan putingnya keliatan nonjol…”

“Lukman perhatiin puting Ina ya?”

“Iya… bentuknya kayaknya besar tuh.”

Ina mendongak ke arah ku saat mendengar kata-kataku. Aku terkaget tai berusaha rileks saja. Aku semakin yakin telah berhasil menarik perhatian Ina.

“Menurut Lukman puting Ina besar?”

“Mana saya tau… Belum pernah saya lihat. Saya cuma lihat bentuknya dibalik baju mbak aja.

Eh mbak gak bagus loh perempuan tengkurep kayak gitu.”

“Emang kenapa?”

“Kata orang, tengkurep begitu bisa bikin buah dada perempuan menggelayut dan kelihatan penyek apalagi yang berdada besar kayak mbak.”

“Ah, masa iya sih?”

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak pasti apa Ina termakan kata-kata ku atau tidak tetapi dia segera bangkit dari tengkurap. Kupikir dia hendak duduk tetapi dia ternyata memilih berbaring. Aku agak kecewa karena tidak berpeluang untuk merangkulnya lagi apabila dia berbaring begitu.

Kemudian dia bersuara, “Sesekali tengkurap gakkan bikin dada Ina terus jadi begitu.”

“Jangan marah, Saya cuma kasih tau apa yang saya dengar dari orang.”

“Ina gak marah… cuma bete.. Udah dibilang puting Ina besar. Habis itu dikatain dada Ina menggelayut.”

“Alaaa, jangan gitu dong mbak. Saya gak pandai ngerayu orang. Sorry..sorry..ok?” Ina memanyunkan bibirnya. Aku tahu dia cuma pura-pura kesal tetapi aku hadapi juga perangainya itu. Perempuan memang suka bila kita menunjukkan bahwa kita sanggup hadapi ulah mereka..

“Jangan bete lagi… ok? Sini… saya cium sedikit pipi nya…” kataku lalu menunduk mengecup lembut pipi kanan Ina. Dia tidak coba mengelak atau mencegah ku. Ia bagaikan lampu hijau untuk meneruskan apa yang aku ingin lakukan seterusnya.

Untuk menghangatkan suasana yang semakin mesra itu, aku coba bergurau dan mengusik Ina. Dia masih memegang buku yang dibacanya tetapi aku yakin dia tidak membacanya sepenuh perhatian. Mungkin dia sedang menanti apa yang akan aku lakukan seterusnya. Tangan kanan ku memang sedari tadi sudah berada di tepi perutnya setelah aku mencium pipinya.

“Mbak Ina, apa iya dada mbak Ina gak menggelayut?” aku bertanya sekadar bergurau. Ina tiba-tiba mencubit rusuk kanan ku. Aku segera menangkap tangannya dan terus ku genggam erat. Aku tidak mau melepaskannya dengan alasan aku tidak mau kena cubit lagi. Ina tidak memprotes.

“Eh, jawab dong mbak..”

“Enggak kok, kalo Ina lihat sih masih kenceng” jawabnya tanpa memandang ku.

“Biar gak ngegelayut digimanain sih mbak?”

“Ina pakai cream.”

“Cream apaan sih?”

“Ya gitu cream pengencang dan penguat otot-otot payudara.”

“Bukan cream untuk membesarkan payudara?”

“Ngapain mau dibesarkan lagi. Udah cukup besar juga!”

“Oh, ngefek gak produk nya?”

“Entah lah tapi kayaknya sih ada efeknya juga.”

Aku menjadi tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang cream itu. Sebelum itu aku pernah mendengar tentang cream seperti itu tetapi tidak pernah sekalipun aku melihat sendiri bentuknya maupun efek pemakaiannya.

“Mbak pakai cream itu tiap hari?”

“Iya… rugi dong kalau gak dipakai, Udah harganya mahal.”

“Mbak make creamnya kapan?”

“Waktu malam sebelum tidur. Olesin dan urut aja.”

“Mbak udah make creamnya tadi?”

“Belum sih”

“Mbak bawa cream itu?”

“Bawa, di tas tuh. Lukman mau ngapain dengan benda tu? Mau make juga? Hehehe”

“Hisshhh! Saya mau lihat doang kok mbak”

Tanpa disuruh, Ina terus bangun dan pergi mengambil cream itu. Kemudian dia kembali dan memberikan cream itu kepada ku. Ina berbaring kembali. Aku memperhatikan wadah cream itu. Sempat juga aku mencium aroma cream itu.

“Harum” kata ku.”Makenya gimana nih mbak?” tanya ku kemudian.

“Oles dan urut. Kan tadi Ina dah bilang?”

“Iya, tapi mau olesin dan urutnya dimana?”

Ina tertawa terkikik. Aku menjadi gemas saat melihatnya ketawa begitu. Tubuhnya bergoncang saat dia tertawa. Buah dadanya yang montok itu pun turut bergoncang.

“Olesin pangkal payudara… dan urut lebih kurang 10 menit hingga cream itu menyerap ke dalam kulit dan kering.” Jelasnya.

“Hmm, tadi mbak bilang mbak Ina belum ngolesin cream ini kan?”

“Iya, emang kenapa?”

“Saya oles dan urut creamnya untuk mbak boleh gak?”

“Hisshhh, gak mau ah!”

“Emang kenapa?”

“Ina malu, kalau kamu lihat tubuh Ina!”

“Laah, kenapa mesti malu? Cuma saya sendiri yang lihat kok. Lagian, bukannya saya udah lihat tadi sore. Masa mbak lupa yang di kios?”

“Ganjen!” kata Ina sambil coba mencubit aku lagi tetapi aku masih sempat menangkap tangannya.

“Mbak Ina baring aja, biar saya yang olesin yah?”

“Ina malu, lampunya nyala jadi terang gini”

“Gak apa, nanti saya matiin deh. Kita pakai cahaya dari TV doang, ok?”

Aku segera bangun untuk mematikan lampu. Hati ku melonjak-lonjak kegembiraan. Peluang sudah terbuka luas untuk ku. Ruangan itu serta merta menjadi gelap. Hanya cahaya dari TV saja yang menerangi ruangan itu membuat suasana menjadi romantis.

Aku mendekati Ina kembali. Tanpa menunggu aku duduk di sebelah tubuh Ina. Sebelah kaki ku berlipat di bawah pantatku. Sebelah lagi aku gunakan untuk menyangga tubuhku agar lebih mudah aku mengurut nanti.

Dengan perasaan agak berdebar-debar aku mendekati tubuh Ina dan menyentuh perutnya. Sebelah kakinya selonjor dan yang sebelah lagi dibengkokkan. Perlahan-lahan aku mendorong baju yang dipakainya ke atas.

Aku sempat melihat wajah Ina. Dia hanya perhatikan apa yang aku lakukan. Aku menarik bajunya ke atas sehingga buah dadanya jelas kelihatan. Sungguh aku terpesona melihat pemandangan di hadapan ku itu.

Buah dada Ina memang seperti bayangan ku. Aku menaksir ukurannya mungkin 34d atau 36d. Putingnya sebesar kuku ibu jari tanganku. Bentuk yang besar itu membuatkan buah dadanya jatuh ke sisi tubuhnya tetapi tetap menonjol keatas.

Aku mengambil cream payudara tadi dan kemudian bertanya kepada Ina tentang cara-cara mengurut yang betul. Setelah dijelaskan oleh Ina, aku menyuruh Ina memegang bajunya sementara aku mengoleskan cream itu di sekeliling pangkal kedua buah dadanya. Perlahan-lahan tetapi yakin, aku mulai mengurutkan.

Aku memegang pangkal buah dada kanan Ina dengan kedua telapak tangan ku dan mulai mengurut ke atas tetapi aku tidak menyentuh putingnya. Aku melakukannya beberapa kali sebelum aku mengurut secara memutar ke arah luar tubuhnya. Selesai dengan buah dada kanan, aku beralih ke buah dada kirinya. Aku melakukan urutan yang sama seperti tadi.

Main Dengan Penjaga Toko Yang Bohay

Setelah beberapa menit, aku mengoleskan cream lagi. Aku mau mengulangi lagi urutan ku karena aku memang tidak berniat untuk berhenti. Aku sudah mulai melihat tanda-tanda yang menunjukkan Ina sedang menikmati urutan ku tadi.

Nafasnya tertahan-tahan setiap kali aku melakukan urutan. Dadanya terangkat-angkat mengikut irama urutan ku. Kakinya pun bergerak-gerak. Apabila aku melirik ke arah wajahnya, aku melihat matanya terpejam rapat. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya. Semua itu menunjukkan nafsu sudah menguasainya.

Aku tidak mau berlama-lama lagi. Urutan ku pada payudara Ina dimulai sekali lagi. Kali ini, agak lebih kuat agar Ina lebih merasakan urutan itu. Setiap kali aku mengurut ke atas, aku sengaja menyentuh putingnya sehingga ia mulai kelihatan mengeras! Tidak cukup dengan itu, aku turut memencet-mencet lembut putingnya.

Tubuh Ina terangkat-angkat lagi. Bergantian buah dada itu diurut tangan ku dengan penuh semangat. Aku pastikan Ina sudah dibuai oleh kenikmatan yang dialaminya. Nafasnya sudah tidak menentu. Sesekali dia menggenggam tangan ku.

“Enak gak saya urut?” bisik ku di telinganya.

“Enak.. Enak, Man… Enak, pak guru…” suaranya seperti sulit untuk dikeluarkan.

Aku tersenyum. Memang jelas Ina sudah sulit untuk menahan nafsunya. Aku sendiri juga begitu. Nafsuku memang sudah terasa di ubun-ubun kepala. Urutan ku sudah tidak beraturan lagi. Aku tidak hanya mengurut malah meremas-remas buah dada Ina semauku.

“Mbak Ina, buka bajunya..” aku berbisik di telinganya sambil tangan ku coba untuk menarik bajunya ke atas.

Ina tidak menjawab apa-apa. Matanya masih terpejam rapat tetapi aku yakin dia mendengar kata-kataku. Ina mengangkat sedikit tubuhnya untuk memberi ruang untuk aku melepaskan bajunya dari arah kepalanya. Bajunya aku lepaskan. Kini tubuh montok itu sudah separuh telanjang.

Hanya bagian bawah tubuhnya yang masih bertutup. Aku menatap tubuh montok itu dengan penuh nafsu sambil tangan ku merayap dari perutnya sehingga ke dadanya. Tiba di dadanya, aku menjamah buah dadanya dan meremas lembut. Kedua tangan Ina memegang tangan ku, mengikuti setiap pergerakannya.

Aku sudah dikuasai nafsu. Aku menunduk, memberanikan diri untuk mengecup pangkal buah dada Ina. Ina segera menangkap kepala ku. Aku kira Ina mau menahan atau mendorong kepala ku tetapi tidak. Sebaliknya dia menarik kepala ku membuat mulutku terus menempel pada buah dadanya.

Aku mengecup buah dadanya lagi berkali-kali. Aku sengaja tidak mengecup atau menyentuh putingnya, hanya mengecup dan menjilat lembut di sekitar pangkal kedua buah dadanya saja. Sekali-kali aku menghisap gunung kembar miliknya.

Tubuh Ina terangkat-angkat seolah-olah menginginkan aku menyentuh puting buah dadanya. Suara desahan dan nafas Ina sudah sedari tadi memenuhi ruangan itu bersamaan dengan bunyi nafasku sendiri dan bunyi hujan yang deras di luar rumah.

Aku meneruskan kegiatanku. Tangan ku merayap ke sana sini di atas tubuh Ina. Beberapa kali juga aku terpaksa mengubah cara duduk ku agar lebih nyaman.

Bukan hanya buah dadanya yang menerima serangan ku tetapi seluruh bagian tubuhnya yang sudah terbuka menjadi sasaran kecupan, jilatan dan hisapan ku. Tubuh Ina meliuk-liuk saat menerima serangan ku yang bertubi-tubi.

“Hisap, Man, hisap puting Ina, Oouuhhh..” Ina merintih, meminta aku melakukan seperti yang diinginkannya.

Aku sengaja tidak memperdulikannya. Aku masih bersemangat untuk menyerang bagian lain pada tubuhnya. Tangan ku yang pada mulanya hanya asyik bermain dengan buah dada Ina mula merayap ke bawah, menuju ke paha montok Ina.

Aku merasa kurang nyaman melakukan aktivitas cabul ku di tubuh Ina dalam keadaan menunduk dengan separuh duduk begitu. Belum sempat aku mengatur kedudukan tubuh ku, Ina menarik kepala ku dengan kedua tangannya sehingga aku terpaksa merebahkan tubuh ku di sisinya. Dia menarik muka ku ke dadanya.

“Cepat… Man. Hisap puting Ina..please…”

Aku menuruti kehendaknya. Putingnya yang keras itu mulai ku jilat sekelilingnya lalu aku hisap-hisap lembut. Aku memegang pangkal buah dada Ina dan menekannya sehingga buah dadanya tertonjol ke atas.

Kemudian aku melahap puting Ina hingga ke pangkalnya dan seterusnya menghisap dengan kuat sebelum aku melepaskannya kembali. Aku mengulangi perkara itu beberapa kali sehingga Ina mendesah-desah dan mengerang. Suara erangannya membuat aku semakin bernafsu.

Nafas ku agak berat dan sulit karena Ina yang merangkul tengkuk ku dengan agak kuat. Untuk sementara aku berhenti menyerang buah dadanya dan mengalihkan perhatian ku ke bagian bawah tubuh Ina. Kami sudah sama-sama terbaring.

Aku meletakkan paha ku di antara selangkangan Ina sementara tangan ku menarik paha kanannya untuk menjepit pahaku. Setelah merasa agak nyaman dengan posisi badan kami begitu, aku kembali menyerang dada Ina. Sambil sengaja menggosok-gosok pahaku di atas tonjolan yang berada di celah selangkangan Ina membuat Ina semakin kuat menjepit paha ku.

Aku mulai merasa sedikit bosan setelah cukup lama bermain-main dengan buah dada Ina. Aku beralih arah. Lehernya yang terpampang kini menjadi sasaran ku. Mulutku terus saja mendarat di atas kulit lehernya yang licin. Aku mencium aroma harum di situ. Aku mengecup lembut diselangi dengan jilatan-jilatan yang bernafsu.

Dari leher, aku beralih pula ke atas. Bibir Ina yang separuh terbuka itu dipaksa menerima kehadiran bibir ku. Bibir kami bertaut erat. Lidah kami saling membelit. Kulumannya menjadi hangat, saling berlarutan untuk sekian waktu.. Bibir kami terlepas hanya untuk mengambil nafas dan kembali bertaut lagi.

Tangan ku tidak berhenti-henti bermain di dada Ina, di buah dadanya dan putingnya. Paha ku menekan-nekan celah selangkangannya. Mulut kami masih saling berkuluman. Keinginan ku hanya satu saja saat itu yaitu membawa Ina mencapai puncak berahinya. Tetapi aku harus melakukan perananku dengan sebaik-baiknya.

“Mbak Ina, kita masuk kamar? Gak nyaman disini” aku berbisik di telinga Ina.

Ina tidak menjawab tetapi turut bangkit dengan ku. Aku membantunya berdiri dan memimpinnya masuk ke dalam kamar tidur. Sempat juga tangan ku meremas-remas buah dada Ina ketika kami berjalan.

Di dalam kamar tidur, aku merebahkan Ina di atas kasur yang hangat. Bibir kami bertautan kembali dan kami berkuluman. Pada awalnya agak lembut tetapi semakin lama bertaut, kuluman menjadi semakin hangat.

Tangan ku mulai merayap ke celah selangkangan Ina. Seluruh kawasan itu dijamah buas oleh tangan ku. Dari luar celana yang dipakai oleh Ina, aku mulai menggosok-gosok bagian atas vaginanya.

Ina semakin sering mengerang bila aku menyertakan gosokan tanganku dengan kuluman pada puting buah dadanya. Tubuhnya terangkat-angkat setiap kali aku menghisap putingnya dengan agak kuat.

Dorongan nafsu yang kuat membuat aku semakin tidak sabar. Aku ciba untuk menanggalkan celana pendek yang dipakai oleh Ina. Dia membantu dengan mengangkat pantatnya. Aku meloloskan celana pendek itu berserta dengan celana dalam kecilnya.

Kini, terbukalah segalanya. Dalam samar cahaya dari luar kamar tidur itu, aku dapat melihat bentuk segitiga di antara atas pahanya. Aku meraba daerah itu. Bulu-bulunya pendek saja dan halus. Aku coba menyusupkan jari ku ke celah vagina Ina. Nampaknya tempat itu sudah basah dan licin. Dan membuat aku semakin bernafsu.

Perlahan-lahan aku mengambil posisi di celah selangkangan Ina. Aku mendekatkan muka ku di celah kelaminnya. Ina seperti tahu apa yang aku mau lakukan. Dia memegang kepala ku lalu menariknya ke bawah, ke arah vaginanya. Aku menjulurkan lidahku menyentuh klitorisnya. Dengan lembut, aku mulai mengusik tonjolan daging kecil itu.

Ina kegelian. Tubuhnya meliuk-liuk menahan geli dalam kenikmatan. Suara desahan dan erangan kecilnya semakin jelas kedengaran. Aku terus mengerjakan bagian itu. Tidak cukup dengan itu, lidahku menyapu seluruh vagina Ina dari luar hingga ke bagian dalamnya. Semuanya disertai dengan ramasan kuat pada buah dadanya. Ina juga tidak henti-hentinya menjambak rambut ku. Sebentar-bentar di tarik, sebentar-bentar di lepaskannya.

Setelah merasakan keadaan Ina sudah cukup siap, aku pun mulai melepaskan semua pakaian yang masih ada di tubuhku. Ketika aku berhenti sesaat untuk melepaskan semua pakaian ku, Ina tiba-tiba bangun lalu berlutut di sebelah aku.

Dia membantu ku untuk membuka pakaian ku. Baru saja celana dalam ku dilepaskan, Ina terus menggapai batang penis ku yang sejak dari tadi sudah menegang keras. Ina mengusap-usap batang pusaka ku dengan lembut sambil kami berkuluman lidah. Aku pun ikut menyisipkan jari pada lubang vaginanya.

Aku merebahkan tubuhku ke belakang. Tanpa disuruh atau diminta, Ina terus menundukan kepalanya dan menjilati batang kelaminku. Setelah itu, dia pun mengulumnya. Nikmatnya dikulum dan dihisap begitu amat sulit untuk digambarkan. Bukan hanya aku tetapi Ina juga benar-benar menikmati apa yang dilakukannya.

Dia mengulum dan menghisap sepuasnya.Karena merasa amat ngilu, aku terpaksa menghentikan Ina setelah membiarkannya beberapa waktu. Aku kemudian menarik perlahan tubuhnya ke atas tubuhku. Sekali lagi, seperti mengetahui keinginan ku, Ina menaiki tubuhku.

Ina mengangkangi aku yang terlentang sementara aku menyiapkan batang kontolku. Ina memegang batang kontolku lalu menempelkan kepala kontol (palkon)ku di pintu masuk memeknya. Dia terlebih dulu menggosok-gosok helm penis ku di situ sebelum dia mulai menurunkan tubuhnya.

Aku merasakan kehangatan pada kepala penisku sesaat setelah mulai memasuki liang vagina Ina yang sudah licin. Perlahan-lahan namun begitu pasti, Ina menduduki batang penisku hingga semuanya habis terbenam. Ina mengerang di saat dia sudah habis menduduki batang zakarku, menelannya hingga bagian pangkal. Dia diam sebentar. Aku pun mulai meremas-remas dan mencubiti gemas puting buah dada Ina.

Selang beberapa saat, Ina mulai menaik-turunkan tubuhnya dengan agak perlahan. Aku tidak mau tinggal diam. Aku coba menekankan batang kontol ku ke atas. Sesekali aku hanya bertahan. Kemudian aku coba bangun dan menopangkan tubuh ku dengan siku kiri ku. Tangan kanan ku masih asyik dengan buah dada Ina.

Mulut ku segera menyambar putingnya lalu ku hisap dengan kuat. Tindakan liarku agak membatasi pergerakan Ina. Dia mengubah pergerakannya yang semula naik turun menjadi bergerak maju mundur serta memutar membetoti penisku membuat kepala kontolku terasa seperti di belai dan ditarik-tarik. Amat ngilu sekali rasanya tetapi nikmat.

Adegan itu berlangsung untuk beberapa saat sebelum tubuh Ina memberikan isyarat bahwa ia akan mencapai orgasmenya. Aku dapat merasakan kontraksi otot-otot vaginanya yang semakin kuat berkedut. Begitu juga dengan otot-otot tubuh Ina yang mulai terasa menegang. Ina semakin kuat merangkul ku.

Tidak lama setelah itu, dia menekan vaginanya ke bawah dengan kuat disertai dengan rangkulan yang kuat juga. Kedua pahanya juga mengepit badanku yang berada dibawahnya. Ina sudah tiba di puncak berahinya. Aku membiarkan dia untuk menikmati orgasmenya hingga orgasmenya reda.

Perlahan-lahan, aku merebahkan tubuhnya ke atas kasur lalu aku menindih tubuhnya. Sekali lagi aku mengambil posisi di antara celah kangkangnya. Aku membuka selangkangannya lalu membenamkan muka ku di belahan memeknya. Mulut dan lidah ku terus menyerang vagina Ina. Ina mengerang keenakan.

Namun, aku tidak mau berlama-lama karena aku ingin segera meneruskan permainan hangat itu. Dengan pasti, aku menggiring batang kontolku ke memek Ina yang sudah cukup basah dan licin. Tanpa menemui hambatan, batang kontol ku terus meluncur masuk ke dalam liang memek Ina.

Ina mendesah. Aku mulai bergerak mendorong-tarik penisku dalam jepitan vaginanya. Perlahan pada awalnya tetapi semakin lama semakin cepat. Setiap hentakan aku lakukan dengan tempo terjaga sehingga Ina tidak henti-henti melenguh dan mendesah. Sesekali dia mengerang kecil

Aku mengubah posisiku dari semula berlutut menjadi bertelengkup di atas tubuh Ina. Tubuhnya yang cukup montok itu segera dipeluk lenganku dengan erat sekali. Tidak cukup dengan itu, jilatan, hisapan dan ciuman ku turut singgah di leher dan mulut Ina. Bersamaan dengan genjotan penisku pada vagina Ina dengan penuh nafsu.

Selang beberapa menit, aku sudah merasakan akan orgasme ku. Aku mempercepat gerakan pompaan ku. Aku sempat berbisik di telinga Ina. Mendengar bisikan ku, Ina seperti mengerti apa yang harus dilakukannya.

Dia semakin kencang memeluk dan buas mengulum lidahku. Kedua kakinya diangkat dan dilingkarkan di atas pantatku seolah menahan penisku mundur dari jepitan vaginanya. Nampaknya dia juga menginginkan lagi klimaksnya datang. Maka, kami sama-sama berpacu berahi dengan hebat.

Dengan satu gerakan yang kuat, aku membenamkan batang kontolku jauh ke dalam liang memek Ina. Bersamaan dengan itu juga, ujung tongkat kemaluanku memuntahkan isinya yang kental. Ina merespon dengan memelukku erat sekali sambil kakinya mengunci tubuhku. Tubuhnya mengejang hebat menandakan bahwa dia juga telah mencapai orgasmenya.

Aku menunggu hingga batang kelelakianku selesai memuntahkan semua isinya sebelum aku merebahkan tubuh ku di sebelah tubuh Ina. Dia tersenyum memandangku. Jauh di dalam hatiku, aku merasa amat puas sekali. Aku yakin Ina juga begitu.

Setelah ini aku yakin akan dapat merasakan kenikmatan dari Kak ani, majikan ina.

Demikian artikel tentang cerita Kusikat Miring Miring Lobang Sempit Penjaga Toko Bohay Liar Bak Pelacur.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Pengalaman Ku Nikmatin Badan Hot Suster Binal Liar Kayak Lonte Di RS.

Pengalaman Ku Nikmatin Badan Hot Suster Binal Liar Kayak Lonte Di RS.Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dSintawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan asmara, khususnya “bercinta” saya sama sekali belum memiliki pengalaman berarti.

Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.

Sebut saja nama wanita itu Sinta, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Sinta adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala penyakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari.

Selama itu juga Sinta setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.

Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidur pun rasanya sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.

Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun, saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.

Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Sinta yang kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke kamarku.

“Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.

Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan menggiurkan. “Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari ini mbak?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.

Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itu pun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.

“Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum”, jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, saya merasa darahku seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Sinta mau memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku.

Tanpa sadar saya terbengong sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.

“Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi”.

Mbak Sinta ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.

“Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok”, elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.

“Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya”, lanjut Mbak Sinta lagi seolah memancing gaSintahku.

“Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusan” jawabku serius, saya tidak mau terlihat “nakal” dihadapan suster cantik ini. Lagi pula saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.

Suster Sinta masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku. “Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket”, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.

Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.

Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Sinta kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.

Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat. Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup.

Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Sinta saat ini. fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.

Beberapa saat kemudian mbak Sinta menyuruhku membalikkan badan.

Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang ereksi.

“Iya Mbak..”, jawabku sambil berusaha menenangkan diri, saya pun membalikkan tubuhku.

Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.

Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.

“Ahh, geli dan enak banget”, pikirku.

“Wah, kok jadi keras ya? he he he”, saya kaget mendengar ucapannya ini.

“Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?”

Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku.

Saya cuma tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Sinta semakin berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.

“Ahh, geli Mbak. Jangan digituin”, kataku menahan malu.

“Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini”, lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.

Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin terus di”kerjain” oleh mbak Sinta, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.

“Dik Iwan sudah punya pacar?”, tanya mbak Sinta kepadaku.

“Belum Mbak”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan berbicara.

“Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi.

“Belum mbak” jawabku lagi.

“hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih”, lanjutnya centil.

Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya “main” apaan yang saya pikirkan barusan.

Pasti dia berpikir saya benar-benar “nakal” pikirku saat itu.

“Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya?

Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.

Belum sempat saya menjawab, mbak Sinta sudah memulai aksinya.

Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.

Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.

“Ahh, geli Mbak”m rintihku keenakan.

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya.

Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya

dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.

Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.

“Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa gawat”, katanya.

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.

Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telanjang bulat.

Kemudian dia sendiri pun melepas topi susternya, digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang berwarna hitam.

Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun mbak Sinta benar-benar pintar membimbingku.

Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali menggigitnya.

“Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih”, desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.

Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Sinta memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok menghadap selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.

“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..”, desahku menahan agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat.

Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya dis*****kannya sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.

Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.

Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.

“Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget”, desahnya keras.

Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga.

“Mbak Sinta, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget”, pintaku karena memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film BF yang biasa kutonton.

“Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum. Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin oleh caSintan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya.

Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.

“Ahh.. ahh..”, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu.

Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.

Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera “keluar”, Mbak Sinta menghisap semakin kencang, disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak sekali.

“AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Sinta.

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya.

Sekarang dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku.

Dia mebuka lebar pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Sinta.

Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas “panas” yang dilakukan mbak Sinta.

Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.

Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Sinta tampak semakin terangsang juga. Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat.

Tangan satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.

“Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..”, canda mbak Sinta sambil mendekati diriku.

Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Sinta, kini kembali basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan jari-jari tanganku, tapi Mbak Sinta menepisnya.

“Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe”, agak kecewa saya mendengar tolakannya ini.

Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.

Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih asyik “bermain” di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah oleh peluh keringat.

Mbak Sinta pun tampak letih, keringat menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Sinta sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan memeknya sendiri.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.

Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar”, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya.

“Sini mbak, saya mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena

teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu.

Mbak Sinta pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.

“Nih.. cepet hisap Wan, hisap..”, desahnya seolah memelas.

Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini.

Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya. Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya.

“Ahh.. ahh..”, desah mbak Sinta disaat terakhir berbarengan dengan caSintan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya caSintan yang keluar dan tercium bau amis itu.

Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian saya pun orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas.

Kami sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.

Mbak Sinta, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Sinta selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya yang sepi.

Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.

Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Sinta masih kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks.

Konon, katanya dia sering merasa “horny” menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Sinta. Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Sinta, benar-benar fantastis menurutku…

Demikian artikel tentang cerita Pengalaman Ku Nikmatin Badan Hot Suster Binal Liar Kayak Lonte Di RS.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Punya Majikan Baik Hati Memberikan Memeknya Sendiri Untuk Ku Genjot Keras2.

Punya Majikan Baik Hati Memberikan Memeknya Sendiri Untuk Ku Genjot Keras2.Aku (Anis) 39 tahun. Satu Bulan terakhir ini, tiba-tiba aku teringat ketika aku baru saja selesai menamatkan pendidikanku di SMA tahun 1984 pada salah satu ibu kota kecamatanku. Sebut saja Kecamatan KH pada salah satu Kabupaten di Sulsel.

Ketika itu aku menghadapi permasalahan yang hampir sama dengan permasalahanku saat ini yakni bentrok dengan keluarga. Hanya saja ketika itu, aku bentrok dengan orang tuaku, sedang saat ini aku bentrok dengan istri.

Ceritanya, hanya persoalan sepele yaitu orang tuaku menghendaki agar aku tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tapi aku tetap ngotot untuk mendaftar pada salah satu perguruan tinggi di Makassar.

Karena tidak didukung orang tua, aku terpaksa meminjam uang dari tetangga sebesar Rp.10.000, buat ongkos mobil ke Makassar dan sisanya buat jajan. Karena aku tidak punya kenalan di Kota Makassar, maka aku terpaksa bermalam di terminal bus sambil mencari kenalan agar aku bisa mendapatkan kerja secepatnya. Kerja apa saja asal halal.

Setelah dua hari aku bergaul dengan orang-orang terminal, akhirnya ketemu dengan seorang tukang batu yang waktu itu sedang merenovasi tembok dan lantai tunggu para penumpang. Aku menawarkan diri menjadi buruh pada tukang tersebut, dan setelah kuceritakan masalahku yang sebenarnya, akhirnya ia menerima tawaranku itu.

Aku ditawarkan gaji Rp.2.000/hari tanpa ditanggung makan dan penginapan. Aku langsung setuju saja, sebab jika tidak, aku akan mati kelaparan mengingat uang jajanku telah habis. Namun aku minta agar gajiku dapat kuterima setiap hari dan tukang itupun setuju.

Setelah lima hari aku bekerja dengan tekun dan bermalam bersama dengan sopir-sopir bus malam di terminal, aku dikenalkan dengan seorang pengusaha beras yang kaya oleh salah seorang sopir bus kenalan saya di terminal itu.

Malam itu aku diantar ke salah satu rumah besar yang beralamat di Jl. SA. Aku gemetaran dan nampak kampungan ketika memasuki rumah yang serba mewah itu.

Kalau tidak salah, ada 7 buah mobil truk dan dua mobil sedang serta 3 mobil kijang pick up di parkir di depannya. Seorang pembantu laki-laki setengah baya mempersilakanku masuk duduk di ruang tamu.

Tidak lama kemudian seorang gadis entah pembantu atau keluarga si pengusaha itu sedang membawa 3 cangkir kopi beserta kue kering. Kue seperti itu rasanya seringkali saya makan di kampungku.

Setelah kami duduk kurang lebih 2 menit di ruang tamu, tiba-tiba:

“Iyana eddi muaseng elo makkulliah na de’ gaga ongkosona? (Ini orangnya yang kamu maksud mau kuliah tapi tidak punya biaya?)” tanya seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya dengan perawakan tinggi besar, perut gendut dengan warna kulit agak hitam. Ia gunakan bahasa Bugis mirip bahasa yang sehari-hari kugunakan di kampungku.

“Iye’ puang. Iyana eddi utihirakki (Yah betul. Inilah orangnya yang saya antar)” jawab si sopir yang mengantarku itu.

Selama di rumah itu, kami bercakap dengan memakai bahasa daerah Bugis. Namun, untuk memudahkan dan memperjelas kisahku ini, sebaiknya kugunakan bahasa Indonesia saja tanpa mengurangi makna percakapan kami, apalagi bahasa percakapan kami adalah campuran bahasa Indonesia dan Bugis.

“Oh yah, masuk saja dulu makan nak, siapa tahu temanmu itu belum makan malam” katanya pada si sopir itu sambil mempersilakan kami masuk ke ruang dapur.

“Ayo Nis, kita sama-sama makan dulu baru ngobrol lagi” ajakan si sopir itu seolah ia sudah terbiasa di rumah itu.

“Yah.. Terima kasih Pak. Rasanya aku masih kenyang” kataku pura-pura kenyang meskipun sebenarnya aku sangat lapar karena belum makan malam.

“Ayolah.. Masuklah.. Jangan malu-malu. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Biar sedikit saja di makan” kata sopir bersama dengan si pemilik rumah itu sambil ia berdiri menuntunku masuk ke ruang makan. Ternyata di atas meja telah tersedia makanan lengkap seolah meja itu tidak pernah kosong dari makanan.

Setelah kami duduk di depan meja makan, aku menoleh kiri kanan dalam ruangan itu dan sempat kulihat 3 orang perempuan di rumah itu. Seorang di antaranya sedang cuci piring. Ia sudah cukup tua, yang jika ditaksir usianya sekitar 50 tahun ke atas. Sedang yang satunya lagi sedang berbaring di atas salah satu tempat tidur sambil membaca koran.

Bila ditaksir usianya antara 30 sampai 40 tahun. Namun seorang wanita lagi sedang asyik nonton TV sambil bersandar pada rosban tempat wanita berbaring sambil baca koran tadi. Ia nampak masih muda. Jika ditaksir usianya sekitar 17 sampai 25 tahun. Nampaknya ia masih gadis.

Selama kami menyantap makanan di atas meja itu, kami tidak pernah bicara sama sekali. Namun aku merasa diperhatikan sejak tadi oleh wanita setenga baya yang sedang baca koran itu. Ia sesekali mengintip aku sambil memegang korannya. Lebih aneh lagi, setiap kami beradu pandangan, wanita itu melempar senyum manis.

Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya, tapi aku tetap membalas dengan senyuman tanpa diperhatikan oleh si sopir teman makanku itu. Kalau bukan karena si sopir itu berhenti duluan makan, aku tidak bakal berhenti makan dan aku semakin betah duduk berlama-lama di kursi makan itu berkat lemparan senyum si wanita setengah baya itu.

Setelah kami duduk kembali bersama dengan si sopir itu di ruang tamu, laki-laki berperawakan besar tadi kembali duduk di depanku dan berkata, “Kamu dari daerah mana dan dimana orang tuamu nak?” tanya laki-laki itu.

“Dari Bone Pak. Orang tuaku tinggal di kampung” jawabku.

“Kamu tinggal di Kota Bone atau desanya?” tanyanya lagi serius.

“Di kampung jauh dari kota Pak” jawabku lagi.

“Saya sudah dengar permasalahanmu dari sopir ini. Kalau kamu mau tinggal sama kami, aku siap membiayai kuliahmu jika kamu lulus nanti”

“Terima kasih banyak Pak atas budi baik bapak. Aku bersyukur sekali bisa bertemu dengan bapak” kataku dengan penuh kesopanan.

“Kebetulan sekali kami juga asli Bugis tapi Bugis Sinjai. Bahkan istri pertamaku tinggal di Kota Sinjai” lanjutnya terus terang.

“Yah kalau begitu, aku sangat beruntung pergi ke Makassar ini,” kataku.

Setelah kurang lebih 3 jam kami ngobrol, laki-laki itu menyuruh kami masuk ke salah satu kamar depan untuk istirahat. Tapi si Sopir temanku itu malah minta pamit dengan alasan pagi-pagi mau cari penumpang.

Aku mengerti dan laki-laki tadi yang belakangan kuketahui kalau ia adalah majikanku dan kepala rumah tangga dalam keluarga itu, mengizinkan si sopir tadi pulang ke terminal.

Sebelum majikanku itu berangkat untuk mengurus usahanya pada esok harinya, sambil menyantap hidangan pagi bersama istrinya yang kemarin kulihat baca koran dan anak satu-satunya di rumah itu yang kemarin nonton TV di ruang makan, ia memperkenalkan seluruh anggota keluarga dan pembantunya di rumah itu, termasuk sopirnya.

Setelah itu ia tunjukkan kamar tidurku dan jelaskan kerjaku sehari-hari di rumah itu. Aku diminta menjaga rumah dan membantu istri keduanya ketika ia sedang pergi ke luar kota mengurus perusahaannya.

Aku senang sekali mendengar pekerjaan yang dibebankan padaku, apalagi membantu istrinya yang kuyakini cukup ramah dan bijaksana.

Sejak hari pertama aku sudah cukup akrab dengan anggota keluarga di rumah itu dan aku mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah itu, termasuk mencuci, memasak dan menyapu sebagaimana layaknya keluarga atau pembantu umum di rumah itu. Sikap kami berjalan biasa-biasa saja tanpa ada keanehan hingga hari kedua belas.

Namun pada hari ketiga belas, pikiranku mulai terganggu ketika majikan laki-lakiku menyampaikan bahwa ia akan pergi ke Sinjai untuk membeli gabah dan beras untuk beberapa hari.

Aku yakin kalau pergaulanku dengan istri keduanya itu bisa tambah dekat, sebab akhir-akhir ini istrinya itu sering minta aku membersihkan tempat tidurnya dan berpakaian yang sedikit kurang sopan di depanku saat suaminya keluar rumah. Aku justru sangat gembira mendengarnya.

Setelah majikan laki-lakiku itu berangkat bersama sopir pribadinya sekitar pukul 9.00 pagi, aku kembali melaksanakan tugas hari-hariku seperti hari-hari sebelumnya yakni mencuci pakaian, piring dan menyapu tempat tidur majikanku. Pembantu rumah itu sedang menyapu di halaman belakang, sementara anak gadis satu-satunya itu sedang ke sekolah.

“Nis, bisa nggak kamu membantu aku seperti suamiku membantuku setiap malam?” tanya istri keduanya itu ketika aku sedang membersihkan tempat tidurnya. Aku sangat kaget dan bingung atas permintaannya itu. Aku tidak segera menjawab karena aku tidak tahu maksudnya dengan jelas.

“Membantu bagaimana yang ibu maksud?” tanyaku penuh ketakutan.

“Memijit kepala dan punggungku sebelum aku tidur, karena mataku tak bisa tertidur sebelum dipijit” katanya sambil sedikit senyum.

“Kalau soal pijit memijit, kurasa sangat mudah Bu’. Aku bisa, tapi.. Tapii aapa bapak tidak marah nanti kalau ia tahu Bu?” tanyaku terbata-bata kalau-kalau ia hanya memancingku.

“Nggak bakal marah kok. Kan kamu sudah jadi kepercayaannya. Lagi pula kamu diberi tugas menjaga aku selama ia belum pulang” katanya lagi.

Setelah kusetujui permintaannya, ia lalu keluar dan duduk baca koran di ruang tamu, sedang aku ke halaman depan untuk menyapu, lalu istirahat di kamar tidurku.

Setelah makan malam, aku bersama pembantu nonton TV di ruang makan, sedang ibu majikanku dan anak gadisnya nonton TV di kamarnya masing-masing.

Setelah siaran berita yang kami tonton habis, pembantu itu pergi tidur di kamarnya yang berdekatan dengan ruang dapur. Sedangkan anak gadis majikanku masih terlihat belajar di kamarnya dengan pintu kamar yang terbuka lebar.

Aku kembali teringat dengan perintah ibu majikanku tadi pagi. Aku bertanya-tanya dalam hati kapan perintah itu harus kulaksanakan, karena ibu tidak menjelaskan jam berapa dan di mana. Di ruang makan, atau ruang tamu ata di kamar tidurnya. Aku tunggu saja perintahnya lebih lanjut.

Setelah terdengar pintu kamar anak gadis majikanku itu tertutup dan terkunci rapat sebagai tanda ia sudah mau tidur, maka terdengar pula pintu kamar majikanku terbuka pertanda ia mau keluar dari kamarnya. Aku pura-pura tidak memperhatikannya. Namun tiba-tiba ibu majikanku itu duduk tidak jauh di sampingku sambil nonton TV bersamaku.

“Nis, sudah lupa yach permintaanku tadi pagi?” tanyanya setengah berbisik yang membuat aku kaget dan gemetar.

“Ti.. Tiidak Bu’. Mmaaf Bu’, aku hampir lupa” jawabku ketakutan.

“Kalau begitu ayolah. Tunggu apa lagi. Khan sudah larut malam” ajaknya.

“Ta.. Tapi di mana Bu’?” tanyaku singkat.

“Tentu di kamarku donk. Tidak mungkin di sini atau di kamarmu” jawabnya.

Aku sebenarnya sangat takut kalau ada orang lain yang mencurigai aku. Tapi karena ini adalah perintah majikan, lagi pula semua orang di rumah itu pada tidur, maka apapun resikonya aku harus jalankan.

Ibu majikanku berjalan dengan pelan seolah takut pula diketahui orang lain dan ia menuju kamar tidurnya, sementara aku ikut di belakangnya dengan pelan dan hati-hati pula. Setelah masuk kamar, ia lalu menutup dan mengunci pintunya dengan rapat.

Lalu ia membuka daster yang dipakainya dan terus telungkup tanpa memakai baju, melainkan hanya BH dan celana tipis yang agak pendek di badannya.

“Ayo Nis, silakan dipijit kepala dan leherku bagian belakang lalu punggungku” pintanya seolah tak sabar menunggu lagi.

Aku segera duduk di pinggir tempat tidurnya, lalu secara pelan dan hati-hati menyentuh kepalanya bagian belakang, terus turun ke leher belakangnya. Setelah aku mencoba menekan dan mengeraskan sedikit pijitanku, ibu majikanku itu tiba-tiba bersuara dengan nada sedikit agak tinggi.

“Wah.. Kenapa tidak pakai minyak gosok Nis. Ambil di kolom rosban?”

“Yah.. Yah.. Maaf Bu’. Aku tidak melihatnya tadi” kataku dengan suara agak tinggi pula.

“Jangan terlalu besar suaranya Nis, nanti kedengaran orang” kata ibu.

Setelah ibu majikanku melarangku bersuara agak keras, ia lalu berbisik.

“Punggungku juga Nis, biar aku bisa tidur nyenyak”.

Menyentuh kepala dan rambut serta lehernya saja, aku sudah cukup terangsang dibuatnya. Apalagi memijit kulit punggugnya yang setengah telanjang itu. Tapi karena itu adalah perintah majikan, maka aku segera laksanakan.

Ketika aku menurunkan kedua tanganku dan menggosok-gosok punggungnya, terasa hangat sekali. Kulit tubuhnya sangat putih dan halus. Sesekali aku meletakkan tanganku di bawah ketiaknya dan di pinggir BH warna abu-abu yang dikenakannya.

Kedua tanganku semakin lengket dan lambat gerakannya ketika ujung jariku sedikit menyelusup di balik pengikat BH dan pinggir atas celananya. Bahkan sempat tanganku tidak bergerak sejenak ketika konsentrasiku mulai mengarah ke balik pakaiannya itu.

“Nis, kenapa diam. Ada apa, sehingga kamu tidak menggerakkan tanganmu itu?” tanyanya sambil bergerak dan sedikit berbalik, sehingga aku sempat melihat sebagian daging empuk yang ada di balik BH-nya itu.

“Ti.. Tidak apa-apa Bu’. Hanya takut?” jawabku dengan nafas terputus.

“Takut sama siapa? Khan tidak ada orang lain di sini. Capek yaah?”

Setelah berkata begitu, ibu majikanku tiba-tiba berbalik arah sehingga ia telentang di depanku. Terpaksa kedua tanganku menyentuh tonjolan BH-nya tanpa sengaja. Ia hanya sedikit tersenyum dan berkata,

“Tidak keberatan khan jika kamu juga mengurut perutku, biar tubuhku lebih segar lagi. Ayolah Nis..” katanya sambil meraih kedua tanganku dan meletakkannya di atas pusarnya.

Jantungku terasa hampir copot ketika ibu majikanku itu mengangkat BH-nya sehingga bukit kembarnya nampak jelas menantang di bawah kedua batang hidungku. Aku tak mampu bersuara dan mengatur nafas, bahkan aku sedikit malu menatapnya, tapi,

“Jangan takut dan malu Nis. Ini adalah rezkimu, kesempatanmu dan kamu pasti menginginkannya” katanya ketika aku mulai agak menghindar.

“Bba.. Bagaimana ini Bu’. Kek.. Kenapa bisa bbeggini?” tanyaku penuh ketakutan dan nafasku sulit lagi kuatur.

Sebagai laki-laki normal yang hanya pernah mendengar dalam cerita, tentu aku tidak mampu menolak dan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kenyataan inilah yang harus kualami, apalagi ini adalah perintah majikan. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menjatuhkan kedua tanganku di atas bukit kembar itu.

Mula-mula hanya kusentuh, kuraba dan kuelus-elus saja, tapi lama kelamaan aku mencoba memberanikan diri untuk memegang dan menekan-nekannya. Ternyata nikmat juga rasanya menyentuh benda kenyal dan hangat, apalagi milik majikanku.

Ibu majikanku kelihatan juga menikmatinya, terlihat dari nafasnya yang mulai pula tidak teratur. Desiran mulutnya mulai kedengaran seolah tak mampu menyembunyikannya di depanku.

“Auhh.. Terus Nis, nikmat sayang. Tekan, ayo.. Teruuss.. Aakhh.. Isap Nis.. Jilat donk..” itulah erangan ibu majikanku sambil meraih kepalaku dan membawanya ke payudaranya yang kenyal, empuk dan tidak terlalu besar itu.

Aku tentu saja tidak menolaknya, bahkan sangat berkeinginan menikmati pengalaman pertama dalam hidupku ini. Aku segera menjilat-jilat putingnya, mengisap dan kadang sedikit menggigit sambil tetap memegangnya dengan kedua tanganku.

Aku tidak tahu kapan ia membuka celananya, tapi yang jelas ketika aku sedikit melepas putingnya dari mulutku dan mengangkat kepala, tiba-tiba kulihat seluruh tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di badannya.

“Ayo Nis, kamu tentu tahu apa yang harus kamu perbuat setelah aku bugil begini. Yah khan?” pintanya sambil meraih kedua tanganku dan membawanya ke selangkangannya.

Lagi-lagi aku tentu mengikuti kemauannya. Aku mengelus-elus bulu-bulu yang tumbuh agak tipis di atas kedua bibir lubang kemaluannya yang sedikit mulai basah itu.

Aku rasanya tak ingin memindahkan mulutku dari bukit kenyalnya itu, tapi karena ia menarik kepalaku turun ke selangkangannya di mana tanganku bermain-main itu, maka aku dengan senang hati menurutinya.

“Cium donk. Jilat sayang. Kamu nggak jijik khan?” tanyanya.

“Nggak Bu’” jawabku singkat, meskipun sebenarnya aku merasa sedikit jijik karena belum pernah melakukan hal seperti itu, tapi aku pernah dengar cerita dari temanku sewaktu di kampung bahwa orang Barat kesukaannya menjilat dan mengisap cairan kemaluan wanita, sehingga akupun ingin mencobanya.

Ternyata benar, kemaluan wanita itu harum dan semakin lama semakin merangsang. Entah perasaan itu juga bisa di temukan pada wanita lain atau hanya pada ibu majikanku karena ia merawat dan menyemprot farfum pada vaginanya.

Pinggul ibu majikanku semakin lama kujilat, semakin cepat goyangannya, bahkan nafasnya semakin cepat keluarnya seolah ia dikejar hantu.

Kali ini aku berinisiatif sendiri menguak dengan lebar kedua pahanya, lalu menatap sejenak bentuk kemaluannya yang mengkilap dan warnanya agak kecoklatan yang di tengahnya tertancap segumpal kecil daging. Indah dan mungil sekali.

Aku coba memasukkan lidahku lebih dalam dan menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan, lalu ke atas dan ke bawah. Pinggul ibu majikanku itu semakin tinggi terangkat dan gerakannya semakin cepat.

Aku tidak mampu lagi mengendalikan gejolak nafsuku. Ingin rasanya aku segera menancapkan penisku yang mulai basah ke lubangnya yang sejak tadi basah pula. Tapi ia belum memberi aba-aba sehingga aku terpaksa menahan sampai ada sinyal dari dia.

“Berhenti sebentar Nis, akan kutunjukkan sesuatu” perintahnya sambil mendorong kepalaku.

Lalu ia tiba-tiba bangkit dari tidurnya sambil berpegangan pada leher bajuku. Kami duduk berhadapan, lalu ia segera membuka kancing bajuku satu persatu hingga ia lepaskan dari tubuhku. Ibu majikanku itu segera merangkul punggungku dan menjilati seluruh tubuhku yang telanjang.

Dari dahi, pipi, hidung, mulut, leher dan perutku sampi ke pusarku, ia menyerangnya dengan mulutnya secara bertubi-tubi sehingga membuatku merasa geli dan semakin terangsang.

“Nis, aku sekalian buka semuanya yach,” pintanya sambil melepaskan sarung dan celana dalamku.

Aku hanya mengangguk dan membiarkannya menjamah seluruh tubuhku sesuai keinginannya. Setelah aku bugil seperti dirinya, ia lalu meraih tongkatku yang sejak tadi berdiri dengan kerasnya di depannya, lalu dengan cepat memasukkan ke mulutnya.

Sikap dan tindakan ibu majikanku itu membuat aku melupakan segalanya, baik masalah keluargaku, penderitaanku, tujuan utamaku maupun status dan hubunganku dengan majikannya. Yang terpikir hanyalah bagaimana menikmati seluruh tubuh ibu majikanku, termasuk menusuk lubang kemaluannya dengan tongkatku yang sangat tegang itu.

“Bagaimana Nis,? Enak yach?” tanyanya ketika ia berhenti sejenak menjilat dan memompa tongkatku dengan mulutnya.

Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk untuk mengiyakan pertanyaannya. Ia mengisap dan menggelomoh penisku dengan lahapnya bagaikan anjing makan tulang

“Aduhh.. Akhh.. Uuhh..” suara itulah yang mampu kukeluarkan dari mulutku sambil menjambak rambut kepalanya.

“Ayo Nis, cepat masukkan inimu ke lubangku, aku sudah tak mampu menahan nafsuku lagi sayang,” pintanya sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur dan tidur telentang sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya untuk memudahkan penisku masuk ke kemaluannya.

Aku tak berpikir apa-apa lagi dan tak mengambil tindakan lain kecuali segera mengangkangi pinggulnya, lalu secara perlahan menusukkan ujung kemaluanku ke lubang vaginya yang menganga lagi basah kuyup itu.

Senti demi senti tanpa sedikitpun kesulitan, penisku menyerobot masuk hingga amblas seluruhnya ke lubang kenikmatan ibu majikanku itu.

Mula-mula aku gocok, tarik dan dorong keluar masuk secara pelan, namun semakin lama semakin kupercepat gerakannya, sehingga menimbulkan suara aneh seiring dengan gerakan pinggul kami yang seolah bergerak/bergoyang seirama.

Plag.. Pligg.. Plogg, decak.. decikk.. decukk. Bunyi itulah yang terdengar dari peraduan antara penisku dan lubang vagina ibu majikanku yang diiringi dengan nafas kami yang terputus-putus, tidak teratur dan seolah saling kejar di keheningan malam itu.

Aku yakin tak seorang pun mendengarnya karena semua orang di rumah itu pada tidur nyenyak, apalagi kamar tempat kami bergulat sedikit berjauhan dengan kamar lainnya, bahkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00-12.00 malam.

“Bu’, Bu’, aku ma, mau.. Kk” belum aku selesai berbisik di telinganya, ibu majikanku tiba-tiba tersentak sambil mendorongku, lalu berkata,

“Tunggu dulu. Tahan sebentar sayang” katanya sambil memutar tubuhku sehingga aku terpaksa berada di bawahnya.

Ternyata ia mau mengubah posisi dan mau mengangkangiku. Setelah ia masukkan kembali penisku ke lubangnya, ia lalu lompat-lompat di atasku sambil sesekali memutar gerakan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Akibatnya suara aneh itu kembali mewarnai gerakan kami malam itu. Decik.. Decakk.. Decukk.

Setelah beberapa menit kemudian ibu majikanku berada di atasku seperti orang yang naik kuda, ia nampaknya kecapean sehingga seluruh badannya menindih badanku dengan menjulurkan lidahnya masuk ke mulutku.

Aku kembali merasakan desakan cairan hangat dari batang kemaluanku seolah mau keluar. Aku merangkul punggung ibu majikanku dengan erat sekali.

“Akk.. aakuu tak mampu menahan lagi Bu’. Aku keluarkan saja Bu’ yah” pintaku ketika cairan hangat itu terasa sudah diujung penisku dan tiba-tiba ibu majikanku kembali tersentak dan segera menjatuhkan badannya di sampingku sambil telentang, lalu meraih kemaluanku dan menggocoknya dengan keras serta mengarahkannya ke atas payudaranya.

Cairan hangat yang sejak tadi mendesakku tiba-tiba muncrat ke atas dada dan payudara ibu majikanku. Ia pun seolah sangat menikmatinya. Tarikan nafasnya terdengar panjang sekali dan ia seolah sangat lega

Tindakan ibu majikanku tadi sungguh sangat terkontrol dan terencana. Ia mampu menguasai nafsunya. Maklum ia sangat berpengalaman dalam masalah sex. Terbukti ketika spermaku sudah sampai di ujung penisku, ia seolah tahu dan langsung dicabutnya kemudian ditumpahkan pada tubuhnya. Entah apa maksudnya, tapi kelihatannya ia cukup menikmati.

“Nis, anggaplah ini hadiah penyambutan dariku. Aku yakin kamu belum pernah menerima hadiah seperti ini sebelumnya. Yah khan?” katanya seolah sangat puas dan bahagia ketika kami saling berdamping dalam posisi tidur telentang.

Setelah berkata demikian, ia lalu memelukku dan mengisap-isap bibirku, lalu berkata,

“Terima kasih yah Nis atas bantuanmu mau memijit tubuhku. Mulai malam ini, Kamu kujadikan suami keduaku, tapi tugasmu hanya menyenangkan aku ketika suamiku tidak ada di rumah. Mau khan?” katanya berbisik.

“Yah, Bu’. Malah aku senang dan berterima kasih pada ibu atas budi baiknya mau menolongku. Terima kasih banyak juga Bu’” jawabku penuh bahagia, bahkan rasanya aku mulai sedikit terangsang dibuatnya, tapi aku malu mengatakannya pada ibu majikanku, kecuali jika ia memintanya.

Sejak saat itu, setiap majikan laki-lakiku bermalam di luar kota, aku dan ibu majikanku seperti layaknya suami istri, meskipun hanya berlaku antara jam 21.00 sampai 5.00 subuh saja. Sedang di luar waktu itu, kami seolah mempunyai hubungan antara majikan dan buruh di rumah itu.

Aku sangat disayangi oleh seluruh anggota keluarga majikanku karena aku rajin dan patuh terhadap segala perintah majikan, sehingga selain aku diperlakukan layaknya anak atau keluarga dekat di rumah itu, juga aku dibiayai dalam mengikuti pendidikan pada salah satu perguruan tinggi swasta di kota Makassar, bahkan aku diberikan sebuah kendaraan roda dua untuk urusan sehari-hariku.

Sayang aku dikeluarkan dari perguruan tinggi itu pada semester 3 disebabkan aku tidak lulus pada beberapa mata kuliah akibat kemalasanku belajar dan masuk kuliah.

Karena aku sangat malu dan berat pada majikan laki-lakiku atas segala pengorbanan yang diberikan padaku selama ini, terpaksa aku meninggalkan rumah itu tanpa seizin mereka dan aku kembali ke kota Bone untuk melanjutkan pendidikanku pada salah satu perguruan tinggi yang ada di kotaku tersebut.

Untung aku punya sedikit tabungan, karena selama kurang lebih 2 tahun tinggal bersama majikanku, aku rajin menabung setiap diberikan uang oleh majikanku.

Selama 4 tahun mengikuti kuliah di kotaku ini, akhirnya aku lulus dengan predikat baik berkat ketekunan dan kerajinanku belajar. Sejak aku selesaikan pendidikan tahun 1991 hingga tahun 1994, aku belum pernah kembali ke kampung asliku dan berkumpul bersama keluarga karena malu dan takut pada orangtua.

Namun pada Sepetember 1995, pikiranku mulai terpengaruh kembali oleh wanita, bahkan beberapa kali aku ingin menikmati apa yang pernah kunikmati bersama dengan ibu majikanku dulu, tapi aku takut resiko dan dosa.

Karena aku merasa sudah punya biaya dan matang untuk berumah tangga, akhirnya kuputuskan untuk kembali kampung membicarakan dengan orang tuaku.

Orangtuaku sangat bangga dan bersyukur serta berterima kasih atas keberhasilanku memperoleh sarjana sekaligus merestui niatku untuk berumah tangga, bahkan menyerahkan penuh padaku untuk memilih pasangan sendiri.

Tahun itu pula aku kawin dengan pilihanku sendiri, biaya dan urusannya tidak kubebankan orangtuaku. Sejak tahun itu sampai tahun ini, hubunganku dengan istri berjalan harmonis, bahkan kami telah dikaruniai 2 orang putra dan seorang putri.

Tapi gara-gara kehilangan pekerjaan, kami seringkali cekcok dan bentrok dengan istri. Akhirnya kuputuskan meninggalkan rumah dan pergi ke salah satu kota di Sulsel untuk mencari pekerjaan. Tiba-tiba aku ketemu dengan teman kuliah yang sudah menjadi pengusaha besar dan lagi-lagi pengusaha beras.

Anehnya lagi, temanku itu tinggal bersama istri keduanya, sebab istri pertamanya tinggal di kota Bone. Tawaran temanku itu hampir sama dengan tawaran majikanku dulu yakni menjaga keluarganya dan membantu mengurus usahanya ketika ia ke luar kota.

Pikiranku mulai aneh-aneh dan ingin kembali mengulang sejarah masa lalu, apalagi istri temanku itu belum dikarunia seorang anak dan ia cantik lagi ramah padaku.

 

Demikian artikel tentang cerita Punya Majikan Baik Hati Memberikan Memeknya Sendiri Untuk Ku Genjot Keras2.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Nikmatnya Jepitan Memek Pembantu Seksi Di Kontolku Sampe Crot2.

 

Nikmatnya Jepitan Memek Pembantu Seksi Di Kontolku Sampe Crot2.Hujan dari tadi fajar masih menguyur Jakarta, jam sudah menujukkan pukul 10 , dengan malas aku melongok keluar jendela , kulihat didepan pekaranganku ada seorang wanita sepertinya berjualan makanan yang berteduh.

Kuperhatikan mbak penjual pecel , kasian kulihat sambil menggigil dia bediri menepi dari hujan, kubukan pintu , dia kaget sambil tersenyum dia menyapaku.

“ Permisi mas numpang neduh “ kulihat paras wanita ini cukup manis , walaupun basah kehujanan.

“ gak papa mbak , jual apa mbak “ aku memastikan.

“ Pecel mas “

:”Oh ayo masuk mbak , saya mau nyoba pecelnya kebeneran blom sarapan “

Diapun berjalan masuk kerumahku

“ Diluar aja ya mas , abis basah nih baju saya , nanti rumahnya jadi kotor “

“ ngak papa mbak , ayo masuk aja , masak saya makan pecel campur air hujan , kalau mules mbak tanggung loh “ aku tertawa.

Akhirnya dia mau masuk juga kerumahku.

“ maaf ya mas , jadi ngotorin , mau pecelnya komplit ya mas ? “

“Iya mbak , udah laku banyak mbak ? “ aku basa basi

“ Ah blom mas, boro boro , pagi pagi udah ujan begini mana ada orang mau keluar jajan “

Sambil menyiapkan pecel saya memperhatikan mbak ini , orangnya hitam manis , badannya agak kecil tapi susunya keliatan cukup besar malah kebesaran untuk porsi tubuhnya dan bokongnya juga nonggeng.

Aduh pagi pagi bikin Penis saya bediri dan pikiran jadi ngeres liatin bodinya.

“ Monggo mas, pecelnya “ aku agak kaget, dia tertawa karena melihat aku lagi memperhatikan susunya.

Sambil makan kulihat dia celingukan melihat kedalam rumah , Kulihat dia seperti orang kebingungan.

“ Ada apa mbak kok kaya bingung ?”

“ Ini mas boleh gak saya ikut ke wc mas, saya kebelet banget dari tadi “ sambil mukanya merah menahan malu. “ maaf loh mas merepotkan “

“ Oh ayo masuk aja tuh diujung kiri mbak “

Dia segera buru-buru lari ke wc , setelah bbrpa lama dia keluar dan mukanya telah ceria.

“ Aduh makasih ya mas . udah lega “

“ Mas tinggal dengan siapa mas, kok sepi banget , emang gak ada pembantunya mas?”

Dia nyerocos bertanya , aduh tipikal anak yang ceria sedikit bawel hehehe.

“ Saya masih sendiri mbak dan belom ada pembantu, abis gak tau mau cari dimana “

Oh ya aku masih bujangan , kerja di perusahaan alat kedokteran , aku memang baru pindah kesini kurang lebih 1 bulan, jadi belom sempet mikir cari pembantu. Makanya rumahku berantakan .

“ Emangnya mau cari yang gimana mas “ Tanya mbak ini

“ Yah yang penting bisa kerja dan bisa masak sedikit lah , sekalian untuk beresin rumah “

“ Emang mau digaji berapa mas ?”

Aku jadi bingung , aku tidak tau pasaran berapa.

“ Wah saya juga gak tau mbak , mungkin kira kira 750 ribu untuk awalnya dah, semua saya tanggung”

“Memang mbak ada kenalan yang mau kerja . boleh tuh nanti saya kasih persen ke mbak dah “

“Gimana kalau saya aja mas, saya capek jualan pecel , keliling tiap hari , penghasilan juga pas makan saja, gak cukup ngirim ibu di kampung , jadi pengen kerja rumahan aja, makan tidur terjamin “

“ Saya aja ya mas, tapi gajinya tambahin ya mas, genepin dah sejuta , hehehe , ntar saya sekalian semua kerjaan saya beresin , mas juga saya pijitin dah kalo cape , iya ya mas “

“Bener nih mbak mau kerja , bisa mbak kerja rumahan , tapi musti rajin loh , saya sih oke aja gaji mbak sejuta tapi jangan kecewain saya ya “

“ Aduh mas pasti mas , saya kerja rajin , janji mas , makasih ya mas, “ dia senang sekali.

“ Eh saya belom tau nama kamu sapa mbak “

“Oh ya saya rohana mas, panggil aja nana juga boleh , mas siapa namanya “

“ Saya Rony , kamu umur berapa na , sudah bekeluarga belom “

“Saya umur 20 mas, saya sudah cerai mas, saya menikah setahun terus suami saya kerja jadi tki , eh gak pulang, udah 2 tahun denger kabar kawin lagi disana “ kulihat muka sedih diwajahnya.

“ Sudah jangan disedihin , kamu cari uang yang banyak nanti juga cowo ngantri , punya anak ngak “

“ Ngantri kaya beli karcis aja mas hehehe , belom mas saya gak punya anak , dulu saya kawin muda jadi gak mau punya anak dulu , makanya saya kb pake iud mas”

Aduh bener bawel nih anak hahahaCerpenSex

“ ya udah kamu mau mulai kapan kerjanya “

“ Hari ini juga ya mas, abis ujan saya pulang langsung ambil pakaian kemari ya mas , saya udah bosen tinggal dikontrakan sengsara banget mas”

Sore kudengar ada yang mengetuk pintu rumahku , kuliat dia dengan kantong plastic berisi pakaian berdiri didepan pintu.

“ Ayo masuk , kebeneran hari sabtu saya libur kantor . ayo saya tunjukin kamar mu “

“ Aduh kamarnya enak ya mas, ada kasurnya , kalo di kontrakan cuma ditiker dan sering bocor lagi”

Besok pagi2 aku bangun kulihat meja makan sudah ada kopi dan sarapan mie instan. Wah inilah enaknya ada pembantu.

Kulihat nana sedang mengepel . waduh dia hanya memakai legging pendek yang tipis dan kaos oblong.

Pantatnya bulat dan tercetak ketat karena celana legingnya yg hitam tipis.

Dia terseyum sambil menyapaku

“ Pagi mas, sarapan dulu , udah nana sediain “

“ Ya makasih ya na, kamu sudah sarapan ?”

“Sudah mas “

Aku duduk di sofa sambil melihat tv, tapi aku tidak konsen, matanya tertuju bongkahan pantatnya

Yang besar dan bergerak gerak ketika dia ngepel , dan ketika dia menghadap kedepanku, aku melihat susunya yg besar walau dibungkus bh warna hitamnya yang seakan tidak cukup menampung susunya , kulihat belahan susunya ,aduh pusing kepalaku. Penisku langsung bediri , karena aku hanya memakai celana pendek dari bahan katun tanpa celana dalam , maka tonjolan Penisku ketara sekali.

Kulihat dia melirik melihat tonjolan Penisku sambil tersenyum malu, tapi sesekali tetap melirik.

Semakin dekat dia mengepel ke tempat dudukku , semakin jelas kulihat belahan pantatnya dan belahan susunya. Aku sedang menebak kok kayanya dia tidak pakai celana dalem karena tidak keliataan batas celananya. Pantatnya bulat sempurna dan masih kenceng banget , aku agak menunduk mengintip celah belahan pantatnya , kelihatan tumpukan dua daging seperti apem yang menggunduk , wah Vaginanya tembem banget , belahan Vaginanya tercetak jelas , makin membuat aku pusing , Penisku langsung keras.

Benar benar aku pusing , dan tersiksa Penisku rasanya mau keluar.

Ingin kuelus pantatnya, kuremas pantatnya yang bahenol itu ,untung aku masih sadar, kalau dia teriak kan gawat. Tapi belahan Vaginanya bener bener menggoda, aduh janda ini memiliki Vagina yang menggiurkan. Rasanya pengen kujilat bibir Vaginanya yang bengkak , pasti enak banget. Glek glek tak terasa aku menelan ludah.

Kehidupan ku dirumah lebih rame setelah ada Nana, dia orangnya ceria dan sedikit bawel.

Biasanya sehabis makan malem saya sering menemaninya ngobrol, karena kasian kalo sendirian nanti kesepian , kalau gak betah aku repot juga.

Tak terasa sudah 2 minggu dia bekerja, sehabis makan malam saya bertanya dengan dia

“ Na kamu udah 2 minggu kerja, gimana betah gak , ada apa yang kurang gak”

“ Wah betah banget mas, mas baek saya udah kaya dirumah sendiri , makasih ya mas, “

“ Ya sama sama, baguslah , takut kamu ngak betah masih sedih mikirin bekas suamimu “ saya menggodanya.

“ Ih amit2 mas, nana mah udah lupa sama dia , mau enak aja , sorry ya “

“ Bener nih ? ntar kangen sudah lama gak dikelonin ama suami ?” saya tersenyum

“ Ah mas nakal ya godain nana . gak mas, nana gak pengen sama dia, “

“ gak pengen sama dia , kalo sama yg laen mau gak ? “

“ Ya tergantung mas siapa orangnya “ sambil dia melirik dan tersenyum padaku.

“ Kan kamu udah janda , kalo udah lama gak rasa dikelonin kan pasti rasanya gimana gitu “

“ mas ini kaya pengalaman aja , ih mas genit ah “

“ tapi bener kan na, ayo jujur dah sama mas, pasti pengen , orang bilang kalo udah pernah rasain pasti nagih “

Dia terseyum malu , kucolek pinggangnya dia terkejut, dia bales mencubit pinggang ku

“ Ih mas genit ya , tapi emang sih mas, kalau lagi pengen sampe pusing kepala kalau gak kesampean ,tapi saya mah gak kepengenan ama suami saya, dia mah loyo mas, kalo maen sebentar aja udahan , malah bikin nana pusing “

“ eh kelepasan jadi malu mas nyeritain”

“ gak papa , kan Cuma saya yang denger gak ada orang lain , ajarin dong na gimana caranya , mas kan belom pernah” hehehe belagak jejaka, padahal mah gak pernah absen.

“ Ih malu mas, makanya mas kawin dong “

“ Kalo kawin mah mau na, nikahnya ogah , hahahaha “

“ Ih mas mah mau enaknya aja “

“ Ayo dong gimana kamu kalo maen sama lakimu “

“ Ya gitu dah mas, suami saya maunya minta di emut dulu itunya mas “

“ Apanya itunya na “ aku berlagak bego

“ Ya itu mas, Penisnya , eh maaf mas jadi ngomongnya jorok “

“ Gak papa na, kan Cuma kita bedua, emang enak na diemut Penisnya ?”

“ Iyalah mas, sampe dia kelojotan kadang malah muncrat dulu mas , sebel dah “

“ Terus suami mu senengnya ngapain kamu ?””

“ dia paling seneng nyedotin susu saya mas, pentil saya dipelintir sambil disedotin , ih merinding mas bayanginnya “

“ Kamu suka kan , enak gak “

“ Iya enak banget mas, tapi suami saya mah mau enak sendiri, buru buru maunya masukin Penisnya ke Vagina nana , abis gitu baru goyang bbrp kali udah muncrat dah, kan nana jadi nangung mas”

Wah aku mendengar cerita nana jadi makin napsu , jadi kaya baca cerita porno hahhaha.

“ Sekarang udah jadi janda kamu kalo lagi kepengen gimana na ?”

“Ihhh mas malu ah , gak gimana lah ditahan aja , paling kalo gak tahan ya sendiri usaha mas, hehe “

Pura pura kucolek pinggangnya tapi sengaja agak keatas sehingga kena susunya , terasa keras sekali susunya padahal keliatannya dia pakai bh yang tipis.

“ Es sori salah colek na”

“gak papa mas, awas lo nanti tuh adeknya bediri “ sambil dia menunjuk Penisku yang memang sudah bediri.

“ Ih nakutin mas, adeknya bediri gede banget “

Dia tertawa menggodaku.

“Biarin nanti dia ludahin kamu loh “

“ Auuuu takut jangan mas” nana pura pura ketakutan,

Hari ini lewat dengan aman, adikku yang cape rasanya tegang terus.

Keseokan harinya minggu siang , aku santai saja dirumah , kuliat nana sedang menggosok baju dibelakang, dia tetap seperti biasa memakai legging pendek hitam dan kaos oblong. Belahan pantatnya jelas sekali tercetak dan dari bagian depannya juga terlihat Vaginanya tercetak tembem banget Vaginanya , aduh bikin Penisku rasanya mau meledak. Belahan Vaginanya jelas sekali karena keliatannya nana sengaja memakainya dengan menarik keatas sehingga belahan Vagina dan pantatnya jelas tercetak.

Otak ngeres saya sudah panas sekali , rasanya pengen sekali meremas pantatnya.

Tiba tiba aku ada akal, diatas meja gosoknya ada lemari yang berisi alat pertukangan ku. Aku pura pura mau mencari obeng , akupun kebelakang,

“ Na, ada liat obang gak”

“Ngak mas, nana gak tahu tuh”

“Oh iya kayanya ada dilemari atas kamu tuh, sebentar saya liat ya “

Saya menghampiri dia, saya berdiri dibelakangnya pura pura membuka lemari diatasnya, pelan kumajukan badanku sampai kurasa Penisku menyentuh pantatnya , pertama dia agak kaget, tapi dia diam saja.

“ Aduh dimana ya , mas lupa ,sebentar mas bongkar dulu “

Aku berpura pura mencari sambil pelan Penisku kutempelkan disela pantatnya , pelan kugesek gesek Penisku sambil mencari barang.

Kulihat nana gelisah , tapi dia diam saja, terus kutempel dan kugosok Penisku kebelahan pantatnya, aduh enak banget rasanya digesek kebelahan pantatnya, gosokan sudah ditarohnya disamping, nana hanya bediri diam sambil tangannya memegang meja gosok dengan tegang.

Sengaja kutekan makin kuat Penisku kebelahan pantatnya, nana tetap diam dan keliatannya menikmatinya. Oh enak sekali rasanya Penisku bergesekan dengan pantat nana.

Sengaja aku bergeser Penisku kekanan , eh pantat nana mengikuti kemana Penis aku bergerak, hehe rupanya janda muda ini sdh napsu juga. Pelan nana sedikit mengangkat pantatnya , oh rupanya dia berusaha menggesekkan Penisku ke bagian Vaginanya. Sekarang posisi nana sdh sedikit nungging sehingga kurasakan Penisku emang nyelip kebagian bawah Vaginanya , sekarang malah dia yg aktif menggesek Penisku ke belakang Vaginanya. Dalam posisi nungging nana makin aktif pantatnya ditekan kuat sekali kebelakang, sampai aku harus menahan jangan sampai terdorong.

Tercium aroma tubuhnya , mungkin ini yang namanya hormon wanita ketika birahi , baunya sangat menggairahkan , sulit untuk dideskripsikan tapi benar membuat aku sangat napsu . oh enak sekali baunya.

“ehmmm” kudengar lirih dengusan nana, kurasakan dia memegang meja dengan sangat kuat dan kurasakan celanaku bagian Penisnya agak basah. Wah dia sudah banjir kayanya.

Kurasa Penisku dijepit oleh sela pahanya dengan sangat kuat, kaki nana kurasakan gemetar mungkin merasakan kenikmatan yg sudah lama tidak dirasakannya. Ingin rasanya aku memeluk susunya dan lsg menelanjanginya.

Aku segera pura pura sdh selesai mencari obengnya , aku sengaja mau buat dia nanggung biar dia ketagihan.

“ Oh gak ada na, kayanya di mobil “ sambil aku bergeser menutup lemari atas.

Keliatan dia kaget dan agak kecewa

“ gak ada ya mas “ tapi matanya keliatan sudah redup banget, keliatannya dia kecewa aku menyudahi gesekan Penisku.

Hehehe rasain lu dalam hatiku, biar dia ketagihan dalam hatiku.

Kutinggal nana , aku kedepan pura pura mencari di mobilku, tak lama aku masuk kulihat nana gak ada , oh rupanya dia ke kamar mandi, nah loh ngapain ya , aku cepat cepat mendekati kamar mandinya,

Kudengar pelan ada suara desahan nana,

“ohhh mas , ooohh masssss “ suaranya lirih sekal

Kuintip melalui lubang kunci , oh kulihat nana sedang membungkuk menghadap kedinding, sayang saya hanya bisa melihat punggung dan sedikit pantatnya yang besar , kulihat dia menunduk dan tangannya memegang Vaginanya.

Hahaha dia sedang masturbasi rupanya, dia udah ngak tahan.

“ Ooooooooo massssss “ akhirnya kulihat dia menegang, udah keluar rupanya, oh dia memanggil aku , keliatannya sudah keluar. Kudengar dia mencuci Vaginanya , segera aku pergi takut dipergoki olehnya.

Aku duduk disofa sambil melihat tv , ketika nana keluar kamar mandi sengaja ku Tanya

“ kenapa na , sakit perut ? kok kaya kesakitan tadi saya dengar”

“ eh iya mas “ sambil kemaluan dia menjawabku

“ ah masa kok suaranya begitu “

“ Ah mas bikin saya malu , mas sih yang mulai “

“loh mas salah apa na ?” Tanya ku pura pura gak ngerti

“ gara gara mas sih , itunya digesekin ama punya nana “ sambil tertunduk malu nana tersenyum.

“Tapi enak kan, kan udah lama gak ngerasain “

“ abis kamu juga sih pake celana gitu jadi kecetak semua tuh pantatmu”

“hihi mas suka ya mas liatnya “

“ Kalo sampai mas lupa diri bahaya lo na”

“ Ah biarin aja kalo mas mah nana gak takut’

Wah gawat kayanya dia memberi lampu hijau nih.

Kulihat dia meneruskan gosokannya yang tertinggal gara gara gesekan hahaha

Malam sehabis makan malam aku duduk didepan tv , biasanya nana sudah duduk dulu didepan menungguku, kok tumben gak keliatan ?

“Na na, kamu dimana na , lagi ngapain “

Tidak ada sahutan , aku bangun mendekat kekamarny

“Na kenapa na “

Kulihat nana terbaring diranjang kayanya sedang sakit, nana terbaring telentang, dia memakai legging warna cream , aku lsg meyasar belahan Vaginanya yg jadi lebih menggungung karena posisinya tidur. Aduh napsuin sekali posisinya sudah tinggal nembak aja hahaha.

“ maaf mas, nana pusing ?”

“loh kenapa , sini mas periksa “

Kupegang keningnya , ngak panas , aku curiga jangan jangan dia pura pura memang memancing aku.

Wah kebeneran dah , otak jorok pun bekerja. Aku ingat aku punya stok stetoskop dikamarku, barang sample dari dealer.

“ Sebentar mas periksa ya , mas ambil alat dulu kekamar “

“ ia mas , makasih ya mas repotin “

Akupun bergegas kekamar, kubuka celanaku, aku sengaja ganti dengan celana yang longgar banget dan tanpa cd sampai Penisku saja sering keluar dari samping. Segera kuraih stetoskop .

“ Sini na, ayo mas periksa “

Stetoskop kutempelkan kedadanya bawah leher terus berpindah , turun pelan kebawah.

“ Na kaosnya buka ya , susah gak bisa denger ketutup kaen “

“Iya mas “ sambil dia bangun mencopot kaosnya melalui kepalanya

Gilaaa itu susu kayanya mau meletus dari bh warna merah tua nya. Aku baru pertama kali melihat susu yang penuh banget dibungkus bh begini.

Aku segera pura pura mulai memeriksa lagi , masih seputar susunya aku tempelkan stetoskop ku.

Aku pura pura kerepotan karena ada bh nya ,

“ Na ini bh nya ganggu saya gak bisa periksa, dibuka ya bh nya “

Ia mengangguk “ iya mas, terserah mas aja “ sambil tersenyum malu , dia mencoba membuka bhnya

Saya membantu membuka kaitan belakangnya, aku berdebar debar menunggu apa yg akan muncul dari balik bh itu.

Wahhh segunduk daging warna coklat padat dan keras dengan ujung pentilnya hitam sebesar ujung jari kelingking ku.

Dalam posisi duduk susunya tetap tegak tidak turun ,oh sempurna sekali susu ini, bulat dan bentuknya bagus sekali dengan bulatan hitam yg tidak terlalu besar , ujung pentilnya sudah mengeras.

Aku membaringkannya . lalu mulai memeriksa , stetoskopku atau tepatnya telapakku mulai bergerilya , menyenggol ujung pentilnya yg kanan, nana keliatan agak kaget ketika kusentuh pentilnya, dia memejamkan matanya , sambil menggigit bibir bawahnya.

Kuputar tanganku menjelajahi gunung susunya dari yang kanan terus turun kekiri, ketika menemui pentilnya kusenggol senggol ujung pentilnya .

“ Ehmm “ kudengar nana keliatannya menahan napsu yang sudah menggelora.

Kuelus terus susunya berpindah dari pentil kiri terus ke kanan, sambil sedikit kupijit, muka nana sudah merah menahan napsu, bibirnya digigit kencang sambil kepalanya sedikit bergoyang.

Pelan tanganku menuntun stetoskop turun keperutnya, perutnya bagus rata , dan mulus , kuputar sekitar pusarnya, dia tambah belingsatan. Pelan tanganku mengelus dari luar celana leggingnya , kuelus permukaan Vaginanya , aduh tercapai juga keinginan mengelus Vaginanya.

Vaginanya benar benar gemuk, dan keliatannya belahan Vaginanya ketara sekali, pasti tebal nih bibir Vaginanya.

Pelan kugesek bibir Vaginanya , nana makin gak karuan, pelan pelan dia makin merentangkan pahanya sehingga aku makin gampang menggesek Vaginanya, pelan kedua jariku menjepit bibir Vaginanya , kuurut pelan , terus jariku menelusuri belahan Vaginanya.

“Mas massssss “ nana sudah gak tahan kayanya rupanya.ku elus atas daging Vaginanya , legging sudah basah sekali, pelan tanganku turun nmenyentuh Vaginanya, benar, Vaginanya bengkak besar kaya hamburger.

“ Dibuka ya na, susah ni ada celananya “

Dia mengangguk sambil membantu mengangkat pantatnya , kutarik leggingnya.

Terpampanglah Vagina yg hitam mengkilap karena sudah basah dengan cairan dari Vaginanya, Vaginanya seperti setanggkup daging yang dibelah dua, ya persisi kaya hamburger big mac hahaha.

Aku duduk menghadap ke nana, sengaja celana kukuatur sehingga Penisku mengintip dari samping, Penisku sudah tegang sekali sehingga kepalanya muncul dari samping celana ku.

Kulihat nana sudah membuka matanya , matanya tertuju ke Penisku yang mengintip dari samping celana.

Kuelus bibir Vaginanya dan tanganku menyusuri belahan Vaginanya yang sudah basah sekali. Nana sudah mendesar terus , kakinya sudah dibuka lebar.

“ Masssssss aduh massssss “

Kubelah Vaginanya kulihat dalam Vaginanya merah tua dan basah mengkilap sekali, aku sebenarnya sudah gak nahan pengen segera menjilati Vagina ini. Kukorek pelahan Vaginanya , kucari dibagian atas ada sepotong kecil daging itil yang mengkilat basah dan keras.

Besarnya kira kira kaya kacang tanah, ketika kuelus, nana sdh kaya orang kemasukan.

“ massss aduh massss diapainnn nana mas “

Vaginanya gundul habis dicukur rupanya, aku suka yang begini jadi enak dijilatnya gak rebut ama jembut. Kalo yg gondrong sering jembutnya nyelip di gigi hahahaha.

Kuelus terus itilnya , nana sdh gak bisa diam, terus goyang, tanganku sudah basah semua.

“ na kamu tau kamu sakitnya apa “

“ Apaaa mas, “

“ Kamu sdh lama gak disuntik sama ini “ kataku sambil kukeluarkan Penisku , dan segera nana memegangnya.

“ Mauuuu mau mas , ayo mas suntik nana mas pake Penis mas yang gede banget kepalanya ini mas “

“ Aduh mas Penisnya kepalanya kok gede banget mas, nana ngeri bayangin masuk ke Vagina nana “

Penisku panjang biasa aja Cuma memang kepalanya yg kaya jamur gede banget, banyak wanita yang ampun waktu diterobos sama kepala Penis ini semua bilang sakit tapi enak banget awalnya

“ mas nana emut ya Penisnya “

Belum kujawab nana sudah bangun langsung memasukkan Penisku kemulutnya.

Terasa panas Penisku, pelan mulutnya keluar masuk Penisku.

“ oughhh bessall angettt mas , maremmm muass “

Oh enak sekali emutan mulutnya, Penisku ditelusurinya dr atas terus kebawahm terus memutar kepala Penisku, digenggamnya Penisku, lalu dibelahnya lobang kencingku dengan lidahnya, aduh ampun rasanya bukan maen, terus diisapnya lubang kencingku. Rasanya mau meledak.

Nana kemudian turun diemutnya biji ku, satu persatu dijilati lalu disedotnya masuk kemulutnya bergantian. Rasanya sudah mau keluar , kemudian kedua biji sekaligus disedotnya masuk kemulutnya dan didalam mulutnya biji ku diputar oleh lidahnya.

Belom pernah aku disepong seenak ini, janda ini memang jago permainan mulutnya. Lalu dia berpindah menjilati Penisku sementara tangannya meremas remas bijiku.

Segera kusudahi aku takut keluar duluan.

Aku segera jongkok didepan Vaginanya,

“ mas mau ngapain mas , jangan mas, kotor mas “

“ oh kamu belom pernah diginiin ya na, wah kamu bisa ketagihan “

Segera kubuka pahanya, kujilati mulai dr bibir Vaginanya, pelan kujilati bibir Vaginanya , licin karena sudah banyak cairan lendir yang keluar, lalu ujung lidahku masuk menusuk kedalam belahan Vaginanya.

Lidahku menari nari dibelahan Vaginanya , lalu kusedot semua bibir Vaginanya kucoba masukan kedalam mulutku dan kusedot, terasa cairan agak gurih terhisap,

“ Aduh mas ampun mas enak banget mas, itu diapain mas Vagina nana , ooooooo mas “

Lidahku terus mengorek belahan Vagina nana yang tembem, aku jadi gemes sekali membayangkan betapa enaknya dijepit oleh Vagina yg tembem ini.

Lidahku naek keatas kusentuh itilnya , kujilati , nana sudah gak karuan

“ masssss ampunn mas , enak banget masssss, massss auhhhhh “

Kuisap isap itilnya, terasa enak seperti mengulum kacang, kuisap isap pentilnya

“ Auuuuuu masssss nana keluar massssss “

Kepalaku terasa dijepit oleh kakinya dan tangannya menekan kepalaku keVaginanya, aku merasa ada cairan hangat masuk terhisap olehku dan itilnya terasa berdenyut , cairannya gurih dan tidak berbau.

Oh rupanya dia type yg gampang orgasme.

“ Massss enak banget mas, nana blom pernah rasain kaya gitu “

Aku tidak memberi kesempatan istirahat, kujilati lagi itil nana, dia pertama kegelian , tapi tidak berapa lama dia mulai terangsang.

“ Mas aduh mas kok kayanya mau enak lagi mas, ampun mas, masukin aja mas Penisnya mas , nana gak tahan pengen ngerasain Penis mas, ayo masssss “

Aku takut nana orgasme lagi maka aku segera bangun dan mulai menindihnya, kuarahkan Penisku ke Vaginanya, sulit selalu terpeleset, untung nana segera membantu dipegangnya Penisku lalu diarahkan ujung nya kelubang Vaginanya.

“ Pelan ya mas, nana udah lama ngak ngentot “

Memang sulit sekali ujung Penisku mau masuk bibir Vaginanya yang tebal itu

“ Yah mas udah pas , tekan mas pelahan mas “

“ Oufhhh mas, sakit mas, auhhh auhhhh pelan mas “

Memang Penisku seperti menemui jalan buntu. Untung Vaginanya sudah basah dan licin.

Akhirnya Penisku setelah tekan tarik tekan tarik berhasil juga masuk

“blesssss, auuuhh massssss “

Aku diam kan sebentar Penisku, terasa Penisku dijepit keras sekali oleh Vaginanya

Ketika Penisku masuk , kulihat mata nana terbelalak , melotot sedkit seperti orang bingung, baru kemudian dia bernapas ,

“ Sakit na ? mau dicabut na ? “

“ Jangan mas. Biarin mas, terus mas, aduh belom pernah nana ngerasa Vaginanya dimasukin Penis yang keras dan gede banget , enak banget mas , sakit dikit tapi enak mas “

“ ayo mas goyang biar tambah enak “

Pelan kutarik dan kutekan masuk lagi Penisku, setiap kutekan mata nana mendelik, oh sexy sekali ,

“oh mas enak mas, enak banget masssss “

Rupanya dia tidak mau kalah, pantatnya mulai memutar, aduh Penisku seperti diblender, makin lama makin kencang putarannya. Kutekan Vaginanya sambil aku mengulum pentilnya, kugigit gigit pentilnya

“ massss gila maassss aughhhhh aughhhhh aughhh mas enak “

Mulutku tidak lepas dari pentilnya, Penisku terus bekerja naek turun menembus Vagina nana, aduh rasanya enak banget Penisku dijepit keras sekali oleh bibir Vaginanya yang tebal.

Kata orang Vagina tebal memang paling enak di entot benar ya.

“ Ayoooayoo massss ayoo nana mau keluar masss ayoo “

Nana memutar pantatnya seperti baling baling , kakinya menjepit menggantung dibadanku, terasa sekali Vaginanya empot ayam mengisap Penisku. Aku juga merasa sudah hampir keluar.

Segera kusetop,

“ Masss kok berenti , ayo massss nana mau keluar ‘

“ sebentar na kamu diatas ya “

Segera kubalik nana, dengan buru-buru nana mencari Penisku lsg dimasukkannya ke Vaginanya Blessss, suara Vaginanya dimasuki oleh Penisku

“ auuuuu mas sedap massss, ayo masss “

Nana langsung menggoyangkan pinggulnya, aku telentang melihat susunya yang besar bergoyang, aduh susu janda ini bener bagus, tidak turun sedikitpun.

Kupegang susunya , kuremas remas susunya, nana seperti orang naek kuda binal, dia menaik turunkan Vaginanya , sambil sekekali diputarnya Vaginanya.

Penisku benar2 kali ini disiksa abis oleh nana, siksaan nikmat ,

“masss aduh mass nana enak banget mas , nana mau tiap hari mas ‘

Aku rasakan seperti mau meledak Penisku, tanganku terus meremas susunya

“ Suka ya sama susu nana ya mas”

Tiba tiga nana bangun dicabutnya Penisku,

“ Loh kenapa na, lagi enak nih na “

“sebentar mas , nana urut ya Penis mas pake Vagina nana “

Lalu diletakkannya Penisku dihadapkan keatas menempel ke badanku, pelan dia menempatkan bibir Vaginanya diatas Penisku.

Nana mulai memaju mundurkan Vaginanya aduh bibir Vaginanya menggosok Penisku dr ujung pelir sampai ujung kepala Penisku , dia terus maju mundur, benar seperti Penisku diurut oleh bibir Vaginanya yang tebal.

Penisku juga sudah licin makanya enak sekali rasanya Penis diurut dengan Vaginanya, baru kali ini aku merasakan model ngentot begini. Enak benar , ketika ujung Penisku sudah sampai dibibir Vaginaku aku mengira dia akan memasukkannya tapi dia sengaja mundur lagi , aduh rasanya gak tahan

“ Aduh na kamu kok jago sekali ngentotnya “

“ hehehe sering liat film mas “

Aku sudah gak tahan, kubalik nana dan langsung kurebahkan, segera Penisku kuarahkan keVaginanya, dengan kecepatan penuh kugenjot Vaginanya.

“ Aduh aduh aduh massss enak mas, ouhhhh ouhhh “

Kakinya menjepit menggantung dibadanku. Kugenjot abis Vaginanya ,

“ Naaaaa mas mau keluar, dimana, “

“ dalam aja mass, ouhhh ouh massss ayo mas nana juga “

“ Auuuuuu massss, auuuuuuu, “

Kurasakan Penisku disiram sama air hangat, dan akupun akhirnya menyemprotkan isi Penisku

“ auuuuauuuu na,,,,naa “

“Mas aduh mas enak banget anget banget mani mas “

Penis ku berdenyut denyut ditambah nana sengaja memeras Penisku dengan Vaginanya.

Aduh Vagina yang sempurna , bego banget lakinya dulu.

Aku terkapar menindih nana, kami basah semua, dia tersenyum lalu mencium ku,

“ makasih yam as , nana sudah lama gak pernah rasa enak begini , malah dari awal belom pernah mas mau lagi ya mas “

Aku tersenyum , wah siapa nolak.Ku sodok sampe crot berkali2 vagina nana dengan kontolku sampai puas.

Demikian artikel tentang cerita Nikmatnya Jepitan Memek Pembantu Seksi Di Kontolku Sampe Crot2.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Punya Pembantu Kayak Punya Perek Di Rumah,Ya Ku Gas Pol Memeknya Sampai Ledes.

 

Punya Pembantu Kayak Punya Perek Di Rumah,Ya Ku Gas Pol Memeknya Sampai Ledes. Cerita ini berawal ketika ane di mutasi perusahaan ke daerah Bogor karena kinerja ane di tempat asal kurang bagus..ane sempet putus asa dan yg lebih sedih ane harus pisah ma bokin yg ane sayangi..Tapi karena kebutuhan akhirnya ane ambil juga itu keputusan untuk mutasi.. Sesampai di Bgr ane dapet fasilitas kontrak rumah dari perusahaan,dan ane dapet di daerah pinggiran kota,lumayan lah type 36,ada 2 kamar plus perabotan udah ada di sana..

Setelah 1 bulan berlalu ane kewalahan ngurusi itu rumah,maklum ane berangkat pagi,pulang malam,minggu pulang ke Bandung ketemu bokin ya jadinya itu rumah acak2an dan kotor banget..

Ane ngerasa ga nyaman,dan ane mutusin untuk nyari orang buat ngurusi rumah. Ane sempatkan datangi salah satu yayasan penyalur di kota Bgr,ane pilih 1 orang yg ane pikir bisa kerja,orangnya biasa aja,masih muda,umur 20 tahun,aslinya dari daerah di jawa tngh,dan 1 yg bikin ane pilih dia,dia keliahatan cekatan saat ane melihat cara praktek di beberapa orang yg di tawarkan..

Sebenarnya kalau ane emang niat macem2,ane bisa aja pilih yg genit,karena ada beberapa orang yg matanya tuh menunjukan kalo “pilih gw aja” dan sedikit centil..

lanjut..

Ane minta Susi (sebut aja begitu) di antar ke rumah hari sabtu,karena ane pikir hari minggu ane akan pergi dan ane minta susi untuk bersihin rumah..

Hari sabtu malam orang yayasan datang mengantar susi,dan ane lunasi biaya administrasi,lalu jadilah susi bekerja di rumah ane..

Hari minggu ane tinggal dia di rumah,untuk bersih2 dan cuci baju ane yg udah menggunung..

Hari senin pagi ane datang ke rumah,ane seneng banget rumah udah bersih,rumput2 di bersihin depan rumah..baju ane pun udah pada wangi di setrika ma doi..

Karna ane puas,ane kasih doi uang jajan 50 ribu,dia seneng banget,ane bilang itu di luar gaji dan uang makan..ane kasih dia uang makan karena ane ga pernah makan di rumah,jd di rumah gak pernah masak..

hari2 berlalu,ane emang tidak pernah memandang status orang dari pekerjaannya,walaupun susi adalah pembantu,tp dia sering cerita tentang pribadi,tentang orang tua di kampung dll..
Dari situ ane tau bahwa ortu susi cerai,dan susi di paksa bekerja untuk menghidupi keluarga,ane juga tahu bahwa susi di kampung punya pacar,dan pacarnya itu sering telp tiap hari,susi kadang mengeluh juga karena pacarnya ini sering minjem duit tp ga di bayar..

Ane sering nasihati dia supaya lebih hati2 dalam pacaran,lebih2 cowok kayak gitu..dan dia pun mengangguk..

Kami tiap malam nonton tv bareng,kadang becanda,bahkan ke mall bareng untuk belanja sabun dsb..kadang kalau ane lagi ada duit ane beliin dia baju karen aane tahu bajunya itu2 aja..

skip..

tak terasa sudah 3 bulan susi kerja di rumah,dan kelihatan dia sangat betah,terlihat dari badan dia yg sekarang jd lebih gemuk di banding saat pertama datang..tp hal itulah yg mengganggu pikiran ane..body nya justru bikin ane gusar..toketnya yg dulu kelihatan kecil tp sekarang malah kelihatan nyembul…bokongnya yg dulu biasa aja sekarang jd menarik…haduh…ane pikir bahaya ni..tp ane buang jauh2 perasaan itu..

Diam2 ane suka ngintip dia kalo habis mandi…kadang ane juga curi2 pandangan ke arah pahanya kalau dia lg pake baju daster dan duduk sembarangan…

Suatu hari ane dapet tugas dari kantor untuk mengurus proyek di kalimantan,ane pun harus pergi selama 2 minggu..ane pergi dan sebelumnya ane pamit ke susi berpesan supaya hati2 jaga rumah selama ane pergi..

Di kalimantan ane sms menanyakan kabar,dan ane beranikan untuk sms yg bernada memancing..seperti “km udah mandi belum susi manis?”…dan dia pun membalas dengan “udah aa sayang”…
Dan ane pancing2 dia dengan sms bahwa sebenarnya ane suka ma dia…tp takut di tolak karena susi udah punya cowok..

Tak di sangka susi membalas dengan sms yg sangat mengagetkan “aa kenapa ga bilang,susi juga suka banget ma aa,tp susi takut,susi kan cuma pembantu”..
wah..ini yg ane tunggu…ane tlp dia..dan kita pun ngobrol panjang lebar tentang seringnya ane curi2 pandang…dll…

Ane pun pulang ke Bgr,ane langsung menuju rumah..susi menyambut dengan senyuman malu…ane pun mencubit lengannya..tanda kangen..

Ane beranikan mengajak susi ngobrol malam itu…kami pun ngobrol..tp terlihat sekali susi sangat kaku dan tidak seperti biasanya…ane bertanya “kenpa sus”…”ga apa2 a” susi menjawab..

Ane duduk mendekati susi..dia sangat terlihat gelisah..ane dekatkan bibir ane ke bibir susi..susi sedikit menghindar..tp ane udah pengen banget mencium susi..ane sedikit memaksa dan kami pun berciuman…ane mainkan lidah ane di di bibir susi…kami pun bergumul mesra dengan hangatnya…di temani hujan bibir kami saling bermain…

Malam itu tak terjadi apa2..ane ga ingin buru2 melakukan sesuatu..ane takut susi akan minta pertanggungan jawab bila ane exe dia malam itu..

esok hari nya sepulang kerja ane langsung mandi…kami pun ngobrol..sudah mulai cool…suasananya udah mulai seperti biasa lg..susi nonton tv,ane di sebelahnya,yg berbeda adalah sekarang susi udah berani duduk dekat2 nempel ke ane..

Ane membuka pembicaraan..ane bertanya tentang hubungan susi dengan pacarnya di kampung sejauh apa hubungan yg mereka lakukan..

Susi bercerita bahwa mereka memang sering berciuman..dan susi juga pernah pegang punya cowoknya..begitu pula sebaliknya…sambil berpura2 cemburu aku pun pergi ke kamar..
Susi mengejar ane ke kamar..dia minta maaf..dan bilang bhwa susi masih perawan…
Ane bilang gak percaya…karena blm membuktikannya..kami pun sedikit ngadu argument..dan ane minta pembuktian kalo susi memang masih benar perawan..

Tak di sangkan susi langsung membuka daster yg di pakainya…”susi akan buktikan kalau susi memang masih perawan”..kata susi
“jangan sus,aku ga berani tanggung jawab kalo sampai terjadi sesuatu”ane bilang begitu
“aa ga usah mikirin tanggung jawab,yg penting susi kan buktikan kalau memang susi masih perawn”,susi mendekati ane hanya mengenakan BH dan Celana Dalam…

Ane konak gan…ga tahan..melihat secara langsung apa yg selama ini ane inginkan…oh shit…ane bingung..
di tengah kebingungan ane,bibir susi sudah melumat bibir ane…kita berciuman di pinggir tempat tidur…tangan ane secara replex mulai bergerilya menuju gunung kembar susi…ane ga kuaaaaaat (dalam hati ane menahan nafsu ini)..

Ane terus belai toket susi…ane buka bra yg membungkusnya..ane rebahkan susi di ranjang..susi tersenyumm..oh..

ane mulai melumat pentil susunya…tangan ane mulai bergerilya di paha susi…susi pun melenguh “ohhh”…

tangan ane menuju selangkangan susi…bermain si pinggiran celana dalam yg masih membungkus meki susi..ane terus benjilati puting susu susi yg mulai keras…tangan ane pun membuka celana dalam yg di pkai susi…susi melenguh kembali..”oooohhhh”….

Ane secara cepat membuka celana pendek dan kaos ane…ane pun membuka CD yg ane pakai…

kembali ane lumat bibir susi…tangan ane mulai mengelus pinggiran meki susi…susi pun men desah “aaaaahhhh”…
Tangan ane mulai menyibak meki susi yg di tumbuhi bulu yg tidak terlalu tebal…jari ane menari2 mengelus klitoris susi…susi pun tambah mendesah “AAAAAAHHHH”…

Jari ane bermain2 di bibir lobang meki susi…bibir ane bermain di toketnya…dan tangan susi pun mulai mengelus2 kontol ane yg udah keras n panas…

“aa..punya aa gedee…” susi berbisik..
Ane tersenyum sambil kembali melumat bibir susi dan memainkan jari di mekinya…

Bibir ane pindah ke toketnya….lalu turun menjilati perutnya…dan sampailah di pertigaan selangkangan susi…

Ane buka perlahan belahan paha susi…ane pun mulai merunduk…ane sibak kedua belahan meki susi…dan lidah ane mulai bermain di bibir meki susi…oooh…mantapnya meki perawan…

“AA..AAAAAhhh”..susi mendesah ketika bibir mekinya ane jilati…lidah ane mulai menusuk2 lobang mekinya…dan sekali2 lidah ane bermain di klitoris susi…

“aa”ooooooughhhh…..”..susi mendesah semakin keras…

ane menjilati mekinya -+ 15 menit..ane pun kembali melumat toket susi….pentilanya ane jilati melingkar..jari ane terus bermain di bibir meki susi yg mulai basah di bajiri cairan kenikmatan…

Susi terus mendesah..”ouwgh..aa…ouwgh..aa…”dia memanggil ane dalam desahannya..

Tak menunggu lama,ane siapkan rudal konti ane yg udah keras banget…ane arahkan ke meki susi yg udah basah…ane lebarkan pahanya…ane tempatkan di lobangnya..dan ane tekan pelan2….”aa…ouwgh…”susi mendesah….”aa…sakit”….”ouwgh”…susi sedikit meringis ketika konti ane mulai masuk ke mekinya…konti ane semakin dalam…”aa…sakit…”…”oughwwhhh”..susi mndesah sambil menutup matanya….

Ane cabut pelan2…ane tekan lagi…ane cabut lagi…ane tekan lagi…dan seterusnya….
“owgh..aa…oegh…owgh…ooooooh…”desahan susi semakin terdengar…
Ane pun mengenjot konti ane di mekinya…dan tiba2 keluarlah darah keperawanan dari lobang meki susi….

…ane genjot lagi lebih cepat…darah semakin banyak….ane genjot terus…”aa…sakiiiiiit….owwwuuuuuuuggggghhh”.. .susi mendesah sambil terpejam matanya..
Ane genjot terus…”sabar sayang…bentar lagi sakitnya hilang”…ane menimpali sambil terus menggenjot..
konti ane keluar nasuk di meki susi….sampai darah perawannya tak lagi keluar…

Ane goyang2 di dalam mekinya…ane hujam lebih dalam…”oooooooooooowwwwwwwghhhhhh”…susi menjerit…mekinya semakin licin…menandakan susi udah mendapatkan O…dan ane pun memepercepat genjotan ane….”OOOOOOOOOOOOOOOOOOWWWWWWGGGGGGGGGGGGHHHHHH HHHHHHH”….susi menjerit kenikamatan…susi mencengkeram pundak ane…..tangannya mencakar bokong ane…dan “croooooooot”….ane pun orgasme…..sperma ane memenuhi lobang meki susi….

Ane memeluknya…dan susi pun tersenyum…”percaya kan kalo susi masih perawan?” tanya susi pada ane
“iya aku percaya”…ane pun tersenyum…dan kami pun berpelukan…

Ane minta susi supaya kencing dulu…dan membersihkan mekinya…ane pengen malam ini 5 ronde..hehehe…

kami pun bermain hingga pagi hari…esoknya ane ajak susi ke bidan yg jauh dari rumah ane…ane minta susi untuk KB…susi pun KB suntik…dan kami pun hingga sat ini masih berhubungan..

1 yg membuat ane ga bisa lepas dari susi…mekinya wangi…dan nikmat banget saat di oral…beda dengan bokin ane yg kadang ada bau tak sedapnya…

Ane jd jarang pulang ke bandung,ane malah tiap minggu menghabiskan waktu bermain sex seharian bareng susi…semua gaya udah kami mainkan…bahkan anal sudah kami praktekan…

Susi tak pernah minta ane menikahi dia..karena dia pun tak mungkin memutuskan hubungan dengan pacarnya di kampung yg sudah di jodohkan oleh ortunya…entah sampai kapan kami begini…tp jujur..nikmat sex bukan karena status..tp karena barang…hehehe

Buat agan2 yg suka maen ma pembokatnya,saran dari ane,pembokat juga manusia,yg butuh kasih sayang dan materi,selain gaji 750rb ane kasih tambahan 1 jt perbulan buat susi plus uang jajan 50 rb tiap hari agar meki yg mantap itu di jaga dan di rawat demi kepentingan bersama..dan satu lagi,buatlah komitment agar sang pembokat tidak menuntut anda menikahinya..dan ini adalah hal yg paling penting!!!

Demikian artikel tentang cerita Punya Pembantu Kayak Punya Perek Di Rumah,Ya Ku Gas Pol Memeknya Sampai Ledes.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,