Kisah Gila Tuker Pasangan Istri2 Lonte Dengan Bossku Sendiri.

                                                                    Sisca 

Kisah Gila Tuker Pasangan Istri2 Lonte Dengan Bossku Sendiri.Aku baru kerja 4 bulan di perusahaan asing di Jakarta bos saya namanya Justine yang berasal dari USA umurnya 45 tahun dengan waktu yang cepat kami semua karyawan sudah kenal dekat dengan Mr. Rich biasanya dipanggil seperti itu.

Hobi kita sama yaitu bermain golf perusahaan kami bergerak di bidang advertising katanya teman sekantor istri dari sibos cantik tubuhnya seksi kayak bintang Hollywood, karena aku belum pernah melihat istri si Bos, hanya meilhat fotonya yang terpampang di ruangannya.

Meja kantor saya memang aku desain dengan nyaman dan aku selipkan foto aku dan istriku Siska yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya.

Pada waktu Justine melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Siska dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Justine sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Suatu hari Justine mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.

“Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Siska juga, sekalian makan malam”.

“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

“Okelah!”, kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Siska. Pada mulanya Siska agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Justine dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Siska mau juga pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yang mau didiskusikan”.

“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas.

Kalau melihat Siska, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Justine yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Siska memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun.

Sesampai di Apertemen no.1010, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kira 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.

“Oh Diko dan Siska yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Vely istrinya Justine”.

Ternyata Vely badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Justine. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.

“Hallo Mam.., kenalin, ini Siska istriku”.

Setelah Siska berkenalan dengan Vely, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Justine mengajakku ke teras balkon apartemennya.

“Gini lho Dik.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.

Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.

Senyum Justine segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

“Eh Dik.., gimana Vely menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

“Seksi nggak?”.

“Lha.., ya.., jelas dong”.

“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Vely untuk kamu gimana?”.

Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu.

Sambil masih tersenyum-senyum, Justine melanjutkan, “Nggak ada paksaan kok, aku jamin Siska dan Vely pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada saya.., aman kok!”.

Membayangkan tampang dan badan Vely aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film.

Tapi dilain pihak kalau membayangkan Siska dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Justine telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Siska sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.

Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Justine.

“Kalau Vely sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.

Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Vely itu.

                                                                              Vely

Kemudian lanjut Justine meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

“Nanti minuman Siska aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Justine akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Vely? Wah kalau begitu tidak rela aku.

Aku setuju asal Vely mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Justine cepat-cepat menambahkan, “Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya,

“Oke, nanti kamu duduk di sebelah Vely ya, Siska di sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Justine. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Vely kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar.

Melihat tanda-tanda itu, Justine mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Siska, “Sis.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Siska, Justine segera berdiri, menarik kursi Siska dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah.

Aku ingin mengikuti mereka tapi Vely segera memegang tanganku.

“Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Justine mulai bergerilya di pundak dan punggung Siska, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.

Sementara Siska kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Justine yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Vely kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut.

Terlihat tindakan Justine semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Siska hingga kancing terakhir. BH Siska segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya.

Kelihatan mata Siska terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, “Apakah Siska telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Justine?, atau apakah Siska pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Justine?”.

Siska tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Siska seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Justine dikulitnya dan ciuman nafsu Justinepun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Justine yang sedang duduk di sampingku.

Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Vely, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil.

Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Vely yang mungil itu, “aahh..,aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Justine telah meningkatkan aksinya terhadap Siska, terlihat Siska telah dibuat polos oleh Justine dan terbaring lunglai di sofa.

Badan Siska yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Justine.

Kemudian Justine menarik Siska berdiri, dengan Justine tetap di belakangnya, kedua tangan Justine menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Siska, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka.

Menunjukan Siska menikmati benar permainan dari Justine terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Justine berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Justine meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Siska yang bersandar lemas pada badan Justine, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Vely telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri.

Setelah Vely selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang.

Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Justine, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Vely tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain.

Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Vely kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya.

Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Vely berteriak-teriak keenakan dengan suara keras,

” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Siska terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah,

“Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat Justine pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Siska sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Justine sedang berjongkok diantara kedua paha Siska yang sudah terpentang dengan lebar.

Kepalanya terbenam diantara kedua paha Siska yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Justine sedang mengaduk-aduk kemaluan Siska yang mungil itu. Terlihat badan Siska menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Justine dengan kuat. ‘’

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Vely yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan,

“Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot penisku.

“Aahh.., Dik.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Vely menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme.

Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Justine dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Siska kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Siska bersandar pada sandaran sofa.

Sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Justine. Justine mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Siska yang telah terpentang lebar.

Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Justine yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Terlihat Justine memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Siska yang sudah sedikit terbuka, terlihat Siska dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Justine yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya.

Kedua tangan Siska kelihatan mencoba menahan badan Justine dan badan Siska terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Justine pada bibir vaginanya.

Akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Siska dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Siska, sambil mencium telinga kiri Siska, terdengar Justine berkata perlahan,

“Siss.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Siska hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap kearah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Justine itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Justine, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Siska yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Siska tetap mencoba menahan tekanan badan Justine.

Mungkin, entah karena tusukan penis Justine yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, langsung saja Siska berteriak kecil,

                                                        Sisca Istri Bak Lonte Liar

“Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Siska yang mengangkang itu terlihat menggelinjang.

Kepala penis Justine yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Siska, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Justine, sehingga belahan kemaluan Siska terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Justine itu.

Kedua bibir kemaluan Siska tertekan masuk begitu juga clitoris Siska turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Justine.

Justine menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Siss.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Siss!”

“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.

Siska mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Justine.

“Siiss.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Siska masih merasa sakit”, sahut Justine dan tanpa menunggu jawaban Siska, segera saja Justine melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Siska yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Siska, terlihat muka Siska meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar Justine bertanya lagi, “Siiss.., sakit.., yaa?”, Siska hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Justine dan Justine segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Siska.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya.

Ketika penis Justine telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Siska, terlihat Siska telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Justine.

Akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Justine menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Siska meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar,

Tetapi karena Siska tidak mengeluh maka Justine meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, “Blees”, Justine menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Siska rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Siska, “Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Justine di dalam kemaluannya.

Justine mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Siska sejenak, agar tidak menambah sakit Siska sambil bertanya lagi, “Siiss.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”

Siska dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, “aagghh.., sakit!”, lalu Justine mencium wajah Siska dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Justine bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Siska dalam pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Siska bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang, “Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Siska bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Justine, Siska mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan.

Selang sesaat badan Siska terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Justine yang masih tetap berayun-ayun itu.

Aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

“Dik.., ayo aku mau kamu”, suara Vely penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Vely sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Vely masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Vely pada saat rudalku hendak menerobos masuk.

“Ly., kok masih rapet yahh”. Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. “Aagghh”, mata Vely terpejam, sementara bibirnya digigit.

Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Vely setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

“Ahh.., ahh”, Vely makin keras teriakannya.

“Ayo Dik.., terus”.

“Enakk.., eemm.., mm!”.

Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Ly.., boleh di dalam..,yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

“mm..”. Kaki Vely kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Vely juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya

“Nih.., Ly.., terima yaa”.

                                              Vely Istri Boss Yang Ga Kalah Lonte

Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Vely dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Vely.

Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Vely, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Vely, tiba-tiba badan Vely bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Vely juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami.

Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Vely. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping Vely.

Kini kami menyaksikan bagaimana Justine sedang mempermainkan Siska, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Justine, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Dia membantu kepala Siska bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Siska. Kelihatan Siska telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Justine, hal ini dilakukan Justine kurang lebih 5 menit lamanya.

Justine kemudian berdiri dan mengangkat Siska, sambil berdiri Justine memeluk badan Siska erat-erat.

Kelihatan tubuh Siska terkulai lemas dalam pelukan Justine yang ketat itu. Tubuh Siska digendong sambil kedua kaki Siska melingkar pada perut Justine dan langsung Justine memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Siska.

Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Siska terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Justine menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Siska terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Justine.

Kaki Siska terlihat merangkul pinggang Justine, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Justine. Justine berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Siska. Pantat Siska terlihat merekah dan tiba-tiba Justine memasukkan jarinya ke lubang pantat Siska.

“Ooohh!”. Mendapat serangan yang demikian serunya dari Justine, badan Siska terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Justine. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

Ketika Justine merasa capai, Siska diturunkan dan Justine duduk pada sofa. Siska diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Siska terkangkang di samping paha Justine dan Justine memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Siska dari bawah.

Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Justine memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Siska yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Justine menyentuh paha Siska.

Kedua tangan Justine memegang pinggang Siska dan membantu Siska memompa penis Justine secara teratur, setiap kali penis Justine masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Justine. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian Justine mendorong Siska tertelungkup pada sofa dengan pantat Siska agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Justine akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling disukai oleh Siska.

Dari belakang pantat Siska, Justine menempatkan penisnya diantara belahan pantat Siska dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Siska dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Siska.

Jari jempol tangan kiri Justine dimasukkan ke dalam lubang pantat. Siska setengah berteriak, “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Justine yang dahsyat itu. Badan Siska dicoba ditarik ke depan, tapi Justine tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Siska dan mengikuti arah badan Siska bergerak.

Siska benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan, “Ooohhmm.., aaduhh!”. Justine mencapai payudara Siska dan mulai meremas-remasnya.

Tak lama kemudian badan Siska bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, “Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Siska mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Justine mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Siska, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Siska dari belakang.

Sementara badan Siska bergetar-getar dalam orgasmenya, Justine sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Siska, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Siska ikut berputar-putar mengebor liang vagina Siska sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Siska agak tenang, Justine mencabut penisnya dan menjilat vagina Siska dari belakang.

Vagina Siska dibersihkan oleh lidah Justine. Kemudian badan Siska dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Justine memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Siska ikut aktif membantu memasukkan penis Justine ke vaginanya.

Kaki Siska diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Justine. Justine terus menerus memompa vagina Siska.

Badan Siska yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Justine, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Justine.

Kadang-kadang terlihat tangan Siska meraba dan meremas pantat Justine, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Justine.

Gerakan pantat Justine bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Siska, tiba-tiba, “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak,

Justine menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Siska ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Siska.

Justine terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan.

Mulai saat ini Justine mengerjai Siska dengan sangat brutal dan kasar. Siska benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Justine menyakiti Siska, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Siska ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Siska atas apa yang dilakukan oleh Justine terhadapnya.

Justine mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Siska berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Siska ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Siska sambil memegang belakang kepala Siska.

Pantat Justine terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Siska, sambil kedua tangannya mendekap badan Siska erat-erat. Dari mulut Siska terdengar suara keluhan, “Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Justine kemudian merebahkan diri di atas badan Siska yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Siska. Siska melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat.

Aku tidak bisa melihat ekspresi Justine karena terhalang olah tubuh Siska. Yang jelas dari sela-sela selangkangan Siska mengalir cairan mani. Kemudian Siskapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Justine dengan mulutnya, itu membuat Justine mengelinjang keenakan.

Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.

Demikian artikel tentang cerita Kisah Gila Tuker Pasangan Istri2 Lonte Dengan Bossku Sendiri.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Kusikat Miring Miring Lobang Sempit Penjaga Toko Bohay Liar Bak Pelacur.

Main Dengan Penjaga Toko Yang Bohay 1

Kusikat Miring Miring Lobang Sempit Penjaga Toko Bohay Liar Bak Pelacur.Rumah kontrakan yang ku tempati terletak di daerah dekat pasar, walaupun jarak dari kontrakanku ke pasar memang agak jauh kalau berjalan kaki tetapi aku tidak risau. Karena aku pergi ke pasar hanya sesekali sewaktu membeli kebutuhan dapur. Setiap kali aku ke pasar, aku akan berjalan kaki saja dan aku jarang membeli banyak barang.

Di pasar itu, aku sering mengunjungi sebuah kios sedang yang menjual berbagai jenis keperluan dapur. Aku bukan saja dapat membeli semua barang-barang yang aku perlukan, malah aku juga berpeluang untuk berkenalan dengan seorang wanita yang aku taksir berumur lebih kurang 37 tahun. Namanya Ani.

Dia adalah isteri tuan pemilik kios itu. Aku memanggilnya Kak Ani. Dia memang baik dengan ku. Beberapa kali aku mendapat potongan harga dan barang gratis. Ketika dia mengetahui bahwasanya aku bekerja sebagai seorang guru, dia bertambah baik dengan ku. Kebetulan juga anak bungsunya bersekolah di sekolah tempat aku mengajar.

Kak Ani memang ramah, sesuai dengan kerjanya sebagai pemilik kios kebutuhan sehari-hari. Bertubuh agak ramping dan berpostur sekitar 160 cm tingginya. Dia memiliki mata yang jernih dan berkulit cerah. Rambut hitamnya ikal dan panjang melewati bahu. Kak Ani gemar berpakaian ketat terutama di bagian atas tubuhnya.

Kadang-kadang aku merasa gemas apabila terlihat alur di celah dadanya. Beberapa kali Kak Ani “menangkap” aku yang sedang melihat ke dadanya tetapi dia tidak pernah memarahi ku. Malah dia tersenyum. Aku yang salah tingkah jadinya.

Di kios itu juga ada seorang pekerja wanita yang bernama Ina. Dia seorang ibu single parent dan telah lama bekerja di kios itu. Aku tidak pasti berapa umurnya. Mungkin dalam sekitaran 25 tahun ke atas. Aku tidak pernah menanyakan perkara itu pada Ina. Sejak kali pertama aku berbelanja di kios itu, aku mulai tertarik padanya.

Setidaknya, Ina memiliki potongan badan yang cukup menggiurkan dan wajah yang manis. Tingginya hanya sebatas hidung ku. Tubuhnya berisi tetapi tidak gemuk. Bokongnya lebar dan kelihatan padat sekali. Dadanya pun montok sekali. Aku sering memerhatikan Ina setiap kali aku datang ke kedai itu.

Setelah sebulan aku yang bernama Lukman dengan usia 26 bertugas di sekolah itu, aku sudah dapat menyesuaikan diri. Aku sudah dapat menjalani latihan tanpa merasa kikuk hasil bimbingan dari guru mentorku dan guru-guru lain. Aku juga sudah dapat menyesuaikan diri tinggal di dekat pasar itu. Aku sering pergi berjoging atau memancing ikan di sebuah kolam pemancingan yang terletak tidak jauh dari rumah ku.

Kisah pertualanganku bermula pada bulan kedua aku berada di tempat itu. Setelah mendapat kesan yang ramah pada bulan pertama, aku pun berkunjung ke kios Kak Ani untuk membeli keperluan dapur ku yang kebanyakannya sudah habis. Ketika itu aku tidak mengajar karena hari itu libur nasional.

Seperti biasa, Ina membantu aku mencari dan memilih barang-barang yang aku perlukan. Sempat juga aku melirik ke arah dada Ina ketika dia tunduk mengambil barang.

“Besar banget!” Aku sempat mengusiknya.

“Apanya yang besar?” tanyanya agak keheranan.

“Itu, dadanya mbak” Aku memonyongkan bibirku, menunjuk ke arah dadanya.

“Ganjen!” Ina coba mencubit perutku tetapi aku mengelak.

“Kenapa? Belum pernah ngeliat yang besar?”

“Belum.” Aku berbohong.

“Bohong! Orang macam kamu mana mungkin tak pernah ngeliat!”

“Betul, saya gak pernah lihat kok”

“Yang tadi tuh apa?”

“Yang tadi gak keitung lah. Baru ngintip sebagian aja!”

“Terus, mau lihat semuanya Toh?”

“Kalau dikasih lihat, saya mau kok. Hehehe..”

“Ganjen juga kamu ya?”

Setelah selesai memilih barang-barang, aku membawanya ke counter bayar. Agak terkejut juga aku saat melihat jumlah barang-barang ku yang agak banyak. Aku sempat berniat untuk mengembalikan barang-barang yang aku rasakan bisa dibeli lain kali tetapi aku segan karena semuanya sudah berada di atas counter. Mau tak mau, aku terpaksa membayar untuk kesemuanya.

Mungkin setelah melihat aku bersusah payah mengangkat barang-barang itu, Kak Ani segera menegurku.

“Pak guru, gimana mau bawa barang-barang tu? Kan banyak banget tuh?”

“Pikul sendiri saja lah, kak. Mau bagaimana lagi?”

“Pak guru, tunggu bentar, ok? Nanti kakak tolong antar pak guru pulang”

“Eh, tak usah lah, kak. Menyusahkan saja”

“Tak apa… Kakak sekalian mau jemput anak kakak dari sekolahan. Dia kan ikut latihan olahraga? Kkak hantar dulu pak guru. Habis itu pergi jemput dia.”

“Kalau gitu, ok lah.”

Aku menunggu lebih kurang 15 minit sebelum Kak Ani mengajak aku ke mobil Pajeronya. Aku meletakkan barang-barang ku di tempat bagasi dan kemudian duduk di sebelah Kak Ani. Ada perasaan bangga juga karena dapat naik mobil macam itu. Mobil Kak Ani pun meluncur menuju ke jalan utama.

“Pak guru tinggal dimana?” tanya Kak Ani.

“Rumah kontrakan Kahuripan yang di atas bukit tu. Kakak lewat jalan belakang pasar aja.”

“Bagus gak tempatnya, pak guru? Setahu kakak, tempat tu penuh dengan macam-macam jenis orang. Perempuan kelab malam banyak yang tinggal di tempat itu.”

“Mereka tinggal di sebelah belakang. Rumah saya yang dekat dengan jalan raya. Saya ini gak seberapa gajinya, kak. Mana lah mampu buat sewa tempat yang mewah dikit. Tempat itu aja yang saya mampu.”

“Tak apa lah, pak guru. Tak lama lagi kan bapak diangkat jadi pengajar resmi iya toh?”

“Iya. Cuma tinggal 2 bulan. Tapi sekolahannya bagus kan kak?

“Bagus”

“Apalagi disini bisa cuci mata tiap hari.”

“Ngelihatin cewek pasti yah!”

“Dikasih lihat ya dilihat dong kak. Hehehe”

Perbincangan kami bergeser hingga ke perkara yang agak peribadi. Pada mulanya aku merasa agak janggal juga tetapi melihat Kak Ani yang cuek, aku kemudian tidak lagi merasa begitu.

“Pak guru pernah gak pergi dengan perempuan-perempuan kelab malam itu?”

“Maksudnya kak?

“Ya gitu, ikut mereka ke kelab malam. Lalu…”

“Lalu… apa?”

“Tidur dengan salah seorang dari mereka?”

“Oh… itu. Gak pernah kok, kak. Mana ada saya ada duit buat bayar dia.

Bermula dari situ Kak Ani banyak menanyai aku. Seperti sebelumnya, kebanyakan pertanyaan Kak Ani bersifat peribadi tetapi aku tidak sungkan menjawabnya. Biarlah. Terlebih aku menganggap semuanya sekadar hal sepele biasa.

“Anda punya pacar tidak, pak guru?” tanyanya lagi.

“Dulu ada, masa awal kuliah. Sekarang udah gak ada.”

“Emang kenapa putusnya?”

“Gak cocok kak, jadi udahan”

“Pak guru pernah kelonin dia tidak?

“Dengan dia sih belum tapi sebelum dengan dia, memang saya pernah tidur dengan perempuan.”

“Betulkah itu, pak guru?”

“Betul. Waktu tu memang mikirnya perempuan melulu. Kami sama-sama suka, jadi puas melakukannya.”

“Lalu sekarang bagaimana?”

“Entahlah, kak. Saya belum kepikiran lagi, tapi kalau ada yang mau ke saya, ya saya embat”

Karena Kak Ani yang lebih banyak menanyaiku, aku mulai merasa tak enak. Kemudian aku memutuskan untuk bertanya apa saja yang terlintas di pikiran ku kepada dia.

“Kakak ini, banyak nanya banget. Kakak sendiri gimana?”

“Apanya yang gimana?”

“Begini loh kak, Saya belum pernah ngelihat suami kakak.”

“Suami kakak?” Kak Ani segera memotong kata-kata ku.

“Suami kakak jarang ada disini. Kios itu pun kakak seorang aja yang urusi”

“Dia kemana, kak?”

“Sejak dia kawin lagi, dia jarang datengin kakak. Lagian, dia udah buka kios baru di kota isteri mudanya”

“Begitu rupanya. Kakak gak cemburu, suami kakak asyik dengan isteri mudanya?”

“Mulanya cemburu juga tapi sekarang udah nggak. Kakak pun sebenarnya udah gak ngurusin dia mau apa kek.”

“Kenapa kok gitu?”

“Dia kan udah punya bini muda. Kakak ni udah gak diperhatiin lagi. Maklumlah udah tua. Udah gak nikmat lagi mungkin.”

“Yang tu saya gak bisa komen apa-apa. Itu urusan pribadi kakak dan suami. Tapi pada pandangan saya, kakak ni masih muda juga, masih menawan lagi. Saya heran juga kenapa suami kakak perlakukan kakak begitu.”

“Entahlah, pak guru. Segala cara udah kakak usahakan tapi gak ada hasil. Kalau ada pun cuma sebentar. Habis itu dia balik lagi dengan sikapnya semula. Kakak udah gak sanggup lagi.”

“Boleh saya tanya satu masalah pribadi, kak?

“Soal apaan sih?”

“Kakak udah lama gak bareng dengan suami?

“Tidur dengan dia?”

Aku mengangguk. Kak Ani terdiam sejenak sambil tangannya memegangi stir mobilnya. Aku menyimak seksama wajahnya yang jelita seperti tidak dimakan usia itu. Memang tidak sepadan dengan usianya.

“Kalau soal tidur di rumah kakak sih, memang setiap kali dia pulang ke rumah kakak kadang-kadang dia tidur di sofa ruang tamu. Tapi kalau menyentuh saya dan membuat hubungan suami-isteri memang udah lama enggak. Kakak udah tak ingat kapan kali terakhir dia sentuh kakak.”

Aku terus memperhatikan wajah Kak Ani. Ada raut kecewa di wajahnya. Dahinya sesekali berkerut. Timbul rasa bersalahku kerana menanyai Kak Ani soal itu.

“Sorry, kak, saya tanyain soal itu tadi.”

“Eh… gak apa kok. Kakak gak masalah. Harusnya kakak berterima kasih pada pak guru. “Emangnya kenapa?” Aku kebingungan.

“Udah lama sekali kakak pendam rasa kecewa kakak ini. Untungnya ada pak guru. Bisa curhatin isi hati kakak.”

“Itulah gunanya teman, kak.”

Kak Ani berpaling kepada ku lalu tersenyum manis. Kami terus mengobrol lagi dan tidak lama kemudian, kami tiba di luar rumah kontrakan ku. Sebelum meninggalkan rumah sewa ku, Kak Ani sempat bertanya sesuatu kepada ku.

“Pak guru, tunggu bentar ya!

“Ada apa, kak?”

“Akhir pekan ini pak guru senggang gak?”

“Rasanya sih begitu, kak. Kenapa?”

“Kakak mau pergi ke kota Y weekend ini. Saja mau shopping. Kakak udah lama gak pergi jalan-jalan. Pak guru bisa temenin kakak, gak?

Aku pura-pura berfikir sejenak walaupun sebenarnya aku memang ingin sekali menemaninya. Siapa yang bakal menolak ajakan dari wanita yang menawan seperti wanita di hadapan ku itu? Kak Ani menjadi tidak sabar karena aku begitu lama memberi jawaban.

“Ayolah, Pak guru bisakan temani belanja, ok?

“O.K..no problem! Tapi cuman temani kakak belanja aja yah”

“Gitu dong, pak guru. Nanti kakak kasih tau pas kita mau pergi.”

Aku mengangguk tanda paham. Kak Ani kelihatan gembira. Setelah Kak Ani pergi, aku pun mengangkat barang-barang yang aku beli tadi masuk ke dalam rumah.

Pada waktu sore di hari yang sama, aku seperti biasanya duduk di depan pintu rumah kontrakan ku sambil membaca. Memang itu lah kebiasaan ku jika aku tidak pergi berjoging. Sore itu agak mendung menandakan hari akan hujan. Aku segera mengangkat pakaian yang ku jemur ke dalam rumah. Kemudian aku kembali membaca majalah kegemaran ku.

Sedang asyik membaca, tiba-tiba aku disapa oleh seseorang. Aku mendengar suara perempuan. Aku mengangkat muka ku dan menoleh pada sosok seorang perempuan yang sedang mendorong sepedanya ke arah ku. Dia tersenyum manis. Di belakangnya terpasang sebuah tas.

“Mbak Ina! mau apa ke sini?” Aku agak terkejut melihat kehadiran Ina di tempat ku.

“Ina emang suka lewat sini kok.”

“Memangnya Ina tinggal dimana, lewat sini?”

“Ina menyewa kontrakan di kampung bawah. Tadi Ina pergi ke rumah saudara Ina. Ina awalnya ingin numpang bermalam disana tapi dia tidak ada di rumahnya. Lalu lewat sini, Ina ngelihat Lukman duduk di depan”

“Mau kemana sekarang mbak?”; tanya ku lagi.

“Mau pulanglah, tapi Ina mau mampir sini dulu. Kawan-kawan Ina pergi ke kota Y pagi tadi. Ina cuma sendirian di rumah. Ina malas mau pulang duluan. Boleh Ina numpang sebentar?”

“Silakan duduk”; Aku menjemput Ina duduk di atas bangku panjang yang terletak di tepi pintu. Ina sempat menolehkan kepalanya ke dalam rumah ku dari luar.

“O.K juga tempat tinggalnya Lukman ini. Tapi apa gak takut tinggal seorang diri dalam rumah? Cuma rumah ini aja di depan jalan ini , lainnya di belakang”

“Tak ada yang mesti ditakutkan. Lagian juga dekat dengan rumah pemiliknya.”

Belum juga lama kami berbincang, hujan mulai turun dengan lebat sekali disertai dengan angin yang kuat. Aku segera mengajak Ina masuk ke dalam rumah dan menutup pintu seta jendela. Bunyi hujan jatuh menimpa atap seng rumah kontrakan itu begitu keras sekali sehingga kami terpaksa mengobrol dengan suara yang keras juga.

Sambil menunggu hujan reda, kami kembali mengobrol. Sebelum itu, aku masukkan sepeda Ina ke dalam rumah khawatir akan dicuri orang. Banyak hal yang kami obrolkan hingga tidak terasa waktu berlalu. Aku sempat membuka jendela dan melihat ke luar rumah.

Tidak ada tanda-tanda hujan akan reda karena masih lebat meski tidak lagi disertai angin yang kuat. Suasana juga sudah mulai gelap. Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 6 malam. Perutku berbunyi menandakan ia perlu diisi segera.

“Mbak Ina, saya mau makan dulu nih. Ayolah kita sama-sama makan.” Aku mengajak Ina.

“Eh, gak usah lah, Man. Ina bisa makan di rumah nanti.”

“Gimana mau makan? Mau pulang juga belum tentu bisa. Kalau mau pulang pun gak akan saya bolehin.”

“Emang kenapa?”

“Lihat aja diluar. Hujan lebat. Sudah gelap gulita pula. Kalau terjadi apa-apa diluar, mbak juga yang susah. Sudahlah mbak biar bermalam disini saja. Besok pagi baru pulang”

“Bener gak papa gitu, Man?”

“Emangnya saya suka ngebohong..”

“Ina takut ih..” Ina memandang ku sambil tersenyum manja.

“Kalau pulang malam, takutnya ada apa-apa”

“Baiklah, baiklah”

“Sudahlah, Mbak Ina bermalam disini saja. Mbak jangan cemas. Saya mau siapin makanan dulu.”

Aku bangun meninggalkan Ina menuju dapur. Ina juga bangun lalu mengikuti ku. Aku memanaskan kembali makanan yang telah aku masak pada siang tadi. Ina membantu aku menyajikan makanan.

Setelah itu kami makan bersama. Aku agak bernafsu makan kerana makan ditemani pada malam itu. Sambil makan, kami mengobrol tetapi kami lebih banyak mengobrol tentang makanan.

Selesai makan, kami membereskan meja makan. Ina mencuci wadah di wastafel sementara aku membersihkan meja. Kemudian kami kembali duduk di ruang tamu. Ina kelihatan agak kikuk berada dalam kontrakan ku itu. Maklumlah rumah orang. Dia duduk di hadapan TV sambil menjelajahi timbunan majalah dan buku-buku cerita yang disusun di atas rak di bawah TV.

“Banyak juga koleksimu, Man. Boleh Ina pinjam kan?”

“Ambil aja. Saya udah baca semua. Eh, saya mandi dulu ya, Mbak. Duduk sini saja ya.. Baca buku yang mbak suka.”

Aku meninggalkan Ina di situ, mengambil kain handuk dan bergegas ke kamar mandi. Aku tidak berniat untuk mandi lama-lama karena tubuh ku tidak terasa gerah. Sambil mandi, aku membasuh pakaian kotor ku. Lebih kurang 20 menit kemudian, aku selesai mandi dan berpakaian. Kemudian, aku pergi mendapatkan Ina di ruang tamu.

“Mbak Ina, gak mandi?”

“Bentar lagi” Jawabnya pendek sambil membaca sebuah buku.

Aku melihat judul buku yang sedang dibacanya. Buku itu berisikan koleksi cerita-cerita erotis. Aku tersenyum sendirian. Nampaknya Ina sedang khusyuk membaca. Dia menyandar pada dinding. Aku tidak berniat mau mengganggunya.

Aku mengambil tas kerja ku dan mengeluarkan isinya. Persediaan untuk mengajar pada esok hari masih belum aku selesaikan. Aku mulai menyiapkannya termasuk alat-alat media mengajar. Sesekali aku melirik ke arah Ina yang kerap mengubah cara duduknya.

Setelan kerjaan mengajarku siap, aku memasak air di dapur karena aku ingin bikin kopi panas. Setelah air itu mendidih, aku menyediakan segelas kopi. Kemudian aku kembali ke ruang tamu untuk menonton TV. Aku menghidupkan TV dan duduk merentangkan kaki di depannya. Ina masih membaca. Tiba-tiba Ina bersuara.

“Ina mau mandi dulu.” Katanya lalu berdiri.

“Mbak bawa handuk?” tanyaku.

“Bawa. Ina ada bawa pakaian juga. Tadi kan Ina mau bermalam di rumah saudara Ina itu.” Jawab Ina sambil berlalu ke kamar mandi.

Aku tersenyum sendirian. Aku yakin sekarang Ina sedang mengalami desakan birahi setelah membaca buku itu tadi. Hanya orang yang tidak normal saja yang tidak terusik nafsunya bila membaca cerita-cerita erotis seperti dalam kisah di buku itu.

Apalagi Ina mungkin sudah lama tidak disentuh lelaki. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di antara kami pada malam itu tetapi aku pasti tidak akan menolak untuk melalui malam yang penuh kenikmatan dan kehangatan bersama dengan wanita yang menggiurkan itu.

Siaran berita di TV mengejutkan aku dari lamunan. Aku kembali perhatikan layar TV di hadapan ku. Seketika kemudian aku terdengar pintu kamar mandi dibuka. Ina pasti sudah selesai mandi. Aku menoleh ke belakang dan melihat Ina sedang berdiri sambil mengeringkan rambutnya.

Dia mengenakan celana stretch selutut dan T-shirt putih yang agak kecil ukurannya sehingga dadanya kelihatan menonjol ke depan. Apabila bajunya terangkat ke atas sedikit, aku dapat melihat bentuk kelamin nya yang aduhaii, begitu tembem sekali. Aku menelan air liur kerana sangat bernafsu melihat pemandangan itu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ku ke arah TV kembali.

Ina beralih dari belakang dan duduk bersimpuh di sebelah ku. Aku tercium bau wangi dari tubuhnya. Dia masih mengeringkan rambutnya. Kemudian dia mengambil kembali buku yang dibacanya tadi dan membuka halamannya.

“Belum selesai baca toh?” tanyaku.

“Belum, tinggal dikit lagi.”

“Bagus gak ceritanya?”

“Lumayan, Emangnya Lukman doyan baca tulisan kaya gini yah?”

“Enggak juga sih. Kadang-kadang aja. Kalau pergi ke toko buku, saya memang suka beli 2 atau 3. Kalau mau, Mbak bawa saja yang mbak suka pulang ke rumah besok. Itu masih ada lagi di rak.”

“Nantilah Ina pilih. Ina baca yang ini habis dulu.” Ina menyambung bacaannya dan aku kembali menonton. Belum pun lama duduk, Ina mengubah kedudukannya. Dia rebahan tengkurap sambil menyangga tubuhnya dengan siku tetapi tidak lama. Mungkin dia tidak begitu nyaman.

“Ina pinjam bantal boleh gak? Ina gak enak dengan lantai semen ni. Keras!”

“Ambil saja sendiri di kamar itu.”

Ina segera bangun untuk mengambil bantal. Kemudian dia kembali dan merebahkan diri lagi di sebelah kananku. Aku melirik ke arahnya. Aku memperhatikan bagian belakang tubuhnya dari kepala sehingga ke bokongnya. Aku pastikan Ina tidak memakai bra kerana aku tidak dapat melihat cetakan bra nya di balik bajunya itu. Hingga membayang bentuk puting buah dadanya kelihatan di dadanya

Semakin lama aku melihat pemandangan itu, semakin bernafsu pula aku. Aku merasa sukar untuk tetap menyimak acara di TV. Pikiranku sudah mulai melayang jauh. Aku mulai membayangkan suatu kenikmatan.

Lama aku memikirkan bagaimana caranya aku dapat “menawan” wanita di sebelahku itu dan membawanya ke dalam pelukan ku. Aku memutuskan untuk mencoba apa saja cara yang aku bisa pikirkan sehingga wanita itu dengan rela menyerahkan dirinya kepadaku. Jika berhasil, malam itu pastinya akan dipenuhi dengan kenikmatan yang tiada taranya.

Aku sudah nekad. Aku harus melakukan sesuatu. Apa yang terjadi, terjadilah. Aku melirik kearah Ina lagi sambil mengubah cara duduk ku bersila.

“Heyy” aku menyenggol bahu kiri Ina dengan lenganku. Aku menunduk lalu mendekatkan wajah ku ke sisi kiri kepalanya.

“Khusyu banget bacanya… sampai gak peduli dengan saya!” Aku coba menarik perhatiannya tetapi Ina tidak berkata apa-apa. Ina hanya tersenyum sedikit. Tanpa disengaja, tangan kanan ku merangkul bahu kanan Ina.

“Jangan terlalu serius, Nanti nafsu naik, Kalau naik nanti, Mbak juga yang susah..” usik ku separuh berbisik.

Perhatian Ina pada buku mungkin sudah sedikit beralih sehabis menerima gangguan ku. Aku terus menundukkan kepala sambil coba memandang terus wajahnya. Tiba-tiba senyumannya melebar. Ina mengangkat buku yang dipegangnya lalu menutup mukanya. Agaknya dia merasa malu. Aku tersenyum juga ketika melihat gelagatnya itu.

“Eee, macem-macem banget sih kamu! Ina lagi baca nih!” Suaranya dibuat-buat galak tetapi malah kedengaran begitu manja sekali.

“Mbak baca saja. Saya gak akan ganggu” Kataku sambil menepuk-nepuk belakang bahunya.

Aku tidak mengangkat tangan ku dari punggung Ina malah terus menepuk-nepuk lembut di situ. Aku melihat ke arah TV kembali. Pada saat yang sama, aku meneruskan aktivitas tangan ku. Sesekali aku menggosok-gosok dengan perlahan. Ina pun tidak coba menghalangi aku berbuat demikian. Walaupun aku memang ingin merasai kenikmatan tubuh Ina ketika itu, aku tidak mau tergesa-gesa. Aku tidak mau Ina merasa tidak senang atau ketakutan jika aku terlalu berani.

Untuk sesaat kami langsung tidak bersuara. Yang kedengaran hanyalah suara dari TV. Dalam momen itu Ina mengubah posisinya beberapa kali. Sebentar tengkurap, sebentar berbaring terlentang dan sebentar kemudian dia berbaring miring.

Aku tidak tahu pasti apakah dia merasa lelah atau malah dia sudah dikuasai nafsu akibat membaca cerita-cerita erotis itu. Melihat pergerakan-pergerakan yang dibuat oleh Ina itu, aku mengalihkan perhatian ku kembali kepadanya. Aku merangkul bahu kanan Ina lagi ketika dia telungkup di sebelah ku kembali.

“Mbak Ina, kenapa sih? Kayaknya ga nyaman? Sebentar-bentar baring, sebentar-bentar tiarap?”

“Capek”, Jawabnya pendek.

“Masa iya? Jangan-jangan udah kena pengaruh cerita tuh…” Aku coba mengusiknya lagi dengan harapan ia akan membuka ruang untuk aku “menawannya”.

Ina tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Aku merasa lega dan keyakinan ku mulai muncul. Kalau tepat caranya, pasti wanita itu akan dapat ku tawan. Aku memberanikan diri untuk merangkulnya sambil berbisik kepadanya.

“Sudah lah mbak. Jangan baca terus. Nanti basah tuh di bawahnya.”

“Memang udah basah, kali” Ina menjawabku.

Aku tidak menduga Ina akan berkata begitu tetapi hati ku melonjak kegembiraan. Ingin rasanya aku menerkam wanita itu ketika itu juga tetapi aku tetap tidak mau tergesa-gesa. Aku kembali meletakkan tangan ku pada punggung Ina.

“Mbak Ina, mbak gak pakai bra ya?” Entah kenapa aku keceplosan hingga pertanyaan itu keluar dari mulutku.

“Nggak..Ina memang biasa gak pakai bra kalau tidur malam.”

“Pantesan putingnya keliatan nonjol…”

“Lukman perhatiin puting Ina ya?”

“Iya… bentuknya kayaknya besar tuh.”

Ina mendongak ke arah ku saat mendengar kata-kataku. Aku terkaget tai berusaha rileks saja. Aku semakin yakin telah berhasil menarik perhatian Ina.

“Menurut Lukman puting Ina besar?”

“Mana saya tau… Belum pernah saya lihat. Saya cuma lihat bentuknya dibalik baju mbak aja.

Eh mbak gak bagus loh perempuan tengkurep kayak gitu.”

“Emang kenapa?”

“Kata orang, tengkurep begitu bisa bikin buah dada perempuan menggelayut dan kelihatan penyek apalagi yang berdada besar kayak mbak.”

“Ah, masa iya sih?”

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak pasti apa Ina termakan kata-kata ku atau tidak tetapi dia segera bangkit dari tengkurap. Kupikir dia hendak duduk tetapi dia ternyata memilih berbaring. Aku agak kecewa karena tidak berpeluang untuk merangkulnya lagi apabila dia berbaring begitu.

Kemudian dia bersuara, “Sesekali tengkurap gakkan bikin dada Ina terus jadi begitu.”

“Jangan marah, Saya cuma kasih tau apa yang saya dengar dari orang.”

“Ina gak marah… cuma bete.. Udah dibilang puting Ina besar. Habis itu dikatain dada Ina menggelayut.”

“Alaaa, jangan gitu dong mbak. Saya gak pandai ngerayu orang. Sorry..sorry..ok?” Ina memanyunkan bibirnya. Aku tahu dia cuma pura-pura kesal tetapi aku hadapi juga perangainya itu. Perempuan memang suka bila kita menunjukkan bahwa kita sanggup hadapi ulah mereka..

“Jangan bete lagi… ok? Sini… saya cium sedikit pipi nya…” kataku lalu menunduk mengecup lembut pipi kanan Ina. Dia tidak coba mengelak atau mencegah ku. Ia bagaikan lampu hijau untuk meneruskan apa yang aku ingin lakukan seterusnya.

Untuk menghangatkan suasana yang semakin mesra itu, aku coba bergurau dan mengusik Ina. Dia masih memegang buku yang dibacanya tetapi aku yakin dia tidak membacanya sepenuh perhatian. Mungkin dia sedang menanti apa yang akan aku lakukan seterusnya. Tangan kanan ku memang sedari tadi sudah berada di tepi perutnya setelah aku mencium pipinya.

“Mbak Ina, apa iya dada mbak Ina gak menggelayut?” aku bertanya sekadar bergurau. Ina tiba-tiba mencubit rusuk kanan ku. Aku segera menangkap tangannya dan terus ku genggam erat. Aku tidak mau melepaskannya dengan alasan aku tidak mau kena cubit lagi. Ina tidak memprotes.

“Eh, jawab dong mbak..”

“Enggak kok, kalo Ina lihat sih masih kenceng” jawabnya tanpa memandang ku.

“Biar gak ngegelayut digimanain sih mbak?”

“Ina pakai cream.”

“Cream apaan sih?”

“Ya gitu cream pengencang dan penguat otot-otot payudara.”

“Bukan cream untuk membesarkan payudara?”

“Ngapain mau dibesarkan lagi. Udah cukup besar juga!”

“Oh, ngefek gak produk nya?”

“Entah lah tapi kayaknya sih ada efeknya juga.”

Aku menjadi tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang cream itu. Sebelum itu aku pernah mendengar tentang cream seperti itu tetapi tidak pernah sekalipun aku melihat sendiri bentuknya maupun efek pemakaiannya.

“Mbak pakai cream itu tiap hari?”

“Iya… rugi dong kalau gak dipakai, Udah harganya mahal.”

“Mbak make creamnya kapan?”

“Waktu malam sebelum tidur. Olesin dan urut aja.”

“Mbak udah make creamnya tadi?”

“Belum sih”

“Mbak bawa cream itu?”

“Bawa, di tas tuh. Lukman mau ngapain dengan benda tu? Mau make juga? Hehehe”

“Hisshhh! Saya mau lihat doang kok mbak”

Tanpa disuruh, Ina terus bangun dan pergi mengambil cream itu. Kemudian dia kembali dan memberikan cream itu kepada ku. Ina berbaring kembali. Aku memperhatikan wadah cream itu. Sempat juga aku mencium aroma cream itu.

“Harum” kata ku.”Makenya gimana nih mbak?” tanya ku kemudian.

“Oles dan urut. Kan tadi Ina dah bilang?”

“Iya, tapi mau olesin dan urutnya dimana?”

Ina tertawa terkikik. Aku menjadi gemas saat melihatnya ketawa begitu. Tubuhnya bergoncang saat dia tertawa. Buah dadanya yang montok itu pun turut bergoncang.

“Olesin pangkal payudara… dan urut lebih kurang 10 menit hingga cream itu menyerap ke dalam kulit dan kering.” Jelasnya.

“Hmm, tadi mbak bilang mbak Ina belum ngolesin cream ini kan?”

“Iya, emang kenapa?”

“Saya oles dan urut creamnya untuk mbak boleh gak?”

“Hisshhh, gak mau ah!”

“Emang kenapa?”

“Ina malu, kalau kamu lihat tubuh Ina!”

“Laah, kenapa mesti malu? Cuma saya sendiri yang lihat kok. Lagian, bukannya saya udah lihat tadi sore. Masa mbak lupa yang di kios?”

“Ganjen!” kata Ina sambil coba mencubit aku lagi tetapi aku masih sempat menangkap tangannya.

“Mbak Ina baring aja, biar saya yang olesin yah?”

“Ina malu, lampunya nyala jadi terang gini”

“Gak apa, nanti saya matiin deh. Kita pakai cahaya dari TV doang, ok?”

Aku segera bangun untuk mematikan lampu. Hati ku melonjak-lonjak kegembiraan. Peluang sudah terbuka luas untuk ku. Ruangan itu serta merta menjadi gelap. Hanya cahaya dari TV saja yang menerangi ruangan itu membuat suasana menjadi romantis.

Aku mendekati Ina kembali. Tanpa menunggu aku duduk di sebelah tubuh Ina. Sebelah kaki ku berlipat di bawah pantatku. Sebelah lagi aku gunakan untuk menyangga tubuhku agar lebih mudah aku mengurut nanti.

Dengan perasaan agak berdebar-debar aku mendekati tubuh Ina dan menyentuh perutnya. Sebelah kakinya selonjor dan yang sebelah lagi dibengkokkan. Perlahan-lahan aku mendorong baju yang dipakainya ke atas.

Aku sempat melihat wajah Ina. Dia hanya perhatikan apa yang aku lakukan. Aku menarik bajunya ke atas sehingga buah dadanya jelas kelihatan. Sungguh aku terpesona melihat pemandangan di hadapan ku itu.

Buah dada Ina memang seperti bayangan ku. Aku menaksir ukurannya mungkin 34d atau 36d. Putingnya sebesar kuku ibu jari tanganku. Bentuk yang besar itu membuatkan buah dadanya jatuh ke sisi tubuhnya tetapi tetap menonjol keatas.

Aku mengambil cream payudara tadi dan kemudian bertanya kepada Ina tentang cara-cara mengurut yang betul. Setelah dijelaskan oleh Ina, aku menyuruh Ina memegang bajunya sementara aku mengoleskan cream itu di sekeliling pangkal kedua buah dadanya. Perlahan-lahan tetapi yakin, aku mulai mengurutkan.

Aku memegang pangkal buah dada kanan Ina dengan kedua telapak tangan ku dan mulai mengurut ke atas tetapi aku tidak menyentuh putingnya. Aku melakukannya beberapa kali sebelum aku mengurut secara memutar ke arah luar tubuhnya. Selesai dengan buah dada kanan, aku beralih ke buah dada kirinya. Aku melakukan urutan yang sama seperti tadi.

Main Dengan Penjaga Toko Yang Bohay

Setelah beberapa menit, aku mengoleskan cream lagi. Aku mau mengulangi lagi urutan ku karena aku memang tidak berniat untuk berhenti. Aku sudah mulai melihat tanda-tanda yang menunjukkan Ina sedang menikmati urutan ku tadi.

Nafasnya tertahan-tahan setiap kali aku melakukan urutan. Dadanya terangkat-angkat mengikut irama urutan ku. Kakinya pun bergerak-gerak. Apabila aku melirik ke arah wajahnya, aku melihat matanya terpejam rapat. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya. Semua itu menunjukkan nafsu sudah menguasainya.

Aku tidak mau berlama-lama lagi. Urutan ku pada payudara Ina dimulai sekali lagi. Kali ini, agak lebih kuat agar Ina lebih merasakan urutan itu. Setiap kali aku mengurut ke atas, aku sengaja menyentuh putingnya sehingga ia mulai kelihatan mengeras! Tidak cukup dengan itu, aku turut memencet-mencet lembut putingnya.

Tubuh Ina terangkat-angkat lagi. Bergantian buah dada itu diurut tangan ku dengan penuh semangat. Aku pastikan Ina sudah dibuai oleh kenikmatan yang dialaminya. Nafasnya sudah tidak menentu. Sesekali dia menggenggam tangan ku.

“Enak gak saya urut?” bisik ku di telinganya.

“Enak.. Enak, Man… Enak, pak guru…” suaranya seperti sulit untuk dikeluarkan.

Aku tersenyum. Memang jelas Ina sudah sulit untuk menahan nafsunya. Aku sendiri juga begitu. Nafsuku memang sudah terasa di ubun-ubun kepala. Urutan ku sudah tidak beraturan lagi. Aku tidak hanya mengurut malah meremas-remas buah dada Ina semauku.

“Mbak Ina, buka bajunya..” aku berbisik di telinganya sambil tangan ku coba untuk menarik bajunya ke atas.

Ina tidak menjawab apa-apa. Matanya masih terpejam rapat tetapi aku yakin dia mendengar kata-kataku. Ina mengangkat sedikit tubuhnya untuk memberi ruang untuk aku melepaskan bajunya dari arah kepalanya. Bajunya aku lepaskan. Kini tubuh montok itu sudah separuh telanjang.

Hanya bagian bawah tubuhnya yang masih bertutup. Aku menatap tubuh montok itu dengan penuh nafsu sambil tangan ku merayap dari perutnya sehingga ke dadanya. Tiba di dadanya, aku menjamah buah dadanya dan meremas lembut. Kedua tangan Ina memegang tangan ku, mengikuti setiap pergerakannya.

Aku sudah dikuasai nafsu. Aku menunduk, memberanikan diri untuk mengecup pangkal buah dada Ina. Ina segera menangkap kepala ku. Aku kira Ina mau menahan atau mendorong kepala ku tetapi tidak. Sebaliknya dia menarik kepala ku membuat mulutku terus menempel pada buah dadanya.

Aku mengecup buah dadanya lagi berkali-kali. Aku sengaja tidak mengecup atau menyentuh putingnya, hanya mengecup dan menjilat lembut di sekitar pangkal kedua buah dadanya saja. Sekali-kali aku menghisap gunung kembar miliknya.

Tubuh Ina terangkat-angkat seolah-olah menginginkan aku menyentuh puting buah dadanya. Suara desahan dan nafas Ina sudah sedari tadi memenuhi ruangan itu bersamaan dengan bunyi nafasku sendiri dan bunyi hujan yang deras di luar rumah.

Aku meneruskan kegiatanku. Tangan ku merayap ke sana sini di atas tubuh Ina. Beberapa kali juga aku terpaksa mengubah cara duduk ku agar lebih nyaman.

Bukan hanya buah dadanya yang menerima serangan ku tetapi seluruh bagian tubuhnya yang sudah terbuka menjadi sasaran kecupan, jilatan dan hisapan ku. Tubuh Ina meliuk-liuk saat menerima serangan ku yang bertubi-tubi.

“Hisap, Man, hisap puting Ina, Oouuhhh..” Ina merintih, meminta aku melakukan seperti yang diinginkannya.

Aku sengaja tidak memperdulikannya. Aku masih bersemangat untuk menyerang bagian lain pada tubuhnya. Tangan ku yang pada mulanya hanya asyik bermain dengan buah dada Ina mula merayap ke bawah, menuju ke paha montok Ina.

Aku merasa kurang nyaman melakukan aktivitas cabul ku di tubuh Ina dalam keadaan menunduk dengan separuh duduk begitu. Belum sempat aku mengatur kedudukan tubuh ku, Ina menarik kepala ku dengan kedua tangannya sehingga aku terpaksa merebahkan tubuh ku di sisinya. Dia menarik muka ku ke dadanya.

“Cepat… Man. Hisap puting Ina..please…”

Aku menuruti kehendaknya. Putingnya yang keras itu mulai ku jilat sekelilingnya lalu aku hisap-hisap lembut. Aku memegang pangkal buah dada Ina dan menekannya sehingga buah dadanya tertonjol ke atas.

Kemudian aku melahap puting Ina hingga ke pangkalnya dan seterusnya menghisap dengan kuat sebelum aku melepaskannya kembali. Aku mengulangi perkara itu beberapa kali sehingga Ina mendesah-desah dan mengerang. Suara erangannya membuat aku semakin bernafsu.

Nafas ku agak berat dan sulit karena Ina yang merangkul tengkuk ku dengan agak kuat. Untuk sementara aku berhenti menyerang buah dadanya dan mengalihkan perhatian ku ke bagian bawah tubuh Ina. Kami sudah sama-sama terbaring.

Aku meletakkan paha ku di antara selangkangan Ina sementara tangan ku menarik paha kanannya untuk menjepit pahaku. Setelah merasa agak nyaman dengan posisi badan kami begitu, aku kembali menyerang dada Ina. Sambil sengaja menggosok-gosok pahaku di atas tonjolan yang berada di celah selangkangan Ina membuat Ina semakin kuat menjepit paha ku.

Aku mulai merasa sedikit bosan setelah cukup lama bermain-main dengan buah dada Ina. Aku beralih arah. Lehernya yang terpampang kini menjadi sasaran ku. Mulutku terus saja mendarat di atas kulit lehernya yang licin. Aku mencium aroma harum di situ. Aku mengecup lembut diselangi dengan jilatan-jilatan yang bernafsu.

Dari leher, aku beralih pula ke atas. Bibir Ina yang separuh terbuka itu dipaksa menerima kehadiran bibir ku. Bibir kami bertaut erat. Lidah kami saling membelit. Kulumannya menjadi hangat, saling berlarutan untuk sekian waktu.. Bibir kami terlepas hanya untuk mengambil nafas dan kembali bertaut lagi.

Tangan ku tidak berhenti-henti bermain di dada Ina, di buah dadanya dan putingnya. Paha ku menekan-nekan celah selangkangannya. Mulut kami masih saling berkuluman. Keinginan ku hanya satu saja saat itu yaitu membawa Ina mencapai puncak berahinya. Tetapi aku harus melakukan perananku dengan sebaik-baiknya.

“Mbak Ina, kita masuk kamar? Gak nyaman disini” aku berbisik di telinga Ina.

Ina tidak menjawab tetapi turut bangkit dengan ku. Aku membantunya berdiri dan memimpinnya masuk ke dalam kamar tidur. Sempat juga tangan ku meremas-remas buah dada Ina ketika kami berjalan.

Di dalam kamar tidur, aku merebahkan Ina di atas kasur yang hangat. Bibir kami bertautan kembali dan kami berkuluman. Pada awalnya agak lembut tetapi semakin lama bertaut, kuluman menjadi semakin hangat.

Tangan ku mulai merayap ke celah selangkangan Ina. Seluruh kawasan itu dijamah buas oleh tangan ku. Dari luar celana yang dipakai oleh Ina, aku mulai menggosok-gosok bagian atas vaginanya.

Ina semakin sering mengerang bila aku menyertakan gosokan tanganku dengan kuluman pada puting buah dadanya. Tubuhnya terangkat-angkat setiap kali aku menghisap putingnya dengan agak kuat.

Dorongan nafsu yang kuat membuat aku semakin tidak sabar. Aku ciba untuk menanggalkan celana pendek yang dipakai oleh Ina. Dia membantu dengan mengangkat pantatnya. Aku meloloskan celana pendek itu berserta dengan celana dalam kecilnya.

Kini, terbukalah segalanya. Dalam samar cahaya dari luar kamar tidur itu, aku dapat melihat bentuk segitiga di antara atas pahanya. Aku meraba daerah itu. Bulu-bulunya pendek saja dan halus. Aku coba menyusupkan jari ku ke celah vagina Ina. Nampaknya tempat itu sudah basah dan licin. Dan membuat aku semakin bernafsu.

Perlahan-lahan aku mengambil posisi di celah selangkangan Ina. Aku mendekatkan muka ku di celah kelaminnya. Ina seperti tahu apa yang aku mau lakukan. Dia memegang kepala ku lalu menariknya ke bawah, ke arah vaginanya. Aku menjulurkan lidahku menyentuh klitorisnya. Dengan lembut, aku mulai mengusik tonjolan daging kecil itu.

Ina kegelian. Tubuhnya meliuk-liuk menahan geli dalam kenikmatan. Suara desahan dan erangan kecilnya semakin jelas kedengaran. Aku terus mengerjakan bagian itu. Tidak cukup dengan itu, lidahku menyapu seluruh vagina Ina dari luar hingga ke bagian dalamnya. Semuanya disertai dengan ramasan kuat pada buah dadanya. Ina juga tidak henti-hentinya menjambak rambut ku. Sebentar-bentar di tarik, sebentar-bentar di lepaskannya.

Setelah merasakan keadaan Ina sudah cukup siap, aku pun mulai melepaskan semua pakaian yang masih ada di tubuhku. Ketika aku berhenti sesaat untuk melepaskan semua pakaian ku, Ina tiba-tiba bangun lalu berlutut di sebelah aku.

Dia membantu ku untuk membuka pakaian ku. Baru saja celana dalam ku dilepaskan, Ina terus menggapai batang penis ku yang sejak dari tadi sudah menegang keras. Ina mengusap-usap batang pusaka ku dengan lembut sambil kami berkuluman lidah. Aku pun ikut menyisipkan jari pada lubang vaginanya.

Aku merebahkan tubuhku ke belakang. Tanpa disuruh atau diminta, Ina terus menundukan kepalanya dan menjilati batang kelaminku. Setelah itu, dia pun mengulumnya. Nikmatnya dikulum dan dihisap begitu amat sulit untuk digambarkan. Bukan hanya aku tetapi Ina juga benar-benar menikmati apa yang dilakukannya.

Dia mengulum dan menghisap sepuasnya.Karena merasa amat ngilu, aku terpaksa menghentikan Ina setelah membiarkannya beberapa waktu. Aku kemudian menarik perlahan tubuhnya ke atas tubuhku. Sekali lagi, seperti mengetahui keinginan ku, Ina menaiki tubuhku.

Ina mengangkangi aku yang terlentang sementara aku menyiapkan batang kontolku. Ina memegang batang kontolku lalu menempelkan kepala kontol (palkon)ku di pintu masuk memeknya. Dia terlebih dulu menggosok-gosok helm penis ku di situ sebelum dia mulai menurunkan tubuhnya.

Aku merasakan kehangatan pada kepala penisku sesaat setelah mulai memasuki liang vagina Ina yang sudah licin. Perlahan-lahan namun begitu pasti, Ina menduduki batang penisku hingga semuanya habis terbenam. Ina mengerang di saat dia sudah habis menduduki batang zakarku, menelannya hingga bagian pangkal. Dia diam sebentar. Aku pun mulai meremas-remas dan mencubiti gemas puting buah dada Ina.

Selang beberapa saat, Ina mulai menaik-turunkan tubuhnya dengan agak perlahan. Aku tidak mau tinggal diam. Aku coba menekankan batang kontol ku ke atas. Sesekali aku hanya bertahan. Kemudian aku coba bangun dan menopangkan tubuh ku dengan siku kiri ku. Tangan kanan ku masih asyik dengan buah dada Ina.

Mulut ku segera menyambar putingnya lalu ku hisap dengan kuat. Tindakan liarku agak membatasi pergerakan Ina. Dia mengubah pergerakannya yang semula naik turun menjadi bergerak maju mundur serta memutar membetoti penisku membuat kepala kontolku terasa seperti di belai dan ditarik-tarik. Amat ngilu sekali rasanya tetapi nikmat.

Adegan itu berlangsung untuk beberapa saat sebelum tubuh Ina memberikan isyarat bahwa ia akan mencapai orgasmenya. Aku dapat merasakan kontraksi otot-otot vaginanya yang semakin kuat berkedut. Begitu juga dengan otot-otot tubuh Ina yang mulai terasa menegang. Ina semakin kuat merangkul ku.

Tidak lama setelah itu, dia menekan vaginanya ke bawah dengan kuat disertai dengan rangkulan yang kuat juga. Kedua pahanya juga mengepit badanku yang berada dibawahnya. Ina sudah tiba di puncak berahinya. Aku membiarkan dia untuk menikmati orgasmenya hingga orgasmenya reda.

Perlahan-lahan, aku merebahkan tubuhnya ke atas kasur lalu aku menindih tubuhnya. Sekali lagi aku mengambil posisi di antara celah kangkangnya. Aku membuka selangkangannya lalu membenamkan muka ku di belahan memeknya. Mulut dan lidah ku terus menyerang vagina Ina. Ina mengerang keenakan.

Namun, aku tidak mau berlama-lama karena aku ingin segera meneruskan permainan hangat itu. Dengan pasti, aku menggiring batang kontolku ke memek Ina yang sudah cukup basah dan licin. Tanpa menemui hambatan, batang kontol ku terus meluncur masuk ke dalam liang memek Ina.

Ina mendesah. Aku mulai bergerak mendorong-tarik penisku dalam jepitan vaginanya. Perlahan pada awalnya tetapi semakin lama semakin cepat. Setiap hentakan aku lakukan dengan tempo terjaga sehingga Ina tidak henti-henti melenguh dan mendesah. Sesekali dia mengerang kecil

Aku mengubah posisiku dari semula berlutut menjadi bertelengkup di atas tubuh Ina. Tubuhnya yang cukup montok itu segera dipeluk lenganku dengan erat sekali. Tidak cukup dengan itu, jilatan, hisapan dan ciuman ku turut singgah di leher dan mulut Ina. Bersamaan dengan genjotan penisku pada vagina Ina dengan penuh nafsu.

Selang beberapa menit, aku sudah merasakan akan orgasme ku. Aku mempercepat gerakan pompaan ku. Aku sempat berbisik di telinga Ina. Mendengar bisikan ku, Ina seperti mengerti apa yang harus dilakukannya.

Dia semakin kencang memeluk dan buas mengulum lidahku. Kedua kakinya diangkat dan dilingkarkan di atas pantatku seolah menahan penisku mundur dari jepitan vaginanya. Nampaknya dia juga menginginkan lagi klimaksnya datang. Maka, kami sama-sama berpacu berahi dengan hebat.

Dengan satu gerakan yang kuat, aku membenamkan batang kontolku jauh ke dalam liang memek Ina. Bersamaan dengan itu juga, ujung tongkat kemaluanku memuntahkan isinya yang kental. Ina merespon dengan memelukku erat sekali sambil kakinya mengunci tubuhku. Tubuhnya mengejang hebat menandakan bahwa dia juga telah mencapai orgasmenya.

Aku menunggu hingga batang kelelakianku selesai memuntahkan semua isinya sebelum aku merebahkan tubuh ku di sebelah tubuh Ina. Dia tersenyum memandangku. Jauh di dalam hatiku, aku merasa amat puas sekali. Aku yakin Ina juga begitu.

Setelah ini aku yakin akan dapat merasakan kenikmatan dari Kak ani, majikan ina.

Demikian artikel tentang cerita Kusikat Miring Miring Lobang Sempit Penjaga Toko Bohay Liar Bak Pelacur.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Pengalaman Indah Menggenjot Memek Sahabatku Sendiri Sampai Keringetan.

Ngewe Dengan Sahabatku Rini

Pengalaman Indah Menggenjot Memek Sahabatku Sendiri Sampai Keringetan.Perkenalkan, namaku Anto. Seorang pemuda desa yang jauh dari kata tampan, lebih cenderung ke nampan (alas untuk membawa gelas/piring). Dengan kulit sawo terlalu matang, 168cm/80kg.

Seorang yang bergelar MA (mahasiswa abadi) di sebuah universitas negeri terkenal yang terletak di kota sarkem, hehehe. Kali ini aku akan berbagi pengalaman dengan seorang teman dekatku, yang selalu kuhibur di saat sedih, dan selalu menghilang di saat bertemu lelaki ganteng. Batinku cuma bisa bilang “wooo wedyusss!!”.

Sebut saja nama temanku ini Rini. Tingkah polahnya seringkali membuatku kesal, tapi juga kerap membuatku merasa kangen karena manjanya. Selalu cuek dengan keadaan sekitar, bahkan di saat aku sedang berduaan dengan Ana (mantan pacar di ceritaku yang pertama), dengan seenak hati nyelonong masuk ke kamar kostku, dan dengan sengaja menginjak kantong menyanku sembari memasang wajah menggoda.

Ya, dia memang sudah tau hal hal seperti itu dari pergaulan dan mudahnya akses situs dewasa saat itu. Tapi, sebenarnya dia sama sekali belum pernah melakukannya. She’s a naughty virgin…

Perkenalanku dengan Rini dimulai saat tergabung dalam satu grup saat mengikuti ospek. Orangnya asik, easy going, pribadi yang menyenangkan. Saat itu hanya sebatas berteman biasa saja, tanpa ada perasaan lain yang masuk di dalam pertemanan kami.

Seiring perjalanan waktu kami pun semakin sering pergi berdua, entah itu sekedar keluar untuk makan, mengerjakan tugas di warnet, bahkan belanja kebutuhan sehari hari pun kadang kita lakukan bersama. Karena rutinitas tersebut, timbul pertanyaan di benakku, apa ini yang dinamakan Teman Tidur Mesra?.

Tapi sesegera mungkin kusingkirkan jauh jauh pikiran itu, dan memilih untuk menjalani apa adanya saja. Dimana saat itu juga aku masih menjalin hubungan asmara dengan Ana, dan Rini juga kuketahui mempunyai seorang kekasih di kampungnya.

Oh iya, Rini adalah seorang gadis yang berasal dari daerah dataran tinggi jawa tengah. Kebayang kan, kebanyakan gadis dataran tinggi memiliki paras alami dengan kulit yang putih dihiasi pipi yang kemerahan.

Masa perkuliahan memasuki masa dimana jadwal sudah tidak dapat dinego, alias padat. Intensitas kami untuk bertemu pun menjadi berkurang, dari yang tadinya seminggu bisa hampir tiap hari jalan bareng, sekarang bisa seminggu sekali pun udah sukur.

Hingga pada akhirnya kami benar benar terpisah untuk waktu yang lumayan lama dikarenakan kesibukan kami mengejar target perkuliahan. Aku sibuk dengan tugas perkuliahanku dan beberapa organisasi kampus yang aku ikuti, sedangkan Rini, selain dengan kesibukan yang sama, dia juga bekerja part time di salah satu tempat persewaan kepingan CD terkenal.

Hingga pada suatu malam Rini menelponku untuk segera menjemputnya di kost. Akupun segera meluncur menjemputnya. Tak selang berapa lama, aku pun sampai di depan kostnya dan ku sms dia bahwa aku telah sampai.

Setelah dia keluar menemuiku, kuperhatikan ada sesuatu yang baru saja terjadi padanya. Mukanya kelihatan lesu, matanya sembab seperti orang yang habis menangis.

Akupun bertanya padanya, “kamu kenapa Ri?”.

Dia pun diam, tak sepatah kata keluar dari mulut mungilnya, yang kulihat hanyalah matanya yang mulai berkaca kaca. Saat itu kugenggam tangannya dan kutarik dia agar segera naik ke atas motorku. Pikirku mungkin dengan kuajak dia jalan sekalian makan malam, dia akan lebih tenang sehingga mau menceritakan masalahnya padaku.

Akhirnya kami pun berangkat menyusuri jalan kampung yang di sebelahnya terdapat selokan besar yang memanjang.

Disepanjang perjalanan, Rini hanya berpegangan pada pinggangku dengan kepalanya bersandar di punggungku, tanpa berkata apapun, hanya sesekali terdengar sesenggukan darinya.

Setelah kurasa dia lebih tenang, motorku pun aku arahkan ke tempat biasa kami makan malam. Tempat dengan suasana alami dan tenang. Pada saat makan malam itu, aku mulai bertanya lagi, karena kupikir momentnya yang sudah tepat.

“Kamu sebenernya kenapa sih, kok dari yang biasanya ceria, sekarang malah nangis sesenggukan kaya tadi?”, Tanyaku.

Dia pun menjawab, “aku habis berantem sama cowokku, terus kami putus”.

Cukup kumaklumi kenapa Rini bisa sesedih itu. Cowoknya adalah satu-satunya yang ia cintai saat itu, karena mereka kenal dan dekat sudah dari sekolah dasar. Setelah kutahu sebabnya Rini bersedih, aku pun berusaha menghiburnya dengan segala cara.

Dan akhirnya aku bisa membuatnya tersenyum kembali. Malam itu pun akhirnya aku mengantarkannya pulang ke kost dengan perasaan lega berhasil menghiburnya. Dan sebelum pulang, aku pun berpesan padanya, “kalau kamu perlu aku, sms aja ya, aku usahakan ada buatmu.” Dia pun mengiyakan dengan diiringi senyum manisnya.

Akupun meluncur pulang dengan sambil mengingat ingat kejadian yang baru saja aku alami. Tapi pikiranku justru terfokus pada saat aku memboncengnya, dan dia yang tadinya hanya berpegangan pada pinggangku, akhirnya memelukku dari belakang.

Otomatis aku merasakan sepasang benda kenyal yang ikut bersandar di punggungku selain kepalanya. Lelaki mana sih yang gak On ngalami kejadian kaya gitu, kecuali sekong, hehe. Tapi aku masih ingat akan siapa diriku dan hubunganku dengannya, aku tidak akan merusak itu.

Setelah kejadian malam itu, kami mulai sering jalan berdua lagi, masih terus kuhibur dia. Tentu saja tanpa sepengetahuan Ana, dan harus pintar pintar bagi jadwal. Apalagi Ana mulai sering menginap di kostku.

Aku ingat pada saat itu ada sebuah aplikasi bernama “buku muka”, dan di sela waktu mengerjakan tugas kuliah di warnet, Rini minta dibuatkan satu akun olehku, dan aku pun melaksanakannya. Tapi ternyata semua kisah terlarangku dengannya dimulai saat itu.

Rini yang memang suka dan mudah bergaul, akhirnya mempunyai banyak teman baru dari aplikasi tersebut. Rini pada saat itu menjadi lebih sering mondar mandir ke warnet, hanya untuk menyapa sahabat dari dunia mayanya.

Sebenarnya aku sama sekali tidak masalah, biar pun intensitas kami bertemu menjadi berkurang. Hanya ada satu hal yang aku takutkan untuk terjadi. Yaitu bertemu dengan penikmat wisata lendir dengan modal SSI seperti kita, hehehe…yang tentunya kebanyakan mencari mangsa lewat dunia maya.

Lama tak bertemu dengan Rini untuk entah yang keberapa kali, penampilannya berubah 180°. Dari yang tadinya selalu mengenakan jilbab, sekarang kemana mana lebih sering memakai hotpants. Dari gadis desa lugu, sekarang berani menyulut rokok dihadapanku. Saat itu spontan tanganku hampir menamparnya. Dia pun menunduk ketakutan.

Aku dengan tegas bertanya, “Kamu kenapa lagi? Jadi gila kaya gini!!! Mau dibilang gaul?!!”. Setelah kucecar dengan banyak pertanyaan dan nada yang tinggi, Rini akhirnya mengaku, hal tersebut karena dia terbawa oleh pergaulannya dengan seorang lelaki yang dia kenal lewat dunia maya. Mereka sering dugem, pulang larut bahkan cenderung subuh.

Hal yang kutakutkan ternyata benar benar terjadi. Tapi aku tidak mau secepat itu men-judge sahabatku sendiri. Semoga saja dia tidak berbuat lebih jauh dari itu (walaupun di dalam hati, kalau berbuat lebih jauh sama ane aja, hahaha).

Rini pun mengakui kalau dia belum sampai sejauh itu. Sebagai temannya saat itu aku hanya mengingatkan. Rini pun menerima saranku untuk sedikit demi sedikit menjauh dari pergaulannya saat ini.

Dalam hal menyaring pertemanan, Rini terlalu mudah untuk menerima seseorang. Karena sifatnya yang supel. Hingga pada akhirnya, sesuatu yang fatal benar benar terjadi padanya.

Waktu itu siang hari menjelang sore di hari sabtu. Rini datang ke kostku dengan diantar seorang teman. Dia bilang padaku kalau temannya dari ibukota, akan datang untuk menginap.

Aku pun tanggap, dengan nada bercanda kuledekin dia, “Teman apa TEMAN?!” Selidikku penuh rasa ingin tahu, karena aku tak ingin temanku ini salah memilih orang lagi. Dia pun jujur padaku, kalau sebenarnya mereka menjalin LDR, dan baru akan bertemu untuk pertama kalinya.

Mereka janji bertemu di sebuah Mall besar di pusat kota. Aku pun hanya bisa diam sambil berfikir.

Spontan aku bertanya, “Cowokmu nginep kan? Dimana? Kamu ikut nginep juga?”.

Diapun langsung mencubitku, dan berkata “Ya ngineplah, tapi gak sama aku, kamu piktor deh sm aku.”

Akupun percaya saja, dan aku hanya tinggal pasrah menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Akhirnya Rini pamit padaku, karena si cowok sudah hampir sampai di tempat mereka janjian bertemu. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi Rini menolaknya. Akhirnya dia hanya kuantar ke jalan raya untuk menyetop taksi.

Hari berikutnya, minggu sore. Handphoneku berdering, kulihat panggilan masuk dari Rini. Setelah kuangkat, ternyata dia memintaku untuk menjemputnya di terminal. Ternyata Rini dan si cowok itu habis berlibur ke pantai, dan si cowok langsung melanjutkan perjalanan pulang ke ibukota naik bus.

Sepanjang perjalanan pulang, Rini hanya banyak diam, tapi kali ini dia memelukku dengan erat, sangat erat sampai kadang jemari tangannya meremas perutku. Aku hanya bisa berfikir, pasti telah terjadi sesuatu padanya. Rini saat itu tidak langsung kuantar ke kostnya, melainkan pulang ke kostku.

Dia masih tetap diam saja sambil berjalan gontai menuju kamarku. Setelah aku mengikutinya masuk ke kamar, dan kututup pintunya, Rini langsung baring di kasurku sambil memeluk gulingku.

Ternyata dia mulai menangis sesenggukan, sambil berkata lirih “Maafin aku Mo, kamu benar, akhirnya semua terjadi karena aku terkena bujuk rayunya.”

Aku bagai di sambar petir di saat cuaca cerah dan gerah. Aku hanya bisa diam, menunggu sampai dia benar benar tenang. Di saat Rini masih menangisi nasibnya dan mungkin masa depannya, aku mencoba untuk mengecek apa yang di bawa dalam tasnya.

Ternyata dia membawa beberapa helai pakaian, dan yang mencuri perhatianku adalah CD nya yang ada bercak darah. Aku diam saja. Hingga pada saat Rini mulai tenang, aku pun memintanya untuk menceritakan semuanya. Rini pun mengakui kesalahannya, karena sebelumnya sudah aku peringatkan untuk tak ikut menginap.

Walaupun sebelumnya dia selalu menghindar dan bilang kalau tak ikut menginap. Tapi, setelah aku ambil CD dari dalam tasnya, dia pun akhirnya mengakuinya. Aku mengintrogasinya sampai malam. Bahkan saat makan malam pun aku masih membahasnya. Hingga akhirnya dia meminta izin padaku untuk menginap dulu di kostku, karena ingin berkeluh kesah padaku.

Aku pun dengan senang hati mengizinkannya. Saat itu Rini sudah berganti baju untuk dipakai tidur. Kaos lengan pendek, dengan bawahan rok panjang. Aku pun sebagai lelaki normal cukup terangsang dengan melihatnya berpakaian seperti itu, apalagi aku tau dia tidak pakai bra, karena bra-nya dipegang oleh sebelah tangannya.

Mataku langsung menuju ke dadanya, dan benar saja, terlihat samar puting susunya yang menonjol dibalik kaos yang dia pakai. Rini yang mengetahui hal tersebut langsung reflek mencubitku dan menutupi dadanya dengan bantal.

Di saat dia curhat, hingga akhirnya mulai menangis lagi, aku pun memberanikan diri memeluknya dan mengelus punggungnya. Tapi otakku mulai gak sehat, mulai mencari-cari celah untuk memanfaatkan situasi ini. Aku tau ini salah, tapi setan telah mengendalikan pikiranku. Akal sehatku hilang. Hingga kesempatan yang kunanti pun tiba.

Di saat kami akan tidur, Rini aku suruh untuk menempati kasurku, sedangkan aku tidur di lantai. Waktu terasa sangat lama malam itu. Hingga Rini tahu kalau aku masih terjaga. Dia pun menarik tanganku dan memintaku untuk menemaninya dikasur.

Lampu hijau nih pikirku, tapi ternyata dia sambil bilang, “Gulingnya di tengah aja, buat batas, biar kamu gak macam macam,” sambil tersenyum genit. Dia pun melanjutkan tidurnya dengan membelakangiku. Aku pun ikut berusaha memejamkan mataku, hingga pada akhirnya kuberanikan memeluknya dari belakang.

Tak ada penolakan darinya, tanganku mulai mengelus perutnya yang rata, Rini reflek meletakkan tangannya diatas tanganku, seakan mengisyaratkan agar tanganku tetap disitu. Aku yang sudah dikuasai nafsu dan setan, memberanikan menggerakkan tanganku naik ke atas.

Ke dadanya yang benar benar bulat berisi, yang kutaksir ukurannya adalah 34B saat itu. Lama tanganku mengelus payudaranya, sambil sesekali jariku bermain di putingnya dari luar kaosnya.

Hingga tiba-tiba tangan Rini menarik tanganku dan menuntunnya masuk melalui bawah kaosnya, sambil dia memalingkan mukanya kepadaku dan menggigit bibir bawahnya. Aku rasa Rini mulai horny. Aku pun menurutinya.

Lama tanganku bermain di dadanya, guling pembatas pun aku singkirkan. Aku mendekatkan badanku hingga senjataku pun menempel di bokongnya yang padat. Entah karena nafsu atau bagaimana, yang memang kuakui, dalam hal seperti ini setan memang jagonya. Tangan Rini pun sudah mulai bergerilya mermasi batang kejantananku.

Hingga akhirnya dia memasukkan tangannya ke dalam celanaku dan mulai mengelus secara langsung batang kejantananku. Akupun tak tinggal diam, tangan kiriku kini mulai menelusup dari bawah badannya menggantikan posisi tangan kananku yang mulai bosan memainkan payudaranya.

Kini tangan kananku mulai menyingkapkan rok panjangnya hingga sebatas perut, terpampang dihadapanku paha putih mulusnya, dan CD berwarna pink dengan motif hello kity. Tanganku pun langsung mengelus mulai dari paha, naik ke pangkal pahanya, bergantian kiri dan kanan, sambil terkadang meremasi bongkahan pantatnya yang padat.

Hingga tanganku berhenti tepat di area kewanitannya, yang walaupun masih terbungkus CD, tapi telah terasa sedikit basah di sana. Sambil aku mengusapi area kewanitaannya, akupun mulai menciumi belakang daun telinganya hingga ke leher.

Sampai pada akhirnya Rini memalingkan wajahnya dan akhirnya kamipun berciuman dengan ganas. Dari cara berciumannya, aku langsung tau, bahwa sebenarnya Rini cewek yang agresif di atas ranjang. Benar saja, Rini terus menyerangku bertubi tubi dengan ciuman dan elusan tamgannya yang telah berubah menjadi kocokan lembut pada batang kejantananku.

Cukup lama kami melakukan hal ini, hingga akhirnya kami sama-sama tak tahan lagi, dan Rini pun bangkit dari tidurnya dan melepas semua pakaiannya. Aku pun melepas kaosku, tapi belum sempat aku melepas celanaku, Rini sudah terlebih dahulu menariknya.

Ngewe Dengan Sahabatku Rini

Tak lama kemudian, dia seperti anak kecil yang kegirangan karena dibelikan es krim oleh orang tuanya. Batang kejantananku dilumat habis oleh Rini, sampai kantong menyanku sekalian dilumatnya. Aku yang hampir tak tahan diperlakukan seperti itu, akhirnya menarik tubuh Rini ke atas. Gantian kini dia kubaringkan di bawahku.

Kuciumi mulai dari wajahnya, bibirnya yang mungil, turun ke dadanya yang bulat dengan puting berwarna merah muda, hingga akhirnya cumbuanku berhenti tepat di liang kewanitaannya. Perlahan aku mainkan klitorisnya dengan telunjukku sedangkan jari tengah dan ibu jariku menyibakkan bibir kemaluannya yang hanya ditumbuhi rambut halus.

Aku pun tak tahan untuk memainkan klitorisnya dengan lidahku. Pelan pelan kudekatkan wajahku ke liang kewanitannya, perlahan lidahku mulai menyapu liang kwanitannya. Rini pun terlihat sangat menikmatinya, terlihat dari tangannya yang terus memegangi rambutku, seakan aku tak boleh melepaskan cumbuanku pada liang kewanitaannya.

Hingga akhirnya Rini mendesis dengan cepat, seperti orang kepedasan, tubuhnya melengkung naik, tangannya semakin menekan kepalaku di selangkangannya. Rini telah mencapai orgasmenya. Kubiarkan dia mengatur nafasnya dulu, sebelum kumulai babak utama.

Setelah nafasnya mulai teratur, aku pun mulai merangsangnya lagi dengan memainkan payudaranya. Rini memalingkan wajahnya ke hadapanku, menatapku dalam dan berkata, “Mo, sekali ini aja ya, aku gak mau nanti kita bermasalah setelah ini.”

Akupun mengangguk sambil dalam hati berkata “iya sekali aja malam ini, kalau besok besok khilaf kan gak tau juga.”

Akhirnya kuposisikan diriku dan dirinya untuk memasuki babak utama pergelutan malam ini. Aku di atas dan dia di bawah, tanganku langsung membimbing batang kejantananku menuju liang kewanitaanya. Rini hanya mengingatkanku untuk melakukannya dengan lembut, karena dia masih belum terbiasa.

Perlahan mulai kutempelken kepala kejantananku pada bibir kewanitaannya. Hingga sedikit demi sedikit kubiarkan batang kejantananku masuk kedalam dibantu dengan kontraksi liang kewanitaannya yang sperti menyedot untuk masuk lebih dalam.

Setelah yakin mentok seluruh batang kejantananku, aku mulai melakukan gerakan maju mundur, dengan dibantu kedua tangan Rini yang memegangi bokongku. Aku sambil memompanya dengan memperhatikan mimik wajahnya yang begitu terangsang akibat ulahku. Kadang memejamkan mata sambil menggigit bibirnya, kadang menggeleng gelangkan kepala, kadang juga melotot menatapku sambil mendesah keenakan.

Hingga akhirnya kurasakan vagina Rini semakin menjepit penisku, tangannya meraih kepalaku dan menariknya untuk melakukan french kiss, dan aku tau di saat itu Rini akan orgasme kembali. Kutingkatkan tempo permainanku hingga akhirnya Rini bergetar hebat dan kakinya melingkar di pinggangku mengisyaratkanku agar menghujamkan penisku sedalam dalamnya ke vaginanya.

Aku yang masih belum apa apa, kembali menusukkan penisku ke vagina Rini. Kali ini kumasukkan sambil berbaring dibelakangnya. Dengan posisi ini aku lebih leluasa, pinggulku aktif bergoyang, sedangkan tanganku aktif meremasi payudaranya.

Kadang tanganku juga memainkan klitorisnya yang membuat Rini semakin menggelinjang menerima kenikmatan syahwat dariku. Setelah bosan dengan posisi ini, aku pun mencabut penisku, dan kuminta Rini untuk gantian di atas. Rini langsung bangkit dari baringnya, tak lupa sambil menciumku nafsu dan mengocok mesra penisku.

Sebelum Rini menaikiku, dia menyempatkan untuk mengulum penisku terlebih dahulu, walaupun hanya sebentar, karena aku yakin dia sudah tak tahan untuk segera memasukkannya ke dalam liang vaginanya yang mulai becek.

Rini mulai memasukkan penisku perlahan, setelah masuk seluruhnya sampai tak terlihat penisku, Rini mulai melakukan gerakannya yang tak beraturan karena nafsunya yang sudah memuncak. Kadang maju mundur, memutar, naik turun.

Hingga akhirnya Rini akan orgasme lagi, dan aku pun sudah tak sanggup menahan ejakulasiku. Rini akhirnya menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat, hingga akhirnya aku pun menghentakkan penisku ke dalam vaginanya dalam dalam, dan memuntahkan spermaku di dalam vaginanya bersamaan dengan orgasme Rini.

Akhirnya malam itu pun kami tertidur kelelahan dan puas setelah memadu syahwat. Kami tidur telanjang dengan posisiku memeluknya. Dan tak lupa aku mengecup keningnya sebagai tanda maaf dan terima kasihku.

Karena pertempuran semalam, aku jadi bangun agak siang, sekitar jam 8, sedangkan Rini, kulihat sudah tak ada di sampingku. Aku masih dalam keadaan telanjang bulat akhirnya hanya memakai celana pendekku tanpa celana dalam, dan berjalan menuju kamar mandi, membersihkan sisa sisa pertempuran semalam.

Di depan pintu kamar mandi, aku mendengar suara aneh dari dalam kamar bapak kostku. FYI, bapak kostku ini masih muda, ganteng, kalau diibaratkan seperti Aaron Kwok. Aku seperti mengenal suara ini, ya, suara seperti yang semalam aku dan Rini ciptakan, desahan, teriakan kecil, kadang lenguhan. Gila, gumamku, pagi pagi udah olahraga nih bapak kost.

Memang karena ketampanannya, bapak kost wajar gonta ganti pasangan. Karena penasaran, sekarang model cewek gimana lagi yang kena sama bapak kost, setelah sebelumnya gadis penjaga counter HP yang indekos di depan kostku. Aku pun duduk sambil baca koran di ruang tamu yang kebetulan berhadapan dengan kamar bapak kost.

Setelah sekitar 20an menit aku menunggu, suasana pun hening, sudah selesai nih pikirku. Tak lama terdengar kunci kamar dibuka, dan begitu pintu dibuka alangkah kagetnya diriku, ternyata Rini yang keluar dari kamar bapak kostku.

Owalah jembuuuttt, umpatku lirih, ngasih makan buaya ini judulnya, weduss tenan. Rini yang tak kalah kaget langsung berlari menuju kamarku. Aku pun menghampiri bapak kostku yang begitu melihatku hanya bisa cengengesan sambil garuk garuk kepala.

“Wooo jembut kok kamu Mas,” ujarku padanya, “besok gantian pokoknya, anak kost depan buatku.”

Bapak kostku dengan santai menjawab “Tenaaaanggg, bisa diatur.”

Sambil berlalu dari kamar bapak kost, aku masih heran dan menyungut, kok bisa ya. Di kamarku, Rini hanya cengengesan melihatku, kutanya bagaimana bisa, ternyata, karena saat Rini bangun setelah subuh, dia tak sengaja berpapasan dengan bapak kostku, dan akhirnya terkena bujuk rayunya.

“Wooo kamprettt, enak tapi?” tanyaku, Rini hanya membalas dengan tatapan genit sambil menjulurkan lidahnya padaku.

Rini sekarang telah berubah, berubah menjadi wanita yang agresif karena telah mengetahui betapa nikmatnya bercinta.

Hingga pada akhirnya, selang dua bulan sejak kejadian itu, Rini akhirnya hamil, dan dia melakukannya dengan cowoknya yang terakhir. Di kalangan teman teman pun banyak yang menggosipkan diriku dan Rini, karena memang kami sering terlihat kemana mana berdua. Rini mendatangi kosku dan memintaku untuk membantunya menggugurkan janin yang dikandung, tapi tidak kukabulkan.

Hingga akhirnya Rini menikah dengan cowoknya, dan pada saat bayi yang dikandung telah lahir, teman teman dekatku dan Rini heboh, hampir semua orang bilang wajah si bayi mirip denganku. Aku cuma bisa mengelak dan bilang kebetulan aja. Pada akhirnya Rini sibuk membina rumah tangganya, sedangkan aku, sibuk melanjutkan petualanganku.

Tapi persahabatan kami terus berlanjut, terbukti hingga beberapa waktu lalu, Rini memintaku untuk menjadi wali nikah bagi mempelai pria di pernikahan keduanya. Aku pun menyanggupinya, dan si mempelai pria sempat menatapku heran waktu aku berkunjung ke rumah Rini, dan keceplosan ngomongin kamar Rini yang gak berubah.

Karena dulu aku memang sempat mengantarkan Rini pulang ke rumahnya, dan menginap sekamar dengan Rini di kamarnya, sedangkan orang tuanya gak masalah. Jadi ya hajar aja…hehehe, rejeki anak lugu. Sekarang aku dan Rini sudah berkeluarga, tapi kami masih tetap berhubungan baik, dan menyimpan semua kenangan indah itu hanya untuk kami berdua.

Demikian artikel tentang cerita Pengalaman Indah Menggenjot Memek Sahabatku Sendiri Sampai Keringetan.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Hokinya Diriku Mau Interview Kerja Eh Malah Dapat Cicip Meki Gratis HRD Murahan Atas Bawah Montok.

Walk In Interview Yang Berujung Ngewe 1

Hokinya Diriku Mau Interview Kerja Eh Malah Dapat Cicip Meki Gratis HRD Murahan Atas Bawah Montok.Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus ke pelataran parkir hotel P, sebuah hotel berbintang 5 yang terletak di jalan Asia Afrika.

Sebagai anak kost yang sehari-hari harus prihatin, sebenarnya apa urusannya saya harus datang ke hotel semewah ini ?

Sebelumnya ijinkanlah saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Rio, 23 m Bdg (come on chatters, you should know this code). Saya kuliah di sebuah fakultas teknik yang sering disebut sebagai fakultas ekonominya teknik, karena banyaknya mata kuliah ekonomi yang bertebaran dalam kurikulumnya, di sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di kota ini.

Tapi syukurlah beberapa waktu yang lalu saya telah lulus dan diwisuda menjadi seorang Insinyur, but for now, I’m only an unemployment.

That’s why I come to this hotel. Kemarin seseorang yang mengaku bernama Ibu Ratna menelepon dan mengundangku hari ini untuk mengikuti sebuah psikotest dari sebuah perusahaan tembakau multinasional yang cukup ternama di Indonesia (dan beberapa waktu yang lalu terkena somasi masyarakat akibat acara promosi sebuah produknya yang agak “kelewat batas”).

Setelah memarkirkan mobil di underground, saya melangkah menuju lobby hotel. Selintas saya melihat pengunjung hotel yang sedang menikmati breakfast (atau lebih tepatnya brunch kali yah ?) di coffee shop dan berkeliaran di sekitar lobby.

Yah…dibanding mereka yang berpenampilan santai sih, saya lumayan rapi. Ah cuek aja lah, yang penting pede.

“Maaf Mbak, kalo ruang rekruitmen dimana yah ?”, tanya saya kepada seorang resepsionis yang bertugas di front office sambil menyebutkan nama perusahaan tersebut..

“Oh.., naik aja lewat tangga itu dan belok ke kanan.”, jelasnya sambil menunjukkan tangga yang dimaksud.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun bergegas menuju ruang recruitment. Hmm… masih sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi sedangkan ketika saya melirik jam tangan saya baru menunjukkan pukul 09.22 WIB. Setelah mengisi daftar hadir dan mengambil formulir data diri, saya menghempaskan diri di sebuah sofa empuk di pelataran ruangan tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB ketika seorang wanita mempersilakan para peserta untuk masuk ke ruang tes. Setelah mengambil posisi, saya melihat peserta lainnya. Hmm.. ada beberapa wajah yang saya kenal karena memang teman sekuliah, but now they are my competitor.

Di depan ruangan telah berdiri 2 orang wanita yang kemudian memperkenalkan diri sebagai mbak Rini dan mbak Tia. Saya menyebut mbak karena saya kira mereka tidak terlalu jauh tua dibanding saya, walaupun mereka memperkenalkan diri dengan sebutan “Ibu”.

Keduanya cantik, walaupun dalam perspektif yang berbeda. Mbak Rini berwajah tegas cenderung judes, sangat pede dan terkesan senang mendikte orang lain, sedangkan mbak Tia terkesan lembut, berhati-hati dan komunikatif.

Kalau saya menilainya sebagai wanita yang seharusnya dipacari (mbak Rini) dan wanita yang seharusnya dinikahi (mbak Tia). Hahaha…mungkin agak aneh penilaian saya ini. Setelah acara basa-basi formal, tepat jam 10 tes dimulai.

1 jam 45 menit yang dibutuhkan mbak Tia untuk memandu dan mengawasi jalannya psikotest ini, sedangkan mbak Rini entah menghilang kemana. Tepat jam 11.45 WIB kita “diusir” ke luar ruangan menikmati coffee break untuk 30 menit kemudian diumumkan orang-orang yang lulus psikotest dan menghadapi interview.

Dari 200-an pelamar, hanya 40 yang dipanggil psikotest dan hanya 20 yang dipanggil interview, untuk selanjutnya terserah berapa orang yang akan diterima.

Ternyata nama saya tercantum dalam daftar peserta yang lulus psikotest, so I have to stay longer to join an interview. Interview will be done in english, so I have to prepare myself.

But it’s only my first experience, so what the hell…!! Saya berusaha cuek dan rileks aja menghadapinya, sa’bodo teuing lah kata orang sini.

Sekitar jam 14.45 WIB nama saya disebutkan untuk memasuki ruangan interview. Hhmm…ternyata yang nginterview (eh ini bahasa mana yah ?) saya adalah mbak Tia. Setelah memperkenalkan diri, kita terlibat dalam obrolan yang serius namun akrab.

Berkali-kali dia membujuk saya untuk mau bergabung pada perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik. Saya sih sebenarnya lebih senang bekerja pada shop floor di pabrik daripada harus bekerja di kantor manajemen di belakang meja dan di depan komputer.

Tapi permasalahannya adalah bahwa pabrik yang bersangkutan terletak di sebuah kota di pesisir utara pulau Jawa, sebuah kota yang menjadi pintu gerbang Jawa Barat terhadap tetangganya di sebelah timur. Away from home means extra cost for living, am I right ?

Nggak terasa kita ngobrol semakin akrab. Mbak Tia ternyata benar-benar smart, komunikatif dan mampu membawa suasana bersahabat dalam sebuah perbincangan. Nggak heran ternyata dia adalah alumni fakultas psikologi tahun 1992 pada sebuah perguruan tinggi di selatan Jakarta yang terkenal dengan jaket kuningnya.

“That’s all Rio, thank you for joining this recruitment. We will contact you in two weeks from now by mail or phone”, kata mbak Tia mengakhiri pembicaraan. “The pleasure is mine.”, jawab saya pendek sambil berbalik menuju pintu.

“Rio, why do you look so confident today ? The others don’t look like you.”, tiba-tiba mbak Tia berbicara lagi kepada saya.

“I just try to be myself, no need to pretend being someone else.”, jawab saya sambil bingung, sebenarnya apa yang telah saya lakukan sih

sampai dia menilai saya seperti itu ?

“Cool, I like your style”, sambung mbak Tia lagi

“I like your style too.”, jawab saya (pura-pura) cuek, “Tia, I like to talk with you, maybe some other day we can talk more. May I have your number ?”, sambung saya lagi. Asli udah cuek banget, nggak ada malu-malunya lagi. Baru beberapa saat ngobrol bareng dia, tapi kenapa rasanya saya udah kenal lama yah ?

Mbak Tia cuman tersenyum dan memberikan kartu namanya sambil meminta nomor telepon saya juga. Karena saya masih pengangguran dan nggak punya kartu nama, akhirnya dia hanya dapat mencatatnya di kertas note miliknya saja. Dan saya akhirnya langsung pulang.

Bandung, same day at 18.04 WIB

Saya lagi termenung di kamar kost di depan komputer menyesali kekalahan kesebelasan saya dalam game Championship Manager 4.

Sialan…, menyerang habis-habisan kok malah kalah yah, pikir saya sambil menatap statistik permainan.

Tiba-tiba… .krrriiinngg. ., teleponku berbunyi mengagetkanku karena memang dipasang pada volume penuh. Di LCD terpampang nomor telepon asing (maksudnya belum ada di memori). Langsung saya jawab, “Hallo…”.

“Hallo…ini Rio ?”, terdengar sebuah suara wanita di seberang telepon.

“Iya, ini Rio”, jawab saya. Sejenak saya terganggu koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga nih jaringan 0816 prabayar wilayah

sini.

Ternyata itu telepon dari mbak Tia. Dia sih ngakunya cuman iseng aja nge-check nomor saya. Setelah ngobrol sebentar, saya nanya, “Mbak, banyak kerjaan nggak ?”.

“Kenapa nanya, mau ngajak jalan-jalan yah ?”, jawab mbak Tia disusul suara tertawanya yang ramah.

“Boleh.., siapa takutt..?”, balas saya sambil senyum iseng (untung dia nggak bisa lihat senyum saya).

“Nggak kok udah selesai semua, free as a bird.”, katanya lagi sambil mengutip sebuah judul lagu The Beatles (atau John Lennon ? ah sa’bodo teuing lah).

Akhirnya kita sepakat untuk jalan-jalan (but no business talks allowed, kata mbak Tia). Waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika saya memarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel yang sama.

Ah…masak dalam sehari ke hotel ini sampai 2 kali, pikirku. Baru beberapa saat saya duduk, terlihat sosok mbak Tia berjalan ke arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya dan melihat sekeliling lobby untuk mencariku.

Saya cukup melambaikan tangan untuk memberitahukan posisi saya duduk untuk kemudian bangkit berdiri dan berlahan menghampirinya. Kemeja putih berbunga-bunga kecil berwarna ungu terlihat serasi dengan pilihan celana panjangnya yang juga berwarna ungu.

Wah…aliran “matching”-isme nih, pikirku. “Hi mbak, look so nice”, kata saya sambil sedikit memuji penampilannya yang memang “out of mind” itu.

“Thanks, you too”, jawabnya lagi sambil tersenyum. Tapi kali ini kesan senyumnya jauh dari resmi, seperti senyum kepada seorang teman lama.

Kita langsung berangkat. Karena mbak Tia meminta untuk tidak “makan berat”, akhirnya saya membawanya ke LV kafe, sebuah resto dengan city view yang bagus banget di bilangan dago pakar. Kalo udah malem, kelihatan indahnya warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many times I’ve been there, but still never get bored.

Temaramnya cahaya lampu resto, jilatan lidah api dari lilin di meja dan kerlap-kerlipnya lampu kota Bandung di bawah sana tidak mampu menutupi kecantikan yang terpancar dari seorang Tia, wanita yang baru saya kenal dalam beberapa jam saja.

Kalo dilihat dari face-nya sih nggak cantik-cantik banget, tapi gayanya yang ramah, wawasannya yang luas dan obrolannya yang menguasai banyak hal, membuat penampilannya begitu chic dan smart.

Daripada dengan cewek cakep dan seksi serta mampu mengeksploitasi penampilannya semaksimal mungkin, tapi kalo diajak ngomong nggak pernah nyambung dan otaknya isinya cuman kosmetik sama sale baju atau factory outlet doank sih jauh banget bagusan Tia kemana-mana.

Pokoknya smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seorang presenter TV favorit saya, yang walaupun tidak terlalu cantik tapi mampu memikat karena gayanya yang smart itu.

Mbak Tia (dan pada kesempatan ini dia minta saya cukup memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, tanpa embel-embel mbak di depannya) memesan lasagna, biar nggak terlalu kenyang katanya.

Ternyata city view Bandung masih kalah dengan view yang ada di depan saya sekarang. Asik banget melihat Tia menikmati sedikit demi sedikit makanannya. Ada suatu momen yang bagus banget saat tiba-tiba dia mendongak, mengibaskan rambut sebahunya dan menatap saya sambil berkata, ” Lho kok malah nggak makan ?”.

Hhhmmm…..asli sumpah bagus banget angle-nya. Saya pernah ikut kegiatan fotografi saat di bangku sekolah dulu, so mungkin inilah yang disebut dengan angle terbaik.

Ada beberapa saat (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang dapat terlihat sangat tampan atau sangat cantik dan saya baru menikmatinya beberapa detik yang lalu. “Heh..kok malah bengong ?”, Tia membuyarkan lamunan saya seketika.

“Ah nggak kok, cuman lagi inget-inget aja tadi taruh kunci kost dimana ?”, jawab saya sambil mencoba berbohong. Kalo dia sampai tahu saya mengagumi pemandangan tentang dia, wah bisa jadi nggak enak suasananya.

“Ooohhh….” , sahutnya pendek, entah tahu saya berbohong atau tidak. Terus terang saya selalu rada takut menghadapi alumni-alumni fakultas psikologi, takut-takut pikiran saya bisa dibaca mereka, hahahaha…. .

Lalu kita terlibat perbincangan yang hangat sambil menikmati makanan. Ada beberapa sisi baru yang saya kenal dari seorang Tia malam itu. Desember nanti usianya 26, termasuk muda untuk seorang angkatan 1992.

Anak kedua dari 3 bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik laki-lakinya sedang kuliah di sebuah PTS yang ternama di bilangan Grogol, Jakarta dan terkenal saat-saat perjuangan reformasi mahasiswa medio 1998 lalu.

Dia pernah hampir saja menikah pada awal tahun ini, namun sesuatu terjadi (Tia mengistilahkan dengan something happened in the way to heaven, mirip sama judul lagunya Led Zeppelin 20-an tahun yang lalu), kekasihnya ternyata menikahi wanita lain yang terlanjur dihamilinya.

Tia menyebutkan itulah resikonya pacaran jarak jauh, ternyata seseorang mampu menggantikan tempatnya di hati kekasihnya yang bekerja di kota tersebut. Ah…manusia, cerita tentang kehidupan mereka memang sangat beragam.

“That’s why Rio, ’till now I still can’t trust men”, Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap- kerlip lampu kota Bandung. Dia bilang pria itu seperti kucing, udah disayang-sayang tetap aja nyolong, hahahaha…. lucu juga istilahnya.

Saya cuman bisa membela kaum saya sebisanya. Biar bagaimana pun kayaknya nggak semua cowok itu kayak kucing deh, beberapa diantaranya malah lebih mirip serigala, hahahahaha.. …

Makin lama kita ngobrol, makin banyak sisi-sisi lain yang saya kenal dari seorang Tia. Bahkan sampai sekarang dia masih belum mengerti apa sebenarnya yang ada di otak kekasihnya dahulu saat meninggalkannya, padahal we had a perfect life, katanya.

Saya kira anak psikologi tahu semua jawaban tentang problem pikiran dan perasaan manusia, ternyata nggak juga tuh. Dia bilang sih nggak semua dokter bisa nyembuhin sakitnya sendiri dan nggak semua pilot bisa terbang. Untuk yang terakhir ini dia bisa bikin saya ngakak banget.

“So Rio, why are you still alone ’till now ?”, tiba-tiba Tia mengubah topik pembicaraan. Lho kok… malah ngomongin saya sekarang ?

“Ah nggak ada yang mau sama saya, hehehe…”, jawab saya sekenanya sambil becanda.

“Boong banget, mau tinggi-in mutu yah ?”, todong Tia.

“Hahaha ketahuan deh saya”, jawab saya lagi sambil cengar-cengir.

“Boleh Tia ngomong tentang penilaian Tia ke kamu ?”, katanya tiba-tiba.

“Sok, silakan, mangga….”.

Dan mulailah Tia mengutarakan penilaiannya tentang saya. Yang bikin saya kaget ternyata dia bisa tahu pikiran-pikiran saya yang cuman ada di hati, bahkan tidak ada di otak sekalipun.

Dia bilang kalo dibalik penampilan saya yang selalu tertawa dan becanda melulu, pernah ada sesuatu yang sangat melukai saya di masa lalu, dan itu sangat mungkin berkaitan dengan wanita, mengingat hingga sekarang saya masih sendiri.

Ah….saya jadi teringat masa lalu saya yang berhasil ditebak dengan jitu oleh Tia (katanya semudah membaca buku yang terbuka, sialan…..! !!). Dimana sekarang beradanya si “love of my life” itu, beberapa wanita memang sempat menggantikannya, tapi tidak ada yang benar-benar dapat “menggantikannya” , hehehe….kok jadi sentimentil gini, ini kan CCS. Hahahaha….

Untuk beberapa saat saya terdiam, nggak tahu sebenarnya apa yang saya pikirkan. Apakah pikiran saya lagi ada di masa lalu atau tengah mengagumi sesosok wanita yang duduk tepat dihadapanku. Akhirnya saya hanya melemparkan pandangan menatap gemerlapnya kota Bandung di bawah sana.

…..and baby I…, I’ve tried to forget you

but the light on your eyes still….

shine…., you shine like an angel

spirit that won’t let me go….

Lagu Angel yang dinyanyikan Jon Secada makin menghanyutkan saya dalam lamunan. Sampai akhirnya…, “Bagus yah Rio, pemandangannya. ..”, tegur Tia membuyarkan pikiran kosongku.

“Yup, saya selalu suka city wiew seperti ini”, jawab saya sekenanya, biar nggak dikira ngelamun.

Malam semakin larut ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel. Kita makin dekat satu sama lain, saling curhat selama perjalanan di mobil. Becanda, ketawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah mungkin saya aja yang terlalu terbawa suasana.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kita kembali menginjakkan kaki di lobby hotel. “Rio, mau nemenin ngobrol sebentar nggak ?”, tanya Tia tiba-tiba.

“Boleh aja, emang belum ngantuk?”, tanyaku balik.

“Nggak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia jadi susah tidur.”, katanya memberi reasoning.

Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar Tia yang terletak di lantai 4. Sebuah kamar standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel berbintang. Good enough, daripada kamar kostku, hehehehe….

“Lha kamu sendiri di sini ?”, tanya saya begitu melihat tidak seorang pun di kamarnya.

“Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga”, jelasnya, “Tapi dia langsung pulang Jakarta pake kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada acara apa gitu di keluarganya” .

Kita memasak air dengan menggunakan ketel elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian masing-masing menikmati secangkir coffemix panas. Kursi sengaja kita balikkan menghadap ke jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang telah temaram dan senyap.

Sesekali terlihat mobil melintas dengan kecepatan di atas rata-rata, mungkin karena sudah malam. Begitupun suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari TV yang dihidupkan yang menemani perbincangan kita, menggantikan cahaya lampu yang memang kami padamkan.

Entah mengapa, saya merasa begitu dekat dengan Tia, padahal baru beberapa jam kita berkenalan. Ah sekali lagi, mungkin saya terlalu terbawa suasana….

Namun kali ini ternyata Tia yang duduk di sebelah saya bukanlah seperti Tia yang saya kenal dalam jam-jam terdahulu.

Dalam curhatnya, ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib saya untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain.

Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, saya selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam lingkaran terdekat saya.

Dan kini saya harus menghadapi Tia yang sesekali sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya dan menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu. Love…, look what you have done to her, bastard…!!

Saya bangkit dari duduk dan berjalan perlahan menghampirinya. Saya hanya bisa termangu berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang menyesakkannya selama berbulan-bulan.

Saya mencoba menenangkannya sebisa saya dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.

Setelah beberapa waktu kita membahasnya, Tia terlihat sudah agak tenang. “Thanks Rio, kamu mau jadi tempat sampah Tia”, katanya sambil sedikit tersenyum.

“That what friends are for”, jawab saya singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua daripada saya, hehehe..pamali tau…!!

Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada tepi ranjang sambil meluruskan kaki. Hhmmm..enak juga duduk posisi kayak gini. Tidak berapa lama kemudian Tia menyusul turun dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi lesehan di sampingku.

Kayaknya enak banget lihat gaya kamu, katanya sebelum dia menyusulku duduk di karpet. “Rio, kamu itu aneh yah ?”, tiba-tiba suara Tia menyentakku.

“Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?”, tanya saya asal sambil menirukan sebuah dialog sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu. Hihihihi…. terdengar Tia cekikikan mendengarnya.

“Ya aneh aja, Tia baru kenal kamu hari ini, tapi rasanya Tia udah kenal sama kamu lama banget”, katanya lagi, “Sampai Tia mau curhat sama kamu, padahal Tia paling jarang curhat, apalagi sama orang yang baru kenal”.

“Sama, Aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kita pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah ?”, jawab saya sambil nyengir.

“Ada-ada aja kamu….”, katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kananku. Jujur aja saya cukup terkejut menerima perlakuannya, but santai aja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak ?

Cukup lama kita masing-masing terdiam dalam posisi ini sambil memandang sebagian horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari jendela kamarnya. Sayup-sayup terdengar dari TV rintihan Sinnead O’Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya :

…I can eat my dinner in the fancy restaurant but nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to you…..

Perlahan saya usap rambutnya dan memberanikan diri untuk mengecup keningnya. Tia mendongakkan kepalanya untuk memandangku. Beberapa saat kita saling berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama ini saya cari ?

Mungkinkah saya menemukannya hanya dalam beberapa jam saja setelah sekian lama saya mencarinya entah kemana ? How can I be so sure about that ? dan sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati detik demi detik kami berpandangan.

Yang saya tahu beberapa saat kemudian wajah kita semakin mendekat dan sekilas saya melihat Tia menutup matanya dan pada akhirnya saya kecup lembut bibirnya.

Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan saya raih pinggang Tia dan mendudukkannya dalam pangkuan.

Kini kami semakin dekat karena Tia saya rengkuh dalam pangkuan saya. Saya usap lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia lepaskan.

Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar tarikan nafas Tia yang terdengar begitu lembut. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai menurunkan bibir ke arah lehernya.

“Ugh…”, hanya terdengar lenguhan lembut seorang Tia ketika ia mulai merasakan hangatnya bibir saya menjelajahi lehernya.

Walk In Interview Yang Berujung Ngewe

Tidak ada perlawanan dari aksi yang saya lakukan. Tia justru makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang. Kedua tanggannya meremas seprai tempat tidur sebagai tumpuan.

Saya pun semakin terhanyut terbawa suasana. Saya perlakukan Tia selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan makin menekankan punggungnya ke arah tubuhku.

“Rio…oohh. ..”, lenguh Tia saat dia menyadari terlepasnya satu per satu kancing kemejanya. Ya…saya memang melepaskannya untuk melanjutkan cumbuan saya kepadanya. Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari dada Tia, seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami.

Dengan sekali gerakan, saya dapat menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri dengan Tia dalam gendongan. Tangannya mulai meremasi rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh terhempas ke karpet, menyisakan bagian atas tubuh Tia yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih.

Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai akhirnya saya merebahkannya di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum saya meraih tombol off TV yang terletak di buffet samping ranjang.

Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu. Tia mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing kemejaku hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan saat saya berhasil melepaskan bra-nya.

Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku. She’s different, pikirku. Jujur saja, saya sudah beberapa kali mengalami sexual intercouse, pun dengan orang-orang yang baru saja saya kenal. Namun kali ini terasa berbeda.

Ada perasaan lain yang mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi tidak berarti lagi keberadaannya. Sayang…., yah mungkin inilah yang disebut dengan perasaan sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan keberadaannya.

Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan selembut mungkin. Tia bukan hanya seseorang yang mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she deserves the best…!!

Terdengar lagi lenguhan Tia saat saya mulai mengulum buah dadanya. Kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Mungkin hasrat itu telah memenuhi kepalanya.

Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat terkejut. Saya meneruskan cumbuan saya ke arah perutnya, hingga pada akhirnya berhasil membebaskan celana panjangnya ke karpet.

Sekarang terpampang pemandangan yang tidak mungkin saya lupakan, seorang Tia yang baru saya kenal hari ini, rebah dengan hanya berbalutkan celana dalam. Untuk pertama kalinya saya memandang seorang wanita dalam kondisi seperti ini tidak dengan nafsu yang menguasai.

Begitu terasa bagaimana saya memang menyayangi dan menginginkannya. Matanya yang memandang lembut ke arahku, menghadirkan begitu banyak kedamaian, sesuatu yang terus saya cari selama ini dari diri seorang wanita.

Kini saya mengulum pusarnya, seiring lenguhan-lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan saya mulai menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuh Tia.

Terdengar sedikit nada terkejut Tia saat saya mulai menurunkan centi demi centi celana dalamnya menyusuri kedua kakinya hingga terlepas entah kemana. Seiring itupun, saya mulai menurunkan jilatan ke arah selangkangannya.

“Rio…mau ngapain…, uugghh…”, pertanyaan yang coba diajukan Tia tidak dapat diselesaikannya begitu dirasakannya sebuah jilatan mendarat di organ kewanitaannya.

Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memang saya usahakan selembut mungkin, hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal ini malah justru memicu reaksi Tia semakin terbakar. “Ohhh….Riooo. ..”, lenguhnya panjang diiringi nafasnya yang semakin tidak beraturan.

Hisapan dan jilatan silih berganti saya lakukan dengan penuh kelembutan padanya, hingga pada akhirnya terdengar Tia seperti mendekati puncaknya. “Aaahhh….. .”, jeritnya panjang sambil menghentakkan tubuhnya ke atas saat puncak itu datang melandanya, menggulungnya dalam suatu sensasi keindahan yang sangat melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang kenikmatan yang begitu dalam.

Kini saya memandang wajahnya. Matanya yang terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri dan tangannya yang mencengkram seprai di tepian ranjang dengan kencang serta nafasnya yang tidak beraturan cukup untuk mengekspresikan betapa tingginya Tia terbuai dalam gelombang orgasme yang baru saja dilaluinya.

Saya biarkan Tia meregang dirinya dalam detik demi detik puncak kenikmatan yang baru saja didapatnya untuk menyibukkan diri mencari sebuah benda yang “lubricated with nonoxynol 9, for greater protection” (If you were a great CCS fan, you should know this thing) yang selalu disisipkan di dompetku (my friend said that only bastards always bring this thing around. Yeah…maybe I’m the one of them).

Tia baru membuka matanya ketika dirasakannya sebuah benda menempel lembut pada bibir organ kewanitaannya. Dibukanya matanya memandang lembut ke arah wajahku yang tepat berada di depan wajahnya. “Tia, may I….?”, bisikku sambil mengecup keningnya.

Tia hanya mengedipkan kedua matanya sekali sambil tetap memandangku. That’s enough for me to know the answer of this question.

Perlahan-lahan saya tekan kejantananku menerobos liang kewanitaannya. So gentle and smooth. Terdengar nafas Tia tertahan di tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi mili penetrasi yang dilakukanku terhadapnya, hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh.

Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak, menikmati bersatunya raga (dan hati) kami berdua. Saya kecup bibirnya lembut sebelum mulai melenakannya dalam sebuah persetubuhan yang sangat indah.

Saya masih ingat persis, bagaimana kedua tangan kami saling bergenggaman erat di sisi tepi ranjang saat kami terus bergumul menyatukan hasrat dan raga kami. Betapa lembut buah dadanya menekan dadaku, dan betapa hangat melingkupi kejantananku yang terus memompanya, membawa kami semakin tinggi terbuai kenikmatan duniawi.

Entah berapa lama keadaan ini berlangsung, ketika pada saatnya terdengar Tia mulai mendekati orgasme keduanya. Tangannya merangkul pundakku, mendekap tubuhku erat seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang orgasmenya.

Nafasnya makin memburu, terdengar jelas di telinga kananku. Saya pun meningkatkan kecepatan penetrasi untuk membantunya mendapatkan puncak kedua kalinya.

“Eeegghhh… .Riooo… …aahhh. .”, jerit Tia tertahan mencoba menyebut namaku saat gelombang orgasme keduanya benar-benar datang menggulungnya, menelannya kembali ke dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam.

Saya menghentikan pergumulan kami sejenak, memberinya kesempatan untuk kembali mengatur nafasnya seusai melewati puncaknya yang kedua. Saya hanya memberikan senyuman dan kecupan lembut di keningnya saat pada akhirnya Tia mulai membuka matanya.

“You’re so lovely tonight”, bisikku padanya.

“Rioo…eh.. !!”, teriaknya sedikit terkejut saat tiba-tiba saya menarik kedua tangannya untuk kemudian mendudukkannya dalam pangkuanku. Punggungku bersandar di kepala ranjang, dan wajah kami saling memandang. Kami kembali berciuman.

Perlahan kuangkat tubuhnya, untuk kembali menekankan kejantananku pada liang kewanitaannya. Walaupun kami tengah berciuman, masih sempat kudengar erangan lirihnya saat Tia merasakan bagaimana kejantananku perlahan menikam tubuhnya.

Kali ini kubiarkan Tia memegang kendali. Kubiarkan bagaimana dengan bebasnya Tia memompa diriku. Pundakku dijadikan tumpuan olehnya untuk terus menaik-turunkan tubuhnya di atasku. Saya hanya membantunya dengan meremas buah pinggulnya dan sedikit menaikkan posisi selangkanganku, hingga batangku terasa makin dalam menghujamnya.

Ahh….sungguh suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan bagaimana melihat dirinya terus menyatukan raga kami ke dalam suatu persetubuhan yang sangat intim. Matanya yang terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri dan tubuhnya yang berguncang-guncang. ….Ughh. .., It’s really a loveable thing to see.

Pemandangan yang sangat melenakan ditambah dengan kehangatan yang makin erat menghimpit kejantananku, menit demi menit mulai membuaiku ke dalam sensasi kenikmatan sebuah persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak, menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku. Oh My God, I think I’m gonna cum.., pikirku.

“Riooo….I’ m almost there…”, bisik Tia lirih sambil mempercepat gerakan tubuhnya memompaku.

“Yes…babe, me too…”, jawabku sambil mengecup erat bibirnya.

Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju puncaknya seakan berpacu dengan gelombang menuju puncakku. Goncangan tubuhnya makin terasa mendesak cairan kejantananku untuk keluar, sementara tikaman batangku

semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu orgasme yang hanya tinggal sejengkal dari raihannya.

“Aaahhhh…Riooo. …”, jeritnya lirih memanggil namaku saat ternyata gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya. Saya masih sempat

meneruskan tikaman kejantananku beberapa kali lagi hingga pada

akhirnya…

“Tiaaaa…., I’m cummiiinngg. …!!”, teriakku sambil mendekap erat tubuhnya. Terasa bagaimana derasnya cairanku menyembur keluar.

Fortunately I use condom, masih sempat diriku berpikir di sela-sela gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam suatu sensasi

kenikmatan yang sangat dahsyat.

Dalam beberapa saat ke depan kami hanya mampu berpelukkan erat, untuk kemudian bersisian rebah di ranjang. “Thanks honey, you’re so great…”, bisikku sambil mengecup lembut bibirnya.

“Ahh…Rio.. .”, lirih suaranya terdengar, seakan ingin mengatakan hal yang sama kepadaku

Terlihat bagaimana lengangnya perempatan jalan Tamblong yang memotong Jalan Asia Afrika di bawah sana. Hanya traffic light yang mengerjapkan cahaya kuningnya yang menandakan adanya kehidupan di sana. Sesekali melintas mobil angkutan kota yang beroperasi selama 24 jam menuju terminal Kebon Kelapa.

Kami hanya duduk menatapnya tanpa banyak berkata-kata. Kugenggam erat Tia dalam pangkuanku, menatap kesunyian tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh kami. Terkadang kudengus lembut telinga Tia, yang selalu saja diiringi desahan manjanya.

Ah..betapa romantisnya, memandang cahaya lampu lewat tengah malam tanpa selembar busanapun yang melekat. Tak terasa sudah lebih dari setengah jam kita berdua tertegun memandang jalanan sejak gelombang orgasme tersebut menelan kami berdua dan menenggelamkan hingga ke dasarnya.

“Rio, Tia pengen mandi rasanya”, tiba-tiba suara Tia mengejutkanku.

“Ya udah sana mandi”, jawabku, “Eh pintunya jangan dikunci yah, siapa tau ntar saya mau nyusul”, godaku lagi.

“Huuh…maunya” , sahut Tia manja sambil menjentikkan telunjuknya di hidungku dan kemudian berlalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Selanjutnya saya hanya terdiam, melanjutkan lamunanku sendiri. Mengingat betapa beberapa menit yang lalu saya telah melalui sebuah sexual intercouse yang sangat indah.

Kali ini sungguh berbeda rasanya, lembut dan melenakan. Sungguh jauh lebih indah dibandingkan dengan pengalaman- pengalaman terdahulu, dengan beberapa wanita yang sempat hadir dalam malam-malamku.

Entah mengapa tiba-tiba timbul keinginanku untuk selalu berdekatan dengan Tia. Hanya beberapa menit ia tinggalkan (dan itupun hanya untuk mandi), rasa kehilangan itu sudah hadir dalam benakku.

Tanpa kusadar telah kulangkahkan kakiku ke arah kamar mandi untuk menyusul Tia. Krek…terdengar pelan suara handle pintu kamar mandi yang kuputar. Hmm…ternyata memang Tia tidak menguncinya, wah bandel juga nih anak, pikirku.

Perlahan kubuka pintu untuk kemudian mendapatkan suatu pemandangan yang sangat memukau. Terlihat samar-samar dari belakang bagaimana Tia tengah menikmati pancuran air dari shower yang membilas lembut tubuhnya.

Kaca penutup shower menghalangi pandanganku karena telah tertutup uap dari air hangat yang Tia gunakan. Entah mengapa pemandangan yang tersamar ini membangkitkan kembali gairahku. Terasa bagaimana kejantananku mulai menunjukkan reaksinya.

Perlahan kubuka pintu kaca shower untuk kemudian mendekap tubuh Tia dari belakang. “Hei….!!”, seru Tia terkejut sesaat menyadari ada orang lain yang berada dalam kotak showernya.

“It’s me honey…”, kataku menenangkan sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke arah leher belakangnya.

“Ughh…Rio. ..”, lenguh Tia pendek. Terus kudaratkan ciuman bertubi-tubi ke tubuhnya. Kadang di leher belakangnya, kadang di punggungnya, terkadang pula kulumat bibirnya.

Kami berciuman di tengah derasnya pancuran shower yang membasahi tubuh kami. Ingin sekali rasanya kutikamkan kembali kejantananku dari belakang ke dalam liang kewanitaannya, menikmati sensasi bercinta di sebuah shower yang deras menghujani tubuh kami dengan butiran-butiran air.

Setelah kurasa percumbuan kami cukup untuk kembali membuatnya bergairah, perlahan kutuntun batangku ke dalam vaginanya. Sejenak terasa lembut dan hangat tatkala kejantananku menempel pada bibir liang kewanitaannya, sebelum kuhentakkannya menerobos hingga ke pangkal batangku.

“Arrggghh… …”, jerit Tia tertahan ketika ia mulai merasakan dirinya sesak dipenuhi oleh desakan kejantananku.

Saya mulai memompanya perlahan, keluar dan masuk. Tia membuka kedua kakinya lebar sambil kedua tangannya bertumpu pada kedua keran panas-dingin pada shower.

Kami kembali bercinta, bergumul dalam desakan arus birahi yang memenuhi kepala dan tubuh kita. Kami bersetubuh di bawah siraman kehangatan shower yang terus menghujani tubuh kami tiada henti.

Terdengar sayup-sayup deru nafas Tia diantara derasnya suara air yang tumpah keluar dari shower. Kulingkarkan tangan kananku di leher Tia ketika kudaratkan tangan kiriku untuk mempermainkan puting kanannya, sambil tentunya terus memompanya dari belakang.

Terus kutikamkan batangku ke dalam liang vaginanya tiada henti. Menit demi menit berlalu, mengiringi persetubuhan kami yang sangat indah. Terasa bagaimana semakin ketatnya lubang kewanitaan Tia kian menghimpit kejantananku.

Tiba-tiba kedua tangan Tia menjangkau tangkai shower yang terpaku pada dinding bagian atas kepalanya, mendongakkan kepalanya seraya melenguhkan erangan yang begitu menggairahkan perasaan, “Riooo…. aahhhhh….. “.

Ternyata Tia kembali meraih orgasmenya yang menariknya kembali ke dalam kenikmatan yang bergulung-gulung mendera bathinnya. Kudekap erat tubuhnya, menjaganya dari kelimbungan yang mungkin dapat saja menghempaskannya ke lantai marmer yang kami injak.

Beberapa saat tetap kudekap erat tubuhnya, sampai pada saat akhirnya Tia mulai dapat menggerakkan dirinya sendiri. Kami sejenak bertatapan, perlahan kucium lembut bibirnya. “You’re wonderful, Babe”, pujiku saat dia mulai membuka matanya dan memandang ke arahku.

Tia membalikkan tubuhnya dan memelukku erat. Kucium kembali bibir Tia sambil kuangkat tubuhnya meninggalkan kotak shower tempat kami memadu nafsu. Kurebahkan tubuhnya di lantai marmer kamar mandi dengan perlahan. Kembali kuletakkan kejantananku di bibir kewanitaannya seraya perlahan mendorongnya masuk ke dalam.

Sejenak kulihat Tia mengigit bibirnya sendiri, seakan tengah menikmati sensasi penetrasi batangku ke dalam liang vaginanya. Kembali kupompakan kejantananku ke dalam tubuh Tia, membiarkan tungkainya bersandar di pundakku untuk kemudian membuat kami terbang meraih kenikmatan duniawi dengan lembut dan perlahan.

Terus kusetubuhi tubuh Tia yang tergolek di lantai, mencoba mengimbangi gerakan pinggulnya yang makin menjepit batangku.

“Tia, Rio mau keluar…”, bisikku lirih saat mulai kurasakan sesuatu mendesak keluar dari batang kejantananku, setelah beberapa waktu berlalu.

“Yes Rio, cum to my breast”, sahut Tia sambil mengecup perlahan bibirku sejenak.

Terus kupompakan batang kejantananku untuk mencapai puncak ejakulasiku yang kedua dalam hari ini. Saya mencoba untuk menahannya selama mungkin, namun usahaku tidaklah banyak membawa hasil karena tidak berapa lama kemudian kupastikan bahwa benteng pertahananku tidak akan bertahan lama lagi.

Sempat kuhujamkan beberapa kali lagi kemaluanku dalam liang vaginanya sebelum berteriak keras seraya menarik keluar batangku dan memuntahkan isinya, membajiri seluruh permukaan dada Tia.

“Ahh…I’m cummiiiinggg. ..”, teriakku parau.

“Yes….ehhhmmm. ..”, erang Tia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, karena dirasakannya cairan kejantananku ternyata juga mendarat di wajah dan rambutnya.Cukup lama kuregang diriku dalam orgasme yang sangat dahsyat, dimana Tia ikut membantunya dengan mengurut-urut batang kemaluanku, menghabisi cairan yang mungkin masih tersisa di dalamnya.

Kucium bibirnya dalam sambil mengucapkan terima kasih atas klimaks yang baru saja saya dapatkan, sebelum akhirnya merebahkan diriku di sampingnya.

Saya tersadar dari tidur dengan mendadak. Di sampingku tergolek tubuh Tia yang tidur memunggungiku sambil kupeluk dari belakang. Sejenak kucoba mengingat-ingat apa yang baru saja saya alami. Samar-samar saya mulai mengingat bagaimana sekitar satu setengah jam yang lalu kulalui sebuah klimaks yang dahsyat dalam dekapan Tia di lantai kamar mandi.

Yah kuingat bagaimana kemudian kami saling membersihkan diri, mengeringkannya untuk kemudian menikmati tidur dalam posisi saling berpelukan.

Terasa dinginnya udara AC kamar menjalari tubuhku yang tidak ditutupi selembar kainpun saat kusingkapkan selimut untuk kemudian mencari pakaianku yang berserakan di lantai kamar yang ditutupi karpet bernuansa maroon. Kukecup lembut kening Tia saat telah lengkap saya berpakaian.

Terdengar lirih suara Tia saat dia mulai tersadar sedikit demi sedikit dari tidurnya. Kukecup bibirnya saat dia benar-benar telah membuka matanya, memandangku dengan suatu tatapan yang sangat sulit ditebak artinya. Tatapan sayangkah itu…?

Jam mobilku menunjukkan pukul 05.21 WIB ketika dengan santai kukendarai mini jeep-ku membelah jalan Asia Afrika yang masih lengang sambil mendengarkan musik yang mulai dimainkan radio-radio swasta yang mulai mengudara.

Saya memang harus segera pergi dari sisi Tia, setidaknya untuk hari ini, karena dia akan kembali ke Jakarta dengan rombongannya setelah breakfast nanti. Pasti suatu pemandangan yang tidak lucu jika teman-teman yang menyusul ke kamarnya, menemukan kami sedang tidur berpelukkan tanpa busana sama sekali.

But no business talks allowed, masih terngiang di telingaku perkataan Tia saat kuajak dirinya melewatkan malamnya menikmati suasana Bandung semalam. Yah…semoga memang begitu keadaan selanjutnya.

Terus terang saya paling tidak mau mencampurkan urusan pekerjaan dengan pribadi. Jika saya ditolak untuk pekerjaan, biarkanlah itu karena memang saya tidak cukup qualified untuk diterima, bukan karena saya telah berani “kurang ajar” kepada salah seorang pengujinya (itu pun kalau dia anggap bahwa saya kurang ajar, hehehehe…. ).

Di lain pihak jika saya diterima bekerja, biarlah itu karena memang skill dan capability saya memang dibutuhkan oleh perusahaan, bukan karena saya berhasil menjalin suatu hubungan khusus dengan seorang Tia. Meminjam istilah mbak Sari, mendaki corporate lewat ranjang, hahahaha…. .

Dalam hati saya masih sedikit terbersit harapan untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Masih terasa bagaimana Tia mengecup lembut bibirku saat dia melepasku di pintu kamarnya.

As I said before, everything seems so right when we’re together.

Is she the Miss Right for me after I’ve been looking for all over places ?

Why do I feel that she’s the one, eventhough I have known her only by day.

Biarlah waktu yang menjawabnya, karena orang bijak berkata hanya waktulah yang dapat secara pasti menentukan apa yang akan kita jalani di masa depan, sepasti sinar matahari yang selalu menyapa penduduk bumi setiap pagi.

Seperti saat ini, dimana sinar matahari yang pertama jatuh menemani perjalananku menembus lengangnya jalanan kota ini..

Demikian artikel tentang cerita Hokinya Diriku Mau Interview Kerja Eh Malah Dapat Cicip Meki Gratis HRD Murahan Atas Bawah Montok.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Teman Kantor Yang Bispak Ku Jadikan Tempat Penampungan Sperma Dari Rudalku Yang Perkasa.

Teman Kantor Yang Bispak Ku Jadikan Tempat Penampungan Sperma Dari Rudalku Yang Perkasa.Aku bekerja di perusahaan keuangan Jln. Jendral Sudirman, Jakarta. Posisiku lumayan bagus. Usia 30 tahun, dengan tinggi badan 175 cm dan berat 69 kg. Pengalaman ini terjadi seminggu yang lalu.

Waktu itu baru jam 7 malam. Aku sudah mau pulang karena ada janji dengan teman di Cinere. Ketika lewat front office kulihat Sasa sedang berbenah mau pulang juga. Ketika kutanya ternyata dia mau ke kawannya di Lebak Bulus.

Jadi satu jalan. Kebetulan Sasa tidak bawa mobil sendiri. Kutawari untuk pulang bareng dan Sasa oke. Daripada kehujanan, katanya. Lumayan ada teman ngobrol di jalan.

Dalam bekerja Sasa masuk dalam supervisiku. Kuakui dia sangat cantik. Berdarah Arab (Yaman kata dia), langsing, tinggi sekitar 165-170 cm dan kulitnya putih. Rambutnya berombak agak pirang (asli, bukan karena dicat) dan bibirnya sangat sensual.

“Dingin Sa?”, tanyaku ketika sampai di sekitar Blok A.

Memang kurasakan mobilku dingin sekali AC-nya. Padahal sudah kusetel minimal. Mungkin karena hujan meskipun tidak deras. Dan penyakit di selatan Jakarta, kalau hujan macetnya minta ampun. Jam sudah menunjukkan pukul 8.15.

“Iya Pak. Dingin banget”, katanya sambil mendekap tangannya ke dada.

“Kalau di luar gini jangan panggil Pak. Nama saja”, kataku.

“Ya Pak”.

Hujan makin deras. Jalanan makin macet. Jam 9 kami masih berkutat di Blok A.

“Aku laper Sa”.

“Sama. Aku juga dari tadi”.

Kami tertawa bareng. Perut kosong, badan menggigil. Bayangin. Kami ngobrol apa saja tentang kantor, teman-temannya, keluarga sampai keinginannya untuk dapat cowok non arab.

Kulirik Sasa sedang menggosok-gosok tangan kanannya ke hand rem. Mungkin biar hangat. Dengan tangan kiri kupegang tangannya.

“Tanganmu dingin banget”.

“Dari tadi”.

“Aku juga kan?”.

“He eh”, sahutnya tanpa mencoba melepas tangannya dari remasanku. Hujan tetap lebat. Praktis mobilku berhenti seperti yang lain. Macet.

Dalam diam saya remas-remas tangannya. Sasa diam saja. Bahkan juga mulai ikut meremas.

“Lumayan. Agak hangat”, kataku.

“He eh”, jawabnya sambil senyum.

Kulirik Sasa memakai rok mini. Paha putihnya kelihatan meskipun agak gelap. Kubawa tanganku ke pahanya. Sasa juga diam. Dilepaskan tangannya agar tanganku leluasa meraba pahanya. Halus, haluus sekali pahanya.

Kuusap-usap naik turun. Perlahan tapi pasti aku mulai menyentuh celana dalamnya. Dari ujung dengkul, dengan gerak mengambang kuusap sampai menyentuh celana dalamnya. Berulang-ulang, Hmm.., lenguhnya.

“Makin hangat sa”, bisikku.

Sasa diam saja. Kulirik dia memejamkan matanya. Tangannya memegang tanganku di diusap-usapkan ke celana dalamnya. Kini Sasa yang mengendalikan tanganku. Kurasakan mulai basah.

Tanpa sadar kulihat sudah lewat Golden Trully. Kutarik tangan Sasa, kubawa ke penisku yang sejak tadi menegang tapi masih rapi tertutup celanaku. Sasa mengerti. Dia remas-remas penisku. Lama kami saling mengelus, mengusap dan meremas barang maing-masing. Aku juga merasa sudah mulai basah.

Kami sudah sampai perempatan Lebak Bulus. Arah Cinere masih macet. Kanan arah Pondok Indah kosong. Jam sudah jam 11.

“Aku laper”, bisikku di telinga sambil menjilat belakang telinganya.

“Cepet mampir. Bisa pingsan aku. Laparr..”, bisiknya.

Sasa tetap memejamkan matanya. Tanganku terus aktif bergerilya. Perlahan kutarik pelan rambut vaginanya dari arah samping celana dalamnya. Sasa terus melenguh. Pahanya makin panas. Tangannya makin aktif mengelus-elus penisku dari luar.

Aku ambil kanan. Lalu menyusuri jalur paling kiri. Sementara kegiatan dihentikan. Sekarang cari makan. Kulihat bangunan berpagar bambu gelap. Jalannya turun. Mungkin hotel. Kita bisa makan.

“Kiri ya?, Mungkin kita bisa makan di resto-nya”, bisikku.

“Itu restoran?”, tanya Sasa.

“Nggak tahu. Kalo resto ya syukur, kalau hotel kita bisa makan di restonya”, jawabku sejujurnya. Sejujurnya, waktu itu aku belum tahu sama sekali tempat itu.

Aku belok kiri. Lalu ada orang berlari-lari memakai payung menyambut dan memberi kode untuk mengikutinya. Dia menunjuk suatu tempat seperti garasi dan mempersilakan mobilku masuk garasi itu. Aku masuk. Lalu pintu garasi ditutup.

Aku memandang bingung ke arah Sasa. Dia mengangkat bahunya tanda bingung atau tidak tahu juga. Aku lalu turun. Sasa masih di dalam. Kuikuti petugas yang masuk pintu di garasi. Ternyata kamar tidur.

Sebuah spring bed besar di tengah. Dua tempat duduk dan satu meja kaca. Dindingnya tertempel kaca besar. Kamar mandi ada di dalam tapi pakai shower.

Ooo.., Ternyata ini hotel atau motel garasi yang diceritakan teman-temanku. Setelah membayar kamar dan pesanan makanan, petugas keluar. Aku mengikuti.

“Turun yuk”, kataku kepada Sasa.

Sasa turun. Kugandeng dia masuk kamar. Lalu kukunci. Sasa tertegun. Aku lalu berdiri di depannya. Memandangnya. Sasa lalu memandangku. Agak lama. Entah bagaimana kami lalu saling menubruk. Kucium Sasa sampai terengah-engah.

Kujilati bibirnya sambil berdiri. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya. Sasa tak kalah garang. Dia memelukku erat-erat dan membalas ciuman buasku. Tangan kiriku menyusup ke blusnya. Tangan kanan menyususp ke celana dalam bagian belakang mengusap-usap pantatnya.

Kuciumi Sasa dengan buas. Bibir sensualnya kulumat habis. Lidahku meliuk-liuk dalam mulutnya dan disambut dengan kelincahan lidahnya. Lalu turun ke leher. Kujilati lehernya. Sasa memejamkan matanya terus menikmati rangsanganku. Tangannya terus mengusap-usap penisku yang masih rapi dalam sarangnya.

Pintu diketuk dari luar. Otomatis kami menghentikan aktifitas yang menggairahkan ini.

“Aku ke kamar mandi dulu”, bisiknya, aku mengangguk.

Makanan kutarik di meja. Kutuang coca-cola dalam gelas yang telah berisi es. Kuteguk. Hmm.., segar. Kudengar suara shower di kamar mandi. Rupanya Sasa mandi. Pantas lama. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi.

Gila!, Gila!, Belum pernah kulihat pemandangan seindah dan seeksotik ini. Menggairahkan, menakjubkan. Aku bengong, terpana, terpesona.

Kamar mandi remang. Hanya cahaya lampu 5 watt yang menerangi. Sasa sedang mandi di bawah pancuran shower. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat sempurna. Putih dan mulus tubuhnya yang tersiram air bagai di gambar-gambar playboy.

Tinggi, kakinya panjang dan jenjang, pinggangnya kecil, tapi pinggulnya cukup besar. Sangat sempurna. Sasa sedang menggosok lehernya dengan sabun sambil memejamkan matanya.

“Tolong matikan AC kamar. Agar nggak kedinginan kalau keluar”, katanya.

Aku terjaga dari lamunanku. Cepat aku keluar. Memang dingin sekali. AC tidak kumatikan tapi kusetel menjadi 35. Biar hangat. Lalu aku ke kamar mandi.

“Jangan bengong. Mandi sekalian.”, katanya waktu aku bengong lagi, aku segera melepas dan celanaku.

Airnya hangat. Pantas Sasa berlama-lama setelah kedinginan di mobil tadi. Setelah badanku basah tersiram air, Sasa menyabuni seluruh tubuhku dengan pelan dan lembut. Mula-mula tanganku, lalu dada dan perut. Disuruhnya aku berbalik dan kemudian punggungku.

Sasa jongkok. Disabuninya kakiku, lalu naik ke paha. Aku memejamkan mata. Kurasakan seluruh elusan dan usapan tangan lembutnya ke seluruh tubuhnya. Akhirnya Sasa memegang penisku dan dielusnya pelan-pelan. Licin dengan sabun, kemudian ditarik dan lepaskan tangannya dari penisku.

Kini giliranku. Kuambil sabun dari tangan Sasa. Mula-mula kuusap kedua tangannya. Lalu perutnya. Naik, kedua dadanya kusabuni dengan lembut. Kenyal. Putingnya mencuat ke atas. Tangan kiriku ke dada kanan dan tangan kananku ke dada kirinya.

Berulang-ulang. Sasa memejamkan matanya sambil mendesah. Aku lalu jongkok. Kuusap kaki dan betis indahnya. Pelan. Kunikmati keindahan ini. Lalu naik ke pahanya. Agak direnggangkan agar tanganku bisa menyusup ke celah pahanya. Lalu naik sampai akhirnya kusabun rambut-rambut vaginanya. Agak lama kuusap vaginanya.

“Sudah.sudah..”, lenguhnya.

Aku berdiri. Kupeluk Sasa. Licin tapi nikmat. Tubuh kami bersatu. Kuciumi mulutnya sampai Sasa terengah-engah. Tubuh kami terus bergerak mencari kenikmatan. Tanganku mengusap pantat, paha dan kedua dadanya.

Tangan Sasa juga terus menggerayangi tubuhku. Dari usapan di punggung, pantat dan akhirnya bermuara ke penisku. Dikocok-kocoknya penisku. Aku merasa nikmat. Belum pernah kualami pengalaman sedahsyat ini.

Sasa mundur dan bersandar di dinding. Kaki direnggangkan. Tangannya terus memegang penisku. Sabun makin cair tapi masih tetap licin. Perlahan mulai kutusukkan penisku ke vagina Sasa. Sasa mengerti. Direnggangkan lagi kakinya.

Dibimbingnya penisku ke vaginanya. Dan ahh.., aku mulai masuk. Mula-mula perlahan. Makin lama makin cepat. Tangan Sasa memeluk kedua pantatku ikut menekan. Nikmat sekali. Badan masih licin. Terus kuayun pantatku dan penisku menghujani vagina Sasa berulang-ulang.

Tak lama, Sasa tak tahan lagi. Dipeluknya aku erat-erat. Sasa telah sampai duluan. Penisku makin kencang menancap. Kuayun lagi pelan. Makin lama makin cepat.

“Ah.., ah.., terus Pak.., terus..”, lenguhnya. Pinggulnya terus bergerak mengimbangi tusukanku. Kami terus berpelukan erat sekali. Mulutnya terus kucium. Bibir sensualnya terlalu sayang untuk dilewatkan.

Kucabut penisku. Kuhadapkan Sasa ke dinding. Aku ingin doggy style. Sasa lalu nungging. Pantatnya masih licin oleh sabun. Kuusap-usap. Jari tengahku mulai memainkan vaginanya. Sasa melenguh. Kumainkan klitorisnya. Kuusap, kupelintir, kusodok. Sasa makin menggelinjang. “Sekarang.., sekarang..”, desahnya.

Dipegangnya penisku. Dan dibimbingnya masuk ke dalam vaginanya. Aku memejamkan mata. Kutusukkan pelan penisku. Kucondongkan badanku, bersatu dengan punggungnya. Licin. Enak sekali. Tanganku meraih kedua dadanya.

Kuusap-usap. Licin nikmat sekali. Berulang-ulang sambil menusuk penisku ke vagina Sasa. Aku lalu menegakkan badanku. Kupegang sisi pinggulnya. Aku mulai mempercepat ayunan. Sasa menggoyang-goyang pinggulnya. Aku tarik, Sasa juga ikut menarik pinggulnya. Aku tusuk sekuatnya, Sasa pun mengimbanginya. “Clep.., clep.., clep”.

Akhirnya aku mau keluar. Gerakan makin kupercepat. Jeritan Sasa makin keras.

“Di dalam atau di luar Sa..”, bisikku sambil terengah-engah.

“Di luar saja”, sahutnya.

Sasa tetap nungging. Pinggulnya makin liar. Aku makin tak tahan. Dan.., kucabut penisku dari lubang kemaluan Sasa.

“Sekarang Sa..”, kataku sambil memejamkan mata.

Sasa balik badan lalu jongkok dan mengocok penisku. “Ahh.., “cret.., cret.., cret”, maniku muncrat ke wajah dan badan Sasa. Banyak sekali. Sasa terus meremas penisku sampai tetesan terakhir maniku.

Sasa meratakan spermaku ke dadanya, perut dan mengusapkan ke wajahnya. Baru kemudian dibasuh dengan air shower. Aku membantunya menggosok tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang masih menempel. Tapi tetap saja, yang lama kugosok buah dadanya yang ranum itu. Putingnya kuhisap-hisap, kumainkan dengan lidahku.

“Entar lagi”, bisiknya.

“Nggak usah pakai handuk Sa..”, kataku ketika Sasa mau keluar menuju tempat tidur.

Sasa tersenyum. Dia keluar telanjang. Aku mengikuti. Sasa langsung ke tempat tidur. Hawa sudah hangat.

“Lapar?”, tanyaku.

“Sangat”.

Sasa duduk selonjor bersandar ke belakang. Sasa duduk di atasku. Vaginanya menempel erat di penisku. Sepiring mie goreng di tengah, kita makan berdua. Kami makan lahap. Cepat tandas. Aku raih nasi goreng dan kita makan bersama. Sambil makan, Sasa menggerak-gerakkan pantatnya. Penisku yang terjepit mulai mengeras.

“Sakit Sa..”, bisikku.

“Sebentar.., tolong pegang piringnya”, ujarnya sambil mengangkat pantatnya kemudian memegang penisku yang sudah siap tempur. Perlahan dimasukkan ke vaginanya. “Bless”.

“Nggak sakit kan?”, katanya sambil duduk.

Piring yang aku pegang diminta lagi. Gila, kita lalu makan sambil penisku menancap di vaginanya. Sasa menggerak-gerakkan pinggulnya sambil makan. Akhirnya habis juga sepiring nasi goreng.

Kuambil coca-cola dingin. Segar..

“Siap?”, tanyanya.

“Ntar dulu, biar turun nasinya”, kataku.

Aku raih Sasa, kupeluk dan kutidurkan di atasku. Penisku tetap menancap di vaginanya. Karena Sasa tingginya tidak beda jauh denganku, maka wajah Sasa tepat di wajahku. Kami diam menikmati barang kita yang sedang bersatu. Agak lama kita diam. Tanganku memeluk erat punggungnya.

Ruangan makin hangat. Bahkan cenderung panas. Kami mulai berkeringat. Wangi tubuh Sasa menyapu hidungku.

“Mau didinginkan AC-nya?”, tanyaku.

“Dikit aja. Panas makin asyik. Makin berkeringat..”, ujarnya.

Sasa menggulingkan tubuhnya telentang di sampingku. Clepp.., bunyi ketika penisku tercabut dari vagina Sasa. Aku berbalik memandang Sasa. Kucium bibir Sasa dalam-dalam. Sasa menyambut dengan menyedot dalam-dalam bibirku. Disedotnya pula lidahku.

Lalu turun ke leher dan akhirnya kuhisap-hisap puting susunya yang menantang. Sasa melenguh-lenguh. Tangannya memeluk kepalaku, mengusap-usap dan menekan agar aku lebih mengulum dadanya. Capek. Kucium ganas mulutnya. Tanganku meraba-raba pahanya.

Lalu mengusap-usap rambut kemaluannya, berulang-ulang. Jari tengahku lalu memasuki vaginanya. Kumasukkan perlahan-lahan. Keluar masuk. Kepala Sasa bergerak tak beraturan ke kiri, kanan, kadang maju, mundur. Kayaknya mulai on lagi. Aku pindah lagi.

Kujilati putingnya dengan lidahku. Kupuntir-puntir, kusentuh-sentuh dengan ujung lidah. Lalu kuhisap dan kukunyah. Berulang-ulang. Matanya terpejam menikmati permainanku. Bibirnya kulihat meringis menahan nikmat. Jari tengahku menemukan klitorisnya.

Kumainkan. Kutekan, kugelitik dan kutangkap dengan jempolku lalu kupencet pelan-pelan. Sasa makin menggelinjang. Keringat mengucur di wajah dan lehernya. aakkhh.., Sasa menjerit dan menegang. Tanganku terjepit pahanya. Sejenak Sasa terdiam.

“Gile.., bener..”, desahnya sambil memandangku.

Aku turun dari tempat tidur. Kusetel AC menjadi 28. Hembusan hawa agak dingin mulai menyapu ruangan. Lampu utama kumatikan. Juga lampu dekat kamar mandi. Pintu kamar mandi kututup agar cahayanya tidak masuk. Yang menyala hanya lampu kecil di kedua sisi atas tempat tidur.

Aku berdiri di samping tempat tidur. Kupandangi Sasa yang bugil tanpa selimut. Indah, sempurna. Berkulit putih bersih tanpa ada cacat atau bekas goresan dan luka setitik pun. Kedua tangannya ditarik ke belakang kepala. Rambutnya tergerai di kedua sisi bantal. Matanya terpejam seperti menikmati orgasme yang baru kuberikan.

Dadanya menantang. Putingnya mencuat. Wajah, leher dan dadanya basah oleh keringat. Seksi sekali. Kulayangkan pandangan ke bawah. Perutnya rata, tanpa lekukan lemak. Pinggangnya kecil. Pinggulnya seakan selalu siap ditempel.

Rambut-rambut vaginanya sebagian menyeruak ke atas. Pahanya juga kecil, panjang, seperti jangkrik. Betisnya panjang. Mulus sekali. Ramping. Jari-jari kakinya lentik. Indah. Jagat Dewa Batara! Mimpi apa aku semalam! Aku menelan ludah. Tanpa sadar aku mengelus-elus penisku.

“Jangan onani sendiri.., naik”, kata lirih Sasa mengagetkanku.

Matanya masih terpejam. Sasa menggeliat. Dadanya dinaikkan. Duhai.., indahnya. Putingnya mencuat. Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya ditekuk sedikit. Mulus sekali..

Kurebahkan badanku di samping Sasa. Kumiringkan badanku. Kupeluk Sasa dari samping. Sasa tetap diam. Matanya terpejam. Nafasnya agak cepat tapi teratur. Kaki kananku di atas pahanya. Lututku tepat berada di tulang vaginanya. Kugerak-gerakkan mengusap rambut kemaluannya.

Penisku menempel erat pinggul sampingnya. Tanganku mengusap-usap payudara kirinya.

“Giliranku..”, ujar Sasa langsung bangun dan duduk bersila di sampingku. Dipandanginya tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sasa tersenyum. Dibasahinya bibirnya dengan lidahnya.

Tanpa basa basi, langsung dipegangnya penisku dengan tangan kirinya. Uff.., Aku memejamkan mata. Dipermainkan di penisku. Dicengkeram kuat, lalu dilepas. Cengkeram lagi, lepas lagi. Senut-senut rasanya.

Jempol jarinya lalu mengusap-usap topi baja penisku. Aku merasa melayang. Apalagi kalau jarinya tepat menyentuh ujung penisku. Uuuff.., rasanya tak tergambarkan.

Dengan ganas Sasa lalu menyerbu mulutku. Dilumat dan dihisapnya bibirku hingga aku sesak nafas. Rambutnya yang agak pirang tergerai menerpa wajahku. Mulut Sasa terus menerobos mulutku, dan lidahku menyusup masuk ke mulutku.

Bagai ular, kurasakan mulut itu menari-nari, mematuk-matuk lidahku. Mulut Sasa menyerbu mulutku yang kubuka dan menghisap lidahku dalam-dalam. Dimainkan lidahku di mulutnya, dikeluarkan sedikit, dan dihisapnya lagi. Nikmat sekali.

Tangan Sasa tak kalah aktif. Dikocoknya penisku dari lembut, makin cepat, cepat dan lembut lagi. Permainan ini kunikmati sambil memejamkan mata. Aku merasa di awang-awang. Tanganku menemukan payudaranya, dan kuremas-remas. Kenyal dan nikmat sekali untuk diremas. Jariku memainkan putingnya dan memang menonjol karena terangsang.

Sasa melepas ciumannya dari bibirku dan mulai menciumi wajahku. Dari dahi, kelopak mata, pipi, lalu turun ke leher dan telinga. Dihisapnya telingaku bergantian. Ini membuatku geli namun mm.., nikmat sekali.

Sasa mulai menciumi dadaku. Sampai di puting, dimainkan lidahnya di putingku. Bergantian. Rasanya tak tertahankan. Dihisapnya putingku, dan di dalam mulutnya, putingku dipelintir dengan lidahnya. Aakkhh..

Sasa kemudian merubah posisi. Tangannya tidak lepas dari penisku. Sasa melangkahi aku, dan dengan perlahan Sasa hendak mendudukiku. Dibimbingnya penisku untuk memasuki lubangnya. Dan uuff.., bless.., penisku masuk ke lubangnya. Clep..!, Sasa langsung duduk dengan mantap. Penisku tenggelam di vagina Sasa.

Aku membuka mataku. Sasa tersenyum manis. Dadanya yang indah dengan puting yang menonjol tergantung dengan manisnya. Tanganku tak kuasa untuk tidak meraihnya. Kuusap pelan payudaranya. Juga putingnya.

“Kamu cantik dan seksi sekali Fa..”, kataku tulus dan pelan.

Sasa mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar. Aku masih diam. Tapi kedua tanganku mengelus-elus kedua dadanya.

Sasa mulai menggerakkan pinggulnya makin cepat. Aku mulai menaik-turunkan pantatku. Nikmat sekali. Tangan Sasa mendekap tanganku di dadanya. Menekan agak keras. Aku makin mengeraskan cengkeramanku pada dadanya. Kuremas keras. Sasa makin gila. Pinggulnya berputar hebat. Erangan Sasa makin keras.

“Akkhh.., aakhh.., tusuk lebih keras..”, erangnya.

Aku makin ganas menembak Sasa. Untung spring bednya bagus, bisa memantul. Makin keras aku menyodok, makin keras desahan dan erangan Sasa. Dan aakkhh.., Sasa mengerang panjang, menggelinjang, lalu diam. Sasa lalu rebah ke atasku. Kupeluk erat tubuhnya. Ternyata Sasa mengalami orgasme.

Penisku masih tegak dan keras dalam vagina Sasa. Aku mulai menggerakkan perlahan. Sasa duduk lagi. Kali ini Sasa mengambil posisi jongkok. Mulanya diangkatnya pantatnya pelan, lalu dimasukkan lagi pelan. Makin lama makin cepat. Aku juga makin cepat, makin keras dan makin dalam menusuk Sasa.

Gila!, Bagai naik kuda, Sasa menghunjamkan vaginanya ke batangku di bawahnya. Sasa mulai mengerang lagi. Dengan binal Sasa menaik-turunkan pantatnya dan kuserbu vaginanya dengan penisku.

“Akkhh.., akhh..”, Sasa terus mengerang.

Ketika pantat Sasa meluncur ke bawah, dengan kekuatan penuh aku naikkan pantatku. Kusambut vaginanya dengan penis perkasaku. Aku tak tahu lagi rasa nikmat apa ini. Berulang-ulang kami mereguk kenikmatan. Mata Sasa terpejam. Kepalanya tengadah ke atas bergoyang-goyang. Seksi sekali. Keringat deras mengucur dari wajah dan lehernya yang putih bersih.

Aku merasa hampir sampai. Kupercepat tusukanku. Akkhh.., akh.., akhh.., cepat.., cepat. Sasa juga makin liar. Gerakannya makin tak beraturan.

“Aku mau keluar Sa..”, bisikku pada Sasa, Sasa diam saja. Terus saja dia menggoyangku. Dan akkh.., Sasa menjerit lagi. Kejang. Menggelinjang lagi. Orgasme lagi dia! Kurasakan jepitan Sasa makin kencang.

“Sa.., di dalam atau di luar..?”, tanyaku sambil ngos-ngosan karena terus menggoyang Sasa.

Sasa kemudian mencabut vaginanya dari penisku. Dikocoknya penisku cepat. Akkhh.., makin cepat Sasa mengocoknya, berulang-ulang. Tapi belum juga keluar.

“Kulum Sa”, pintaku.

“Aku belum pernah”, jawabnya sambil terus mengocok.

Namun Sasa kemudian menunduk dan memasukkan penisku ke mulutnya. Tangannya tetap mengocok. Sasa tidak memainkan lidahnya atau mengemut-emut penisku. Mungkin masih janggal. Aku yang mulai. Kunaik turunku pantatku. Penisku keluar masuk mulut Sasa yang terus mengocok.

Dan, akkhh.., akkhh.., eemm.., berkali-kali spermaku muncrat dalam mulut Sasa. Namun Sasa tetap saja mengocok. Aku merasa diperas sampai habis spermaku. Agak lama penisku dalam mulut Sasa. Ketika sudah loyo, Sasa mengeluarkan penisku.

Diambilnya tissu dan disekanya bibirnya. Dikeluarkannya spermaku dari mulutnya dan diseka dengan tissu berikutnya. Kemudian Sasa mengambil coca cola, berkumur dan ditelan.

Kupandangi Sasa yang luar biasa dengan perasaan kagum. Sasa tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Kami masih telanjang. Kutarik selimut. Kupeluk Sasa erat-erat. Kami lalu bobok.

Paginya kami bercinta lagi di kamar mandi. Sungguh beruntung sekali. Tak terduga. Tak dinyana. Gadis secantik Sasa bisa kusetubuhi berulang kali tanpa rencana.

Siang di kantor, ada email dari Sasa, “Pak, nanti sore kalau boleh Sasa ikut lagi. Mobil Sasa belum selesai”.

Demikian artikel tentang cerita Teman Kantor Yang Bispak Ku Jadikan Tempat Penampungan Sperma Dari Rudalku Yang Perkasa
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Pengalaman Ku Nikmatin Badan Hot Suster Binal Liar Kayak Lonte Di RS.

Pengalaman Ku Nikmatin Badan Hot Suster Binal Liar Kayak Lonte Di RS.Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dSintawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan asmara, khususnya “bercinta” saya sama sekali belum memiliki pengalaman berarti.

Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.

Sebut saja nama wanita itu Sinta, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Sinta adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala penyakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari.

Selama itu juga Sinta setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.

Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidur pun rasanya sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.

Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun, saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.

Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Sinta yang kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke kamarku.

“Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.

Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan menggiurkan. “Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari ini mbak?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.

Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itu pun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.

“Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum”, jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, saya merasa darahku seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Sinta mau memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku.

Tanpa sadar saya terbengong sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.

“Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi”.

Mbak Sinta ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.

“Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok”, elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.

“Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya”, lanjut Mbak Sinta lagi seolah memancing gaSintahku.

“Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusan” jawabku serius, saya tidak mau terlihat “nakal” dihadapan suster cantik ini. Lagi pula saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.

Suster Sinta masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku. “Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket”, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.

Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.

Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Sinta kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.

Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat. Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup.

Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Sinta saat ini. fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.

Beberapa saat kemudian mbak Sinta menyuruhku membalikkan badan.

Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang ereksi.

“Iya Mbak..”, jawabku sambil berusaha menenangkan diri, saya pun membalikkan tubuhku.

Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.

Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.

“Ahh, geli dan enak banget”, pikirku.

“Wah, kok jadi keras ya? he he he”, saya kaget mendengar ucapannya ini.

“Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?”

Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku.

Saya cuma tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Sinta semakin berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.

“Ahh, geli Mbak. Jangan digituin”, kataku menahan malu.

“Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini”, lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.

Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin terus di”kerjain” oleh mbak Sinta, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.

“Dik Iwan sudah punya pacar?”, tanya mbak Sinta kepadaku.

“Belum Mbak”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan berbicara.

“Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi.

“Belum mbak” jawabku lagi.

“hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih”, lanjutnya centil.

Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya “main” apaan yang saya pikirkan barusan.

Pasti dia berpikir saya benar-benar “nakal” pikirku saat itu.

“Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya?

Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.

Belum sempat saya menjawab, mbak Sinta sudah memulai aksinya.

Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.

Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.

“Ahh, geli Mbak”m rintihku keenakan.

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya.

Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya

dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.

Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.

“Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa gawat”, katanya.

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.

Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telanjang bulat.

Kemudian dia sendiri pun melepas topi susternya, digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang berwarna hitam.

Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun mbak Sinta benar-benar pintar membimbingku.

Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali menggigitnya.

“Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih”, desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.

Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Sinta memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok menghadap selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.

“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..”, desahku menahan agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat.

Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya dis*****kannya sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.

Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.

Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.

“Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget”, desahnya keras.

Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga.

“Mbak Sinta, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget”, pintaku karena memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film BF yang biasa kutonton.

“Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum. Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin oleh caSintan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya.

Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.

“Ahh.. ahh..”, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu.

Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.

Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera “keluar”, Mbak Sinta menghisap semakin kencang, disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak sekali.

“AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Sinta.

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya.

Sekarang dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku.

Dia mebuka lebar pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Sinta.

Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas “panas” yang dilakukan mbak Sinta.

Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.

Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Sinta tampak semakin terangsang juga. Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat.

Tangan satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.

“Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..”, canda mbak Sinta sambil mendekati diriku.

Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Sinta, kini kembali basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan jari-jari tanganku, tapi Mbak Sinta menepisnya.

“Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe”, agak kecewa saya mendengar tolakannya ini.

Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.

Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih asyik “bermain” di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah oleh peluh keringat.

Mbak Sinta pun tampak letih, keringat menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Sinta sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan memeknya sendiri.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.

Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar”, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya.

“Sini mbak, saya mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena

teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu.

Mbak Sinta pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.

“Nih.. cepet hisap Wan, hisap..”, desahnya seolah memelas.

Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini.

Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya. Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya.

“Ahh.. ahh..”, desah mbak Sinta disaat terakhir berbarengan dengan caSintan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya caSintan yang keluar dan tercium bau amis itu.

Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian saya pun orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas.

Kami sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.

Mbak Sinta, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Sinta selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya yang sepi.

Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.

Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Sinta masih kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks.

Konon, katanya dia sering merasa “horny” menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Sinta. Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Sinta, benar-benar fantastis menurutku…

Demikian artikel tentang cerita Pengalaman Ku Nikmatin Badan Hot Suster Binal Liar Kayak Lonte Di RS.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Nikmatnya Punya Kepala Sekolah Seksi Menggairahkan Tapi Murahan Minta Dicolok Terus Ama Kontol Muridnya.

Nikmatnya Punya Kepala Sekolah Seksi Menggairahkan Tapi Murahan Minta Dicolok Terus Ama Kontol Muridnya.Sebelumnya perkenalkan diriku terlebih dahulu namaku Dony. Ketika kisah ini terjadi aku berumur kira-kira 18 tahun, aku termasuk seorang yang aktif dalam berbagai kegiatan baik di kampus maupun diluar kampus termasuk di didalamnya kegiatan Pramuka yang memang sejak kecil aku suka.

Nah karena kegiatan Pramuka inilah terjadilah kisah yang sampai saat ini masih aku kenang. Untuk wajah memang aku nggak jelek-jelek amat malah terbilang agak cakep itu kata temen-temenku. Dan terbukti ada beberapa cewek yang naksir kepadaku.

Hingga suatu saat aku mendapat surat yang berisi permintaan bantuan untuk ikut menjadi salah satu pembina di SD Negeri di dekat rumahku. Murid-murid SD itu akan melaksanakan perkemahan sabtu minggu atau persami. Merasa mendapat kepercayaan dan hitung-hitung untuk tambahan uang saku maka dengan hati senang aku terima tawaran tersebut. Lagipula aku adalah salah satu alumni dari SD tersebut.

Kami berangkat ke lokasi hari sabtu pagi, dan sampai ke lokasi kira-kira jam 10. Setelah sampai lokasi kami mendirikan tenda dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan kegiatan persami. Kegiatan demi kegiatan kami lakukan, dan ternyata anak anak terlihat suka padaku karena mungkin dimata mereka aku lucu dan menarik.

Itu semua mungkin karena aku aktif di berbagai organisasi sehingga aku pandai mengatur suasana. Permasalahan yang ada adalah air. Lokasi kami berkemah agak jauh dari rumah penduduk. Air yang kami dapatkan berasal dari sungai yang mengalir di dekat lokasi. Dan untuk mandi kami harus kerumah penduduk yang ada disekitarnya walaupun agak jauh.

Hari semakin sore aku sedang bersantai di tenda pembina sambil mengawasi anak-anak terlihat dari kejauhan sebuah mobil kijang berhenti dan turun seorang wanita paruh baya. Setelah aku perhatikan betul ternyata yang datang adalah Bu Anita, beliau adalah kepala sekolah SD tersebut.

Beliau dahulu adalah Ibu guruku, beliau orangnya supel namun kewibawaannya tetap terlihat. Yang aku herankan adalah beliau tetap terlihat cantik diusia yang aku taksir sudah kepala lima. Tubuhnya tetap terawat tidak seperti wanita pada umumnya pada usianya.

Para guru dan para pembina mendekat untuk menyalami termasuk diriku bergegas berjalan mendekatinya untuk menyalaminya

Aku menyalaminya sambil basa-basi bertanya “Koq cuma sendirian Bu Anita?”

“Eh.. iya Dod bapaknya anak-anak sedang ada acara di Semarang” Jawab Bu Anita.

“Kamu tadi tidak menjemput Bu Anita” Sergah Pak Budi yang berjalan beriringan dengan kami.

“Kan Bu Anita sudah bawa mobil Pak” Aku menjawab sekenanya.

Kami berjalan beringan menuju tenda para pembina. Setelah sampai di tenda Bu Anita tampak berbicara serius sambil duduk diatas tikar dengan Pak Budi. Tampaknya hal penting yang perlu dibicarakan mengenai acara persami itu. Aku menjadi agak tidak enak untuk berlama-lama di dekat mereka. Setelah minta ijin aku berjalan menjauh dari mereka.

Dalam benakku terlintas pengakuan bahwa Bu Anita memang masih menarik walau tampak sedikit keriput di leher namun itu malah membuat Bu Anita tampak lebih anggun. Rambutnya lurus sebahu hitam walau ada beberapa helai yang tampak sudah putih, kulitnya yang putih bersih tampak terawat.

Anganku terus mengalir bentuk tubuhnya yang ramping namun padat berisi, bongkahan bokongnya tampak jelas tercetak dibalik rok spannya begitu juga buah dadanya indah. Perutnya memang agak besar namun kencang.

Gila.. aku membayangkan orang yang dahulu pernah menjadi guruku. Ini tidak benar. Tapi aku aku tidak bisa memungkiri bahwa Bu Anita memang masih sintal.

Pada malam harinya diadakan acara api unggun yang kemudian dilanjutkan dengan acara jurit malam. Aku kebetulan mendapat untuk menjaga semua tenda. Kebetulan sekali sebab aku merasa lelah karena sehari sebelumnya ada kegiatan di kampus.

Yang lebih kebetulan adalah ternyata Bu Anita dan 2 guru wanita yang lain nggak ikut acara jurit malam. Setelah mengecek semua tenda aku berjalan mendekat kearah Bu Anita yang sedang duduk sendiri di depan tenda pembina. Tampaknya kedua rekannya sudah terkantuk dan tidur didalam tenda.

“Belum ngantuk Bu?” aku memulai pembicaraan sambil duduk berhadapan dengannya.

“Belum Don.. masa Ibu enak-enakan tidur padahal tadi kan Ibu datang terlambat” Bu Anita menjawab.

“Ya nggak apa-apa, Ibu kan sibuk juga” Aku menyahut.

“Gimana kuliahmu” Tanya Bu Anita.

“Lancar, Bu Anita belum akan pensiun” Aku memancing pertanyaan untuk mengetahui umur sebenarnya.

“Tinggal tiga tahun lagi Don” Bu Anita menjawab.

Pasti wanita ini umurnya lebih dari 50 tahun, namun koq masih menggairahkan. Mataku sekali-kali mencuri pandang menikmati keindahan tubuhnya.

Kami mengobrol agak lama sampai Bu Anita minta diantar ke sungai karena kebelet buang air kecil. Aku bergegas mengantarnya sampai pinggir sungai yang agak curam.

Sambil memberikan senter aku berkata, “Saya tunggu disini ya Bu Anita, ini senternya hati-hati jalannya agak licin”

“Iya.. eh jangan ngintip lho” Katanya sambil bercanda.

Ketika akan melangkah Bu Anita terpeleset otomatis tanganku menggapai tangannya tanganku yang satu menggapai badannya menahan agar beliau tidak jatuh. Namun tidak disangka tanganku mendarat tepat di salah satu gunung indahnya. Dia kaget aku juga kaget.

“Ma.. af Bu Anita, nggak sengaja” Aku berkata.

“Eh.. nggak apa-apa” Sahutnya juga agak salah tingkah.

Sambil berjalan meniti jalan setapak akhirnya dia mencari tempat yang agak tersembunyi. Namun karena sinar rembulan tampak samar-samar gerakan tubuhnya dalam melaksanakan kegiatannya. Tampak dia memelorotkan celana panjangnya kemudian CDnya lalu berjongkok.

Aku bertanya dalam hati mimpi apa aku semalam sehingga aku memperoleh keuntungan dobel pertama memegang buah dada indah yang kedua bisa melihat bokong dan paha walaupun samar.

Tak terasa celanaku semakin sempit karena senjata kesayanganku menggeliat. Tanganku merabanya dan membuat remasan-remasan kecil. Tak puas dengan itu aku mengeluarkan batang penisku sehingga dapat berdiri bebas mengacung. Aku yakin Bu Anita bakalan tidak akan melihat polahku.

Sepertinya Bu Anita sudah selesai buang air kecil ketika akan naik ke atas aku ulurkan tanganku dan menariknya.

Aku minta Bu Anita berjalan didepan dengan alasan aku mengawal kalau ada apa-apa. Namun bukan karena itu aku bisa membuat bebas kelaminku terjulur keluar dan mengacung. Sensasi ini aku nikmati sampai ke tenda pembina. Kami lanjutkan ngobrol sampai akhirnya acara jurit malam selesai.

Malam sudah larut bahkan menjelang di hari kami pembina dan guru putra tidur terpisah dengan pembina dan guru wanita. Tetapi bayang-bayang kemolekan wanita paruh baya itu masih mengganggu pikiranku.

Mata ini rasanya sulit terpejam. Kemaluanku rasanya juga nggak mau ditidurkan, tapi akhirnya aku sadar bahwa wanita yang menggelorakan hasrat jiwaku adalah mantan guruku yang tak mungkin aku akan melampiaskan kepada beliau. Akhirnya anganku kubawa tidur.

Sampai pada pagi harinya aku terbangun oleh suara riuh anak-anak yang sedang melakukan senam pagi. Aku cepat-cepat bangun dan cuci muka kemudian membantu pembina lainnya. Setelah acara pagi selesai aku beres-beres pekerjaan yang lain yang masih harus aku kerjakan. Sementara anak-anak pun juga sibuk mandi di sungai.

Pembina dan guru antri mandi di rumah penduduk yang agak berjauhan. Tampak Bu Anita juga belum mandi karena beliau juga sibuk mengawasi anak-anak.

Sekitar jam 09.00 pagi semua tugas sudah selesai maka aku bergegas mengambil peralatan mandiku. Namun terdengar dari kejauhan suara yang memanggilku.

“Dony kamu mau mandi ya”

Setelah aku toleh ternyata suara itu bersal dari Bu Anita.

Langsung saja ku jawab singkat, “Iya.. Bu Anita”

“Kalau begitu sama-sama dong.. Ibu juga belum mandi” Dia berkata.

Bagai disambar petir di siang bolong mendengar tawaran itu tanpa ragu-ragu aku mengiyakan. “Iya Bu Anita”

Karena kamar mandi-kamar mandi yang ada di sekitar rumah penduduk tampak sudah penuh maka aku menawarkan pada Bu Anita sebuah sumur yang ada di tengah kebun penduduk.

“Sebaiknya kita mandi disana saja Bu Anita, tempatnya juga tertutup koq” Aku berharap dia mau karena ada kesempatan untuk berdua.

“Yang benar lho Don.. tapi ya nggak apa-apa memang tempat yang lain sudah penuh”.

Kami berjalam beriringan menuju ketempat pemandian di tengah kebun itu. Sementara yang lainnya persipan untuk kegiatan pagi itu yaitu jalan-jalan berkeliling.

Sampailah aku pada tempat yang kami tuju. Setelah aku meletakkan peralatan mandiku aku memulai menimba air untuk keperluan kami berdua. Setelah bak terisi penuh maka aku persilahkan beliau untuk mandi dahulu. Tempat mandinya terbuat dari anyaman bambu ada beberapa lobang yang tampak.

“Silahkan Bu Anita anda mandi lebih dahulu” Aku mempersilahkan.

“Kamu tunggu dulu ya.. awas lho jangan.. ngintip” Katanya sambil tersenyum.

“Nggak Bu Anita.. tapi kalau kepepet kan nggak apa-apa” Kataku juga bercanda.

“Nakal kamu” Dia berkata sambil berkata masuk ke kamar mandi.

Aku mengamati dari kejauhan dan melihat satu persatu pakaiannya dilepas dan digantungkan diatas anyaman bambu itu. Terakhir aku lihat kutang dan CDnya yang berwarna biru muda dan coklat muda tersampir.

Hatiku semakin nggak karuan aku membayangkan pasti tubuh molek wanita yang pantas menjadi ibuku itu telanjang bebas, aku dengar suara air yang mengguyur tubuhnya. Aku mencari akal agar aku bisa menikmati keindahan tubuhnya.

Akhirnya aku mendekat dan berkata, “Bu Anita airnya kurang nggak”

Dari dalam bilik aku dengar suaranya,”Eh.. kamu koq ada disitu.. kurang sedikit Dod” katanya agak kaget.

Ya.. kesempatan datang akhirnya aku menimba untuknya lagi dan aku tuangkan ke saluran mengalirkan ke dalam bak yang ada di dalamnnya. Bu Anita masih melanjutkan mandinya maka aku putuskan untuk mandi diluar saja sambil berharap Bu Anita nanti selesai mandi dapat melihatku. Entah pikiran gila sudah memasuki pikiranku.

“Eh.. Dod kamu mandi diluar ya..” Terdengar dari dalam bilik.

“Iya Bu Anita kan bisa menyingkat waktu” Aku beralasan.

Sambil melihat sekeliling aku rasa aman maka aku lepaskan semua pakaianku kini tinggal celana dalamku. Sambil mengguyur badanku dari timba langsung aku sedikit mencari celah-celah agar aku dapat melihat keindahan tubuhnya. Benar dugaanku aku belum selesai madi dari dalam bilik sudah terdengar suaranya.

“Don sudah selesai belum?” Dia bertanya.

“Sudah Bu Anita” Aku menjawab walau aku belum selesai mandi. Memang aku sengaja.

Dan lihat pintu bilik mulai bergerak terbuka. Darahku terasa mengalir semakin kencang menduga apa yang akan terjadi saat Bu Anita melihat aku hanya memakai celana dalam.

“Ih.. ka.. ta.. nya sudah selesai” Dia melihatku agak terperanjat.

Raut mukanya tampak kelihatan merah. Dia agak tersipu setelah melihatku hanya memakai celana dalam. Aku bisa melihat dari ujung matanya dia melirik pada selangkanganku yang disitu tampak tercetak jelas penisku yang sudah tegang dari tadi seakan meronta keluar.

“Sana mandi di dalam masih ada airnya kok” Dia menyambung.

“Iya Bu Anita” jawabku sambil masuk ke bilik.

Perasaanku puas dapat memperlihatkan kejantananku pada wanita paruh baya ini. Tapi hasratku untuk bertindak lebih jauh semakin berkecamuk. Kebetulan sekali jam tangan Bu Anita tertinggal di dalam bilik bambu ini.

“Bu Anita jam tangan Ibu tertinggal nih.” Aku berkata kepadanya dari dalam bilik.

Aku menanti Bu Anita masuk ke dalam bilik dan penis celana dalamku semakin tidak bisa memuat penisku yang semakin membesar.

“Tolong ambikan Don masak aku harus masuk kan kamu sudah telanjang to” Bu Anita berkata dari luar bilik.

“Ah Bu Anita nggak mau saya nggak masuk ndak saya ambilkan” Aku semakin berani menggodanya.

“Ih kamu kok masih nakal dari dulu” Dia berkata.

“Pakai handuk dulu saya akan masuk” Dia menyambung.

Semakin terbuka kesempatan mencari kepuasan hasratku yang semakin menggebu-gebu ini. Aku lepas celana dalam ku hingga aku menjadi telanjang bulat tanpa sehelai benang menanti Bu Anita masuk kedalam bilik.

Bu Anita masuk kedalam bilik dan langsung setengah menjerit dia berkata, “Don.. kamu.. nga.. nga.. pain”

Pandangannya terbelalak melihat aku telanjang apalagi melihat penisku mengacung bebas.

“Itu Bu Anita jamnya ambil sendiri ya” Aku mencoba santai.

Aku lihat mukanya yang merah padam namun matanya tadi melirik ke arah batang zakarku yang sudah tegang. Dia melangkah menuju kearah jam tangannya yang tertinggal. Pikiran mesumku semakin menjadi-jadi maka dengan cepat aku tutup pintu bilik.

Melihat perilaku itu Bu Anita kaget sambil menatapku dia berkata, “Don apa-apaan ini”.

“Maaf Bu Anita.. ta.. pi.. Ibu sangat menarik bagi saya” aku semakin berani tanpa memikirkan akibatnya.

“Kamu.. sudah gila ya..” Dia berkata.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia kembali menyahut.

“Aku sudah menduga kamu dari kejadian tadi malam, tapi kamu harus tahu bahwa Ibu sudah bersuami dan lagi Ibu kan sudah tua” Dia mencoba menyadarkan aku.

“Tapi wajah dan tubuh Ibu tidak mencerminkan usia Ibu” Aku beralasan.

“Apa sudah kau pikirkan benar-benar” Dia menyahut.

“Su.. dah Ibu” aku berkata tanpa pikir panjang.

“Da.. sar.. kamu” Dia berkata lagi.

Aku mendekat dan mencoba mencium bibirnya. Diluar dugaanku dia tidak menghindar atau meronta namun sebaliknya dia menyambut ciuman hangatku dan membalasnya. Ciuman kami semakin dalam lidah kami saling bertautan tanganku bergerilya menjamah buah dadanya yang sekal dan meremas-remas bokongnya.

Tiba-tiba dia berusaha melepaskan melepaskan pelukan sambil berkata, “Sabar Don.. jangan terlalu bernapsu”

Dia mendorongku aku terduduk di pinggiran bak semen. Dia masih berdiri sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing bajunya. Perlahan dan pasti aku melihat dua bukit kembar yang masih tampah sekal.

Kini tinggal beliau hanya mengenakan kutang dan rok aku bangkit namun dia berkata, “Duduk dulu”.

Aku kembali duduk sambil melihat dia melepaskan roknya. Setelah roknya terlepas dia melepaskan kutang dan mencopot celana dalamnya. Dan kini terpampang didepanku tubuh sintal yang aku angan-angankan.

Aku bangkit lagi namun dia kembali berkata, “Don.. aku suka dengan caramu menjeratku tapi ini harus menjadi rahasia kita saja”.

Dia berkata sambil meletakkan salah satu kakinya diatas bibir bak semen itu. Dadaku semakin berdegub kencang melihat pemandangan indah ini. Selangkangannya ditumbuhi rambut keriting yang hitam indah sekali.

“Tentu Bu Anita..” Aku menyahut.

Aku elus kakinya yang putih aku dekatkan wajahku dan mulai menciumi betisnya sambil menjilatinya merambat naik ke atas. Lidahku menari diatas pahanya dan diselingi dengan sedotan-sedotan kecil. Sampailah aku pada hutan yang rimbun itu dan lidahku mencoba menyibak mencari lobang yang paling dicari para lelaki.

Bilik bambu di tengah kebun menjadi saksi pergumulan nafsu dua anak manusia yang dipisahkan oleh status dan usia.

Aku jilati bibir vaginanya dengan penuh nafsu. Bu Anita mengerang menahan kenikmatan yang melanda dirinya. Aku tak peduli dengan keadaannya aku semakin gila mempermainkan lidahku didalam lobang vaginanya.

Tangan Bu Anita memegang erat-erat kepalaku dan menekan ke selangkangannya solah-olah mempersilahkan diriku untuk menelan barang berharga miliknya.

“Don.. ka.. mu.. ma.. sih.. nakal.. seper.. ti.. dulu.. ah” Dia berkata sambil merintih menahan nikmat.

Tampaknya lututnya tidak bisa lagi bertahan. Beliau menarik kepalaku agar aku menghentikan aktivitasku. Aku bangkit dan mendekatkan mukaku ke buah dadanya yang disitu tertempel buah anggur yang berwarna coklat muda tegang menantang.

Aku sedoti seluruh permukaan payudaranya, aku hisap putingnya yang indah. Bu Anita tampak merem-melek menikmati permainanku ini.

Tanganku meremas-remas bokong indahnya dan jariku mencari lobang duburnya, setelah ketemu aku mempermainkan jariku membuat tusukan-tusukan kecil dan mengobok-obok alat buang air besarnya. Bu Anita mengerang-erang dan aku merasakan lobang anusnya meyempit keras seolah ingin menjepit jariku yang tertanam di dalamnya.

Tampaknya Bu Anita ingin mengambil inisiatif, dia melepaskan pelukanku.

“Don.. ber.. baring.. lah.. pa.. kai.. handuk.. mu.. untuk alas” Dia berkata kepadaku dengan nafas tersengal.

Bagai kerbau ditusuk hidungnya aku lakukan apa kehendaknya. Aku berbaring dengan beralaskan handukku. Bu Anita berdiri mengangkang diatasku dan perlahan jongkok tepat diatas kemaluanku yang mengacung keatas. Tangannya membimbing penisku untuk memasuki lobang kenikmatannya.

Dan setelah tepat dia menekan kebawah sehingga.. bles.. keinginanku terlaksana untuk menikmati kehangatan benda yang terdapat di selangkangan wanita paruh baya ini.

Aku merasakan dinding kemaluannya keluar cairan yang mempermudah penisku tertanam. Kepala Bu Anita terdongak keatas dan kulihat bibir bawahnya. Tangannya yang satu berpegangan pada pinggiran bak semen. Aku hanya bisa merem melek menahan kenikmatan dari cengkeraman vaginanya.

Nafas Bu Anita semakin memburu seiring dengan gerakan erotis yang dilakukannya naik turun diselingi dengan perputaran pantatnya. Aku lihat buah dadanya terguncang-guncang. Pemandangan yang indah sekali. Wanita paruh baya ini ternyata pintar bermain sex.

Aku merasakan sensansi yang luar biasa. Rambutnya yang masih basah itu menjadi acak-acakan. Aku mencoba untuk bertahan agar aku tidak kecolongan keluar terlebih dahulu.

Gerakan erotis Bu Anita semakin cepat.

“Don.. uh.. Ibu.. ma.. u.. sam.. pai..” Dia berkata tersengal.

Aku tidak menjawabnya, gerakannya semakin tidak teratur dan akhirnya aku merasakan cengkeraman erat vaginanya, aku rasakan cairan yang mengalir memenuhi lobang vaginanya. Nafasnya tersengal dan beliau terkulai diatasku.

Aku rasakan vaginanya yang masih berdenyut. Aku usap punggung mantan guruku dan aku belai rambutnya yang terurai basah. Tubuhnya yang hangat menempel erat.

“Bagai.. mana.. Bu Anita..” Aku berkata.

“Ka.. mu.. hebat..” Bu Anita menjawab.

Mendengar jawabannya aku merasa sebagai seorang lelaki yang perkasa yang dapat membahagiakan seorang wanita. Perlahan beliau turun dari atas tubuhku, beliau tahu bahwa aku belum mencapai puncak. Dia berbaring disampingku, dia tersenyum kearahku.

Aku mendekatkan wajahku dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku bangkit, aku lihat dia sudah mengangkangkan kaki tampaklah kemaluannya yang basah merekah menanti benda tumpul yang aku miliki untuk masuk kedalamnya.

Perlahan namun pasti aku arahkan benda kebanggaan para lelaki yang aku miliki. Dan.. bles.. masuklah penisku kedalam vaginanya, aku tekan dalam dalam sampai pangkal kemaluanku. Bibir Bu Anita tampak terbuka merasakan kenikmatan yang kedua kalinya, aku tarik perlahan kemudian kemudian aku gerakan naik turun pantatku.

Gerakanku semakin aku percepat sehingga menimbulkan suara-sura erotis. Aku kerahkan tenagaku untuk menyodok barang istimewa mantan guruku ini.

Oh.. nikmat sekali seakan melayang. Aku rasakan darahku mengumpul di penisku seiring dengan gerakanku yang semakin aku percepat. Buah dadanya yang sekal indah putih terguncang-guncang karena sodokanku.

Akhirnya aku tidak dapat lagi menahan dan.. creet.. aku tancapkan dalam-dalam, aku semprotkan spermaku di dalam vaginanya. Melihat aku mencapai puncak Bu Anita melipat kakinya dan menekan pantatku erat-erat. Oh.. seakan aku terbang. Nikmat sekali.. aku rasakan sensasi yang indah sekali.

Serasa tulangku terlolosi lemas sekali aku terkulai diatas tubuhnya. Dia tersenyum manja kearahku.Aku cium mesra bibirnya. Kami berbaring berdampingan.

“Bu Anita.. Ibu masih hebat.. kapan.. kita.. lakukan lagi” Aku berkata kepadanya.

“Ih..”, Dia mencubit hidungku.

“Nakal.. kamu..”

Kami lantas berpakaian kembali karena kami takut nanti perbuatan kami diketahui oleh yang lain. Kami berjalan menuju kembali ke perkemahan kami.

Demikian artikel tentang cerita Nikmatnya Punya Kepala Sekolah Seksi Menggairahkan Tapi Murahan Minta Dicolok Terus Ama Kontol Muridnya.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Nikmatnya Main Kuda Kudaan Sama Tante Hot Dan Montok Tetangga Sebelah.

Kisah Sex Dengan Ana Tetanggaku

Nikmatnya Main Kuda Kudaan Sama Tante Hot Dan Montok Tetangga Sebelah.Namaku Andi mahasiswa di sebuah universitas terkenal di Surakarta. Di kampungku sebuah desa di pinggiran kota Sragen ada seorang gadis, Ana namanya. Ana merupakan gadis yang cantik, berkulit kuning dengan body yang padat didukung postur tubuh yang tinggi membuat semua kaum Adam menelan ludah dibuatnya. Begitu juga dengan aku yang secara diam-diam menaruh hati padanya walaupun umurku 5 tahun dibawahnya, tapi rasa ingin memiliki dan nafsuku lebih besar dari pada mengingat selisih umur kami.

Kebetulan rumah Mbak Ana tepat berada di samping rumahku dan rumah itu kiranya tidak mempunyai kamar mandi di dalamnya, melainkan bilik kecil yang ada di luar rumah. Kamar Mbak Ana berada di samping kanan rumahku, dengan sebuah jendela kaca gelap ukuran sedang. Kebiasaan Mbak Ana jika tidur lampu dalam rumahnya tetap menyala, itu kuketahui karena kebiasaan burukku yang suka mengintip orang tidur, aku sangat terangsang jika melihat Mbak Ana sedang tidur dan akhirnya aku melakukan onani di depan jendela kamar Mbak Ana.

Ketika itu aku pulang dari kuliah lewat belakang rumah karena sebelumnya aku membeli rokok Sampurna A Mild di warung yang berada di belakang rumahku. Saat aku melewati bilik Mbak Ana, aku melihat sosok tubuh yang sangat kukenal yang hanya terbungkus handuk putih bersih, tak lain adalah Mbak Ana, dan aku menyapanya, “Mau mandi Mbak,” sambil menahan perasaan yang tak menentu. “Iya Ndik, mau ikutan..” jawabnya dengan senyum lebar, aku hanya tertawa menanggapi candanya. Terbersit niat jahat di hatiku, perasaanku menerawang jauh membanyangkan tubuh Mbak Ana bila tidak tertutup sehelai benangpun.

Niat itupun kulakukan walau dengan tubuh gemetar dan detak jantung yang memburu, kebetulan waktu itu keadaan sunyi dengan keremangan sore membuatku lebih leluasa. Kemudian aku mempelajari situasi di sekitar bilik tempat Mbak Ana mandi, setelah memperkirakan keadaan aman aku mulai beroperasi dan mengendap-endap mendekati bilik itu. Dengan detak jantung yang memburu aku mencari tempat yang strategis untuk mengintip Mbak Ana mandi dan dengan mudah aku menemukan sebuah lubang yang cukup besar seukuran dua jari.

Dari lubang itu aku cukup leluasa menikmati kemolekan dan keindahan tubuh Mbak Ana dan seketika itu juga detak jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya, tubuhku gemetar hingga kakiku terasa tidak dapat menahan berat badanku. Kulihat tubuh yang begitu sintal dan padat dengan kulit yang bersih mulus begitu merangsang setiap nafsu lelaki yang melihatnya, apalagi sepasang payudara dengan ukuran yang begitu menggairahkan, kuning langsat dengan puting yang coklat tegak menantang setiap lelaki.

Kemudian kupelototi tubuhnya dari atas ke bawah tanpa terlewat semilipun. Tepat di antara kedua kaki yang jenjang itu ada segumpal rambut yang lebat dan hitam, begitu indah dan saat itu tanpa sadar aku mulai menurunkan reisletingku dan memegangi kemaluanku, aku mulai membayangkan seandainya aku dapat menyetubuhi tubuh Mbak Ana yang begitu merangsang birahiku. Terasa darahku mengalir dengan cepat dan dengusan nafasku semakin memburu tatkala aku merasakan kemaluanku begitu keras dan berdenyut-denyut.

Aku mempercepat gerakan tanganku mengocok kemaluanku, tanpa sadar aku mendesah hingga mengusik keasyikan Mbak Ana mandi dan aku begitu terkejut juga takut ketika melihat Mbak Ana melirik lubang tempatku mengintipnya mandi sambil berkata, “Ndik ngintip yaa..” Seketika itu juga nafsuku hilang entah kemana berganti dengan rasa takut dan malu yang luar biasa. Kemudian aku istirahat dan mengisap rokok Mild yang kubeli sebelum pulang ke rumah, kemudian kulanjutkan kegiatanku yang terhenti sesaat.

Setelah aku mulai beraksi lagi, aku terkejut untuk kedua kalinya, seakan-akan Mbak Ana tahu akan kehadiranku lagi. Ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya dengan meliuk-liukkan tubuhnya dan meremas-remas payudaranya yang begitu indah dan ia mendesah-desah kenikmatan.

Disaat itu juga aku mengeluarkan kemaluanku dan mengocoknya kuat-kuat. Melihat permainan yang di perlihatkan Mbak Ana, aku sangat terangsang ingin rasanya aku menerobos masuk bilik itu tapi ada rasa takut dan malu. Terpaksa aku hanya bisa melihat dari lubang tempatku mengintip.

Kemudian Mbak Ana mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangannya yang halus disertai goyangan-goyangan pinggul, tangan kanannya berhenti tepat di liang kewanitaannya dan mulai mengusap-usap bibir kemaluannya sendiri sambil tangannya yang lain di masukkan ke bibirnya. Kemudian jemari tangannya mulai dipermainkan di atas kemaluannya yang begitu menantang dengan posisi salah satu kaki diangkat di atas bak mandi, pose yang sangat merangsang kelelakianku.

Aku merasa ada sesuatu yang mendesak keluar di kemaluanku dan akhirnya sambil mendesah lirih, “Aahhkkhh..” aku mengalami puncak kepuasan dengan melakukan onani sambil melihat Mbak Ana masturbasi. Beberapa saat kemudian aku juga mendengar Mbak Ana mendesah lirih, “Oohh.. aahh..” dia juga mencapai puncak kenikmatannya dan akhirnya aku meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas.

Di suatu sore aku berpapasan dengan Mbak Ana.

“Sini Ndik,” ajaknya untuk mendekat, aku hanya mengikuti kemauannya, terbersit perasaan aneh dalam benakku.

“Mau kemana sore-sore gini,” tanyanya kemudian.

“Mau keluar Mbak, beli rokok..” jawabku sekenanya.

“Di sini aja temani Mbak Ana ngobrol, Mbak Ana kesepian nih..” ajak Mbak Ana.

Dengan perlahan aku mengambil tempat persis di depan Mbak Ana, dengan niat agar aku leluasa memandangi paha mulus milik Mbak Ana yang kebetulan cuma memakai rok mini diatas lutut.

“Emangnya pada kemana, Mbak..” aku mulai menyelidik.

“Bapak sama Ibu pergi ke rumah nenek,” jawabnya sambil tersenyum curiga.

“Emang ada acara apa Mbak,” tanyaku lagi sambil melirik paha yang halus mulus itu ketika rok mini itu semakin tertarik ke atas.

Sambil tersenyum manis ia menjawab, “Nenek sedang sakit Ndik, yaa.. jadi aku harus nunggu rumah sendiri.”

Aku hanya manggut-manggut.

“Eh.. Ndik ke dalam yuk, di luar banyak angin,” katanya.

“Mbak punya CD bagus lho,” katanya lagi.

Tanpa menunggu persetujuanku ia langsung masuk ke dalam, menuju TV yang di atasnya ada VCD player dan aku hanya mengikutinya dari belakang, basa-basi aku bertanya, “Filmnya apa Mbak..”

Sambil menyalakan VCD, Mbak Ana menjawab, “Titanic Ndik, udah pernah nonton.”

Aku berbohong menjawab, “Belum Mbak, filmnya bagus ya..”

Mbak Ana hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanku.

Setelah film terputar, tanpa sadar aku tertidur hingga larut malam dan entah mengapa Mbak Ana juga tidak membangunkanku. Aku melihat arloji yang tergantung di dinding tembok di atas TV menandakan tepat jam 10 malam. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang nampak sepi dan tak kutemui Mbak Ana. Pikiranku mulai dirasuki pikiran-pikiran yang buruk dan pikirku sekalian tidur disini aja.

Memang aku sering tidur di rumah teman dan orang tuaku sudah hafal dengan kebiasaanku, akupun tidak mencemaskan jika orang tuaku mencariku. Waktu berlalu, mataku pun tidak bisa terpejam karena pikiran dan perasaanku mulai kacau, pikiran-pikiran sesat telah mendominasi sebagian akal sehatku dan terbersit niat untuk masuk ke kamar Mbak Ana.

Aku terkejut dan nafasku memburu, jantungku berdetak kencang ketika melihat pintu kamar Mbak Ana terbuka lebar dan di atas tempat tidur tergolek sosok tubuh yang indah dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk ke atas setengah lutut hingga kelihatan sepasang paha yang gempal dan di tengah selakangan itu terlihat dengan jelas CD yang berwarna putih berkembang terlihat ada gundukan yang seakan-akan penuh dengan isi hingga mau keluar.

Nafsu dan darah lelakiku tidak tertahan lagi, kuberanikan mendekati tubuh yang hanya dibungkus dengan kain tipis dan dengan perlahan kusentuh paha yang putih itu, kuusap dari bawah sampai ke atas dan aku terkejut ketika ada gerakan pada tubuh Mbak Ana dan aku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Sesaat kemudian aku kembali keluar melihat keadaan dan posisi tidur Mbak Ana yang menambah darah lelakiku berdesir hebat, dengan posisi kaki mengangkang terbuka lebar seakan-akan menantang supaya segera dimasuki kemaluan laki-laki.

Aku semakin berani dan mulai naik ke atas tempat tidur, tanpa pikir panjang aku mulai menjilati kedua kaki Mbak Ana dari bawah sampai ke belahan paha tanpa terlewat semilipun. Seketika itu juga ia menggelinjang kenikmatan dan aku sudah tidak mempedulikan rasa takut dan malu terhadap Mbak Ana.

Sampai di selangkangan, aku merasa kepalaku dibelai kedua tangan yang halus dan akupun tidak menghiraukan kedua tangan itu. Lama-kelamaan tangan itu semakin kuat menekan kepalaku lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Mbak Ana yang masih terbukus CD putih itu. Dia menggoyang-goyangkan pantatnya, tanpa pikir panjang aku menjilati bibir kemaluannya hingga CD yang semula kering menjadi basah terkena cairan yang keluar dari dalam liang kewanitaan Mbak Ana dan bercampur dengan air liurku.

Aku mulai menyibak penutup liang kewanitaan dan menjilati bibir kemaluan Mbak Ana yang memerah dan mulai berlendir hingga Mbak Ana terbangun dan tersentak. Secara refleks dia menampar wajahku dua kali dan mendorong tubuhku kuat-kuat hingga aku tersungkur ke belakang dan setelah sadar ia berteriak tidak terlalu keras, “Ndik kamu ngapaiin..” dengan gemetar dan perasaan yang bercampur aduk antara malu dan takut, “Maafkan aku Mbak, aku lepas kontrol,” dengan terbata-bata dan aku meninggalkan kamar itu.

Dengan perasaan berat aku menghempaskan pantatku ke sofa biru yang lusuh. Sesaat kemudian Mbak Ana menghampiriku, dengan tergagap aku mengulangi permintaan maafku, “Ma..ma..afkan.. aku Mbak..” Mbak Ana cuma diam entah apa yang dipikirkan dan dia duduk tepat di sampingku. Beberapa saat keheningan menyelimuti kami berdua dan kamipun disibukkan dengan pikiran kami masing-masing sampai tertidur.

Pagi itu aku bangun, kulihat Mbak Ana sudah tidak ada lagi di sisiku dan sesaat kemudian hidungku mencium aroma yang memaksa perutku mengeluarkan gemuruh yang hebat. Mbak Ana memang ahli dibidang masak. Tiba-tiba aku mendengar bisikan yang merdu memanggil namaku, “Ndik ayo makan dulu, Mbak udah siapin sarapan nih,” dengan nada lembut yang seolah-olah tadi malam tidak ada kejadian apa-apa. “Iya Mbak, aku cuci muka dulu,” aku menjawab dengan malas.

Sesaat kemudian kami telah melahap hidangan buatan Mbak Ana yang ada di atas meja, begitu lezatnya masakan itu hingga tidak ada yang tersisa, semua kuhabiskan. Setelah itu seperti biasa, aku menyalakan rokok Mild kesayanganku, “Ndik maafkan Mbak tadi malam ya,” Mbak Ana memecah keheningan yang kami ciptakan.

“Harusnya aku tidak berlaku kasar padamu Ndik,” tambahnya.

Aku jadi bingung dan menduga-duga apa maksud Mbak Ana, kemudian aku pun menjawab, “Seharusnya aku yang meminta maaf pada Mbak, aku yang salah,” kataku dengan menundukkan kepala.

“Tidak Ndik.. aku yang salah, aku terlalu kasar kepadamu,” bisik Mbak Ana.

Akupun mulai bisa menangkap kemana arah perkataan Mbak Ana.

“Kok bisa gitu Mbak, kan aku yang salah,” tanyaku memancing.

“Nggak Ndik.. aku yang salah,” katanya dengan tenang, “Karena aku teledor, tapi nggak pa-pa kok Ndik.”

Aku terkejut mendengar jawaban itu.

“Ndik, Mbak Ana nanya boleh nggak,” bisik Mbak Ana mesra.

Dengan senyum mengembang aku menjawab, “Kenapa tidak Mbak.”

Dengan ragu-ragu Mbak Ana melanjutkan kata-katanya, “Kamu udah punya pacar Ndik..” suara itu pelan sekali lebih mirip dengan bisikan.

“Dulu sih udah Mbak tapi sekarang udah bubaran.” Kulihat ada perubahan di wajah Mbak Ana.

“Kenapa Ndik,” dan akupun mulai bercerita tentang hubunganku dengan Maria teman SMP-ku dulu yang lari dengan laki-laki lain beberapa bulan yang lalu, Mbak Ana pun mendengarkan dengan sesekali memotong ceritaku.

“Kalo Mbak Ana udah punya cowok belum,” tanyaku dengan berharap.

“Belum tuh Ndik, lagian siapa yang mau sama perawan tua seperti aku ini,” jawabnya dengan raut wajah yang diselimuti mendung.

“Kamu nggak cari pacar lagi Ndik,” sambung Mbak Ana.

Dengan mendengus pelan aku menjawab, “Aku takut kejadian itu terulang, takut kehilangan lagi.”

Dengan senyum yang manis dia mendekatiku dan membelai rambutku dengan mesra, “Kasian kamu Andi..” lalu Mbak Ana mencium keningku dengan lembut, aku merasa ada sepasang benda yang lembut dan hangat menempel di punggungku. Sesaat kemudian perasaanku melayang entah kemana, ada getaran asing yang belum pernah kurasakan selama ini.

“Ndik boleh Mbak jadi pengganti Maria,” bisik Mbak Ana mesra.

Aku bingung, perasaanku berkecamuk antara senang dan takut, “Andik takut Mbak,” jawabku lirih.

“Mbak nggak akan meninggalkanmu Ndik, percayalah,” dengan kecupan yang lembut.

“Bener Mbak, Mbak Ana berani sumpah tidak akan meninggalkan Andik,” bisikku spontan karena gembira.

Mbak Ana mengangguk dengan senyumnya yang manis, kamipun berpelukan erat seakan-akan tidak akan terpisahkan lagi.

Setelah itu kami nonton Film yang banyak adegan romantis yang secara tidak sadar membuat kami berpelukan, yang membuat kemaluanku berdiri. Entah disengaja atau tidak, kemudian Mbak Ana mulai merebahkan kepalanya di pangkuanku dan aku berusaha menahan nafsuku sekuat mungkin tapi mungkin Mbak Ana mulai menyadarinya.

“Ndik kok kamu gerak terus sih capek ya.”

Dengan tersipu malu aku menjawab, “Eh.. nggak Mbak, malah Andik suka kok.”

Mbak Ana tersenyum, “Tapi kok gerak-gerak terus Ndik..”

Aku mulai kebingungan, “Eh.. anu kok.”

Mbak Anak menyahut, “Apaan Ndik, bikin penasaran aja.”

Kemudian Mbak Ana bangun dari pangkuanku dan mulai memeriksa apa yang bergerak di bawah kepalanya dan iapun tersenyum manis sambil tertawa, “Hii.. hii.. ini to tadi yang bergerak,” tanpa canggung lagi Mbak Ana membelai benda yang sejak tadi bergerak-gerak di dalam celanaku dan aku semakin tidak bisa menahan nafsu yang bergelora di dalam dadaku.

Kisah Sex Dengan Ana Tetanggaku

Kuberanikan diri, tanganku membelai wajahnya yang cantik dan Mbak Ana seperti menikmati belaianku hingga matanya terpejam dan bibirnya yang sensual itu terbuka sedikit seperti menanti kecupan dari seorang laki-laki.

Tanpa pikir panjang, kusentuhkan bibirku ke bibir Mbak Ana dan aku mulai melumat habis bibir yang merah merekah dan kami saling melumat bibir. Aku begitu terkejut ketika Mbak Ana memainkan lidahnya di dalam mulutku dan sepertinya lidahku ditarik ke dalam mulutnya, kemudian tangan kiri Mbak Ana memegang tanganku dan dibimbingnya ke belahan dadanya yang membusung dan tangan yang lain sedari tadi asyik memainkan kemaluanku. Akupun mulai berani meremas-remas buah dadanya dan Mbak Ana pun menggelinjang kenikmatan, “Te..rus.. Ndik aahh..” Kemudian dengan tangan yang satunya lagi kuelus dengan lembut paha putih mulus Mbak Ana, semakin lama semakin ke atas.

Tiba-tiba aku dikejutkan tangan Mbak Ana yang semula ada di luar celana dan sekarang sudah mulai berani membuka reitsletingku dan menerobos masuk meremas-remas buah zakarku sambil berkata, “Sayang.. punyamu besar juga ya..” Akupun mulai berani mempermainkan kemaluan Mbak Ana yang masih terbungkus CD dan ia pun semakin menggeliat seperti cacing kepanasan, “Aaahh lepas aja Ndik..”

Sesaat kemudian CD yang melindungi bagian vital Mbak Ana sudah terhempas di lantai dan akupun mulai mempermainkan daging yang ada di dalam liang senggama Mbak Ana. “Aaahh enak, enak Ndik masukkan aja Ndik,” jariku mulai masuk lebih dalam lagi, ternyata Mbak Ana sudah tidak perawan lagi, miliknya sudah agak longgar dan jariku begitu mudahnya masuk ke liang kewanitaannya.

Satu demi satu pakaian kami terhempas ke lantai sampai tubuh kami berdua polos tanpa selembar benangpun. Mbak Ana langsung memegang batang kemaluanku yang sudah membesar dan tegak berdiri, kemudian langsung diremas-remas dan diciumnya. Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan kenikmatan yang diberikan Mbak Ana saat bibir yang lembut itu mengecup batang kemaluanku hingga basah oleh air liurnya yang hangat. Lalu lidah yang hangat itu menjilati hingga menimbulkan kenikmatan yang tak dapat digambarkan.

Tidak puas menjilati batang kemaluanku, Mbak Ana memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang sensual itu hingga amblas separuhnya, secara refleks kugoyangkan pantatku maju mundur dengan pelan sambil memegangi rambut Mbak Ana yang hitam dan lembut yang menambah gairah seksualku dan aroma harum yang membuatku semakin terangsang.

Setelah puas, Mbak Ana menghempaskan pantatnya di sofa. Aku pun paham dan dengan posisi kaki Mbak Ana mengangkang menginjak kedua pundakku, aku langsung mencium paha yang jenjang dari bawah sampai ke atas. Mbak Ana menggelinjang keenakan, “Aaahh..” desahan kenikmatan yang membuatku tambah bernafsu dan langsung bibir kemaluannya yang merah merekah itu kujilati sampai basah oleh air liur dan cairan yang keluar dari liang kenikmatan Mbak Ana.

Mataku terbelalak saat melihat di sekitar bibir kenikmatan itu ditumbuhi bebuluan yang halus dan lebat seperti rawa yang di tengahnya ada pulau merah merekah. Tanganku mulai beraksi menyibak kelebatan bebuluan yang tumbuh di pinggir liang kewanitaan, begitu indah dan merangsangnya liang sorga Mbak Ana ketika klitoris yang memerah menjulur keluar dan langsung kujilati hingga Mbak Ana meronta-ronta kenikmatan dan tangan Mbak Ana memegangi kepalaku serta mendorong lebih ke dalam kedua pangkal pahanya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya hingga aku kesulitan bernafas. Tanganku yang satunya meremas-remas dan memelintir puting susu yang sudah mengeras hingga menambah kenikmatan bagi Mbak Ana.

“Ndik.. udah.. aahh, masukin.. ajaa.. oohh..” aku langsung berdiri dan siap-siap memasukkan batang kemaluanku ke lubang senggama Mbak Ana. Begitu menantang posisi Mbak Ana dengan kedua kaki mengangkang hingga kemaluannya yang merah mengkilat dan klitorisnya yang menonjol membuatku lebih bernafsu untuk meniduri tubuh Mbak Ana yang seksi dan mulus itu. Perlahan namun pasti, batang kemaluanku yang basah dan tegak kumasukkan ke dalam liang kewanitaan yang telah menganga menantikan kenikmatan sorgawi.

Setelah batang kemaluanku terbenam kami secara bersamaan melenguh kenikmatan, “Aaahh..” dan mulai kugoyangkan perlahan pinggulku maju mundur, bagaikan terbang ke angkasa kenikmatan tiada tara kami reguk bersama. Bibir kamipun mulai saling memagut dan lidah Mbak Ana mulai bermain-main di dinding rongga mulutku, begitu nikmat dan hanggat. Liang senggama Mbak Ana yang sudah penuh dengan lendir kenikmatan itupun mulai menimbulkan suara yang dapat meningkatkan gairah seks kami berdua. Tubuh kamipun bermandikan keringat.

Tiba-tiba terdengar teriakan memanggil Mbak Ana. “Aaan.. Anaa..” Kami begitu terkejut, bingung dan grogi dengan bergegas kami memungut pakaian yang berserakan di lantai dan memakainya. Tanpa sadar kami salah ambil celana dalam, aku memakai CD Mbak Ana dan Mbak Ana juga memakai CD-ku. Kemudian aku keluar dari pintu belakang dan Mbak Ana membukakan pintu untuk bapak dan ibunya.

Keesokan harinya aku baru berniat mengembalikan CD milik Mbak Ana dan mengambil CD-ku yang kemarin tertukar. Aku berjalan melewati lorong sempit diantara rumahku dan rumah Mbak Ana. Kulihat Mbak Ana sedang mencuci pakaian di dekat sumur belakang rumahku. Setelah keadaan aman, aku mendekati Mbak Ana yang asyik mencuci pakaian termasuk CD-ku yang kemarin tertukar.

Sambil menghisap rokok sampurna A Mild, “Mbak nih CD-nya yang kemarin tertukar,” sambil duduk di bibir sumur, sekilas kami bertatap muka dan meledaklah tawa kami bersamaan, “Haa.. Haa..” mengingat kejadian kemarin yang sangat menggelikan. Setelah tawa kami mereda, aku membuka percakapan, “Mbak kapan main lagi, kan kemarin belum puas.”

Dengan senyum yang manis, “Kamu mau lagi Ndik, sekarang juga boleh..” Aku jadi terangsang sewaktu posisi Mbak Ana membungkuk dengan mengenakan daster tidur dan dijinjing hingga di atas lutut. “Emang ibu Mbak Ana sudah berangkat ke sawah, Mbak,” sambil menempelkan kemaluanku yang mulai mengeras ke pantat Mbak Ana. “Eh..eh jangan disini Ndik, entar diliat orang kan bisa runyam.”

Kemudian Mbak Ana mengajakku masuk ke kamar mandi, sesaat kemudian di dalam kamar mandi kami sudah berpelukan dan seperti kesetanan aku langsung menciumi dan menjilati leher Mbak Ana yang putih bersih. “Ohh nggak sabaran baget sih Ndik,” sambil melenguh Mbak Ana berbisik lirih. “Kan kemaren terganggu Mbak.” Setelah puas mencium leher aku mulai mencium bibir Mbak Ana yang merah merekah, tanganku pun mulai meremas-remas kedua bukit yang mulai merekah dan tangan yang satunya lagi beroperasi di bagian kemaluan Mbak Ana yang masih terbungkus CD yang halus dan tangan Mbak Ana pun mulai menyusup di dalam celanaku, memainkan batang kemaluanku yang mulai tegak dan berdenyut.

Sesaat kemudian pakaian kami mulai tercecer di lantai kamar mandi hingga tubuh kami polos tanpa sehelai benangpun. Tubuh Mbak Ana yang begitu seksi dan menggairahkan itu mulai kujilati mulai dari bibir turun ke leher dan berhenti tepat di tengah kedua buah dada yang ranum dengan ukuran yang cukup besar.

Kemudian sambil meremas-remas belahan dada yang kiri puting susu yang kecoklatan itu kujilati hingga tegak dan keras. “Uhh.. ahh.. terus Ndik,” Mbak Ana melenguh kenikmatan ketika puting susu yang mengeras itu kugigit dan kupelintir menggunakan gigi depanku. “Aaahh.. enak Mbak..” Mbak Anapun mengocok dan meremas batang kemaluanku hingga berdenyut hebat.

Kemudian aku duduk di bibir bak mandi dan Mbak Ana mulai memainkan batang kemaluanku dengan cara mengocoknya. “Ahh.. uhh..” tangan yang halus itu kemudian meremas buah zakarku dengan lembut dan bibirnya mulai menjilati batang kemaluanku.

Terasa nikmat dan hangat ketika lidah Mbak Ana menyentuh lubang kencing dan memasukkan air liurnya ke dalamnya. Setelah puas menjilati, bibir Mbak Ana mulai mengulum hingga batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya. “Aahh.. uuhhff..” lidah Mbak Ana menjilat kemaluanku di dalam mulutnya, kedua tanganku memegangi rambut yang lembut dan harum yang menambah gairah sekaligus menekan kepala Mbak Ana supaya lebih dalam lagi hingga batang kemaluanku masuk ke mulutnya.

“Gantian dong Ndik,” Mbak Ana mengiba memintaku bergantian memberi kenikmatan kepadanya. Kemudian aku memainkan kedua puting susu Mbak Ana, mulutku mulai bergerak ke bawah menuju selakangan yang banyak ditumbuhi bebuluan yang halus dan lebat.

Mbak Ana pun tanpa dikomando langsung mengangkangkan kedua kakinya hingga kemaluannya yang begitu indah merangsang setiap birahi laki-laki itu kelihatan dan klitorisnya yang kemerahan menonjol keluar, akupun menjilati klitoris yang kemerahan itu hingga berlendir dan membasahi bibir kemaluan Mbak Ana. “Aaahh.. aahh.. terus.. enak..” Mbak Ana menggelinjang hebat dengan memegangi kepalaku, kedua tangannya menekan lebih ke dalam lagi.

Setelah liang kenikmatan bak Ana mulai basah dengan cairan yang mengkilat dan bercampur dengan air liur, kemudian aku memasukkan kedua jariku ke dalam liang kewanitaan Mbak Ana dan kumainkan maju mundur hingga Mbak Ana menggelinjang hebat dan tidak tahan lagi. “Ndik.. oohh.. uff cepetan masukin aja..” Dengan posisi berdiri dan sebelah kaki dinaikkan ke atas bibir bak mandi, Mbak Ana mulai menyuruh memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya yang sejak tadi menunggu hujaman kemaluanku.

Kemudian aku memegang batang kemaluanku dan mulai memasukkan ke liang kewanitaan Mbak Ana. “Aahh..” kami bersamaan merintih kenikmatan, perlahan kuayunkan pinggulku maju mundur dan Mbak Ana mengikuti dengan memutar-mutar pinggulnya yang mengakibatkan batang kemaluanku seperti disedot dan diremas daging hidup hingga menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Kemudian kuciumi bibir Mbak Ana dan kuremas buah dadanya yang montok hingga Mbak Ana memejamkan matanya menahan kenikmatan.

“Ahh.. uhh..” Mbak Ana melenguh dan berbisik, “Lebih kenceng lagi Ndik.” Kemudian aku lebih mempercepat gerakan pantatku hingga menimbulkan suara becek, “Jreb.. crak.. jreb.. jreb..” suara yang menambah gairah dalam bermain seks hingga kami bermandikan keringat.

Setelah bosan dengan posisi seperti itu, Mbak Ana mengubah posisi dengan membungkuk, tangannya berpegangan pada bibir bak mandi kemudian aku memasukkan batang kemaluanku dari belakang. Terasa nikmat sekali ketika batang kemaluanku masuk ke liang senggama Mbak Ana. Terasa lebih sempit dan terganjal pinggul yang empuk. Kemudian tanganku memegangi leher Mbak Ana dan tangan yang lain meremas puting susunya yang bergelantungan. “Uuuhh.. ahh enak Ndik,” dan aku semakin mempercepat gerakan pantatku.

“Uuuhh.. uuhh Ndik, Mbak mau keluar,” akupun merasakan dinding kemaluan Mbak Ana mulai menegang dan berdenyut begitu juga batang kemaluanku mulai berdenyut hebat. “Uuuhhk.. aahh.. aku juga Mbak..” Kemudian tubuh Mbak Ana mengejang dan mempercepat goyangan pinggulnya lalu sesaat kemudian dia mencapai orgasme, “Aaahh.. uuhh..” Terasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku dan suara decakan itupun semakin membecek “Jreeb.. crak.. jreb..”

Aku pun tak tahan lagi merasakan segumpalan sesuatu akan keluar dari lubang kencingku. “Aaahh.. oohh.. Mbak Anaa..” Terasa tulang-tulangku lepas semua, begitu capek. Akupun tetap berada di atas tubuh sintal Mbak Ana. Kemudian kukecup leher dan mulut Mbak Ana, “Makasih Mbak, Mbak Ana memang hebat..” Mbak Anapun cuma tersenyum manis.

Setelah kejadian itu, aku dan Mbak Ana selalu melakukan hubungan seks jika kami menginginkannya sampai sekarang dan kebetulan tepat tanggal 12 Agustus 2020 Mbak Ana terlambat bulan, tapi untungnya pada tanggal 4 Nopember 2020 Mbak Ana mengalami keguguran padahal kami telah sepakat akan membuka rahasia kami pada kedua orang tua tapi niat itu kami batalkan ketika terjadi keguguran itu dan kami masih selalu melakukan hubungan seks itu sampai sekarang.

Demikian artikel tentang cerita Nikmatnya Main Kuda Kudaan Sama Tante Hot Dan Montok Tetangga Sebelah.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Lobang Memek Linda Si Manager Seksi Ku Jadikan Tempat Buang Sperma. 

Menikmati Tubuh Linda Sang Manager

Lobang Memek Linda Si Manager Seksi Ku Jadikan Tempat Buang Sperma. Perkenalkan namaku Roni (samaran). Aku adalah seorang WNI Keturunan yang berdomisili di kota D di pulau B. Umurku 30 tahun. Saat ini aku sudah mempunyai seorang istri tapi belum dikaruniai seorang anak.

Aku dulu sangat suka bercinta dengan perempuan, tapi hanya terbatas pada orang yang aku kenal. Dan hanya hubungan ONE NIGHT STAND, alias cinta semalam. Salah satu pengalamanku ingin kubagikan pada para penggemar situs lensa69. Dan kisah ini benar-benar aku alami. Akan aku coba menceritakannya.

Cerita ini dimulai dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 2017. Waktu itu aku baru berumur 25 tahun. Karena alasan untuk mengisi kekosongan di cabang perusahaan, aku dipindah tugaskan.

Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan garment terbesar di Indonesia. Dan tugasku adalah sebagai marketing yang tugasnya mengorder atau menawarkan barang baru ke toko-toko besar maupun kecil termasuk departement store seperti Matahari, dll.

Suatu hari aku menawarkan order ke sebuah dept store yang cukup populer di kota D tersebut. Untuk menemui bagian pembelian aku harus melewati bagian resepsionist terlebih dahulu. Pada hari itu aku terkejut karena yang menjaga bagian tersebut tidak kukenal (karena biasanya adalah orang lain).

Orangnya cantik, berwajah oval, manis, berkulit kuning langsat dan sangat mulus. Bodinya yang sangat bahenol, pinggang yang ramping, berpantat besar, dengan payudara berukuran kira-kira 36C. Berambut hitam panjang. Siapapun lelaki yang melihatnya pasti(aku jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yang tinggi dan sangat memikat itu.

“Selamat siang”, sapaku.

“Oh ya, selamat siang,” jawabnya dengan suara yang halus.

“Saya ingin bertemu dengan Bapak Andrie di bagian pembelian,”

Kataku selanjutnya sambil mataku memandang tanpa berkedip ke wajah cantik dan dadanya, kebetulan waktu itu dia memakai blazer dengan kaus dalam yang berleher sangat rendah sehingga saya bisa melihat belahan payudaranya yang besar itu.

“Baik tunggu sebentar,” jawabnya sambil tersenyum manis, kemudian dia menelepon bagian pembelian.

Sambil menunggu itu tidak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Sementara dia, sepertinya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sambil menulis sesuatu di buku di hadapannya. Tak lama kemudian telepon berdering dan aku dipersilahkan masuk.

Setelah selesai urusan tersebut, aku keluar melewati meja resepsionist, dan kulihat cewek (sebut saja Ayu) seperti biasa menjaga meja tersebut.

“Hallo Yu,” sapaku.

“Eh, Pak Roni, dari tadi, Pak?” sahutnya.

“Iya. Ini sudah selesai order. Eh Yu, tadi yang jaga meja ini siapa sih?” tanyaku langsung.

Kami sudah cukup akrab karena keseringanku ke tempat ini.

“Oh, itu tadi Ibu Linda, Pak, Manager Marketing yang baru, kenapa sih? Kok nanya-nanya?” tanyanya sambil tersenyum.

Belum sempat kujawab, Si Cantik Linda muncul. Aku jadi sedikit salah tingkah. Apalagi..

“Bu, ini lho ditanyain sama Pak Roni,” Ayu langsung nyerocos sampai wajahku terasa panas.

Singkat cerita kami berkenalan dan saling memanggil nama karena kemudian kuketahui umurnya hanya terpaut setahun lebih tua dariku dan sudah menikah dengan orang yang usianya terpaut jauh darinya.

Ayu sempat mengatakan kalau Linda baru saja berulang tahun. Dan sambil bercanda aku mengatakan kalau aku mau diajak makan-makan. Dan dia menyanggupinya.

Pertemuan kami selanjutnya hanya di sekitar pekerjaan dan ngobrol masalah-masalah ringan. Suatu hari, saat suaminya berdinas di Jakarta, aku diundang ke rumahnya. Setelah aku tanya alamatnya, malam harinya aku datang ke rumahnya.

Aku disambutnya dengan memakai baju kaus tipis tanpa lengan dan celana yang super pendek, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, apalagi belahan pantat di bawah celananya makin merangsangku.

Kaget juga melihat penampilannya yang seseksi itu, walaupun dia terlihat memakai BH, tak urung membuat nafsu dan adik kecilku merinding. Di rumahnya saat itu hanya dia sendiri ditemani pembantunya yang lebih sering berada di dapur seperti saat itu.

Setelah sekian menit mengobrol, kami mulai saling mendekatkan diri. Sampai dadanya yang besar dan kenyal itu menyentuh dadaku. Dan mulai berpelukan dan saling mencium pipi, kemudian aku lanjutkan dengan mencium lehernya.

“Kamu ternyata nakal juga ya, Ron,” katanya sambil tertawa kecil saat saya ciumi leher jenjangnya.

“Habis kamu sangat menggairahkan dan menggemaskan,” jawabku sambil melancarkan serangan.

Aku berusaha menembus daerah dadanya, tapi ditepisnya. Dan katanya jangan nanti nggak enak, kan dia sudah menikah. Jadinya aku harus menahan nafsuku malam itu walaupun pada saat penisku sudah sangat keras aku sempat menggesek-gesekkan ke perutnya sambil kami berdiri berpelukan.

Malam itu aku pulang dengan hampa dan menahan gejolak nafsuku. Sesampainya aku di rumah, aku langsung bermasturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengannya.

Sejak hari itu, bila bertemu sikap kami biasa saja, hanya saling menyapa, bahkan kurasakan dia agak menjauhiku. Dan hal ini berlangsung cukup lama sampai kira-kira delapan bulan lamanya.

Aku sudah hampir melupakan niatku untuk bercinta dengannya sampai suatu saat ada berita di pagerku (saat itu aku belum punya Hp) berupa undangan ke rumahnya untuk menepati janjinya waktu itu dia mengajakku makan merayakan ulang tahunnya. Aku telepon dia dan membuat janji (waktu itu suaminya bertugas ke luar kota).

Malam itu pkl.10.00 aku datang ke rumahnya. Kembali aku disambut dengan pakaian yang menggairahkan berupa kaus tipis tanpa lengan dan rok pendek yang memperlihatkan cetakan pantat dan celana dalamnya. Dari pengalamanku yang lalu aku tidak ingin ceroboh lagi.

“Kok sepi-sepi saja, Lin? Suamimu berapa hari tugas ke Jakarta?” tanyaku setelah beberapa lama berbasa-basi.

“Empat hari. Eh, mau minum, Ron?”tanyanya.

“Boleh,” jawabku.

“Aku tadi dapat pinjaman VCD dari temanku di kantor, dan aku belum nonton. Kamu sudah pernah nonton nggak?”

Tanyanya sambil meletakkan minuman dan kemudian melangkah ke almari dekat kursi tamu.

“Mana sih, aku lihat dulu judulnya,” jawabku.

Setelah diserahkannya, aku teliti ketiga VCD tersebut, dan aku agak terkejut karena salah satunya merupakan film mandarin yang XX alias semi.

“Yang dua sudah nonton sih, juga yang mandarin ini, Cuma waktu itu belum selesai. Kamu pengen nonton yang mana? Kalau aku yang mandarin ini aja,” jawabku sambil berpikir untuk mencumbunya.

“Boleh aja, tapi VCD playernya ada di kamarku,”jawabnya.

Pikirku, wah kesempatan, nih. “Gak apa-apa kan, emangnya nggak boleh?” tanyaku memancing.

“Boleh sih, yuk, kita ke kamarku,” jawabnya sambil ngeloyor ke kamarnya di dekat ruang tamu.

Setibanya di dalam, kami berdua duduk manis di depan TV-nya sambil menonton. Lalu aku mencoba untuk melingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia tidak bereaksi. Lalu aku makin berani untuk membelai kepala dan rambutnya yang panjang dan lembut.

Dia Cuma tersenyum saja aku perlakukan demikian. Lalu kusibakkan rambut di sekitar lehernya dan aku cium perlahan sambil menjilatnya pelan.

“Ih, geli, Ron”katanya sambil bergidik.

“Tenang aja, kamu nikmati ya,”jawabku.

Aku mencumbunya dengan sangat pelan. Mulai dari lehernya, kemudian aku turun ke pangkal lengannya. Aku terus mencium dan menjilatinya perlahan sementara tanganku tetap membelai rambutnya dan yang satu membelai tangannya, tanpa aku berusaha untuk membuka pertahanannya yang manapun.

Linda makin lama makin menggelinjang karena kegelian dan nafsunya yang perlahan mulai naik.

“Ron, aku matikan saja ya VCD-nya? Toh juga nggak ditonton, sekalian lampunya ya,”katanya sambil sedikit terengah.

“Oke,”jawabku.

Lalu dia mematikan VCD, TV, dan lampu kamar tersebut, sehingga situasi remang, dan hanya diterangi oleh lampu teras. Walau demikian aku masih bisa melihat jelas semuanya.

Menikmati Tubuh Linda Sang Manager

Setelah itu aku kembali melanjutkan aksiku. Aku menciumi bibirnya sambil membuka bajunya, sehingga dia hanya memakai BH dan roknya. Kemudian setelah beberapa lama;

“Ron, kita buka aja semua yuk,” ajaknya.

“Ayuk,”jawabku, kemudian kami mulai melepas busana kami satu-satu sambil berdiri di tempat tidurnya.

Terpampanglah pemandangan indah di depanku. Linda yang tersenyum manis, dengan payudara berbentuk bulat sempurna dan terlihat sangat kenyal serta bentuk tubuh yang mirip gitar spanyol, ramping, pinggul yang besar, dan terutama daerah kemaluannya yang tidak terlalu lebat, namun terlihat berbulu sangat halus.

Kemudian aku mulai mencium bibirnya lembut sekali. Kunikmati ciuman-ciuman itu. Kemudian aku mulai turun menciumi leher jenjangnya yang mulus sambil tangan kiriku mulai memainkan susunya yang kenyal dan mulai mengeras, meremas dan memutar-mutar putingnya, sementara tangan kananku meraba bagian pantatnya yang juga besar dan padat.

Setelah beberapa lama dia mulai bereaksi dengan membelai tubuhku dari punggung sampai kemudian berhenti di kemaluanku. Linda mulai membelai-belai adikku sambil mengocoknya perlahan. Wah, sensasinya sangat luar biasa.

“Ron, burungmu keras sekali,”katanya sambil mendesah.

Aku tidak menjawabnya karena sibuk mencumbunya. Kemudian perlahan-lahan aku rebahkan dia di tempat tidur. Dan aku mulai mencium dan menjilat turun dari bibir, leher sampai pada bagian susunya yang kuhisap dan kujilati perlahan.

Aku menikmati susunya yang besar dan mulus banget. Aku jilatin daerah sekitar putingnya, sambil menyedot. Cukup lama aku menikmati susunya sambil aku remas-remas. Rasanya aku ingin menelan semuanya bulat-bulat.

Linda menggelinjang sambil mengeluarkan suara erangan dan desisan dari mulutnya. Sambil menikmati cumbuanku, tangannya tak lepas dari penisku, membelainya lembut.

Perlahan aku makin turun sampai pada perutnya, kemudian ke selangkangannya. Aku mulai mencari daerah pribadinya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam, lembut dan tidak terlalu lebat. Aku terus menjilati sampai pada kemaluannya. Linda makin menggelinjang dan mendesis.

“Oh..terus, Ron,..enak sekali..teruskan..,”desisnya.

Maka aku makin menjilati kemaluannya sampai pada klitorisnya, kurasakan tubuhnya makin menegang. Kuhisap lembut klitoris dan kemaluannya yang berbau khas, hingga makin menaikkan gairahku. Kemaluan itu makin lama makin basah, mengeluarkan lendir yang aku jilat sampai puas.

Pahanya mulai bergerak menjepit kepalaku, sehingga aku merasakan kemulusannya membelai pipiku. Tak lupa aku juga sebentar-sebentar menjilat paha dan daerah di sekitar vaginanya itu.

Kemudian aku sedikit mengangkat pantatnya agar aku bisa menjilati lubang anusnya. Sementara itu, tangannya bergerak-gerak menggapai kepalaku sambil menekan makin dalam. Kembali aku mainkan lidahku di lubang vaginanya itu, masuk dan keluar. Linda makin menggelinjang dan kurasakan badannya makin mengejang.

Setelah aku puas memainkan kemaluannya, aku memintanya ganti mencumbuku. Maka aku direbahkan dengan posisi dia di atasku. Linda mulai menciumiku dari bibir, leher, dan akhirnya ke susuku sambil tangannya membelai lembut penis dan testisku.

Ciuman lembutnya sangat merangsangku sehingga adikku makin keras dan memanjang. (Oh ya, penisku tidak terlalu besar, tapi sangat kencang dan keras).

Cukup lama dia menciumi daerah dadaku, kemudian dia semakin turun, dan tidak disangka (karena aku menikmati sambil memejamkan mata) dia mulai menjilat lembut kepala penisku. Aku sempat kaget karena tidak menyangka dia akan melakukannya.

Aku nikmati saja jilatan-jilatan lembutnya. Kemudian dia mulai mengulum penisku juga sangat lembut. Wah, rasa dan sensasinya sangat luar biasa. Aku bagai terbang tinggi ke awan. Tidak sampai di situ, dia juga menjilati testisku yang makin merangsangku.

Cukup lama dia menjilati penisku, sampai ada sedikit cairan yang keluar dan dia menjilatinya sampai habis. Kemudian dia perlahan bangun dan duduk di atas penisku. Pelan-pelan dia menggesek-gesekkan vaginanya di atas penisku. Vaginanya yang lembut dan licin serasa memijit penisku yang keras.

“Oh,..enaknya..ss.ss.ss,”erangnya.

Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang dan roboh ke dadaku.

“Luar biasa, Ron, aku sampai bisa keluar,”bisiknya sambil terengah.

Kemudian kami bercumbu lagi, dan dia mengulangi hal yang sama sampai dua kali, dan dalam waktu singkat dia mengalami orgasme kembali, sementara aku belum merasa ingin keluar. Maka aku nikmati saja permainannya, sampai kemudian..

“Aku masukin ya adikku,”kataku.

“Ya, tapi pelan-pelan ya, “jawabnya.

Maka aku mulai memasukkan penisku ke lubang senggamanya perlahan sampai semuanya masuk. Kemudian aku mulai menggoyang perlahan-lahan, makin lama makin cepat. Sementara dia mengerang dan mengejang Di antara desahan dan deru napasnya aku makin mempercepat gerakanku, sampai akhirnya..

“Lin..aku..mau..kell..luar,” dan tersemburlah spermaku ke liangnya.

Kemudian aku lemas. Aku biarkan penisku berada di vaginanya beberapa lama sambil merasakan denyutan-denyutannya yang menggairahkanku.

Kami mengulangi permainan kami beberapa kali malam itu. Sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dan aku pulang dengan kepuasan dan sedikit penyesalan (maklum istri orang).

Keesokan siang, aku kembali ke rumahnya, dan bercinta sampai malam. Kemudian kami pergi makan malam seperti yang dijanjikannya.

Setelah kejadian itu, kami bersikap biasa bila bertemu, karena kami tidak ingin orang lain tahu perbuatan kami.

Demikian artikel tentang cerita Lobang Memek Linda Si Manager Seksi Ku Jadikan Tempat Buang Sperma. 
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,

Dari Mencari Kost Sampai Akhirnya Ku Pompa Liang Lobang Sempit Ibu Kost Yang Menggairahkan.

Dari Mencari Kost Sampai Akhirnya Ku Pompa Liang Lobang Sempit Ibu Kost Yang Menggairahkan.Iwan, seorang bujangan berumur 28 tahun yang saat ini sedang kebingungan. Pasalnya, panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan dimana dia melamar begitu mendadak. Dia bingung bagaimana harus mencari tempat tinggal secepat ini. Perusahaan dimana dia melamar terletak di luar kota, jangka waktu panggilan itu selama empat hari, dimana dia harus melakukan tes wawancara.

Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dengan tujuan penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal yang cukup malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan yang dia lamar terletak di kota itu juga.

Sudah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia sudah mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes wawancara nanti. Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen. Kemudian dengan bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada akhirnya, sampailah dia di depan pintu rumah yang dimaksud itu.

Perlahan Iwan mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.

“Iya, ada perlu apa, Pak..?”

“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa di rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Iwan seketika.

“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Iwan masuk.

“Hm.., baik, terima kasih.”

Sejenak kemudian Iwan sudah duduk di kursi ruang tamu.

Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Iwan memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Iwan dikejutkan oleh suara wanita yang masuk ke ruang tamu.

“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”

Terhenyak Iwan dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri seorang wanita yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40 tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.

“Oh.., eh.. selamat siang,” Iwan tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”

“Panggil saya Bu Mira..,” tukas wanita itu menyahut.

“Hm.., o ya, Bu Mira, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”

“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”

“Iwan Bu,” sahut Iwan seketika.

“Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui oleh Nak Iwan bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Iwan, kami memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar itu tidak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan singkat Bu Mira menjelaskan semuanya.

“Hm, suami Ibu..?” tanya Iwan singkat.

“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu tahun yang lalu,” jawab Bu Mira singkat.

“Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya, berapa sewanya..?” tanya Iwan kemudian.

“Hm, begini, Nak Iwan mau mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya tujuh ratus ribu rupiah,” jawab Bu Mira menerangkan.

“Baiklah Bu Mira, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Iwan.

“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”

Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah Iwan disitu dengan Bu Mira, Ida anak Bu Mira dan Bik Sumi pembantu Bu Mira.

Sudah satu bulan ini Iwan tinggal sambil menunggu panggilan selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Iwan punya keinginan yang aneh terhadap Bu Mira. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang cukup lama hidup sendirian.

Iwan tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin wanita yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Mira menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin sekali Iwan bercinta dengan Bu Mira. Apalagi sering Iwan melihat Bu Mira memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu Mira yang masih kelihatan kencang dan indah. Ingin sekali Iwan menyentuhnya.

“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Iwan suatu saat.

“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.

Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada saat malam Minggu, rumah kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Mira tidur di tempat neneknya, Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang sakit. Tinggallah Iwan dan Bu Mira sendirian di rumah.

Tapi Iwan sudah mempersiapkan cara bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira. Lama Iwan di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu Mira menonton TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap, Iwan pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.

“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Iwan berbasa-basi.

“Oh, silakan Nak Iwan..,” mempersilakan Bu Mira kepada Iwan.

“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Iwan, malam Minggu loh, masa di rumah terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Mira kemudian.

“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam Minggu di rumah saja,” jawab Iwan sekenanya.

Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.

“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Iwan tiba-tiba.

“Lho, tidak usah Nak Iwan, kok repot-repot..,”

“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman untuk Ibu, masak Ibu dan Bik Sumi saja yang selalu membuatkan minuman untuk saya.”

“Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh saja,” kata Bu Mira sambil tersenyum.

“Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.” segera Iwan bergegas ke dapur.

Tidak lama kemudian Iwan sudah kembali sambil membawa nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.

“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”

“Terima kasih, Nak Iwan.”

Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Mira sudah mulai mengantuk, tidak lama kemudian Bu Mira sudah tertidur di kursi dengan keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan payudaranya yang indah. Tersenyum Iwan melihatnya.

“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat kemudian,” gumam Iwan penuh kemenangan.

“Beruntung sekali tadi Bu Mira mau kubuatkan teh, sehingga obat tidur itu dapat kucampur dengan teh yang diminum Bu Mira,” gumamnya sekali lagi.

Sejenak Iwan memperhatikan Bu Mira, tubuh yang pasrah yang siap dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Iwan yang normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu.

Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian kanan kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai ke ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Mira, spontan Iwan menarik kedua tangannya.

“Mengapa harus gugup, Bu Mira sudah terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Iwan dalam hati.

Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Iwan kemudian membopong tubuh Bu Mira memasuki kamar Iwan sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Iwan sudah mengunci kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi di laci mejanya.

Tidak lama kemudian Iwan sudah mengikat kedua tangan Bu Mira di atas tempat tidur. Melihat keadaan tubuh Bu Mira yang telentang itu, tidak sabar Iwan untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira.

“Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang indah itu Bu Mira,” kata Iwan dalam hati.

Satu-persatu Iwan melepaskan apa saja yang dipakai oleh Bu Mira. Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai akhirnya setelah semua terlepas, Iwan menyingkirkannya ke lantai.

 

Terlihat sekali sekarang Bu Mira sudah dalam keadaan polos, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Iwan mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.

Sesaat kemudian Iwan sudah menciumi tubuh Bu Mira mulai dari kaki, pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir ciuman Iwan mendarat di payudara Bu Mira. Sesekali terdengar desahan kecil dari mulut Bu Mira, tapi Iwan tidak memperdulikannya.

Diciumi dan diremas-remas kedua payudara yang indah itu dengan mulut dan kedua tangan Iwan. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga tidak lepas dari serangan-serangan Iwan. Dikulum-kulum kedua puting itu dengan mulutnya dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak. Setelah puas Iwan melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidur.

Satu-persatu Iwan melepas pakaian yang melekat di badannya, akhirnya keadaan Iwan sudah tidak beda dengan keadaan Bu Mira, telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.

Terlihat kemaluan Iwan yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam vagina Bu Mira. Tersenyum Iwan melihat rudalnya yang panjang dan besar, bangga sekali dia mempunyai rudal dengan bentuk begitu.

Perlahan-lahan Iwan kembali naik ke tempat tidur dengan posisi telungkup menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, kemudian dia memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu Mira.

Iwan merasakan vagina yang masih rapat karena sudah setahun tidak pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal Iwan sudah masuk semuanya ke dalam vagina Bu Mira.

Ketika Iwan menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Mira sampai masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Mira, “Ah.., ah.., ah..!”

Tapi Iwan tidak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.

“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Iwan melakukan aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang berderit-derit.

“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Iwan mengeluh kecil, sambil tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Mira yang montok itu.

Lama Iwan melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa masih kencangnya dan rapatnya vagina Bu Mira. Akhirnya Iwan merasakan tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina Bu Mira.

“Ser.., ser.., ser..,” Iwan merasakan cairan yang keluar dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Mira.

“Oh.. ah.. oh.. Bu Mira.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Iwan.

Setelah itu Iwan merasakan tubuhnya yang lelah sekali, kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Mira dengan posisi memeluk tubuh Bu Mira yang telah dinikmatinya itu.

Lama Iwan dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia dikejutkan oleh gerakan tubuh Bu Mira yang sudah mulai siuman. Secara reflek, Iwan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan mematikannya. Tertegun Iwan berdiri di samping tempat tidur dalam kamar yang sudah dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu Mira.

“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”

Sebentar kemudian suasana menjadi hening.

“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Mira pelan dan serak.

Suasana hening agak lama. Iwan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.

Terdengar lagi suara Bu Mira mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa yang terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa yang melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Mira.

Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Iwan, bagaimanapun setelah apa yang dia lakukan terhadap Bu Mira, Iwan harus berterus terang mengatakannya semuanya.

“Ini saya..,” gumam Iwan lirih.

“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?” sahut Bu Mira agak keras.

“Bukan, ini saya Bu.., Iwan..,” Iwan berterus terang.

“Iwan..!” kaget Bu Mira mendengarnya.

“Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Iwan..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Mira kemudian.

Kemudian Iwan bercerita mulai dari awal sampai akhir, bagaimana mula-mula dia tertarik pada Bu Mira, sampai pada keheranannya bagaimana juga Bu Mira dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Mira.

Juga tidak lupa Iwan menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu Mira selama Bu Mira tidak sadar karena pengaruh obat tidur. Tertegun Bu Mira mendengar semua perkataan Iwan. Lama mereka terdiam, tapi terdengar Bu Mira bicara lagi.

“Iwan.., Iwan.., Ibu memang menginginkan laki-laki yang bisa memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, karena Ibu juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”

“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak saya.”

“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”

“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”

“Oh, tidak Iwan, bagaimanapun kamu telah melakukannya semua terhadap Ibu. Sekarang Ibu tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu lagi, Ibu ingin kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi, Ibu juga menginginkannya Iwan tidak hanya kamu saja.”

“Benar Bu..?” tanya Iwan kaget.

“Benar Iwan, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Mira kemudian.

Tanpa pikir panjang lagi, Iwan segera menyalakan lampu yang sejak tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang sama-sama polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Mira terikat tangannya.

“Oh Iwan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu, Ibu menginginkannya Iwan..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi Ibu yang selama ini Ibu pendam, Ibu ingin malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”

Perlahan Iwan mendekati Bu Mira, diperhatikan wajah yang tambah cantik itu karena memang kondisi Bu Mira yang sudah tersadar, beda dengan tadi ketika Bu Mira masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya dengan lembut tubuh Bu Mira yang polos dan indah itu, mulai dari paha, perut, sampai payudara. Terdengar suara Bu Mira menggelinjang keenakan.

“Terus.., Iwan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Mira bergerak-gerak dengan lembut mengikuti sentuhan tangan Iwan.

“Tapi, Iwan, Ibu tidak ingin dalam keadaan begini, Ibu ingin kamu melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh tubuhmu juga..!” pinta Ibu Mira memelas.

“Baiklah Bu.”

Sedetik kemudian Iwan sudah melepaskan ikatan tali di tangan Bu Mira. Setelah itu Iwan duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu Mira.

“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mira.

Sesaat kemudian ganti tangan Bu Mira yang meremas-remas dan menarik maju mundur kemaluan Iwan, tidak lama kemudian kemaluan Iwan yang diremas-remas oleh Bu Mira mulai mengencang dan mengeras. Benar-benar hebat si Iwan ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai sekarang mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.

“Oh.., Iwan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam vagina Ibu.” kata Bu Mira lirih sambil terus mempermainkan kemaluan Iwan yang sudah membesar itu.

Diperlakukan sedemikian rupa, Iwan hanya dapat mendesah-desah menahan keenakan.

“Bu Mira, oh Bu Mira, terus Bu Mira..!” pinta Iwan memelas.

Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua, semakin hot, terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar dari mulut mereka berdua.

“Oh Iwan, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas tubuhku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..! Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Mira memelas dan memohon.

Sesaat kemudian Iwan sudah naik ke atas tempat tidur, langsung menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan meremas-remas payudara Bu Mira yang indah itu.

“Oh, ah, oh, ah.., Iwan oh..!” tidak ada kata yang lain yang dapat diucapkan Bu Mira yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu juga dengan Iwan yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Mira. Reflek Bu Mira memeluk erat-erat tubuh Iwan sambil sesekali mengusap-usap punggung Iwan.

Sampai suatu ketika, tangan Bu Mira memegang kemaluan Iwan dan memasukkannya ke dalam vaginanya.

Pelan dan pasti Iwan mulai memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, sambil kedua kakinya bergerak menggeser kedua kaki Bu Mira agar merenggang dan tidak merapat, lalu menjepit kedua kaki Bu Mira dengan kedua kakinya untuk terus telentang.

Akhirnya setelah sekian lama berusaha, karena memang tadi Iwan sudah memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, sekarang agak gampang Iwan menembusnya, Iwan sudah berhasil memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.

Kemudian dengan reflek Iwan menggerakkan kedua pantatnya maju mundur teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.

“Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Iwan melakukan aktivitasnya itu.

Terlihat tubuh Bu Mira bergerak menggelinjang keenakan sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Iwan.

“Ah.., ah.., oh.. Iwan.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan, jangan berhenti Iwan, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas Bu Mira yang keenakan.

Lama Iwan melakukan aktivitasnya itu, menarik dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke dalam vagina Bu Mira. Sambil mulutnya terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Mira.

“Oh.., ah.. Bu Mira, oh.., kamu memang cantik Bu Mira, akan kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!” desis Iwan keenakan.

“Oh.., Iwan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Iwan.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”

Semakin cepat gerakan Iwan menarik dan memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Mira mengikuti irama permainan Iwan, sambil tubuhnya terus menggelinjang bergerak-gerak tidak beraturan.

Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya Bu Mira merintih, “Oh.., ah.., Iwan.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Iwan.., kamu memang perkasa..!”

“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Iwan menimpali.

“Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Mira..! Oh, aku juga sudah tak tahan lagi,” desis Iwan kemudian.

Setelah berkata begitu, Iwan menambah genjotannya terhadap Bu Mira, terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, terlihat sekali kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu begitu serasi dengan posisi tubuh Iwan menindih tubuh Bu Mira.

Sampai akhirnya Iwan merasakan tubuhnya mengejang hebat, begitu pula dengan tubuh Bu Mira. Keduanya saling merapatkan tubuhnya masing-masing lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.

“Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan keluar dari ujung kemaluan Iwan mengalir ke dalam vagina Bu Mira, begitu nikmat seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dengan tubuh Bu Mira seakan-akan melayang-layang tanpa henti di udara menikmati kepuasan yang diberikan oleh Iwan.

Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena merasa kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.

Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Mira.

“Iwan, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Mira sambil tangannya mengelus-elus rambut Iwan.

“Sama-sama Bu, aku juga puas karena sudah membuat Ibu berhasil memuaskan hasrat birahi Ibu,” sahut Iwan dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas dada Bu Mira.

Suasana yang begitu mesra.

“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Mira.

“Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Iwan kemudian.

“Ah, kamu bisa saja Wan,” tersungging senyum di bibir Bu Mira.

“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” tanya Iwan.

“Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida berangkat sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat keduanya tidur pun kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab Bu Mira manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Iwan.

Sejenak Iwan memandang wajah Bu Mira, sesaat kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua terlampiaskan sudah. Sambil dengan keadaan yang masih telanjang dan posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.

Demikian artikel tentang cerita Dari Mencari Kost Sampai Akhirnya Ku Pompa Liang Lobang Sempit Ibu Kost Yang Menggairahkan.
cerita bokep indo, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita seks hot, cerita sex, cerita sex dewasa, horny, istri, kontol, Kumpulan Cerita Dewasa, memek, ngentot, ngewe, perek, pesta seks, sange, seks, selingkuh, Janda, Memek Gatel, Seksi, cerita ABG, cerita 17 tahun, Lonte,